Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
245


__ADS_3

Ibnu menatap pintu ruang operasi dengan was-was, sudah dua jam dia dan para sahabat datang ke rumah sakit namun belum jga ada kabar berita perkembangan Mumtaz.


Akbar dengan menenteng paper bag mendatangi mereka. Menaruh dua paperbag itu di kursi kosong.


" Nu,...minum dan makan dulu." Akbar menyodorkan secup coklat hangat dan satu sandwich.


" Nanti saja." jawab Ibnu lesu, matanya memandangi pintu yang tertutup rapat berharap seseorang keluar membawa kabar gembira.


" Kalau Mumtaz kenapa-kenapa, gue gak akan bisa memaafkan diri gue. kalain kalau mau hajar gue yang menyebabkan Mumtaz di dalam sana, hajar aja jangan sungkan-sungkan. kalau bisa sampe ma-ti."


" Ogah, entar Lo gentayangan gue." sahut Alfaska.


" Gue juga emoh, biayain tahlilan Lo mahal. secara yang datang pasti banyak." timpal Daniel.


" Gue enggak, gue gak mau dihajar Mumtaz." jawab Akbar realita.


" Ini kan kalau Mumtaz nya gak ad..."


" Pasti ada, dia terlalu keras kepala untuk jadi mayat dari dua peluru." potong Alfaska tidak menyukai perkataan Ibnu.


" Udah makan dulu, jangan ditolak, Lo tahu sendiri Mumtaz paling gak suka lihat Lo telat makan." serobot Akbar saat Ibnu hendak membuka mulut.


Ibnu langsung memakan sandwich tersebut dengan lahap.


" Gimana nasib Navarro?" tanya Akbar.


" Jangan bahas dulu, gue bakal muntah mubadzir makanan enak ini." Sahut Alfaska.


" Maaf." Akbar pun diam menunggu, namun Ibnu menjawab.


" Mungkin dia sudah jadi santapan cacing atau Labrador Bara."


" Inu..." Kesal Alfaska.


" Cemen Lo." Ledek Daniel.


" Kalian bawa dia ke the baraz?" Mereka mengangguk. Akbar melongo tidak percaya.


" Gue pikir kalian bakal langsung menghabisi nyawa dia." Mereka serempak menggeleng.


" Dosa." Akbar merotasikan bola mata malas mendengar ucapan Alfaska.


" Gak ada manfaatnya aja sih bvnvh dia." Lanjut Daniel.


" Kalian kejam juga ternyata."


" Kalau Lo penasaran Lo bisa tanya Bara." Ucap Ibnu.


" Anjir Lo nyerahin dia ke Bara." Bayangan ngeri sudah hinggap di otak Akbar.


" Dan jangan lupakan Gaunzaga yang bersama mereka." Timpal Alfaska.


" RIP buat Navarro."


" Aa Afa." semuanya menoleh pada suara cempreng dari ibu muda yang berlari kecil mengarah pada mereka.


" Sayang, jangan lari. itu baby-nya nanti pusing." Alfaska beranjak menghampiri mereka yang baru tiba dari Tangerang.


" Nak, bagiamana kondisi Mumtaz?" tanya Elena mewakili putrinya yang sudah lelah menangis.


Sisilia menangis tersedu-sedu begitu mendengar Mumtaz ditembak, bahkan alm perjalan ke Jakarta dia sempat menelpon kakeknya untuk membalas perbuatan Navarro. Sisilia meminta agar seluruh keluarga Navarro dihukum berat setimpal dengan apa yang terjadi pada Mumtaz.


" Belum ada kabar, operasi masih berjalan." jawab Daniel, ekor matanya memperhatikan Dista yang sama sekali tidak melihat padanya.


Alfaska sudah sibuk menenangkan istrinya yang menangis.


" Sayang sudah jangan sampai menangis terus, dedek bayinya nanti capek." bujuk Alfaska yang melirik takut pada Zayin yang memperhatikannya dengan sorot tajam.


" Kenapa kalian tidak memberitahu kami? ini Aa aku loh, A." marah Tia.


" kita baru selesai urusan dengan Navarro, Tia." jawab Zayin.


" Adel, gimana?" tanya Hanna.


" Operasinya berjalan lancar, tapi masih di ICU." jawab Zayin muram.


kemudian dia berlaku dari sana, dia ingin melihat bidadari kecilnya.


" Yin, stop. jangan ke sana lagi, Lo bolak-balik,ke san jug gak ngebantu mending Lo istirahat." ujar Akbar.


Sepanjang hari ini sudah beberapa kali Zayin bolak balik ICU dan kawasan operasi bagai setrikaan.


" Gue gak tenang, bang."


" Semuanya gak tenang, tapi apa yang Lo bikin bikin orang nambah senewen."


