Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 56 Gadis ku


__ADS_3

Daniel menelpon Bara berkali-kali yang tidak diangkatnya, Dia bergerak cepat menuruni tangga bagai di kejar tsunami.rasa khawatir akan Jimmy memenuhi isi kepalanya.


" Bunda, ayah. Aniel pergi dulu " Daniel berlari melewati ayah, Ayu, dan bunda yang terbengong di ruang keluarga melihat kelakuannya. Bahkan Daniel lupa menyalami kedua orang tuanya.


" Ma, Aa pergi dulu." Mumtaz melesat melewati orang-orang yang duduk di ruang tamu sambil membetulkan letak jakenya.


" Itu, tadi Aa Mumuy, atau khadamnya?" Monolog Tia.


Ibnu tanpa basa-basi langsung mengeluarkan motor dari dalam rumah, melempar kunci rumah kepada Yuda yang kebetulan sedang bermain di rumah Ibnu.


" Gue titip rumah." Dan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi


Sementara di rumah, Jimmy dengan langkah besar tatapan membunuh, mata memerah menarik kasar kerah  belakang Adinda, menyeretnya, dan melempar dia ke luar teras rumah hingga terjengkang. Mengacuhkan segala teriakan dan jeritan dari dua wanita paruh baya.


Jimmy kembali kedalam rumah, dia menatap tajam nan menusuk ke arah wanita paruh baya yang masih berteriak di depan wajah Jimmy dengan segala kemurkaannya.


Plak!!!


Jimmy menampar keras wanita itu untuk menghentikan segala ocehan wanita itu, seperti nasib anaknya wanita itu diseret dan di hempaskan keluar teras rumah hingga mencium tanah halaman.


" Aku bersumpah di hari dimana kalian menginjakan kaki di rumah ini lagi, saat itu juga kalian hancur." Murka Jimmy di hadapan diu wanita beda usia itu.


" PERGI!!! "


Bara dengan nafas tersengal-sengal akibat bangun tidur mendadak karena terkejut mendapati kabar dari Daniel melangkah mendekati Jimmy dengan tatapan menghunus dua wanita tersebut.


Masih terdengar sumpah serapah keluar dari mulut Celine Miranda meski sedang kesusahan berdiri, membuat kesal Bara.


Bara mendekati wanita itu, dia cekik lehernya sampai wanita itu terdiam memekik


" Diam, dan keluar dari rumah ini selagi kalian bisa." Bara melepas cekikannya dengan mendorong Celine sehingga tubuh besarnya menabrak tubuh mungil Adinda yang menggigil ketakutan.


" Dengar, kalian salah memilih musuh. Kami keluarga Aloya akan kembali dengan membawa pengantin wanita." teriak angkuhnya, mereka keluar dengan berjalan terseok-seok.


Mami yang tak henti menangis dan marah bergerak berontak dari kungkungan papi yang akhirnya melepaskannya setelah dua wanita itu pergi.


Plak!!!! Plak!!!!


Mami menampar keras wajah Jimmy dan Bara.


Mami marah " apa hak kalian mengusir calon besan pilihan mami."


Tatapan mami dialihkan ke para sahabat yang berdiri mematung di teras rumah.


Plak!!!


Mami menampar Mumtaz sekuat tenaga yang membuat para sahabat terhenyak kaget.


" Jauhi anakku, kau dan keluarga mu yang miskin itu biang keladi kehancuran keluargaku." Teriak mami di depan wajah Mumtaz.


Papi yang mendengar cacian mami menarik paksa tubuh mami yang berontak marah dan memasukannya ke kamar tidur mereka.


Jimmy dan Bara menatap penuh sesal kepada Mumtaz yang menghapus darah di ujung bibirnya membalas tatapan mereka dengan tenang tanpa rasa marah.


" Kita lanjut ke rumah Akbar, tuntaskan urusan ini yang gue rasa terlalu lama tertunda." Ujar Mumtaz santai.


Papi kembali menghampiri mereka meraup pipi Mumtaz dengan tatapan sesal dan memohon ampunan


Mumtaz menggeleng " its okey, jaga mami biar kami urus Aloya." Mumtaz mencium tangan papi, papi mencium kening Mumtaz lama, dan memeluknya erat.


