Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 87. Drama Keluarga


__ADS_3

Ibnu memutuskan lebih menemani Zahra di rumah ketimbang menonton pergulatan antar geng dan proses interogasinya yang pasti akan memakan waktu yang lama."


" Kak, kata Mumtaz dia otw pulang."


" Loh, kok udah pulang? Katanya di sana dua bulanan?"


" Gak tahu."


" Nu, Mama biasanya kan masak untuk menyambut anaknya yang pulang gawe, kita sekarang masak juga yuk?" Ajak Zahra.


" Buat apa?"


" Nu, salah enggak sih kalau aku tetap ingin rumah ini dalam keadaan normal seperti Mama masih ada?"


" Enggak.


" Itu yang sedang aku usahakan, aku tahu Mumtaz dan Zayin lebih merasa kehilangan mama dari pada aku dan Tia, mereka berdua itu bucin banget sama Mama." Renung Zahra.


" kira-kira pukul berapa dia pulang?


" Maybe jam sepuluhan."


" Sok Inggris lu. oke, kita belanja dulu terus masak. Kita bikin dia terharu dengan makanan kesukaannya."


" Kak, dia pulang malam banget loh."


" Gak apa-apa, aku bakal tunggu. Mumpung belum aktif di rumah sakit. Aku ganti pakaian dulu." Zahra dengan semangat berlari ke kamarnya.


*****


Pukul 22.30 WIB Mumtaz tiba di bandara dan langsung menuju rumah sakit, mendengar kabar empat bocil mendapat teror paket dengan terpaksa ia percepat kunjungan kerjanya.


Para klien yang tahu kalau Mumtaz merupakan petinggi RaHasiYa memakluminya, kala meminta ijin pulang terlebih dahulu karena keluarganya sedang dalam bahaya, jadi komunikasi jarak jauh tak masalah bagi mereka.


Mumtaz memandang Sisilia yang sedang tertidur pulas, ia duduk di kursi samping brankar dengan menopang dagu di satu tangannya yang ia tumpu di sisi kasur. Ia tahu ia tak berhak di sini, namun rasa cemas mengantarkannya kesini.


Sisilia terbangun karena merasa ada yang memainkan jemari tangannya, ia cukup kaget mendapati Mumtaz sedang menatapnya.


" Kak..." Panggilnya dengan suara khas bangun tidur.


Mumtaz menatap wajah Sisilia intens,


" Kenapa mutusin aku kalau bikin kamu masuk rumah sakit, Hmm?" Tanya Mumtaz dengan tatapan tenangnya.


Sisilia merubah posisinya menjadi duduk. Bergerak risih dibawah tatapan intens Mumtaz.


Setelah bergelut dengan pikirannya, Sisilia memutuskan untuk menngeluarkan semua unek-uneknya.


" Aku merasa jadi orang jahat karena gak ada saat kakak sedih, dan juga malu atas perlakuan Mommy. Maaf." lirihnya.


" Iya, aku maafin, tapi jangan bikin keputusan yang akhirnya bikin kamu susah sendiri. Itu buat aku merasa bersalah."


" Maaf udah bikin kamu kecewa." Sisilia menunduk.


Mumtaz mengambil satu tangan Sisilia," enggak, sedih iya, kecewa enggak. Kamu enggak tahu gimana khawatirnya aku waktu dengar kamu masuk rumah sakit karena pingsan? Jangan lakuin itu lagi, kalau kamu masih sayang aku kita bersama aja. Kalau ada yang dirasa gak nyaman kita omongin. Bertengkar untuk mencapai solusi lebih baik dari pada mengambil keputusan yang salah."


" Kak,..."


" Dengar, kecemasan Tante tentang perilaku aku itu wajar, karena beliau belum kenal aku, dan beliau sayang kamu. Kita berdua yang harus kasih paham ke Mommy semarah-marahnya aku, aku gak mungkin kasar ke kamu. Kamu wanita kecintaan aku setelah Mama, Kakak, dan Tia."


" Banyak amat orang di atas aku-nya, tapi gak apa-apa masih masuk lima besar."


Mumtaz terkekeh," hehe, lelaki itu harus menempatkan para wanita dalam keluarganya melebihi wanita manapun, sayang."


