Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
156. Kemarahan Mumtaz.


__ADS_3

Dokter berkumis itu berlari secepat mungkin menuju ruang kerja direktur rumah sakit.


Tok..tok...


" Masuk!"


Direktur melihat kecemasan dalam riak wajah dokter berkumis tersebut.


" Ada apa dokter Dedi?"


" Pak, tuan Navarro mengigau menyebut nama RaHasiYa."


Sejenak Arya terdiam," anda yakin?"


Setelah dokter jaga melapor padanya Dedy bergegas memeriksa langsung pasiennya yang terus menyebut nama RaHasiYa.


" Saya sudah memastikannya, apa sebaiknya kita memberitahukan hal ini kepada asisten pasien?"


" Sebaiknya begitu, sebelum kita bertindak lebih jauh." Arya sungguh tidak mau mengambil resiko jika itu berurusan dengan RaHasiYa.


Segera Arya menelpon Marco, secara terang-terangan Marco mengungkap apa yang terjadi diantara keduanya tanpa sungkan.


Setelahnya, Arya mengusap wajahnya yang seketika gusar." Bagaimana pak?"


" Tugas kita hanya berusaha sebaik mungkin dalam pengobatan, tidak lebih dari itu."


" Bagaimana dengan prof, Zahra?"


" Saya kira slow respon yang beliau berikan kepada kita sebagai tanda penolakan beliau."


" Anda yakin? Saya kira beliau bisa mengesampingkan urusan diluar medis, beliau profesional."


Arya mengangguk" keprofesionalan beliau memang tidak diragukan, tetapi perlu diingat, beliau pernah menolak pengobatan seorang psikopat pembunuh berantai yang seorang residivis secara sengaja melakukan kekerasan terhadap diri sendiri agar diduga mengalami gangguan jiwa yang melakukan self injury guna menghindari hukuman mati."


" Keputusannya dikecam oleh organisasi kesehatan dunia, dan terancam dicabut izinnya, tetapi beliau bergeming. Baginya adalah suatu kesalahan fatal menyelamatkan seseorang yang beresiko tinggi mengancam nyawa orang tidak bersalah hanya karena asas kemanusiaan. Toh sang pasien merupakan penjahat kemanusiaan."


" Wow, seberani itu?" Kagum Dedy.


Arya mengangguk," itulah mengapa saya mengirim Mutia ke rumah sakit Atma Madina, agar dia belajar tentang medis, terutama idealismenya.


Walau kenyataannya Arya tidak yakin putrinya itu dapat belajar sesuatu di sana.


*****


Pewaris Gurman tengah duduk bersama para asistennya di lounge Al-Tair membahas keadaan Navarro dan tindak lanjut terhadap Guadalupe.


" Rodri, apa kau belum mendapat informasi mengapa Mumtaz begitu bernafsu menghabisi Navarro?" Tanya Raul lalu menyesap kopinya.


Rodrigo menggeleng." Kinerja mereka sulit terdeteksi, meski katanya mereka bergerak dengan banyak orang." Matanya melirik Armando yang duduk di samping Marco.


" Saya tidak tahu apapun, adanya saya di sini hanya menjalankan tugas dari bang Damian, tidak lebih. Kami biasanya hanya bekerja sebagai pelapis dua." Terang Ricky.


" Pelaku utamanya?" Tanya Raul.


" Gaunzaga. Ketika mendapat tugas menyamar, kami diberi profil orang yang menjadi target, dan orang yang harus dilindungi. hanya itu."


" Karena itu RaHasiYa tahu dimana nenek dirawat, kamu yang memberitahukan mereka." Pikir Rodrigo.


Ricky menggeleng," salah, justru saya datang bersamaan dengan mereka mengambil Armando asli. So kesimpulan itu keliru."


Rodrigo diam, dia kembali merenungi dengan apa yang terjadi saat ini. Dia salah menganalisa, kalau Ricky bukan sebagai informan keberadaan Guadalupe, siapa yang menjadi mata-mata diantara mereka.


