
" Akbar, Ubay. gue duluan." Salam Haikal sewaktu mengeluarkan mobilnya dari parkiran bandara.
" Yoi." yang disapa serempak mengangkat satu tangannya.
Sembari melajukan mobil keluar dari area bandara, Akbar sesekali melalui spionnya melirik ke belakang, hal itu disadari oleh Ubay yang duduk di sampingnya.
Ubay melihat di belakang ada dua motor berpenumpang empat orang.
" Siapa mereka?" Ubay heran motor tersebut tidak menyalip, hanya mengikuti mereka.
Akbar menghela nafas berat," mengawasi gue utusan om Raul, Mumtaz menugaskan gue mengamankan Tamara yang selamat ini diawasi olehnya."
" Raul Gonzalez? Ubay memastikan, Akbar mengangguk.
" Mereka tidak mau mengambil resiko berperkara dengan RaHasiYa kalau terjadi sesuatu dengan gue."
" RaHasiYa makin menunjukan taringnya ya! kalian musuh di satu sisi, berkomplot di satu sisi yang lain?" Ubay memanggut-manggutkan kepalanya.
" Banyak hal yang gak gue ketahui."
" Lo sih tenggelam di perusahaan Atma Madina bae, gak tahu perkembangan terbaru kan!"
" Gue sebenarnya pengen resign, beban kerja berat banget, tapi kasihan pak Budi. Gue bingung gue ini asistennya Bara atau pak Budi."
Akbar terbahak-bahak," Lo lebih mending asisten, gue yang bingung yang CEO gue atau si Adgar. Dia memanfaatkan situasi ini untuk lepas dari tugas CEO, beberapa kali keputusan perusahaan gue yang ambil. ngakunya dia sibuk di RaHasiYa."
" Gue aja gak paham kenapa Adgar yang jadi CEO, bukannya Lo."
" Gue juga gak paham kenapa kak Ala milih dia, tapi gak dipungkiri dibawah kepemimpinannya banyak hal yang berubah positif, perusahaan juga lebih inovatif."
Ubay melihat mobil tidak menuju kompleks Hartadraja," kta mau kemana?"
" Cafe' D'lima, di sana ada Tamara."
Dalam sepuluh menit mereka sudah sampai di pelataran cafe', di parkiran, Akbar dan Ubay mengamati keadaan, terlihat Tamara dengan kopernya dibawahnya duduk sendiri di satu meja pojok dekat dinding kaca.
" Kasihan amat ya." Gumam Ubay.
Akbar menoleh padanya," Lo mau nampung dia?"
" Dih ogah, ya..gimana hidup itu memang berputar, dia dulu dielu-elukan sekarang yang nawarin nampung aja gak ada."
" Muka seram gitu, siapa yang mau. Kita turun!"
Mereka berdua melenggang masuk cafe' dengan santai, Tamara yang semula duduk lesu, saat melihat Akbar langsung terduduk tegak dan merapikan penampilannya.
Tanpa sepengetahuannya sudut bibir Akbar tersenyum meremehkan, mereka sengaja duduk jauh dari meja Tamara.
Badan Akbar yang tegap, wajah tampan, rahang tegas, bagian dari Hartadraja. Menjadikan ia magnet bagi para kaum hawa.
Lima menit setelah memesan, sudah ada tiga perempuan yang mengajak kenalan yang coba ditanggapi santai namun tidak berminat dari Akbar.
" berasa jadi cacing gue jalan sama Lo, sungguh ego gue digoreng gosong. Gak ada yang ngelirik gue, *man*." kesal Ubay.
" Heh, kalian para perempuan tidak bermutu, tidak mungkin tuan berkualitas tinggi semacam dia melirik kalian." Monolog Tamara.
Bermodal pernah menjadi adik dari pemuda itu, Tamara tahu persis jika Akbar bukan pria yang mudah ditaklukkan.
Ditengah mereka menikmati pesanannya, dengan percaya diri Tamara menghampirinya.
" Hallo Akbar!" Suara lembut nan mendayu mengalihkan dua pemuda itu dari obrolannya guna menatapnya.
" Hallo, Tamara." Ubay uang menjawab.
