Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
183. Ditengah Duka.


__ADS_3

Ceklek...


Direktur rumah sakit menghampiri Arya yang duduk di sofa dengan laptop yang menyala, ia memberikan dua amplop berlogo universitas dimana Mutia menimba ilmu dan berlogo IDI pada Aryan.


" Pak Arya, sebaiknya anda menyalakan televisi." Direktur menyalakan televisi menggunakan remote yang tergeletak di atas meja.


Tampak di sana Irina berteriak di lobby rumah sakit Atma Madina, lalu tidak lama diganti Farhan dan direktur rumah sakit yang memberi klarifikasi, disusul Zahra yang menambahi keterangan dengan bukti-bukti.


Arya mengambil remote dari tangan profesor itu, ia mengganti dari satu channel ke channel yang lain mereka serempak memberitakan perihal Mutia, tak ayal nama rumah sakit Medika ikut disebut.


Setelah mendengar klarifikasi Zahra, Arya membuka amplop-amplop tersebut. Matanya membeliak, lalu kedua tangannya jatuh terkulai hingga kertas-kertas tersebut terlepas dari pegangannya.


" Mereka akan menganulir nilai-nilai Mutia." Ucapnya lemah.


" Menurut surat itu, iya, mereka pun menyertai bukti kecurangan Mutia agar memperoleh nilai bagus, bukti itu kini ada di meja anda. Beberapa staf kampus yang terlibat sudah dimintai keterangan.


Berdasarkan rekomendasi dari universitas, besok IDI dan pihak kampus akan menanyai Mutia sebelum mengambil keputusan."


" Apa pihak kita sudah memeriksa semuanya?"


" Sudah, dan semuanya dapat dipertanggungjawabkan oleh pihak rumah sakit Atma Madina. 


Profesor zahra sangat membenci kecurangan, baginya yang ingin menjadi dokter karena uang dan eksistensi semata, sebaiknya berhenti menjadi dokter samasekali, karena orang itu jika dibiarkan akan menjadi monster."


" Jadi tidak ada keluar selain mengikuti alur pihak rumah sakit Atma Madina!"


" Sayangnya demikian. sekarang diperparah dengan tindakan ini nyonya Irina, imej kita semakin hancur. " sesal sang direktur.


******


Brughh...


Mumtaz menjatuhkan tubuh di kasur single di kamarnya, lengan panjangnya menghalangi mata lelahnya dari cahaya lampu, teknik yang bisa Mumtaz pakai jika tidak ingin kebablasan dalam tidurnya, dia tidak memadamkan lampu kala tidur.


Selepas subuh dia harus pergi menemui Bima yang sedang mengawasi Mulyadi, tapi sekarang sudah pukul 02.15 wib, dia sungguh butuh tidur untuk menghadapi hari esok.


Hari yang sudah dia rancang sedemikian matang bersama Rio dan Yuda, bahkan Ibnu tidak mengetahui rencananya. Dia tidak akan melibatkan sahabatnya untuk urusan ini.


Dia bertekad akan menguliti mereka yang ia sebut pengkhianat negar4 di hadapan rakyatnya langsung tanpa jalan keluar.


pukul 03.15 wib


Ceklek...


Mumtaz terbangun dari tidurnya, karena suara pintu yang dibuka Zayin.


" Sorry, ganggu istirahatnya. Tapi aku ada info buat Aa. Ini.." Zayin menyodorkan sebuah flashdisk ke Mumtaz.


" Apa ini?"


Mumtaz beranjak ke meja belajarnya, membuka isi flashdisk dengan komputernya.


" Aku nyebutnya op3r@si milit3r, di daerah Banten, Lampung, dan Madura, ditambah Kalimantan. Mereka pasukan gabungan AD dan AL."


" Apa tidak masalah kamu memberikan ini padaku?" Mumtaz memperhatikan video berdurasi 30 menit itu dengan seksama.


