Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 115. Cara Mengatasi Kegalauan ala Saudara Lelaki.


__ADS_3

Tamara berjalan tertatih-tatih ke kontrakannya yang sudah lama tidak dia tinggal demi mendapat kenyamanan dan keglamoran dari Gonzalez, meski iuran untuk kontrakannya terus ia bayarkan.


Tetapi entah sejak kapan Daddy sugarnya itu suka sekali menyiksanya, dengan tangan gemetar ia memutar kunci pintu lalu membukanya.


" Eungh, heh.. heh." Hanya untuk membuka dan berbaring di kasur kecilnya dia menghabiskan banyak tenaga.


" Capeknya, euh...uhuk..." Tamara memegangi dadanya yang nyeri, cairan berupa nanah mulai keluar dari pu.ting dadanya


Dia sungguh frustasi, sampai sekarang usaha mencari tahu siapa perempuan yang menyamar menjadi dirinya sehingga membuatnya bangkrut belum juga membuahkan hasil. Pengacars atau lebih tepatnya mantan pengacaranya tidak kunjung memberikan kabar gembira.


Dia yakin hari itu dia sibuk dengan kliennya, tetapi kenapa dirinya ada dua. Pengacaranya tidak percaya semua alibinya, karena ia ada sana saat penandatanganan itu.


" Maura,...pasti dia. Tapi Maura tidak sepicik itu, baiklah Maura bukan orang jahat, dia tidak akan mungkin melakukan itu. Shitt, siapa wanita itu." Tamara memijit pelipisnya karena pusing.


" Ya Tuhan, kenapa tidak kau matikan saja aku." Tamara sungguh tidak mengerti akan jalan hidupnya yang semakin jauh dari tujuannya.


****


Mumtaz duduk bersandar sambil bersedekap memperhatikan tiga dokter spesialis yang makan dengan lahap tanpa jaim, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.


Kini, mereka dia restoran seafood terkenal dengan lobster raksasanya. Tiga porsi jumbo menu komplit langsung dilahap tanpa menawari dirinya yang mentraktir mereka.


" Enak, mbak?" Sindir Mumtaz.


Zahra, Zahira, dan Zivara mengangguk saja.


" Enak, kamu gak makan?" Zahra bertanya sambil menyuap daging lobseter.


" Makan apa?"


" Ya makan makanan yang ada di...." Tatapan Zahra terpaku ke hidangan yang sudah habis tinggal kulitnya saja.


" Kemana makanannya? Tanyanya polos dan imut.


Mumtaz memutar bola matanya malas." Kalian makan tanpa suara dan langsung menghabiskannya dalam waktu lima belas menit, wow amazing!" Sarkasnya.


Tiga dokter itu meringis melas," mau?" Mumtaz melirik bagian ekor udang windu yang di sodorkan Zahira padanya.


Mumtaz mengangkat sebelah alisnya," kakak pikir itu bisa mengisi perutku?"


Zahira menggeleng," Muy, emang kamu mesti pakai topi gitu? Zahra mengalihkan pembicaraan, takut dicecar habis-habisan. Ia tahu mereka salah tidak menawarinya begitu makanan datang mereka langsung menghembatnya.


" Kelihatan ganteng, Muy." Rayu Zivara


" Apalagi dengan kemeja hitam biru itu, Weh ganteng banget, visual persis aktor Korea." Timpal Zahira memakan ekor udang tadi.


Mumtaz mengernyitkan alisnya," kalian sedang merasa bersalah?" Tiga dokter itu mengangguk.


" Tinggal pesanin buat aku, tapi bungkus ya. Enam bungkus. Kalian yang bayar."


Mereka terbelalak," gak bisa gitu dong, A. Katanya kamu yang traktir. Kok kita yang bayar." Protes Zahra cepat sambil menjilati jari-jarinya tanpa malu.


Mumtaz hanya bisa menggeleng." Aa bayarin punya kalian, kalian bayarin punya Aa."