" Mateo, periksa kembali kasus penculikan Nyonya Hartadraja kemarin, cari siapa yang dapat diduga sebagai mata-mata mereka." Titah Rodrigo. Mate mengangguk patuh.


" Bagaimanamana rasanya menggunakan topeng itu?" Pertanyaan yang menyimpan ledekan dari Raul.


" Ck, coba aja Lo minta pada RaHasiYa untuk di posisi gue."


Dengan tegas Raul menggeleng," no, but thanks untuk kerja samanya."


" Bisalah Lo kasih satu posisi bagi gue di..."


Derrt...


Getar ponsel Marco menyela omongan Ricky.


Marco mengernyitkan keningnya kala mendapat sambungan dari direktur rumah sakit Medika. Marco meloudspeak panggilan.


" Hallo."


" Tuan Marco, tuan Navarro telah sadar, dia selalu menyebut nama RaHasiYa, apa bisa kami tahu apa alasannya? Kami tidak ingin gegabah berurusan dengan RaHasiYa." Tutur Arya diujung saluran.


Semuanya kaget mendengarkan perkataan Arya.


" Tentu, saya akan memberitahu Anda, kalau anda bersedia merahasiakannya."


Tanpa beban Marco menceritakan hubungan antara tuannya dengan RaHasiYa.


" Kami akan kesana." Tanpa menunggu jawaban Marco menutup sambungan telpon.


" Kita masih punya waktu sebelum makan siang dengan Mama untuk mengunjunginya sebentar." Ujar Rodrigo yang diangguki oleh Raul.


******


Zayin membuka kulkas, mengambil air lalu menenggaknya langsung dari botol. 


Dagunya mengernyit saat menyadari Tia yang berdiri di depan kitchen bar sambil memandangi ponselnya yang layarnya mati kemudian hidup lagi terus demikian berulang karena panggilan masuk.


Zayin berdiri di belakang Tia, tertera nama mami sebagai id caller.


" Angkat, siapa tahu ada penting." Tia terlonjak ada suara bariton di sisi telinganya."


" Ini...dari mami." Ragu Tia.


" Iya, angkat."


" Enggak apa-apa?" Tia meragu, Zayin mengangguk.


" Halo, Mi." Tia meremas ujung kaos Zayin, tidak bisa dipungkiri kejadian kemarin menyisakan ketakutan pada dirinya.


......


" Baik, Mi."


......


" Tia izin Aa Afa dulu ya, Mi."


.......


" Maaf, Mi. Enggak bisa, Tia harus izin Aa dulu.'


........


" Iya, Tia usahakan."


.....


" Wassalamu'alaikum, Mi." Tia menutup panggilan itu.


" Mami minta aku ke rumah beliau." Cicit Tia takut.


" Terus..."


" Boleh enggak?"


" Tanya bang Afa."


" Aa yang minta izinin, Iya takut "


Zayin menelpon Alfaska," bang, Tia minta izin buat mengunjungi Tante." 


.......


" Kesananya bareng Ayin."


.....


" Iya, Ayin awasi." 


Zayin menatap Tia yang menunduk,


" bolehin?" Tanya Tia pelan setelah obrolan itu selesai.


" Boleh, asal bareng Aa. Yuk kita pergi."


Tia merasa keberatan, dia tahu kembarannya ini tidak menyukai ibu mertuanya sejak lama.


" A,..."


" Sama Aa atau tidak sama sekali." Tegasnya, Tia mengangguk patuh. dia tahu hanya sia-sia saja untuk bernegosiasi.


********


Setelah mendapat telpon dari Zahira, Mumtaz langsung meminta Dewa mengecek cctv rumah sakit. Kemudian memerintah Leo dan leon mengecek keberadaan kakaknya.


" Kak Ala mana?" Panik Mumtaz menghampiri Zivara yang berlari kearahnya dari arah polikliniknya.


