Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
250. Perkara Usia.


__ADS_3

" Sekali lagi, Adelia Putriana Hartadraja-Hermawan, apa kamu bermake-up?"


Adelia benar-benar mematung di tempat, seketika tubuhnya kaku saat suara bass itu menegas, dia hanya mampu menelan ludah, bola matanya berputar tak arah mengalihkan ketakutannya, melirik tipis pada Mumtaz memohon bantuan.


Tangannya merayap pada tangan Mumtaz di sisi tubuhnya, meremasnya sekuat tenaga bocah.


" A...AAA...AAAW...wwssss." Mumtaz refleks berteriak saat tangan kecil itu menekan tangannya.


Semua orang terkaget khawatir melihat Mumtaz.


" Aaaa, kenapa? apa yang cakit?" Adelia berpura-cemas.


Zahra ,Zayin dan yang lain menatap Adelia datar, Bahakan Zayin sudah bersedekap dada.


"Adelia." Zayin sungguh gregetan dengan itik favoritnya ini.


Adelia menatap mengedar ke semua orang berharap ad ayang mengeluarkannya dari taring Zayin." Ee..h..ap..apa..." Zayin bergeming.


" Eeenng..."


" Kamu berani bohongin Aa kita gak bakalan ketemuan lagi ya."


" I..ini tuh alami, emang Adel mukanya berseli-seli glowing begini..." elak Adelia.


Zayin mengambil tissue dari nakas, lalu menyebrangi tubuh Mumtaz untuk mengelap bibir Adelia, tampaklah perona bibir di tissue, Zayin menunjukkannya pada Adelia.


Dia nyengir pasta gigi sembari mengerling-kerlinh mata berharap Zayin luluh, namun semua sia-sia. Raut datar Zayin menyudahi upaya Adelia. mukanya merungut, menunduk.


" Kak, belum jelas apa yang Ayin minta? dia terlalu kecil untuk dipolesi pewarna gini." protes Zayin pada Eidelweis.


" Adel yang maksa, sumpah, Adel yang maksa. Kakak udah bujuk gak usah pake, banyak saksi kok yang lihat." Eidelweis sibuk membela diri sendiri padahal Zayin diam saja, tapi muka Zayin tak berekspresi itu sangat menakutkan.


Adelia menunduk, mentautkan kedua tangannya. Mumtaz menoleh pada Adelia," Adel mau duduk di sini?" Mumtaz menepuk kasurnya. Adelia mengangguk cepat plus sumringah karena ada penolong.


" Tidak ada yang bergerak, Adel tetap berdiri di sana."


" Capek.." cicitnya.


" Jadi capek ya bareng Aa Ayin, mungkin sebaiknya kita memang gak temanan lagi."


Adelia cepat menggeleng," Bu..bukan begitu, tapi capek beldili telus, pegel."


" Pegelan mana sama Aa yang selalu dibikin pusing sama Adel? sini." Zayin mengode dengan tangannya.


Adelia menggeleng," gak mau, takut."


" Takut tapi ngulangin kesalahan terus. sini."


" Yin, Adel ketakutan ini, udah ya marahnya." Mumtaz kasihan melihat Adelia yang seperti mau menangis.


" Dia gak takut, itu cuma gimmick


buktinya dilarang bermake-up, tapi dandan lagi."


" I..ini..telakhil. gak lagi-lagi."


" Dulu juga bilang begitu, sini gak? Aa pergi ni."


Menunduk dalam Adelia berjalan ke tempat Zayin, Zayin mengangkat Lalu mendudukannya di samping Mumtaz.


" Kak, ada tissue basah gak?" Heru memberi tas kecil pada Zayin yang berisi keperluan Adelia.


Zayin menghilangkan segala ***** bengek perona di wajah Adelia dengan telaten, inilah yang disukai klan Hartadraja pada Zayin, dia terlihat menolak Adelia, tetapi di sis lain begitu peduli padanya hingga mereka selalu merasa aman jika Adelia bersamanya.