" cih, dasar parasit." caci Tamara ditujukan kepada Ubay yang melongo.
" gue juga ogah ngomong sama Lo, tapi gue kasian sama Lo yang pastinya dicuekin oleh Akbar." kesal Ubay.
Mengabaikan omongan Ubay, tanpa basa-basi Tamara mengambil duduk di samping Akbar dan memepetnya dengan menempelkan da-danya pada lengan Akbar.
Akbar mengumpat dalam hati, i mengeser letak duduknya menjauhi Tamara,, sedangkan Ubay menahan tawa melihat ketidak nyamanan temannya itu.
" Bar, aku boleh minta tolong?" Lirihnya sedih dengan puppy eyes yang menurutnya imut, tetapi menurut Akbar amit.
" Apa?"
" Bar, aku boleh ikut pulang sama kamu? aku diusir mama, entah karena apa. Aku gak punya lagi tempat tujuan." adu Tamara dengan mimik menyedihkan
Akbar bersikap seakan menimbang-nimbang, " kenapa gue harus nolong Lo?"
" Karena gue perempuan kesukaan nenek buyut kamu." Ujarnya sambil tersenyum manis.
Akbar menghela nafas dengan gusar yang tidak dia tutup-tutupi.
" Oke, tapi gak bisa lama-lama."
" Enggak, cuma beberapa hari aja kok."
" Ya udah kita pulang, Lo cewek gak pantas masih diluar malem-malem gini."
" Oke, Tamara berjingkrak senang menuju mejanya, mengibaskan rambutnya dengan gaya sombong setiap melewati meja perempuan yang mecoba mendekati Akbar tadi.
" Itu rambutnya gak ada ketombeannya kan ya!" Celetuk Ubay.
Akbar menjauhkan coklat panasnya," Ya Tuhanku, Bay. Mesti bilang hal kotor gitu?" Omel Akbar.
" Bar, ayo." Seru Tamara.
Tamara menatap Akbar bingung saat mobil Akbar berhenti di depan rumah mewah Damian Prakasa.
" Bar, kok kita kesini, buka ke rumah kamu."
" Lo bakal tinggal di sini, rumah gue penuh." Akbar turun dari mobil dan memencet bel rumah tanpa menunggu omongan Tamara.
Damian yang membuka pintu," udah sampai, bang. Mana orangnya?"
" Tuh." Tunjuknya, dengan kode tangannya, Akbar memerintah Tamara untuk keluar dari mobil.
Meski enggan, Tamara tidak punya pilihan selain menuruti perintah Akbar.
" Tam, kenalin om gue, Damian."
" Hallo om, selamat malam."
" Lo akan tinggal di sini. Gue harus cepat pergi."
__ADS_1
Tamara terbengong karena bingung melihat Akbar dengan cepat meninggalkannya di rumah Damian seorang diri.
" Yuk masuk. Bawa kopernya."
" Eh iya, maaf ya om merepotkan."
" Enggak merepotkan kok."
" Ini kamar kamu." Damian membuka pintu kamar tidur yang berada tidak jauh dari dapur.
Tamara sebenarnya keberatan ditempatkan di empat untuk asisten, tetapi dia tidak punya nyali untuk menolak.
Sejak dulu selagi sebagai Tanura, dia selalu takut kepada Damian dan Julia. Dimatanya sikap mereka sangat mengintimidasi dan galak.
" Sudah malam, kamu tidur saja. Saya tinggal."
" Iya om, sekali lagi terima kasih."
Damian berjalan menuju kamarnya dimana Julia sudah menunggunya yang duduk bersandar dikepala ranjang.
" Bagaimana?"
Damian duduk di samping Julia memangku kakibJulia yang berselonjoran." Udah masuk kamar orangnya."
" Mas, aku takut dia mencelakai Cassy."
" Untuk di Jakarta semua keluarga dinamakan dengan tiga lapis, Prakasa, Gaunzaga dan RaHasiYa."
bola mata Julia terbelalak," serius?"
Damian mengangguk," sepertinya
Gaunzaga dan RaHasiYa ingin menuntaskan segalanya tanpa kesalahan apapun." Damian memijat kaki istrinyab lembut.
