
pukul 11 malam dalam apartemen nan luas terkesan sepi. Hito dengan masih pakaian yang sama yang dia pakai tadi siang. duduk disofa panjang dengan kepala menengadah ke atas mata terpejam dengan kedua tangan menjambak sejumput rambut bagian depan dengan perasaan kesal sekaligus marah terhadap dirinya sendiri.
masih terbayang jelas adegan tangisan antar saudara didepan kamar inap sang mama. Hito selepas pertemuan dengan Zahra, tanpa sepengetahuan Zahra dia mengikuti Zahra ke rumah sakit. rasa penasaran yang menuntun dia hingga menunggu lama disana.
" aarrggghhhh. kenapa gw bisa tolol. seandainya hari itu gw gak mabuk. mereka gak akan ngerasain apa yang mereka alami sekarang." sambil memukul kepala berulang kali.
sejak keluar dari tahanan memang Hito sering kali berandai jika hari naas itu tidak terjadi. berulangkali mencoba meyakini bahwa semua telah berlalu, semua telah lewat dan sekarang baik-baik saja. tapi kenyataan hari ini memperlihatkan semua tidak baik-baik saja. akibat kebodohannya satu keluarga terluka. luka yang tiada pasti kapan sembuhnya.
*******
" ma. gimana kabarnya hari ini?" teriak sok girang Jimmy nyelonong masuk ruangan tanpa salam.
"wa, alaikumsalam." sindir Kakak Ala sambil mendelik.
" hehehe." dengan PD Jimmy nyengir. hari ini berhubung kak Ala ada praktek, Mumtaz dan Ibnu sedang lomba robotik, maka disinilah Jimmy dan Daniel.
" ya udah ma. Jimmy sama Daniel udah Dateng. mama jangan merasa bersalah. mereka bahagia dan gembira kok bisa bolos sekolah." kak ala melangkah ke brangkar dan menyalami tangan mama Aida.
" Jim, Niel tolong jaga mama ya. kalo paper tahu kan kantin dimana. beli aja sendiri. kakak pergi." kak Ala melangkah keluar sambil melambai tangan ala peragawati.
" huh. kalo bukan anak mama Aida udah Jimmy sleding tu mam." dengus Jimmy.
" hehehe.. maaf ya ngerepotin kalian. kalian bener ga papa ga masuk sekolah?"
" tenang mam. kita justru mau ngucapin makasih ke mama yang mau ditemenin sama kita.jadi kita bisa bolos. hehehe.."
" orang tua kalian gak marah?"
" santai aja ma. bolos sehari gak bakal bikin kita bodoh dadakan." Daniel menimpali.
" mama istirahat ya. atau ada yang mau mama butuhin?"
" gak ada. ditemenin kalian aja mama bersyukur. mama tidur dulu ya."
" iya ma. sleeping beauty aja ma."
********
pukul 13.00 wib
" assalamu,Alaikum." Slam serempak tiga anak ABG yang masih pake seragam SMPnya. sambil masuk ruangan.
" hai bang. pa kabar lama tak jumpa kita." sapa Juan sok akrab. memang sih mereka akrab. mereka sering kumpul dirumah mama Aida atau Zayin dan para sohibnya numpang join dimarkas Daniel.
" loh mama mana bang?" tanya Zayin melihat brangkar mama kosong.
" lagi di dokter. tadi dapat panggilan dokter. dan kita gak boleh ikut." Daniel yang jawab. zayin hanya menganggukkan kepala.
" kalian bolos, jam segini udah balik." tanya Jimmy yang tatapan matanya masih menghadap layar hp.
" kagak. suudzon Lo bang. kita habis asimilasi ujian." timpal Juan.
" gw kagak ngerti dah ujian ya tinggal ujian kagak usah pake try out atau asimilasi atau apalah itu. ribet banget dah. sipir mereka Lo kita ngelakuin itu semua kita bakal dapat nilai dapet nilai gede gitu? sewot raja yang menjatuhkan badannya disamping Jimmy disofa.
" kenapa Lo pms ya. terus tu muka kenapa dah bonyok gitu. mau ujian masih aja Lo berantem?" tanya Jimmy tak kalah sewot.
..." ih berantem apaan. udah gak jaman berantem pake otot. ini gw dikeroyok sama anak SMA bang. cupu banget kan mereka udah gede ngeroyok anak SMP....
