
Acara barbequean dimulai selepas shalat Isya, meski demikian selepas Maghrib para remaja mulai mempersiapkan segala alat dan bahan barbequean ke lahan kosong seberang rumah Mumtaz.
acara yang semula ucapan terima kasih Edel terhadap Mumtaz dan para sohibnya menjadi ajang perpisahan anak kelas 12 Binaku Bangsa ( BIBA ) yang juga dimeriahkan anak 11 dan anak 10, dan yang hadir tidak saja anak Binaku Bangsa, tetapi juga para remaja linkungan tempat tinggal Mumtaz
tawa dan canda meramaikan kebersamaan mereka. yang mengitari api unggun
geng Tia dan beberapa teman sekelas yang datang memantau sinis ke tiga perempuan yang datang, Bella, Maura, dan Indah
" itu kak Bara kok lengket bener sama si Maura." nilai Tia
" Lo gak tau kak Bara sama kak Maura kan mantanan." ucap Mayang
Cassandra menoleh cepat ke mayang. " serius?"
" mereka jalan satu setengah tahun. gak tau kenapa putus." lanjut Mayang
" mereka putus gak direstui orang tua kak Maura. padahal Kak Bara bucin banget." kali ini Amanda
" kok tahu?" tanya Sisilia yang merasa sedih melihat raut sendu Cassy.
" gue tetanggaan sama kak Maura. dulu tiap hari gue lihat kak Bara dirumah kak Maura. sekarang juga gue sering lihat kak Bara antar jemput kak Maura. Cassy, lo udahan sama kak Bara?" tanya Amanda
Cassandra diam termenung. kenapa kak Bara tidak jujur padanya. ketika Cassy memergoki mereka di kelas berdua sewaktu mencari kak Rizal kata kak Bara dia dan Maura hanya teman sekolah.
Cassy memandang kedekatan kak Bara dan kak Maura di sana bersama teman sekelasnya.
kak Bara menyuapi kak Maura, dan mengelap sudut bibir kak Maura.
sejak kedatangan kak Maura di acara ini praktis kak Bara mengacuhkannya. biasanya kak Bara akan mengutamakan Cassy meski mereka beda tempat, tapi saat ini bahkan melirik pun tidak.
" kabarnya promnight nanti kak Bara bareng kak Maura ." celoteh Amanda
Cassy tertegun, ketika Cassy bertanya dengan siapa kak Bara ke promnight, dia bilang gak bakal pergi karena sibuk.
" gosip Lo. kak Bara bilang sama gue kalo dia sibuk gak bakal datang ke promnight." ucap Cassy ragu.
" oh kalo itu gue gak tahu yang pasti kak Maura sendiri yang ngomong sama gue."
" lihat si Bella gak punya malu masih berani Dateng ke sini." sinis Tia. Cassy berusaha menetralkan kegalauan hatinya
" dari tadi gue lihat dia ngedeketin kak Mumtaz, tapi gak di notice sama kakak Lo." kali ini Gisel
" Lia, Lo harus sigap dan tanggap dampingi kakak gue. jangan sampe si Belek itu bisa Deket sama kakak gue. awas kalo Lo lengah." ancam Tia
" gue harus gimana?" tanya Sisilia
" ya pepetin teruslah kak Mumtaz nya." advice Gisel
" Lo pikir gue jablay." tolak Sisilia
" ya elah kagak gitu. kak Mumtaz juga gak nolak Setiap Lo deketin. dimana jablay nya coba." Dista mensugesti.
" gimana nanti." pasrah Sisilia.
" kok nanti, Lo gak lihat tu Belek dari tadi mesem kayak cacing kering. sekarang. Sono pergi." usir Tia.
" gue alasannya apa nyamperin ke tempat mereka. kucluk-kucluk gue datang terus nemplok kayak cicak disamping kak Mumtaz. dih ogah, tengsin gue." tolak Sisilia.
" minta makanannya aja Sil. gue laper banget." timpal Cassy yang disetujui teman-temannya dengan mengacungkan kedua jempol mereka.