" Aku gak nyangka kamu masih terlibat pergenk-an."
Damian terkekeh," sayang, aku tahu aku masih tampan, tubuh gagah, tapi aku terlalu tua untuk ikut geng. Prakasa security hanya untuk menjaga bisnis Prakasa dan Hartadraja saja."
Damian mengecup dan sedikit melu\*mat bi-bir Julia," sekarang tidur, mulai besok kamu akan sibuk secara mental." Damian mengajak Julia untuk berbaring.
Julia berdecak," dari dulu aku gak suka dia, apalagi sekarang. Dia berulah sedikit, aku tebas dia."
Damian merengkuh gemas Julia," habisin aja dia, toh bukan keponakan kamu ini. Selamat malam sayang!"
" Malam, cinta!" lagi Damian melu\*mat bi-bir Julia yang masih candu baginya meski telah berpuluh tahun menikah.
" *Love you*..." Bisik Damian dengan suara berat.
" *Too*..."
" *And more*." Mereka menuju mimpi dengan saling berpelukkan.
Akbar mematikan mesin mobil yang terparkir di depan rumah Aida menghadap Ubay yang sedari meninggalkan rumah Damian terus mengoceh
"Bay, Lo gak capek nyerocos mulu dari tadi? Turun!" Akbar keluar dari mobil berjalan ke pekarangan rumah Aida.
" Kenapa kita kesini? Bukan pulang."
" Semua keluarga gue nginep di rumah Tante Adel. Gue tidur di rumah Mumuy." Akbar membuka pintu rumah.
" Terus gue?" Ubay mengikuti Akbar.
" Terserah." Ubay berdecak sebal.
Begitu tiba di ruang keluarga para sahabat belum juga tidur, malah bising seperti membicarkan hal penting." Kenapa kalian belum tidur?"
" Nonton live penangkapan para poli*tisi yang korup, mendadak seluruh saluran tv menayangkan ini semua." Tunjuk Rizal ke arah televisi.
" Lo tahu bang, lebih kerennya,You*Tube streaming juga, bang. Yang nonton tembus 13 juta." Juan menyongsongkan ponselnya pada Akbar
" Anehnya di You*tube benar-benar berpencar di setiap pelaku, Lo lihat akun lainnya juga." Timpal Raja.
" Jadi itu kenapa Lo pada jejerin laptop ala-ala dinas rahasia gitu." Cibir Ubay, para sahabat mengangguk.
" Ada respon dari mahasiswa?" matanya Akbar mencari sosok seseorang.
Haikal menunjuk Yuda yang duduk di sofa yang menempel pada tembok ujung kanan." Tuh Yuda lagi mojok, dari tadi hpnya gak berhenti bunyi."
" Mending sekarang kita tidur, besok kita siaga terhadap apapun." Ujar Akbar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Begitu yangvm lain tidur, Akbar, Radit, Yuda masih terbangun, mereka membahas apa yang akan dilakukan oleh para pemuda.
" Kepada BEM univ negeri banyak desain untuk turun ke jalan, tapi gue pikir itu belum saatnya. alih-alih turn ke jalan gue pikir mending kita mendesak pembentukan pengawasan secara independen non government atas kasus ini."
" Sekaligus mengajukan revisi UU yang berkaitan dengan keikutsertaan secara aktif dalam pemilu. semisal partai atau yang lain." ujar Yuda sambil menyeruput coklat panasnya.
" Tapi besok kita akan rapat gabungan antara univ swasta dan negeri, masyarakat berharap banyak pada kita, mahasiswa."
" Dit, coba ajak anak psikolog untuk meramu strategi agar kita tidak cepat terhasut, jika situasi mengharuskan kita turn ke jalan."
" Sip, anggap sudah beres."
" Gue akan mengkoordinasikan soal konsumsi." ucap Akbar.
Yuda mengangguk." gue selalu terharu jika masyarakat turut berpartisipasi bersama dengan kita."
" Iya,ngerasa keren aja gitu." gumam Radit.
" Bagaimana terkait dengan RaHasiYa?" tanya Akbar.
" Enggak gimana-gimana, menurut gue Mumtaz sudah menyusun strategi yang terbaik. Gue curiga dia sudah memperkirakan semuanya."
