
Yuda mengusap wajahnya dengan kain basah setalah ia menerima telpon dari ibunya yang menanyakan posisinya setelah tiga hari tidak pulang.
ia duduk di kursi dengan meja paling depan diantara lima jajaran panjang meja berisi puluhan komputer yang semuanya terus menyala sedari tiga hari lalu, tepatnya sejak Navarro berhasil memasukan senjata dan bom mereka ke RaHasiYa.
Ia lelah, selam tiga hari ini praktis ia hanya tidur dia atau tiga jam perharinya karena dia harus tetap update situasi terkini.
Matanya tidak pernah melepaskan tatapannya dari layar besar berisi penangkapan ratusan cctv dalam ruang konferensi pers di lantai sembilan mengamati semua sudut gedung sejak kedatangannya.
Yuda terkekeh, Bahakan untuk masuk gedung dia harus masuk melalui jalan rahasia yang hanya diketahui oleh petinggi RaHasiYa dan para asistennya karena jalan ini hampir tidak pernah digunakan.
Terakhir digunakan saat penyelamatan Belinda dari Eric Gonzalez.
Ia harus menelpon dosennya karena ia tidak bisa menggantikan dosennya itu pada mata kuliah ilmu politik dasar dimana dia menjabat sebagai asdos.
Bahkan terakhir dia di kampus adalah mengikuti mata kuliah jam pertama dari tiga mata kuliah yang ahrus diikutinya serta pembatalan bimbingan pengajuan judul skripsi.
Matanya menatap nyalang bom aktif yang tersebar di beberapa sudut setiap lantai. ia beberapa hari ia menahan emosi ingin menyingkirkan bom aktif tersebut namun tentu ia menahannya karena ia tidak bisa.
Matanya menyipit saat satu kamera dari sudut kanan atas baris kedua menangkap rombongan mobil Van yang sering ia lihat saat mereka berkolaborasi dneg Gaunzaga.
" Ver, berhenti di Van putih di kamera 15 pukul 14.45 wib." Titah Yuda pada Vero, salah satu anak teknik bawahan Ibnu.
Layar tangkapan cctv no 15 menguasai layar sebelahnya, Yuda bergeser fokusnya ke layar tersebut. Kamera memotret masing-masing profil penumpang mobil berseri Jakarta tersebut.
" Oke, tangkap siapa saja penumpangnya."
" Pengemudi, Adam. Disamping Arka...." Vero menyebutkan satu persatu biodata orang di mobil tersebut secara rinci.
" Awasi mobil tersebut." Yuda menghubungi Adgar yang ternyata tengah sibuk.
" Mereka berhenti di seberang, bukan wilayah RaHasiYa." lapor Vero
" Kalau begitu masuk ke cctv ke pihak terkait."
" Siap."
Yuda melihat Zahra turun dari mobil, kemudian dari salah satu anak RaHasiYa membuka jalur paralel m.
" Shitt, om." Adgar yang membuka jalur tersebut.
" Angry bird berlari ke arah istana." ucap Adgar merujuk pada gedung RaHasiYa. Suaranya terdengar panik.
Yuda yakin semua anak mendengar ucapan Adgar, maka ia menutup saluran paralel ke saluran pribadi.
" Halo." Mumtaz menjawab telpon pada deringan kesekian.
" Kak Ala ada di gedung bersama Adgar dan pak Hito." Ucap Yuda to the points.
" Hmm." Di ujung saluran terdengar suara ketukan keyboard komputer.
" Tetap terpasang."
" Adgar sedang paralel, kita gabung ke sana."
" Oke."
Selanjutnya hanya terdengar suara jeritan dan teriak Hito dan Adgar disusul suara tembakan.
Tampak mobil itu menghalangi Zahra dari serangan peluru, namun dua mobil yang bersenjatakan seadanya kewalahan menghadapi serangan senjata otomatis lawan.
Beruntung datanglah mobil berisi Heru tepat di depan Van tersebut yang menghalau serangan itu sementara anak Gaunzaga mempersiapkan senjata Otomatis berlaras panjang mereka
Mobil Heru mengimbangi larinya Zahra yang semakin kencang, Zahra berusaha melepaskan diri dari Adgar dan hito yang dia pikir akan memaksanya masuk ke dalam mobil.
" Pak Heru datang membantu. Si-al mereka mengejar pak Heru." ucap Yuda saat mobil Heru memisahkan diri. Yuda memberi keterangan pada anak RaHasiYa yang bergerak keluar gedung.
" Ooh, shitt. Jeno, cepat anak buah Navarro berdatangan dari arah beberapa gedung perkantoran tetangga.