" Sono pergi. kibarkan bendera perang, Lo
kalah, Lo berhadapan sama gue dan Ita." Tia memberi peringatan.
dengan terpaksa Sisilia menarik Cassy mendekati Mumtaz, daripada sohibnya ini galau mending dia bawa, dan dia lebih baik berhadapan sama Bella daripada sama Tia dan Dista. mereka berdua tu nenek buyutnya Mak lampir kalo udah marah
Kumpulan kelas 12 IPa 2
Mumtaz yang sedang memanggang daging menoleh kala ada yang menoel pinggangnya
" kak..." cicit Sisilia yang risih berada ditengah teman sekelas Mumtaz.
Mumtaz menghadap Sisilia " kenapa? pengen dagingnya?"
Sisilia menggeleng, tapi sedetik kemudian mengangguk. Mumtaz tersenyum melihat kegugupan Sisilia
" disuruh Tia kesini?" Mumtaz memastikan
" iya. kok tahu?" lagi, Sisilia mengangguk
" ya... pasti disuruh ngawasin kakak supaya Bella gak Deket kakak. kelihatan banget gak nyamannya kamu itu." Sisilia mengangguk
" hehehe...Cassy juga minta daging, laper dia." Sisilia melirik Cassy yang berwajah sendu.
" loh Bara belum ngasih?" Mumtaz menoleh ke Cassy.
Cassy menggelengkan kepala
" apaan dari tadi kak Bara lengket terus sama kak Maura. mereka mantanan kan?!" pancing Sisilia
" kurang tahu. udah jangan gosip. ini dagingnya." Mumtaz meniup-tiup daging yang sudah matang dan menyuapi Sisilia dan Cassy
sambil mengunyah mata Sisilia mengembara ke daging di atas panggangan
" kak yang itu mantep tuh." tunjuknya ke daging irisan besar yang terlihat empuk.
" itu punya Radit. kalo mau aku panggangin. kayaknya masih ada stok." Mumtaz menuju box es yang menyimpan persediaan daging mentah
" segini cukup?" Mumtaz mengangkat seiris daging besar. Sisilia mengangkat jari memberi simbol dua
" banyak amat neng." ledek Mumtaz.
" barengan sama mereka. lihat mereka kayak anak jalanan mengharap belas kasih orang." tunjuk Sisilia ke teman-teman nya yang memandang ngiler ke kakak kelas yang memanggang daging.
Mumtaz yang melihat itu tertawa.
" Ibnu, haikal sini. bantuin manggang buat anak ilang noh." tunjuk Mumtaz ke teman Sisilia.
Ibnu melihat mereka, menggeleng kepala
" kasian amat mereka. Bara belum ngasih Cassy?"
pandangan Ibnu beralih ke Bara yang sedang tertawa dan masih menyuapi Maura. Cassy memperhatikan mereka dengan wajah ditekuk
" si playboy ege. cari masalah sendiri."
" biar sih. kalo Cassy ninggalin dia, jangan bantu." kata Mumtaz.
" sini neng Cassy duduk di sini." Ibnu membawa kursi dan meja kecil untuk mereka
Bella terduduk lesu memperhatikan interaksi akrab antara Mumtaz dan Sisilia, tak ada jarak diantara mereka. Bella tahu dia sudah tidak punya harapan dengan Mumtaz, tapi melihat Mumtaz bersama perempuan lain masih menyakitkan baginya.
Dulu dia sadar dia adalah pusat perhatian Mumtaz, dan dia menyia-nyiakan itu. Bella menghapus air mata yang keluar tanpa bisa dicegah.
" Sisilia, panggil aja yang lain kesini. lihat mata sama mulut Tia gak berhenti ngelirik kesini dan ngedumel mulu." ujar Mumtaz
mata Sisilia berbinar " boleh?" Mumtaz mengangguk.
sewaktu Sisilia berbalik badan...
Mumtaz berucap " telpon aja. capek kalo kesana."
" gak bawa hp."
" ini." Mumtaz memberi ponselnya. Sisilia langsung menghubungi Tia.
" kak, mau gak photo berdua? Sisilia memintanya dengan suara pelan meragu sambil mengembalikan ponselnya seusai menelpon Tia.
