
Sri masih terbengong mencoba mencerna apa yang telah terjadi, meski telah 30 menit Tamara dise-ret. " ya tuhan, hampir saja aku mencelakakan cicitku." Bathinnya, menghembuskan nafasnya dengan berat.
" Nenek lihat kan tadi kelakuan Tamara, apa menurut nenek wanita seperti itu harus dikasihani, sementara dia senang menganiaya keluarga kita?"
Sri menoleh ke samping kanannya, dimana Eidelweis sedang memakan rujak.
" Terkadang perempuam bisa lebih jahat dengan otak liciknya meski memiliki perasaan yang lebih besar dibanding lelaki." lanjut Eidelweis.
Sejak kapan kalian tahu Tamara adalah Tanura?" Tanya Julia pada Damian.
" Sejak peristiwa peneroran yang terjadi pada Cassandra, ternyata Cassy sering dikirimi foto kebersamaan Tamara dengan Bara." Terang Damian.
" Terus kenapa tidak kalian tangkap?" Julia penasaran.
" Itu urusan RaHasiYa, mereka tidak terlalu terbuka dengan kita. Mereka hanya memastikan Cassandra dan para wanita tercinta Hartadraja aman." Lanjut Damian mengerlingkan sebelah matanya pada Julia.
" Ck, masih aja genit, aku gak merasa dikawal."
" Kamu inget, ketika penyerangan terhadap para wanita Hartadraja, dimana Eidelweis dan Tante Sandra terjebak dengan Zahra di rumah Tante Aida?" Tanya Damian kepada Julia yang diangguki olehnya.
" Kamu di sekolah aman, karena anak BIBA, yang notabene bawahan mereka yang ngamanin kamu."
" Hah, Serius? Aku dikawal oleh anak SMA?" Heran Julia.
" Bisa jadi mereka masih SMA, tetapi yang aku dengar untuk masuk geng itu harus menguasai minimal tiga bela diri dan pengetesan akhlak."
Para wanita terbengong," itu geng atau pasukan komando cadangan!?" Seru Eidelweis.
Damian mengedikan bahu,
" Yang jelas mereka pasukan cadangan RaHasiYa." Kata Adgar memasuki mansion dengan penampilan rapih serba hitam.
" Kakak..." Crystal merentangkan kedua tangannya dari arah tangga yang tentu disambut hangat oleh Adgar.
" Kok belum tidur?" Ucapnya lembut.
" Udah, tapi Mami gak ada, Ical jadi takut."
" My princess pemberani dong." Adgar menciumi wajah crystal dengan gemas, crystal hanya bisa terkikik.
" Aduh princess-nya mami kebangun sini sama mami." Nadya sudah mengangkat tangan hendak memangku crystal.
" No, kamu tidur, kalau sama mami nanti lama lagi tidurnya." Tolak Adgar melangkah menuju ruang belakang.
" Mbak, tolong tidurkan Kembali ical-nya, pastikan Ical nyaman." Pinta Adgar kepada baby sitter crystal.
" Baik, tuan muda."
" Kamu mau kemana Gar?" Tanya Damian menelisik penampilannya begitu Adgar kembali ke ruang keluarga.
" Ada urusan mewakili Zayin. Jadi aku ke sini mau pamit sama kalian yang kemungkinan aku gak pulang semalaman ini.
" Zayin dimana?"
" Di rumah sakit, jaga kak Ara."
" Zahra ada di sini?" kaget Nadya, semuanya terkejut.
" Tnate pikir mereka akan pulang kalau kak Zahra belum ditemukan?"
" Antar Nebuy kesana?" Pinta Sri terburu-buru.
" Belum bisa, kak Ara masih dalam pemeriksaan intensif. Kalau sudah ada info boleh dijenguk pasti Adgar kasih tahu."
" Semuanya Adgar pamit. Assalamualaikum."
" Wa'alikum salam."
" Kalau Adel ada Zayin yang protective banget Ical ada Adgar yang posesif-in. Mbak gak apa-apa menantuku, keponakan ku?" Celoteh Eidelweis pada Nadya.
Nadya menyenggol lengan Damar yang diam saja."
" Asal kak Julia mu gak ngajarin anak aku jadi bar-bar gak masalah, ingat kakak udah sangat bekerja keras membentuk Ical menjadi girly, ya." balas Damar yang direspon tertawaan oleh yang lain kecuali Julia.
" Tapi kayaknya Akbar yang keberatan dech." Celetuk Nadya.