Mereka berdiri tidak jauh dari nurse stasion


" Tadi di ruang kerjanya."


" Enggak ada, tadi aku dari sana. Kakak darimana?

__ADS_1


" Tadi ada panggilan darurat." Zivara lebih panik.


" Muy." Panggil Zahira baru keluar dari lift.


Tring!!! 


Mumtaz membuka pesan masuk di ponselnya. Ternyata Dewa mengirim rekaman video yang dia minta.


"Kita ke ruangan kak Ala." Zivara dan Zahira mengikuti langkah besar Mumtaz.


Mereka bersama melihat video apa yang terjadi dengan Zahra di komputernya yang tersambung dengan ponsel Mumtaz yang ternyata benar dugaan Zahira perempuan itu adalah Sandra.


" Lihat, Ziv. Benarkan apa kata gue itu Tante Sandra." 


" Tapi buat apa dia berlaku kasar kepada Ara?" Penasaran Zivara.


Sepanjang menonton rekaman tersebut, rahang Mumtaz mengeras, tangannya mengepal menahan emosi, sedangkan Zivara dan Zahira sudah marah-marah mengeluarkan seribu kata umpatan untuk Sandra.


Cklek...


Leo dan Leon memasuki ruangan.


" Bagaimana?"


" Mobilnya masih ada, berdasarkan cctv rumah sakit dan sekelilingnya Zahra pergi dengan angkutan umum yang dicegat agak jauh dari sini."


Leon menyodorkan tabs yang memperlihatkan rekaman kamera dari beberapa gedung, Zahra berjalan kaki melewati beberapa gedung sebelum menyetop sebuah taxi yang terlihat samar.


" Sudah kalian cari taxi itu?"


" Saya sudah meminta Dewa untuk mencari jejak berdasarkan cctv tersebut." Jelas Leo.


" Cari dimana Alfaska berada?" Titahnya kepada Leo.


Dia harus memastikan posisi sahabatnya itu sebelum mengambil tindakan, dia tidak bisa lagi mentolerir perbuatan Sandra.


Terdengar suara petir dari jendela terlihat hujan deras mengguyur ibu kota. Kecemasannya semakin meningkat.


" Dia di ruang kerja Ibnu bersama dengan Daniel." Ucap Leo kemudian.


" Sudah kamu pastikan?"


" Dimas yang mengkonfirmasikannya." Leo memperlihatkan ruang kerja Ibnu yang seperti sedang membahas sesuatu yang serius dengan para sahabatnya itu.


Tidak sabar menunggu kabar dari Dewa yang terkesan lambat, Mumtaz memilih menelponnya duluan.


" Bagaimana?"


" Belum dapat dipastikan lokasi tepatnya, sepertinya kak Ara tahu pasti posisi yang tidak dapat dijangkau oleh kamera cctv. Kesimpulannya, sepertinya beliau tidak ingin ditemukan."


" Ponselnya?"


Terdengar dering dari ponsel yang entah dimana, semua orang mencari arah bunyi tersebut yang ternyata berasal dari Sling bag Zahra yang tergantung ditempatnya.


" Gak perlu dijawab, ponselnya di sini." Mumtaz menutup sambungannya, menjawab panggilan masuk dari Hito ke ponsel Zahra.


" Hallo om?"


" Loh, kok kamu yang jawab. Ara-nya mana?"


" Tidak ada, dia pergi. Kita sedang cari."


Seketika dari seberangnya langsung terasa ketegangannya melalui suara Hito.


" Ada apa?"


" Aku kirim penyebabnya, sampai sekarang aku belum menemukannya." 


Mumtaz lekas mengirim rekaman itu setelah hito menutup panggilannya.


Kembali Mumtaz menelpon Dewa." Cari dimana Sandra Atma Madina sekarang berada?"


" Siap."


" Pastikan Alfa tidak mengetahui hal ini."


" Siap."