" sini." Mumtaz menarik mendekat tangan Sisilia. mereka selfie lebih dari sekali dengan berbagai pose.
" suit..suit...official ni ceritanya." goda Mayang dan teman-temannya.
" iiihh Aa emang yang paling peka diseluruh dunia.rugibaja orang yang udah sia-siain Aa." sindir Tia sambil memeluk Mumtaz
Mumtaz terkekeh mengusap kepala Tia paham atas sindiran Tia untuk siapa
mereka langsung duduk memutari meja yang disediakan ibnu
" Woi. sini manggang enak bae duduk-duduk." ujar Haikal ke teman-teman Tia
ditengah keramaian dan kegembiraan para remaja itu ada dua insan yang terluka
Bella dengan segala penyesalan dan harapannya yang tak berujung terhadap Mumtaz.
Cassandra yang terhempas dengan kenyataan tidak hanya dia dihati kak Bara ketika dia sudah membuka hati untuk Bara.
tanpa sadar Cassy menangis tanpa suara. Ibnu yang menyadari itu duduk disamping Cassy dan memeluknya erat.
" dia yang menyesal. kamu pasti mendapatkan yang lebih baik." ucap tulus kak Ibnu
" kak, bisa minta tolong." ucap Cassy ditengah sesegukannya sedikit mengurai pelukannya.
__ADS_1
" apa?" Ibnu menghapus air mata Cassy di pipinya.
" cari tahu semua hal tentang Maura. please." Cassy menatap lurus manik Ibnu
Ibnu terdiam sesaat. lantas mengangguk " tentu. everything for you." kembali Ibnu memeluk Cassy yang mengeluarkan segala kesedihannya.
Mumtaz menatap lekat badan Cassy yang bergetar dalam pelukan Ibnu. dia beralih menatap Bara yang masih bahagia dengan Maura di sisinya.
" heh. Ibnu apaan Lo pake meluk Cassy. nikung Lo." ujar Jimmy keras sembari melangkah mendekati Ibnu.
Ibnu mendecak. " ck. ini ni ulah sepupu Lo noh." tunjuk Ibnu pake kepalanya kepada Bara
Jimmy melihat mereka, dan menggeleng kepala.
" kalo gini ceritanya gue dukung Lo Nu. maaf ya Cass, tinggalin aja dia. Ibnu berjuta kali lebih baik dari Bara." desis Jimmy
" bilang sama sepupu Lo kak kalo mau jadi fuckboy, kudu lulus jadi playboy profesional dulu." cela Amanda
" tenang Cas, gue bakal ngenalin Lo sama cowok bermilyar lebih keren dari si Bara b**o itu." kesal Dista
Ditengah hujatan temannya dan teman Mumtaz terhadap Bara, Cassy terus menatap kak Bara berharap Bara melihatnya meski hanya sekali, namun sampai lahir acara harapan itu musnah. Bara benar-benar tidak menganggap keberadaannya.
" kak, habis ini anter aku pulang ya." pinta Cassy
" loh katanya mau nginep. gak jadi?" tanya Ibnu. Cassy menggeleng
saking terlarut dalam kesedihannya Cassy tak menyadari Akbar berada di dekatnya. memperhatikan tangisan Cassy dalam diam.
****
kak Edel yang duduk di kursi santai bersama keluarga Hartadraja menonton euforia para remaja itu.
" ini kenapa jadi ajang perpisahan gini ya?" sangsi Edel.
" salah Lo dek. ngadain acara pasca pengumuman kelulusan." ucap kak Julia.
" lah eyke gak tahu. siapa sih yang undang mereka?" jengkel edel. tak ada yang menjawab.
" Bara, damagenya gak nanding ya mbak. kulit putih, hidung mancung, bibir tipis, rambut hitam legam, badan tinggi kekar, dada senderable. ya Allah perfecto... Mamamia lezatos." komentar Edel bablas angine.
" beda sama Mumtaz, maybe sekilas tampak biasa, tapi entah kenapa waktu ngelihat dia, mata gue tuh gak bisa ngacuhin dia." Edel terus berceloteh tanpa menggubris tatapan tajam kak Heru.