" Ish itu satu orang emang batu." Sebal Julia.
" Takut kelangkahan kali." Seloroh Heru.
" Hahahaha..."
*****
Malam ini pegudangan yang sudah lama tidak terpakai terasa kelam, dengan jarak yang cukup jauh mereka mengamati kontainer berwarna jingga tersebut, namun bau dari kontainer yang berisikan Esttele menyerbak ke alam terbuka.
Mereka mengenakan face respirator sebelum masuk ke sana.
" Masukan dia ke dalam." Titah Bara kepada seorang penjaga yang menggunakan face respirator, karena bau kotoran dan Pesing, dan lainnya, lembab yang menjadi satu.
Tamara menggeleng cepat" tidakkk... Bara demi masalalu kita, maafkan aku, hueks." rengeknya, dia mencium bau busuk tersebut.
Tidak mengacuhkan rengekan Tamara, Tamara tetap diseret oleh dua orang lalu dilemparnya bagai seonggok karung.
Estelle menyadari ada orang baru, ia mengerjapkan matanya berkali-kali menyesuaikan dengan cahaya lampu Sampai dia mengenali orang tersebut, ia pun tersenyum smirk tipis.
Bara dan para sahabat berdiri tegap memandangi dua wanita yang menyedihkan itu.
" Estelle, ini kesempatan kamu hirup udara bebas, apa dia partner kamu untuk meneror Cassandra?" Ucap Bara dengan aura mengintimidasi.
" Iya tuan." Jawab cepat Estelle.
" Bohong, aku gak kenal dia." Lirih Tamara, kepalanya masih terasa sakit karena benturan lantai, d4r4h mengalir banyak keluar dari hidungnya yang palsu itu.
" Leon, apa dia yang meminta bantuan organisasi Lo?" Tanya Alfaska.
Tamara begitu terkejutnya saat menyadari ketua organisasi pembunuh bayaran yang disewanya berada di sini.
" Iya, betul itu dia." Leon begitu lelah setelah bersama Jeno menjalankan perintah Mumtaz .
Dia berharap begitu tiba di Jakarta bisa langsung beristirahat, tetapi telpon dari Bara mengharuskan mereka kemari ke tempat dimana Estelle ditahan.
" Lo, dasar pengkhianat. Gue sudah memberi Lo uang yang banyak, lo gagal menjalankan misi, dan sekarang lo mengkhianati gue. Akan gue balas perbuatan Lo."
" Jadi Lo ngakuin kalau Lo dalang dari perencanaan pembvnvh4n Cassandra?" Rahang Bara mengeras.
" Bara, sayang. Aku hanya menyingkirkan hama penghalang antara kita. Aku tahu kamu gak cinta wanita tambun itu, kamu hanya mengasihaninya saja."
" Lihat Bara." Tamara dengan susah payah berdiri meski kepalanya pening.
" Aku cantik, kulit putih, body biola Spanyol, d4d4 besar yang selalu siap kamu emvt." Ucapnya dengan gestur menggoda.
Para lelaki hanya memandanginya dengan j1j1k.
" Sedangkan Cassandra, dia jelek, gendut, kulit kering, rambut keriwil, pendek, hitam..."
BUGH...
Krek...
Terdengar gigi patah
" Aaaakh.." pekik Tamara menutupi area mulutnya mendapat satu t0nj0kan keras tepat di mulutnya yang julid.
D4r4h memenuhi seputaran mulutnya dengan gigi ompong tiga ditengah, sungguh wajah Tamara dipenuhi darah.
Muak dengan Tamara meski keadaannya sudah memprihatinkan, Adgar melepaskan satu bogemannya.
" Muka fake aja bangga. badan Lo itu cuma tulang, d4d4 dan b0k0ng Lo yang nonjol itu fake. Kakak gue itu semok, bohay, dan yang terpenting asli." Sewot Adgar dengan nafas berburu.
" Bebaskan Estelle, bawa dia ke tempat rehabilitasi. Untuk malam ini kita biarkan Tamara merasakan sedikit hukumannya." Titah Bara, anak buahnya langsung mengeluarkan Estelle dari kontainer tersebut.
" Terima kasih tuan, akhirnya saya bebas dari tempat busuk ini." Estelle menyambut gembira keputusan Bara digantikan oleh Tamara.
" Bara, kamu gak bisa ninggalin aku ditempat bau seperti ini." Pekiknya yang diabaikan petinggi RaHasiYa dan Bara, serta yang lain mulai melangkah menjauhi area tersebut.