Setelah membaca berkas, Radit dan Akbar pun mengakui hal tersebut dalam hati.
*****
Pasca pertemuannya dengan RaHasiYa, Ergi memutuskan mengadakan rapat besar, mentitah divisi terkait mengeluarkan surat penggeledahan, dan surat penangkapan untuk para pelaku kerah putih tersebut.
" Pak, apa ini tidak terlalu beresiko?" Tanya kepala divisi yang dibangunkan dari tidurnya karena keadaan darurat.
" Fokus kita hanya menegakkan hukum, bukan yang lain." Tegas Ergi.
" Siap."
" Jadi malam ini kita akan melakukan penangkapan masal terhadap 50 peja\*bat, segala tuduhan dan bukti awal sudah lengkap." tutur Ergi merujuk pada beberapa dokumen yang tersusun rapih di atas meja rapat.
" Apa pihak istana sudah diberitahu?" Tanya wakil kepala.
" Saya pikir kita independen, sebagai salah satu pilar peme\*rintahan yang berdaulat." sarkas Ergi.
" Rapat, bubar. kecuali divisi Humas yang lain laksanakan tugas."
" Siap." Serempak dengan semangat, para inspektur menjawab titah sang kepala.
Begitu jajarannya keluar bdari ruang rapat, Ergi menghubungi pang.lima."
" *Assalamualaikum*."
" Wa, alaikum salam. Kami memutuskan melakukan penangkapan, tolong jaga stabilitas keamanan ne\*ga.ra."
__ADS_1
/
" *Siap, itu tugas kami, saya hanya menekankan T\*N.I bersama rakyat*."
" Kami hormati Prisnip anda." Ergi menutup saluran telponnya.
Kepala divisi Humas menghampiri Ergi," pak..,"
" kalian pelajari segala hal yang ada di flashdisk ini untuk klarifikasi di depan media."
" Baik." kepal divisi mengambil flashdisk tersebut, lalu ebrjalan ke arah pintu.
" Dirinya akan beristirahat sebelum para petinggi jabatan merecokinya." pikir Ergi.
Para inspektur terbelalak kaget begitu membuka surat penangkapan, bukan hanya tentang siapa yang menjadi target penangkapan, tetapi lokasi penangkapan bukan hanya di rumah dinas, atau rumah pribadi, tetapi di cafe, club, bahkan hotel."
" Ini akan menjadi malam yang sangaaattt.. panjang dan menantang." Ucap salah satu dari mereka.
Satu oknum ditangani oleh dua mobil berpenumpang masing-masing enam orang.
Tanpa mereka sadari begitu mobil meninggalkan mabes menuju tempat target, di atas mereka drone kecil tanpa awak spesialis menyusup terbang di atas mobil mereka yang dikendalikan dari jarak jauh.
Dalam waktu hampir bersamaan mereka menangkap sesuai nama dalam Surat penangkapan, semua tempat pribadi baik kantor maupun rumah digeledah.
Penangkapan terhadap para poli*tisi mendadak mengisi semua layar saluran televisi, membuat perusahaan media panik, terkejut, bingung dan cemas.
Mereka angkat tangan setelah berupaya semaksimal yang dimampu untuk menghentikan siaran tersebut, namun berakhir nihil.
Mereka lantas mengutus utusan untuk mendatangi ma*bes po*lri mencari informasi terkait penangkapan tersebut.
Kehebohan tidak hanya di Indonesia, namun juga mendunia kala You*ube juga secara mendadak melakukan live streaming peristiwa tersebut dengan berbagai akun.
Lima menit setelah penangkapan, kantor B*IN, dan ma*bes pol*ri diributkan dengan dering telpon dari berbagai pihak tak terkecuali pihak istana.
*****
" Selesai!" Dewa meregangkan kekauan lehernya.
Dimas memasuki ruangan Dewa dengan dua cangkir kopi di kedua tangannya.
" Wa, apa Lo gak keterlaluan streaming atas penangkapan mereka?" Tanya Dimas.
Dewa bingung akan apa yang Dimas bahas, lantas ia melempar ponselnya yang ditangkap oleh Dewa.
