
Devi memegang erat ponselnya sambil menangis tergugu melihat video putrinya dalam keadaan menyedihkan.
" Mengapa jadi begini?" Raungnya frustasi.
Ia sungguh tidak mengira akan akibat berurusan dengan Birawa berdampak sedahsyat ini, hidupnya dalam jurang kehancuran.
Buru-buru dia mengirim video itu kepada Andre agar diusut, belum jua video terkirim, tiba-tiba video itu hilang dari ponselnya.
" Tidak, tidak. Ini tidak boleh hilang, ini harus tetap ada." Racaunya panik mengutak-atik ponselnya mencari penyimpan video itu, namun hasilnya nihil.
" Si@l, br3ngs3k..." Amuknya melempar keras ponselnya karena kesal.
" Hmm, ini baru mulai, Nyonya. Dan Lo sudah frustasi!?" Ucap Nando di seberang sana, bibirnya membentuk senyum mencemooh.
Matanya menatap Jessica dingin." Lo tahu, Jes...nyokap Lo kayaknya sebentar lagi gila. Masa dia teriak-teriak lihat Lo terbalik kayak sirkus gini doang. Bagaimana jika kita melakukan sesuatu dengan Monika, mungkin dia mendadak mati berdiri."
Mata Jessica terbuka lebar, wajahnya menegang." Nan...do, Lepa...sin gu..e." rintih Jessica karena sakit kepala.
" Please...ja..ngan..sentuh a..dik gue..."
" Imbalannya apa?"
" Apa...pun."
" Dros, Lo aja yang bebasin. Dia secret admirer Lo, kan?" Ledek Nando yang mendapat cekikikan dari anak BIBA lainnya.
" @njink, mending dikagumi sama nenek tetangga gue." Jawabnya, tangannya sembari m3nusuk-nusuk telapak kaki Jessica yang telanjang dengan cutternya mengabaikan darah yang mengalir
" Aaaws... Sa..kit."
" Emang itu tujuannya, buat Lo sakit." Desis Andromeda dingin.
" Bu...kankah kalian ber..saing untuk men.. dapat... Ayu?
Semuanya tergelak." Emang otak mesum Lo cuma mikirin itu doang tentang laki dan perempuan. Otak kerdil Lo gak bakalan paham hubungan yang kita punya."
" Dros, ber..henti..sa..kit."
"Ini baru mulai, Jes. Masa Lo sudah kepayahan." Andromeda mengabaikan rintihan kesakitan Jessica, dia masih anteng menggunakan cutternya, bahkan tusukan itu menjalar ke area kaki.
Teman-temannya saling bergilir melakukanya, darah karena s@yat@n semakin deras
*****
Lobby rumah sakit makin ramai akan wartawan yang menginginkan klarifikasi mengenai video itu.
Sedangkan hujatan para netizen makin gencar, tanpa memikirkan resiko yang akan keluarga mereka tanggung.
Saat ini berita bahwa Mumtaz adalah bos yang membawahi preman-preman yang meresahkan publik pun makin viral.
Segala potongan aksi pembegalan yang digiring opininya itu adalah ata perintah Mumtaz semakin meresahkan masyarakat hingga keluar petisi untuk memenjarakannya secepat mungkin.
" Itu yang dulu dituduh menganiaya teman kuliah ceweknya bukan sih."
" Tampang kalem ternyata iblis."
" Sok kecapekan, katanya dia mahasiswa ya, tapi kelakuan preman."
Alfaska melempar iPadnya ke atas brankar karena marah dengan komentar para netizen yang sok tahu dan maha benar.
" Saya tidak mau tahu, kalian harus menemukan identitas semua akun yang mencela Mumtaz, jika mereka adalah keluarga dari klien RaHasiYa, pastikan hari ini juga mereka meminta maaf dan menganulir ucapannya. Bagi orang umum, blokir akun dan identitas dia dalam segala aktifitasnya hingga mereka tidak bisa bertransaksi sampai waktu tidak terhingga." Ucap Alfaska menatap anak buahnya tajam
Ruangan inap Alfaska dijadikan basecamp sementara Anak RaHasiYa.
" Bar, anak UAM dan khususnya anak BEM banyak DM gue, mereka ingin berkomentar untuk menyeimbangi komentar netizen, tapi nunggu instruksi dari gue." Ucap Yuda
" Lha, Lo asistennya, apa hasil beriefing kalian?"
Yuda mengusap wajahnya kasar, ia sangat gusar dan kesal melihat perkembangan situasi yang terjadi.
