
" Kak Mumtaz,....huhu..hiks..." Cassandra berlari padanya begitu Mumtaz masuk ke lobby gedung RaHasiYa yang bertingkat lima belas lantai dengan arsitektur modern, simpel namun mewah.
Mumtaz cukup kaget mendapatkan pelukan erat yang tidak dia balas bahkan dia mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya melihat Bara yang memelototinya dengan kecemburuan yang berlebihan.
Tindakan provokatif Cassandra menghentikan gerakan para pegawai RaHasiYa yang berada di lobby, kebanyakan dari mereka adalah siswa BIBA dan mahasiswa UAM serta anak geng yang memiliki potensi maju yang berada dibawah komando Bara.
Mereka takut terjadi perkelahian antar kedua jagoan tersebut hanya gara-gara wanita.
Mata Mumtaz mengitari sekelilingnya, dia tidak mendapati adiknya di sana. ia menghela nafas gusar, matanya melirik Alfaska yang berdiri bersandar pada tembok dekat lift sambil mendengarkan laporan dari bawahannya.
" Kak, maaf. Semuanya pasti kacau, tapi Cassy udah gak tahan." belanya, ditengah isakannya Cassandra menyeka ingusnya menggunakan kaos yang dikenakan Mumtaz.
Mumtaz menghela nafas malas." Cass, aku bukan kak Bara, ngapain ngelap ingus pake kaos ini." Mumtaz memang berbicara pada Cassandra, tetapi tatapannya ditujukan pada Bara yang mengedikan bahu.
" Tia, kemana?" tanyanya pada Sisilia yang berdiri tak jauh dari mereka.
" Tadi pergi pas dapat telpon dari Mami Sandra." Cassandra yang menjawab masih dengan memeluk pinggang Mumtaz.
" Cas, Lo nyesel atau modus. Betah amat meluk pacar orang." Sindir Sisilia sambil menarik menjauhkan Cassandra dari Mumtaz lalu mendorongnya pada Bara yang memperhatikan mereka di belakang Sisilia.
" Apaan sih Lo, Si. segitu aja cemburu." omel Cassandra.
" Ngaca, Lo tadi nyium Kaka bara di depan umum karena apa?" telak Sisilia, Cassandra diam dengan salah tingkah.
Mumtaz terkekeh geli dengan kecemburuan Sisilia, ia mendekati Sisilia lalu mengacak gemas rambut Sisilia.
" Gue kasih tahu Papa, Lo Kak." celetuk Adgar.
Cassandra menatap kesal pada Adgar. " Gue kasih tahu Papa, kalau Lo suka si crystal." balasnya yang mendapat tendangan pelan di kakinya dari Adgar karena kelemesan mulut kakaknya itu.
" Apa itu benar, Adgar?" suara berat Akbar menghentikan saling pandang sinis antar keduanya.
Mencoba tetap cool, " Para Abang, gue pergi dulu. maklum CEO banyak mesti diurus." Adgar berlalu sambil menarik Juan agar mengikutinya.
" Kak, maaf." Seru Cassandra pelan pada Mumtaz.
" Sudah, tidak apa-apa yang penting kamu aman. Kalian masih mau di sini atau langsung pulang?"
" Di sini aja dulu. Belum makan." Jawab Dista menarik tali tas selempang kedua sahabatnya menuju lift yang membawa mereka ke lantai empat.
" Apa yang kalian lihat, kembali kerja." Ujar Alfaska tegas yang langsung membubarkan mereka kembali pada pekerjaan masing-masing.
" Muy, para perwakilan instansi pemerintah sudah menunggu ditempat yang Lo tunjuk." Beritahu Alfaska tentang undangan RaHasiYa kepada para pejabat dari empat instansi.
" Bawa mereka ke lantai sembilan." Para petinggi RaHasiYa melangkah menuju lift khusus tamu VVIP dan petinggi RaHasiYa.
Mumtaz menarik tangan Sisilia agar berjalan di sampingnya.
" Kamu pulang bareng aku ya."