" Gue ke cafe dulu dah. kalau gitu." Zayin mentik sisilia yang menangis dalam pelukan Elena untuk diajak bersamanya.


" Yin, kasih Lia makan ya, dia belum makan dari siang." pinta Elena.


" Siap, Tan. aku jejelin paksa kemulut dia kalau dia sudah diajak kompromi." elena terkekeh menanggapinya.


Bersama Bayu dan William yang setia menemani mereka menuju cafe.


*******


Nyatanya kondisi memprihatinkan Navarro yang tubuhnya sudah melepuh dan darah mengucur tidak menyurutkan Bara dan anak buahnya melakukan lebih kejam dari Ibnu.


Mereka dengan tangan terbungkus memegangi kepalanya karena enggan memegang tubuh lain tawanan mereka lalu menyeret Navarro yang sudah tidak mampu lagi melawan menuju basement.


Dilengkapi penutup kepala anti radiasi Bara dan Gaunzaga mengawasi ruangan basement eksekusi, bersama yang lain Navarro  bergabung dan dilempar  ke lantai begitu saja seperti titah Bara.


" Huekks....uhuk...uhuk...huekkkss..." Beberapa dari mereka langsung muntah karena bau anyir menyengat dari para penghuninya.


" Bos, sorry gue keluar gak kuat." Lirih lelaki tersebut.


" Hmm.."

__ADS_1


" Guk..guk..guk...." Gonggongan anjing terantai yang mencium darah langsung terdengar nyalang.


Ditambah pemandangan beberapa hewan penghuni lain sekelas cacing, ular, dan binatang lainnya menggarap tubuh mereka. Ini bisa terjadi mengingat tembok basement yang diatur sedemikian rupa hingga penghuni bawah tanah bisa masuk. Intinya rumah lingkungan.


" Tuan, apa dia di tiduri di atas ranjang?" Tanya salah satu anak buah Bara.


" Tidak perlu. supaya anjing saya mudah menghabisi dia."


" Apa kamera khusus dia sudah terpasang?" Tanya Bara pada Teknisi.


" Sudah, langsung tersiar pada orang-orang yang disebut dalam list kiriman Mumtaz."


" Saya minta kamu siarkan juga pada orang-orang yang tertulis di dalam kertas ini " Dominiaz memberi secarik kertas pada anak buah Bara bernama Dullah 


" Siap."


" Good job, Bonus nanti gue transfer ke rekening kalian masing-masing." Ucap Bara.


" Tidak perlu bos, Mumtaz sudah memberi bonus banyak bagi kami untuk tugas ini, dia hanya ingin kami mengerjakan semua yang kalian inginkan, itu perintah dia." jawab anak buah yang merasa sungkan.


Bara dan Gaunzaga terdiam kaget, sudah sedetil itu Mumtaz memperhitungkan langkah untuk membalas Navarro.


" Apalagi perintah Mumtaz?"


" Dia hanya ingin kita memastikan Navarro m4ti secara perlahan dan hina dihadapan para relasinya dan mengabadikannya dalam satu rekaman untuk dibawa ke para ganerasi Navarro. Bukankah Alfred junior dan adiknya serta Ivanka Navarro masih hidup?" 


" Damn it." Umpat Dominiaz. Dia keluar ruangan menelpon pamannya meminta kepastian posisi keturunan Alfred dan yang lain.


Dominiaz teringat ucapan kakeknya yang tadi menghubunginya bercerita keinginan Sisilia yang ingin memberangus klan Navarro seluruhnya. Dominiaz kaget, tentu, selama ini adiknya tidak pernah meminta apapun terkait organisasi leluhur mereka kar na dia tidak mau terlibat apapun di dalamnya.


" Lakukan apa yang diminta Mumtaz, Binus tetap gue kirim. Gue dengar nyokap lo sakit dan butuh biaya tinggi." Bara berbalik keluar ruangan bersama Hito dan Samudera.


" Kemarin dia udah biayain bokap gue operasi jantung, kenapa si bos berubah baik begini ya." Ucap rekan yang lain.


" Ka...kalian...a..kan merasakan akibatnya telah melawanku." rintih Navarro.


 BUGh ...


Satu orang menendang kepal belakang Navarro." Bacot, banyak laga Lo, anak cucu Lo jadi target selanjutnya."


*********


" Tuan Ernest, terima kasih atas partisipasi anda dalam pendonornya darah ini, kami tidak akan melupakannya." Ucap Fatio atas kesediaan Ernest membawa para pegawainya untuk mendonorkan darah.


" Ayolah Fatio, kita terlalu tua untuk berbasa-basi. Mumtaz dan RaHasiYa banyak jasa untuk ku."


