
Ibnu melirik pintu kamar Mumtaz yang sedari mereka pulang kuliah belum dibuka kembali. ragu-ragu ia ingin masuk ke dalam kamar itu, namun khawatir mengganggu sang pemilik kamar.
" Ishh, apa sih mau masuk, tinggal masuk bisanya juga gitu. kenapa gue kayak mau mergokin pacar selingkvh coba." gerutu Ibnu sebal sendiri.
" Bodo ah, ribet banget dah. ketok tinggal ketok."
Tok..tok...
" Masuk."
Ibnu membuka pintu, menengok apa yang terjadi di dalamnya." lagi ngapain?" Ibnu memasuki kamar.
" Random aja sih. ini bang Rodri vidcall." Mumtaz menunjuk laptopnya.
" Hallo, Ibnu." sapa Rodrigo di sebrang sana.
" Hallo, bang. ada apa ni?"
" Saya ingin mengundang kalian makan malam sebelum kami balik ke Mexico nanti."
" Kami akan datang, makanannya yang halal, tapi menunya khas Mexico." serobot Alfaska entah sejak kapan masuk ke dalam kamar.
" Jangan dicampur narkoba." lanjut Daniel
" Heh, ya ampun kalian ini gak bisa gak jadi norak apa." omel Ibnu.
" kita cuma harus waspada saja, mereka itu pemimpin kartel." imbuh Alfaska.
Rodrigo tergelak," kami hanya memberi drug pada musuh kami saja, tuan Atma Madina. jadi anda tenang saja kami akan memberikan makanan dengan bahan yang terbaik."
" Terima kasih, bang. kami akan datang." ucap Mumtaz.
"Baiklah, sampai bertemu lagi nanti."
Setelah mengakhir Videocall dengan Rodrigo, Mumtaz mengalihkan pandangan menghadap mereka bertiga silih bergantian.
" Kalian ngapain malam-malam ke sini?"
" Gabut sih." ucap Alfaska.
" Idem."
" 3 in."
Mumtaz berdecak malas mendengar perkataan Ibnu dan daniel yang tidak kreatif.
" Niel, gue belum mau ngomong ya sama Lo, jadi jangan sok akrab." sergah Mumtaz.
" Dih, baperan. Inu belum ngomong sama Lo kalau si minyak goreng gue kirim ke the baraz?" Mumtaz menggeleng menatap bertanya pada Ibnu yang mengedikan bahu.
" Gue butuh bukti, besok gue akan melihatnya sendiri." ucap Mumtaz.
Hatinya tersakiti atas ucapan itu," Lo gak percaya gue?" tanya Daniel.
" Kalau itu menyangkut Sania, berapa kali Lo bohongi gue?" Daniel diam, ia merasa seperti orang tol'ol.
" Mumuy..Mumuy....main yuk...."
Makin lama teriakan itu makin memenuhi rumah, terpaksa Mumtaz keluar dari kamar, dan tidak hanya dia yang keluar namun beberapa orang yang merasa terganggu juga keluar dari kamar masing-masing. kedua tangannya bertumpu pada pagar, menaikkan kedua alisnya saat melihat Teddy, dan Hanna berpakaian olahraga.
" Bunda, mau ngapain teriak-teriak." Alfaska mengucek matanya
" Mau ngajak Mumuy olahraga mumpung hari Minggu. kalian juga bangunlah udah pagi ini."
" Bun, matahari aja belum nongol, langit masih gelap. bunda lebih mirip jadi tukang palak ketimbang orang mau ngajak olahraga." ucap Daniel.
" Ck, Mumuy cepetan ih cuci muka bentar lagi tante Elena dan yang lain datang lho."
"Yang lain, siapa saja?"
"Semuanya."
Di luar terdengar beberapa mobil berhenti, tidak mau ada kehebohan Mumtaz menarik Ibnu untuk ikut bersamanya masuk kamar ganti untuk berganti pakaian.
" Muy, cuma Lo yang diajak gue kagak, lepas Muy." Ibnu menepuk-nepuk tangan Mumtaz yang memiting lehernya.
" Gue menderita, yang lain juga harus menderita."
Di teras, Eidelweis yang berperut besar juga turut hadir berpakaian olahraga padahal sudah dapat ditebak dia hanya akan jajan semata.