" Tolong jaga Alfa dan Bara." Pinta papi, Mumtaz mengangguk tegas " tentu."


Kemudian beralih kepada Jimmy,


" Jangan memikirkan mami, biar itu jadi urusan papi. Lakukan apa yang harus kamu lakukan." Papi mencium kening putranya lama dan dalam, " papi sayang dan dukung kamu." Kemudian memeluknya erat.


" Assalamu'alaikum." Salam mereka.


" Wa, alaikumsalam." jawab papi


****


Kini mereka berada di gudang rumah Damar Atma Madina


Mengorek dan mengumpulkan segala benda berkaitan dengan Tanura.


"Bar, Lo pesan makanan deh, Sumpah gue laper banget." Rengek Jimmy.


" Kayaknya mama udah pesan." Kata Akbar.


" Ini kayaknya udah semua deh, kita bawa kedalam aja." Ucap Daniel.


" Perasaan, gue yang tuan rumah, kenapa mereka yang memutuskan." Monolog akbar ke diri sendiri.


" Lupakan ini rumah Lo selama ada Jimmy dan Daniel." Ujar Ibnu menepuk pundak Akbar mengasihani.


Dengan kaca pembesar dan sarung tangan, mereka meneliti segala benda Tanura yang terkumpul, mencari apa yang bisa dimanfaatkan.


" Alhamdulillah, akhirnya ada." Ucap Ibnu yang mengangkat plastik kecil berisi sisir yang ternyata terdapat rambut Tanura."


Bara menelpon seseorang, dan tak lama mengakhirinya.


" Nanti Bayu akan datang untuk membawa rambut itu ke lab."


" Bar, gue numpang mandi ya, lengket. Sekalian pinjem baju." Ucap Bara beranjak menuju kamar Akbar.


Ibnu: idem (1)


Daniel: idem (2)


Jimmy: idem (3)


Akbar menghela nafas lelah menghadapi para temannya meski belum satu jam berada di rumahnya.


" Kalian mandi di kamar mandi lain, tanya aja ke mbak di bawah." Ujar Akbar sambil membagikan masing-masing satu stel pakaiannya.


Setelah menyelesaikan segala urusan perihal DNA Tanura, mereka berkumpul di ruang keluarga yang ternyata juga terdapat Adgar yang sedang bermain dengan crystal, adik Akbar yang berusia tiga tahun. 


" Udah beres semua?" Tanya papa Damar.


" Alhamdulillah." Jawab Akbar


Di hadapan mereka terdapat tiga kotak jumbo pizza yang berhasil mereka tandaskan dalam waktu tiga puluh menit.

__ADS_1


" Bar, Adik Lo cantik benar, kulitnya lembut perawatan dimakan? Gue bakal suruh Tia perawatan di sana." Ucap ngawur Jimmy.


Mama Nadya tertawa gemas atas ocehan remeh Jimmy.


" Nu, daripada Lo ngegantung mulu sama Ayu, mending sama si crystal, imut banget."


Adgar mendelik sengit ke arah Jimmy, " jangan ngada-ngada,bang. Si Ical masih bayi." Judes Adgar sambil memeluk crystal erat seakan takut ada yang merebutnya


" Lah, kenapa lo yang posesif, Akbar aja yang abangnya santai?" Ucap Jimmy.


"Jangan bilang Lo demen sama adik sepupu Lo.Gar." tuduh Daniel yang berhasil membuat Adgar gelagapan.


" Mana ada, dia masih balita. Udahlah gabut banget Lo pada ngomongin ini." Pungkas Adgar marah yang beranjak meninggalkan ruang keluarga.


" Lah, kenapa dia marah beneran!!!pms atau memang dia suka beneran sama adik Lo, Bar." Heran Daniel.


Akbar menatap punggung Adgar penuh curiga kerana keposesifan Adgar terhadap adik kecilnya selama ini yang tak wajar, sedangkan papa dan mama menanggapi secara santai.


Tiga jam mereka di rumah Akbar yang terkesan asri.


****


Di teras rumah, mereka bersantai seusai membantu mama merapikan taman kecilnya.