" Setelah gue lapor ke dia, Mumtaz bilang untuk saat ini tahan aja dulu sampai besok di penghujung hari baru bertindak."
" Ya sudah, lakukan apa yang dia mau. Daripada berurusan sama dia, gue sih ogah." Jawab Bara malas-malasan yang duduk tenang di sofa single sambil mengamati iPadnya.
" Aaaa...apa sih yang dipikirkan kakak ipar gue tercinta tapi nyeremin itu? Orang mah gak mau namanya rusak, lha ini dia ada kesempatan buat memperbaiki, tapi gak digunakan." Racau Alfaska kesal.
Tia, yang sebenarnya lelah menghampiri suaminya, mengelus lembut lengan Alfaska guna menenangkannya.
" Tenang, marah-marah nanti bikin tensi Aa tinggi." Tutur Tia lembut.
" Sejak kapan aku punya darah tinggi?"
" Sejak punya kakak ipar yang nyeremin." Sindir Tia sinis.
Alfaska nyengir kuda sambil mengusap tengkuknya kikuk." Biar nyeremin aku tetap sayang kok, Yang."
Entah karena apa, mereka malah saling pandang untuk waktu yang lama, bagi Alfaska kehadiran Tia dan keluarga dalam kehidupannya adalah oksigen, dia sungguh tidak bisa kehilangan mereka!.
Alfaska memeluk erat istrinya, karena gemas dan dibalut kecintaan yang membumbung tinggi tanpa canggung ia mengecup wajah istrinya melupakan kehadiran para sahabatnya.
" Woy, break. Mana kamera, gue kibarin bendera putih ni." Rutuk Rizal.
" Fa, ingat masih ada Para jomblo tulen..." Dumel radit, melempari Alfaska dengan robekan kertas.
Dan gerutuan lainnya yang memprotes keuwuan pasangan halal itu, kecuali Dista dan Cassandra.
" Wow, meleleh Eneng, kang." Pekik Cassandra yang duduk di lengan sofa Bara.
Cup...
Bara mengecup pelipis Cassandra," gak perlu iri, kalau semua beres aku romantisin kamu." Ucapnya sambil memainkan jari Cassandra.
" Halalin dulu, kamu pikir aku semurah itu, jangan samakan aku sama mantan kamu, Maura itu."
Bara menatap bingung kekasihnya." Kok menjurus ke dia."
" Kamu pikir aku gak tahu kamu masih mengamankan dia, biar apa? Toh si Tamara sudah meninggal."
" Lho, lho. kenapa jadi begini..."
" Okay, kita para kaum perjaka menyingkir, urusan sudah selesai. Ini bukan kali pertama kita berada di situasi seperti ini, dan kalian bukan anak sama alay yang harus dibimbing harus ngapain. Intinya lakukan apa yang perlu dilakukan tanpa sungkan." Tukas Daniel keluar ruangan dengan menarik Dista bersamanya.
******
" Tidak, kita paham betul ini tidak bisa dijadikan bukti." Tolak Ergi melempar kertas ke atas meja kerjanya dengan kesal.
Di ruangannya, sang dewan, dan Andre sedang berusaha mendesak Ergi untuk melakukan penangkapan terhadap Mumtaz.
" Tapi tugas kita melindungi masyarakat." Ucap Andre menggebu.
" Jangan anda ajari saya apa tugas kita, ingat posisinya saya masih di atas anda." Peringat Ergi tegas.
" Dan anda juga jangan lupa siapa yang merekomendasikan Anda hingga anda bisa duduk di kursi penuh kekuasaan tersebut." Sindir sang dewan.
" Itu tidak menjadikan saya berhutang apapun pada politisi macam anda."
Sang dewan terkekeh mencemooh." Ayolah, jangan sok idealis. Kita semua tahu pengangkatan anda tidak murni prestasi, tapi jasa sang Komjen di belakang."
" Dan saya pun mengingatkan, karena nama baik lembaga ini yang membaik, partai anda yang sedang berkuasa sedikit membaik namanya seiring banyaknya oknum partai anda yang kemarin tertangkap dalam 50 orang itu."
Wajah sang dewan mengeras, " ini penawaran terakhir untuk anda, atau kami ambil tindakan sendiri."
" Lakukan saja yang anda mau, jangan tersinggung jika pada akhirnya kalian yang terlihat 1diot." Cibirnya tak gentar.
Mereka berdua beranjak ke pintu." Pak Andre."
Andre berbalik menghadap Ergi.
