
" Zayin bisakah kamu langsung bicara?" Desak Hanna sudah tidak sabar.
Mata Zayin langsung menatap tajam Hanna," kau tidak punya hak untuk memerintah ku, dan aku tidak punya kewajiban untuk mentaati mu, Nyonya." Suara datar nan berat mengagetkan Hanna.
Hanna tersentak, tangannya meremas kuat kain celana suaminya yang langsung digenggam oleh Teddy.
" Ahmad Muzayyin Hasan, mengapa kamu bisa berbuat setega itu?" tanya Mumtaz to the point.
" Melihat dari efek tindakan tidak lebih tega dari yang dia lakukan kepada para korbannya."
" Korban? siapa?" tanya Ibnu.
Zayin mengedikan bahunya sambil tersenyum smirk seakan pertanyaan Ibnu adalah pertanyaan yang konyol.
" Apa kau sebegitu membenci Mami?" tanya Alfaska menatap langsung netra coklat Zayin yamg dibalas oleh Zayin dengan menantang.
" Bukan bermaksud mengulur waktu, tetapi jika kalian ingin mengetahui penyebab tindakanku padanya baca buku-buku yang ada di dalam kardus itu. Setelahnya baru kalian ajukan pertanyaan."
Zayin mengalihkan pandangannya kepada Hanna." Dan untuk mu, Nyonya. lihat dari kacamata seorang anak, bukan temannya." Tekannya.
Setelah mengatakan demikian Zayin kembali ke kamarnya, tubuhnya sangat lelah. Dalam hitungan detik ia sudah bergabung ke alam mimpi.
Sementara di ruang tamu butuh 15 menit mereka untuk bergerak membuka kardus itu
Daniel yang pertama membuka kardus disusul yang lain mengeluarkan buku-buku dan menyusunnya di atas meja.
Daniel memberikan satu buku kepada Alfaska yang masih menatap tumpukan buku dengan tatapan kosong.
" Apa boleh kita ikut baca? Tanya Yuda.
" Baca saja, terlalu terlambat untuk menyembunyikannya dari kalian." Jawab Bara.
Ditengah kekhusuan membaca tiba-tiba Yuda membaca dengan suara keras, ujung matanya melirik Hanna.
"...Setiap bunda dan ayah membantu mama seorang gadis cilik duduk di teras samping bermain tanah sambil gambar apapun yang kemudian dia hapus, aku menghampirinya, kenapa tidak masuk? dia menggeleng, aku takut membebani bunda dan ayah yang sedang merawat bang Aniel dan..."
"...Meski dia tersenyum tapi aku bisa merasakan kesepiannya seperti kesepiannya Khadafi saat bang Ibnu selalu menghabiskan waktu dengan teman barunya, maka ku ajak dia bermain bersama aku, Dafi, dan Tia. Kini aku punya tiga adik yang harus aku jaga sebagaimana ucapan mama... karena aku seorang lelaki...dan kakak!"
Teddy termangu dengan menahan nafas, sungguh ini hal yang baru dia ketahui.
" Ayu..." Lirih Hanna dengan suara dalam menahan gejolak perasaannya, sedangkan Daniel menunduk menyeka sudut matanya yang berair.
Kini Haikal yang membaca, "...Musim hujan ini cukup merepotkan karena tidak bisa menjemur kasur yang basah akibat ompol bang Afa dan bang Daniel, hujan turun hampir setiap hari, alhasil aku, Khadafi dan Ayu yang harus mengipasinya karena kipas angin sedang digunakan untuk mengeringkan pakaian mereka....sedangkan mama tidak berani memakaikan mereka dengan pakaian kami, karena dulu pernah dimarahi oleh wanita sombong itu..."
" Wanita sombong?" Kernyit Rizal bertanya, semuanya menggeleng tidak tahu.
Disela rintihannya Alfaska mencoba membaca part ini."...Allah, aku tidak keberatan membersihkan bekas kotoran mereka, tapi berilah sedikit cuaca hangat agar udara tidak sedap pergi dari kamar bang Afa..."
Mata Alfaska memanas lembar di lembar dibaca mengenai Zayin yang selalu mendapat tugas membersihkan bekas Alfaska dan Daniel sementara yang lain menjaga Alfaska, Daniel dan Bara yang selalu tiba-tiba menangis dan mengamuk, bahkan sampai menyakiti dirinya sendiri.