" Kalian aku kemana?" Tanya Adgar
Kita istirahat di rumah sakit." Jawab Bara.
" Gue ikut, mulai saat ini urusan Tamara menjadi urusan gue, karena kakak gue yang menjadi sasaran dia."
Pletak..
" Awwws...sakit bang." Ringis Adgar yang dijitak Akbar.
" Lo nyadar ga, belakangan ini gak ngurus perusahaan!?"
" Kan ada elu, bang." Celetuk Adgar tanpa merasa bersalah.
" Kan elu CEO-nya."
" Itu juga kemauan kak Ara..."
" Jadi Lo nyalahin Kak Ala?" Mumtaz memberinya tatapan peringatan.
" Enggak elah. Pada baperan amat. Gue udah izin gak pulang malam ini, gue kira urusan si svnd4l itu bakal lama, gak tahunya sebentar doang." Cicitnya diakhir kalimat.
" Lo gak lihat muka lecek kita, kita belum istirahat sedari pulang dari Kalimantan." ketus Alfaska kesal.
" Ya..maaf, ini juga kemauan si Zayin, gue ada di sini."
" Ya udah sekarang lo Balik, minum susu terus bobo " ledek Jeno padanya yang kenyataannya memang Adgar harus meminum susu hangat dahulu sebelum tidur.
*****
Ibnu membuka ruang kerja Mumtaz di rumah sakit yang terdapat di paling pojok lantai teratas khusus pemegang saham.
" Muy, bangun." Ibnu menggoyang-goyangakn tubuh Mumtaz yang tertidur di sofa.
" Apa?" Mumtaz terduduk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut memegangi kepalanya.
" Ayin sedang bersitegang dengan Tante Sandra di depan kamar kak Ala."
Sambil mengernyitkan dahi, Mumtaz menatap Ibnu, ia menerima tabs yang disodorkan oleh Ibnu.
Wajahnya seketika menegang, lantas Mumtaz beranjak menuju lantai zuper VVIP.
Di depan lift mereka bertemu dengan Alfaska, Bara, dan Daniel.
" Kalian juga mau ke Ayin? Tanya Ibnu begitu pintu lift terbuka.
Tiga pemuda tersebut mengangguk, begitu mereka sampai dilantai yang dituju bertepatan mendengar ucapan Zayin.
" Zayin." Tegur Mumtaz menghampiri mereka.
Raja, sang playboy yang sudah ketakutan menghampiri para abangnya, ia berdiri paling belakang.
Zayin mengangkat satu tangannya tegas, agar Mumtaz dan yang lainnya berhenti di sana.
" Aa tidak mungkin menolak permintaan dia karena terikat persahabatan dengan bang Afa, tetapi aku tidak. Jadi biarkan aku yang melarangnya kemari."
" Zayin kamu salah paham, saya kemari sungguh dengan niat tulus menjenguk Zahra."
" Dan saya tidak peduli dengan niatan anda, sebaiknya kalian pulang, jauhi keluargaku."
" Zayin, maafkan Tante jika Tante punya salah." Kata Sandra meragu.
Zayin tertawa mengejek," bahkan anda tidak tahu dimana kesalahan anda, setelah membuat keluarga ku berantakan."
__ADS_1
" Setelah merubah kembaran ku yang bar-bar tapi baik hati, menjadi orang yang jahat dengan tingkahnya yang arogan."
Setelah menjadikan dia yang polos namun manis dengan menerima putramu dengan tulus dengan segala kesusahan emosinya."
No, Sandra kau tidak peduli pada kami, kau sendiri tidak peduli putramu."
Sandra mengepalkan tangannya menahan emosi atas kekurang ajaran Zayin.
" Jadi begini didikan Aida yang kalian agungkan bersikap tidak sopan pada orang tua." Ucapnya sinis.
" Mi,..." Tegur Alfaska tidak suka.
Zayin melangkah tepat dimuka Sandra.
" Setidaknya beliau mengajarkan kami sesuatu, sedangkan kau, apa yang kau ajarkan pada putramu? Alfa besar dengan kami, jelas kami tahu kau..." Telunjuknya menekan-nekan dada Sandra, " tidak mengajarkan apapun padanya." Tekannya tajam.
" Kau hanya menjadikan keponakan dan putramu investasi untuk gaya sosialita mu dibawah nama Atma Madina, bukan sebagai keluarga."