" Bukan gue, gue cuma menghack sosmed mereka. Mulai sekarang mereka cuma bisa menerima, tetapi tidak bisa mengirim keluar. Kan dibantu elo juga, ege." Sembur Dewa.
" Iya juga ya, tapi Lo kan sering melakukan hal yang tidak diperintah." Sindir dimas.
" Gue udah insyaf, asal Lo tahu. Akibatnya gak sebanding."
Sementara Dewa dan Dimas ribut, di ruangan yang tidak luas, diiringi lagu klasik Mozart, dengan secangkir coklat panas ditangan kanannya seorang pemuda tersenyum devil berkonsentrasi mengamati beberapa komputer yang semuanya beroperasi di meja panjangnya.
Senyumannya semakin melebar saat melihat upaya pembobolan sistem dari server B*IN, p*lri dan perusahaan terkait yang diretas olehnya.
" Show time, good bye traitors." Desisnya penuh kebencian pada layar komputernya yang menayangkan penggiringan salah satu polit*si paruh baya yang terkenal ke mobil polisi.
Sengaja ia menzoomkan wajah pria tersebut memenuhi layar.
Pemuda itu mengetik sesuatu di atas keyboard komputernya, " Stop dude, its all done, done!" Gumamnya sinis.
*****
Pukul 02.30 WIB kantor B*I.N dikejutkan dengan tulisan stop dude, its all done, done!!!" Diseluruh layar gawai mereka.
Geraham mereka mengadu keras melihat tulisan yang mereka anggap ejekan.
Sang kepala B*IN turun langsung mengetuai peristiwa peretasan nasional ini.
" Demi Tuhan, apa kalian belum juga menemukan jejaknya?" Hardik sang kepala.
" Pres*iden ingin menerima laporannya pukul delapan pagi." Helaan berat mengisi ruangan dari divisi cybercrime melepas kepergian sang kepala dari ruangan.
******
Ternyata waktu istirahat Ergi hanya bertahan selam 15 menit, ketika para petinggi lembaga-lembaga legis*Latif memasuki ruangannya.
" Bagaimana Ini semua terjadi? Akan taruh dimana kehormatan nega*ra dengan live streaming ini?" Amuk ketua leg*slatif di kantor mab*es Pol*ri.
" Pak Ergi, apa pihak anda tidak bisa menghentikan live streaming tersebut,dan tidak ada satupun sosmed bisa digunakan, Kita sulit berkomunikasi." timpal ketua M-P*R.
Ergo hanya memijat pelipisnya menahan emosi, Janu dan Agung mengasihaninya.
" Hanya cacian yang datang dari masyarakat.mlewat Tw*tter yang saya terima tanpa bisa mengklarifikasi." Protes wakil ketua 2 M*P'R.
" Untuk itu divisi cyber crime masih berupaya mencari solusi, keluhan untuk sosmed, pihak istana sudah mengatakannya kepada kami." Terang Ergi.
" Ada indikasi siapa yang patut dicurigai dalang dibalik peristiwa ini?" Tanya ketua D.P"R.
" Hingga kini belum terdeteksi?"
" Apa ada kecurigaan ini ulah RaHasiYa?" Tanya wakil ketua 2 M*P.R.
" Tidak ada bukti ke sana, dan tentu kita jangan gegabah menggiring opini ke mereka, terlalu tinggi resiko negatifnya untuk kita." Peringat Ergi tajam, sang wakil langsung mingkem.
Para pejabat tersebut berpikir keras memecah kasus para koleganya.
" Apa anda tidak bisa menutup akun penayang streaming?" Ergi menggeleng.
" Dikhawatirkan ini tindakan orang banyak, kalau kita bertindak sembrono, mereka bisa balas balik kita. Ingat! Kita berhubungan dengan hackers handal."
" Pak Ergi, saya harap kalian dapat membuktikan mereka bersalah, ke.poli*sian akan kehilangan muka jika kalian tidak dapat memberikan bukti valid." Seru wakil ketua 2 M*PR.
" Kami paham hal itu, tidak perlu anda ajari." sarkas Ergi sinis.