" Pagi, sayang." Elena, Dewi, Sherly, Hanna, dan Eidelweis, bahkan Sri mencium keningnya.
Mumtaz sih senang saja mendapat pelukan dan kehangatan keluarga, tapi bercampur merasa ngeri dan geli.
" Okay, Semuanya ready, kita lari pagi supaya sehat dan bugar." teriak Hanna heboh memimpin mereka.
" Readyyy..... go..go....go..." balas teriak yang lain. para ayah dan lelaki menajam jarak karena malu.
Alfaska pikir mereka akan berlari kecil sampai taman umum, ternyata lari hanya berlangsung dua menit saja yang dilanjut jalan pagi sambil ngobrol.
" Ini konsepnya apa ya? olahraga tapi bukanya lari malah jalan belum lagi di tangan mereka sudah banyak kantong kresek berisi cemilan." sewot Alfaska.
" Ck, gini banget olahraga para istri konglomerat. wow, menyehatkan, dan menyenangkan." sarkas Ibnu penuh ironi.
" Cerewet, Fa. kit harus mengadakan ini tiap Minggu supaya kalian gak gendut." tutur Hanna.
" Heru dan para lelaki terbahak melihat muka cengo Alfaska.
" Terima ja, Fa. jangan mencoba melawan, mereka adalah pembuat sejarah." Aryan menepuk pundak Alfaska yang terlihat kesal.
Olahraga yang para ibu sampai pukul 08.30. setibanya di taman mereka hanya melakukan pemanasan, bahkan mereka tidak mau repot ikut senam bersama karena mereka sudah menyerbu jajakan menu sarapan yang berjejer rapih di pinggir jalan.
" Kalian dapat dari mana dah ide gak jelas di ini?" seloroh Adgar.
Pletak, plak...tak...tuk...BUGh....
" Aduh..sakit..ini..astaga..." Adgar meringis ngilu atas serangan para suami mereka.
" Kak Ala tumbenan ikut." tanya Daniel mengambil duduk di samping Zahra yang bersandar lesu ke lengan Hito.
" Ditarik bunda dari ranjang, padahal baru balik jam tiga. ada operasi dadakan." ucap Zahra lesu dengan mata terpejam.
" Jangan tidur, makan dulu bubur ayamnya udah siap ni." Hito menepuk-nepuk pipi Zahra .
" Ngantuk banget." ucap Zahra setengah merengek bercampur kesal.
" Iya, aku tahu. tapi makan dulu, aku suapin. habis ini mau tidur di rumput taman juga gak apa-apa." Hito menempel kan sendok berisi bubur di depan bibir Zahra yang mau tidak mau membuka mulutnya menerima suapan tersebut walau matanya tidak mampu dia buka.
Daniel terkekeh geli melihat sikap kekanakan seorang profesor ini, matanya menangkap Dista yang tertawa bersama Adgar dan Zayin yang asyik menggoda Adelia yang bersumbu pendek karena Zayin mau direbut Dista.
" Heuh.." dia menghela napas gusar, sulit menerima Dista mau bersenda gurau bersama yang lain sementara dengannya Dista selalu memasang wajah datar.
" Gimana rasanya lihat mantan bahagia bersama lelaki lain?" satu tangan terjulur bak microphone di depan dirinya, Daniel mendelik sebal pada adiknya yang rajin memgejeknya sebagai sadboy.
" Sakit gak tuh lihat mantan bahagia, sementara kia merana? sakit lah."
" Bunda... Ayu gangguin Abang mulu ni." adu Daniel.
Pletak ...
Daniel menjitak kepala Ayunda sebelum pergi menjauh darinya." Abang, sakit. ih laki kok ngambekan."
" Kamu sendiri gak kapok godain dia mulu udah tahu lagi mode macan." ujar Ibnu mengusap kepala Ayunda dengan satu tangan lain membawa sepiring nasi uduk.
" Lagian jadi cowok be'gonya kelewatan." dumel Ayunda."
"Makan, jangan ngomel mulu." Ibnu menyuapi Ayunda yang mulutnya terus saja menggerutu.
" Bang Bara, jangan ganggu kita. itu badan kakak segede tronton loh. kenapa nyempil diantara kita mulu dah." omel Dista yang merasa kakaknya itu merusak spot indah mereka untuk selfie.
