
" Photo ini dikirim selama empat tahun. Terus berkala." Lanjut Ibnu.
Bara memejamkan matanya lelah
" Empat tahun? Selama empat tahun cassy-gue diteror photo-photo itu, dan gue gak tahu." Lirihnya
" Dan begonya Lo masih jalan sama cewek itu." Sarkas Jimmy.
" Gue jalan sama dia dan para cewek itu karena gue penasaran tentang sesuatu."
" Apa?"
" Empat tahun lalu Lo marah banget bahkan ngancem akan ambil alih Atma Madina corp kalo gue jadian sama Maura. Gue penasaran alasan Lo segitu bencinya sama Maura?"
" Dan apa yang Lo dapet dari empat tahun ini? Cuma ngabisin duit doang." Jimmy marah
" Kalo Lo penasaran, tinggal Lo tanya sama gue."
" Emang Lo bakal kasih tahu gue?" Bara meragu.
" Dih Lo pikir gue cewek main sok rahasiakan."
" Ya udah apa? Kasih tahu gue sekarang." Bara jengkel kepada sepupunya ini.
" Maura sepupunya Tanura,...udah Jim bilang aja jangan banyak typo gak ada faedahnya." ujar Mumtaz cuek mendapat delikan tajam dari Jimmy.
" HAH." kok bisa?" teriak mereka berempat.
Jimmy mendengus sebal dengan tanggapan alay mereka berempat ini.
" Maura Anstasya anak dari Bram Brotosedjo dengan Naura Amalia." Jimmy mengawali keterangannya.
" Naura Amalia merupakan simpanan dari pengusaha Bram Brotosedjo. mereka saling cinta, tapi tidak bisa bersatu karena tuan Bram menikah atas dasar kesepakatan bisnis dengan Riska Irawan."
" Naura merupakan adik dari Amara, ibu dari Tanura."
" sewaktu Lo pacaran dengan Maura dulu, Tanura mengkompromikan nya, tapi dia tidak terima ketika Lo memproklamirkan diri berpasangan dengan Cassandra Hartadraja."
Ambisi Amara dan Tanura akan kekuasaan dan harta Atma Madina dan Hartadraja menjadikan mereka penjahat.
Bara benar-benar syok mendapati kenyataan ini.
" Gue pikir Maura beda, dia cantik dan lembut, kenapa dia jadi jahat?" Rizal termenung
" dia membalas ulah Hartadraja yang membuang Tanura dengan cara menyakiti Cassandra." ucap ibnu.
" Ooh pake cara halus...Lo kasih tahu fakta ini ke Hartadraja." ujar Bara
" buat apa?" tanya Jimmy.
" ya buat jaga-jaga, dan supaya om Damian dan Tante Julia memperbolehkan gue balikan sama Cassandra."
" cih. jadi sadboy Lo. urusan remeh gini minta bantuan kita." ledek Jimmy.
" Jim, gue angkat dua jempol buat Lo." Ubay mengangkat dua jempolnya diikuti Rizal dan juga Yuda
" iyalah. emang temen Lo otot mulu yang dipake fungsi otaknya jadi mengecil kan." ledek Jimmy. Bara langsung menghujamkan tatapan menusuk kepada Jimmy.
******
Kampus Atma Madina
Empat gadis absur memasuki kampus saling melirik kiri-kanan seputar kampus
" Sumpah ya maba ( mahasiswi baru) sekarang dandanannya saingan sama tante-tante girang.
" lihat bibir mereka merah kayak berdarah gitu, lah kita dari jaman SMA sampe kuliah Masih aja bermodal lipsbam dan bedak bayi, yang tabur lagi bukan yang padat." keluh Dista.
" hooh. kapan kita genit kayak mereka ya?" khayal Tia.
" gimana kalo malam Minggu ini pada nginep di rumah gue? kita panggil MUA buat ajarin kita dandan." ujar Sisilia.
" oke."
" kuy lah."