" Yuda, suruh anak bisnis cari siapa pemilik gedung yang menyimpan anak buah Navarro." Titah Mumtaz berusia dingin terkendali.
Mata Yuda membesar saat apa yang dia lihat yang terjadi begitu cepat dan singkat di depan matanya." Guys, mundur. Amankan Adgar dan om Hito." Titah Zayin.
******
Mobil yang membawa Hito dan yang lain langsung menuju gedung RaHasiYa sesuai keinginan Zahra setelah mereka mendarat di rooftop helipad Hartadraja tower, namun mereka berhenti di ujung jalan masuk area gedung RaHasiYa karena banyaknya pergerakan mencurigakan dari beberapa lelaki kekar berseragam hitam dengan Van hitam berjejer di depan maupun seberang jalan gedung.
Mereka diiringi tiga mobil pengawal. Di depan mereka dua mobil, dan satu mobil mengawal di belakang.
" Kenapa kita berhenti?" Tanya Zahra bingung.
" Karena kita tidak bisa mendekat, gedung sudah dikuasai mereka." Jawab Adgar memberikan tabletnya yang menangkap keadaan gedung yang dijaga banyak pria berseragam asing pada Hito yang meneruskannya pada penumpang yang lain.
Dalam mobil itu terdapat Hito, Zahra, Adgar, Heru, Eidelweis, Adam, Arka, dan si itik Adelia yang tertidur pulas di atas pangkuan ayahnya.
__ADS_1
" Bang, kita sebaiknya jalan lurus melewati gedung dengan begitu mereka tahu kita ada disekitar sini." Pinta Adgar pada Adam yang bertugas menyopiri mereka.
" Siap." Adam melajukan mobil dengan kecepatan standar tanpa dicurigai.
" Memang bisa?" Tanya Zahra.
" Cctv gedung bisa menjangkau tiga kilo meter dari ujung gedung. sensor, dan pemindaiannya mampu menangkap apa yang ada di dalam mobil menembus sampai benda terkecil di dalamnya."
" Lantas mengapa si Navarro bisa masuk?" tanya Zahra.
" Karena ada orang yang bisa mengacak-acak sistem, atau..." Ucapan menggantung Adgar membuat Zahra terus memperhatikannya.
" Atau...." Ucap Zahra penasaran.
" Mereka membiarkannya. Navarro mantan tentara, tentu dia tidak asing dengan teknologi canggih. Zaman sekarang siapa yang menguasai teknologi, Maka menguasai dunia. Ditambah Petinggi RaHasiYa terkenal dengan jiwa tantangannya."
Setelah mereka berputar satu kali, yang langsung ditangkap oleh tim, mobil berhenti di seberang jalan serpertigaan lampu lalu lintas tidak jauh dari arah menuju gedung.
" Terus bagaimana?" Tanya Zahra mengamati luar jendela mobil.
" Kakak maunya gimana? Bang Mumuy dan yang lain tidak ada di gedung." Terang Adgar menunjuk earphone-nya dia sedang berkomunikasi dengan Raja yang baru keluar dari rumah Aida.
" Ya saya maunya ke sana."
" Sayang, mending kita pulang. Kamu dengar tadi Adgar bilang Mumtaz tidak ada di sana."
" Tapi si bule sia-lan itu ada di sana. Dia gak mungkin cuma rebahan doang dia dalam sana."
Ya
" Sayang, mereka bisa mengatasinya. Kalau kamu peduli pada para adik lebih baik kita pulang." Bujuk Hito.
" Enggak, aku gak mau pulang. Kalau kamu mau pulang, pulang sana. Aku mau masuk ke dalam gedung." Kukuh Zahra.
Perdebatan itu terus berlangsung, Heru diam. ia meminta istrinya untuk menggeser karena ingin mendudukan Adelia di kursi mobil bayi di tengah mereka. Adgar sibuk dengan tabletnya. Sampai terdengar pintu digeser dan Zahra keluar dari mobil bertepatan lampu lalu lintas berwarna merah, ia berlari menyebrangi jalan menuju gedung.
Mereka terkejut," Shitt, om." Adgar dengan gesit keluar dari mobil berlari menyusul, dilanjut Hito.
" Kak, berhenti. kak Ala, bahaya." teriak Adgar sambil menyebrang jalan, ia membuka saluran parallel.l antar Anka RaHasiYa.
" Ara, stop.. dengarkan Adgar, Zahra. berhenti." sambil berlari Hito menelpon Dominiaz meminta bala bantuan.
Mereka berkejaran di jalan raya nan luas dan ramai padat karena saat ini jam pulang kerja.
para lawan mengokang sen-jata panjang mereka.
