Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 52. Api Dibalas Dengan Air


__ADS_3

Sesampainya di ruang kerja Jimmy yang berada dilantai enam, tanpa basa-basi Mumtaz menghampiri Ibnu yang duduk di sofa.


" Nu, Lo periksa siapa pemilik nomor ini." Mumtaz melempar ponselnya ke Ibnu, dan duduk di sampingnya


Tak lama Ibnu mendapatkan apa yang dia cari.


" Nomor atas nama Divanya Larasati, mahasiswa UAM, fakultas ekonomi semester tujuh. Dari laporan perjalanan satu jam terkahir GPS nya dia berada di lingkungan kampus, terus ke mall yang di depan itu, dan menuju rumah daerah kali bata atas nama Raihan Husain, ayah dari Riana Husain, dan menuju rumahnya."


" jadi ini ulah mereka." Gumam Mumtaz


" Kenapa?" Tanya Daniel bingung.


" Sisilia nelpon gue kalau nomor itu kirim foto ke ponsel Lia pas gue boncengan sama Riana sampai mall depan."


" Mum, gue dengar dari anak BEM dia udah lama suka sama Lo, Lo tahu itu?" Ucap Yuda, Mumtaz menggeleng


" Lo gak nyadar segala perhatian dia sama Lo selama ini?" Tanya Yuda


Mumtaz menggeleng " emang dia perhatian apa sama gue?"


Yuda melempar kertas gemas ke Mumtaz " itu bekal makan siang yang selalu dia bawain buat Lo kalau ada rapat BEM." Mumtaz terdiam merenungi.


" Biasa saja, kan bekalnya juga dimakan rame-rame."


" Ini,... ini Kebiasaan jelek kalian berempat gak menaruh perhatian pada sekelilingnya." Ucap Radit.


" Ngapain merhatiin kalau gak penting." Ucap Daniel.


" Ya ini akibatnya, Si Mumtaz gak tahu kalau ada orang berniat merusak hubungan dia dan Sisilia."


" Lo juga kudu hati-hati Niel, gue dengar si Diva juga suka sama Lo." Ucap Yuda.


" Diva, siapa?"


" Serius Lo gak tahu Diva?" Tanya Haikal, Daniel mengangguk.


" Dia yang nempelin Lo mulu sebelum empat bocil nongol dikampus."


Daniel mengerutkan dahi untuk mengingat-ingat, tapi dia tak dapat mengingat apapun. Dia menggeleng " banyak yang nempelin gue pas mereka tahu gue ahli waris Birawa."


" Mum, Lo mulai sekarang harus lebih perhatiin Riana." Ucap Radit


" Ngapain, daripada merhatiin dia mending gue perhatiin Sisilia."


"  Gue tahu menurut Lo hubungan itu yang terpenting dua orang yang menjalankannya, tapi jangan lupa kondisi luar juga akan mempengaruhi hubungan Lo kecuali Lo tempelin terus Sisilia selama 24 jam tiap harinya. Contohnya sekarang, coba kalau Sisilia gak telpon Lo, apa Lo tahu perihal ini? Tapi yang pasti perasaan Sisilia pastinya gak baik-baik aja." Terang Radit panjang lebar.


" Ck, ribet. Ngapain sih tu cewek demen gue."


" Satu-satunya jalan Lo deklarasikan hubungan kalian."


" Maksud Lo gue bikin pengumuman gitu." Sarkas Mumtaz


" Ya enggak gitu juga kali." Jengah Radit.


" Mum, berita Lo boncengan sama Riana rame di wa group BEM ada fotonya juga" Ucap Yuda.


" Ini saatnya Lo bertindak." Ujar Radit.


" Bawel lo, Dit." 


" Yud, Lo lurusin deh gunanya wa group buat apa, ini gibahan unfaedah semua." Ujar Jimmy


" Mum, Lo baca komentar Riana, komentarnya menggiring opini orang bahwa kalian ada sesuatu spesial gitu." Ucap Rizal.


