Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
200. Kerja sama...


__ADS_3

Tak..tak...tak...


Suara langkah kaki Zayin menuju gudang penyimpanan padi, tempat para penculik disekap selam sepuluh hari belakang ini menjeda kegiatan para santriawat dari kegiatan masak mereka.


Lokasi gudang yang tidak jauh dari dapur umum bagian santriawat sesungguhnya sangat mengganggu Zayin, karena setiap dia ke sana acap kali mendapat perhatian berlebihan bahkan beberapa kali dia mendapat surat dari santriawat yang mengaguminya. Hal seperti inilah yang selalu membuat dia menganggap perempuan itu ribet.


Dia ke gudang karena dimintai bantuan olah para rekannya guna menyelamatkan penculik yang ditempatkan di sana oleh pamannya dari siksaan Prakasa, dan Gaunzaga.


Dua orang membuka membuka pintu gudang, terdengar dari dalam suara teriakkan bersahutan khas orang tersiksa. 


" Kap, apa mesti gue yang harus menangani setiap kali mereka berulah?" Tanya malas Zayin pada Arvan.


" Cuma Lo yang punya nilai nego dengan mereka. Bini gue baru buka olshop belum siap bangkrut gue." Jawab Arvan ngasal.


Zayin melirik pria di samping Arvan." Emak gue baru buka cabang warung ketopraknya, iya kali harus langsung guling tikar." Timpal si jambul, yang sendag menyamar jadi preman.


Zayin menghela nafasnya malas, lantas ia melanjutkan langkahnya musik ke gudang. Dia sana ada akbar, Adgar, dan Dominiaz yang duduk di kursi kayu usang dan Damian yang terlihat sedang marah, serta beberapa pengawal mereka yang berjaga tidak jauh dari mereka.saat melihat rupa para penculik dia meringis.


Penampilan mereka sungguh naas dengan wajah yang tidak tempat yang tidak terluka, dan dipastikan seluruh tubuhnya bernasib sama. Dapat dia lihat beberapa bekas pecutan dari punggung dan beberapa bagian tubuh mereka.


Dia mendekat pada Damian yang berdiri di hadapan mereka dengan cambuk di tangannya." Om, sudahlah. Biar negara yang mengurus mereka, toh mereka juga gak bakal selamat."


" Saya mempersingkat waktu negara." Ucap Damian melempar cambuk itu ke sembarang tempat, lalu ia mencuci tangannya dari sebuah ember yang berisi air.


" Kita masih butuh mereka guna mencari keterangan."


" Ini..." Dominiaz menyodorkan flashdisk padanya.


" Di sana berisi rekaman pengakuan mereka."


" BANG, SINI__" teriak Zayin memanggil Arvan.


Arvan berdecak sebal karena tingkah bawahannya, terkadang dia mereka tidak punya wibawa dihadapan juniornya ini.


" Apa?" Bentak Arvan.


" Periksa ini." Zayin melempar flashdisk tersebut. 


" Lagian kalian kerja lelet banget Ampe sekarang belum bisa dapat keterangan dari mereka." Cibir Zayin pada Arvan.


" Emang mereka kasih kita kesempatan buat melakukan interogasi? KAGAK!" Pakik Arvan kesal.


" Ck, biasa aja dong. Ngegas amat." 


" Bodo, Yin. Bodo. Terserah kau mau ngomong apa." Arvan ngeloyor keluar gudang.


" Apa bisa ini hari terlahir kalian siksa mereka?" Tanya Zayin.


" Enggak janji. Tergantung mood om." Jawab Damian santai.


" Ck, kalian ini...ayolah om, bang. Tinggalin mereka. Aku gak bisa bolak balik Jakarta-Tangerang dan pelosok daerah lain hanya untuk mencegah kalian agar tidak membvnvh mereka"


Zayin berjalan ke arah kursi-kursi itu, dia menendang betis Adgar." Lo ngapain di sini kalau gak ngelakuin apapun."

__ADS_1


" Ck, lihat ini, Lo pikir RaHasiYa berbaik hati membiarkan gue nganggur." Adgar memperlihatkan mesin pemindaian wajah.


" Gue ditugaskan mencari identitas mereka. KTP mereka palsu."


" Padahal udah e-KTP. Gimana sih. Udah dapet?"


" Tinggal satu lagi."


" Yang sudah dapat kirim ke gua.


" Lo, bang?" Zayin Bertanya pada Akbar.


" Heh, gue juga malas di sini bau dan kotor. Tapi bara bilang aklau gue gak bantu dia, dia gak akan bantu Dirgantara kalau suatu hari Hartadraja mengusik bisnis Dirgantara karena gue.


" Hehehe___"


" Padahal gue udah bilang santai aja, kan gue CEO-nya. Gue mana bisa diintimidasi sama kakek." Ujar Adgar.


" Ogah gue dapet bantuan Lo, Lo ngincer Ical kan? Kagak!


" Ya Allah, bang. Husnudzan sekali anda. Kagak tulus ini gue." Adgar menepuk-nepuk dadanya untuk meyakinkan.


Tring...


Tanda cocok pemindaian selesai." Beres, identitas keempatnya sudah ditemukan. Gue kirim ke Lo, Yin." Ucap Adgar mengotak-atik iPadnya.


" Yin, kaya panglim4, kartu identitas mereka palsu." Seru Arvan melangkah masuk ke dalam gudang mendekati mereka.


Sontak Arvan berhenti di tengah jalan." Seriusan?" Dia menyalakan ponselnya.