Sudah 20 menit Ergi dicecar oleh mereka, sementara Agung dan Janu hanya diam memperhatikan para koleganya yang terbakar jenggot
" Pak Janu, apa anda tidak ada komentar?" Tanya sang ketua.
Janu menegakkan duduknya," Saya heran kenapa kita datang ke sini, jika ini diketahui oleh publik citra legis*Latif akan semakin rusak. Mereka akan berpikir kita mengintervensi proses hukum." Tuturnya tenang, para koleganya saling lirik.
" Kita tidak bermaksud mengintervensi, tetapi kita tidak bisa membiarkan kolega kita ditangkap dalam waktu bersamaan." Elak wakil ketua 2 M*PR.
" Jumlahnya banyak, pak Janu." Ucap ketua M*PR.
" Dan itu peer kita sebagai pembuat UU, bagaimana oknum seperti mereka bisa memegang tampuk kepemimpinan di neg*ara ini."
" Mereka ada karena UU yang memperbolehkannya." Janu silih berganti memandang para koleganya.
" Ini salah satu alasan mengapa kita tidak pernah menjadi negara maju, jika ada permasalahan, kita akan mencari kambing hitam, bukan mengakui lalu memperbaikinya."
" Tanyakan kembali pada hati kalian apa tujuan awal kita terjun pada dunia poli*tik dan duduk di kursi Sena*yan. kita adalah pencetus refo*masi." Tatapan tajam Janu berikan pada para koleganya.
Mereka terdiam, ruangan hening sesaat.
" Bukankah anda juga pelanggan Surga Duniawi?" ucap culas wakil ketua 2.
Janu menatap tajam rekannya." Ada buktinya? Saya pikir, saya akan menjadi satu diantar yang ditangkap jika memang saya pelanggan Surga Duniawi." telaknya.
" Guys, Mulai sekarang jaga bicara kita, jika memang kita adalah pelanggan Surga Duniawi, sebaiknya mengundurkan diri sebelum netizen +62 mengungkapnya." Sindiran langsung dari Agung membungkam mulut para rekannya.
Janu beranjak menghampiri Ergi lalu menjabat tangannya," pak Ergi, saya mengapresiasi positif tindakan berani jajaran anda, ungkap sampai ke akarnya atau kita kehilangan kepercayaan masyarakat. Saya siap membantu jika anda butuh bantuan."
" Terima kasih, pak."
******
Di Roma, Italia.
seorang Navarro membanting semua benda di ruang kerjanya usai menonton live streaming You*tube.
" Sial, aku gak bisa gagal setelah sejauh ini." Geramnya.
" Gonzalez... semuanya karena wanita tua itu..."
*****
pukul 04. 30 wib mereka landing di bandara Tjilik Riwut, untuk menyambut kedatangan mereka bandara ditutup sementara.
Di depan pesawat-pesawat itu terlah berjejer sepuluh mobil SUV guna mengangkut barang bawaan mereka.
Kring... kring...
Ponsel Mumtaz ada sambungan masuk begitu mereka menuju mushala.
" Assalamualaikum." Salam Mumtaz.
" Bang, misi telah dilaksanakan."
" Bagus, terima kasih, Do. Lo istirahat, tetap awasi mereka, lakukan apa yang harus dilakukan."
" siap. Gue tutup."
" Hmm."
klik!
Sambungan telpon terputus.
" Bagaimana?" tanya Ibnu.
" Alhamdulillah, lancar! merek paham apa yang harus dilakukan. Percaya pada mereka."
" Tapi ini terlalu menghebohkan, lihat Tw*tter dan F*ce*book rame, rakyat marah." Daniel menunjukan sosmed lembaga terkait.
" Itu bukan urusan kita." jawab Mumtaz tenang tanpa penyesalan.
" Gue gak suka kalau Mumuy tenang tanpa ekspresi begitu." celoteh Bara pada yang lain.
" Hmm..." gumam semuanya.
Leon dan Rio berlari menghampiri mereka."Bos, semuanya ready!" seru Rio.
" Shalat dulu, baru kota cabut." ujar Alfaska.
aktif kuy untuk vote, like n komen. hadiahnya diterima.!!!
__ADS_1