" anjir serius Lo. anak mana? malu maluin putih abu-abu aja tu orang. emang Lo salah apa?" tanya curiga Jimmy karena dia melirik Juan cekikikan tawa tertahan.
" Anak Bina Bangsa. DIEM An. gw jalan sama temen cewek sekolah yang udah lama ngejar gw bang. dia bilang dia bakal berhenti ngejar kalo gw mau diajak jalan sama dia."
" pasti mereka bina bangsa gagal. dan Lo dengan polosnya percaya?" ledek Daniel. memang jika Daniel dan Jimmy bersatu tak ada orang yang bisa lolos dari ejekan mereka. meski secara pribadi Badi Daniel lebih santai dan gak kepoan, tapi kepribadian itu hilang jika sudah ada jimmy. Jimmy memang virus.
" hooh. pas dia jalan sama tu cewek, ketemu sama pacar SMA ceweknya. ya udah jadi dodol Betawi dia sama mereka. untung pahlawan datang. gw sama Zayin. jawab Juan dengan jumawa sambil tertawa terbahak-bahak. entah apa yang lucu.
" bego ya gw bang."
" gak. cuma goblok." ledek Jimmy menoyor sisi samping kepala Raja sambil terkekeh.
" mana gw tahu kalo gw jalan sama bibit cabean bang." bela secara terpaksa Raja.
" lagian ngaku playboy. tapi gak bisa bedain mana modus mana sungguhan. emang tu cewek cantik? Daniel menggeleng kepala.
" kagak. dempek Malah. udah ga udah ngomongin itu mulu. diem Lo An. gw sleding beneran tau rasa." sela Raja sewaktu Juan hendak membuka mulut.
" mabar bang. kuylah gw join." Raja mengalihkan omongan.
" ini Mama kemana dah lama banget. ngerasa konyol gw. kita kumpul disini buat jagain orang sakit, tapi yang sakitnya kagak ada." khawatir Zayin.
" kita duduk aja kali Yin. kalo cuma periksa doang mah emang kelamaan." Juan juga turut kuatir.
ceklek...pintu terbuka dan mama masuk.
" gak perlu disusul segala. ini Mama dateng." nama menuju brangkarnya
" gimana ma hasilnya?" zayin, raja', dan Juan bersalaman cium tangan mama Aida.
" Alhamdulillah progres baik. kalo gak ada halangan besok juga mama pulang."
__ADS_1
" biar Jimmy yang jemput mama pulang ya " tawar Jimmy.
" besok Lo sekolah bang." sindir Zayin
" bisa diatur itu mah dek. sans aja."
" terserah n thank."
selagi mereka asik bercengkrama. datang Mumtaz dan Ibnu.
" menang gak Lo Muy." Jimmy yang paling antusias menyambut mereka. Mumtaz hanya mengacungkan tangan tuk memperlihatkan barang bawaannya. dua kotak pizza ukuran jumbo beserta Snack dan minumannya tersedia.
" Weh selamat bung. makan besar kita." antusias mereka bersama.
" gak bosen Lo bang menang mulu." ucap Raja sambil memakan pizza.
" kali ini Lo nampilin apa bang" lanjut Juan.
" robot pemindai suhu tubuh ciptaan Jimmy."
" kok bukan bang Jimmy yang maju?"
" emang gw yang pertama Punya ide tapi perkembangan selanjutnya Mumuy sama ibnu yang buat." ucap Jimmy santai.
mumtaz menatap serius Jimmy. " Jim kayaknya kita harus langsung buat prototipenya dilanjut urus hak ciptanya, coz tadi lomba mengharuskan kita mempreteli robotnya dan disemua ruangan banyak cctv. gw khawatirnya mereka mempelajari robot itu lewat cctv."
" giman Niel?" tanya Jimmy.
yang ditanya heran " kok gw. gw gak tahu apa-apa."
" ni tolong laptop gw." pinta Daniel ke Ibnu yang duduk Deket laptopnya. Daniel langsung sibuk dengan laptopnnya.
" gw udah hapus rekaman cctv disemua ruangan pas bagian kita niel waktu istirahat makan siang tadi." kata Ibnu.
" Lo udah curiga Nu.?"
" bukan gw tapi Mumuy. ya kita heran aja seumur-umur ikut lomba kayak gini baru ini kita diharuskan ngebongkar ciptaan kita. emang gak pegel ngerakit ulang." Ibnu orang yangb paling sabar pun sebel
" nah pas gw langsung terhubung sama server pusat penyelenggara. gw baru tahu kalo tu lomba disponsori sama Gama tekno. salah satu perusahaan dibidang robotik."