" Jadi, beneran gak apa-apa resepsinya sederhana saja?" Mama meragu. Pasalnya impian Tia adalah menikah dengan resepsi megah ala Disneyland, tetapi dengan tiba-tiba Tia memutuskan resepsi sederhana hanya keluarga, tetangga, dan kolega terdekat.


" Iya, Tia pikir waktunya terlalu mepet untuk mengadakan resepsi mewah, takutnya gak maksimal nanti kecewa." Alibi Tia memasang wajah santai.


Mama menatap para sahabat mencari informasi tersembunyi, namun nihil. Para sahabat memasang wajah polos.


Menghela nafas berat " baiklah kalau itu keputusan kalian." Pungkas mama.


***


Mereka berkumpul di lantai tujuh menganalisa kembali penemuan bukti mereka tentang Tanura dan Tamara.


Hari ini Mumtaz tak banyak bicara hanya tangan yang sedari tadi sibuk dengan gadget tatapan tatapan fokusnya.


" Jim, Lo gak jadi nganter Tia ke WO? Tanya Mumtaz.


Jimmy menepuk jidatnya, dia berlari terbirit-birit meninggalkan gedung sambil menelpon yang sepertinya tidak diangkat karena segala gerutuan keluar dari mulutnya yang lemes itu.


****


" Ya Allah, kenapa sih hanya UTS tegangnya minta ampun." Gerutu Dista menjatuhkan kepalanya di atas meja.


" Sumpah, hanya mengganti nama dari UTS ke semester dampaknya gede banget." Sungut Cassandra


" Ini lagi para dengki masih aja bahas Sisilia pelakor, beraninya pas kak Mumtaz dan para sahabatnya gak ada di kampus. Keluar Lo, pengecut." Tantang Dista ke sekitaran orang yang dikantin yang kicep karena amarahnya.


Memang sejak penolakan Mumtaz ke Riana di parkiran, Divanya membuat team memuluskan misi memfitnah Sisilia yang menjadi pelakor Diantara Riana dan Mumtaz.


Mereka memanfaatkan pasifnya Mumtaz dan para sahabat di sosmed kampus, sedangkan di kampus rumor di sebar jika Mumtaz tidak ada di kampus.


Jika Mumtaz di kampus, ocehan fitnah itu pudar tak membekas. Mumtaz dan para sahabat yang tidak menaruh perhatian terhadap hak yang tidak penting tidak mengetahui tumor itu.


Hari ini meski ujian, Mumtaz dan para sahabat tidak masuk mereka melakukan ujian lewat daring di sebabkan harus mengadakan pertemuan dengan top 10 Indonesia, maka santer lah fitnahan itu membuat Sisilia tidak nyaman.


Hanya mereka yang tahu kisah Mumtaz dan Sisilia yang membantah jika rumor itu beredar, namun tak mampu membendung derasnya rumor itu.


Sisilia duduk dengan resah dan tak nyaman karena mendapat tatapan menghina dari penghuni kantin lain, namun melabrak langsung pun tak berani karena dia dilindungi Abra Atma madina. Dia berusaha tidak menunduk mengingat Mumtaz tidak akan suka.


Klub pers sedang mengudara lewat radio yang tersebar di seantero kampus memberikan informasi dari hal receh sampai penting.


" Baiklah Kembali dengan Divanya dengan obrolan santainya, saat ini kami menghadirkan bintang tamu Riana Husain, yang menjadi bahan pembicaraan masyarakat kampus tentang kandasnya percintaannya dengan Mumtaz, anak arsitektur karena wanita idaman lain yaitu Sisilia, anak farmasi." Ucap frontal sang pembawa acara.


" Demi apa pun kalau isinya fitnahan, gue bakal mengajukan tuntutan ke klub pers." ancam Dista.


Kasak-kusuk ramai di kantin dengan menatap Sisilia yang menahan menangis.


" Jadi, Riana. Coba Lo cerita awal kandasnya hubungan Lo?"


" Jadi, awalnya hubungan gue dengan mumtaz itu baik-baik saja sebelum..."


Suasana kantin yang semula ramai mendadak hening kala tiba-tiba Mumtaz dan para sahabat memasuki kantin dengan pakaian kerja ala eksekutif muda.


Mumtaz yang berpenampilan dengan jas biru tua dengan kemeja navy blue, dasi dan celana bahan berwarna senada jas, rambut tersisir rapih refleks mengecup puncak kepala Tia dan Sisilia sebelum duduk di samping Sisilia.