Zahra menggeleng, tapi tangannya mengkode memanggil pelayan.


" Berbuat baik tuh jangan nanggung, Muy. Gak elok." Mumtaz mendengkus mendengar ocehan kakaknya.


" Sembilan paket seafood komplit jumbo ya, lobsternya yang besar." Pesan Zahra begitu pelayan datang ke meja mereka.


" Sembilan?" Mumtaz bingung, dia tadi minta enam kenapa dipesankan sembilan.


" Iya, buat kamu enma, Kakak satu, Hira satu, buat adiknya. Ziva satu, buat keluarganya. Dia kan bangkrut gak bisa beli ini sendiri." Alasan yang sangat berlebihan, Mumtaz tahu persis bagaimana keadaan keuangan keluarga Zivara.


" Kakak kan udah."


" Nyampe rumah laper lagi." Jawabnya santai.


Berselang 30 menit pesanan tiba," Aa Mumuy, bayar." Titah Zahra.


" Aa?"


" Zahra mengangguk tanpa bersalah, " semuanya."


Melihat muntaz tak kunjung membuka dompet, dengan inisiatif sendiri Zahra merogoh saku belakang celana jeans Mumtaz.


" Tunggu, bentar. Kak. Jangan dipegang, astaga, iya Aa yang bayar tapi itu tangan jauhin dari belakang Aa." Mumtaz bergerak-gerak mencoba menjauh dari jangkauan Zahra, sedangkan dua sahabatnya hanya menonton sambil menyeruput minuman mereka.


Zahra menghiraukan protesannya, ia terus berupaya mengambil dompetnya," akhirnya dapat." Dompet hitam terangkat di atas kepalanya


Langsung membuka, lalu mengambil kartu hitamnya, dan memberikannya pada pelayan yang menunggu mereka.


" Astaga berasa punya bini tiga gue." Gerutunya.


" Muy, banyak kartu juga Lo, uang cash-nya juga banyak." Zahra memeriksa isi dompet Mumtaz.


" Ambil aja mau yang mana." Tawar Mumtaz membiarkan kakaknya membongkar isi dompetnya yang tanpa sopan para sahabatnya pun ikut mengintip. Zahra menggeleng.


Wajah Mumtaz berubah muram." Punya aku gak mau nerima, punya Ayin diterima." Lirihnya pelan.


" Astaga dipikir-pikir selama ini hidup Kakak dari Ayin sama Inu. Dompet Kakak ketinggalan di kamar." Zahra tersentak kala menyadari itu.


Mumtaz kaget, " Ibnu ngasih kartu buat kakak?"


" Iya."


Air muka Mumtaz tidak senang, " Ambil satu kartu aku, Kakak itu kakak kandungku bukan dia." Terbesit rasa cemburu di hati Mumtaz mengetahui Ibnu membiayai kehidupan kakaknya.


" Makasih, tapi kamu udah banyak ngeluarin duit buat kakak."


" Kapan?"


" Di Jerman, dan selama hidup Kakak." Ucapnya pelan.


" Apa sih, gak usah dipikirin. Itu hak aku menghidupi Kakak." Mumtaz mengambil dompetnya dari Zahra lalu mengambil satu ATM dan menyimpannya di sling bag Zahra.


" Zivara penasaran akan sesuatu," Muy, pacar kamu, kamu jajanin juga gak? Atau kamu kasih dia kartunya?"


" Kalau makan iya, kalau belanja enggak. Kartu dikasih kalau Tia ngajak mereka jalan bareng, tapi setelahnya diembalikan." Terang Mumtaz.


" Kamu gak kasih duit buat Sisilia?" Zahira ikut penasaran, pasalnya dia tahu kalau Mumtaz termasuk salah satu pemuda berpenghasilan tertinggi di Indonesia.


" Enggak, dia udah kaya."


" Dih, gak ngaruh. Kamu kan pacarnya." Timpal Zivara.


" Bukan istri aku."