" Ical juga dandan?" tanya Zayin pada Crystal yang duduk di pangku Akbar.


" Enggak, kan gak boleh cama Aa Adar, Aa kalau malah celem jadi gak berani."


" Nurutnya Ical, Aa sayang Ical banyak-banyak."


Perkataan itu menyulut kemarahan Adelia, dia melototi Zayin dengan mata bulatnya." Aa mau celingkuh cama Ical?"


" Ck, masih itik tahu kata selingkuh, lagian siapa yang selingkuh Aa jomblo ya."


" Mana ada, Aa bilang cayang loh cama Adel."


" Itu kemarin, waktu Adel jadi anak baik, sekarang Aa mikir lagi, Aa gak suka perempuan yang suka dandan."


" Adel dandan kan buat ngelayu Aa Mumuy cupaya bujuk Aa gak malah lagi cama Adel."


" Ya, Adel mau ngerayu Mumuy." provokasi Alfaska.


" Iya? beneran? Adel mau jadi saingan kakak?" Sisilia berdrama mendekati ranjang Mumtaz.


" Bu..bukan begitu." Adelia panik.


" Aa Afa gak ucah fitnah Adel ya." sewot Adelia mau menangis. dia bingung.


" Ya, gak usah ikutan Afa, kakak pusing ini." ucap Mumtaz pelan. mengusap lengan Sisilia.


" Ck, padahal akan pengen seru-seruan."


" Nanti, kalau Aa udah sembuh. terserah mau kamu apain Adel."


" Kak, Aa kapan bisa keluar dari sini?" Mumtaz bertanya pada Zahra.


" Kenapa memang?" Zahra mendekat melihat adiknya itu sudah pucat, dadanya naik turun seperti orang sesak atau menhan sakit.


Zayin menggendong Adelia menjauh dari ranjang, ruangan seketika menegang karena semua orang diam menunggu dalam kecemasan.


" Kak.." sisilia ketakutan karena khawatir.


" It's okay, babe." ucap lemah Zayin.


Supaya Zahra banyak ruang dalam memeriksa, sisilia menjauh namun tangannya yang diremas Mumtaz menahan geraknya.


Sisilia melihat ke Zahra yang mengangguk, Zahra menurunkan kepala ranjang, memeriksa, memberi instruksi pada Mumtaz.


" semua stabil, Obatnya udah dimakan?"


" Sisa satu, pak Ruben keburu datang tadi." jawab Ibnu menunjukan obat sisa dalam botol kecil tertutup.


Zahra menghela napas kasar obat yang belum diminum adalah obat yang terpenting untuk Mumtaz.


" Minum, dan jangan lagi ada perbincangan serius soal apapun."


" Kak..."


" Kakak yakin tanpa kamu Ibnu bisa menangani soal bapak dan ibu, tapi kalau ada apa-apa sama kamu kakak yang gak bisa ngapa-ngapain. ngerti ya...untuk saat ini aja. kamu tega melihat Lia terus menangis gara-gara kamu?"

__ADS_1


Mumtaz melihat ke arah Sisilia yang diam kaku di tempat, Mumtaz baru menyadari kalau sisilia terlihat sangat kurus.


" Paham semuanya?" Zahra berbicara tegas pada yang lain.


" Paham." jawab mereka.


Setelah Zahra menjauh kembali ke sofa, Ibnu segera memberi obat pada Mumtaz.


" Maaf, lagi-lagi gue yang bikin Lo sakit." Ibnu menghindari adu tatap dengan Mumtaz.


" Nu, hei...relax, gue terlalu keras kepala untuk ditaklukan segini doang." ucap Mumtaz menenangkan.


" Huaaaa.... Aa Mumuy, maafin Adel, pasti gala-gala Adel Aa cakit." Adelia meminta ke ranjang Mumtaz yang dituruti Zayin menggeser ibnu yang senang hati bergeser menjauh.