" Kenapa kalian tidka pernah bilang kalau mereka sering mengamuk juga ketika kami pergi?" tanya Teddy.
Mumtaz dan Ibnu menggeleng kepala dengan lemah." disuruh Mama agar kita tidka mengganggu kalian yang sedang mencari rezeki." jawab Ibnu.
" Ya Allahhu Rabbi..." lirih Aryan mengusap wajahnya kasar.
Raja pun ikut baca,"..Pagi itu seorang wanita cantik berpakaian mahal yang katanya sebagai ibu kandung bang Afa datang setelah dua minggu ditelpon dan didesak oleh mama namun tidak ada respon, dan kamu tahu apa yang terjadi, dia bahkan tidak mau memeluk bang Afa dengan alasan bajunya takut kotor sedangkan dia mau bertemu klien mengabaikan rentangan tangan bang Afa, putranya yang menangis karena senang ditambah rindu..." Suara Raja sudah serak, karena sejak tadi menangis.
Mata semuanya sudah berair, Alfaska menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak saat bayangan pertemuan pertama mereka kembali menghampirinya.
"...Aku kira pertemuan itu akan mengharukan ternyata tidak, perempuan itu terburu-buru pergi, enggan walau hanya untuk memegang tangan bang Afa yang terus mencoba meraihnya dan langsung dihempaskan olehnya. Dia bahkan tidak menengok ke belakang meski bang Afa berteriak memohon ibunya untuk tidak pergi.
" Sejak saat pertemuan pertama itu aku sudah tidak menyukainya, aku menyebutnya si wanita sombong. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku untuk tidak lagi iri pada perhatian yang mama berikan untuk mereka. dan satu hal lagi janjiku, setiap perempuan itu datang akan ku rusak mobilnya."
Bara tergelak mengingat tantenya yang sering misuh-misuh kalau pulang dari rumah Aida kerena mobilnya baret panjang, atau karena ada kerusakan lainnya. " Hahahahaha... sekarang kita tahu siapa pelaku pengerusakan mobil Mami."
Namun seketika wajahnya muram." Kenapa dia tidak ngomong kalau dia juga butuh mama." Gumamnya sendu.
" Hiks....Ayin..." Rengek Raja, dia merasakan kesedihan Zayin.
Tiba-tiba Rizal turut serta"...Hari ini hujan turun deras, bang Afa meraung ingin bertemu maminya, semua barang dia pecahkan, sedangkan ayah sedang tugas diluar sebagai utusan sekolah, mama dengan terpaksa mendatangi rumah wanita itu, memintanya untuk menemui bang Afa, tapi wanita itu menolak dengan alasan sibuk. Dia malah membentak mama dengan kata-kata." Kamu itu pengsuhnya, seharusnya itu tanggung jawab kamu. Kenapa ke sini? Kalau butuh uang bilang." dia melempar segepok uang ke muka Mama. " Uang itu cukup untuk merawat dia, janagn pernah kembali hanya untuk melapor kegilaannya." Karena marah mama menghardiknya jika dia tidak cukup peduli pada putranya jangan pernah mendatanginya lagi, biarkan mama yang menjadi ibu baginya."
" Astaghfirullah,.. Mami..." teriak Alfaska yang mengagetkan semua orang.
Yuda turut nimbrung." Sejak saat itulah bang Afa, bang Daniel, menjadi saudaraku. Untuk bang Bara menjadi sepupu kami. Dan sejak saat itu wanita itu tidak pernah lagi menemui putranya. Hanya Papi disela kesibukannya setiap hari mengunjugi bang Afa. Hanya ini satu-satunya yang aku dapatkan dari mereka punya dua ayah baru, Papi, dan ayah Teddy, dan itu menyenangkan. Minus seorang adik bernama Ayunda yang genitnya minta ampun."
Mereka terdiam, entah emosi apa yang harus mereka keluarkan. Marah, kecewa, haru, dan lucu pada kalimat terakhirnya.
"...Aku tidak tahu seberapa besar penderitaan mereka, tapi yang pasti itu semua menyita perhatian mama dan ayah, kami para anak harus memakluminya, atau terpaksa memahaminya, meski dalam hati aku rindu pelukan mama yang sudah jarang aku dapatkan. Tapi karena apa yang sudah aku lihat, maka aku relakan berbagi mama dengan mereka, toh aku sayang mereka, apalagi bang Bara yang sering ngasih aku uang." Lanjut Yuda.