" Bang, siaga. kita nyebrang jalan." Seru Adgar ke orang di ujung saluran.
Adgar mendengar perintah Mumtaz, maka dengan kuat ia mentik tangan Zahra saat dirinya melihat senjata diarahkan pada Zahra.
" Raja, dimana Lo, amankan situasi." Adgar menarik Zahra ke dalam pelukannya saat Van putih menghalangi mereka dari rentetan pe-luru.
Sementara Hito bergegas mengambil posisi di samping mobil membalas sera-ngan itu.
" Gue dan juan gak jauh dari kalian, terjebak macet."
" Pak,..." Adam melirik ke bangku paling belakang melalui kaca spion meminta instruksi pada Heru.
Heru memasang earphone yang terhubung paralel anak Gaunzaga.
" Kamu sudah hubungi pak Domin?" Tanya Heru.
" Beliau otw dengan pasukan."
" Arka lindungi mereka. "Arka bergegas turun.
Ia segera berlari ke arah Adgar yang melindungi Zahra, dirinya berdiri tepat di depan Adgar yang menghalangi Zahra dari bahaya luar.
" Dua mobil melaju di samping Zahra halangi dia dari para lawan. Tem-bak siapa saja yang melepaskan tembakan. Lindungi Zahra kalau kalian tidak ingin berurusan dengan petinggi RaHasiYa." Seru Heru
Heru membuka seluruh tas mengambil beberapa bawaan berbahan kain lalu meletakkannya diantara badan mobil dan Eidelweis serta Adelia sebagai pengganjal tubuh Eidelweis sewaktu-waktu ada guncangan.
" Sayang, tolong pasang seatbelt kamu sekencang mungkin." Ucapnya saat dia memasang seatbelt untuk Adelia di kids chair.
" Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Eidelweis khawatir memegang lengan tangan heru.
" Gak kemana-mana. Cuma pindah duduk ke depan." Ucap Heru menenangkan.
Diluar mereka mendengar adu tembak yang kencang, hingga membuat tubuh Eidelweis gemetar. Ia ngusap-ngusap perutnya.
" Sayang, tolong pake headset kamu tekan kedap suaranya." Heru memasang earphone yang kedap suara dari luar pada telinga Adelia.
Heru menggenggam tangan Eidelweis, dan mengusapnya." Kamu jangan panik, kita aman. Percaya sama aku. Ada dedek yang harus kamu lindungi." Eidelweis mengangguk cepat.
__ADS_1
Eidelweis meremas sedikit tangan Heru yang kemudian dikecup sang suami." Nyanyi aja gak apa-apa. Kalau itu bikin kamu relax."
" Suara aku jelek, fals."
" Gak apa-apa. Aku gak pernah komplain kan."
" Tapi menggerutu dalam hati seperti yang Ayin bilang." Rungut Eidelweis cemberut.
Heru terkekeh." Apalagi kalau Adel yang nyanyi, Ayin udah misuh-misuh pastinya."
Eidelweis terkikik." Adel, suara kamu berhasil bikin takut tikus, tapi tikusnya belum datang mending diam aja, lebih bagus lagi." Ucap Eidelweis meniru penuturan Zayin setiap kali Adelia bernyanyi mengikuti video anak dari tv.
Obrolan ringan itu ternyata mampu menurunkan kecemasan yang melanda Eidelweis sejak mengetahui ada musuh di depan mereka.
" Aku duduk di depan dulu ya." Eidelweis mengangguk, Heru mengecup kening istri serta anaknya sebelum beranjak ke depan.
Heru pindah duduk di kursi penumpang tengah. Mengambil tas yang tersimpan di bawah kursi penumpang yang ternyata berisi senjata otomatis berlaras panjang yang belum dirakit, Ia dengan santainya merakit senjata itu.
Menggunakan alat penghancur kaca, ia membuat lobang kecil di tengah bagian bawah kaca jendela yang cukup untuk mengeluarkan moncong senjata.
Melalui teropong berjenis binokular karena medan yang bergerak dan target yang banyak, agar lebih fleksibel. Heru berlutut di depan senjata, siap membidik.
" Dam, terabas mereka. Kita berputar lewat jalan rahasia mereka di taman tidak jauh dari gedung. Kata pak Domin mereka sudah membuka jalannya."
" Siap."
Adam langsung melajukan mobilnya sampai dipinggir Zahra yang hendak masuk are gedung dilindungi Hito dan Adgar diantara dia, sedangkan Arka membantu anak Gaunzaga yang kewalahan melawan musuh, ia membuka pintu mobil. " Masuk." Titah Heru.