" Lo gak buka group?" Tanya Radit, yang melihat Mumtaz anteng dengan kertas yang dibacanya. Mumtaz menggeleng, Radit menepuk jidat.


" Buka, sekarang. Kalau Lo peduli Sisilia. Dia anggota group." Desak Radit gemas.


Mumtaz membuka group, belum lama buka dia jengkel, tak basa-basi dia mengetik dengan caps lock


"GUE ANTAR RIANA CUMA SAMPE MALL DOANG KARENA GAK ADA YANG MAU NGANTER DIA. TIDAK ADA YANG MESTI DIRIBUTKAN, GUE TIDAK TERTARIK DENGAN RIANA. RIANA, SURUH TEMAN LO YANG MENYEBARKAN BERITA INI TANGGUNG JAWAB, JIKA TIDAK GUE AMBIL TINDAKAN. KALIAN JAGA PERASAAN KEKASIH GUE ; SISILIA PRADAPTA. AKU CINTA KAMU, SISILIA." Dia post ke group itu.


" Jingan, Muy, Ampe segitunya Lo." Ucap Ibnu.


" Ribet, Nu, kalau banyak typo. Kalian repost ya komentar gue. Awas kalau enggak." Ujar Mumtaz ke para sahabat.


" Group langsung adem seusai Lo ngasih komentar, Mum." Ucap Rizal


" Gue yakin sih ini foto bukan hanya di group ini doang, mengingat si Diva anak club pers." Ucap Haikal


" Nu, repost komentar gue di setiap medsos kampus, atau di setiap ponsel anak UAM. Ishh, berasa artis gue." Jengah Mumtaz.


Para sahabat menggeleng kepala dengan cara Mumtaz yang Anti-mainstream.


" Sudah, beres!!!!" Ucap Ibnu.


" Udah lah tutup case masalah percintaan. Btw kalian sudah pelajari laporan yang gue bagi?" Tanya Ibnu yang diangguki oleh yang lain.


" Ini kita beneran mau rapat sama para konglomerat itu?" Tanya Ubay.


" Iya, tugas Lo lebih berat sebagai asisten Bara yang harus komunikasi dengan asisten petinggi RaHasiYa mengingat petinggi RaHasiYa ini malas mengikuti trend bisnis, tapi punya bisnis khususnya Atma Madina dan Birawa." Ucap Ibnu.


" Gue nilai di sini hanya Husain yang memiliki kelemahan rahasia dagang." Ucap Yuda.


" Iya, ditambah belakangan mereka di teror Aloya untuk kerja sama. Muy, Husain telpon gue mau mengajukan proposal kerja sama." Ucap Jimmy.


" Pending aja dulu. Gue lagi pantau pergerakan Zivara." Ucap Mumtaz


" Hartadraja mengajukan perpanjangan kerjasama yang akan berakhir akhir tahun ini." Ujar Jimmy.


" Masih lama, pending dulu. Kita fokus buat besok aja dulu. Pembahasan selesai, gue mau tidur." Mumtaz keluar ruangan disusul yang lain tanpa protes yang melihat mood Mumtaz anjlok.


****


" Pagi semuaaaa" salam Sisilia riang memasuki ruang makan


" Pagi, lagi senang ya." Tanya Dominiaz.


" Biasa saja. mom, hari ini kayaknya Lia pulang malam persiapan Pema."


" Dijemput mang Dadang?"


" Jangan, pulang diantar kayaknya."


" Cie...yang udah punya pacar."


Ledek Daddy.


" Apa sih, Dad." Sisilia malu.


*****


" Lama." Ucap kesal Hito sambil menjalankan mobilnya


" Maaf, ini juga udah buru-buru. Di rumah lagi banyak orang jadi basa-basi dulu."


" Aku ada rapat pagi."