Meski matanya menangis, tak ayal Bara tersenyum mendengarnya.
" Huhuhu.,hiks...huhuhu... Mama..." Raung Alfaska akhirnya pecah, rasa rindu bercampur rasa bersalah kian membuncah pada Aida.
Bara memeluknya erat, menenangkannya.
Juan pun ikut serta." Hari ini kami senang piknik bareng, piknik dengan keluarga konglomerat memang beda makanannya enak-enak, pokoknya fasilitasnya nomor Wahid, tapi semuanya Rusak oleh wanita itu, dia benar-benar menjadikan mama babvnya, tidak membiarkan mama beristirahat siang dan malam dengan segala permintaannya, kalau bukan untuk kebahagian bang Afa aku pastikan mama dan ayah agar menyudahi piknik itu. Aku benci wanita itu."
" Lagi, wanita itu menghina mama, dia melempar celana bang Afa yang bekas ompolnya untuk dicucikan ke muka mama yang sedang menjemur baju." Dalam tulisan itu terasa amarahnya.
" Hari ini aku sedikit puas karena telah melempari wanita itu dengan tanah berlumpur ke baju mahalnya. itu karena dia menuduh mama menghasut bang Afa agar terus menginginkan dia datang ke sini, dan menghardik mama sebagai ibu yang tidak becus mengurus anaknya sebab dia bilang, dia sudah memberikan bang Afa padanya untuk dia urus dan jangan merepotkanya lagi."
Prang....
Gelas yang digenggam Alfaska pecah, tangan Alfaska berdarah. Hanna panik, sebelum ia bertindak dengan sigap Mumtaz merobek ujung kemejanya lalu dililitkan ke tangan Alfaska.
Ubay dengan cepat mengambil kotak P3k, Daniel mengobatinya, Ibnu ke dapur mengambil air hangat. Hanna memperhatikan sikap refleks mereka secara takjub.
Setelah semuanya kembali normal, kali ini giliran Daniel.
" Cita-citaku menjadi tentara, sebenarnya itu keinginan mama, tapi aku tahu itu harus aku, tidak mungkin Aa Mumuy yang melakukannya karena dia harus tetap mendampingi para sahabatnya itu. Aku ingin menjadi kebanggaan mama seperti anak yang lain, terlebih kepada wanita itu, aku ingin punya tenaga untuk membalas segala hinnaannya kepada keluargaku..."
" Ini hari terburuk untuk kami, ayah meninggal karena ditabrak. Aku lihat mama bersedih, namun harus tetap tegar. Bagi kami tidak ada waktu untuk bersedih hidup harus tetap lanjut, seketika kami kesulitan ekonomi, karena kami sibuk dengan urusan masing-masing."
"...mama menolak bantuan dari Birawa, dan Atma Madina, bahkan kompensasi dari Hartadraja pun tidak diambil. kata mama " jangan nodai ketulusan dengan uang, sekali kita ambil uluran mereka, rusaklah niatan kita, maka rusaklah amalan kita..."
"...setelah insiden itu dimulailah kehidupan rumit keluargaku, kami tidak hanya harus menghadapi Sandra Atma Madina, tetapi juga Sri Hartadraja..." Ucap Ubay melambat.
Akbar dan Adgar mengambil buku ditangan Ubay, melihat nomor urutnya lalu mengambil semua buku secara berurutan.
__ADS_1
Selanjutnya hanya isakan tangis saling berlomba bersahutan memnuhi ruangan, mereka tidak lagi mampu bersuara, mata mereka buram karena tidak lagi mampu menahan bendungan air mata yang terus turun.
" Allahu Akbar...Allahu Akbar..." Suara adzan di mesjid menyadarkan mereka dari bacaannya, mereka terhenyak saat menyadari banyaknya buku yang sudah mereka baca.
Tanpa aba-aba Mumtaz menaiki tangga berjalan cepat menuju kamar Zayin ayng terletak paling pojok.
Saat pintu terbuka, tampak Zayin menyudahi mengaji Qur'annya. Ketika menegakkan tubuhnya hendak ke masjid, tiba-tiba tubuhnya olenh karena beban berat yang menimpanya.
" Maaf, maafkan Aa yang sudah memberimu beban berat. Maafkan Aa!" Isak Mumtaz terdengar pilu.