" sip."
Saat tatapan Tia fokus pada satu sosok gadis yang berjalan di depannya yang berlawanan arah dengannya tiba-tiba tubuh Tia menegang bergetar, keringat dingin membanjiri keningnya dengan tatapan ketakutan.
Sosok yang berjalan beberapa meter dari Tia tersenyum smirk padanya
" marya..." panggil gadis cantik itu
Tia membalik badan dan berlari kencang keluar kampus. para sohibnya terbengong, mereka menatap bertanya gadis itu yang melenggang santai melewati mereka.
****
Ruangan BEM Universitas
" cassy, " panggil Bara yang berdiri di daun pintu. sedangkan Cassy sibuk dengan laptopnya guna keperluan Pema (Pentas Seni Mahasiswa ) di meja Ketua BEM.
Cassy menengadah dengan tatapan datar, namu sebenarnya dia takut " apa kak?"
Sambutan biasa dari Cassy masih menyakiti Bara. sudah empat tahun berlalu sejak tindakan bodohnya, Cassy masih belum memaafkan dia, meski di mulut bilang sudah.
Tidak ada lagi tatapan malu, takut, risih, namun hangat. Bara lupa Cassandra yang pendiam dan pemalu adalah anak dari Julia Hartadraja, sang Puteri pemberontak, dengan Damian Prakasa sang legenda tarung pada zamannya.
Bara mendekatinya " kenapa duduk di tempat Yuda?"
" Emang kenapa? biasanya juga di sini. enak di pojokan bisa sambil ngemil."
Bara terkekeh " jadi cemilan yang dikotak meja itu punya kamu?"
Cassy mengangguk sambil terus mengetik.
Bara menatap intens " pulang bareng yuk!" ajak Bara.
Cassy menggeleng " enggak."
" kenapa?"
" apanya?"
" gak mau."
" Biasanya juga gak pulang bareng." sarkas Cassy
" ya... sekarang pulang bareng."
" gak bisa. udah ada janji sama temen "
"batalin."ucap Bara dengan aura tak terbantahkan
__ADS_1
ketika Cassy membuka mulut untuk bicara...
" Bara!" panggil Maura berdiri depan pintu BEM yang terbuka.
Bara menutup matanya jengkel dengan mengetatkan rahangnya mendengar suara ini. ingin dia tutup kasar pintu itu di depan wajah dia.
Cukup empat tahun dia buang waktu dekat dengan Maura, tapi sekarang dia tidak tahan lagi. ketika dia tahu ada seseorang yang sedang mendekati Cassandra pujaan hatinya.
Bara tidak bisa kehilangan Cassandra. apapun caranya dia harus mendapatkan kembali kekasihnya.
" Bara. ayo kita pulang." ucap Maura menekankan kata 'kita' dengan melirik tajam Cassy yang dibalas santai
" pulang aja sana. ngapain Lo kesini?"
" kan kita biasanya juga pulang bareng." Maura mendekati Bara
" Lo yang ngintilin gue. bukan gue yang ajak Lo." sinis Bara
Langkah Maura terhenti mendengar ucapan sinis Bara " kamu kenapa?" tanyanya tanpa merasa bersalah.
" Lo ganggu gue."
" aku cuma mau ngajak kamu pulang bareng."
" gue gak mau. pulang sana."
" kamu kenapa galak gini sama aku. ayo pulang bareng." Maura mulai menaikan intonasi suaranya yang mengundang perhatian orang yang berada di ruangan tersebut.
" Lo budeg, gue bilang gak mau. siapa Lo bisa maksa gue. gue mau pulang sama Cassy." bentak Bara yang habis kesabarannya
Cassandra yang terganggu aktifitasnya memilihi menyudahi kesibukannya. dia beranjak keluar ruangan BEM
Ketika melewati Maura yang masih berdiri menahan emosi, Maura tiba-tiba mendorong keras Cassy sehingga kepalanya terantuk ujung meja dan jatuh kelantai semua orang yang melihatnya terhentak kaget
Bara yang melihat itu langsung mendorong keras Maura yang tubuhnya menabrak meja kayu besar yang biasa digunakan rapat intern BEM hingga Maura terhempas beberapa langkah dari jarak dia berdiri.