" Kakak pasti lama."
" Kamu istirahat aja di ruangan aku, kita udah lama gak keluar bareng selain ke kampus, melihat perkembangan yang ada gak tahu juga kapan kita bisa bertemu." bujuk Mumtaz, tangannya menggenggam tangan Sisilia.
Sisilia memandangi wajah Mumtaz yang tidak pernah dia bisa baca ekspresinya.
" Iya, udah. Aku tunggu."
Mumtaz menoleh ke sampingnya, ia tersenyum." makasih."
" WOY, YANG BARU BALIGH. CEPETAN, INI KITA DITUNGGUIN." Pekik Alfaska tak menghiraukan rasa malu pada dua sejoli itu.
Pertemuan antara petinggi RaHasiYa dengan BNN, TNI, kepolisian, dan Bea Cukai dihadiri juga perwakilan istana dan menteri pemuda dan olahraga berjalan alot.
Meski sifatnya kerjasama tetapi mereka ingin segala tindakan RaHasiYa berada di bawah kendali pemerintah, permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh petinggi RaHasiYa.
RaHasiYa tidak pernah bekerja dibawah kendali pihak lain, mereka adalah individu-individu bebas yang menyadari kualitas kemampuannya, jika pemerintah tidak menerima hal itu maka kerjasama dibatalkan, toh mereka tidak rugi apapun.
Alfaska dan Daniel menikmati debat mereka dengan pemerintah, membuka aib pemerintah di depan wajah mereka sendiri adalah suatu kesenangan sendiri.
Sedangkan bagi Ibnu dan Mumtaz pertemuan ini membosankan, mereka malah sibuk dengan iPad mereka masing-masing. Tanpa sepengetahuan pemerintah selama pertemuan, Ibnu dan Mumtaz menyerang situs-situs pemerintah dan mengambil semua data mereka sebagai antisipasi pengkhianatan kepada RaHasiYa.
Sulit bagi mereka memenuhi syarat dari RaHasiYa, membiarkan RaHasiYa bekerja secara total membasmi pemasok narkoba dari tingkat got sampai tingkat Senayan dan istana intinya KEADILAN. terima atau tidak! Itu ultimatum RaHasiYa. Sangat memberi resiko negatif bagi pihak penguasa yang berimbas pada karir mereka.
Lama pihak pemerintah berdiskusi yang pada akhirnya mereka menyutujuinya, bagaimanpun mereka tidak bisa kehilangan wajah di depan petinggi RaHasiYa dengan menolak tawaran mereka berarti berindikasi mereka tidak serius memberantas narkoba di Indonesia, dan mengakui keterlibatan para penguasa atas peredaran narkoba yang semakin menggila di Indonesia.
Setelah tiga setengah jam pertemuan akhirnya kesepakatan tercapai, kementerian olahraga berperan aktif dalam pemberdayaan pemuda dan memfasilitasi kreatifitas pemuda, RaHasiYa akan bekerja sama derajat dengan pemerintah, pemerintah tidak bisa mengintervensi cara RaHasiYa, dan seluruh hasil tindakan atas nama pemerintah, sedangkan peran RaHasiYa dirahasiakan, dengan kata lain bagi RaHasiYa ini *black mission*, berhasil tidaknya misi ini, kerjasama ini dianggap tidak pernah ada
Setelah bertemu dengan pemerintah Ibnu, Mumtaz serta Jeno yang bergabung setelah menyelesaikan tugas dari Mumtaz bertemu dengan Darman di ruang bawah tanah yang tidak akan pernah terdeteksi oleh gelombang elektronik apapun. Bahkan ponsel saja tidak bisa aktif di ruangan ini. Benar-benar steril.
Ruangan yang didesain nyaman untuk beristirahat, diiringi lagu klasik Mozart, pencahayaan yang redup serupa berawan sejuk dengan angin sepoi-sepoi sungguh cocok untuk merilekskan diri dari segala kepenatan.