" Lagian kamu dari tadi cekrek-cekrek olahraganya kapan?" dumel Bara yang gregetan dengan adiknya yang tidak paham kode darinya yang ingin bersama Cassandra tapi selalu diganggu oleh mereka bertiga.
" Kapan-kapan, toh aku gak bakal langsing meski rajin olahraga juga." jawab santai Tia memegang perutnya yang sudah tampak besar, si sang provokator selfie.
" Ck kamu ini, dek. udah sih fotonya gak bosen apa lihat wajah sendiri di kamera."
" Enggak." jawab mereka berempat berbarengan.
__ADS_1
"Bar, sini. Lo gak bakal menang lawan mereka. gue ngelihatnya aja kasih sama Lo." seru Akbar dengan semangkuk sayur lontong di tangan.
Dengan berat hati Bara mengakui perkataan Akbar, dia pun memilih menjauh bergabung dengan Akbar dan memesan nasi kuning.
Para ayah cukup puas melihat para pemuda menikmati acara dadakan para istri mereka sebagai salah satu langkah terapi penyembuhan luka ala mereka.
" Muy, jam tiga sore ikut tante ke suatu tempat yuk." ajak Elena.
" Bisa nolak gak?"
"Enggak."
" Ya udah ayok." jawab lesu Mumtaz.
Gama terkekeh melihat wajah lesu calon mantunya itu yang terlihat ingin menolak namun tidak mampu.
Pagi itu cukup membuat hati relax, tidak menyangka mereka sangat menikmatinya.
^^^^^^^^
Para petinggi Gaunzaga mengikuti mobil yang membawa petinggi RaHasiYa beserta Bara dan Akbar ke the Baraz, mereka bertanya-tanya mengapa Mumtaz dan cs ke sana.
Bukan bermaksud mengikuti, tetapi par ayahlah yang memaksa agar mereka mengikuti kemana para pemuda itu pergi. Akbar bahkan rela ikut bersama mereka khawatir ada kejadian yang tidak menyenangkan.
Mereka mengenakan masker ketika pintu rumah itu dibuka dan langsung disuguhi penampilan Sania yang mengerikan dimana kedua tangan dan kakinya telah hilang setengah sampai siku dan lutut. dengan tubuh penuh cakaran dan dirawat seadanya.
Mereka semua menatap Daniel tidak percaya, yang ditatap memandang datar korbannya itu.
" Daniel, mas Daniel..am..Puni aku..." rintih Sania terbaring merana di lantai yang berbau amis.
" Angkat, obati dia jangan biarkan dia mati dengan cepat." ujar Mumtaz dengan mata menatap sinis pada Sania yang selama ini meremehkannya tentu tanpa sepengetahuan Daniel.
" Siap." dua orang berpakaian APD lengkap menggotong Sania.
Mereka melanjutkan langkah mereka ke ruang bawah tanah, tempat ini seratus lipat lebih bau dari ruang tamu tadi.
Para tawanan yang terbaring di ranjang beberapa telah diumumkan meninggal dengan tubuh membvsuk, hanya Tania yang sedang merintih pilu dalam keadaan sakaratul maut.
Teriakan Ivanka dari layar televisi menyambut mereka." *Tuan Mumtaz, ku mohon bebaskan ayahku, lihatlah dia sudah diambang kematian...tidakkah cukup aku menderita*..."
Mumtaz dan yang lain menatap meremehkan Navarro yang terbaring menyedihkan, hanya napasnya yang terputus-putus saja yang menandakan masih ada kehidupan baginya.
" Kalau begitu biarkan dia mati dengan cepat."
" *Setidaknya beri dia sedikit kewibawaan Dimata para temannya. pindahkan dia dari sana, tuan. saya mohon. saya rela menerima siksaan dari anda*."
" Saya kira anda salah paham nona Ivanka. kehidupan mu tidak ada hubungannya dengan saya, tapi dengan tuan Raul, soal bagaimana kami memperlakukan ayah anda, jangan berani mendikte kami atau kehidupan adikmu taruhannya. saya tahu dimana Navarro junior berada."
Wajah Ivanka terkejut, kaku, selanjutnya pias mewarnai wajah cantik itu. kini lidahnya kelu tidak mampu mengajukan pembelaan untuk ayahnya lagi demi adiknya.