Sisilia tertegun mendengarnya, memang ingin bukan panggilan sayang untuk pertama kalinya, namun masih menggetarkan hatinya.


" Jadi,...kita balikan!?" Sisilia memastikan.


" Siapa yang mutusin?"


" Aku."


" Jadi,..."


" Aku yang harus ngomong balikan gitu?"


Mumtaz mengedikan bahunya, ia menyandarkan dirinya ke sandaran kursi.


Mumtaz mengulum senyum melihat Sisilia bergerak gusar dalam duduknya.


" Kak, kita balika..."


" Gak mau." Sela Mumtaz.


Sisilia terduduk tegak sekaligus tertegyn mendengar penolakan itu.


" Aku gak mau balikan, entar ditinggal pas sayang-sayangnya lagi."


Sisilia meringis malu.


" Aku tembak kamu lagi aja ya." Sisilia mengangguk cepat yang membuat Mumtaz tersenyum geli.


Mumtaz menegakan duduknya, menangkup kedua tangan Sisilia Delam satu genggaman.


" Sisilia Pradapta maukah kamu menjadi kekasih hatiku setelah Mama, Kakak, dan Tia?"


" Harus ya disebut begitu?"


" Iya, pasti ada hari dimana aku akan lebih mengutamakan mereka dibanding kamu, mungkin ada hari kamu menjadi bagian dari mereka yaitu keluarga bagi aku dalam ikatan pernikahan, dan aku minta kamu memahami aku membagi cintaku dengan mereka tanpa mengurangi kebesaran cinta aku ke kamu."


" Karena aku juga sayang mereka ya udah aku rela, tapi hanya mereka di atas aku gak ada yang lain. Janji?" Sisilia mengajukan kelingkingnya.


Mumtaz bergeming," anak?"


" Hah?"


" Aku gak janji di atas kamu cuma mereka kalau kita udah punya anak."


Meski malu Sisilia tak ayal menggeplak punggung tangan Mumtaz karena gereget.


" Heh, terlalu dini ya. Kamu pernah bilang kamu gak akan menikah sebelum kak Ala menikah."


" Ya.. aku kan ngomongnya sekaligus jangka panjang sayang."


" Yang sekarang aja dulu."


" Ya udah kamu mau enggak."


" Maulah, gak akan aku biarin kamu nengok ke perempuan lain termasuk sama bule dan Caitlyn barang sedetik juga." Jawab Sisilia dengan sewot.


" Bule? Bule, mana?"


" Itu yang ngegoda kamu makan siang waktu kamu di Swiss."


" Ya Allah mana ada, dia memang begitu sama bang Ibra dan Fatih juga begitu. Jadi kamu masih stalk aku meski kita putus?"


" Enggak ya, itu karena kak Ibnu yang buka cctv aja."


" Ngaku aja, mana ada Ibnu punya kelakuan random gitu."


" Ya udahlah pokoknya aku gak suka, dan aku gak akan biarin kasih kamu kesempatan buat lirik mereka."


" Ya Allah, kebar-baran Italia-nya keluar, posesifin aja aku. Rela kok." Ujar Mumtaz dengan tawa renyah-nya.


" Dih, senang sekali anda tuan."


" Iya senang, buat kamu posesif boleh, tapi cemburuan jangan apalagi salah paham mulu, No, BIG NO."


" Dih, mana bisa begitu."


" Usahakan,  aku gak mungkin gak ada sosialisasi dengan lawan jenis, tapi kamu juga pasti tahu kalau aku selalu jaga jarak, jadi pasti kamu tahu bedanya perlakuan aku sama yang aku cinta, sayang, dan biasa aja. So, jangan buang energi buat hal yang tidak penting ya."


Mumtaz mengusap surai hitam Sisilia dengan lembut.


" Iya, paham."


" Sekarang tidur."


" Kakak?"


" Pulang, tadi dari bandara langsung kesini. Merasa gak sopan aja."


Tanpa mereka sadari Gama, Elena dan Dominiaz mengamati interaksi menggemaskan mereka sedari Mumtaz masuk ruangan di balik pintu ruang tunggu."


