Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 94. Membidik Target.


__ADS_3

Zivara, Zahra dan Zahira berjalan santai karena jam praktek mereka telah usai. Zivara menarik tangan Zahra begitu dia melihat sesuatu yang beberapa minggu ini membuat dia kesal.


" Ra, Lo jangan marahin gue mulu, tuh lihat." Tunjuknya pada dokter wanita muda yang sedang tertawa dengan Farhan tak jauh dari mereka berdiri.


Zahra mengernyit bingung," urusannya sama gue apa? Lo udah restuin prof. Farhan buat gue gebet?"


Bugh!!


Zivara memukul lengan Zahra," dia dokter inters, selain prof. Farhan dia juga caper sama kak Hito, dan juga Bara, pokoke semua laki yang berpengaruh dia gebet." Zivara memanasi.


" Dokter Anna diem aja lihat itu?"


" Dia udah ganti target, sekarang targetnya Samudera Dirgantara." Matanya melirik Zahira. Zahra terbelalak tak percaya.


" Lo tahu tentang ini, Ra?" Zahira mengangguk," dokter Anna berulang kali nyuruh gue jauhin kak Samud."


" Pantes Lo gak mau balikan sama dia, gue juga ogah diribetin cewek gak jelas."


" Sekarang nyaho lo."


" Ih, udah back to topic. Itu cewek lebih ulet dan gencar capernya, apalagi ke laki Lo. Dia tahu kak Hito sang tuan muda Hartadraja."


"Terus?"


" Ya...walau sejauh ini kak Hito masih ga ngerespon sih, tapi Lo kan cuek mulu sama dia, siapa tahu suatu hari nanti kak Hito berpaling."


Dari jauh terlihat Hito mendatangi Farhan, terlibat pembicaraan yang terkesan penting menghiraukan dokter centil itu.


" Namanya siapa?"


Zivara mengulum senyum provokasinya tercapai," Mutia Wibowo."


" Gak kenal gue."


" Pengusaha yang termasuk top 20."


" Dia gak gangguan mental kan ya, cengar-cengir gak jelas gitu?" Celetuk Zahira merangkul pundak Zahra.


" Kayaknya, masa dokter dikepang dua. Emang dia gak tugas di bagian UGD?"


" Di situ tugasnya, dan kalian tahu dia sebenarnya jadwal malam, tapi lihat dia jam segini udah nangkring di rumah sakit kalau bukan buat caper buat apa coba?"


" Buat dapetin laki tajir." Telak suara berat di belakang mereka.


" Bisa jadi, ishh benci gue kayak gitu. Gak tahu perjuangan orang kayak kita yang mencintai dunia medis." Kesal Zahra.


" Makanya Lo labrak dia." Zivara masih memanasi.


" Dih, kenapa gue, Lo lah. Yang dirayukan gebetan abadi Lo." Zahra protes.


" Lo gak lihat, noh tangan dia udah merayap merangkul lengan calon laki Lo."


Mutia mendekati Hito secara perlahan dengan modus memperbaiki sepatunya, dia berpegangan pada tangan Hito yang tentu saja Hito tepis dengan menjauh darinya hingga dia oleng dan menemplokan dirinya dengan memeluk pinggang Hito.


Membuat tiga dokter dan staf lain yang memperhatikan ternganga.


" Laki gue nolak." Gimana Zahra dengan mata masih terbuka lebar.


" Tapi tu orang gigih juga lihat dia mepetin dadanya." Timpal Zahira.


" Kalian gak mungkin risau karena dokter murahan itu kan?" Tanya suara di belakang mereka.


" Enggaklah, tapi kayak gitu harus dibasmi. Sebelum rumah sakit ini jadi rumah bordir." Geram Zahra.


" Okey, gue laksanakan."


Tiga dokter itu menoleh ke belakang mereka dan terkaget mendapati Zayin yang menyengir lebar kemudian berlalu dari mereka ke arah Hito dan Farhan.