" sama." ucap mbak Nadya yang langsung mendapat delikan tajam dari kak Damar
" dari tadi mata aku tuh mantengin Mumtaz sama Bara terus. padahal, Rizal, Ubay, Daniel dan yang lainnya bening." Edel masih ngawur.
"hooh. Mumtaz tuh kulit coklat sawo bersih, mata hitam tajam, bibir tipis, hidung mancung, badan tinggi langsing meskipun badan tidak terlalu berotot kayaknya bukan produk gym, tapi mbak bisa lihat ototnya berada di tempat yang tepat. dagu belah apelnya itu yang jadi pelet dia kayaknya Del." mbak Nadya mengusap perut buncitnya.
" kenapa ngusap perut mbak?" tanya Julia.
" ya berharap sifat Mumtaz ada yang nempel ke si Dede." kak Damar melongo mendengar ucapan isterinya
" jangan kayak bapaknya. datar kayak aspal ya mbak." ledek Edel
" iya. cukup Akbar, tapi sekarang dia mending Lo kalo ngomong lebih dari tiga kata." beritahu mbak Julia.
" serius mbak.kayaknya enggak deh. kalo ke rumah masih diem-diem bae." ucap Julia
" Akbar sini!" panggil Edel ketika Akbar melewati mereka
" apaan?"
" itu mereka kamu yang undang?" tunjuknya pada para remaja yang sedang gembira
" enggak. mereka tau dari instastory Rizal. di sana Jimmy bilang kalau dia mau ngadain barbequean di sini." Akbar mengambil duduk disebelah mamanya.
" kamu akrab sama Mumtaz?" tanya mama Nadya.
Akbar mengedikan bahunya " biasa aja."
" itu kamu duduk bareng geng dia?" penasaran Tante Edel.
" cuma duduk doang. tempat yang lain udah penuh."
" sama Bara?"
" Tante kenapa dah penasaran banget?"
" Tante perhatiin kamu hebat aja kalo Deket Bara. gila dari tadi ngeliatin dia Tante gak bisa nolak kalo damage dia gak ada yang ngalahin." kagum Edel tak berhenti.
sang suami yang duduk disampinya mulai jengah
" iyalah pasti, tapi kenapa dia bisa suka sama Cassy kayak donat gitu ya?"nalar Edel.
plak!
Kaka Julia menggeplak bahu Edel
" emang anak gue kenapa Del? dia cantik"
" dih sewot. siapa yang bilang Cassy jelek, tapi liat si cassy hidung pesek badan dari atas sampe bawah melar, pipi bakpau anget, tembem banget."
" eh itu bukan melar, tapi semok. itu wajarlah untuk ukuran kelas sepuluh, hidung meski gak kayak seluncuran tapi masih terbilang mancung ya, pipi bulat itu ngegemesin. iya kan Bar?" sewot kak Julia.
" iyain aja biar adem." jawab Akbar.
Tante Julia mendelik " kamu juga mau bilang Cassy jelek?" kesal tante Julia yang memukul lengan Akbar.
" gak ada yah Akbar bilang gitu Tan, tapi Akbar gak pernah menilai Cassy sebagai gadis, kan geli sendiri." bela Akbar.
" nilai plusnya dia dijuluki legenda tarung. untung kamu kak. gak bakal ada yang berani ganggu cassy." lanjut Edel.
" Bara dapet julukan itu karena Mumtaz bukan anak geng dan gak suka tawuran." ujar Akbar yang menarik perhatian dari yang lainnya
" Tante tahu kenapa dia kemarin masuk rumah sakit?" tanya Akbar mendapat gelengan dari yang lain
" itu karena dia nolongin cewek yang diganggu preman. Mumtaz berkelahi lawan 70 sampe 80an orang." jelas Akbar. membuat yang lain ternganga kaget
" sendirian?" tanya om Heru.
Akbar mengangguk.
" boong. kamu berlebihan kak." sangsi mama Nadya
" itu laporan dari drone-nya Daniel. di sana dapat diketahui siapa dan berapa jumlah orang yang ngeroyok. dan mereka semua sesudahnya dieksekusi oleh Bara dan geng komplotannya."