" Jadi harus jadi istri kamu dulu buat di jajanin kamu?"


" Iyalah, ngapain nafkahin anak orang mending keluarga sendiri, jadi Kakak pake punya aku, jangan punya Inu."


" Muy, Ibnu duitnya banyak."


" Banyakan aku." Timpal Mumtaz.


" Masa?" Mata Zahra berbinar


Mumtaz mengangguk dengan semangat.


" Bisa bangun klinik dong."


" Bisa." Ucapnya sambil menyeruput air teh tawarnya.


" Terus kenapa gak dibangunin, kamu kan tahu impian kakak punya klinik sendiri.


" Kakak gak ngomong."


Zahra menimbang, lalu menggeleng," Kakak gak bisa terus ngerepotin kamu, kamu juga kan harus nikah."


Mumtaz melirik Zahra sengit," Ibnu juga harus nikah, tapi uangnya kakak pakai."


" Dia mah masih suram, ceweknya aja gak ada." Mumtaz terkekeh mendengar omongan Zahra.


" Ini mbak, kartunya beserta struknya." Mumtaz langsung menyambar mengambil kartu dan struknya dari tangan pelayan.


" Habis berapa?" Zahra penasaran.


Mumtaz mengedikan bahu," langsung pulang atau masih mau ada yang dibeli?" Mereka beranjak dari kursi, Mumtaz membawa tiga papperbag besar punyanya dan punya Zahra.


" Pulang aja, pasti udah ngabisin banyak uang kamu."


" Enggak juga, selama ini aku lebih banyak menghasilkan daripada menghabiskannya. Sampe Afa aja takut tersaingi." Mumtaz membuka pintu mobil bagian penumpang depan, mempersilakan Zahra masuk, baru ia menuju bagian kemudinya.


Tindakan Mumtaz tidak lepas dari pengamatan Zahira dan Zivara.


" Pantes si Riana tergila-gila padanya sama kakaknya saja begitu gantle, gimana sama pacarnya!" Gumam pelan Zivara yang diangguki Zahira.


" Aku anter kakak kemana? Atau mau pulang ke rumah." Tawaran yang menyiratkan ajakan pada Zahra untuk pulang.


" Ke rumah Hira aja, nanti Erel, adiknya Hira yang antar kakak pulang.


" Kakak, aku yang antar pulang."


" Muy, ini udah malam, antar aku sampe perempatan itu ya." Pinta Zivara.


" Karena ini udah malam, aku antar kalian ke tempat masing-masing."


" Gak perlu, nanti kamu kemalaman." Tolak Zahira.


" Dan membiarkan kalian pulang sendiri? Cowok apaan aku ini." Sewot Mumtaz.


" Udah diem, aku antar kalian semua." Mumtaz menyalakan mesin mobilnya.


Dipertengahan jalan, Zahira memberitahu kalau dia sudah menghubungi adiknya untuk jemput di perempatan bareng Zivara.


Begitu mereka sampai di tempat, adik Zahira belum juga terlihat.


" Mana adiknya, kak?" Mumtaz tidak berani meninggalkan mereka di tengah jalan begini, meski Zahira dan Zivara sudah mendesaknya untuk pergi.


" Dia lagi nyari kita." Zahira menelpon adiknya.


" Tuh, yang lagi jalan kesini." Tunjuknya pada pemuda yang mengenakan kaos hitam sedang melangkah mendekati mobil mereka.


Mumtaz membuka jendela mobilnya." Hei, bro. Sini." Mumtaz melambaikan tangan.


" Hai, sorry ngerepotin." Sapa Erel bersalaman ala lelaki, lalu membuka pintu mobil penumpang bagian Zahira duduk.


" Udah biasa mah, kakak Lo itu."


Erel terkekeh paham." Malam, kak." Sapanya pada Zahra yang sedang merapihkan penampilannya.


" Kakak, mau kemana?"


" Turun, pulang bareng Hira."


" Aku yang antar." Tegas Mumtaz.


