Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
257


__ADS_3

Radit tenaga membaca buku duduk di kursi saat lenguhan dari pira yang berbaring di kasur terdengar rungunya.


Radit mendekat ke ranjang dimana Mumtaz bergerak-gerak gelisah walau matanya tertutup rapat.


Dia mentik kursi lalu duduk di samping ranjang, " Muy, Mumtaz...hei Muy..." panggil tenang Radit.


Mata bernetra hitam itu terbuka tepat memandang Radit. dengan napas memburu, dadanya naik turun seakan dia sesak, sulit bernapas.


" Muy..." netra Mumtaz berkelana memandang sekitar, ia menghembuskan napas saat menyadari dengan mana dia berada.


" Bagaimana keadaan Ibnu?"


" Lo Yaang terburu dibanding mereka, Muy. kita konsentrasi ke Lo dulu gimana?"


" Dimana mereka?"


" Terakhir gue lihat Zayin sedang mengomeli mereka yang terus merasa menyesal melihat kondisi Lo."


" Gue pingsan."


" Iya, absolutely. Lo mau cerita kenapa Lo begitu syok?"


Mumtaz mengangkat tangan kanannya menutupi matanya, di baliknya air mata luruh seketika, tubuh itu bergetar perlahan, namun makin lama makin kuat yang dilanjut suara tangisan pilu.


Radit termenung, ia mengulurkan tangan menggenggam tangan yang menutup wajah yang itu yang langsung dicengkeram kuat oleh Mumtaz.


Lama Radit di posisi menunduk menatap Mumtaz yang menangis tergugu, dengan sabar ia menunggu sampai tangisan itu mereda, dan akhirnya tubuh itu dirasa tenang, namun genggaman itu masih laut seakan Mumtaz membutuhkan sandaran untuk menyangga kelemahannya.


" Lo bisa cerita, gue akan mendengarkan." Mumtaz menggeleng.


" I..itu menyakitkan, sangat menyesakkan." rintih Mumtaz dengan suara tercekat.


" Pasti, 10 tahun yang lalu pasti membuat hidup Lo..."


" Ibu diperk'osa...Toni, ketua...hiks...."


"Relax, Pelan-pelan. Kita akan bicara begitu Lo siap. gue gak akan kemana-mana."


Mumtaz melepas tangan Radit, menjauh dari wajahnya, kedua tangannya kini saling mengait.


" Gue mau cerita..." ucapnya ragu, tatapannya sayu namun sorot mata itu kosong.


" Oke, gue senang Lo mau berbagi, tapi setelahnya kita berkompromi. kompromi antara masa lalu dan kini, menerima menjadi bagian hdup kita." tutur Radit menenangkan, seakan itulah yang memang semestinya. Mumtaz mengangguk.


Hening, lama kamar itu hening, Radit hanya mengusap lengan Mumtaz menawarkan perlindungan sebelum suara serak itu dengan sendirinya membuka mulut atas kejadian 10 tahun lalu.


" Gue dan Ibnu sepulang sekolah mampir ke rumahnya untuk meminta makan sebelum kita main ke rumah...tapi..." meluncurlah kisah tragedi itu yang tidak disangka berlangsung lancar.




Di ruangan tengah, Zayin duduk bersila tegak dihadapan empat pemuda yang di lautan sana terkenal sebagai pengusaha muda berwibawa , namun di depan Zayin duduk bersimpuh sempurna siap menerima hukuman.



Di tangan kanannya memegang gulungan kertas yang berfungsi sebagai alat pukul.



" Setelah panjang lebar gue ceramah, sebutkan kesalahan kalian." bentak Zayin tegas.



"Daniel." Zayin Mede komandan bengis saat ini.



" Kita merasa bersalah, padahal itu tidak perlu, karena Mumuy dengan sukarela melindungi kami."



" Bagus. Alfaska."



" Mumtaz bersedih bukan karena kami, tetapi memang syok mental karena dirinya sendiri, jadi tidak perlu merasa bersalah."



" Bagus, Bara."