" Kau tidak pantas mengatakan demikian pada ibu mertua adikmu." Sandra menepis tangan Zayin.
" Anda jangan lupa, mereka sudah bercerai, dan itu karena anda. Anda yang menghancurkan kebahagiaan putra anda sendiri."
" Mungkin Afa menyadari bahwa dirinya tidak cukup mencintai adikmu." Elak Sandra.
Alfaska memejamkan matanya miris, penuh luka. Ibu kandungnya sama sekali tidak memahami dirinya.
Begitupun dengan Tia yang mendengar ucapan itu, dia hanya bisa meremas piyamanya dengan sedih.
Zayin terkekeh mencemooh," menurut anda siapa yang dia cintai, Adinda Aloya yang ternyata tidak lebih j4l4ng hin4 yang bapaknya seorang penjahat kelas kakap."
" Wow impresif, selera yang sangat rendahan untuk seorang sosialita.
Wajah Sandra memerah," Mumtaz lihatlah adik mu, dia sama sekali tidak memiliki sopan santun."
Mumtaz menatap langsung iris Sandra dengan tatapan teduh, namun tegas.
" Turuti ucapannya, silakan, kalian bisa pergi dari sini."
Sandra terkaget akan reaksi Mumtaz yang biasanya selalu mengalah padanya.
" Kalian akan menyesal telah mengusirku."
" Maaf, kami tidak bermaksud demikian, tetapi kenyamanan kak Ala yang lebih utama, untuk saat ini Tante bukan sosok yang ingin ditemuinya."
Dengan langkah lebar Sandra berbalik berjalan menuju lift.
Sebelumnya Sherly mengusap wajah lelah Zayin," maafkan kami yang sudah membuat kalian susah."
Zayin mengedikan bahunya," bukan kalian, hanya dia yang menyebalkan."
Sherly terkekeh," ini terima." Sherly memberinya sarapan yang telah mereka beli.
" Kenapa, Ya?" Dista bingung melihat Tia berdiri kaku dibalik pintu yang sedikit terbuka.
Tidak ada. Sepertinya para pacar kalian telah pulang."
Casandra yang mendengar, langsung berbalik. Mendorong Tia yang berdiri menghalangi jalan.
Tia hanya bisa berdecak, melihat sahabatnya yang akhlakless.
" Kak Baraaa..." Tanpa risih Cassandra meloncat ke gendongan Bara ala koala yang langsung ditahan oleh Bara.
" Kenapa, hmm? Bara memberikan senyumanya yang paling manis.
Para sahabat seakan muntah mendengarnya
" Kangen." Rengeknya.
Diikuti Dista yang memeluk Daniel erat.
" Lama banget." Manja Dista pada Daniel.
Daniel terkekeh, "mode manja." Daniel tak kalah erat memeluk Dista.
Tia dan Sisilia berjalan santai di belakang mereka.
" Hai..." Sisilia menerima uluran tangan Mumtaz yang menariknya kedalam dekapannya begitu tangan Sisilia menyentuh jari jemarinya.
" Enggak kangen?" Bisiknya.
Tia yang melihat keakuran sahabatnya dengan pasangannya hanya berdiri kikuk dengan senyum miris dibawah tatapan hangat Alfaska.
" Ya, kalau Lo iri, Lo pelukan aja sama gue. Gimana?" Tawar Raja.
Pletak...
" Jaga *attitude* Lo. Dia wanita bersuami." Geram Alfaska.
Raja hanya nyengir sambil mengusap kepalanya yang sakit.
" Gimana kabarnya, dek?" Alfaska memasukan kedua tangannya ke dalam saku.
Tia menunduk, tidak tahu mesti merespon bagaimana selain mengangguk.
" Enggak kangen aku?" Suara lembutnya menggetarkan hati Tia yang semakin merasa bersalah pada suaminya, eh mantan suaminya.
" Maaf, maafin Tia... hiks."
Alfaska menarik Tia ke dalam dekapannya, " hey, *its okey*. Mungkin jodoh kita sebagai suami istri hanya sebentar, tetapi kita masih punya ikatan lain yang tidak kalah berharganya."
Sakit, kata-kata itu sangat menyakitkan. Tia meremas pakaian dibalik punggung Alfaska, dia menggeleng cepat.
Begitupun bagi alfaska kata-kata itu bagai sembilu mencabut nyawanya. Bertahun-tahun menunggu Tia untuk dipinangnya, tetapi jodohnya hanya sekelebat cahaya saja. Ia menciumi pucuk kepala mantan istrinya penuh rindu.