Sisilia terperanjat kaget hingga memekik, Mumtaz tertawa kecil mendapati reaksi kekasihnya yang menurutnya berlebihan.


Tiba-tiba keningnya mengernyit kala menyadari suatu keanehan, yaitu heningnya kantin dengan aura menegangkan kecuali suara dari radio kampus. Mumtaz memfokuskan pendengarannya.


" Jadi karena Sisilia ini hubungan Lo dan Mumtaz kandas? Tanya Divanya.


" Iya, gue udah berusaha menjaga hubungan ini selama tiga tahun, tapi Sisilia dengan tidak tahu malunya...."


Raut Mumtaz menegang dan memerah menahan amarah, dia berdiri." Tutup semua akses keluar-masuk kantin dan kampus." Ujarnya kepada Ibnu, dan beranjak pergi meski sebelumnya mencium tangan Sisilia dalam " nanti kita bicara." Bisik nya di hadapan ratusan pasang mata.


Ibnu mengeluarkan laptop dan menghubungkan ke pusat kontrol teknologi kampus. Ketika Mumtaz keluar kantin, pintu kantin dan kampus terkunci otomatis.


Kedatangan mendadak Mumtaz ke klub pers dengan pakaian formal dan rapih dengan tatapan menusuk memberi aura mengintimidasi kuat ke siapa saja yang berada dia sana, hingga setiap orang diam tak mampu mencegah kala Mumtaz memasuki ruangan siaran dan membuka pintu dengan kasar.


Divanya dan orang-orang yang sedang bertugas tersentak kaget dengan suara keras pintu dibuka.


Melihat siapa yang berdiri diambang pintu Divanya dan Riana seketika kaget dan takut. mereka tidak menyangka akan kedatangan Mumtaz, setahu mereka hari ini mumtaz tidak akan masuk kampus karena kesibukannya yang lain.


Mumtaz dengan langkah tenang melangkah memutari ruangan, duduk di kursi kosong tak jauh dari Riana.


Dia memasang headphone dan menatap tajam Divanya.


Mumtaz benar-benar mengacuhkan keberadaan Riana bagai makhluk tak kasat mata.


"Gue Mumtaz, seharusnya kalian menghadirkan dua orang yang terkait. Apa yang ingin Lo tanyakan mengenai hubungan gue dengan Sisilia?"


Dibawah tatapan Mumtaz Divanya gugup, dia membasahi bibirnya gusar. Radio berhenti bersuara, hingga operator harus menegurnya.


" Eh,...ta...tadi ka...kami" Divanya gugup karena takut. " Kami...sedang membahas hubungan kalian berdua." Jawab ambigu Divanya.


" Hubungan apa yang Lo maksud?"


Divanya melirik ke setiap orang meminta pertolongan, tapi nihil. Mereka pun tak sanggup bersuara.


" Eh,...ka...kata Riana kalian memilki hubungan istimewa..."

__ADS_1


" Yaitu?..." Sela Mumtaz karena Divanya tak melanjutkan omongannnya.


Divanya menatap Riana meminta pertolongan dimana orang yang di tatapnya mematung dengan wajah pucat pasi.


" Mumtaz...," Riana membuka suara dengan lirih berharap mumtaz bersimpati padanya.


Mumtaz bergeming " yaitu?...gue masih menunggu kelanjutan omongan Lo." Suara tajam Mumtaz tak dipungkiri membuat efek badan merinding ketakutan.


" Mumtaz,..." Lagi, Riana mencoba mengalihkan perhatian Mumtaz.


" Yaitu?..." Lagi, Mumtaz tetap bergeming.


Divanya pasrah, dia tahu tak ada jalan keluar. " Kata Riana, kalian menjalin cinta, namun kandas karena Sisilia sebagai pihak ketiga. Apa itu benar?"


" Lo, temannya dia bukan? Apa Lo pernah lihat kita pergi berdua?" Tanya balik Mumtaz.


" Tidak, tapi gue pernah lihat  Lo boncengan dengan Riana." Divanya menggali kuburannya sendiri.