" Nanti kamu kemalaman."


" Aku cowok, pulang pagi juga gak masalah. Adik kakak tuh aku bukan dia."


" Ya Allah Muy, segitu aja Lo cemburu." Celetuk Zahira.


" Haruslah, berasa gak guna aja jadi laki, kalau kakak perempuannya dianterin yang lain." Nyolot Mumtaz yang diangguki Erel.


" Rel, Lo anter kak Ziva nyampe rumahnya ya, gue anter Kak Ala."


" Beres, kita pergi." Erel membawa bawaan dua wanita itu dalam satu tangannya, dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Zahira.


Zahra yang melihat itu mendengkus berlebihan," apa kalian harus bersikap berlebihan begitu?"


Sambil menjalankan mobil Mumtaz melirik pada mereka, lalu mengangguk," lelaki akan lebih protektif kalau orang tua sudah tidak ada. Apalagi jika orang tuanya meninggal dibunuh." Ucapnya merujuk pada kematian ibu dari Zahira dan Erel.


" Jadi itu kenapa kalian sangat protektif padaku dan Tia?" Mumtaz mengangguk.



Begitu sampai di parkiran basement, Mumtaz menatap Zahra," ini apart siapa?" Selidik Mumtaz khawatir.



" William, mereka juga kadang datang buat ngerusuh. Jadi kamu enggak perlu kahwatir."



" kakak, kapan mau pulang? Rumah sepi."


__ADS_1


Zahra mengusap lengan Mumtaz," kalau Kakak sudah membiasakan diri menerima kalian punya kehidupan sendiri.



" Kak,... Aku minta maaf, aku tahu aku salah bentak kakak, dan itu nyakitin hati kakak. Aku hanya takut kita tidak rukun, walau pada akhirnya karena aku kita pisah." Ucap pelan Mumtaz



" Itu udah kita bicarakan, ini masa *recovery* kakak aja."



" Aku belum berubah, masih butuh kakak." Mumtaz menarik Zahra ke dalam pelukannya.



" Jangan sering minta tolong pada Inu, ada aku yang siap buat Kakak." Ucapnya di balik leher Zahra.



Zahra terkekeh,"" masih aja cemburuan."



" Ck, coba aja kalau Ayin tahu kakak sering ngabisin waktu belanja sama Inu ketimbang dia, Ayin pasti melarang Inu main ke rumah."



" Jangan dibilangin." Zahra memukul lengan Mumtaz setelah mengurai pelukan mereka.



" Baik-baik, ya."



" Iya, kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut." Zahra turun dari mobil.



" Iya, kunci pintunya. Aa pulang." Mumtaz melambaikan tangan.



" Makasih teraktirannya."



Mumtaz mendengkus," niat banget mental ditraktirnya sampe ke bagian selatan jakarta."



Zahra tertawa puas," harus *perfecto*. Udah, kakak pergi dulu."



" Hmm, ingat pake kartu aku, bukan yang lain." Ucap Mumtaz sebelum menyalakan dan melajukan mobilnya setelah memastikan Zahra masuk gedung apartemen.



\*\*\*\*\*



" ASSALAMUALAIKUM." Salam serempak dari para pemuda memasuki pekarangan rumah besar Eidelweis.



" Wa, alaikumsalam." Heru menyambut mereka sambil mengernyitkan kening dalam.



" Ini mau berkunjung atau demo banyak amat."



" Kita diundang Tante Edel ya, Om." Jawab Radit.



Heru menggeser tubuhnya mempersilakan mereka masuk.



" Aa Ayin." Jerit kesenangan Adel merentangkan tangan minta digendong saat melihat lelaki favoritnya.



Zayin dengan sigap menggendong Adelia." Udah malam kok belum tidur, hmm."



" Nunggu Aa, kata mamy Aa mau main, jadi Adel tahan kantuknya." Ucap polos Adelia bikin gemas yang mendengar.