Melihat darah yang mengalir dari pelipis Cassy, Bara bergegas membawa Cassy ke poliklinik kampus di fakultas kedokteran tanpa memperdulikan nasib Maura.
Dengan kekhawatiran yang tinggi Bara menggendong Cassy ala bride dan berteriak kesetanan setiap orang yang menghalangi jalannya.
BRAK!!!
" Periksa segera dia. jika ada yang lalai maka akan ku pecat kau." teriak Bara kepada seorang dokter dan beberapa perawat.
Membutuhkan waktu lima belas menit bagi mereka untuk memastikan keadaan Cassy.
Bara berdiri ketika dilihatnya seorang dokter keluar dari ruangan pemeriksaan.
" bagaimana keadaan calon isteri saya, dok?"
Dokter tersebut terkaget mendengar kata ' calon isteri' dan sukses membuat gugup dirinya
" Alhamdulillah secara keseluruhan baik. luka di pelipisnya harus mendapat beberapa jahitan untuk menghindari infeksi dan menghentikan aliran darahnya."
" apa saya sudah bisa melihatnya?"
" iya. silahkan. mungkin beliau masih dalam keadaan nyeri mengingat benturannya begitu keras."
ketika Bara hendak membuka pintu rawat Cassy, terdengar teriakan minta tolong dari beberapa mahasiswa yang membawa Maura
Bara melangkah kembali ke pintu utama " pergi. jangan bawa dia kesini. jangan pernah ada yang berani merawat dia di sini."
Dokter yang hendak memeriksa Maura mengurungkan niatnya. orang yang membawa Maura seketika menurunkan dan mendudukinya di bangku tunggu karena tak mau berurusan dengan Bara Atma Madina
" Jangan harap. mulai detik ini gue harap Lo jangan melewati batas." Bara meninggalkan Maura.
Bara duduk dengan menopang tangan di sisi ranjang yang menggenggam tangan Cassy dengan kedua tangannya dan menciumi punggung tangan itu berulang kali
" eeekh...sakit." lirih Cassy meringis
" maaf sayang...tahan ya sakitnya." ucap lembut Bara
" kak Bara,..."
" Iya sayang. maafin aku gak bisa lindungi kamu."
" apa, cinta?
" maaf. Cassy gak bermaksud ngomong kasar tentang kak Bara." lirih Cassy.
" Husssh. iya kakak tahu. kenapa gak bilang kalo Maura ngirim photo menjijikan itu ke kamu?"
" ak...aku... kak Bara cinta sama kak Maura, kalo aku ngomong aku ragu kakak Bara percaya sama omongan aku."
Bara menghela nafas berat. maaf udah nyakitin kamu banget " kakak mau cerita sama kamu dengerin baik baik."
Maka meluncurlah cerita maksud dan tujuan Bara mendekati Maura dan teman-tamannya.
" Terus kak,... kenapa Maura benci sama aku, seharusnya kan aku yang benci dia karena ngambil kakak dari aku."
" Sayang...maaf. Tadi aku udah cerita kan, jadi dia gak pernah ngambil aku dari kamu. aku masih milik kamu dan tetap milik kamu." ucap lembut Bara sambil menciumi punggung tangan cassy
" apa sih. kakak juga bukan milik aku. kita kan gak pernah jadian. kakak gak pernah nembak aku."
" emang? bukannya aku selalu bilang kalo kamu pacar aku."
" itu kan pengakuan narsis kakak, tapi gak pernah nembak aku, tapi sudah lah. semuanya juga sudah berlalu. kakak sekarang udah ada Maura."