Mumtaz tertawa yang terdengar seram " maksud Lo boncengan yang dia minta antar pulang, tapi gue hanya mengantar sampai mall terdekat, dan meninggalkannya di sana?, Lo tahu pasti hal itu, karena Lo di sana dalam mobil Inova hitam." Divanya terbelalak kaget Mumtaz mengetahui hal itu


" Dengar, pastikan ini menyala?" Mumtaz menatap combo operator yang mengangguk cepat.


" Gue, Mumtaz. Tidak pernah tertarik sedikit pun dengan teman Lo Riana Husain. Sejak SMA gue sayang Sisilia Pradapta, gue pikir gue sudah mengungkapkan ini di group bukan? Gue cinta Sisilia."


" Kalau Riana suka gue, itu bukan urusan gue. Hentikan sekarang juga karena dirasa mengganggu khususnya bagi kekasih gue. Segala omong kosong tadi hanya halusinasi Riana, faktanya Sisilia gadis pilihan gue sejak lama." ucap tegas Mumtaz.


" Lo, Divanya. Orang yang menembak Daniel Birawa, anak sains dan teknologi saat di Pema dua tahun, tapi ditolak. Dan sekarang Lo dan teman-teman Lo menyebar hoax tentang Dista yang memaksa Daniel pacaran. Kalau sudah di tolak terima jangan memfitnah, gak elit sekali tingkah Lo." Dista gelagapan, para rekan di klub pers menatap Dista bertanya. 


Para pendengar terhenyak dengan serangan balik Mumtaz sekaligus mengklarifikasi tentang Daniel dengan Dista.


" Daniel dan Dista sudah tunangan, dan yang melamar adalah Daniel. Gue dan Sisilia coming soon." Pungkas Mumtaz.


Mumtaz melepas headphonenya dan beranjak pergi, namun dicegah oleh Riana.


" Mumtaz. Tolong kalian pergi, gue pengen bicara empat mata dengan Mumtaz." Ucap Riana percaya diri.


Ketika ruangan tinggal mereka berdua, Riana melangkah mendekati Mumtaz,


" Apa kamu harus melakukan ini? kamu mempermalukan aku." Ucap Riana mencoba membangun simpati.


" Tiga tahun aku suka kamu, memberi perhatian kamu, mengejar kamu. Apa itu tidak bisa kamu pertimbangkan?, Aku suka kamu." Lirih Riana.


" Bukan urusan gue." Ucap dingin Mumtaz, saat hendak berbalik badan,


Riana yang diacuhkan Mumtaz, naik pitam " kalau kamu tidak suka aku,, kenapa kamu memberi harapan padaku?"


Mumtaz berhenti melangkah, " Kapan?"


" Kau menolong aku membawa barang bawaan ku, kau mengantar ku, kau duduk di kursi yang sudah aku siapkan."


 Menghela nafas jengah" Perihal menolong Lo, Lo tanya anak perempuan BEM lainnya, mereka pasti akan menjawab mereka juga gue tolong. Mengantar Lo, gue nganter Lo hanya asas kemanusiaan. Lo bisa  tanya ke cindy, Rida, Tika atau yang lainnya, gue juga pernah anter mereka sampai rumah jika itu searah. Duduk di kursi, cuma di situ tempat yang kosong. Jelas!!!" Jawab Mumtaz sadis


" Kamu menerima bekal makan siang yang selalu aku buat untuk kamu."


" Gue gak enak menolaknya, berkali-kali gue bilang ke elo untuk berhenti memberi gua makan siang. Satu catatan; bekal Lo dimakan bersama yang lain, bahkan mereka yang menghabiskannya." 


Mumtaz melanjutkan langkahnya meninggalkan klub pers diikuti Riana yang masih tidak terima dipermalukan. Tanpa mereka sadari obrolan mereka tersiar ke penjuru kampus, audio ruangan siaran masih menyala.


Peristiwa tadi menjadi heboh, dan menjadi santapan para gosiper, gibaher. Tak peduli sang pemeran masih ada di tempat.


" Perhatian, dalam waktu tiga menit gue ingin kalian krim nama yang menjadi sumber gosip ini ke wa BEM universitas. Jika tidak, maka kalian dan keluarga kalian yang kena akibatnya." Ucap Bara.


Seketika mereka sibuk dengan ponsel masing-masing, beberapa orang yang terlibat penyebaran berita pias bergetar ketakutan.