" Iya , tahu. Lain kali kalau dalam 30 menit aku gak muncul kamu tinggalin aja ya. Daripada marah-marah begini." Ucap Zahra.


" Mana tega."


" Kalau gak tega jangan marah-marah, Aku yakin kalau Ziva yang kamu tungguin pasti gak marah." Zahra mulai jengkel.


" Jangan kemana-mana, lagian mana pernah aku nungguin dia."


" Mana aku tahu. Kamu segitunya gak mau jemput aku."


" Bukan gak mau, tapi aku ada rapat pagi, rapatnya sama adik kamu tanya aja dia. Kamu ditelpon gak aktif."


" Ponsel aku rusak, belum sempat beli ponsel."


" Kenapa kemarin gak beli?"


" Lupa."


Hito menghela nafas dalam-dalam. Zahra diam tak nyaman. Pagi-pagi sudah ribut.



" Aku langsung pergi." Ucap Hito begitu sampai di lobby rumah sakit.



" Iya, memangnya mau ngapain lagi, mau nunggu Ziva!?" 



Menghela nafas " maaf, salah ngomong, maksud aku gak nganterin sampe ruangan kamu."



Zahra membuka pintu mobil " hati-hati,  lebih baik terlambat daripada jadi pasien rumah sakit." Ujarnya sebelum keluar dan menutup pintu.



" Cie..cie... Sekarang mah dianter, kudu ucapin makasih Lo sama gue." Ucap Zivara ketika berpapasan di lobby.



" Kenapa?"



" Kalau bukan karena kasus gue, Lo bakal tetap baik hati dan tidak egois, punya pacar tu dimanfaatin buat jadi sopir pribadi."



Zahra tak menanggapi, dia kurang suka dengan argumen Ziva.



" Ngapain Lo ngikuti gue?"



" Mau konsul, pasien gue hamil tujuh bulan keukeuh pengen lahiran normal padahal punya riwayat  lemah jantung."



" Orang kaya?" 



" Iya, kenapa emang?"



" Kayak Lo, typikal egois dan angkuh. Semuanya kudu dipenuhi." Sarkas Zahra.



Zivara hanya berdecak tidak suka.



\*\*\*



" Assalamualaikum. Tetangga tercintaku." Kak Edel memasuki rumah dengan berteriak sambil menggendong anak balita.



" Wa, alaikumsalam." Jawab Zayin. Dan mencium tangan Kak Edel.



" Loh, ini siapa ganteng banget." Tanya kak Edel.



" Kakak, masa ke calon mantu sendiri lupa." Jawab Tia yang menyusul Zayin.


__ADS_1


" Hah, ini Zayin?, Ganteng banget. Dek, lihat calon imam kamu." Ucap kak Edel kepada bocah yang tak mengerti apapun.



" Ini, kamu gendong calon isteri kamu, sok kalian saling PDKT." Kak Edel memberikan Adelia ke tangan Zayin yang diterima Zayin dengan terpaksa



" Hahhahha...." Tawa Tia membahana.



" Diam Lo, sumpah makin berasa pedofil gue." Keluh Zayin



" Kamu sudah booking si Zayin, Del," tanya seorang ibu."



" Iya, dari Adel masih dalam perut."



" Yaaaa, keduluan dong saya." 



" Jeng, jodoh siapa yang tahu, berusaha aja dulu." Ibu yang lain mengompori.



" Eitt tidak bisa, sesama tetangga dilarang menikung." Larang kak Edel.



" Kalian ini. Zayin nya aja cuek bebek. Kalian yang ribut."



" Bu Aida, ini kuenya lima macam aja." Ujar Bu Neneng, ibu RT.



" Iya, itu cuma buat suguhan pengajian di rumah, Bu."



" Kalau makanan gimana?"



" Rencananya saya catering aja."



" Pakai catering bu engkos aja, masakannya endul. Entar saya bawa testernya." Ucap Bu Erna, ibu RW.