" Jangan merasa telah menjadi beban, kalau perasaan itu masih ada mending pergi jangan nongol lagi, ribet dengan drama itu."



" Paham kan!?" bagai kerabau dicocok hidung, mereka mengangguk patuh.



" Ibnu." Ibnu menegakkan tubuh menatap Zayin.



" Mumtaz melakukan semuanya karena sayang kita, karena kita keluarga. jadi buang jauh-jauh rasa penyesalan yang tiada berguna itu."



" Gue kira Lo paham semua, gue mengatakan itu karena itu yang kami rasakan tentang kalian, tapi kalian gak dengar, apa kalian memandang rendah kami?" tanya Zayin curiga.



Mereka menggeleng, " Bukan begitu, hanya..."



" Stop sampai di sana, karena kalau kalimat itu diteruskan pembicaraan kita kembali ke awal, dan kesabaran gue sudah setipis tissue yang dibelah tujuh." Zayin memotong perkataan Alfaska.



" Kenapa sulit bagi kalian menerima kalau kami sesayang itu sama kalian?" mereka terdiam.



" Gue tahu, kami gak berharga bagi kalian...Karena kami gak selevel kalian tapi...."



" Zayin, berhenti bicara omong kosong tentang status sosial, kalau ada yang berani memandang rendah kalian, ku habisi orang tersebut saat ini juga." bentak Bara.



" Itu juga yang kami rasakan, kami marah setiap kalian merasa menyesal, terus kalian sedih, terus kalian berdrama kalau kalian beban kami, itu tu kayak apa yang kami usahakan melindungi kalian percuma!" tegas Zayin.



" Apa begitu sulit bagi kalian hanya menyerah akan kasih sayang kami yang menerima kalian dalam keadaan terlemah sekalipun mending kita sebaiknya jangan pernah lagi membicarakan hal *bullshit* ini, kita sudahi segala ikatan diantara kita, kita menjadi orang asing saja."



Mereka terbelalak kaget, Alfaska maju dan langsung melayangkan pukvlan tepat di wajah ganteng Zayin dia terjungkal karena kaget, namun segera bisa menangani keadaan.



Zayin menen-dang perut Alfaska yang hendak kembali menyerangnya, Alfaska terjengkang ke lantai, namun tatapannya menajam memandangi Zayin bak target yang siap dia terkam.


__ADS_1


" Jangan nantangin gue seakan Lo bisa mengalahkan gue." Zayin menyeka luka di sudut bibirnya.



" Maka berhentilah mengatakan itu." tekan Daniel.



" Oke, kalau Lo..Lo...Lo..Lo...juga berhenti berdrama penyesalan juga." tunjuk Zayin pada satu persatu dari mereka.



" Oke, *fine*. kita gak merasa bersalah lagi, tapi Lo berhenti menjaga jarak dari kita." tutur Daniel.



Puk..puk..puk...puk....



Satu persatu kepala mereka di pukvl koran tersebut oleh Zayin



" Gue dan keluarga itu posisinya kalian jual kami beli. gak pake nawar. dan Lo Nu, buang jauh-jauh Lo gak berguna. Lo pikir siapa yang bisa Aa Mumtaz babvin buat mengcover kerusuhan dia di dunia maya kalau bukan Lo? Afa, dia ngurus bini satu aja gak berdaya apalagi ngurus komputer. Daniel, percintaan dia aja gak becus dia jaga apalagi jaga virus. Bara, ngurus si bakpau aja keteteran apalagi soal meretas." telunjuk itu kembali menunjuk lurus satu persatu pada mereka.



" Jadi, soal hilang ingatan Lo, soal masa lalu itu gak ngaruh bagi mental Aa Mumuy. Lo inget juga belum tentu dia mau berbagi cerita, sikap sok mendem persoalan sendiri yang membuat yang menjadi karakter dia yang menyebabkan, tapi ujungnya kita tahu juga, kalau dia memutuskan berbagi cerita."