" Apa mommy masih ragu dengan attitude Mumtaz?" Sindir Dominiaz kembali melangkah ke kasurnya.


*****


" Nu, ini udah jam dua belas kok Mumuy belum pulang juga, coba kamu telpon dia." Seru Zahra yang menatap makanan di atas meja dengan sedih.


Saat Ibnu hendak menelpon, pintu rumah terbuka, Mereka terjengkit karena kaget. Zayin dengan santai melenggang masuk.


" Kalian lagi ngapain? Cie..cie...kak Ala mulai doyan brondong." Ledek Zayin langsung melenggang ke arah dapur.


" Wow ada makanan, Alhamdulillah kakak aku tercintah ini paham banget kalau adek imutnya lapppeerrr." Zayin mencuci tangan dan mengambil piring di rak.


" Jangan diabisin, sisain buat Aa-nya." Tegur Zahra bergabung dengan Zayin di meja makan.


" Oh ini untuk menyambut Aa pulang, aku sedih gak pernah ada yang nyambut aku pulang." Ocehnya ditengah kunyahannya.


" Emang kapan kamu pernah kasih kabar mau pulang?" Zahra sibuk menyiapkan minuman buat zayin.


" Tadi cium tangan aja enggak." 


" Hehe, maaf abis lapar banget. Niatnya mau langsung masak mie terus tidur seperti biasa."


Zahra terdiam mendengar ucapan Zayin, lantas ia mendekati Zayin dan mencium kening Zayin mengesampingkan kalau Zayin masih sibuk dengan makanannya.


" Maaf ya, tapi kamu tahu kan Mama dan aku sayang kamu!?" Ucapnya membingkai wajah Zayin dengan kedua tangannya.


Zayin mengangguk," iya, aku tahu. Love you too."


" Aaaaa, adek aku udah gede udah love lovean." Jerit Zahra gemas.


" Apasih alay bet, gelar profesornya pasti beli di warteg." Celoteh Zayin


" Aduh.." erang Zayin karena Zahra menggeplak kuat kepala Zayin, lalu kembali ke kursinya.


" Alhamdulillah, terima kasih atas makanannya Kak, Bang." Ucap Zayin begitu selesai mencuci piring bekas dia gunakan.


" Aa Mumuy belum datang?"


" Belum, kata Ibnu jam sepuluhan ini udah hampir setengah satu."


" Kamu udah telpon dia belum takutnya ada apa gitu dijalan."

__ADS_1


" Lupa, tadi aku mau nelpon diinterupsi kedatangan Ayin."


Cklek!!


Mumtaz memasuki  rumah langsung mengarah ke arah suara.


" Kalian lagi ngapain?" Ia terkaget banyak orang dan makanan seperti biasa selagi Mama masih ada.


" Kamu habis dari mana?" Tanya curiga Zahra.


Mumtaz tertegun, ia merasa Dejavu. Ini yang selalu Mama ucapkan kalau dia telat pulang dari yang seharusnya.


Seketika kegugupan merambatinya, kalau dia jujur Mama pasti marah kerena sudah mendahulukan orang lain ketimbang keluarganya, rasa bersalah mulai menyergap hatinya.


" Dari rumah sakit, jenguk Lia." Jawab Mumtaz pelan.


Zahra terdiam, menghela nafas lelah," mungkin kakak yang berlebihan karena ingin suasana rumah masih sama seperti mama masih ada,  dan terlalu berekspektasi tinggi kalau kalian punya perasaan sama kayak kakak, padahal jelas-jelas kalian sudah dewasa dan punya kehidupan sendiri-sendiri. Sepeninggal orang tua, orang lain lebih berharga dari pada saudara sendiri. Bubar kakak ngantuk." Zahra meninggalkan ruang makan dengan gestur tegang.


Bukan amarah yang Zahra tampilkan, namun rasa kecewa. Itu cukup menampar Mumtaz dengan rasa bersalah.


" Waktu tahu Lo balik kak Ala semangat masak buat Lo, berusaha agar kalian gak  kehilangan sosok Mama, nunggu Lo dari sesudah masak meski badannya lelah. Rumah lebih dekat dari bandara apa susahnya mampir dulu." Telak Ibnu tajam.