" Sebaiknya kau mulai mempersiapkan diri untuk mengklarifikasi aksi anda yang terlibat dalam kegiatan pr0stitusi."
Mata Andre terbelalak, "Bagaimana..."
" Apa menurutmu saya tidak tahu anda memanfaatkan jabatan anda untuk kepentingan pribadi?" Senyum smirk Ergi layangkan untuk Andre.
" Dan anda, d3w@n terhormat, Mulyadi, mungkin saat ini anda belum mendapatkan akibat dari perbuatan anda. Nasihat saya, jangan terlalu jumawa meras diri anda kebal hukum. ingat, lawan anda adalah RaHasiYa, dan k@polr1 saat ini adalah saya." Tekan Ergi tajam.
Mulyadi menggeram kesal, lalu menutup pintu dengan kasar.
Drrt...drt...
Andre menjawab panggilan dari ayah mertuanya.
" Hallo, yah. Kenapa?"
" Langsung ke hotel Shangrila..."
Klik...
" Pak Mulyadi, saya harus pergi dulu. Urusan Mumtaz semua sudah sesuai yang kita rencanakan."
Perasaanya tidak enak, dia bertanya cemas, tidka mungkin ayah mertuanya tahu aksi dia dengan Devi semalam di hotel itu.
" Baiklah, saya juga harus kembali ke s3n@yan. Janu dan Agung dua nama yang harus kita taklukan."
Plak...plak...
Darto sang mertua menampar sang petinggi polr1 layaknya tersangka.
" Kau lihat keadaan putrimu? Ini semua salahmu." Bentak Darto.
Mata Andre terbelalak penuh, tubuhnya terhuyung mendekati putri kebanggaannya yang terbaring penuh luka dalam keadaan polos.
" Aa..apa yang terjadi?" Gagapnya karena syok.
Plak....
Alih-alih menjawab, lestari, sang istri menambah tamparan di wajah andre.
" Lihat dan baca tulisannya..." Geramnya.
Andre mengambil ponsel yang disodorkan lestari, lagi kedua bola matanya membulat penuh. Aksi ranjangnya dengan gaya brutal dengan beberapa wanita panggilan yang selama ini disembunyikan terpampang jelas, diakhir videonya terpampang video putrinya dengan beberapa pria di kamar presidential hotel.
Semalam, setelah mendapat video putrinya di langsung menginstruksi anak buahnya untuk mencari keberadaannya yang berakhir nihil.
Melihat pakaian putrinya yang berserakan dapat dipastikan video ini adalah video yang terjadi semalam.
Video itu berakhir dengan tulisan," kau sangat menyukai tidakan premanisme kan, maka ku berikan sedikit aksi premanisme itu apa."
" Demi Tuhan, putriku masih kecil, dia masih berusia 19 tahun, mengapa ini terjadi..." Raungan pilu Seorangbibu yang hancur hatinya mengisi kamar itu.
Mata Lestari menatap Andre dengan tatpan kecewa yang menyalang." Ini salahmu, ini karma darimu..."
PLAK...
" Aku ingin kita berpisah." Ucapan lestari mengembalikan kesadaran Andre, dia menggeleng cepat karena panik. Tidak, dia tidak bisa menceraikan istrinya, dia masih butuh pengaruh ayah mertuanya.
" Sayang,..jangan berpikir gegabah. Ini ulah pihak tidak bertanggung jawab, aku akan mencari pelakunya."
" Cari saja, tapi aku tetap ingin bercerai darimu. Aku jijik padamu." Kukuh Lestari.
" Ayah mendukung, secepatnya ayah urus pengacara untuk mengurus perceraian ini."
" Ti...tidak..."
" Kau boleh pergi, gvndikmu yang di kamar sebelah masih menunggu saya kira." Sindir Darto.
"Antarkan dia pada guvndiknya." Titahnya pada ajudannya.
" A...ayah, saya minta maaf, beri saya kesempatan untuk memperbaikinya. Akan saya cari pelakunya." Dirinya mencoba berontak dari pegangan kedua ajudan mertuanya.
" Seperti yang putriku katakan cari saja pelakunya, tapi perceraian tetap terjadi."
\*\*\*\*\*\*
Birawa, Pradapta, Hartadraja, Alatas, petinggi Gaunzaga, Alfaska dan para sahabat menunggu cemas di menit-menit terakhir operasi Aryan.
" Kalau kabar pahit yang kita dapatkan, sekali lagi Lo menuduh kak Ala, gue bvnvh Lo, Fa." Peringat Bara serius.