Dia pikir, dia berhasil menyembunyikan adiknya bersama sisa anak buah ayahnya yang loyal pada keluarganya dari kejaran Gaunzaga tetapi ternyata tidak.
Ivanka terduduk lemas, netranya menangkap seringai devil dai Raul yang Setipa hari tidak bosan menghajar bathinnya dengan penderitaan. dia hancur lebur sehancur-hancurnya, dan Navarro melihatnya kala dia masih mampu melihat dan mendengar yang semua kemampuan itu sudah tidak ada lagi.
Mereka memandangi Navarro yang tengah menarik napas kuat dengan kesakitan yang tidak tertahankan sebelum ia melemah tidak bernyawa.
Teriakan tangis Ivanka menyertainya, di sisi lain Ivanka lega ayahnya meninggal, dia melihat setiap detik penderitaan ayahnya yang menjadi makanan binatang tanah, tetapi di sudut hatinya yang lain tentu dia bersedih lelaki pelindungnya pergi mewariskan luka baginya.
Ibnu hanya menatap Navarro dingin, Jiak menuruti keinginannya, ia ingin menghabisi seluruh keturunan Navarro, dia hanya tinggal bicara pada Mumtaz yang dia yakin sahabatnya itu akan langsung menyanggupi, tapi akal sehatnya mengambil alih emosinya.
Jika dia melakukan itu, sama saja dia menjadikan Mumtaz orang jahat.
"Itu peringatan buat kalian yang mencoba mengganggu RaHasiYa dan Gaunzaga." tutur Mumtaz pada orang-orang yang menyaksikan sacara live lelaki yang berani melawan mafia kelas berat demo obsesinya yang konyol.
" Lempar mayat ke sarang buaya milik tuan Dominiaz Gaunzaga, jangan biarkan ada sisa tubuhnya di sini."
" Siap." empat orang mengeksekusi Navarro.
Mereka meninggalkan ruangan tanpa merasa bersalah sedikitpun, ini bukan kali pertama mereka mencabut nyawa orang lain, dan tidka menjadikan ini yang terakhir.
Selama ada orang yang harus mereka lindungi, mereka rela menjadi algojo kematian bagi orang tersebut.
Di luar, petinggi Gaunzaga yang menerima laporan penyerahan Navarro terdiam setelah menerima mayat Navarro.
"Dom, calon adik ipar Lo lebih cocok di Gaunzaga ketimbang di RaHasiYa." ucap Samudera.
" *No*, dia lebih baik di sana daripada di sini. karena di sini dia akan menjadi monster yang tidak tertandingi." jawab Dominiaz.
"^^^^^
Mobil Alphard hitam itu kini memasuki kawasan perkantoran yang tidak jauh dari kawasan kampus.
Mumtaz hafal betul kawasan ini, kerena dia Fatih menghabiskan beberapa bulan di belakang mereka sering kemari hanya untuk mengenang ibunya dengan harapan bisa mewujudkan mimpi ibunya.
Mobil itu berhenti tepat di depan pintu yang tertutup rapat." Niel, beneran di sini tempat janjian sama Tante Elena?" Mumtaz memastikan Daniel yang mengendarai mobil tidak salah lokasi.
Dirinya berdiri terpaku di gedung yang bersama Fatih dia bangun, dadanya terasa membuncah menahan gejolak atas rasa pengharapan yang dia inginkan.
" Iya, cepatan pada turun, kalian pikir gue sopir taksi apa nunggu Lo pada."
"*Slow*, dong. *sadboy*. gue kasih bintang satu baru nyaho Lo." omel Alfaska yang dibalas jari tengah oleh Daniel sebelum dia memarkirkan mobil.
" Yuk, Muy. Masuk, Panas ni." sungut Alfaska.
" Lo ngomel mulu bawaanya kayak cewek mau lahiran."Sengit Ibnu yang mulai jemu dengan perkataan galak Alfaska.
" Muy, ayok. malah diem di tempat. mau jadi kang parkir Lo."
" Iya bawel." lama kelamaan Mumtaz juga gerah akan kecerewetan Alfaska, beruntung Tia lebih cerewet.
Atas desakan Alfaska dia mendorong pintu bangunan itu, padahal kan bisa saja sahabatnya itu dorong sendiri. tapi dengan alasan sultan tidak membuka pintu sendiri dia memaksa Mumtaz yang menurutnya duafa membuka pintu, dasar adik ipar laknat.