" Mereka ingin bertukar informasi dengan Aa."


" Mereka?"


" P4nglim@ TNI."


" Kenapa? Aku gak punya info apapun."


" Dengan ledakan yang besar beberapa kali yang kalian lakukan di kediaman Brotosedjo, dan Gonzalez?" Sindirnya, Zayin duduk di kursi yang dia balik hadapannya.


" Come on,...ini lebih serius dari yang Aa tahu. stop." Ujar Zayin pada gambar bayangan yang tertangkap kamera TNI.


" Bang Jarud, dan bang Gilang tertangkap kamera. Mereka bisa saja ditangkap dengan dalih m4t4-m4t4."


Mumtaz tersenyum miring, walau tipis. Kini Mumtaz menghadap penuh kepada Zayin. " Dengar Zayin, katakan pada mereka, mereka mengusik anak buahku, ku buka aib negar4 ini."


Mumtaz menegakkan duduknya." Kebetulan aku punya file yang melibatkan banyak pej4b4t, termasuk oknum TN1 dalam perdagangan dunia hitam. Menyentuh anak buahku, ku sebar ke seluruh dunia."


" A, please. Kerja samanya..."


" Aku akan kerjasama, jika waktunya tepat, untuk sementara amati kasus ini dari jarak jauh, katakan pada mereka negara ini aman."


" Bullshit, mereka ada dimana-mana." tolak Zayin.


" Aku tahu pasti mereka ada dimana saja, aku mengikuti mereka sejak masuk beberapa tahun lalu, sedangkan kalian baru saja menemukan mereka di sedikit tempat."


" Maksudmu...mereka masih ada di lain tempat?"


" Hmm."


" Kalau begitu katakan, ini berkaitan dengan keamanan neg4ra, mereka praktis dapat disebut sebagai combat, A. Jangan bermain dengan negar4 ini, aku mempertaruhkan nyawaku untuk negara ini. Apa yang membuat kamu tidak ingin berbagi?"


" Ibnu."


Sesaat Zayin tertegun untuk mencerna. " Apa?"


" Ibnu."


" Jangan gila,..."


" Kenyataannya ini berkaitan erat dengan Ibnu, mereka mati karena para pej4b4t kotor."


" Siapa yang mati?"


" Orang tuanya."


" Apa maksudmu."


Mumtaz mengambil satu flashdisk dari laci mejanya, dan memberikannya pada Zayin.


" Kamu buka ini, aku sudah memberikan ini pada petinggi RaHasiYa dalam bentuk pdf yang terkunci dengan sandi yang sampai sekarang belum berhasil mereka buka seluruhnya. Aku memberikan ini padamu dengan cuma-cuma, dengan syarat tutup mulutmu."


Zayin menatap flashdisk di tangannya dengan sorot berbagai arti, " Ibnu.." benaknya berputar disekitaran nama itu, pandangannya terangkat menatap Kakaknya dengan wajah tercengang.


" Apa ini tentang kematian orang tua bang Inu? Ucapnya dengan suara tercekat.


" Buka saja, keluar. Aa mau mandi, banyak urusan."


Tanpa protes Zayin keluar dari kamar Mumtaz.


Pukul 04.30 wib.


Tok...tok...


Mumtaz melipat sajadah


Selepas melaksanakan shalat subuh, kemudian membuka pintu kamarnya. Senyumnya tersungging saat melihat sisilia yang berdiri di depan kamarnya.


 " Masuk." ia menutup asal pintu kamarnya.


" kamu kesini sama siapa?"


" Mommy, dan Daddy. mereka di rumah Tante Edel. Kak Domin entah kemana."


Sisilia duduk di kursi belajar Mumtaz, menelisik penampilan Mumtaz yang mengenakan kaos dan celana jeans berwarna navy.


Drrt ...


Pesan masuk dari Timothy membuatnya tersenyum smirk, kemudian dia menelpon seseorang.