" Kakek Ernest, bukankah anda terlalu muda untuk donor darah?" Sarkas Adgar dari belakang yang tengah berjalan mendekati mereka.


" Adgar, mana sopan santun mu."


" Apa? Aku tidak salah bicara."


" Sudahlah Fatio, jangan dipikirkan. Cucu buyutmu ini memang bocah yang harus diulek pake cabe biar Jontor mulutnya."


" Aawws, sexy sekali. Kakek kalah saing dalam perebutan jalank ting-ting nanti nangeeesss..." Ledekan Adgar makin jadi.


Plak...


" Awws, aku nanya lho, kek." Adgar mengelus lengan atasnya yang dipukul Ernest.


" Kamu tahu pasti kalau saya tidak mendonorkan darah, saya hanya mengawasi para pegawai yang izin untuk donor." 


" Yakin hanya untuk mengawasi bukan untuk cari yang baru? Adgar memainkan alisnya naik turun.


" Kamu ini, kalau dapat ya..syukur... hehhehehe."


" Ck gak kapok sama karyawan yang terakhir yang nuduh pelecehan sek-sual?!"


" Tidaklah, setidaknya bagian hukum saya ada kerjaan."


" Paman...." Nathan dan Luke menghampiri mereka.


" Waw Nilson, tumben gabung kemari." Sindir Ernest yang memang kan Wilson jarang mengikuti kegiatan langsung yang diadakan apra pengusaha.


" Nathan menyalami mereka." Paman, berhenti meledak kami, sekarang situasi sudah berubah dan ini mengenai Mumtaz tentu kami harus bergabung " ucap Luke.


" Btw, kapan dunia hiburanmu kembali dibangun?"


" Soon, kami baru rampung membahas mengenai desain taman hiburan dengan Alatas architecture. ini akan menjadi dunia hiburan terspektakuler selam Asia."


" Saya senang semuanya kembali ke semula, saya ingat bagaimana dulu Edward sangat berjuang memberi suasana baru untuk hiburan masyarakat sini yang tidak melulu mall sebagai alternatif mengisi liburan." Tutur Fatio.


" Saya dan Ibrahim memutuskan akan membuat yang lebih hebat dari sebelumnya, kami juga  memutuskan Mumtaz punya bagian saham di sini."


" Masih butuh invest gak?" Tanya Adgar.


" Apa jadi Hartadraja belum cukup menguasai dunia perbisnisan?" sarkas Nathan.


" Bukan untuk Hartadraja, tapi untuk ku pribadi, bang. Aku masih butuh cuan." Kelakar Adgar.


" Jadi tukang cleaning service di perusahaan saya mau?" Ledek Ernest.


" Muka ganteng gini? Waaah ngehina." 


" Bawa aja Nest, bawa. Ikhlas saya." Timpal Fatio yang disambut gelak tawa.


" Adgar." 


" Ngapain Lo sini?"  Tanya Adgar begitu Brian bergabung.


" Gue sama teman lagi ngantri donor darah." ucapnya menunjuk ke beberapa pemuda yang mengantri." Kebetulan darah gue golongan O."


" Wow..wow...wow... Anak ketua sudilah membantu ke rakyat jelata padahal belum masa kampanye." Kelakar Adgar saat Brian menyalami par tetua.


" Ba-cot."


" Selamat, ayah kamu menjadi ketua legislatif." Ucap Fatio dan yang lain.

__ADS_1


" Terima kasih, walau kalian salah orang."


" Hahahaha, ayahmu cukup berani merevisi beberapa peraturan yang merupakan favorit para politisi." Ucap Ernest.


" Yeah, itu cukup menyulitkan kami kar na selalu didatangi beberapa pengusaha sambil bawa koper. Pas di rumah ada anggota KPK, mereka gak pernah lama di rumah dan kopernya dibawa balik." Jawab Brian.


" Hahahhaha, effort yang cerdas menghalau para pembvnvh massal bagi keluarga kamu."sahut Fatio.


" Bahkan saya sekarang harus tinggal di apartemen, kek. Untuk menyembunyikan identitas tahu saya sebagai anak papa."


" Adik kamu juga?" Adgar terlalu bersemangat bertanya.


Brian menyipit curiga." Baisa aja mata Lo."


" Kagak bisa biasa, berhenti phpi-in anak orang. Gue dikejar-kejar am teman cewek kampus yang nanyain Lo, jingan."


" Memang apa yang sudah dilakukan Adgar?" Fatio menaruh curiga.


" Yan, kita bahas bisnis kita." Adgar merangkul Brian dan langsung membawa pergi dari sana.


" Adgar ...ya ampun ni anak selalu meresahkan.


" Bakal jadi regenerasi saya itu, udah tampak bakatnya." Seloroh Ernest.