Zayin berdecak kesal dengan tingkah para pasangan tersebut.
" Ck, kalian itu berlebihan sekali, kayak mereka baru pulang dari perang saja."
Saat Zayin hendak berbalik pergi, Mumtaz menginterupsi.
" Zayin, stop melangkah. Aa pikir kini saatnya kita berempat bicara dari hati ke hati."
Farhan menelpon Hito, Mumtaz, dan Zayin begitu hasil CT scan keluar.
kini mereka di dalam ruang tunggu kamar inap Zahra, mereka hanya terdiam dengan mimik setenang mungkin melihat segala luka dalam diri Zahra hasil dari rekaman CT scan yang diterangkan oleh Farhan.
" Kesimpulannya, syukurnya tidak ada luka dalam, tetapi mengingat ini luka bukan yang kali pertama, pastikan untuk waktu yang lama jangan biarkan dia terluka kembali. Segalanya ada batas tahannya, melihat luka luar yang begitu banyaknya diseluruh tubuhnya membutuhkan pemulihan yang lama." Terang Farhan.
" Untuk trauma pelecehan beliau, beliau membutuhkan konseling serius. Saya rekomendasikan seseorang pada kalian."
Farhan memberi kartu nama seorang psikiater.
" Baiklah, saya permisi dulu." Farhan meninggalkan ruang tunggu Zahra.
" Om, maaf kami akan berbicara empat mata." ujar Mumtaz.
" Silakan, om tunggu di sini." Ketegasan yang tidak ingin dibantah dalam suara Hito hanya membuat mereka mengangguk.
Kini keempat saudara tersebut saling pandang satu sama lain.
" Kalian, kenapa?" Tanya Zahra pelan, bibirnya yang sobek menyulitkannya untuk bicara.
" Kak, please, dulu kita sudah memohon untuk tidak terlibat kekrasan, dan mengorbankan diri untuk orang lain. Kita gak sanggup menanggungnya lagi." Ujar Zayin lirih.
" Maaf,...kakak gak bermaks..."
__ADS_1
" Kakak bisa langsung menghubungi kami. Selama mereka di kota masih bisa kami tangani." Sela Mumtaz mengepalkan tangannya di dalam sakunya.
" Kakak gak tahu bagaimana perasaan kami saat kami belum menemukan mu."
Dan saatnya melihatmu, Kakak dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Kami benci diri Kami sendiri yang lagi-lagi gagal melindungi kalian berdua." Mumtaz menundukkan kepalanya.
Tia pun turut menunduk," maaf. Semuanya salah Tia, andai Tia tidak serakah."
" Ya, bisa kamu menerima keadaan kalau kita sekarang akar untuk kehidupan kita masing-masing?" Zayin menatap tajam Tia.
" Zayin, please..."
" Kalian pasti tahu siapa yang paling terluka karena perubahan diri Tia, aku."
" Kalian pasti tahu siapa yang paling membenci atas sikap sombongnya, aku. Aku kehilangan sebagian jiwaku, karena dia tidak menerima takdirnya" Zayin menunjuk dirinya sendiri.
" Sejak dalam kandungan kami udah berbagi kehidupan, karena ulahnya kami saling menjauh, bahkan aku sangat membencinya. Jadi Tia, ku peringatkan padamu jangan pernah menemuinya lagi, atau aku akan menghabisinya."
Semuanya terperangah dengan kemarahan yang terpancar dalam manik Zayin.
Mata nyalang Zayin menakutkan bagi Tia, tubuhnya gemetaran.
Tia menggeleng, " A..maafkan aku." Lirihnya sendu.
" Aku tidak butuh kata-kata maaf mu, kau hanya harus pastikan dirimu menghormati kak Ala sebagaimana mestinya." Tegas Zayin mutlak.
Tia menunduk, ia sangat malu jika mengingat tingkahnya dulu.
" Muy, kamu..."Zahra mengalihkan perhatian, dia tidak tega adik bungsunya dimarahi.
" Aa Ayin sangat menyayangimu, Aa tahu itu. Kita *basic*-nya dibesarkan dengan saling peduli, jadi jika salah satu kita error, kita yang akan menariknya kembali pada jalur yang benar, dan menerimanya dengan tangan terbuka, karena kita saling sayang." ujar Mumtaz.
Hito yang mendengar obrolan itu, terdiam menyimak. dia bertekad akan memahami para iparnya yang harus berdiri dia tas kaki sendiri dalam usia muda.