" Hallo, To. jadi Lo yang dipilih."


" Yoi. sorry skenarionya kalian harus kehilangan muka."


" just do it, gue kirim skenario ala gue. tinggal Lo aja pinter-pinter berimprovisasi."


" Sure, semoga para netizen +62 jenius nangkep kode gue."


" Oke, bro. thanks." Mumtaz menutup sambungan telponnya.


Setelahnya Mumtaz membuka lemari pakaian.


" Apa kakak mau pergi?"


" Iya " jawabnya seraya mengambil kemeja berwarna hitam dari lemarinya.


" Berarti gak ikut memakamkan Mami?" 


" Kalau sempat, insyaAllah. Ini darurat gak bisa ditunda lagi."


Mumtaz menarik tangan Sisilia agar berdiri. Mengelus kedua sisi lengannya dengan lembut, menatap langsung iris matanya.


" Tolong dampingi Tia, beri salam sayang kakak buat dia ya!"


Mumtaz mengecup kening Sisilia lama, sesudahnya ia berikan pelukan hangat untuk kekasihnya.


" Kak, ada apa?" Rasa risau menyeruak di hati Sisilia atas sikap tidak biasa kekasihnya.


Mumtaz menggeleng," cuma pengen peluk, kangen aja sama kamu."


Setelahnya ia menatap Sisilia lamat-lamat, " aku cinta Kamu, jangan pernah ragukan." 


Sisilia mengangguk patuh." aku senang mendengarnya, tapi entah mengapa aku merasa takut."


" Everything gonna be okay. I promise."


Kemudian ia menarik Sisilia keluar dari kamarnya, sepanjang menuruni tangga kedua tangan itu saling menggenggam.


Kehadiran Mumtaz menghentikan kegiatan anak RaHasiYa, tatapan mereka pada sang atasannya menatap sayu, sungguh mereka sangat iba dengan bosnya satu ini. Segala skandal ini sangat membuat mereka marah. 


Setiba dibawah anak tangga," Kalian bagilah tugas, aku tidak ingin hal yang tidak berkenan terjadi lagi." ujar Mumtaz pada mereka.


" Siap, bos." Sahut Raja.


" Kami akan selalu siaga, bahkan jari kami sudah gatal ingin segera mengetik, bos." Timpal anak RaHasiYa lain yang diangguki oleh yang lain.


Mumtaz terkekeh," sabar, ada waktunya. Ketika saya mengizinkan kalian, saya ingin lihat seberapa jauh kalian bisa bertindak."


" Maksud Abang, kita bebas bertindak?" Tanya si rambut gimbal.


" Hmm, sebebas mungkin. dengan satu catatan jangan sampai tercium hukum, dan setiap yang kalian lakukan, laporkan pada kami." Merujuk pada petinggi RaHasiYa.


" Siap." Jawab mereka serempak dengan lantang. 


jam sudah menunjukan pukul 06.00 wib.


Di jejaring media sosial ramai membela Mumtaz, dan satu persatu akun yang memojokkan diretas. Kesaksian dari para korban kejahatan jalanan mengungkapkan aksi heroik Mumtaz dimasa lalu.


Dalam hitungan menit, perang komentar terjadi di setiap platform berita online yang memberitakan Mumtaz.


Sebagai pengusaha yang banyak memegang obligasi dibeberapa BUMN, ia membekukan aliran dananya.


Duduk di atas motornya mata Mumtaz masih betah menatap kekasihnya, yang membuat Sisilia salah tingkah, melihat hal itu Mumtaz tersenyum geli.


" Untuk beberapa hari kedepan kamu jangan buka sosmed, kalau bisa ponsel dinonaktifkan."


" Kenapa?"


" Anak RaHasiYa sedang piknik, dan jaga diri. Jangan pergi kemanapun tanpa penjagaan. Hmm?!"