" Jangan harap, Zayin bakal langsung menebas leher dia kalau dia jadi **** boy." Sahut Fatio.


Di luar mereka hiruk pikuk dalam ruang operasi para ahli masih berjibaku membedah bagian leher Mumtaz. Mengingat di sana banyak bagian vital tak ayal konsentrasi penuh dan segala kemampuan mereka kerahkan.


Sudah sepuluh jam mereka bertarung namun belum ada tanda tindakan akan berakhir.


Zahra yang yang baru lepas dari penculikan ditambah usai mengoperasi Adelia dan belum beristirahat terlihat tampang kelelahan di wajahnya.


Kakaknya yang pegal berulangkali memindah pijakan bahkan sesekali menumbuknya agar sedikit meregang.


" Prof, anda istirahatlah dulu, biar kami gantikan." Ujar dokter lelaki lain."


" Nanggung prof, ini udah tinggal ngambil. Bisa bantu pegang yang ini?" Zahra menunjuk alat yang tengah memisahkan saluran lain.


" Tentu. Farhan dan Zahra dibawah pengawasan dokter melalui monitor mengambil proyektil peluru.


" Apa persediaan darah masih ada?"


" Lebih dari cukup Dok. Diluar banyak orang yang mendonorkan darah." Ucap satu perawat.


" Benarkah?" Zahra yang tidak percaya.


" Iya. Bahkan rumah sakit bejibun orang mengantri."


" Adik anda pasti orang baik, semuanya berebut ingin menyumbang darah."


" Iya, dia baik banget."


" Bisa jali saya mengajukan diri jadi adik ipar prof." 


" Kalau kamu mampu bersiang dengan Sisilia pradapta." Seru Farhan.


" Hah? Ya....mundur cantik jelita dah saya." Seloroh asisten tersebut.


" Maaf mengganggu, tapi geser kiri setengah inci, prof." Ucap dokter pengawas.


" Di sana banyak urat syaraf.


" Geser kanan, Yap,....tunggu...ada satu urat yang kejepit..." Dokter itu mengeset melepaskan urat yang kebawa.


" Yup, clear. Proyektil siap diambil."


Dengan bantuan Farhan dan satu lagi dokter, Zahra Secara perlahan mengambil peluru tersebut.


" Tring..." Begitu Zahra menaruh proyektil tersebut ke wadah, ia jatuh berjongkok di sisi meja akibat tidak bisa menahan  lelah lagi.


Farhan dan rekan dokter langsung mengambil tindakan lanjutan.


" Prof." Beberapa asisten mendudukan Zahra ke kursi.


" Maaf merepotkan. Tapi saya..."  


" Kami paham, prof beristirahatlah." Sela satu asisten memotong suara berat mah Zahra yang berwajah pucat."


Membutuhkan waktu sebelas jam setengah bagi mereka menyelesaikan tindakan operasi Mumtaz. Zahra sendiri sudah tertidur di atas kursi dengan gaya yang tidak elegan.


Para perawat melepas pakaian operasi Zahra, Farhan tersenyum miris melihat wajah pucat dan lelah Zahra." kalau Hito lihat ini bakal marah banget ini." gumam Farhan.


" Terima kasih atas kerja sama kalian." Farhan dan rekan dari rumah sakit Atma Madina sedikit membungkuk memberi hormat pada rekan dokter ahli lainnya.


" Prof, sebaiknya anda mengumumkan ke keluarga saya mau bantu Zahra dulu."


" Baik, awas jangan sampai berantem sama Zivara kar na salah paham." Ujar dokter senior.


" Hahahaha, dia akan memarahi saya kalau saya gak bawa Zahra ke kamar inapnya."


Dipimpin dokter senior tim keluar dimana para sahabat sudah berdiri tegang." bagaimana keadaan kakak saya, Dok?" Zayin langsung menghampiri mereka begitu terlihat olehnya.


" Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. kami berhasil mengeluarkan pelurunya yang syukurnya tidak mengenai organ vital namun posisinya riskan itulah mengapa operasi berjalan lama."


" Alhamdulillah..." balas mereka serempak.


" Pasien masih dalam kondisi kritis, entah berapa lama, kami belum bisa memastikan."


" Kami sangat berterima kasih kalian sudah berupaya keras menyelamatkan keluarga kami." Seru Teddy yang disetujui oleh semuanya.


" Pasien dalam pasien dalam pengawasan ketat selam 24 jam, Sebaiknya kita beristirahat."


" Rumah sakit Atma Madina sudah menyiapkan kamar untuk tempat berisitirahat kalian." tutur Bara.


" Terima kasih, tuan Bara."


Para dokter diantar beberapa staf menuju tempat mereka masing-masing....

__ADS_1


__ADS_2