" gw kenal tu nama perusahaan. dia kan perusahaan yang taun kemarin nyoba mensabotase Atma Madina tekno. yang sama Bara langsung dibalas. dengan hasil saham mereka turun dan pamor perusahaan hancur. mereka diketahui beberapa kali plagiat hasil perusahaan lain, tapi karena perusahaan yang mereka curi idenya hanya perusahaan kecil. jadi korban gak berani tindak lanjut." penjelasan panjang Jimmy.
" apa Lo cuma ngamanin punya kita aja?" tanya Daniel.
" kagak. sama yang punya perusahaan yang berada dibawah naungan Atma Madina."
" thanx bro." ucap Jimmy.
" iya ga papa. itu emang tugas dia. paling kalo ketemu misuh-misuh tu orang sama gw. dia kan paling jengkel kalo ada yang mau ngerusak wilayah dia." cengiran Jimmy dengan mulut lima jari membayangkan kejengkelan sepupunya itu.
" btw duitnya kapan dibagi ni." Ibnu bersemangat. mengingat hadiah lomba sekarang sangat besar.
" emang dapet berapa?" Juan penasaran dengan mencondongkan kepala
" lumayanlah kalo mau poligami. sejahtera tu bini." gurau Ibnu.
" Lo buat apa Muy."
" buat mama.
ceklek..
" wih rame amat ini kamar kayak hujan dirumah sakit." sindir takjub mamy Sandra yang masuk beserta asisten mudannya yang bernama Laras.
" gimana Ai. udah baikan?" tanya mamy sambil cipika cipiki. memang mereka akrabseiring dengan akrabnya anak-anak mereka
" Alhamdulillah. aduh ngerepotin aja mbak. pake acara jenguk segala. maaf ya Jimmy harus bolos gara-gara jaga saya."
" dih santai aja Si. si Alfa sekolah tiap harinjuga gak bakal jadi profesor. lagian itung itung ngasih istirahat guru disekolahnya yang pusing karena kebandelan dia." sarkas mamy Sandra.
" mamy kok meragukan kejeniusan putra tercintah mu my." rungut Jimmy sok jutek.
" oh iya my. Afa bolos sekolahnya sama besok juga ya my." rayu Jimmy sok imut ke mamynya. yang bikin orang yang ada di ruangan itu pengen muntah.
" kok nambah sih"
" iya. besok mama Aida pulang.
jadi Ada jemput mama."
" ooh oke.maksimal tiga hari berturut - turut ya Jim."balas mama santai.
" enak bener hidup Lo bang bolos aja diijinin." Juan iri.
" gw mah sultan. sultan mah bebas." Jimmy berjumawa.
" serah Lo Jim. serah." jengah Daniel dengan tingkah polah Jimmy yang semakin hari semakin absurd.
" iri bilang cah."
__ADS_1
" najis gw iri sama Lo. lagian yang keren tu. kalo bolos gak pake ijin Jim. tapi masih santai." Daniel mulai geregetan
" yaaa Niel. maklum yang bolosnya anak mamy jadi ya gitu deh cara bolosnya." Ibnu ikut nimbrung ngeledek Jimmy.
selagi para anak ngoceh ngalir ngidul sang para mama terlibat pembicaraan bisnis.
"Ras. kamu tunggu diluar aja ya. " mamy Sandra berbicara kepada asistennya yang berdiri dengan setia dibelakang mamy.
" baik nyonya."dengan membalikan badan sekilas Laras melirik Jimmy dengan berbagai harap Jimmy menatapnya. yang dihiraukan oleh Jimmy.
" ada apa mbak." biasanya jika mamy Jimmy sudah menyingkirkan seluruh orang bawahannya pasti ada sesuatu yang sangat penting.
" maaf Ai. saya tahu kamu masih sakit. tapi saya gak bisa nunda. saya ingin kamu mempelajari beberapa dokumen kerjasama saya dengan klien ini. ini memang bukan klien baru. tapi entah kenapa saya punya firasat gak enak."
" siap mbak. seger saya kasih laporannya."
" gak usah buru-buru. proyek ini baru jalan beberpa bulan kedepan kok."
" ya udah ini udah sore. saya pulang dulu ya. cepet sembuh ya Ai." mamy Sandra bernjak melangkah.