Di sana Adelia menciumi pipi Mumtaz." Hiks..maaf ya..maafin Adel.."


" Bukan karena Adel kok. ini cuma selingan pengen diperhatiin Adel aja kok."


" Benelan?"


" Heeh."


" Oke deh Adel pelhatiin Aa, Aa Ayin jangan cembulu ya cinta Adel cuma buat Aa doang kok tapi Aa mumuy kan kakak Aa Ayin jadi Adel gak bica nolak." Mumtaz terkekeh mendengar kepercayadirian Adelia.


" Gak marah kok, Adel mau sama Aa mumuy juga Aa ikhlas." Adelia cemberut sakit hati.


" Sakit tahu, A. Aa Ayin nolak Adel lagi, huh. Adel gak tahu halus gimana lagi naklukin Aa Ayin. pucing Adel."


" Gak pake dandan, jadi anak pintar, baik sama semua orang, berbakti pada orang tua, penyayang, sabar, gak cengeng,. bisa gak jadi perempuan begitu?" tanya Alfaska.


" Banyak amat, gak bica calah catu aja."


" Ical bisa. apa Aa Ayin bisa suka Ical?" ucap Crystal.


" Heh, Ical gak boleh. Ical kan udah punya Halis." Adelia langsung sewot.


"Om, dan semua aku bawa Adel dulu ya, kalau dia di sini bisa kambuh lagi Aa Mumuy-nya." Zayin menggendong Adelia.


" Iya, bawa, A. titipin ke tukang gorengan sekalian." ucap Dista.


" Dih, dasal jomblo." Dista melotot diolok oleh itik berusia lima tahun.


"Adel, be nice, bisa?" Zayin menegur yang diangguki Adelia.


" Ical mau ikut Aa?" tawar Zayin.


" Mau."


" Gak boleh. nanti Ical lebut Aa Ayin." tolak Adelia.


" Adel kumat lagi posesifnya?" Zayin merubah intonasi bicara menjadi serius dengan wajah tak kalah serius.


" Engg..enggak. Ical boleh ikut. Adel kan Olang baik."


" Good, ini baru kesayangan Aa." Zayin menggendong dua itik tersebut keluar kamar setelah berpamitan pada yang lain.


" Kalau ada yang merekam keren tuh. kita tunjukin ke Adel 20 tahun kemudian, malu gak tuh ginjal dia." ucap Alfaska.


" Tenang udah gue rekam dan kirim ke Dewa." ucap Haikal.


" Ck, kalian ini yang ganggu dia, kan dia jadinya cengeng dan manja." ucap Akbar.


" Tapi kalau Adel jodoh beneran sama Zayin keren sih itu." ucap Ubay.


" Gue sih rada gimana gitu secara umur mereka jauh banget."


" Zayin itu empat tahun lebih muda dari kita, jangan lupa itu." Mumtaz ikut nimbrung.


" Oh iya lupa gue. umur Lo sekarang berapa?" tanya Rizal.


" Ck, umur Lo berapa?" tanya balik Mumtaz.


" 23."


" Kita seangkatan ege." Rio menoyor kepala Rizal.


" Busyett, kerena amat Lo, 23 tapi pengunjungnya orang penting semua."


" berarti Zayin 19 tahun, busyet selama ini gue takut ama bocil." teriak Alfaska.


" Dan bini Lo masih bocil berarti, kan mereka kembaran, dan Tia sedang hamil anak lo." timpal Yuda.


" Heeh, aku korban anak remaja labil." ucap Tia menyeka airmata yang tidak ada.


" Sayang, kamu gak bocil, kamu wanita terimut sedunia." Alfaska mendudukkan Tia di atas pangkuannya.


" Huekks....orang julid sok romantis jadinya menggelikan." cibir Zahra.


" Adel bulan depan lima tahun, Zayin tahun ini 19 tahun. berarti mereka beda 14 tahun, gak ketuaan itu?"