" Enggak, kakak gak sama Maura. kamu tadi gak lihat kakak marah besar sama dia karena udah dorong kamu"
" tapi kakak berbohong ke aku demi Maura." bisik Cassy.
" Maaf, maafin kakak. kakak gak akan pernah bohong lagi. maaf." Bara meletak tangan Cassy yang digenggamannya ke keningnya.
*****
PRANK!!!
" Maura bodoh, kenapa dia pake ngedorong Cassy di depan Bara. Shitt. gue gak bisa lagi pake Maura. saatnya Bara sadar akan pesona gue!" ujar Tamara dengan tatapan menajam.
****
Kabar kecelakaan yang menimpa Cassandra dan Maura cepat tersebar ke seantero kampus.
Meski peristiwa itu terjadi dua Minggu yang lalu, namun masih menjadi pembicaraan penghuni kampus terutama kepanikan Bara saat menggendong Cassandra.
Hal itu cukup membuat risih Cassandra yang sekarang menjadi pusat perhatian kampus.
" haduuh...gini kali ya rasanya jalan sama temen pemius. beras alien gue." rutuk Dista
" terus gimana kelanjutan hubungan Lo sama kak Bara?"
Cassandra meringis kikuk. " ya gitu. kata kak Bara siapin diri gue buat serangan pedekatean dia."
__ADS_1
" terus Lo mau gitu aja luluh? dih gampangan sekali anda." cibir Tia
Dista menggeplak pundak Tia " HEH. jadi temen mulutnya, tapi bener apa kata Tia. Lo harus jual mahal. biar kakak gue ngerasain yang namanya berjuang dalam cinta." ujar Dista
" alay lo. ngomongin perjuangan cinta. Lo ceritanya udah nyerah perjuangin cinta kak Daniel? gue lihat sekarang Lo dekat Sam yang namanya Alex. jangan dong kan gue gak enak kalo cuma gue yang berhasil menggaet ayang embeb. xixi...xixi..." pongah Tia karena sudah berhasil jadi pacar Jimmy sang pria idaman.
" belagu...soumbong amat." cibir Dista
" Lo Sil, gimana kabar Lo sama kak Mumtaz? tanya Cassy.
Sisilia menggeleng" gak gimana-gimana."
" awas Lo jangan baper. entar digantung kayak gue." seloroh Dista.
Tia mendengus " jangan samain kakak gue sama kak Daniel. lo gak lihat gimana Aa Mumuy segitu sweetnya ke Lia? iri bilang boss."
" ngemeng-ngemeng gimana kabarnya Zayin? empat tahun Lo gak ada cerita tentang kembaran Lo itu."
" emang gak ada. dia gak pernah pulang. buta arah kali." Tia kesal.
****
Ruang BEM Universitas
saat ini mereka sedang rapat intern mengenai Pema
" Muy, sama para sohib lu pergi ke perusahaan Gaunzaga ya untuk memastikan pendanaan Pema ini." titah Yuda selaku ketua BEM
" sekarang?" tanya Jimmy.
"tahun depan. ya sekarang lah."
" habis jum'atan aja ya. ini nanggung udah jam sepuluh." ujar Ibnu
" gak bisa. ketemuannya jam sebelas soalnya."
" cerdas Lo Yud, bikin janji jam sebelas di hari Jum'at." Mumtaz menepuk kepala sang ketua BEM dan beranjak pergi bersama para sohibnya menuju meja kerjanya.
" Mumtaz,..." panggil Riana.
" apa?" Mumtaz merapikan barang-barang nya yang ada di atas meja kerjanya.
" hati-hati."
" hemm." Mumtaz tak menggubris perhatian dari Riana, dia terus melangkah keluar ruangan.
" untung cuaca berawan, kalo panas mentereng gue geplak kepala ketua BEM kita." gerutu Jimmy.