" Prok..prok..Wow, amajing Bro. Seperti biasa bucin akut keluarga dilupakan tipikal Muhammad Mumtazul Yusuf." Ucap Zayin sambil bertepuk tangan penuh dengan kesinisan dan kekecewaan.


" Gue tidur dulu, Bang. Btw makasih ya." zayin beranjak ke kamarnya


" Gue bukan cewek Lo, jadi gue balik ke kamar." disusul Ibnu.


Mumtaz masih berdiri ditempatnya setelah lima menit ditinggal sendiri diruang makan menelaah apa yang terjadi, disusul helaan nafas berat darinya.


Bugkh!! 


Kesal terhadap dirinya sendiri, Mumtaz memukul kursi meja makan yang terbuat dari kayu jati.


Terduduk menatap makanan kesukaannya, ia melahap satu persatu makanan itu dengan air mata yang terus turun deras yang dia abaikan kerena ingin menikmati rasa sakit, seal dan kesal karena sudah mengecewakan kakaknya.


" Maaf, hiks...maaf, hiks...maaf,...huhu." ucapan penuh penyesalan terlontar ditengah suapannya diiringi tangisan meski dadanya sesak karena rasa bersalah.


Terpatri lagi bayangan raut kekecewaan Zahra membuat gerakan suapannya melambat, karena tangisannya yang kian derai.


" Maaf, hiks...maafkan Mumuy kak, please..." Lirihnya.


*****


" Kakak, mau kemana?" Tanya Mumtaz melihat kakaknya turun dari tangga bersama Zayin sudah berpakaian rapih.


" Ke rumah sakit, mau ngajuin aktif lagi."


" Sekarang hari Sabtu."


" gak masalah, supaya Senin bisa langsung aktif. Apasih yang gak bisa buat aku."


" Muy, siap-siap yang lain udah nunggu di RaHasiYa." Ujar Ibnu di belakang kak Zahra.


Mumtaz bergeming dalam duduknya, awalnya hari ini dia berniat menemani kakaknya di rumah, untuk menebus kesalahannya semalam, tapi semuanya buyar.


Menghela nafas berat," Hmm." Mumtaz beranjak ke kamarnya tak lama ia menyusul Ibnu menuju garasi yang diikuti Zahra.


" Muy, bareng enggak?" Ibnu mencium punggung tangan Zahra. menunggangi motornya


" Bareng." Mumtaz juga mencium tangan, kening, dan pipi Zahra seperti biasa sebelum pamit.


" Hati-hati, kalian belum ketemu jodoh."


Ibnu mengangguk," assalamualaikum."


" Wa, alaikumsalam."


" Kak."


Tak lama Ibnu, Mumtaz pergi datang Bara dengan pakaian kucel, tampang berantakan, dan wajah lelah.


" Bara, kenapa kamu?"


" Capek, semalaman belum tidur." Ia langsung merebahkan badannya di atas sofa panjang lalu menutup matanya.


" Udah sarapan?"


" Belum".


" Nasi goreng atau roti?"


" Nasgor."


Zahra beranjak ke dapur, Zayin mendekati Bara yang tak bergerak bagai orang pingsan.


" Bang,..Bang." Zayin menggoyang-goyangkan tangan Bara.


" Ck, ada apa?"


" Adgar udah cerita semalam tentang teror, dan kecurigaan pada Tamara. Gue punya info tentang Tamara, tapi gak bisa ngomong di sini."


Bara membuka matanya, lalu mengikuti Zayin yang berjalan ke ruang belakang.


Zahra melihat arah jalan mereka," kakak kasih waktu paling lama satu jam, gak lebih. Inget kalian sesama batang gak boleh saling adu, keluar ada salah satu diantara kalian yang Hamil, awas." Ancam asal Zahra mengepalkan tangan.


" Apasih, ragu gue kenapa dia jadi profesor." Dumel Zayin.


" Mungkin itu efek jadi profesor diusia muda, jadi erorr." Timpal Bara lebih ngasal.





"Lihat ini." Tunjuknya pada salah satu komputer.