Sedari tadi dia suah menahan tangisannya, dia tidak ingin terlihat lemah yang akan mempengaruhi emosi para sahabatnya.
Zayin menepuk-nepuk punggung Mumtaz menenangkan." Its okey, itulah definisi keluarga, saling berbagi, mereka bukan beban. Sekarang percayalah padaku, aku pun bisa memikul masalah keluarga." ucap zayin lembut, cukup menyejukkan
Dibalik tengkuknya Zayin dapat merasakan anggukan kakaknya. Di luar kamar para sahabat menyeka matanya karena haru, mereka menatap Hanna yang bergeming menatap dua saudara itu.
" Setelah apa yang dia lakukan, apa bunda masih berpikir Ayin jahat?" Tanya Bara.
Hanna hanya bisa menggeleng, mulutnya tidak sanggup berbicara, bahkan dia merasa bersalah kepada putrinya. Lantas ia pun berbalik menuruni tangga menuju rumah Eidelweis dimana Ayunda menginap.
" Ayin..." Aryan berdiri diambang pintu dengan tatapan sendu.
Zayin melepaskan pelukannya, beralih melihat semuanya yang berdiri memenuhi ambang pintunya.
" Oooh come on, aku tahu kalian terharu, tapi tidak perlu segininya juga. Aku tidak bermaksud..."
" Ayin, mau jadi anak Papi?" Potong Aryan.
Zayin menggeleng." Aku tidak menyukai Nyonya Sandra." Ucapnya pasti.
" Tidak harus menjadi anaknya, hanya Papi."
" Untuk itu bukankah sudah sejak lama kita menjadi keluarga?"
" Kalau begitu peluk Papi." Aryan menyodorkan kedua tangannya.
" Pi, bukan Ayin gak mau, tapi ini memalukan. Sumpah Pi." Ringis Zayin sambil memberi tanda V di jari tangannya.
" Tapi Papi gak malu." Aryan berjalan mendekatinya, lalu memeluknya erat.
" Ayah juga." Teddy ikut serta dalam pelukan itu. Zayin hanya bisa berdecak sebal karenanya yang ditertawai olah kedua orangtua itu.
" Udahan, engap ini." Dumel Zayin risih berusaha berontak dari dekapan dua pasang tangan besar itu.
" Kalian sebenarnya bukan terharu kan, tapi sedang modus. Kalian mulai belok kan...aws!" Teddy dengan entengnya menggeplak kepala Zayin, lalu menjauh darinya.
" Situ ngerasa cakep?" Sinis Teddy.
" Emang cakep."
" Papi udahan. Demen amat." Dengan berat hati Aryan menyudahi pelukannya.
" Papi sayang kamu." Aryan menangkup pipi Zayin yang semakin tirus.
Zayin mengangguk kecil." Pesan tersampaikan, tapi moment alaynya udahan ya. Ayin mau jama'ah."
Zayin menurunkan kedua tangan Aryan, kemudian berjalan ke pintu.
Zayin bergidig ngeri bercampur geli." Ogah, Sono pelukannya sama banci pengkolan."
Dia langsung ngibrit meninggalkan kamar dibawah cekikikan para Abang. Mumtaz tersenyum melihat keadaan yang mulai santai.
*****
" Dok, bagaimana keadaan pasien?" tanya Jeno di ruang dokter yang baru keluar dari ruang operasi ditemani Rio.
" Alhamdulillah, secara keseluruhan operasi berjalan sukses, ini juga berkat tindakan awal yang tepat dalam pertolongan pertamanaya, tapi..."
Dokter itu menghela nafas dengan gusar, ia memperlihatkan hasil CT scan.
" Tulangnnya nyaris hancur, butuh tindakan lebih dari sekali. Jika dilihat dari gambar ini, keretakan ini dilakukan oleh seorang profesional, karena dia tahu bagian mana yang harus dilumpuhkan.
" Kesempatan untuk sembuh?"
" Kecil kemungkinan bisa kembali seperti semula, pergelangan tangannya lebih parah dari pada bagian lengan atas."
" Saya akan menuliskan surat rekomendasi ke rumah sakit Atma Madina, di sana ada dokter ahli yang bisa memperbaiki struktural keretakan tulangnya."
" Siapa, dok?"