DAAAARRRR...DAR..DAR...
" HORRREEEE....SELAMAT DATANG DI OURMEMORY COFFEE SHOP..."
Mumtaz terlonjak terkejut, saat pintu dibuka banyak teriakan senang menyambutnya dengan pita-pita dan serpihan kertas kecil berterbangan mengenai wajahnya.
Di depannya para keluarga, kolega, rekan, sahabat, teman kampus memenuhi seluruh ruangan bawah dan tangga menuju lantai dua.
Hanna menghampirinya yang masih berdiri kaku di tempat, dorongan para sahabat yang menyadarkan dia ke alam nyata.
mata Hanna sudah basah oleh air mata saat berucap." Hari ini kita resmikan pembukaan COFFEE shop ini, ini mimpi Mama, sayang. yuk kita potong pitanya." ajak Hanna yang tidak digubris Mumtaz yang masih speechless.
" Bunda..." panggil Mumtaz dengan suara tercekat, ia mengusap air mata Hanna.
" Kenapa gak bilang...aku bisa...Bund..." Mumtaz tidak tahu lagi harus berkata apa, ia memilih memeluk Hanna yang tubuhnya sudah bergetar karena menangis.
Penonton pun tak ayal ikut terenyuh, mereka turut menangis, tangis haru untuk keluarga Romli.
__ADS_1
" Nangisnya udahan dulu, kita potong pita supaya cepat bisa menikmati menu cafe ini." kelakar Teddy yang hampir roboh bendungan air matanya.
" Pita apa? tanya Mumtaz.
" pita yang ada di sana." Tunjuk Teddy pada untaian pendek pita berwarna coklat tidak jauh dari pintu.
" Muy, potong pitanya." ujar Dewi.
" Kenapa harus aku? cafe ini bukan milikku." tolak Mumtaz.
" Terus siapa? masa si Adgar." kata Fatio.
" Kak Ala aja." ujar Mumtaz.
" Gak mau, nanti masuk media, males."
" Ya udah aku saja." tawar Alfaska.
" Gak ada, ini anak makin gila populer aja." Aryan menarik kerja belakang kemeja Alfaska.
" Para orang tua aja yang buka." ucap Zayin.
" Iya, kalian aja yang buka. kan ini ide kalian." tutur Tia.
" Gak apa-apa? kan ini punya mama Aida." kata Sherly.
" Kan Mama-nya udah meninggal." perkataan Tia yang diucapkan santai mampu mengheningkan suasana. suasana seketika sendu.
"Kok diem, gak jadi pembukaannya ni? gak balik modal gak rugi?" kata Zayin.
" Jadi, kudu balik modal pokoknya kalau bisa ini cafe terus berjaya mengalahkan cafe d'lima." ucap Fatio melirik Edwin.
"Gak mungkin." jawab Edwin.
" Soumbhong." timpal Bara.
Maka diputuskan Fatio dan Sri yang memotong pita sebagai tertua," dengan ini OURMEMORY cafe resmi dibuka." teriak sumringah Fatio.
Tepuk tangan meriah menyambut pengumuman itu, pintu dibuka lebar ternyata dari luar banyak orang juga menunggu.
Mereka menikmati kudapan serta berbagai jenis minuman yang merupakan menu andalan cafe.
" Bunda..." Mumtaz menghampiri Hanna yang sedang mengobrol dengan temannya.
" Bunda tanya ke Fatih, dan dia cerita semuanya tentang kamu dan dia yang membangun ulang gedung ini sesuai keinginan Mama." ucap Hanna sebelum Mumtaz bertanya.
" Tapi bunda gak perlu..."
" Perlu banget, Muy. Mama kamu kan calon besan tante, sebagai calon mertua yang baik, Tante ingin kamu punya kenangan tentang Mama kamu yang masih bisa berkembang bersama kita, dan itu cafe ini yang belum sempat tuntas waktu mama pergi." alibi Elena agar Mumtaz mau menerima kejutan mereka.
" Siapa yang mau megang pengelolaan cafe ini?"
" Sementara Tante Sherly dibantu kita semua kok." ucap Dewi.