" Enggak, itu ideal." jawab Eidelweis ngegas melototi Jeno yang menghitung usia.


Semua orang bungkam, mereka tidak berani membantah wanita hamil satu ini.


" Bisa gak kalian hanya mendukung saja, saya cuma mau Zayin yang jadi menantu saya, hiks..kalian jahat, Adel cantik, cuma butuh beberapa usaha untuk menjadikan dia wanita anggun yang sesuai untuk Zayin, apa kalian pikir Adel gak pantas untuk Zayin karena dia anak diluar nikah sementara Zayin begitu religi dan baik?"


Ruangan hening, mereka diam tidak bermaksud demikian.


" Kak, kami mendukung, beneran mendukung. cuma gak berani berterus terang, kakak tahu sendiri Zayin gak suka membahas ini. persoalan kelahiran Adel, kami gak pernah mikir ke sana bagi kami Adel keponakan kami yang cantik yang harus kami sayang dan lindungi." ucap lebar Yuda.


" Yang dibicarakan mereka tidak salah, Tante terlalu memaksakan diri, nyatanya usia mereka terpaut jauh, sangat jauh. 10 tahun lagi zayin berusia 29 tahun, usia cukup matang dan mungkin sudah menikah, tapi Adel baru menginjak 15 tahun, usia remaja masa-masa menikmati cerianya hidup tanpa beban." sahut Akbar.


" Kakek juga akan senang jika Ayin yang menjadi pendamping Adel, tapi kita harus realistis. jangan sampai kita membuat Zayin merasa bersalah jika tuhan tidak menjodohkan mereka." Aznan mengelus punggung tangan Eidelweis.


" Perkara kelahiran Adel jangan dibuat beban, itu masa lalu dan kamu sudah memperbaiki diri."


" Mum, kami minta maaf sudah membuat waktu istirahat kamu terganggu begini." ucap Damar.


" Santai om, lagian aku senang kita berkumpul di sini."


" Kami pamit agar kamu bisa istirahat." Fatio berdiri diikuti yang lain.


" Kakek, aku sungguh tidak merasa terganggu dengan pembicaraan ini, selama sebulan aku di ICU, bukan berarti aku tidak merasakan apapun, sungguh suasana seperti ini sangat aku nikmati." Mumtaz berusaha menghilangkan beban perasaan di hati mereka.


Sri dengan kaki tuanya mendekati ranjang Mumtaz." Entah bagaimana kedua orang tua kalian mendidik anak-anaknya tetapi kalian berempat merupakan cahaya hidup kelurga kami, mau kan kamu memaafkan saya yang dulu jahat pada kalian?"


" Nyonya, ku mohon jangan memberi beban pada kami dengan meminta maaf, itu menjadikan kami anak yang durhaka." Mumtaz mencium punggung tangan Sri.


" Nenek mau mengembalikan ini." Sri menyerahkan kartu hitam yang dulu dilempar padanya sewaktu Sri menyinggung kepantasan harkat drajat Zahra sebagai pendamping Hito.

__ADS_1


" Isinya masih utuh kan, nyonya?" seloroh Mumtaz.


" Tenang, cuma habis separoh buat beli gigi palsu kakek kamu." Sri tertawa.


" Dendanya 1000 kali lipat, Muy. mereka mah konglomerat jangan sungkan." ucap Alfaska.


Plak...


Sri memukul lengan Alfaska." Kamu ini, udah banyak juga uangnya.




...Setelah Zahra memaksa mereka untuk meninggalkan kamar Mumtaz yang memang Mumtaz h berkunjung secara tertutup. atas permintaan Mumtaz....



" Maaf, saya merepotkan kalian ditengah kalian mengurus negara ini."



" Kami justru berterima kasih kamu ingin kita bertemu." ucap Agung.



" Pak Janh, saya ingin meminta pada kalian untuk mendesak presiden agar memulihkan nama baik bapak dan ibu, kami memang tengah berupaya di jalur hukum, tetapi bukan. rahasia lagi jika dewan dan presiden sudah turun tangan itu akan mempermudah prosesnya.