Darman menatap tiga pemuda di depannya tanpa ekspresi, dia sendiri takjub pada mereka, dia akui para pemuda yang berada di gedung ini sudah teruji nyali, keberanian, idealisme, kecerdasan, kejelian, kewaspadaan, dan nasionalime-nya. Mereka sungguh terlatih.
" Mengapa kalian ingin bertemu secara pribadi dengan saya?"
Mumtaz menyodorkan tabsnya pada Darman yang menayangkan rekaman seluruh keluarganya berada dibawah keamanan RaHasiYa.
Darman menampilkan gestur tubuh tanpa respon berlebihan atas gambar itu, dia masih tetap santai dan tenang.
" Kita tidak punya masalah, tetapi kami ingin anda menyerahkan Belinda kepada kami." ujar Mumtaz tak kalah santai.
Diam, mencerna, dan sungguh Darman dibuat speechless oleh kinerja RaHasiYa yang mampu mengetahui kesepakatan rahasianya dengan Eric sebagai detektif.
" Tidak bisa, itu akan menggagalkan rencana besar kami."
" Anda masih bisa menyerahkan Belinda kepada Eric...," Ucap Mumtaz dengan memberi tanda petik pada kata Belinda, " berikan kepada kami Belinda aslinya, dan kami pastikan Eric tidak dan mengetahui Belinda itu Belinda palsu sampai waktunya kami membiarkan dia mengetahuinya."
" Apa Gaunzaga sudah mencium keberadaan kami?"
" Dan tentu anda tahu bagaimana kerja Gaunzaga terhadap orang yang menghalangi tugas mereka. Sangat disayangkan pasukan anda yang terdiri dari orang-orang berkualitas tinggi harus mati hanya untuk misi rahasia yang tidak seberapa ini." Mumtaz mencoba memprovokasinya.
" Apa jaminan kalian tidak akan membahayakan kami."
" Rodrigo, pemimpin Sinolan sesungguhnya berada di pihak kami, dan selama kita bekerjasama dalam pelatihan anak RaHasiYa, apakah anda pernah melihat kami mengkhianati TNI?"
Darman menggeleng," perempuan itu akan mati sia-sia ditangan Eric, kita bisa menyelamatkannya, dia seorang ibu." Bujuk Mumtaz.
" Dia dapat info keberadaan Belinda dari Raul." Darman memberi sedikit informasi yang dia dapatkan.
Untuk sesaat Mumtaz terdiam, " Raul, biar kami yang urus."
" Apa hanya Belinda yang kalian inginkan?"
" Iya, sebagai gantinya kami akan memberi informasi kemana perginya para wanita yang mereka jual, dan kepada siapa saja. serta jalan tikus pengiriman senjata pada pemberontak."
" Kalian tahu?"
" Ini era digital, semuanya serba menyambung."
" Dimana kita bertemu?
" Bima, Sumbawa, NTB. Lokasi pastinya akan kami beritahukan begitu anda berhasil mengevakuasi Nyonya Belinda."
" Kita bertemu di sana. Jaga keluarga saya." Mereka paham maksud dari kata jaga ditujukan kepada siapa.
__ADS_1
Mumtaz mengangguk," tentu, keluarga anda, adalah keluarga kami." Darman dan petinggi RaHasiYa saling menjabat tangan setelah mencapai mufakat.
******
Hito keluar dari mobilnya begitu melihat Sahara keluar dari pintu lobby, lalu menghampirinya yang sedang menunggu Zahira mengambil motornya.
Zahra memghela nafas lelah, sungguh hari ini dia tidak punya tenaga beradu mulut dengan Hito. dua kali melakukan tindakan operasi belum dengan tugas lainnya sudah menguras tenaganya.
" Apa?" tanya Zahra dengan sewot begitu Hito berdiri di depannya.
Hito terkekeh," pulang bareng aku."
" Kamu pasti tahu aku gak pulang ke rumah."
" Kemana aja kamu mau pulang, aku anter."
" Om,..."
" Ara..." potong Hito tidak menyukai panggilan itu.
" Hito."