" Iya, aku percaya pada Kakak. Apapun yang sedang diberitakan tentang Kakak, pandanganku tentang kamu tidak berubah, camkan itu." tekan Sisilia.


Mumtaz tersenyum manis menanggapi ungkapan kekasihnya.


" Makasih, sayang. Love you. Aku pergi dulu."


" Iya, hati-hati."


Mumtaz mengenakan helm full facenya. Tanpa buang waktu meluncur meninggalkan area rumah.


Sementara Zayin di kamarnya menatap nanar monitor laptop yang masih menayangkan isi dari flashdisk Mumtaz, wajahnya memerah karena marah.


Dia berdiri, menyugar rambutnya, lalu melempar benda yang dijangkaunya dengan kasar karena luapan emosinya.


Untuk pertama kalinya dia kesal akan profesinya, keterikatannya sebagai abdi negar4 membelenggunya untuk membalas dendam.


" Si@l, si@l,...SI@L.." raungnya mengisi seluruh kamarnya.



__ADS_1


" Bim, lapor." ucap Mumtaz pada Bima dan yang lain yang berkumpul di sebuah rumah mewah salah satu anak RaHasiYa yang terletak terhalang satu rumah dari rumah target.



Mumtaz meletakan tiga kantong besar makanan dari restoran siap saji yang langsung diserbu oleh para temannya.



" Mulyadi punya dua putri, yang satu berusia 20 tahun, kuliah di universitas swasta yang belakangan sangat giat mendekati Bara." lapor Bima.



" Sudah hubungi Bara?"



" Sudah, bahkan Bara bekerjasama untuk mengadakan pertemuan hari ini di hotel Sultan."



Mumtaz mengangkat kedua alisnya bertanya.



" Tentu bukan dia yang akan perempuan itu temui, teman kita yang akan ke sana, dan main dengannya."



" Jangan rusak dia."



" Dia sudah rongsokan, sering *one night stand*."



" Yang kedua?"



" Masih anak SMA, tapi sudah rusak juga meski sama pacarnya."



" Hmm."



 " Punya satu istri sah, dan dua istri nikah siri. Si istri sah memiliki lelaki simpanan yang tinggal di apartemen atas biaya istrinya itu.



" Selebihnya Lo tahu, dia bersama Andre terlibat dengan berbagai transaksi dan pengiriman narkoba dan senjata yang melibatkan Brotosedjo, dan Gonzalez.



Bahkan dana kampenyanya didapat dari mereka."



" Dia juga terlibat penjualan manusia ke luar negeri melalui Surga Duniawi, dan istrinya merupakan kaki tangan dia."



" Apa kalian mengendalikan mereka?"



" Iya, kita sudah punya bukti video dan foto-foto tentang mereka semua, yang kita kirim searah diagonal diantara mereka. Gata tv, dan Branz tv akan menyusul mendapatkannya.



" Kalau begitu, jangan lepaskan dua putrinya. Kita tidak butuh dia atau istrinya. Minimal dia harus merasakan apa yang diderita orang lain."



" Ver, makasih atas tumpangan rumahnya." Kata Mumtaz pada Vero, sang pemilik rumah.



" Sans saja, bahkan bunda gue nyumbang informasi terkait simpanan sang istri karena mereka satu arisan. Kata bunda kalau masih butuh informasi kasih tahu bunda biar bunda yang nyari." Ucap Vero ditengah suapan sarapannya.



Mumtaz terkekeh," mana bunda sama bokap Lo? Gue gak lihat mereka. Kakak Lo juga gak ada."



" Ke rumah Atma Madina, bunda satu kelompok arisan sama Tante Sandra."



" Ya sudah gue harus pergi lagi, buat ketemuan sama Dewa."



" Hati-hati, bos. Lo diikuti oleh dua pemotor." Ucap Vero yang duduk dibalik balkon."



" Hmm, makasih atas infonya.