" Begitu dong setia. Jangan kayak pamannya, bilang cinta sama dokter cantik tapi punya gebetan baru. Labil ya." Ujung matanya melirik sinis Hito.



Hito yang yakin kalau sindiran langsung itu untuknya mengerutkan kening dalam tak paham, meminta penjelasan pada para sahabatnya yang sedang berkumpul di rumah Heru.



Eidelweis datang dari arah dalam, " Adel, sekarang udah ketemu sama Aa-nya tidur ya." Eidelweis mengambil Adelia dari gendongan Zayin.



Setelah Adelia dibawa pergi oleh Eidelweis, Hito berkata," saya yakin ucapan itu untuk saya, tapi saya tidak tahu karena apa?" Zayin tidak lagi hanya melirik, kini dia menatap langsung manik Hito dengan serius.



" Dulu Om berjanji membahagiakan kakak, karena itu aku dan Aa Mumuy mendukung kalian, tapi sekarang baru digalakin dikit om udah oleng ke cewek lain." Zayin bersedekap tangan.



" Apa maksud kamu? Janji dulu masih berlaku sampai kapanpun, dalam pikiran, hatiku memang hanya Zahra, dan masih tetap dia." Hito tak peduli ucapannya dinilai berlebihan, tetapi dia tak ingin calon adik iparnya itu salah paham.




" Siapa? Saya paling dekat sama Heru, dan tidak mumgkin saya belok pada Heru."



" Bohong, Yin. Dan lo tahu itu." Haikal memanasi Zayin.



" Bicara yang jelas, saya benar-benar tidak tahu kemana arah pembicaraan kalian." Hito mulai gregetan.



" Artis, sexy, bening." Rio memberi kode yang semakin menambah bingung Hito.



" Oke, guys. Hito tidak bohong, dia memang tidak peka terhadap sekitarnya karena dia sekarang sedang sibuk-sibuknya. Dan orang itu Yunita."



" Yunita? Yunita siapa?"



" Gimmick itu." Celetuk Haikal.



" Respon palsu." Sahut Yuda.



" Menyembunyikan sesuatu." Timpal Radit.



" Heh, jangan bikin nambah panas. Memang saya tidak tahu siapa dia." Protes Hito.



Ditengah adu omong antar para pemuda dengan Hito, Samudera membisiki Dominiaz," masih mau lo nikung si Hito? Pawangnya segitu banyak." Dominiaz menggeleng.



" Masih sayang *body* gue." Balas bisik Dominiaz.



Prang!!



Hito melempar gelas kosong bekas kopinya ke sembarang tempat saking emosinya mendapat serangan dari para pmuda itu, dan itu membuat semua orang terkejut dan diam



" Berapa kali saya bilang, jangankan punya hubungan, kenal saja tidak. Berhenti memanasi Zayin."



" Bagaimana kita percaya omongan Om, berita itu memang sudah heboh, dan kalian sering bertemu." Jelas Ibnu.



" Hanya tiga kali, semuanya di Gata tv. Itupun tidak disengaja." Terang Heru serius.



" Assalamualaikum." Salam Mumtaz dari arah luar yang disambut helaan lega oleh para pemuda,



" WA'ALAIKUMSALAM." jawab mereka serempak dengan semangat berlebihan.



Begitu Mumtaz masuk membawa tiga papperbag dan tiga plastik besar berisi makanan *fast food* mata para sahabatnya berbinar sumringah.



Rizal dengan jiwa kacung dadakannya berbaik membantu Mumtaz membawakan bawaannya yang dibalas cibiran oleh sang empunya.



" Awas aja kalau gak dibalas."



" Tenang, besok uduk porsi komplit siap di atas meja buat Ndoro." Ucap Rizal meyakinkan.



" Awas Lo kalau bohong."



" Iya, ini apa?" Tangannya mengangkat tiga papperbag itu.



" Seafood komplit paket jumbo."



" Waaah, makan mewah kita, woy cepat masak nasi." Teriak Haikal masuk kedalam rumah menyusul Rizal.