" Tante juga denger kalo dia yang gagalin penyerangan anak Bina Bangsa ke sekolah kita. waktu itu, bener?" tanya Tante Julia.
" Tante gak liat cctv di depan gerbang?"
" belum sempet. gimana ceritanya?"
" waktu itu waktu pulang sekolah depan sekolah udah diblokir sama mereka, sampe anak-anak gak bisa keluar. entah dari mana tiba-tiba Mumtaz maju, dia shalat ashar di antar kita sama mereka. mereka dipimpin Brian saingan Bara dalam dunia geng. gak lama Mumtaz men T.K.O Brian. beberapa bulan Brian dirawat dirumah sakit. bahkan sekarang setau Akbar mereka temenan."
" HAH. kok bisa?" heran papa Damar
" itu mah biasa. berdasarkan cerita anak-anak, dia banyak bantu anak geng yang dikeroyok geng lainnya. tau kan prinsip geng. siapa yang menolong kita, itu saudara kita."
" terus dia masuk geng mana?" tanya om Damian.
" gak ada. dia bantu siapa yang dikeroyok dijalan. jadi bantuan random gitu. dia sendiri gak tau yang dia bantu anak geng atau bukan, biasanya gengnya nyari dia terus temenan." terang Akbar
" Akbar aja baru tahu kemarin dia deket sama Bara. kalo disekolah mereka gak pernah saling sapa. baru-baru ini doang sering makan bareng di kantin."
" nah kan dia banyak nolong geng. itu gengnya gak rebutan dia?"
Akbar mengedikan bahu.
" setau Akbar justru mereka saling berteman di bawah komando Bara. makanya pas kemarin Mumtaz dikeroyok, para geng itu bersatu nyerang balik dan ngasih pembalasan."
" dia terluka kenapa?" tanya Tante Edel
" itu cewek yang ditolongnya bego. disuruh sembunyi malah keluar dari persembunyian sok nyari pertolongan. mereka ngejar cewek itu ya mau gak mau Mumtaz mengejar cewek itu terus lengah. sekujur punggungnya disayat pake pedang."
keluarga Hartadraja meringis ngilu
" serius?" Edel mengusap-usap perutnya karena ngilu.
" kalo gak percaya panggil aja dia. akbar udah liat bekasnya panjang diagonal gitu."
Edel melirik Mumtaz yang duduk menjorok belakang bersampingan dengan Sisilia diantara teman-temannya
" Mumtaz, Mumtaz sini" teriak kak Edel memanggilnya. sedangkan yang lain melongo
Mumtaz menoleh dan menghampiri kak Edel.
" ada apa kak?"
" kamu tahu kan kakak lagi hamil," Mumtaz mengangguk.
"kakak kayaknya lagi ngidam." keluarga Hartadraja diam memperhatikan seksama drama Edel
__ADS_1
" terus." kata mumtaz
" itu... kamu juga tau kan kalo ngidam tuh Harus diturutin, kalo enggak entar katanya debaynya bakal..."
" intinya kak." potong Mumtaz. dia mendapat firasat tidak enak.
" gini... si debay pengen liat bekasan luka kamu itu." cicit ragu Edel.
Mumtaz melongo mendengar ucapan Kak Edel.
" aku balik ke temenku ya kak." tolak halus Mumtaz
kala Mumtaz membalikan tubuhnya
" kamu tega Mum kalo anak kakak..." terdengar helaan nafas berat.
Mumtaz berbalik kembali ke tempat kak Edel
" tapi jangan lama-lama. sedetik ya."
" semenit." tawar Edel.
" Lima belas detik." nego Mumtaz
" deal." mereka bersalaman
Mumtaz membelakangi kak Edel. dia membuka kaos bagian belakangnya dan memperlihatkan bekas sayatan pedang itu.
keluarga Hartadraja membulatkan matanya ngeri memandang apa yang dilihatnya. luka sayatan sepanjang punggung yang masih segar.
" ini bakal ilang gak bekasnya." lirih Kak Edel.
Mumtaz menutup kaosnya. " gak tahu. tapi Jimmy lagi usahain cari dokter buat ngilangin bekasnya."