" Gue ikut Lo, gue di belakang penguntit." Sahut Arga, si rambut cepak.



" Hmm."



Dewa dan Dimas beserta timnya sudah berkumpul di lantai tujuh di ruang konferensi dengan layar yang menampilkan lokasi pemakaman Sandra yang sudah dipenuhi oleh banyak orang, khususnya masyarakat sekitar kompleks.




" Soal Andre, semua sudah dilauncing sesuai jadwal."



Tangkapan layar berlatih ke kediaman Andre yang menayangkan istrinya sedang mengamuk dan menangis histeris karena anak perempuannya tidak kunjung pulang sednagakn video syurnya yang sedang mabuk dengan lelaki dia gas ranjang beredar luas.



" Sang mertua kini menghadap pak Ergi di kantornya, apapun pembicaraan mereka kita siap merekamnya."



" Berikan mereka satu persatu perihal Andre esok pagi, Sekarang fokus ke putrinya saja." ucap Mumtaz datar.



" Siap." 



" Apa prosesi pemakaman dalam pengawasan?"



" Sudah, ada beberapa orang yang dicurigai disekitar lokasi tapi Ragad, dan Leo sudah mengantisipasi."



" Apa haikal masih mengawasi rumah Andre?"



" Masih, bahkan dia sekarang menargetkan anak kedua dan ketiganya untuk disembunyikan." Sahut Dimas.



Arga dan Mumtaz tertawa kecil mendengar kata yang digunakan Dimas." Bukan menculiknya?" Sindir Arga.



" Bukan, menculik hanya untuk yang minta tebusan, kita mah cuma ngasih syok mental saja pada mereka." 



" Terserah, Dim. Terserah kalian bahasanya apa." timpal Arga.



" Bos, mereka sudah mulai mengeluarkan peti Tante Sandra dari rumah sakit." Seru Dewa.



" Hmm, gue lihat, Wa." Tatapan sendu Mumtaz mengiringi panayangan sekitar rumah sakit yang menampilkan Alfaska dan rombongan mendampingi kepergian Sandra.



\*\*\*\*



" Pak, jenazah siap dikebumikan." Ucap Farhan pada Bara yang masih menunggui Alfaska yang masih berbicara dengan Aryan yang masih menutup matanya meski keadaan sudah stabil.



" Pi, Afa pergi dulu, hendak melakukan penghormatan terakhir pada Mami." Bisiknya di telinga Aryan.



Tetesan kristal bening meluruh dari pelupuk matanya." Papi harus kuat untuk Afa, Afa masih butuh papi." Isaknya.



" Sayang Papi banyak-banyak." yang dilanjut mengecup kening Aryan.



" A, saatnya kita ke Mami ." Tia menyentuh tangan Alfaska.



Alfaska berbalik memeluk Tia, ia menangis dalam pelukan istrinya. Ini terlalu berat baginya, sangat berat. 



Alfaska menatap sendu istrinya yang tersenyum padanya, senyum yang meneduhkannya



" Terima kasih masih bersama Aa."



" Hmm, Tia akan selalu ada untuk Aa." 



Bersama saling bergandengan tangan mereka berjalan di lorong saat mengiringi peti jenazah Sandra yang didorong oleh para petugas menuju mobil jenazah.



Lorong khusus untuk kepindahan jenazah pasien zuper VVIP yang sudah disteril dari pihak luar, para staf berdiri Sepanjang lorong dengan menundukkan kepala, meski mereka tidak terlalu mengenal Sandra, tetapi dua pewaris Atma Madina dikenal sebagi pemimpin yang bijak dan tegas, mereka sangat menyukai keduanya.



Di samping pintu mobil jenazah yang terbuka, sudah berdiri Zahra, direktur rumah sakit, beserta para profesor lain  turut mengantarkan.



Alfaska menghadap pada Zahra dengan matanya yang memerah. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas pundak Kakak idolanya tersebut tubuhnya bergetar karena menangis.