" Saya bicarakan sama Tia nya."



" Assalamu,alaikum." Salam seseorang dari luar.



" Wa, alaikumsalam, eh mbak Sherly. Mari masuk, repot-repot datang kemari." Basa-basi mama.



" Tia, ini ada bude Sherly." Panggil mama



Tia menghampiri bude dengan ragu dan kaku tak menyangka ada keluarga dari Jimmy yang datang.



" Apa kabarnya calon manten?"



Tia mencium tangan bude Sherly " baik, bude. Terima kasih mau datang."



" Apa sih nikahan ponakan ya harus dong budenya ikut sibuk."



" Mari gabung sama yang lain di dalam." Ajak mama



Dan masih banyak lagi obrolan para ibu tetangga perihal pernikahan Tia dan Jimmy. Semakin siang tamu semakin rame.



\*\*\*\*



" Baru ini saya memasuki gedung RaHasiYa." Ucap pak Aznan.



" Semuanya memukau serba teknologi." Timpal pak Gama.



" Dari pintu utama masuk saja saya seperti masuk ke dunia lain." Komentar pak Hazam.




" Gak sering, sesekali saja."



Sementara para owner berbincang, para asisten mendaftarkan diri. Setelah terregistrasi para owner itu masing-masing didampingi oleh satu robot berupa manusia.



" Silahkan menuju lift." Ucap sang robot yang menyerupai wanita profesional selaku guide para tamu.



" Ini robot ngapain ngikuti kita." Tanya pak Aznan.



" Mereka robot pengawal, setiap tamu  pertemuan resmi yang datang pasti dikawal robot guna antisipasi dari kemungkinan ancaman." Ucap papi Aryan.



" Wow. Impresif." Ucap pak Gama.



Mereka memasuki lift, mereka terheran tidak ada nomor lantai di dinding lift.



" Lift akan mengetahui kemana tujuan kita lewat retina mata kita." Terang papi Aryan 



Setelah sampai di lantai tujuan, yaitu lantai sembilan pintu ruangan terbuka secara otomatis.



Lagi, mereka terheran, " mereka dapat memindai kita sebagai peserta pertemuan dari registrasi tadi. Jika salah satu dari kita bukan peserta, maka pintu tersebut akan tertutup otomatis."



Dalam ruangan, para petinggi RaHasiYa telah duduk di kursi masing-masing.



Lantai sembilan merupakan lantai yang diperuntukan pertemuan luar biasa, pengamanan di lantai ini di jaga ketat karena melibatkan orang-orang penting  yang objek perbincangannya bersifat penting dan rahasia.



Ruangan yang keseluruhannya berdinding kaca karena bisa berfungsi sebagai komputer hologram touchscreen.



" Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang bapak-bapak berikan, baiklah. Kita langsung ke inti pertemuan." Ucap Jimmy.



Ibnu membagikan beberapa kertas kepada setiap peserta rapat.



" Saya akan menjelaskan isi temuan kami yang sudah tertulis di kertas yang anda pegang, Meski para asisten anda kan memiliki salinan di email masing-masing." Ibnu membuka pembahasan.



" Aloya, beserta kolega memiliki mimpi menembus top 10 di Indonesia di thaun ini. Meski saat ini bahkan mereka tidak termasuk top 30 terbaik di Indonesia.



" Lembaran kedua terdapat beberapa kolega yang terdaftar sebagai rekan bisnis aktif Aloya, salah satunya Brotosedjo, Alexander, dan Santoso. Meski Santoso dibawah pimpinan Alex Santoso memutuskan kerja sama dengan Aloya tidak lama ini." Semua penjelasan Ibnu juga terpampang pada layar 3D hologram di hadapan mereka.



" Kenapa beberapa waktu lalu RaHasiYa tidak memperkenankan Hartadraja corp bekerja sama dengan Brotosedjo corp?" Tanya pak Hito.