" Gak akan, Lo tembak gue, kalau gue mengulanginya lagi." Janji Alfaska.
Ketika lampu depan mati penanda operasi selesai, semuanya berdiri mendekati pintu.
__ADS_1
Paling depan Farhan, Zahira dan dokter ahli lainnya menatap mereka satu persatu yang memasang raut kecemasan, sebelum mereka tersenyum.
" Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan berhasil."
" Alhamdulillah..." Ucap mereka serempak.
" Mana Kaka Ala?" Tanya Daniel.
" Kakak di sini." Ucap Zahra bersandar lemas ke tembok.
" KAKAK..."
" ZAHRA.." Teriak mereka, refleks mengulurkan tangan saat tubuh Zahra melemah luruh.
Para tenaga medis terkejut dan melipir ke samping karena mereka mendekat secara bersamaan.
Syukurnya Hito dapat menangkap sebelum tubuh itu menyentuh lantai.
" Prof, apa yang terjadi dengan kakak?" Tanya Alfaska panik.
" Jangan khawatir, kakak kalian hanya mengantuk, mengingat beliau belum tidur dari kemarin, dan melakukan banyak operasi.
Hito mengangkat tubuh Zahra ala *bridal*, lalu membawanya tanpa permisi.
" Om, mau dibawa kemana, kakak?"
" Menimbang situasi saat ini, saya pikir paling bijak membawanya ke tempat saya."
" Bijak, menurut siapa?" Sindir Dominiaz.
Hito menatap sebal ke arah Dominiaz.
" Iya, kata siapa? Tidak ada jaminan om tidak tergoda, kalian berdua, setan bertebaran dimana-mana." Ucap Bara santai.
" Saya akan ikut dengan mereka." Sahut Zahira, dia pun membutuhkan istirahat.
" Saya juga." Timpal Samudera.
" Baiklah, nanti kami akan kirim Zayin untuk mengawasi kalian." Seru Teddy.
" Om, kita bukan anak ABG lagi." Protes Hito merasa malu.
" Karena kalian pria dewasa makanya harus Zayin yang berada di sana." Ucap Fatio.
" *Whatever*."
\*\*\*\*\*
Rio dan Ibnu yang menyaksikan itu semua tertawa puas.
" Kenapa Lo bisa sejahat itu? Cewek itu masih pitik banget" ucap Ibnu tidka habis pikir.
" Bukan saatnya mengasihani, gue gak rusak dia, memang dia sudah rusak sekalian saja."
" Ya Tuhan, demi apa? Anak abu kencur gitu? Ada apa dengan jaman ini?"
" Jaman berubah, karena orang tua yang menggiring perubahan itu." Ucap Rio sinis.
Ibnu yang tahu kisah luka hidup Rio hanya mendesah gusar.
" Masih Lo dendam ke mereka?"
" Banget, cuma Jeno yang yang gue punya, karena itu gue gak bisa kehilangan dia, cuma dia satu-satunya keluarga yang peduli ke gue, tanpa dia mungkin gue sudah mati, gue terlalu muak hidup di dunia yang bejat inu ." Sebutir bulir bening jatuh dari pelupuk matanya, wajahnya mendung bagai langit yang akan menurunkan hujan deras.
" Terakhir gue dengar dia dalam keadaan stabil, Bara meminta beberapa dokter ahli mengawasi perkembangan kondisinya dalam 24 jam nonstop."
" Seperti Lo, dia juga tidak bisa kehilangan Jeno." Ucap sedih Ibnu.
Rio Tertawa pelan." Manusia buluk itu ternyata bermanfaat."
Sisilia memandangi wajah kekasihnya yang tertidur lelap setelah kepergian para sahabatnya yang lelah membujuk dia untuk melakukan klarifikasi yang berujung sia-sia, ia terlonjak kaget saat Mumtaz tiba-tiba bangun, dan hendak beranjak yang keburu dicegah oleh Sisilia.
" Mau kemana?"
" Hah?"
" Operasi papi..."
" Tia Barus aja mengabari kalau operasi papi Sukses."
" Alhamdulillah, Afa tidak jadi yatim-piatu."
" Heh." Sisilia memukul lengan Mumtaz.
Mumtaz meraih tangan Sisilia yang masih bertengger di lengannya, dan menggenggamnya.
" Jangan salah paham, aku hanya tidak mau Afa merasakan apa yan aku rasakan."
" Memang apa yang Kakak rasakan?"
" Kesepian, yang paling parah kangen pengen bertemu, tapi gak bisa. Berasa yang kita miliki tidak ada artinya."