__ADS_1



" Maaf, dan terima kasih. Maafkan segala kesalahan Mami." Paraunya serak.



Zahra menangis sambil memeluk tubuh tinggi Alfaska." Tentu, kita keluarga. Maaf, telah gagal menyelamatkan Mami." Lirihnya.



Alfaska langsung membalas pelukan itu sangat erat, ia menggeleng atas ucapan penyesalan Zahra." Ini sudah takdirnya."



Bara menepuk punggung Alfaska." Sudah saatnya kita pergi." Ucap serak Bara.



Sebelum menyusul Alfaska masuk ke mobil, Bara memeluk Zahra yang menangis dalam tundukan kepalanya.



" Kami pergi dulu." bisiknya, Zahra mengangguk.



Hito merangkul Zahra sepanjang mereka melepas kepergian Sandra sebelum menyusul ke kediaman Atma Madina.



\*\*\*\*\*



Di kamar presidential suite hotel Marriott, Mumtaz duduk berhadapan dengan Ergi.



" Apa harus begini cara anda melawan berita anda?" tanya merujuk pada skandal putri dari Andre.



Mumtaz mengedikan bahunya tidak peduli." ini hanya pembukaan, bukankah rumor hanya bisa dialihkan oleh rumor yang lain?"



" Sorry menyela..." ucapnya saat memotong Andre yang hendak berbicara.



" Daripada anda sibuk memperhatikan berita tentang ku, lebih baik anda pikirkan instansi anda yang sedang disorot besar-besaran karena kinerja kalian yang terkesan lambat dalam perkara 50 politisi itu dengan bukti yang valid, penembakan ajudan oleh atasannya, dan sebentar lagi kalian akan mendapat sorotan lebih karena atitude kalian saat menangkap saya di pemakaman nyonya Atma Madina."



Tubuh Ergi seketika menegang." apa maksudmu?"



" Tanyakan pada Andre, atau kau akan dipermalukan karena tidak tahu apapun. sepertinya anda diremehkan oleh bawahan Anda."



Mumtaz berdiri hendak pamit." saya sarankan anda menonaktifkan Timothy dan timnya kalau anda tidak ingin kehilangan staf yang loyal sepertinya.



Dan katakan pad Andre, mundur dari jabatan / sebagai bentuk pertanggungjawaban atas praktik prostitusinya, atau hancur berkeping-keping.



\*\*\*\*\*\*



Prosesi pemakaman Sandra dijaga ketat oleh pasukan gabungan RaHasiYa dan Gaunzaga yang membaur dengan para pelayat.



Semua kantor media meliput besar-besaran berita ini, mereka menurunkan para stafnya yang bekerja di tempat yang sudah disediakan oleh panitia, dari sejak kedatangan jenazah, shalat jenazah di masjid kompleks, hingga pengantaran terakhir ke liang lahat.



Ketidakhadiran Mumtaz menjadi perbincangan tersendiri dengan berbagai spekulasi dan ramai di media sosial dan platform media online hingga opini mulai digiring oleh pihak yang tidak bertanggung jawab bahwa mumtaz lah yang menjadi penyebab kematian Sandra.



Sandra di makamkan di tempat makam keluarga yang tidak jauh dari kediaman Atma Madina, kali ini Alfaska menjadi sorotan utama bagi media.



Beberapa kali wajahnya yang tertutup kacamata hitam menghiasi memenuhi layar televisi.



Saat menandu keranda Sandra yang pandu bersama para sahabat langkah kaki Alfaska terhuyung karena tubuhnya yang lemah, hingga Keranda sempat oleng yang hampir menjatuhkan keranda.



Sebelum Keranda itu terjatuh ada dua tangan kokoh yang mengambil alih bagiannya dari arah sampingnya.