" Brotosedjo tidak hanya mendekati Hartadraja, tetapi juga Pradapta, dan Atma Madina  untuk bekerja sama dalam produk penyediaan APD yang bisa disterilkan dengan alat khusus yang merupakan pencurian produk Rama Rugawa dari Rugawa tekno yang saat ini sedang proses pengajuan hak paten." 



" Brotosedjo merupakan salah satu rekan aktif Aloya. Aloya disinyalir mendapatkan dana dari perusahaan luar yang dicurigai melakukan tindakan pencucian uang." Terang Ibnu.



" Kenapa RaHasiYa melakukan penyelidikan terhadap Aloya? Tanya pak Hazam



Sesaat terdiam para sahabat saling memberi kode," Hartadraja corp merupakan klien kami sudah kewajiban kami melakukan pengawasan terhadap setiap pengajuan kerja sama dari berbagai pihak yang disinyalir merugikan klien termasuk Brotosedjo, Dalam penyelidikan Brotosedjo corp kami menemukan kerja sama brotosedjo dengan Aloya." Ucap Mumtaz.



" Aloya dan rekannya memiliki dana dan fasilitas yang sangat baik, tapi tidak memiliki nama besar itu sebabnya kenapa mereka mendekati top 5." Tambah Jimmy.



" Apa yang terjadi jika Aloya berhasil menyalip diantara top 10."



" Krisis moneter bagi Indonesia. Mereka berbisnis tidak dengan prinsip sama derajat, tetapi mereka yang mengendalikan partnernya. Oleh sebab dana mereka dari luar, maka Indonesia dapat dikendalikan pihak asing. Sebagai negara dan bangsa yang merdeka kita akan kehilangan kedaulatan." Tukas Daniel.



Mereka saling pandang " baiklah, kedepannya kita adakan pertemuan top 10. Kami berharap RaHasiYa bersedia ikut serta." Ucap pak Aznan


__ADS_1


" Tentu, kami memiliki tanggung jawab moril sebagai bangsa Indonesia." Ucap Jimmy.



" Sebelum meninggalkan gedung ini perkenankan kami menjamu kalian di lantai empat, kantin kami."  Ucap Jimmy dengan senyum. Bara memutar bola mata jengah.



Lantai empat merupakan kantin dengan pembagian konsep cafe, resto yang private room, lesehan ala pedesaan bagian balkonnya.



" Wow, saya pikir ketika menyebut kantin, akan menemukan kantin seperti pada umumnya ternyata benar-benar berbeda." Ucap papi Aryan.



" Kamu baru kesini, Yan?" Tanya pak Aznan.



" Iya, biasanya kalau mau makan dianter langsung ke ruangan Alfa."



" selain menu yang ada, hari ini kami promosikan nasi uduk spesial. Khusus nasi uduk dan lauk pauknya bisa delivery." Promo Jimmy.



" Pak Alfa, bagaimana tawaran kerja sama dari kami apa sudah kalian pertimbangkan?" Tanya pak Hazam



Jimmy melirik Mumtaz " kami masih mempelajarinya pak."



" Saya harap kalian segera memberi jawabannya."



" Akan kami usahakan secepatnya."



Promosi Jimmy atas uduk Rizal cukup sukses, Rizal mendapat pesanan uduk dari Dominiaz sebayak 50 bungkus dan 10 bungkus dari om Damar.



\*\*\*\*


Mumtaz duduk sendiri di ruang kuliah kosong sambil memijat pelipisnya.



" Mumtaz, apa boleh gue pakai tugas kelompok dari pak Hamid buat lomba atas nama Alatas architecture?"



" Lomba dimana?"



" Senayan, tennis indoor."



" Tingkat?"



" Oke, sebenarnya ini gak murni lomba akademisi, tapi lelang buat suatu proyek perumahan dari salah satu perusahaan property terbesar di dunia. Kalau kita berhasil hasil lolos kita bakal di kontrak eksklusif oleh mereka, perusahaan gue butuh ini."