Mumtaz menyugar rambutnya." Ya Tuhanku, aku ingin sekali bertemu ayah dan mama. Memanjakan Mereka dengan segala hal yang ada di dunia."
" Mama, ayah. Kangen... hiks." Ia mengusap wajahnya kasar.
Sisilia memeluk Mumtaz, ia ingin kesedihan itu terbagi dengannya.
" Aku tidak bisa membayangkan Afa merasakan perasaan ini, terima kasih, Allah."
"..Tapi papi selamat."
" Maminya yang tidak ada, kehilangan itu menyakitkan. Dan kamu tahu betapa rapuhnya kakakmu yang satu itu." Ucapnya lemah.
" Kak."
" Hmm."
" Apa besok bisa hadir di penghormatan terakhir Mami?"
Seketika terjadi jeda yang terasa tidak berujung, Sisilia mengerutkan keningnya saat raut Mumtaz terlihat gusar, seakan terganggu akan sesuatu.
" Aku usahakan."
Tok..tok...
Raut Sisilia langsung berubah kesal, yang membuat Mumtaz mengeryitkan keningnya bingung.
" Kenapa?"
" Itu pasti kak Ibnu, ini sudah yang ke lima Kalianya dia berisik. Aku jadinya merasa kamu tuh punya dua pacar." Rengutnya.
" Hahahaha.. serius?" Tanya Mumtaz sambil melangkah membuka pintu.
Ceklek....
" Muy, Lo baik-baik aja kan?"
" Baik, yang gak baik tu, Lia."
Ibnu melihat sisilia yang cemberut.
" Kenapa kamu, Sil?"
" Ini semua salah kak Ibnu, kenapa juga alay begini ketokin pintu mulu."
" Aku ingin memastikan keadaanya."
" Kan ada aku, pacarnya yang menemani dia." Tekan Sisilia pada Kata ' pacar.'
" Apa salahnya aku peduli?"
__ADS_1
" Peduli boleh, tapi ini berlebihan."
" Ah sudahlah, Kakak mau ke toilet.Muy, gue pinjem toilet ya."
Ibnu tanpa sungkan masuk ke toilet pribadi Mumtaz, setelah mengambil ponsel dari nakas, Mumtaz menrik tangan Sisilia.
" Mending keluar yuk..."
" Assalamualaikum, Ayu cantik mampir sambil bawa makan." Teriakan ceria Ayu mengalihkan atensi yang ada di ruangan itu.
" Kok kesini?" Tanya Mumtaz
" Disuruh ayah, rumah sepi. Dan bunda menitip makanan buat Abang. Kak, kata bunda Banga Mumtaz dan yang lain gak boleh keluar ruangan sebelum perutnya kenyang." Ayu menaruh paperbag berlogo rumah makan di atas meja.
" Bang, Ayu pinjem toiletnya. Sudah diujung ini." Ayu berlari kebelet ke ruang pribadi.
Di sana ia beserirobok dengan Ibnu yang hendak keluar.
Ibnu masih di sana, duduk di ranjang besar itu saat Ayunda keluar dari toilet, ia mencoba abai akan keberadaan aibnya yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat ribuan kali dibanding saat normal.
Tangan Ibnu menarik tangan Ayunda yang hendak menggapai kenop pintu.
" Jangan menghindar dari Abang."
" Jangan halu, Lo gak sepenting itu yang harus gue hindari."
Ibnu sedikit terkejut dengan kata-kata kasar dari gadis favoritnya ini, namun itu hanya sesaat.
" Masih marah, hmm?"
" Awas ih, mau keluar ini "
" Ngomong dulu sama Abang."
" Kenapa? Mau protes kalau aku sudah bikin pacar ceking Abang itu tersiksa?"
Ibnu menghela nafas kasar." Tidak, tapi Abang gak suka kamu brutal begitu."
" Terus aja belain pacarnya.'
" Bukan pacar..."
" Gak mau tahu, lepas Napa." Judes Ayunda ala remaja putus cinta.
" Bicara dulu, Abang cuma mau mint maaf."
" Itu sudah, kan? Lepas."
" Yaa.. enggak kayak begini, Abang mau minta maaf dengan cara yang benar, supaya kamu gak menghindari Abang lagi."
Enggan mengabulkan lelaki pujaannya yang sering bikin sakit hatinya ini, Ayunda mencoba paksa melepas tangannya.
" Ayu, jangan. Nanti tangan kamu akan sakit."