Zahra mengabaikannya, ia memilih terus berlari dan berbelok ke jalan menuju gedung, ia berpikir kalau ia masuk mobil mereka akan pulang, dan usahanya ke Jakarta akan sia-sia.
Sementara para pengawal mereka tertinggal di belakang meladeni hujanan peluru di balik mobil mereka yang anti peluru.
Heru yang bukan pertama kali menghadapi kekeraskepalaan tetangganya itu menghela napas berat." Tetap di jalur ini." Titah Heru, ia melepas tem-bakan begitu beberapa musuh menembaki mereka dan secara terorganisir seperti gelombang mendekati mereka.
Mobil terus melaju di samping Zahra mengimbangi kecepatan larinya. Sampai beberapa anak RaHasiYa keluar dari lobby membantu setelah melumpuhkan musuh yang tersebar di beberapa titik pelataran gedung.
Dirasa Zahra aman ditangan mereka yang tengah bergelut antara fisik dan senjata yang saling berlomba, " kita pergi sesuai arahan tadi." Ucap Heru tanpa melepaskan targetnya.
" Bos."panggil Adam. Saat di depan mereka sudah ada dua mobil yang menutup jalan mereka.
" Tabrak mereka."
Adam menekan gas, mobil melaju semakin kencang diantara peluru yangenghujani mereka ketika mobil semakin mendekati mereka.
" Aaaaaa......" Jerit Eidelweis saat merasakan hantaman keras mengenai body mobil.
Dapat ia rasakan gejlukan ban mobil melin-das beberapa undakan yang ia pikir itu tubuh manusia, karena ia menoleh ke belakang melihat tiga tubuh tergolek di atas jalan.
"Tarik napas, buang napas...kita sedang berada di wahana Jurassic Park." Gumam Eidelweis saat kembali ke posisi semula, mengatur emosinya.
Mobil itu terus berputar-putar bolak-balik ruas jalan mengecoh mobil lawan, tak ayal di tengah jalan yang lengang dimana para pengendara lain lebih memilih menyelamatkan diri dari serangan dengan berhenti di pinggir jalan terjadi aksi koboi berkuda baja antara Van yang berlomba melincurkan peluru.
Tidak berapa lama datanglah helikopter yang terbang tepat di atas Van Heru menembaki lawan dari udara, dan itu mengalihkan kesibukan lawan.
Maka Adam memacu mobil mereka ke teman yang ditunjuk, di sana sudah ada Haikal dan, Rizal yang bersiap dengan senjata mereka menyambut kedatangan Heru.
Terowongan panjang itu berakhir di pintu ujung barat basement RaHasiYa terus berjalan sampai akhirnya mobil tersebut diarahkan masuk ke kotak besi yang akan berakhir di bunker mewah ala RaHasiYa.
" Absen." Titah Haikal begitu dia membuka pintu mobil.
" Adam, Heru, Eidelweis, Adelia." Ucap mereka saling menyusul.
" Complicated." teriak Haikal yang mengacungkan jari jempolnya mengabari Rizal yang masih berdiri berjaga di ambang pintu Terowongan.
Sayangnya perkiraan Heru bahwa Zahra telah aman hanya karena posisi Hito, Adgar, dan Zahra yang selangkah masuk pelataran gedung meleset besar.
Di saat mereka berlari beberapa langkah berbelok, tembakan menyambut kaki mereka.
" Tiarap." Teriak Adgar.
Mereka bertiarap dengan posisi Adgar, Hito, kemudian Zahra yang diam-diam mengamati keadaan mencari celah ditengah situasi yang kacau ini.
Di saat Adgar dan Hito mengamankan Zahra sambil melawan tembakan di Balik pembatas jalan sambil menunggu bala bantuan atas perintah Mumtaz dibawah pimpinan Jeno dan Leo yang terhambat baku hantam dengan pasukan Navarro yang terus berdatangan tiada henti dari berbagai arah gedung tetangga.
Zahra yang merasa bisa memasuki pelataran, tanpa pemberitahuan berlari kencang, namun saat dirinya hendak berbelok masuk pelatran gedung, satu tangan menariknya, lalu membiusnya.
" Aaaaaaa...hmmpt."
Pekikan Zahra membuat Hito melirik kesampingnya tempat semula Zahra berbaring yang ternyata sudah kosong.
Hito panik, ia berlari di bawah perlindungan anak Gaunzaga yang terus membalas tembakan tiada henti dari lawan menyusul Zahra yang sudah dibopong di pundak orang asing tersebut dan lenyap di balik gedung perkantoran terdekat gedung RaHasiYa.....
__ADS_1