" Oke, tapi nama gue diikut sertakan. Kalau lulus gue juga jadi partner Lo."



" Pastinya."



" Lo main ke rumah gue, gue punya maket yang lebih oke buat Lo."



" Serius?, oke gue hubungi Lo lagi."



" iya, gue pergi dulu urusan Pema." Mumtaz beranjak meninggalkan ruangan



Seharian ini Mumtaz sungguh lelah, dia ingin segera pulang dan tidur dengan langkah lemah dia menuju parkiran motor


" Mumtaz, anter aku ya." panggil Riana yang berlari kecil menghampirinya.


menghela nafas berat " sama yang lain aja."


" gak ada orang yang bisa." rengek Riana yang tidak mempengaruhi Mumtaz


" suruh teman Lo yang ngikuti kemarin anter Lo pulang."


Riana gusar salah tingkah " serius, aku gak tahu apa yang kamu omongin."


" Terserah, Rom, pinjem motor lagi." Romli melempar kunci motornya.


Dari dalam kampus Sisilia berlari mencoba menyusul Mumtaz diparkiran, tadi dia menelpon mang Dadang agar tidak menjemputnya karena pulang bareng Mumtaz yang sedari tadi di telpon gak diangkat.


Ketika sampai di area parkir motor tatapannya tertuju kepada Mumtaz dan Riana yang sudah memakai helm yang biasa dia pakai. senyum yang semula hadir di bibirnya kini lenyap.


" Kak Mumtaz," teriaknya, namun tak terdengar oleh Mumtaz, Sisilia bergegas lari, tapi terlambat motor itu telah meninggalkan area kampus.


Sisilia berdiri termangu menganalisa kejadian tadi, Ibnu yang melihatnya menelpon Mumtaz, namun tak diangkat.


Ibnu menepuk pundak Sisilia yang ternyata sedang menangis " aku antar kamu, yuk pulang." tanpa kata Sisilia mengangguk.


Daniel yang memperhatikan semuanya dari kejauhan menelpon Mumtaz


Mumtaz yang ditengah jalan menepikan motornya karena sedari tadi telponnya tidak berhenti bergetar.


" kenapa?" tanya Riana mendekat ke Mumtaz


Mumtaz membuka helmnya " bentar, ada telpon." dia melihat siapa yang menelponnya, dan mengangkatnya


" Dimana Lo? tanya Daniel begitu sambungan telpon diangkat


" Gue dijalan, kenapa?"


" *B*areng Riana ?."


" Iya."


" *A*njim Lo, Sisilia lihat kalian. Dia manggil Lo, tapi gak Lo gubris. Dia nangis."


Mumtaz tertegun, pikirannya kosong. Begitu tersadar dia menutup sambungan telpon.


" turun."


" apa?" kenapa?" tanya Riana bingung masih duduk di atas motor


" TURUN," bentak Mumtaz


Riana turun dari motor karena takut, dan membuka helmnya. Mumtaz mengambil helm yang ditangan Riana.


" lo serius nurunin gue di sini?" ucap Riana tidak terima.


Tanpa kata Mumtaz menyalakan motor, dan meninggalkan Riana yang terbengong.


Dengan kecepatan diatas rata-rata Mumtaz menerobos jalan yang ramai, dia menghiraukan umpatan pengguna jalan lainnya. Mumtaz hanya memikirkan Sisilia dan kesedihannya.


****


" Assalamu'alaikum." salam Sisilia dengan suara yang lesu dan mata bengkak


" Wa, alaikumsalam." jawab mommy menerima uluran tangan Sisilia yang mencium tangannya.


Sisilia memeluk mommy-nya erat, dia menangis lagi dalam pelukan mommy yang menggiring tubuhnya ke ruang keluarga yang terdapat Daddy dan kakaknya.