******"


" Apa yang tidak perlu gue ketahui?"


Suara berat khas Alfaska menghentikan kesibukan jari Dewa di atas keyboard komputernya.


Dewa enggan menoleh ke belakang, dia berasa tertangkap tangan oleh polisi sedang melakukan tindak pidana, serba salah itu yang dia rasakan saat ini. 


Merasa tidak punya pilihan, tidak mau buang waktu, karena ini perihal keselamatan ratu mereka, Dewa pun menerangkan tugas apa yang  sedang dia lakukan dari Mumtaz tanpa menoleh ke belakang.


Jarinya lanjut mengetik huruf-huruf yang menghubungkannya ke cctv kediaman Sandra Atma Madina, saat hendak mencari keberadaan Sandra Alfaska menginterupsi.


Sesaat Dewa ragu, tapi lagi-lagi dia memutuskan masa bodo akan konsekuensi selanjutnya yang akan terjadi diantara para sahabat itu.


Waktu terus berjalan, setiap detik mencari Zahra begitu berarti. Dengan enggan Dewa memutar video tersebut.


Di dalam ruang kerja Dewa hanya terdengar jejak jari di atas keyboard, begitu hening namun menegangkan, suasana yang Dewa benci.


Dari belakang punggungnya Terdengar banyak tarikan nafas melihat aksi Sandra kepada Zahra.


Membuatnya Dewa yakin jika petinggi RaHasiYa mengepungnya.


Derrt...


Panggilan masuk dari Mumtaz.


Dalam hati Dewa mengerang, ia mengambil ponselnya belum jua dia menjawab panggilan Mumtaz, Alfaska merebut ponsel tersebut.


Ia menarik ikon hijau lalu menekan ikon speaker ponsel.


" Dimana dia?" Suara dingin Mumtaz membuat Alfaska memejamkan kedua matanya.


" Beliau di kediaman Atma Madina, di sana juga terdapat Tia dan juga Zayin."


Tidak ada sahutan lanjutan dari Mumtaz sebelum ia memutus sambungannya.


" Awasi mereka, jangan sampai Tia terluka." Titah Alfaska sebelum pergi dari sana diikuti Ibnu dan Daniel sebelumnya berkata,


" Kirim rekaman itu ke ponsel bunda."


Dewa tidak sanggup berkata, jadi dia hanya mengangguk.


*****


Assalamualaikum." Salam Tia kepada kepala pelayan yang membukakan pintu untuknya.


" Dimana mami?"


Gestur gusar dari Minah, sang kepala pelayan membuat Tia tidak nyaman.


" nyonya berada di ruang keluarga,..." Tangannya mencekal pelan tangan Tia yang hendak melangkah.


" Beliau mabvk, maksud saya agak mabvk." Ucap pelan Minah.


Melupakan Zayin dan segala nasihatnya sepanjang perjalanan agar menjaga dari mertuanya, Tia berlari ke ruang keluarga.


" Mami..." Panggil Tia kaget melihat ibu mertuanya dengan botol di tangan kiri dan gelas berisi sedikit wine di tangan kanannya.


" Tia, menantuku..." Sumringah sandra meletakkan botol dan gelasnya ke atas meja. Kemudian mengulurkan kedua tangannya.


Saat Tia hendak menghampirinya Zayin memegang bahunya," dia mabvk."


" A,..."


Zayin bergeming, dengan tekanan dipundak Tia.


" Kau,...lepas..kan tangan mu dari menantuku." Sandra mengibas tangan Zayin dari bahu Tia secara acak.


" Kau seperti kakak mu yang selalu iri hubunganku dengannya. Kalian jahat menjauhkan dia dariku." Hardik Sandra.


Tia terkaget dengan sikap Sandra yang kasar.


Sandra beranjak dengan agak sempoyongan menghampiri Tia, Zayin siaga disamping adiknya.