" Om Aznan mengizinkan Tante jauh dari om?" siapapun tahu Aznan si pria yang sudah memiliki banyak cucu namun masih tampan itu begitu posesif terhadap istri cantiknya ini.
" Jangan lama-lama aja setiap harinya." jawab Aznan yang sudah berdiri memeluk pinggang Dewi.
" Muy, ayok gabung sama pria, jangan tanya-tanya lagi, nikmati yang ada." Aznan merangkul Mumtaz bergabung dengan Wilson, Alatas, dan Husain.
" Ini pemilik perusahaan kontraktor yang ngasih gratis jasanya percantik gedung ini." kelakar Teddy pada Ibrahim Alatas.
" Hahaha...mau mengakui tapi malu, orang dia sendiri pemilik Saham terbesar di perusahaan Alatas architecture." timpal Ibrahim.
" Ck, gak asik bercandanya itu karena bang Ibra yang nolak saham itu."
" Bagaimana jika Husain membeli saham yang ditawarkan kamu, Muy?" tanya Ibrahim Husain. bagaimana pun dia ingin ayahnya memiliki sedikit kebanggan atas hasil kerja kerasnya selama ini.
Mumtaz terdiam sesaat memperhatikan Hazam Husain yang menatapnya penuh pengharapan." Saya bisa melepas 10 %untuk Husain dengan syarat istri dan keluarga Riana tidak bekerja di sana."
" Tidak akan, sama sekali tidak kan terjadi." sambut Hazam cepat. ia sangat gembira menyambut penawaran itu.
" Kita bicarakan lagi nanti di kantor."
" Baik, kita bicarakan kembali di kantor." timpal Ibrahim Husain.
" Saya permisi, mau menonjok Fatih walau hanya sekali karena Jasmine pasti akan marahi saya." mumtaz pergi dari san menuju kelompok yang berisi Bara, Fatih, Raditya, dan masih banyak lagi.
" Ambil kesempatan ini untuk tidak mengecewakannya, dia mungkin terlihat baik, tapi kamu sudah merasakan bagaimana cara dia mengalahkan lawan." imbuh Luke Wilson.
" Iya, saya tahu benar kejamnya dia membalas lawannya. masih diberi tempat di Alatas saja sudah bersyukur." timpal Hazam.
" Kali ini saya yang akan mendampingi papa. saya pikir paman bisa membantu papa ternyata beliau membvnuh papa di belakang." ucap Ibrahim terkait ayahnya Riana yang sudah menggelapkan dana Husain corp.
Para pelaku bisnis top 10 berkumpul di cafe yang tidak seberapa besar, namun pemiliknya lah yang membawa mereka di sini.
" Woy, Tih. mulai sekongkol Sam yang lain menyerang gue Lo." Mumtaz menepuk pundak Fatih.
" *Sorry*, tapi Tante Hanan bolak-balik kantor mohon minta cerita apa yang liat bangun ini. gue gak punya daya buat mengelak, Muy. *sorry*."
" Its okay."
Ting...Ting....
" Mohon perhatiannya..." Hito mengambil peran utama pengunjung cafe.
Hito menggenggam tangan Zahra, lalu berlutut di depannya, mengerikan cincin dari saku jasnya.
" Aulia Zahratul Kamilah, di depan semua orang yang kita sayangi, aku ingin meminta mu menjadi permaisuri ku, ratu bagi putri pangeran kita kelak. Zahra, apakah kau mau menikah dengan ku?"
Suasana hening, tegang...
Zahra menganga bengong atas apa yang dilakukan Hito, dia tidak punya firasat apapun kecuali tangan dingin Hito yang menggenggamnya hari ini.
" Ra...would you..."
" Yes, I do..." jawab Zahra sumringah.
" YES!!!" Hito memasangkan cincin lalu mengecup kening Zahra di bawah Blitz kamera wartawan yang hadir.
" HOORRREEEE..... SELAMAT!!!! " sorak mereka semua.
" SELAMAT, SAYANG!!" para ibu memeluk disusul par ayah dan terakhir para adik.
" Kakak harus bahagia." bisik Mumtaz di sebelah kanannya.
" Kami pastikan kakak bahagia." Zayin di sebelah kirinya.
TAMAT!!!!
__ADS_1
TERIMA KASIH UNTUK SEMUA PEMBACA!!! SEE YOU!!!!