" Saya dengar presiden sudah bertemu dengan panglima soal Navarro dan upaya pendudukannya, sepertinya laporan Zayin menyinggung soal fitnah atas nama bapak Mahmud." ucap Agung.



" Tapi belum tentu presiden bergerak, Pak toni memang sudah bukan Toni yang dulu dengan segala kekacauan emosinya, namun bukan berarti ' teman' pak mantan ketua akan diam saja. satu hal yang saya pahami dari politisi yang korup adalah mereka akan membalas dendam, jika bukan saat ini, bisa suatu hari nanti. aku hanya ingin Ibnu dan Khadafi hidup dalam kebanggaan seperti warga yang lainnya." sorot mata Mumtaz berubah sayu mendung.



" Mudah saja bagiku menghancurkan mereka semua, tapi kestabilan negara lebih penting. jadi RaHasiYa memutuskan akan memberantas mereka satu persatu tanpa mereka sadari." ucap Mumtaz tegas dan yakin.



" Untuk itu kita harus berkerja sama Mumtaz." Seru Agung.



" Dua tahun lagi akan diadakan pemilu, tentu kita ingin pergantian pemimpin nanti Indonesia mengalami kemajuan bukan *stuck* di tempat apalagi mundur tertinggal jauh dengan negara lain."



" Apa yang kalian tawarkan."



" Presiden dan pemimpin dewan telah bersepakat memberi kalian kewenangan untuk mengawasi setiap transaksi keuangan para pejabat dari mulai pusat sampai daerah."



" Pak Agung, pak Janu. sebaiknya pikirkan kembali tawaran itu. resiko bekerja sama dengan kami, ketika kalian dan jajaran kalian tidak berkomitmen maka kami akan menyerang balik kalian sampai ke akar-akarnya tanpa pandang bulu. meski negara taruhannya."



" Kami sudah tahu soal itu dari kejadian kemarin, beberapa mantan dewan yang yang tertangkap bagaimana RaHasiYa menekan mereka ketika mereka mencoba melakukan kecurangan dalam proses hukum mereka. kalian memiskinkan mereka dan menutup kesempatan bisnis dan lapangan kerja untuk keluarga besar mereka. kecuali di tempat dimana kalian berpartner agar kalian bisa mengawasi mereka."



"Jadi, demi masa depan negeri ini maka kami meminta kerja sama pada kalian untuk kebangkitan negara dan bangsa ini." seru Janu



" Termasuk menjaga profesi anak bungsu mantan ketua, pak Janu?" sindir Mumtaz.



Agung tersenyum simpul melirik Janu yang tengah mendekati anak bungsu mantan ketua dengan alibi balas dendam.



" Dia bekerja di rumah sakit Medika." tutur Janu.



" Kakak saya menanam saham, beliau memiliki 65% saham di sana setelah apa yang dilakukan putri pak Arya, Mutia yang menganggap remeh dunia kesehatan. otomatis rumah sakit itu menjadi bagian RaHasiYa.



" Saya membalas apa yang dilakukan ketua."



" Tapi bukan dia yang bersalah dan ketua sudah tidak berdaya dengan kakinya yang lumpuh total dan permanen."



" Matanya masih melihat, hatinya masih merasakan." ucap dingin Janu, ia meremas tangannya.



" Jangan menyesal saja jika suatu hari nanti bapak dipermainkan balik oleh perasaan."



" Saya tidak akan jatuh cinta padanya."



" Dan saya bukan cenayang, saya tidak bilang cinta." telak Mumtaz menahan tawa begitupun dengan Agung.



" Ck, kalian ini..."



" Duren lagi galau, Mum." ledek Agung



" Hahahhaha..." agung dan Mumtaz menikmati raut gusar Janu dalam misi balas dendamnya....

__ADS_1


__ADS_2