" Dokter Zahra, tepatnya profesor Aulia Zahratul Kamilah, beliau profesor yang tidak diragukan lagi keahliannya." dokter itu kemudian menulis surat rekomendasi.
" Begitu kami mendapat jawaban dari pihak sana, kami akan langsung mengevakusi pasien."
" Terima kasih, dok."
Dengan lesu, mereka keluar dari ruangan." kenapa semuanya berjalan memutar seperti di labirin ya." tutur Rio.
" Hmm?"
" Iya, sejauh mana Atma Madina menyangkal keterkaitannya dengan keluarga mama Aida, pada akhirnya mereka kembali dikaitkan."
Jeno mengusap wajahnya karena gusar, ia pun lantas menelpon Bara, mengabari berita paling update.
*****
" Siapa yang nelpon, Bar?" tanya Daniel melepas peci hitamnya.
" Jeno. gue mau telpon kepala rumah sakit dulu, Mami mau dibawa kemari."
Bara berjalan keluar rumah langsung menghubungi kepal rumah sakit.
" Assalamualaikum." Zayin memasuki rumah seusai shalat subuh berjama'ah.
" Ayin, bisa kita bicara empat mata?" tanya Alfaska yang berdiri di pertengahan undakan tangga.
" Hmm, to the point ya."
Kini ruang tamu pun kembali sesak diisi pria bertubuh tinggi.
" Apa kamu masih membenci Mami?" tanya Daniel, pertanyaan yang pastinya ingin diketahui jawabannya oleh Alfaska.
__ADS_1
" Terus terang, aku sendiri tidak terlalu terlibat dengan kalian selain batas persaudaraan, maksudku kalian diluar circle sosialku. Sebagai sahabat, kalian hanya punya hubungan dengan Aa Mumuy, jadi perihal perasaanku kepada Sandra, itu murni pembalasan terhadap orang asing yang menyakiti keluargaku. Aku tidak punya ikatan hati apapun dengannya." tekan Zayin.
" Jadi kamu sudah tidak menaruh dendam padanya?"
" Tidak, sejak awal aku hanya ingin memusnahkan apa yang bikin dia merasa bangga hingga melahirkan kesombongan, tega mengabaikan orang yang seharusnya dia dia sayangi. Setelah aku berhasil melakukannya,, semua urusan selesai, end, finish, Fin, tamat!"
" Ayin, apa yang harus Abang lakukan untuk menyembuhkan luka hatimu?" lirih Alfaska menahan sedih.
" Tidak ada, bang. Ini bukan soal aku, dia tidak menghinaku, meski dia melakukannya aku tidak peduli. bagiku dia bukan siapa-siapa. Dia tidak berdampak bagi aku. aku hanya membalas sebagai kapala keluarga yang menginginkan dia menghormati keluargaku!" jelasnya panjang lebar.
" Jadi tidak ada sisa ketidaksukaan?"
" Tidak ada, ngapain nyimpen sakit hati, gak guna. kalau kata Mama cuma manusia amatir yang masih sakit hati oleh orang lain, sedangkan kita hidup sudah puluhan tahun. umur makin sedikit, bodoh sekali orang yang menyimpan perasaan sesat itu."
Mereka semuanya terdiam, mencerna pemikiran yang terkesan santai, namun sejujurnya hal yang besar, Yaitu; keikhlasan, dan bertindak secukupnya.
" Bang, aku tahu apa yang aku lakukan, selain perihal tangannya, dia baik-baik saja, setidaknya secara fisik. kalau kamu peduli padanya jangan jauhi dia, karena dia sudah tidak berdaya."
" Boleh?" Alfaska memastikan, dia tidak ingin menyakiti keluarga ini lagi.
" Bolehlah, itu kewajiban kamu selaku anak lelakinya. beliau pasti butuh kamu setelah apa yang menimpanya."
" Rencananya, aku akan pergi ke Bogor, tapi aku sungkan, khawatir menyinggung perasaan kamu."
" Ck, pergi saja. urusanku dengannya sudah selesai. Hanya pastikan dia jaga sikap kepada keluargaku, katakan padanya mata dibayar mata! kali ini tidak dicicil!" tegasnya.
Alfaska menjilati bibir bawahnya karena semburan emosi yang menghampirinya, ia gusar dna gelisah." soal Tia..."
" Perbaiki dulu hubungan kalian, Pastikan dia sudah berubah, jika dia tidak berubah jangan dipaksakan."