Alfaska menoleh, ia tersentak saat melihat siapa yang menolongnya. Bibirnya terangkat saat melihat Mumtaz menatapnya dengan tatapan teduhnya. Begitupun dengan para sahabatnya.



" Maaf terlambat." Ucap Mumtaz yang cukup didengar oleh Alfaska dan Bara yang mengangkat keranda di samping Alfaska.



Alfaska menggeleng cepat." Tidak mengapa, yang penting Lo datang." Ucapnya dengan suara tercekat karena haru.



" Biar gue yang angkat." Mumtaz mengambil posisi di belakang Alfaska.



" Barengan aja."



" Hmm." 



Bersama mereka mengantarkan Sandra ke liang lahat dibawah sorotan kamera. Apalagi sejak kemunculan Mumtaz para wartawan dan pengunjung semakin menggila dan heboh.



Alfaska, Bara, dan petinggi RaHasiYa turun ke liang turut memposisikan jenazah Sandra ditengah iringan tangisan para keluarga, kolega dan sahabat. 



Tangisan itu semakin pecah saat mereka mendengar suara serak Alfaska yang terputus-putus saat mengumandangkan adzan ditengah Isak tangisnya.



Saat menimbun kembali tanah kuburan, Terdengar banyak bisikan dan keributan kecil akan kedatangan beberapa polis1 berseragam ke tengah-tengah mereka.



" Bapak, Muhammad Mumtazul Yusuf, kami dari kepolisian datang untuk menahan anda atas beberapa dugaan kejahatan yang anda lakukan."



Mereka terkejut, sontak suasana hening,



Sang pemimpin, dengan raut tanpa ekspresi yang berdiri paling depan menunjukkan surat penangkapan pada Mumtaz yang langsung direbut oleh Bara dengan hentakan keras.



Desas-desus kembali langsung menyeruak dengan berbagai komentar ada yang bersimpati pada Mumtaz, namun tidak sedikit mencela sikap tidak empati dari k3poli1si@n.



" Waktu yang tepat untuk cari panggung, bukan pak polisi?" Sindir Bara langsung berdiri tepat dimuka polisi.m, menghalangi para polisi dari Mumtaz.



Alfaska pun turut berdiri disamping Bara.



" Tepatnya kejahatan apa yang dilakukan oleh saudaraku?" Ucapnya datar penuh tantangan.



" Itu bisa dikonfirmasi di kantor polisi." Pemimpin yang bernama Berto itu memberi kode pada anak buahnya untuk menangkap Mumtaz.



Yang langsung dicegah oleh Alfaska dengan menyentakkan tangan polisi agar menjauh dari sahabatnya.



" Dia tidak akan pergi tanpa pengacara."



Para anak RaHasiYa yang hendak bereaksi terhenti saat Mumtaz memberi kode menggeleng.



" Kalian dapat mendatangkan pengacara ke kantor kami, borgol dia."



Saat dua orang personil hendak menarik tangan Mumtaz m, Alfaska memukul wajah Berto hingga ujung bibinya berdarah.



" Sekarang tangkap saya, saya sudah pukul anda." tantang Alfaska marah.



" Fa, tenang. aku gak apa-apa." bujuk Mumtaz di telinga Alfaska.



" Saya hanya menjalankan perintah atasan, tapi jika anda ingin..."



Segera Mumtaz berbisik ke telinga Berto.



" Lepaskan dia, kau sentuh dia, gue akan melupakan persaudaraan kita."



" Fa, biarkan mereka melaksanakan tugas mereka." seru Mumtaz pada Alfaska..



Dua orang memborgol kedua tangan Mumtaz di belakang punggungan. Tia, Zahra, Sisilia, dan yang lain sudah menangis histeris.



Mumtaz memberikan kecupan hangat di pucuk kepala adik dan kakaknya, sebelum memberi senyuman pada Sisilia yang menangis dalam pelukan Elena.



" *I Will be back, soon*."....

__ADS_1


__ADS_2