Ucapan panjang lebar Zayin diresapi mereka semua," Ini ada apa?" tiba-tiba Khadafi memasuki rumah bersama Raja dan Juan.



Langkah mereka terhenti kala melihat suasana tegang melingkupi mereka.



" Gak ada hal penting. dari mana kamu?" tanya Zayin.



" Dari UAM, Baru tes beasiswa di sana, terus ketemu bang Raja sama bang Juan. aku ajak aja mereka main ke sini."



Zayin mengangguk," lolos?"



" Belum ada pengumuman, lusa. Aa Mumuy mana?"



" Lagi tidur. Daf, beli makanan yang banyak dan panggilnya lain suruh kemari, Ja." Zayin membuka dompet, mengeluarkan kartu debitnya pada Khadafi.



" Kalian lagi berantem?" Khadafi sangsi mereka baik-baik saja.



" Seperti biasa. Lo pergi buruan, Aa Mumuy Bangun gak ada makanan ngamuk dia." Zayin melempar kode dengan matanya ada Raja agar dia membawa Khadafi keluar.



" Mana ada, Aa Mumuy bukan orang begitu, ini ada apa?" kukuh khadafi mencium ketidakberesan diantara mereka.




Sepeninggal Khadafi, posisi mereka masih sama." kita punya Dafi yang tentu saja jangan sampe dia tahu polemik apa yang terjadi. mari kita sudahi ini."



" Iya, Kita sudahi." ucap Ibnu.



" Jangan cuma ngomong doang, tapi beneran udahan." sewot Zayin.



" Iya, Yin. Iya." timpal Alfaska.



" Gue pikir kalau Navarro tertangkap urusan selesai, tapi ternyata lebih runyam." ucap Bara.



"Kalian memperkeruhnya. *mybe* kalau kita konsentrasi ke Aa tanpa embel-embel perasaan melankolis semuanya sudah selesai." Mereka termenung menyetujui perkataan Zayin.



" Kalau kalian belum bisa menerima apapun yang terjadi entah pada kalian atau Aa mumuy, minimal berkompromi lah. hal yang bukan takdir mu tak akan terjadi meski kau mengejar sekuat tenaga. tapi meski kau mencegah sekeras mungkin tetap akan terjadi jika itu takdirmu." tutur Zayin santai.



" Yin, sejak kapan Lo bisa bijak begini?" tanya Alfaska heran, tidka biasanya kakak iparnya yang bersumber pendek ini. menyikapi persoalan mereka dengan santun.



Zayin terkekeh ironi," Pandangan kalian hanya terfokus pad Aa Mumuy, kalian merasa tersiksa melihat kesakitan Anla Mumtaz karena keterikatan persahabatan, apalagi kami, dalam tubuh kami mengalir darah yang sama. bis kalian bayangkan bagaimana kami terluka melihat saudara kami menderita?"



" Bukan hanya Aa Mumuy yang sakit, tapi Aku, kak ala, dan Tia. kami semua terluka. kehilangan ayah kar na kesembronoan orang putus cinta, kehilangan mama demi menjaga nyawa orang lain, belum lagi drama Tia dan kak Ala atas hasutan orang lain. Semua itu bukan tentang kami, kami hanya figuran, tapi kami yang terluka. kalian pikir kami tidak marah? tidak muak? kami marah, lelah, muak dan ingin pergi. tapi Aa Mumuy memilih enggan meninggalkan kalian, sebagai keluarga, kami hanya mendukung karena kami sayang Aa Mumuy. hingga kami menerimanya sebagai takdir!"



Hening, curahan hati Zayin menyayat jiwa mereka, mereka meras egois. mereka melihat Zayin yang tertunduk dalam menyembunyikan air matanya.



" Saat Aa Mumuy mengatakan rindu Mama, bukan hanya dia, tapi aku juga. tentang kalian terkadang terasa berat, tapi karena kami menyayangi kalian, kami rela menanggungnya." Zayin mengangkat wajahnya, netranya menatap mereka satu oersatu.