" Tenang, sayang. Mami sudah membereskan kakakmu itu, dia tidak akan mengganggu kita lagi."


Tia mengernyit bingung." Apa yang sudah mami lakukan kepada kakak?"


" Tentu saja memarahinya, sudah mami bilang dia cemburu padamu karena kau sudah menikah sedangkan dia belum."


Tia menggeleng," percayalah pada Mami dia terus mendesak Hito untuk menikahinya yang selalu Hito tolak. Kasihan sekali dia, hanya karena tidak kunjung dinikahi oleh kekasihnya merusak pernikahan adiknya." Cemooh Sandra.


" Dan tadi mami bertemu dengan nyonya Sri, dia masih membenci kakakmu. Sayang, mami tidak ingin kamu dan Afa terluka tinggallah di sini."


" Mami takut mereka menghasut mu seperti kepada Afa yang sekarang membenci mami."


" Mami sayang kalian, mami tidak ingin kalian menjadi seperti mereka..."


Sepanjang Sandra berceloteh, Tia menggenggam tangan Zayin yang sudah mengepal erat dengan wajah memerah naik pitam.


" Tia bisa tangani mami, sabarlah." Bisik Tia.


" Pastikan ini yang terakhir kali dia berkata kotor tentang kita, atau ku buat kamu tidak bisa menemuinya selamanya." Tekan Zayin sebelum berlalu dari ruangan tersebut.


" Baguslah kau pergi, pergi yang jauh dari sini." Teriak Sandra yang diabaikan Zayin.

__ADS_1


" Mami, mari kita bicara." Suara tegas dengan intonasi kuat dari Tia padanya membuat Sandra mengerutkan kedua alis karena heran.


" Tia,..."


" Mami, keluarga ku tidak pernah membicarakan mu. Kami terlalu sibuk mengurusi putra yang mami abaikan demi obsesi mu." Sarkas Tia memotong ucapan Sandra.


Sandra tertegun, dia ingin memastikan apa benar menantunya berani padanya.


" Aku ingin tahu apa penyebab mami begitu membenci keluargaku, pasti ini lebih dari sekedar ego yang tersenggol."


" Tia, apa yang kamu bicarakan?"


" Tepatnya apa yang mami bicarakan padaku tadi, selain kebohongan."


" Tia, kamu tidak percaya Mami? Ini pasti ulah Zahra yang menghasut mu."


" Tidak, tapi aku melihat sendiri, bagaimana om Hito sangat mencintai kakakku, beliau yang terus-menerus membujuk kak Ala untuk bersedia dinikahi olehnya, tetapi ditolak oleh kak Ala entah karena apa."


" Perihal nyonya Sri, aku sudah meminta konfirmasi padanya, bahkan beliau meminta maaf padaku karena menjadi penyebab kesedihan kak Ala dan keluarga, dan aku lihat dengan mataku bagaimana beliau sangat menyayangi Kak Ala. Semua orang merubah cerita mereka kecuali mami." Telak Tia dengan lembut.


" Tia, mami sungguh tidak tahu kalau kamu tidak mempercayai mami."


" Dan aku berubah, karena aku tidak ingin menjadi boneka mami lagi."


" Tia, mami menyayangimu."


" Maka sayangi mereka seperti mereka menghormati mami meski telah berulangkali mami kecewakan."


" Menghormati ku? Apa kamu tidak lihat bagaimana kembaran mu itu merendahkan mami?"


" Mami beruntung Aa Zayin masih dengan kata-kata tidak dengan perbuatan, percayalah dia mampu memperlakukan orang lain dengan buruk tanpa pandang bulu."


Zayin yang mendengar namanya disebut menggeram kesal.


Derrt...


Tanpa melihat siapa yang menelponnya, Zayin menjawab panggilan itu.


" Hallo?"


" Aa di jalan, kamu bawa Tia pergi dari sana." Dari suara tegas Mumtaz Zayin tahu ada sesuatu yang telah terjadi, hal yang dipastikan sebuah masalah.