Ibnu, dari kejauhan melihat Mumtaz menuju kantin, dia buka pintu kantin kala Mumtaz sudah di depan pintu.


Sesampainya di meja Sisilia, Mumtaz menekuk kakinya dengan menumpu satu kaki di hadapan Sisilia mengusap pipinya " semua sudah beres, selesai. Kita pulang?" Sisilia mengangguk dengan menggigit bibir bawahnya.


Mumtaz mengenggam tangan Sisilia menarik lembut agar mengikutinya.


Saat berjalan berdampingan di halaman luas antar gedung, ada seseorang memanggil


" Mumtaz," panggil Riana berteriak menarik perhatian mahasiswa yang memenuhi kampus karena tidak bisa keluar.


Rektor tidak berdaya akan fenomena pintu tertutup rapat kala mendapat telpon dari Bara Atma Madina bahwa dia yang memerintah pintu dikunci otomatis.


" Kamu tidak bisa memperlakukan aku begini." Teriaknya.


Alih-alih memperhatikan kelakuan Riana, Mumtaz berbalik menghadap Sisilia, memakaikan Sisilia aerphone yang memainkan lagu cinta. Tindakan romantis Mumtaz ke Sisilia banyak yang merekam dengan ponsel mereka masing-masing. sebenarnya para gosiper secara tersembunyi merekam dan memotret mereka sejak di kantin.


Sedang bagi Riana tindakan itu memicu amarahnya.


" Kamu mempermalukan aku, kamu tidak bisa menapik segala perhatianku hanya karena dia."  Riana menunjuk sisilia geram.


" Aku yang suka kamu, aku yang cinta kamu, tinggalkan dia." Percaya diri sekali Riana ini.


Bukan merespon segala perkataan Riana, dengan menatap Sisilia lembut Mumtaz mencium kedua tangan Sisilia dalam, khidmat, dan lama. Sisilia terbelalak dengan perbuatan Mumtaz.


Jeritan gemas, pekikan iri, dan teriakan euforia membahana halaman kampus. Para lelaki merengut karena mendapat rengekan kekasihnya yang ingin diperlakukan demikian, sementara para gadis menjerit uwu melihat adegan romantis ala anak arsitektur.


Riana naik pitam, dilanda kemarahan yang teramat dahsyat Riana yang terkenal lembut, berlari hendak menyerang Sisilia.


Saat tangan Riana hendak mencengkram jaket yang dipakai Sisilia, tangan mumtaz mencekalnya


Tatapan lembut yang ditampilkan mumtaz untuk Sisilia hilang kala menatap tajam menusuk kepada Riana.


Satu tangannya yang bebas mencekik Riana yang meringis kesakitan dan menghempaskan Riana hingga dia membentur pohon besar, dan tersungkur di sana.


Tanpa belas kasih, Mumtaz berdiri menjulang mengacuhkan gerakan permintaan tolong Riana yang mengangkat tangan, mengacuhkan darah yang keluar dari pelipis, dan bibir Riana, mengacuhkan retakan tulang Riana.


Wajah Mumtaz tenang mematikan dengan tatapan yang siap menghabisi " Jangan pernah mengusik gadis gue, jangan pernah mengganggu orang-orang yang gue lindungi. Gue tunggu klarifikasi kalian."


Orang-orang yang tadi ribut karena keromantisan Mumtaz, kini memandang Mumtaz takut.


Mumtaz kembali melangkah mendekati Sisilia dengan tatapan lembut seakan tak pernah marah " kita pulang." Memasukan jari-jarinya di sela jari-jemari Sisilia dan menggenggamnya. Melangkah ke parkiran kampus.


Mereka terbengong bingung dengan perubahan cepat ekspresi Mumtaz.


" Drama yang berakhir dramatis." Celetuk Radit.


" Bodoh, Lo pikir Mumtaz akan sungkan berbuat kasar hanya karena Lo cewek, cari mati." Ucap pelan Tamara


Sedangkan Adinda mulai mengkhawatirkan keselamatan dirinya karena rencana pernikahannya dengan Alfaska yang sedang dirancang oleh kedua orang tuanya dan mami Sandra....

__ADS_1


__ADS_2