" Ini semua daftar no seri setiap jenis alat teknologi yang bertebaran dari hp, tabs, notebook, MacBook, laptop, komputer, dll dari seluruh perusahaan teknologi di dunia." Tunjuknya ke sebelah kiri tabel.



" Dan ini  no ID penggunanya." Tunjuknya ke tabel sebelah kanan.



" Setelah gue telusuri ada frekuensi komunikasi rutin antara Dewa dengan Gonzalez belakangan ini."



" Katanya itu perintah Mumtaz, tapi itu antara si Dewa dengan Navarro."



" Gue tahu itu Aa Mumuy udah konfirmasi, tapi dengan Gonzalez lebih intens satu Minggu terakhir ini." Tekan Zayin.



" Dalam dunia spy ada istilahnya *double agent*, intinya dia akan bekerja untuk dua arah, tetapi akan membocorkan rahasia untuk dua arah tersebut menutupi peran sesungguhnya. Bang, waspada lebih baik dari pada mengatasi."



" Yang kedua; Tamara seorang pemasok narkoba, Lo tahu kan gue deketin dia, dia pernah nawarin gue, tapi gagal. Sekarang nyoba ke pelanggan club the flawless eksmud tajir, dan dia benci Hartadraja."



" Soal Hartadraja, masih ada Erika Pramono VS Eidelweis Hartadraja."



" Oh iya, Lo suruh bang Erros selidiki si Erika."



" Kenapa?"



" Ck, Erros pelanggan the flawless, dan Erika yang selalu 'menjamunya', Erika tidak seberani Tamara."



Tragkh!!tranggkh!!!



Ketukan keras di pintu besi mengagetkan mereka berdua," lama amat cepetan, kakak telat." Semprot Zahra begitu Zayin membuka pintu.



" Ck, emang mau kemana lagi buru-buru amat."



" Beli hp."



" Ayin beliin."



" Hmm, cepetan."



" Siap."



Ketika mereka sampai di ruang tamu Tia baru keluar dari kamarnya.



" Loh, kok gak ada makanan? Kakak gak masak?" Tiba-tiba Tia langsung banyak protes layaknya anak majikan. 



" Enggak."



" Kenapa? Kalau udah begini aku makan apa? Ini nasgor siapa, aku makan ya."  Cerocos Tia.

__ADS_1



Zahra langsung merebut sepiring nasi goreng yang akan dimakan oleh Tia 



" Ini punya Bara, kamu kalau mau makan masak sendiri."ketus Zahra.



" Adik kakak itu aku atau kak Bara sih?" Tia sudah mulai berani menaikan intonasi suaranya di depan Zahra.



" Bara." Jawab dingin Zahra.



" Kak, mana ada seorang Nyonya muda masak. Kata Mami, nyonya tidak masak. Kakak aja yang masakin aku." Titah Tia tanpa merasa salah.



Semua pasang mata terkejut dengan perkataan Tia, kesal dengan ulah Tia yang semakin jadi Zahra meradang.



" Lo, Nyonya di rumah Atma Madina, di rumah yang seukuran ruang tengah bunda Lo cuma Tia, adik gue. Malu sama kecoa yang berlarian di kamar Lo berlagak Nyonya. Mau makan, masak sendiri." Bentak Zahra, memberikan nasi gorengnya pada Bara.



" Makan dulu sebelum tidur." Seru Zahra pada Bara."



" Iya."



" KAK..." Bentak Tia yang berhasil membuat Zayin melototkan mata kepada Tia.



" Kalau kakak mau pergi, seenggaknya siapin aku sarapan dulu. Kalau maag aku kumat gimana."Tia menolak untuk mengalah, entah siapa yang mempengaruhinya.



Zahra melangkah mendekati Tia, dengan tatapan tajamnya berdiri mengintimidasi di depan Tia, berhasil membuat nyali Tia ciut.



" Terserah, gue bukan babu lu." Zahra berlalu dari hadapan Tia



" Kenapa? Gak suka?" Tia membentak Zayin yang masih melototinya.



" Iya, gue gak suka. Pergi Lo ke mertua Lo. Makin lama Lo cosplay jadi Sandra Atma Madina. Dasar OKB norak."Bentak balik Zayin menyusul Zahra.