" Bisa Aa katakan ada Masalah apa?"


" Lain kali, saat ini singkirkan Tia dari ruang keluarga itu. SEKARANG!" Tekan Mumtaz.


" Hmm." 


Tanpa tedeng aling-aling rasa tidak sukanya kepada Sandra Zayin menerobos masuk dengan muka sinis lalu menarik Tia berdiri.


" Kita pergi."


Tia yang terkejut tidak sempat menolak, mereka keluar ruangan mengabaikan teriakan Sandra.


Zayin berbelok arah kembali masuk rumah begitu membuka pintu dia melihat mobil Zahra yang sudah di depan pagar rumah Sandra.


" A, mau kemana? Kenapa malah naik keatas?" Tanya Tia bingung.


" Yang mana kamar bang Afa?"


" Yang itu." Tunjuknya pada pintu warna biru.


" A, ada apa?"


" Kamu tetap di sini. Jangan kemana-mana." Ujar Zayin tidak menghiraukan pertanyaan Tia.


Alfaska yang duduk di samping Daniel yang mengemudikan mobil Mercynya melihat mobil Zahra yang dikendarai oleh Daniel memasuki pekarangan rumahnya.


" Nu, semua kamera on."


" Hmm."


" Streaming dimana Mumuy berada."


Daniel melalui spion depan melihat Ibnu yang meragu.


" Tunggu, ada gangguan."


" Cari alasan yang masuk akal, Nu. Now!" Tegas Alfaska.


Tanpa sepengetahuan Alfaska Daniel mengirim pesan kepada Bara agar dia segera membawa Alfaska dari tempat mereka berada kini.


Tidak lama, Bara mengetuk pintu mobil bagian Alfaska yang sudah terparkir di depan rumah Sandra ditengah perdebatan antara Tia dengan Sandra.


" Buka." Bara terus mengetuk pintu, ujung mata Alfaska menatap kesal Daniel.


" Untuk kebaikan Lo." Ucap Daniel tenang.


" Kita pindah ke rumah mama Sherly." Ibnu dengan cepat keluar dari mobil.


" Pastikan Lo gak jauh-jauh dari Afa." Bisik Ibnu pada Bara.


Bara mengangguk, dia belum tahu apa yang terjadi, tetapi aura gelap dari sepupunya itu membuat Bara jengkel kepada tantenya.


" Keluar, atau gue rusak." gertak Bara.


" Keluar, di sini juga Lo gak bisa lihat apa-apa." Seru Daniel.


Mereka semua sungguh mengulur waktu agar Alfaska tidak mengetahui secara detil apa yang terjadi di dalam.


"Nu, serius Lo mau membuang waktu hanya untuk menyambungkan kabel itu?" Kesal Alfaska yang melihat gerakan ibnu yang terkesan lelet hanya sekedar memasang dan menyambungkan laptopnya pada televisi.


" Ini susah, ini LED terbaru, Bar?" Bara tidka menanggapi ucapan konyol Ibnu.


" Kalau Lo mau menyembunyikan apa yang terjadi di dalam sana, gue pastikan lo masuk rumah sakit." Ancam Alfaska yang direspon tawa oleh Ibnu.


" Lucu, Lo lupa kemampuan bela diri gue beda tipis dengan Mumuy."


Segera segala macam umpatan keluar dari mulut Alfaska.


" Nu, Lo tidak amnesia kan!? Kalau gue bisa mendapat rekaman detil kejadian di dalam sana kapan pun gue mau, Lo hanya menunda hal yang tidak perlu."


Ibnu menghela nafas lelah, seketika ruangan yang berisi Mumtaz dan Sandra yang saling berdiri dengan aura tegang muncul di layar televisi raksasa berukuran 105 inch.


" Ibnu Abdillah, saya ingin rekaman detil dari Mumtaz masuk pekarangan sampai akhirnya mereka berdiri dengan aura permusuhan itu." titah Alfaska laksana tuan raja.