" Issh, daritadi kek. Lo pikir dari pintu ke tempat Lo gak jauh." Omel Arvan langsung berbalik kembali berlari keluar gudang.


" Aku juga permisi mau ke rumah sakit, kabarnya para bocil pada mau pulang hari ini." Zayin beranjak keluar.


" Gue ikut." Adgar berlari menyusul Zayin.


" Yuk kita juga kesana. Zayin marah-marah lagi auto Cassy cemberut di rumah seharian." Ujar Damian meninggalkan gudang diikuti yang lain.


*****


****


" Jadi Mumtaz, bisakah kita melakukan deal ditukar informasi yang kalian punya?" Tawar Ergi.


Petinggi polr1 dan TNI sedang mengadakan pertemuan dadakan dengan Mumtaz dan Yuda perihal para penculik keempat bocil tersebut di batalyon infanteri TNI di Jatiuwung Tangerang.


" Asal anda tidak lagi membuat kami kecewa seperti yang kemarin."


Ergi tidak langsung menyanggupi, namun ia mempertimbangkan." Negara dalam keadaan darurat sebaiknya anda tidak bermain-main atau kami..."


" Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, tapi kami ingin informasi seutuhnya." P4nglim4 memotong perkataan salah satu petinggi polis1.


" Heh, jangan ajari saya bagaimana peduli pada negara ini, bisa jadi saya lebih baik dari anda. Pak." Mumtaz menyodorkan sebundel penemuannya tentang penculik itu pada Ergi.

__ADS_1


*****


Di waktu bersamaan, di rumah Aida. Ibnu menatap komputernya membaca satu lagi file yang berhasil dia buka.


Selama membaca temuannya wajah Ibnu memerah dengan tangan terkepal kuat. Sesekali tangan itu memukul meja yang membuat Romli yang menamainya duduk santai bermain game di ponselnya di atas kasur  terlonjak kaget.


" Nu, are you okay?" Tanya Romli. Dia harus memastikan Ibnu baik-baik saja atau mendapat amuk dari Mumtaz sepeti tiga hari yang lalu ketika dia kecolongan Ibnu yang mengambil di kamar sementara dia ke kamar mandi dan lupa menitip pesan ke ayng lain untuk menjaga Ibnu. Alhasil, entah bagaimana Mumtaz mengetahuinya, yang pasti dia memasuki rumah dengan panik dan langsung ke kamar Ibnu yang telah memporak-porandakan kamarnya dan mendapati sobatnya itu menangis histeris di pojok dengan tangan penuh darah akibat pukulan ke kaca.


Akibat keteledorannya Romli dipukul habis-habisan oleh Mumtaz, kalau saja Bara dan Jeno tidak menarik jauh Mumtaz darinya mungkin sampai kini dia masih terbaring di rumah sakit.


Tidak mendapat tanggapan dari Ibnu, kembali Romli menekuni game-nya meski sesekali dia melirik Ibnu memastikan keadaanya.


" B4ngs4t____"


BRAKH....


Ibnu melempar kursinya mengenai rak bukunya, kemudian dia beranjak keluar kamar sambil menenteng ranselnya. Romli dengan panik mengikuti Ibnu, dia menarik sembarang jaket dari kastok dan helm lalu naik keatas motor yang dikemudikan Ibnu.


" Nu, calm down. Gue panggil Mumtaz kalau Lo gak melanin motornya." Teriak Romli ke telinga Ibnu yang langsung direspon Ibnu menurunkan gas motor.


Motor itu berhenti di Cinere depan rumah megah bercat gading." Ini rumah siapa?" Tanya Romli.


" Entahlah, gue menemukan alamat ini dari yang gue baca tadi. Lo tunggu di sini atau ikut gue?" Tanya Ibnu sambil mengeluarkan drone berukuran kecil dari ranselnya.


" Ikut Lo lah." Lo bisa pegangin tas gue, kesenggol benda lain gue kurangi porsi makan Lo."


Drone tanpa awak berjarak dekat terbang memasuki are rumah. Sementara Ibnu mengoperasikannya melalui tabsnya sambil memperhatikan tangkapan drone.


" Ck ancemannya serem banget. Nu, gue yakin Mumtaz punya rekaman ini rumah. Kenapa Lo gak meriksa komputernya?" Advice Romli yang matanya sambil memperhatikan tabs Ibnu.


" Buka komputer Mumtaz itu lebih sulit daripada mecahin soal fisika berjumlah 100 soal, percaya sama gue." Mendengar ucapan Ibnu Romli manggut-manggut seolah mengerti.


" Kita masuk ke rumah itu."


" Nu, ketangkep alamat kantor polisi domisili kita." Cegah Romli menarik tangan Ibnu. Ia sungguh ketakutan


" Ck, Cemen Lo. Kurang micin ni begini, ya jangan sampe ketahuan. Ayok."


Romli hanya mampu berdecak walau demikian kian dia pun mengikuti langkah Ibnu sambil menelpon video pada Mumtaz.


Mereka masuk dengan memanjat tembok, tanpa kesulitan memasuki ruang tamu.


Di sana duduk seseorang dengan sejumlah cairan yang beraneka warna di dalam botol panjang ramping.


Ibnu dan Romli mendekat," Matunda?" Terka Ibnu.


Lelaki itu mengangkat kepalanya dari cairan tersebut mengarah pada suara yang memanggil namanya.


Saat melihat Ibnu di sana, ia menghembuskan nafasnya.


" Tuan Ibnu... lama kita tidak berjumpa....."


 

__ADS_1


__ADS_2