" Afa. mamy mau pulang sekarang. mau sekalian pulang gak?"
" gak mam. Afa entaran aja."
" okelah. pulang dalam keadaan utuh no bonyok ya Fa." peringat mamy. yang disambut acungan dua jempol oleh Jimmy.
suasana riuh ruangan inap mama. ada satu orang yang diam dan loyo. Mumtaz melirik Zayin yang tak biasanya. dia tak bisa membuatkan keadaan antara dia dan Zayin berkelanjutan.
" dek. ikut Aa keluar."
" kalian gak bakal baku hantam kan Muy." teriak Jimmy. yang mendapat pelototan Mumtaz
ditaman rumah sakit mereka duduk berjarak dibangku panjang taman.
" dek. Aa minta maaf. Aa tahu kamu kecewa sama Aa. tapi Aa gak bisa kalo kamu diemin dek."Mumtaz menatap lurus kedepan
menghela nafas berat " Ayin gak nyangka aja kalo Aa kalah sama perempuan. kalo Aa pergi karena kita memang beban terlalu berat buat kamu. aku paham A.Tapi kamu pergi dan nganggep kita beban hanya karena cewek bermulut lemes. itu yang aku gak terima .A"
Mumtaz terkesiap kaget. dia tak menyangka Zayin tahu perihal Bella.
" gak usah kaget. bukan hal yang sulit mencari informasi itu. waktu aku tanya perihal kamu dan pacarnya. anak sekolah Aa dengan senang hati ngegibah."
" maaf. Aa salah. aku pastikan itu gak akan terjadi lagi."
" jangan banyak janji. ingat lelaki yang dipegang perkataannya.A. ntar dia ngode dikit kamu langsung ngacir.huh."
" hal itu gak akan terjadi. aku sudah menuntaskan semuanya. gak ada yang namanya gagal move on."
" iyain aja. supaya cepat." Zayin beranjak melangkah pergi meninggalkan Mumtaz.
" dek. Aa minta maaf. beneran ini tuh" sambil mengejar Zayin dan merangkul pundaknya.
" iya ih lepas. geli tau." Zayin meronta melepaskan diri, namun Mumtaz malah mempererat pelukannya dengan tawa sumringah.
**********
hari kepulangan
" kak. ini gimana bayar rumah sakitnya" ditangan Tia ada selembaran tagihan rumah sakit. yang ditotal sejumlah 15 jutaan selama tiga hari.
" ada apa dek?" Mumtaz ikut nimburng kak Ala dan Tia yang berdiri diluar ruangan mama Aida.
" itu apaan" tunjuk Mumtaz kearah tangan Tia.
" eh hmm. bukan apa-apa A."Tia grogi ditatap Mumtaz.
Mumtaz merebut kertas yang berusaha disembunyikan Tia.
mumtaz merogoh tas sekolahnya dan mengeluarkan amplop. dengan membuang nafas " ini.". Mumtaz memberi kembali kertas tersebut disertai amplop ke tangan kak Zahra
" itu uang Aa. pake aja. dari lomba kemarin sama dari uang Aa yang di mantan." Mumtaz langsung pergi masuk ke ruangan mama. Mumtaz yakin kalo kakak dan adiknya sudah tahu juga perihal Bella.
" semua udah beres. ma. masih ada yang Aa bisa bantu ga?" mama duduk diatas brangkarnya
" udah beres. kapan Jimmy. datang."
" itu dia udah diparkiran. bentar lagi juga kesini."
" dek. biaya rumah sakit gimana?" tanya mama ke Zayin.
" udah dibayar lunas ma." tukas Mumtaz.
" siapa yang bayar. dari mana uang itu.A."
" dari lomba kemarin ma. hasilnya lumayan. mama gak usah mikirin itu. anak durhaka mama udah tobat ma." lirih Mumtaz pada kalimat terakhir
mama memeluk Mumtaz. " maaf ma. maafin Mumtaz ma." tangis Mumtaz dalam pelukan mama.
dengan terisak mama " udah semua udah berlalu. kedepannya instropeksi diri."
__ADS_1
dengan menangkup kedua tangan mama dan mencium tangannya " Aa mohon mama do,akan Aa. Aa janji itu gak akan terjadi lagi. itu tekad Aa."
" udahan belum main drama keluarganya. ayo pulang." Zayin melangkah meninggalkan kamar dengan membawa tas.