" Aku tahu kamu suaminya, tapi Tia kembaran ku, kami saling terhubung secara bathin, tidak peduli tempat dan waktu, aku tahu jika dia terluka." seketika aura Zayin berubah kaku menjaga jarak.
" Sewaktu-waktu kesatuan pasti memanggilku, mengingat cita-cita ku, suatu masa kami tidak akan bertemu dalam waktu yang lama, tapi itu bukan berarti aku tidak mengawasinya, dia separuh jiwaku, aku hanya ingin memastikan keamanan dan kenyamanannya." ucapnya tegas.
" Bisakah kau percayakan dia padaku?"
" Aku percaya padamu, karena itu aku mengizinkan kau menikahinya meski dia masih berusia 19 tahun, tetapi aku tidak percaya ibumu. peristiwa kemarin cukup sekali terjadi, selanjutnya aku meminta dia menjaga jarak dengan ibumu, maksudku sebagai anak. Kalau sebagai menantu, aku pasrahkan padanya. Aku hanya bisa mengamatinya."
Prok..Prok...
Ditengah suasana serius, dengan lancangnya Raja bertepuk tangan, ia merasa takjub dengan sikap dewasa dan bijak ala Zayin.
" Wow, impresif Yin. gue gak nyangka Lo segini hebatnya. mau gak Lo jadi adik ipar gue? dia demen sama Lo."
Zayin berdecak," ck, jadi orang ganteng plus keren berkualitas premium di negara +62 memang membahayakan kejiwaan. sorry urusan gue soal cewek sekarang cukup dengan Ayu." Zayin berjalan meninggalkan ruang tamu menuju tangga.
" Yin, bagaimana dengan Ayu?" teriak Daniel.
" Ya, terpaksa gue harus menurunkan derajat gue jadi saingan bang Ibnu. merepotkan." dumelnya.
Baru satu langkah, tubuhnya putar balik lagi menghadap ruang tamu," Nando." Nando menoleh padanya.
" Jangan merasa bersalah karena terlambat mengetahui rekaman itu, seandainya kamu tahu lebih dulu pun, kau tidak akan bisa menolongnya. Sandra tidak akan bebas dariku. Aku punya seribu satu cara menghancurkannya." tegas Zayin sebelum melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Nando mengangguk lemah, matanya melirik pada Alfaska.
" Justru Abang berterima kasih padamu, kalau kamu tidak peka, mungkin banyak cerita tidak menyenangkan setelahnya. Zayin masih terlalu kuat untuk kamu, belajarlah lebih banyak lagi, hal-hal diluar sana masih banyak yang menjadi misteri." ujar Alfaska bijak.
" Siap, bang." ucpa Nando dengan suara bergetar, ia sungguh berterima kasih kepada takdir yang mempertemukan dia dengan orang-orang baik ini.
" NANDO, CEPATAANNN...mau telat ini." Pekik Ayunda di luar halaman rumah Aida.
" Dek, masuk aja gih kayak di rumah siapa saja." goda Zayin dari dalam mobil.
" Ayu, sini masuk." ujar Ibnu berdiri di teras depan.
Kaget karena Ibnu yang keluar rumah, Ayunda sontak masuk mobil Fortuner.
" Ck, terlambat Lo sok-sokan menghindar, kentara banget gak *move on* ya." ledek Khadafi.
" Diem Lo Dugong, ini Lo bolos sampai kapan?"
Khadafi mengedikan bahunya santaii, walau dalam hatinya dipenuhi kecemasan.
Ibnu menghela nafasnya berat melihat sikap Ayunda, Nando menepuk pundak ibnu." tenang, bang. sebentar lagi Ayu gak bakalan gangguin Lo lagi, bang Ayin lagi healing dia buat move on." Nando berlari kecil ke mobil yang mesinnya sudah menyala.
Perkataan Nando tidak membuat perasaan Ibnu membaik, malah menambah risau.
" makan tuh ragu. adik gue makin mekar, ditambah didikan Zayin, alamat *say goodbye* pada pengagum sejati Lo." ejek Daniel.
" Kalau dia pengagum sejati gue, seharusnya dia gak mudah goyah, dasar labil." sewot Ibnu masuk rumah.
" Dih sewot..."
__ADS_1
" Diam Aniel..." teriak Ibnu dari dalam....