__ADS_1


" Ini udah ada." Rio dibantu Juan membawa tiga nampan besar berisi nasi panas.



" Dapat nasi darimana Lo?" Tanya Yuda.



" Tante Edel." Sambil menjawab tangan Rio dengan cekatan membuka bungkusan besar seafood itu.



" Katanya sengaja masak banyak, karena malu sering lihat kalian muter-muter ke tetangga hanya buat minta nasi."



" Woy, para Om di depan belum kebagian."Daniel mengingatkan.



" Masih kurang ini nasinya" Kata Ubay.



" Di dapur nasi masih banyak." Eidelweis keluar dari dapur membawa lalapan, memberikannya kepada mereka yang tidak tahu malu itu.



" Tan, ini satu buat para Om. Isinya banyak." Raja memberi satu bungkus pada Eidelweis.



Jeno dibantu Galang membantu Eidelweis membawa nasi dan perlengkapannya ke ruang tamu.



" Ini woy, gue dapat nasi." Rio dibantu Jeno membawa dua bakul nasi.



" Ah Aa Io emang the best." Jerit kegenitan dari Yuda.



" Jijik gue, Yud."



" Sisain satu buat Mumtaz." Daniel berjalan ke ruang tamu.



" Lo udah makan?" Tawar Daniel, Mumtaz menggeleng



" Lah kenapa?" Heran Dominiaz.



" Tiga dokter Z itu benar-benar sadis kalau dihadapkan dengan Seafood. Begitu makanan datang langsung mereka embat tanpa nawarin gue. Dan mereka cuma pesan tiga porsi jumbo doang.



" Lagian mereka kayak orang susah amat." Imbuh Ibnu bergabung menyuapi Mumtaz.



" Kalian makan aja, gue makan burger." Mumtaz mengambil paket big mac-nya.



" Jangan keseringan makan itu." Ibnu menjauhkan kantong plastik yang masih berisi banyak burger itu dari jangkauan Mumtaz.



" Kapan gue sering makan ini, emak." Sindir Mumtaz sinis. para Om hanya memperhatikan interaksi antara petinggi RaHasiYa itu.



" A, sisain satu buat Ayin." Teriak Zayin dari arah dalam rumah.



" No, Ayin. Lo lagi makan seafood." Larang Ibnu dengan matanya yang menajam walau Zayin diragukan akan melihatnya.



" Apa sih. Gak banget."



" Tenang, nanti gue umpetin buat Lo." Bisik Adgar.



" Bang, Adgar mau umpetin buat Ayin." Adu Juan pad Ibnu, alhasil Ibnu menghampiri mereka berdua lalu memberi pelototan dari Ibnu.



Zayin dan Adgar menendang bagian samping tubuh Juan sampai dia terjatuh.



" Dih childish banget sih kalian." Dumel Juan yang langsung memperbaiki posisinya kembali ke semula.



" Tukang ngadu banget sih lo, pecat aja dia Gar, pecat." Zayin memprovokasi.



"Nanti kalau urusan akhir tahun udah beres."



" Lo pecat gue, gue kasih tahu om Damar kalau Lo suka si Ical." Ancam Juan.



" Hahahaha, Lo dikasih si sexy Tamara nolak, si Ical masih orok, doyan, situ waras?" Radit meledeknya.



" Iya ,waras. Gue udah ke psikolog, dan hasilnya gue normal." Terang Adgar serius.



" Seriusan Lo, sampe segitunya?" Radit benar-benar kaget atas respon Adgar.



" Heeh, Lo pikir gue enggak syok mikirin perasaan gue yang posesif abis sama sepupu gue."



" Kalau Akbar dengar, habis Lo." Ujar Rio.



" Palingan si Ical dibawa jauh...AWWS." Timpal Juan yang langsung mendapatkan tabokan keras di punggungnya dari Adgar.