" Mas."
" Hah?"
" Panggil aku mas."
" Dih, males siapa dikau?" cibir Zahra mendelik.
Hito mengulurkan satu tangannya, " Kenalan lagi, Aku Hito. calon suami kamu."
Zahra menepis pelan tangan Hito," awas ih, pada aku lagi nunggu Hira."
" Tinggal telpon dia, kamu pulang bareng aku."
" Gak mau."
" Ra,...kita harus membicarakan ini."
" Tidak ada yang perlu dibicarakan bapak Hito, semua sudah clear ." keukeuh Zahra.
Tid!! tid!!!
Zahira memberhentikan motornya tepat di depan Zahra.
Saat Zahra hendak melangkah, Hito mencekal tangannya. " pulang bareng aku."
" Biarkan aku memikirkan langkah selanjutnya."
" Kamu tidak memikirkan tentang kita, tetapi kamu menjauh dariku." ucap Hito geregetan.
" Ck, memang kamu kapan ngasih aku waktu berpikir? tiap hari kamu ngeribetin aku, nempelin aku kayak perangko." Zahra mengingatkan Hito akan tingkahnya yang sungguh mengganggu.
" Makanya kita bicarakan."
" Ra, lo mau nebeng gak? gue kayak tukang ojol aja ini." tutur Zahira malas melihat perdebatan diantara mereka yang sudah berlangsung hampir satu bulan ini.
" Lepas, kalau enggak, aku gak mau ketemuan kamu lagi." ancam Zahra ,Hito dengan berat hati melepas cekalannya.
Zahra menaiki motor Zahira di bagian penumpang.
" Bohong, Kak. nyampe rumah dia bakal galauin Kakak lagi. Aduh." cerocos Zahira mendapat geplakan di helm bagian kepala dari Zahra.
" Cerewet Lo, gue bongkar rahasia Lo ke Kak Samud ya." ancam Zahra menolak melihat Hito yang menatapnya sambil menahan senyum.
" Ck, gak asik lo.. Mari Kak, kita pulang duluan."
" Hmm, hati-hati." pasrah Hito. dia pikir hari ini cukup segini interaksi antar dirinya dengan Zahra.
*****
Pukul 01.15 dini hari WIB. Tak jauh dari bar striptis khusus kalangan atas, the Fly. Estelle menggunakan kekeran teropong mengamati setiap kedatangan tamu, ia tersenyum smirk saat melihat Tamara masuk bar dengan seorang pria dewasa asing berperawakan latin.
Dengan menyamar sebagai salah satu pelanggan dengan identitas temannya yang sering berkunjung demi mendapatkan gigolo muda nan hot, Estelle memasuki bar.
" Hello lady." Sapa Eric yang duduk santai di sofa eksklusif yang sengaja Estelle lewati.
Estelle menoleh padanya, lalu tersenyum menggoda, hello Daddy." ucapnya bersuara menggoda.
Eric menarik tangannya, menjatuhkan Estelle ke atas pangkuannya, tanpa kata langsung menyerang Estelle.
Lama setelahnya ditengah erangan Eric, karena service Estelle. Ia melepas mulutnya dari senjata Eric setelah Eric memuncratkan caira kepuasannya.
Estelle beranjak duduk di atas pangkuan Eric, membimbing mulutnya ke telinga dan sedikit menjilatinya, ia berbisik,
" Aku tahu Tamara mengkhianatimu dengan menghubungi tuan Navarro."
Eric menegang, ia menetap Estelle penuh tanya," Aku Estelle, teman Angelica Navarro. Tamara melaporkan semua yang terjadi padamu selama ini yang membuat Navarro mengetahui semuanya. Berikan dia padaku, karena dia juga mengkhianatiku."
" Apa jaminan kamu tidak bohong padaku?"
" Hubungi saja tuan Navarro. Aku bukan dia yang nekat mempermainkan kamu." Estelle meraba dada terbuka karena tiga kancing teratas kemeja Eric sudah terlepas.