Tia membeku, kaget karena kakak kembarnya membentaknya.



" Kaaakkk,...minta.." Rengek Tia pada Bara tak ambil pusing akan sikap Zayin.



" Ogah, gak akan gue bagi masakan kakak tercintah gue buat Lo yang norak. Tia, Mama gue seorang Nyonya Atma Madina, dan dia masak buat keluarganya." Tekan Bara sebelum pergi meninggalkan Tia yang mematung di tempat.



\*\*\*\*



Selamat pagi, nek." Salam hangat Sivia menyapa nenek yang sedang bersantai di taman bersama perempuan Hartadraja lainnya kecuali Eidelweis.



" Eh si cantik Sivia, selamat pagi, sayang. Kok lama amat di italianya."



" Iya, maaf. Urusannya batu selesai, nek."



" Ini siapa?" Cantik sekali." Tanya nenek Sri ke wanita muda yang berdiri tersenyum di belakang Sivia.



" Dia Tamara, teman Via." Tamara tersenyum menghampiri nenek, mencium tangan nenek, dan yang lainnya.



" Wah, cantik sekali, berapa usia kamu?"



" Makasih nek, saya 23 tahun."



" Udah punya pacar belum?"



Tamara tersenyum dengan malu-malu," belum, nek."



" Bagus, mau enggak sama cicit nenek, ganteng orangnya."



" Nek.. jangan menggodanya, lihat dia malu. Mending ajak masuk mereka." Julia mengalihkan topik.



" Oh iya lupa. Ayok masuk."



Tamara mengangguk sambil menyuguhkan senyum malu. sedangkan Sivia memutar bola matanya malas.



Sementara Tamara sibuk mencari muka di depan Sri Hartadraja, di waktu bersamaan di lain tempat sibuk membahas tentangnya.



\*\*\*\*\*



Niat istirahat di rumah Aida Bara batalkan karena informasi dari Zayin harus segera dibahas.



Karena melibatkan club the flawless, maka RaHasiYa atas ijin Hartadraja, Atma Madina dan Birawa mengundang Nathan dan luke Wilson.



" Jadi ada kemungkinan Dewa sedang melakukan *double agent*." Seru Bara.



" Aku hanya mengijinkan dia menerima tawaran Navarro, dia tidak pernah menyinggung soal Gonzalez." ucap Mumtaz.



" Nu, gimana hasilnya?" Tanya Damian pada Ibnu yang sedang membuka rekam jejak digital antara Dewa dengan Gonzalez.



" Ini." Ibnu menampilkan diagram  rekaman komunikasi antara Dewa, Navarro, Gonzalez, dan Tamara dari database Mumtaz.



" Di sini tertera tanggal, durasi, isi percakapan antar mereka."



" Memang telah terjadi komunikasi antara Dewa dengan Navarro yang sepertinya pembuka dari pembuka komunikasi antara Dewa denagn Ginzalez. Selanjutnya Dewa dengan Gonzalez yang kesimpulannya terjadi kerja sama antar keduanya. Kemungkinan Gonzalez mengenal Dewa dari Navarro mengingat mereka adalah rekan kerja perdagangan senjata ilegal. Sedangkan hubungan antara  Tamara dengan Gonzalez dan Navarro adalah hubungan klien lama. Untuk lebih jelas isi rekamannya dibagi ke masing-masing email kalian."



" Apa yang akan kalian lakukan pada Dewa?" Tanya Akbar.



" Kecuali mengawasi, tidak ada. Bagaimanapun aku yang bertanggungjawab atas keterlibatannya." Ujar Mumtaz.



" Pertanyaannya adalah kenapa wanita bernama Tamara ini membenci Hartadraja?" Tanya Fatio.



Para petinggi RaHasiYa saling tukar pandang...



**Yuk jadi reader yang aktif ngasih like, komen, hadiah ,dan vote. sekaligus share makasih banget.



makasih untuk yang suka ngasih like dan komennya, juga buat para readers yang masih ngikutin cerita ini makasih banget.



TIDAK UNTUK DIPLAGIAT YA CERITANYA**.

__ADS_1


__ADS_2