" Makanya kalian diem-diem Bae, bang Akbar tahu, keluarga ga kalian habis sama gue." Ancamnya dengan mimik muka serius.



Mereka mengangguk patuh, kecuali para petinggi RaHasiYa.



Di ruang tamu suasana makan lebih tenang, " kenapa tadi berasa tegang waktu saya masuk?" Mumtaz merapihkan bekas makannya.


" Zayin marah, dia nyangka Hito punya gebetan baru." Heru menjelaskan.


" Padahal enggak, saya enggak tahu dia siapa." Sambung Hito.


Mumtaz mengeluarkan iPad dari ranselnya, mengutak-atiknya sebentar lalu memberikannya pada Hito.


Dengan kernyitan dahi Hito menerima iPad tersebut, di sana Hito dapat melihat rekaman cctv ruangan Zahra yang mana Zahra sedang menangis.


Hito terdiam, " karena lihat itu Ayin marah, saya tadi traktir Kakak juga karena itu." Mumtaz mengambil satu potong daging cumi besar.


Tak percuma dia jauh-jauh datangin resto itu, seafood saus Padang nya memang mantap, ucap bathinnya.


" Domin, cancel semua kerjasama Gata TV dengan dia. Heru, hubungi semua pihak yang bekerjasama dengannya untuk membatalkan kerjasama mereka atau berurusan dengan saya." Hito menetap tegas semua orang yang berada di ruang tamu."


" To, gue kira kita bisa membicarkannya dengan baik, pemutusan kerjasama itu sangat berlebihan." Bujuk Dominiaz, pasalnya beberapa acara yang dipegang oleh Yunita mendapat respon baik.


" Dengan resiko Zahra marah, dan minta pisah. No way, batalkan semuanya. Lagian gue juga risih sama dia sok akrab banget gitu."


" Saya pikir tidak perlu segitunya, Om."


" Harus segitunya, Mum. Ru, kenapa Lo gak bilang berita ini heboh."


Heru mendengkus," gue udah bilang ya, dan respon Lo masa bodo."


" Ya Lo lakuin sesuatulah."


" Ngurusin bisnis Lo aja gue udah ribet, ditambah hal sepele gini."


" To, Lo tambah asisten lah." sambung Samudera


" Heru aja yang ambil asisten buat bantu dia, gue mah cuma percaya dia."


" Mana ada asisten punya asisten." Sewot Heru.


" Ada, Lo. Terserah mau sebanyak apa yang pasti asisten gue cuma Lo." Tukas Hito final.




Ibnu beranjak terlebih dari kerumunan makan bersama, lalu melangkah ke dapur untuk cuci tangan dan mengambil dua gelas susu coklat hangat buat Zayin dan Mumtaz.



" Ayin, susunya di atas meja, kalau makannya udah selesai langsung diminum." Seru Ibnu, ia berjalan ke ruang tamu menyodorkan satu gelas lagi pada Mumtaz.



" Tadi Nando kasih kabar, nyonya Belinda sudah ada di tangan Ragad." Ibnu menunjuk pesan yang masuk ke ponselnya.



" Suruh langsung bawa ke RaHasiYa, gue pikir itu tempat teraman." Mumtaz menenggak susunya sampai setengah.



" Muy, bagi." Alfaska sudah mengambil susu dari tangan Mumtaz tanpa menunggu jawaban darinya.



" Muy, robot dilapangan penyelamatan Belinda minta bantuan, beberapa robot tumbang." Daniel bergabung dengan mereka."



" Kirim aja sama Lo, gue fokus urus Gardenia house dulu. Bang Domin, kita cabut ke rumah gue yuk. Makasih makanannya, Om." Mumtaz beranjak melangkah pintu.



" Ini makanan kan dari dia." Gumam Heru.



" Nu, anak-anak kalau selesai bantu bersih- bersih langsung ke rumah Mama Aida ya." Pinta Alfaska yang menyusul Mumtaz bareng yang lain....


__ADS_1


"


__ADS_2