Eric mengamati Tamara yang sedang sibuk melayani klien tua-nya.
" Ambil dia. Dan kamu puaskan aku malam ini." Eric beranjak dari sofanya lalu menuju ruang VVIP.
" Tentu." Teriaknya ditengah kagaduhan sorakan pengunjung akan pertunjukan tarian seorang penari striptis.
Estelle memandangi Tamara, memotretnya dan merekam adegan senonohnya dengan kamera ponselnya.
" Show time, Tamara." Gumamnya penuh dengan dendam.
*****
Zayin sungguh muak dengan dunia malam penuh dosa ala kalangan atas.
Sadari tadi mulutnya tidak berhenti beristigfar diselingi umpatan saat melihat tontonan mesum di depannya.
Setelah setahun dalam penyamaran, dia sungguh belum terbiasa melihat hal-hal menjijikan ini, setiap kali sesudah pengintaian, dia pasti akan muntah.
Bayangkan hal mesum ini tidak hanya dilakukan oleh wanita atau pria dewasa tetapi anak belasan tahun yang notabene masih dibawah umur. Banyak yang melakukannya entah sebagai pelanggan ataupun sebagai pemuas nafsu.
" Gue kalau gak inget sapta Marga dan sumpah prajurit, udah gue tinggal ini. Bayangin setiap malam gue harus lihat air pejuh disia-siakan." Dumel Zayin sambil mengamati sekitarnya.
" Udah sih beb, nikmati saja." Seru sang senior yang mendapat nama samaran perkasa.
" Nikmati pale Lo, bang. Ini kita lagi nyari apa sih. Gue paham kalau si playboy mah emang maunya, lah gue anak imut nan baik bisab terjebak ditengah-tengah penuh maksiat begini." Gerutunya melampiaskan kekesalannya.
" Cemen Lo, gini aja kalah, gimana mau perang." Ledek Bayu yang mengamati satu titik mencurigakan.
" Kalau pernah atau tawuran sama pembunuh bayaran gue jabanin daripada lihat semangka bergelayutan gitu." Zayin tak berhenti berceloteh.
Bayu menoel tangan Perkasa," jam tiga, Bang." Bisiknya tak kentara tanpa menggerakkan bibirnya.
" Nyari itu tuh." Tunjuk si Palyboy pada pergerakan mencurigakan dari gadis cantik muda yang duduk mengangkang di atas pangkuan lelaki tua.
di seberang tempat duduknya.
Seorang wanita muda berambut hitam bergelombang berpakaian sangat minim dan terbuka dengan tali spageti yang terikat tak kencang di lehernya hingga dadanya hampir terlihat penuh menghampiri perempuan cantik target mereka.
Zayin mengernyit, ia lebih terfokus pada perempuan yang baru datang tadi. Ia merubah pengaturan kameramenjadi zoom dikaca mata yang dia kenakan.
Matanya berbinar, " Play, Lo perhatikan wanita berambut panjang." Ujarnya pada William yang mendapat nama samaran Playboy.
" Beb, jangan tidak fokus." Peringatan dari Perkasa.
" Tenang, Bang. Kalau Lo enggak melarang permintaan gue kali ini, gue jamin RaHasiYa bakal membiarkan lo mencoba salah satu penemuan baru mereka."
" Janji Lo ya."
" Iye."
__ADS_1
" Sama teraktirannya juga ya." Perkasa Menaik turunkan alisnya.
" Ngelunjak Lo, Bang. Gue bawa ke kantin gedung RaHasiYa."
" Dih levelnya kantin." Cemooh Perkasa.
" Cobain dulu baru bacot."
" Duh Dede gemas ngomongnyaaa..." Perkasa menabok mulut Zayin pelan.
William dan Bayu menertawainya," Lo pengen mabok mulut dia yang lemes itu pake kekerasan, tapi gak berani kan Lo, Bang." Perkasa mengangguk kesal.
Zayin tidak menanggapi obrolan unfaedah mereka, dia memilih melakukan sambungan telpon pada seseorang.