Mereka mengendarai motor menuju gedung Gaunzaga corp. mungkin menjelang shalat Jum'at, jalan raya lengang.
mereka bermotor dengan santai sampai tiba-tiba ada sebuah mobil sedan Mercedes-Benz Maybach S 560 warna hitam melaju dengan kecepatan tinggi yang hampir menyerempet motor Mumtaz yang matic nan imut
Mobil itu diikuti tiga mobil SUV. mereka saling mengejar, terlihat tiga SUV itu mengepung mobil sedan mercy dari sebelah kiri, kanan, dan belakang.
satu mobil SUV sebelah kanan menambah kecepatan berhenti melintang di tengah jalan beberapa meter dari jarak mercy yang sedang melaju cepat guna menghadangnya, mereka pikir si pengemudi akan berhenti, namun perkiraan mereka salah.
mercy tersebut justru menambah kecepatan laju dan menabrak SUV itu, terus menyeretnya sampai SUV tersebut terpelanting dan berguling keluar dari jalan raya dan menabrak kios kecil dipinggir jalan.
Mercy terus melaju sampai dia kehilangan kendali karena secara tiba-tiba teman SUV menabrakkan diri Dari arah berlawanan sehingga dua muka mobil tersebut ringsek dan mercy mengalami beberapa putaran guling ke depan tak beraturan sehingga terlihat jika mobil tersebut akan keluar dari line jalur jalan dan akan menghantam pembatas jalan.
Sialnya di samping kanan batas jalan ada pembatas jalan yang rusak, sehingga kosong melompong berjarak dua meter sehingga mercy tersebut dapat keluar dari jalan sejalur dan menerobos jalan berlawanan yang ternyata ramai kendaraan lewat
" oh..shit mobil itu bakal keluar jalur. dan menerobos jalan arah lawan." ujar Ibnu
" Jim hadang jalan pake motor lo. stop kendaraan lain lewat.
Jimmy melintangkan motornya ditengah jalan, dan mereka melabai-lmabai tangan ke atas agar pengendara yang lain berhenti.
Dengan kecepatan tinggi Mumtaz melajukan motor maticnya, dan melepas stang sambil mendorong motor itu ke tempat kosong pembatas jalan jalur lawan dia berharap motor itu menyangkut di antar dua pembatas yang ada dan mengisi kekosongan pembatas jalan sehingga dapat mencegah mobil itu jatuh di jalan jalur lawan
Dan yap, mobil itu berhasil berhenti berguling menerobos jalan lawan karena terhalang motor Mumtaz, meski demikian mobil itu terus terseret dengan posisi terbalik menyerempet pembatas besi jalan sampai keluar percikan api akibat gesekan, dan berakhir menabrak tiang jalan mobil baru berhenti.
Mercy itu mengeluarkan asap dan kemudian tampak percikan api keluar yang berasal dari mesin mobil. Mumtaz, Jimmy, Daniel, dan Ibnu berlari kencang menuju pintu pengemudi yang sudah remuk.
Rupanya dalam mercy itu hanya ada satu orang. beruntung seatbelt dan airbag melindungi tubuhnya dari resiko benturan keras. Mumtaz dan Ibnu berupaya keras membuka pintu mobil yang sudah rusak, sedangkan api mulai merambat, namun mereka masih belum berhasil.
Daniel dan Jimmy mendekat sambil membawa linggis besi yang mereka dapat dari bengkel kecil pinggir jalan. mereka dengan sekuat tenaga memecah kaca mobil ,namun hanya berhasil sedikit dekat letak pengunci mobil.
Segera Mumtaz menggapai alat pengunci itu dan sekuat tenaga menarik pegangan pintu dengan memijakkan kaki di badan mobil. mereka berempat menarik pintu tersebut. di rasa cukup mereka berupaya mengeluarkan seorang pengemudi yang dalam keadaaan setengah sadar , Mumtaz menusuk airbag dan membuka seat belt nya, dengan perlahan dan bersusah payah menarik orang tersebut.
" Aws..." jerit kecil kesakitan keluar dari mulut pengemudi kala kakinya hendak digerakan.