Mereka saling pandang bertanya ke mommy yang mengedikan bahu. Mommy membawa Sisilia duduk di sofa seberang Daddy.


" kenapa? perasaan tadi pagi senang, tadi dianter siapa?"


Bukannya menjawab, Sisilia malah menangis keras. Membuat yang lain bingung.


" Maaf. tuan, nyonya. Ada mas Mumtaz mencari nona Sisilia." ucap Bi Nijah, kepala pelayan rumah.


" Bilang sama dia Lia gak ada di rumah." Isak Sisilia.


" Maaf, non. mang Maman sudah bilang kalau nona ada di rumah."


" Mana orangnya?"


" Itu di ruang tamu, non."


Sisilia dengan geram menemui mumtaz diikuti keluarganya.


Mumtaz menatap Sisilia yang berdiri tegak, " sini, duduk." ucap kalem Mumtaz menepuk tempat di sampingnya.


" NO WAY. " Daddy, Mommy, dan Dominiaz menepuk jidat.


" Maaf, sumpah. Aku gak dengar kamu manggil aku. kenapa kamu gak bilang kalau kamu udah mulai inspeksi lapangan?"


" Aku berkali-kali telpon kamu, tapi gak kamu angkat, kamu sadar gak selama kita hubungan selalu aku yang telpon kamu duluan gak pernah kamu. Memang cuma kamu doang yang sibuk, aku juga. Kalau memang kamu udah gak suka aku putusin dulu aku baru jalan sama yang lain." cerocos Sisilia


" Maaf, tapi gak begitu faktanya, ceritanya sama yang kemarin, bedanya aku turunin dia di tengah jalan sesudah menerima telpon dari Daniel kalau kamu lihat kami, dan kamu nangis. Aku langsung putar balik kesini." terang Mumtaz.


Sisilia yang sudah terlanjut marah berjalan keluar rumah dan melempar helm yang ada di cantolan depan motor.


Semua orang kaget. " Aku gak mau pakai helm itu lagi, helm itu udah dipakai dia. Kamu juga udah janji gak akan membonceng perempuan lain selain kami berempat dan keluarga kamu, tapi apa, kamu bonceng dia dengan motor kamu."


Dengan tenang Mumtaz mendekati Sisilia memegang kedua pundaknya dan membalikan badan Sisilia menghadap motor " soal helm, baik. kita beli yang baru. soal motor, kamu sebelum marah lihat dulu motornya, baru marah."


Sisilia melihat motor yang terparkir di halaman rumah " Ini...," ucapannya terputus sambil melihat Mumtaz.


" Iya, ini bukan motor aku, tapi punya si Romli. Besok baru dibalikin."


Sisilia terdiam, dia masih ingin marah, tapi gak tahu mesti marah apa lagi.


" Aku gak suka kamu bonceng perempuan lain."


" Gak akan lagi."


" Mulai sekarang kamu harus sering telpon aku."


" Aku usahakan, aku gak bisa basa-basi ditelpon."


" Kamu suka aku kan?"


" Baru kemarin aku umumkan di group kalau aku cinta kamu."


Sisilia berdiri menunduk salah tingkah, " udah, marahnya?"


" Masih pengen, tapi lupa mau marah apa lagi."


Mumtaz tertawa kecil " ya udah, pikirin dulu aja. aku pamit pulang ya."


Mumtaz menghampiri keluarga Sisilia. " om, Tante, bang. pamit pulang dulu, maaf malam-malam bikin keributan." Mumtaz mencium tangan mereka.


"Assalamualaikum."


" "Wa, alaikumsalam."


Mumtaz menaiki motornya dia mengelus puncak kepala Sisilia sebelum meninggalkan rumah besar itu.

__ADS_1


" Dad, begitu doang marahannya? nangis aja kejer." dengus mommy.


" kayaknya Mumtaz siap mengendalikan darah Panas Italia Sisilia." ujar Dominiaz.


__ADS_2