Mumtaz menarik Tia untuk dipeluknya sambil dikecup pucuk kepalanya hingga jilbab yang membalutnya berantakan.
Karena iri, Zayin pun turut bergabung dalam pelukan hangat tersebut.
" Cih, tadi ngomelin. Sekarang pelukan." Cibir Zahra.
Zayin nyengir," tadi tuh cara Ayin bawa dia ke jalan lurus, kak. Dulu dikasih tahu baik-baik gak didengar, kupingnya kesumbat kain branded demi jadi sosialita kali." Sarkas Zayin yang mendapat geplakan dari Mumtaz ditangannya.
" Hehehe, *peace*..atutututu..adikku tersayang yang sudah lama tersesat dalam kegelapan."
Mumtaz dan Zahra merotasikan bola matanya malas, mereka tahu Zayin tidak akan berhenti menyindir Zahra dalam waktu lama.
Zahra menatap mereka penuh haru, meski mimiknya penuh cibiran untuk Zayin.
" Kenapa? Kakak juga pengen dipeluk? cini Ayin peyuk."
" Gak, jangan mendekat..."
" Atau apa? Wong kakak tidak berdaya." Ejek Zayin memeluk Zahra yang masih posisi terbaring meski brankar bagian kepalanya sudah dinaikkan.
Mumtaz pun turut memeluknya, pelukan seluruh hati dari dua adiknya mengenai lukanya.
" Aaa...awas..sakit ini..aakh sakit." Pekiknya tertahan.
Hito menerobos masuk ke dalam ruang inap mendengar jeritan Zahra. " Sayang, kenapa?" Matanya melebar melihat kekasihnya ditindih dua badan besar.
" Hey, calon istri saya engap itu." Panik Hito, menjauhkan dua lelaki itu dari Zahra.
" Ck, ini lagi om satu, bucinnya sampai ke tulang sumsum." Zayin berpindah duduk di sofa.
" Kamu enggak apa-apa?" Suara lembutnya membuat Zahra malu pada Hito.
Zahra yang mengetahui keadaanya, tidak sanggup melihat Hito, saat mengangguk, ia menunduk dalam.
Hito yang peka terhadap kekasihnya, mulai merasakan keresahan.
Hito lebih mendekatkan wajahnya kepada Zahra." Aku masih tetap sayang seperti sebelumnya, bahkan bertambah." Hito mengecup keningnya dalam.
Setelahnya mengusap keningnya pelan sembari memandanginya dengan syahdu.
" *Love you, only wanna you*."
Tia yang melihat cinta yang begitu besar dari Hito tertegun, mematung.
" Bukan ini yang ia dapatkan informasi mengenai keduanya, karena itu dulu dia bisa menghujat kakaknya karena iri akan kisah cintanya." Bathinnya.
Tia memejamkan matanya lelah, ia dibohongi ibu mertuanya.
" Kak Hito sayang sama kak Ala?" Cicit Tia.
Hito menoleh pada Tia yang masih berdiri tidak jauh dari mereka.
" Sangat."
" Bukankah om dijodohkan dengan Kak Ziva karena sudah bosen dengan kak Ala?"
Hito mengernyit tidak suka akan informasi tersebut.
" Siapapun yang memberimu informasi salah itu, jelas orang itu berhati dengki." Tekan Hito.
" *Look*, Tia. Kamu gak tahu apapun tentang mereka. Malu kan kamu sekarang!?" Cibir Zayin.
Mumtaz yang tidak tega melihat rasa bersalah di manik hitam Tia, mendekatinya, mengusap wajahnya lembut
" Pintalah kasih sayang kepada orang yang ingin memberinya dengan tulus, tanpa syarat. Seperti kamu memberinya kepada Afa."
Tak ayal air mata menerobos membasahi pipinya." Maaf, maaf sudah membuat kalian hancur." Lirihnya.
" Iya, sini." Zahra tidak ingin adiknya terus menerus merasa bersalah, ia paham rasa bersalah yang terus dibiarkan akan menjadi penyakit bathin yang berujung kematian. Dia tidak ingin adiknya terkungkung depresi.
Tia menyambut rentangan tangan kakaknya dengan sukacita.
__ADS_1
" Berhenti meminta maaf, kakak yakin semua kakakmu sudah memaafkan mu, termasuk kembaranmu yang julid itu." Zahra menepuk-nepuk punggung Tia menenangkan....