Ternyata kaki tersebut tersangkut dan patah karena guncangan kala mobil itu mengguling dan memutar.
Udara sekitar makin panas karena api semakin membesar melahap hampir seluruh badan mobil dan mendekati arah percikan bensin yang tumpah ke jalan.
Mumtaz memaksakan diri memasukan badannya menjorok kedalam bagian bawah kursi yang saat ini terletak diatas kepalanya guna membebaskan kaki yang patah dari himpitan.
" Muy, cepat keluar, api meninggi. Ibnu berteriak menutup wajahnya dari serangan hawa panas api.
Mumtaz tetap berkonsentrasi. kala berhasil mengeluarkan kaki dari himpitannya, para sohib lekas menarik orang tersebut menjauhi mobil
Orang itu dengan sisa tenaga lemahnya menarik baju bagian lengan atas Mumtaz
di berbisik " tolong...ambilkan tasku di...bangku...samping." Mumtaz melihat tatapan memohon dari orang tersebut.
Tas itu bagaikan nyawanya yang tak dapat ditinggalkan. selagi para sohib menyeret orang itu, Mumtaz berlari kembali ke mobil yang terbakar itu.
" MUMTAZ..." teriak Jimmy
Mumtaz langsung mencari ke kursi penumpang sebelah kemudi, namun tidak ada tas. terus mencari ke dalam mobil dan mendapati tas tersebut tergeletak di atap mobil yang terbalik di bagian penumpang belakang.
Kobaran api terbawa angin menjilat tetesan bensin yang bocor dengan cepat api tersebut merambat ke seluruh badan mobil, sehingga bagian dalam mobil pengap karena tipis oksigen. dan asap uang mulai memenuhi bagian dalam mobil.
Satu tangan Mumtaz gunakan untuk menutup bagian hidung dan mulutnya dari asap api yang menyengat sehingga dia terbatuk-batuk dan mata perih menggunakan almamater kampus, jari-jari satu tangannya lagi bergerak-gerak mencoba menggapai tas kerja warna hitam itu yang letaknya agak menjorok ke dalam
Terdengar ledakan kecil susul-menyusul dari atas luar mobil, Mumtaz masih tetap berupaya menggapai tas tersebut dan akhirnya pegangan tas tersebut tergapai oleh jari tangannya, dan dia langsung menarik kuat tas tersebut sehingga sedikit robek.
Ledakan-leadakan kecil itu semakin banyak dan kobaran api semakin membesar hingga tepat mengenai tangki bahan bakar
BUMMM!!!
DHUARR!!!
Tepat Mumtaz berhasil menarik keluar tas itu, ledakan besar bagai bom terdengar dari tangki bahan bakar, api melahap seluruh badan mobil dan ledakan itu mampu menerbangkan mobil beberapa meter dari tempat kebakaran karena terbawa hembusan angin terdorong dari gas yang dikeluarkan dari badan mobil tubuh Mumtaz terlempar terbang ke depan dan menjatuhkannya secara telungkup beberapa meter dari rongsokan Mercy tersebut tanpa kesadaran dengan tas kerja hitam yang masih dalam genggamannya
" MUMTAZ..." sorak membahana tiga sohibnya mendekati dan menarik Mumtaz menjauhi mobil tersebut.
Para pengendara yang menyaksikan adegan tegang tersebut merekamnya dengan masing-masing ponsel mereka.
Ibnu dibantu Daniel bergegas melakukan pertolongan pertama dengan memposisikan tubuh mumtaz dalam keadaan posisi pemulihan ( Recovery Position ).
Jimmy bergegas menelpon rumah sakit Atma Madina untuk mendatangkan ambulance baik untuk Mumtaz maupun untuk pria asing itu.
__ADS_1
Seluruh rentetan kejadian tersebut terekam kamera wartawan dari salah satu televisi yang kebetulan sedang melakukan rekaman dari helikopter.