" kamu gak apa-apa?" tanya pelan tante Julia.
" gak apa-apa Bu."
" pasti sakit banget ya." pertanyaan bodoh. Heru memandang istrinya gemas.
" kakak pengen tahu? saya sayatin sedikit tangannya pake pisau ya." canda Mumtaz
Edel refleks menarik tangannya, Heru menangkup tangan Edel dengan kedua tangannya menyembunyikannya memandang horor Mumtaz.
" aku balik ke mereka dulu ya." Mumtaz berlari gabung balik ke temannya.
" ini kenapa pada natapin Mumtaz?" ucap Zahra yang datang bersama Hito dari arah rumahnya.
" kok baru gabung?" tanya Edel.
" bantu mama sama Tante Dewi bikin minuman dulu." Zahra mengambil tempat dekat Hito yang duduk disamping kak Damian
" kak tadi habis berapa belanja dua kali balik loh." tanya Edel kepada kak Hito
" kakak gak usah khawatir. ini semua Atma Madina yang traktir." Zahra mengangkat kartu hitam milik Bara dari kantong celana panjangnya.
" bagus Ra. gak percuma jadi orang jenius." kak Julia mengangkat jempolnya.
dia marah melihat perbuatan Bara terhadap anaknya malam ini
****
Acara ditutup pukul sebelas. saat ini tinggal beberapa remaja saja yang masih ngobrol di teras rumah Mumtaz
" Bara, Lo balikan sama Maura?" tanya Rizal
" kalo iya, Cassy buat gue ya." Ubay berceletuk
Bara dalam sekejam menatap marah ke Ubay. Ubay hanya mengajar dua jari membentuk V
" kenapa lo pada ngomong gitu? perasaan gue sama Cassy baik-baik aja." ucap Bara
plak!
Jimmy memukul kepala Bara
" lo sadar semalaman ini Lo duduk bareng siapa?. Lo kalo mau balikan sama Maura, tinggalin Cassy baik-baik." ketus Jimmy.
Bara tertegun. dia tidak sadar selama acara dia mengacuhkan Cassy, bahkan tidak peduli.
" Lo tahu Cassy sekarang dimana?" sinis Jimmy.
" ya tidurlah di kamar Tia. ini gue masih di sini karena gue masih peduli sama Cassy, tadi Maura minta gue anter balik, tapi gue tolak, karena gue inget Cassy nginep." Bara berasumsi
Dari dalam terdengar seseorang turun dari tangga Daniel memanggil Tia yang berdiri dibawah tangga
" beb, Cassy ada gak?" Daniel melirik Bara
Tia menatap sinis Bara
" gak ada. pulang dia gak jadi nginep." tia menghampiri mereka
Bara terkaget " serius Lo? bukannya dia nginep?"
" ngapain Lo tanya dia? udah inget ada makhluk bernama Cassandra?" sindir Tia.
" Lo kenapa dah sinis sama gue?" Bara mulai emosi
" Lo yang kenapa, ngaku calon laki cassy, tapi Cassy kelaparan yang disuapin cewek lain. untung ada Ibnu. emang kang Ibnu tuh ter the best." sewot Tia.
" gue udah kesel ya sama Lo. Lo beberapa hari ini gak ada hubungi Cassy yang biasanya telpon dia mulu. ini toh jawabnya. Lo balikan sama ***** Maura." PEDAS
" eh Lo jangan nuduh ya."
" eh Lo yang jangan fuckboy ke teman gue. kita beberapa kali mergokin Lo berdua Maura padadahal pas Cassy tanya Lo bilang lagi sibuk. cih eksmud labil Lo." tantang Tia
" Lo pikir hanya karena Lo legenda tarung kita gak berani sama Lo. asal lo tahu malem ini Lo udah bikin Cassy nangis sejadi-jadinya. padahal dia mulai berpikir buka hati sama Lo, tapi apa Lo sama dengan cowok brengsek lainnya." marah Tia.
" hati-hati Lo kalo ngomong." Bara sudah meninggikan intonasi suaranya.