" Pahamilah kami semua terluka, tidak hanya Aa Mumtaz, tapi kami juga, bang. kami..bukan hanya dia..K-A-M-I!!" tekan Zayin menunjuk dadanya.



Mata sang para pengusaha muda itu berkaca, mereka merasa si paling brengs'ek mengabaikan adiknya yang juga butuh perhatian.



" Yin,...*sorry*." ucap Daniel, Zayin mengangguk tidak lagi mampu berkata, dadanya terasa sesak.



Alfaska, Ibnu, dan Bara secara berbarengan memeluk dirinya yang tubuhnya tengah bergetar. mereka menangis bersama-sama.



Para sahabat yang belum mereka sadari kedatangannya, menghentikan langkahnya saat mendengar suara hati Zayin, mereka memilih menunggu di teras sambil mendengarkan luka bathin Zayin.

__ADS_1



" Maaf, maafkan para Abang mu yang egois ini ,Yin. maaf." lirih Bara mewakili mereka berempat.



lam sesudahnya mereka tenang kembali, mereka emnguria pelukan, namun belum ada yang berniat berbicara mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.



" Kita mulai hari ini ubah pandangan kita terhadap kisah kita masing-masing." Daniel menghentikan kesunyian.



" Seperti yang zayin bilang dimulai berkompromi toh kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi masa depan milik kita." imbuh Alfaska.



" Huh, dari pada kehilangan kalian, gue lebih milih berdamai-sedamainya." timpal Bara.



" Gue setuju." ucap Ibnu.



Gue idem." disusul Alfaska.



"Gue 3 in." tambah Daniel.



"Oke, fix. kita gak akan lagi terkubur dalam masa lalu dan bersalah. semuanya takdir." tukas Bara.



" Deal, ni ya...jangan ada dusta diantara kita, kalau ada yang mencoba mengelabui. gue bakal boyong seluruh keluarga gue ke tempat yang kalian gak akan pernah temukan, termasuk istri Lo bang." ucapnya pada semuanya terkhusus Alfaska.



Wajah mereka memucat, ini keturunan Romli yang bicara. mereka tidak akan mengubah apa yangs udah mereka putuskan.



Ceklek...



" Kalian lagi ngapain duduk di lantai begitu? riungan." ledek Mumtaz berjalan mendekati mereka dengan tenangnya.



" Mumuy, gue kangen Looo..." Alfaska berlari menerjang dia yang ikut terdorong karena dekapan Alfaska yang brutal.



" Napa dah Lo? perasaan gue yang pingsan kenapa Lo yang gegar otak."



" Jahat amat kalimat Lo, Muy." Alfaska merajuk.



" Bang, alay Lo, eneg gue. muntah ni." ucap Zayin jijik.



" Soal muntah, Tadi kayaknya gue muntah dah." mata Mumtaz mencari bekas muntahannya yang sudah sirna.



" *Sorry* ya Nu ngotorin rumah Lo."



" Gak masalah. kapan lagi gue bantuin Atma Madina dan Birawa ngebersihin rumah, Muy."



Tok....tok...



"Assalamualaikummm... paket telah tiba."



Raja dan yang lain masuk sambil membawa banyak kantong kresek berisi makanan.


setelah memastikan suasana dalam rumah santai.



"Gak bosen kalian makanbm besar mulu." ucap Mumtaz melihat satu persatu makanan yang terpampang di atas lantai.



" ini ibarat Lo gak usah napas kalau Lo males ngompa paru-paru." celetuk Jeno.



" Tiap hari Lo kalian makan besar."



" A Ayin yang. nraktir." ucap Khadafi.



"Tumben, gak bangkrut kamu, dek."



"Tinggal kasih kasbon sama bang Bara." ucap Zayin sembari mencicipi gorengan hangat.



" Kok gitu?' tanya Alfaska tidak terima."



"Dih pelit." sahut Raja.



" Iya pelit."



" Bos besar kok medit."



" Kuburannya dangkal loh."


__ADS_1


Dan masih banyak lagi cibiran untuk Alfaska dari yang lain...


__ADS_2