" Bodo, kalau gak lepas Ayu bakal melakukan hal yang nekat yang bikin Abang sakit."
" Ayu udah bikin Abang sakit...aaaawws..." Ringisnya memegang area pusakanya.
Ayunda menendang junior Ibnu yang membuat sang empunya ngilu.
Saat pegangan ditangannya lepas, Ayunda langsung lari ngibrit ke arah Mumtaz meminta perlindungan.
" Kamu apain bang Inu."
" Juniornya aku tendang."
" Uuhh.." Rio meringis sambil memegangi selangkangannya.
" Kamu kenapa dia beringas begini?" Tanya Rio ditengah melahap makanannya.
" Efek gaul sama Aa Ayin." Celetuk Khadafi.
" Jaman sekarang perempuan baik-baik gak bar-bar jadi korban bully."
" Gak musti bar-bar untuk melawan bully, kuatkan saja karakter Ayu sebagai perempuan tangguh." Seru Mumtaz.
" Sekolah, gimana?"
" Aman, Andros sudah mengirim pesan ke setiap anak BIBA untuk gak ganggu Ayu atau mereka berurusan dengan anak genk."
" Bagu, tapi Ayu jangan bergantung pada mereka, Ayu harus bisa jaga diri Ayu sendiri. Nanti Abang pinta nano buat latih Ayu bela diri."
" Kami sendiri, Fi. Kapan balik ke pondok?"
" Aku sudah minta izin ke abi Khaidar untuk masih di sini, dan menceritakan apa yang terjadi. Abi mengizinkan."
" Tapi kamu mau ujian."
" Di sini juga Dafi belajar, Aa Ayin menugaskan Dafi menemani Ayu, jadi kita bisa belajar bareng."
" Hati-hati, nanti kalian bisa jatuh cinta." Celetuk Rio.
" Gak bakalan." Tegas Khadafi yang mendapat delikan tajam dari Ayunda.
" Fi, Lo kalau jadi pacar, syukur-syukur suami gue, bisa terjamin kesejahteraan Lo."
" Ck gue gak sepayah itu, buat gue miskin, tapi gue cowok yang pantang numpang hidup ke cewek."
" Bukan numpang hidup gitu, Lo bisa jadi petinggi Birawa corp. Gue kasihan ke bang Daniel, tapi gue gak minat ngurus perusahaan."
" Kalau Dafi gak mau, bang Iyo aja, mau? Abang punya pengalaman ngurus perusahaan nenek." Rio menawarkan dirinya sendiri. Menyebut panggilan yang diberikan Ayunda sejak mereka kenal
" Ogah, keluar dari kandang cicak masuk ke kandang Srigala."
" Heh, itu mulut "
" Maaf, tapi itu kenyataannya. Abang pria favorit aku, tapi gak untuk menjadi calon suami favorit. Aku tahu ya sepak terjang buaya darat Abang."
" Bagus, Yu. Demi masa depan Birawa, orang kayak kak Rio memang harus dijauhi." Sisilia memanasi.
" Sudah, kamu jangan mikir terlalu jauh, nikmati masa remaja kamu."
, Tapi Ayu suka gak tega melihat bang Daniel gak punya waktu untuk dirinya sendiri."
" Yu, Ayah Teddy gak kekurangan bala bantuan, beliau bisa minta bantuan anak RaHasiYa. Kalau bang Daniel sibuk, itu karena dia ingin." Terang Mumtaz.
Drrt...
Mumtaz membuka pesan yang dikirim Dominiaz.
" Sayang, aku harus pergi." Ucap Mumtaz pada Sisilia.
" Kemana? Diluaran sana Kakak sedang jadi pusat perhatian."
" Aku pergi sama bang Domin."
" Itu bikin aku lebih khawatir."
Mumtaz terkekeh," Abang sendiri dijulidin. I'll be fine, promise! Tuturnya mencium punggung tangan Sisilia."
" Fi, jangan biarkan Ayu pergi sendiri. Meski hanya untuk ke toilet."
" Siap."
" Aku pergi, makasih udah suapi aku. Kamu juga makan yang banyak, hmm." Ucap Mumtaz sebelum mengecup kening Sisilia, lalu tubuhnya tertelan dibalik pintu.
" Aaakkh..pengen pacar kayak bang Mumuy. Gak nyangka doi so be romantic." Teriak gemas Ayunda.
" Biasa aja Yu. Itu mah standard." Seloroh Sisilia.
" Cih, merendah untuk menyombong. Bangga?"
__ADS_1
" Banget."....