" Lo yang hati-hati. apa Lo pikir kita bakal diem aja lihat lo mainin Cassy? Lo gak tau apa yang si jalang Maura perbuat sama Cassy." bentak Tia sambil menangis
" malem ini Lo bikin dia kelaparan, Lo paling tahu kalo dia suka banget daging, ketika dia berharap Lo anterin dia daging, tapi apa? yang ada Lo suapin si jalang Maura sementara Cassy nontonin kemesraan kalian dengan kelaparan." Tia benar-benar marah
Bara tertegun lama. berputar kembali kejadian acara tadi dimana seluruh perhatian dia curahkan kepada Maura dan melupakan Cassandra
Bara mengusap kasar wajahnya. tolol sekali dia tergoda pada rengekan manja Maura.
" sekarang dimana Cassy?" tanya lesu Bara
" mau apa Lo? jangan peduliin dia lagi. jangan Lo samain dia sama jalang Maura." sinis Tia
" stop panggil Maura jalang, Maura bukan jalang." bentak Bara marah. dia sampai berdiri ketika mengucapkan itu.
Mumtaz langsung berdiri di depan tubuh Tia dan menyuruhnya masuk rumah
" gue gak peduli apa yang Lo pikirin, tapi gue kasih peringatan sama Lo, Cassy udah gue anggep adik gue, dan Lo tahu apa yang gue lakuin ke orang yang lukain keluarga gue." ancam Mumtaz menatap menusuk langsung ke Bara
semua orang berpikir tak ada yang berani mendekati Bara ketika marah, tapi itu salah ketika bara marah Jimmy, dan Mumtaz yang akan menanganinya, tapi ketika Mumtaz marah, tak ada yang berani mendekatinya.
" gue peringatin Lo Bar, Lo balik sama Maura, gue ambil alih Atma Madina corp." tegas jimmy
" apaan sih Lo sampe segitunya. gue gak sengaja cuekin Cassy." bela Bara
" ini bukan hanya tentang Cassy, gue tahu tentang Maura melebihi yang Lo tahu. kalo Lo pikir cuma Lo yang ngawasin orang-orang terdekat gue, Lo salah. gue juga mengawasi siapa saja orang-orang terdekat Lo." ucap tajam Jimmy
" gue gak ngasih tahu Lo tentang Maura, karena gue pengen tahu seberapa baik Lo pake otak lo. hanya karena selama ini Lo pegang semua bisnis lo pikir bisa seenaknya, NO WAY."
" mereka, para kompetitor kita lihat Lo hebat hanya karena mereka tahu Lo pegang pengamanan perusahaan terbaik, tapi gue ingetin RaHasiYa bukan milik Atma Madina." desis Jimmy
" kalo Lo sayang Masa depan Lo, sebaiknya Lo lepas Maura sekarang. itu peringatan dari seseorang Alfaska Atma Madina." tukas Jimmy.
Bara kembali tertegun. sepupunya belum pernah memperingatkan dia dengan serius sebagai Alfaska. kini dia paham situasi ini bukan hanya tentang cinta alay ala remaja, tapi lebih dari itu. MAURA...dia harus mencari tahu tentangnya.
Bara kembali terduduk di kursinya
" hei kenapa kalian pada diem bae." Ibnu baru datang dari mengantar Cassy
" darimana Lo Nu?" sinis Bara
" nganter calon mama anak-anak gue." sindir Ibnu.
" gak nyangka gue Cassy lucu abis. gak Jaim di depan cogan. tadi dia makan pecel ayam pake nasi uduk abis tiga porsi. keren gak tuh cewek." masih menyindir Bara
" Lo lihatin dia makan doang?" tanya Rizal
" ya kagak lah. Cassy suapin gue. berasa berbini gue. andai gue punya modal buat nikahin seorang hartadraja.langsung gue ijab-qabulin dia." Ibnu cuek mendapat tajam memusuhi dari Bara.
" ni surat dari mantan calon mertua lo." Ibnu melempar secarik surat ke Bara
Saya sudah lihat tangisan Puteri saya karena perbuatan kamu. jauhi dia. dia pantas diperlakukan lebih baik dari ini.....
__ADS_1