****
Mumtaz khusu duduk dengan laptopnya di ruang tamu menganalisa keadaan sekitar tempat tinggal Belinda hasil penangkapan drone pengintai. Misi penyelamatan Belinda dibawah kepemimpinan Ragad dan Galang yang menurunkan tiga nanak buah dari organisasi pembunuh bayaran yang menjadi bagian RaHasiYa setelah kalah dalam adu kekuatan melawan Mumtaz itu.
" Muy, udah tidur Lo?" Ibnu yang aku melangkah ke dapur berhenti saat melihat Mumtaz yang masih sibuk dengan laptopnya padahal sudah dini hari.
" Gue baru bangun."
" Shalat?"
" Entar jam tigaan."
" Isya?"
" Udah jama'ah sama Jeno dan Jarud."
" Mereka mana?"
" Di kamar Ayin."
Ibnu melanjutkan langkahnya ke dapur.
" Kopi, Nu." Teriak Mumtaz
" Susu coklat aja ya." Balas Ibnu dengan teriak juga.
Mumtaz berdecak, sahabatnya ini persis emak-emak.
Tririring!!! tririring!!!
" Hallo." Salam Mumtaz pada si penelpon diseberang sana.
.......
" Dimana?"
.....
" Ikuti dia."
.....
" Iya, bawel. Sekalian sama keluarganya."
.......
" Oke, Lo jangan kehilangan jejak dia, Jeno akan ke sana ,atau Lo terima hukumannya." Mumtaz menutup sambungan telponnya.
" Siapa?" Ibnu duduk di sofa tunggal samping Mumtaz setelah memberikan segelas susu coklat hangat padanya.
" Zayin, dia nemuin si Estelle. Bangunin Jeno, buat pergi ke the naughty."
*****
Zayin menutup sambungan telpon dari kakaknya.
" Play, Lo sama gue ngikuti itu cewek. Mbul, Lo sama Abang kerjain tugas."
" Beb,..."
" Kata Abang gue kalian bakal ditraktir sekalian sama keluarga Lo dimana aja yang Lo mau." Potong Zayin pada Perkasa.
" Oke."
"Beb, mereka bergerak." Bisik William yang beranjak mulai mengikuti langkah mereka.
Tamara begitu terkejut mendapati Estelle di bar mewah ini
" Dad, aku permisi sebentar mau charge ulang tenaga aku." pamitnya pada kliennya yang terkapar di atas sofa akibat pelayanan \*\*\*\* \*\*\* nya.
Hmm, jangan lama-lama." lirihnya penuh kepuasan.
" Enggak akan, jangan lupa janjinya."
Tamara menarik Estelle ke salah satu ruang sempit di sudut bar tanpa merasa ada yang mengikuti mereka.
" Ngapain Lo kesini?" Tamara sungguh marah pada partnernya.
" Menurut Lo?"
" Gue bilang, kalau ada barang gue langsung kasih ke Lo."
" Bohong banget, gue nunggu Lo ditempat biasa, tapi Lo gak pernah nongol. Dua Minggu ini gue jadi buronan, sedangkanan Lo bebas dengan para konglomerat muda."
" Gue belum dapat barangnya."
" Heh, siapa yang mau Lo kibulin? Lo pikir gue gak tahu alau lo jadi simpanan Eric Gonzalez?"
Mata Tamara melirik kanan dan kiri dengan cemas," Ck, iya, besok gue kirim. Sekarang Lo pergi."
" Siapa Lo main merintah gue?." sindir Estelle keluar dari ruangan sempit tersebut. lalu belok kiri menuju satu tempat yang sudah ditunggui oleh Eric. atas informasi dari salah satu bartender sebelum dia menghampiri Tamara tadi.
Saat berjalan di koridor sempit itu, tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
" Bawa dia sebelum ada yang mengenalinya." ujar salah satu dari mereka....
**Ayo para readers kasih like n komennya, jangan lupa hadiah dan votenya**...
__ADS_1
**Do not being silent readers...oke**\*\*...