" Siap, laksanakan dengan syarat apapun yang terjadi Lo jangan jatuh." Peringat Ibnu.


Alfaska mengangguk, dia tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, yang terpenting baginya saat ini.


Layar kembali kosong sebelum menampilkan Mumtaz yang keluar dari mobil.


Riak datarnya menghiasi seluruh wajah Mumtaz saat Minah melihatnya.


Tidak menyadari kehadiran Zayin yang berdiri ditengah tangga yang melihatnya melintasi ruang tengah menuju ruang keluarga.


Tanpa permisi dia langsung masuk ruang itu yang langsung disuguhkan amukan Sandra menghancurkan perabotan yang ada.


Mata mereka langsung beradu saat Mumtaz mendekatinya.


" Mau apa kau kemari? Rumah ini tidak menerimamu."


" Saya juga tidak sudi memasuki rumah ini kalau kau tidak menggangu kakakku."


Sandra tersenyum smirk," jadi kakak tersayang mu itu mengadu padamu?"


" Kalau dia mengadu, saat ini kau sudah mati." Ucap mumtaz pelan namun menusuk.


" Heh, akhirnya kau tunjukan wajah aslimu, kau hanya seorang penipu. Kau manfaatkan anakku untuk kepentingan keluargamu."


" Kalau aku saat itu tidak bersamanya, saat ini dia hanya sekedar nama."


" Berhenti berucap omong kosong." Bentak Sandra.


Mumtaz melempar satu DVD ke atas meja.


" Saat ini dia sudah mati karena tenggelam, dia pernah sengaja menenggelamkan diri di kolam renang karena merindukan Ibunya yang tidak jua mengunjunginya."


" Atau saking putus asa, dia pun pernah mencoba terjun dari rooftop lantai 70 gedung Atma Madina hanya agar kau memperhatikannya.


Mumtaz melempar surat yang sudah berwarna kusam.


" Disitu tertulis dia ingin kau melihatnya, jika tidak di masa hidupnya, kematiannya pun tidak mengapa." Sandra terhenyak, namun hanya untuk sesaat.


" Jika hari itu aku tidak memegang tangannya saat dia terjun, dia sudah tidak bernyawa."


" Apa kau tahu itu? Tentu kau tidak tahu karena kau sibuk dengan warung baju sialan mu itu." Bentak Mumtaz penuh amarah.


" Dan hari ini kau menghina kakakku sedemikian rupa, kau menghilangkan alasan untuk ku menghormati mu."


Sedetik selanjutnya raut wajahnya kembali sinis." Apa kau sedang menyombongkan kebaikan keluargamu? Berapa harga yang kalian inginkan untuk melepas putraku?" Sinis Sandra.


" Hentikan bualan mu itu, aku menantang mu untuk melakukan apa yang aku sebut ancaman itu, buktikan kalau kau bisa membvnvhku." Cemooh Sandra yang yakin Mumtaz tidak akan berani melakukannya.


Selama ini terbukti predikatnya yang melahirkan Alfaska yang berhasil membuat dia tidak berkutik.


Sandra dan Mumtaz berdiri saling menatap penuh permusuhan.


Dengan tiga langkah besar Mumtaz menarik lalu menc3kik leher Sandra tanpa ampun.


Dia eratkan c3kikannya kemudian mendorong ke atas hingga kaki Sandra menggantung.


" Nyawamu adalah harganya, Kau bodoh jika menantang ku untuk membvnvhmu saat ini, dengan senang hati aku akan merusakmu, menghancurkan mu, dan setelahnya mengenyahkan dirimu dari kehidupan Alfaska."

__ADS_1


Rintihan menyedihkan dari mulut Sandra tidak Mumtaz hiraukan, amarahnya mengambil sisi kebaikannya....


Ramaikan like n komen yuk...jangan lupa vote dan hadiahnya....


__ADS_2