Tubuhnya yang tegap tanpa lemak pelukable, berkulit putih, berlesung pipi, berwajah baby tampan dengan model rambut buzz cut mengenakan celana Levi's biru navy, kaos hitam dilapis kemeja garis kombinasi hitam biru menambah kesan gantle nan menggemaskan mengundang orang-orang yang sedang berada di bagian administrasi rumah sakit menatapnya takjub.


" Hello cabean cosplay dokter." Tembak Zayin pada Mutia yang terperangah dengan ucapan menghina dari Zayin namun berwajah tampan.


" Lo ngomong sama gue?"


" Siapa lagi di sini yang mepetin dada implannya ke calon kakak ipar gue selain Lo."


Semua orang terkaget dengan ucapan frontal Zayin. Beberapa suster menahan tawa, beberapa dokter berpura-pura tak mendengar, bahkan petugas administrasi terbatuk-batuk karena tertawa tertahan.


Wajah Mutia menahan malu," siapa calon kakak ipar Lo?"


" Mereka berdua." Tunjuknya dengan dagu kepada Farhan dan Hito.


" Sembarangan, gue gak pernah lihat mereka gandeng cewek."


" Karena cewek mereka perempuan terhormat gak murahan kayak Lo yang nawarin diri buat digrepein mereka."


Lagi, Mutia terkaget dengan sikap lancang Zayin, dia menatap Hito dan Farhan mengharap pembelaan, tapi nihil.


" Siapa nama Lo?"


" Mau apa Lo tahu nama gue? Gue gak doyan cewek lepehan kayak Lo."


Tak lagi bisa menahan amarah Mutia mengangkat tangan hendak menamparnya yang langsung dicekal Zayin.


" Jangan pake marah kalau kelakuan Lo emang bit,ch. Pergi Lo, ini bukan tempatnya untuk jadi lon.te" Sadis itulah ucapan Zayin kalau dia tak suka dengan perempuan yang dia pikir akan membuat kakaknya murung.


Dengan malu Mutia menyingkir dari sana dibawah tatapan meremehkan dari yang lainnya.


" Kenapa kamu benci dia?" Tanya Hito heran.


" Tuh dua dari tiga dokter di sana lagi meradang ngelihatin kalian yang lagi tergoda olehnya." Tunjuknya pada tiga dokter yang masih menganga.


Farhan dan Hito memandangi mereka.


" Om, kak Ziva manasin kak Ala."


" Beneran?" Farhan tak percaya.


" Heeh, dia yang sedari tadi paling sewot nyoba memprovokasi kak Ala, tapi gak mempan juga."


Tiga lelaki itu berjalan mendekati mereka yang berhasil membuat dua orang dokter itu bergerak gelisah.


" Cemburu, heh?" Hito menarik lembut tangan Zahra.


" Mana ada, Ayin ayo kita pergi." Zahra mencoba kabur dari situasi yang menurutnya memalukan.


" Ara pergi sama saya." Ucap Hito yang masih terus memegangi tangan Zahra.


" Aku sih oke saja, selama om bisa pastikan kak Ala gak gigit aku di rumah nanti."


Hito terkekeh " Gak akan, saya jamin." 


" Yuk pergi." Sebelum mendapat penolakan dari Zahra Hito menarik Zahra keluar dari rumah sakit.


Zivara bersiap lari yang tangannya langsung dicekal Zayin, hingga membuatnya menoleh.


" Apapun alasan lo gue gak peduli, jangan pernah ganggu mereka lagi atau gue buat Lo malu kayak si Mutia tadi." Ancam zayin, Zivara membatalkan niatnya ikut nebeng pulang.


Tanpa sungkan Zayin mendorong Zivara ke arah Farhan yang langsung ditangkap olehnya.


" Kak Hira mau dianter pulang gak?" Tawar Zayin melangkah meninggalkan rumah sakit.


Zahira mengangguk cepat lalu melenggang menyusul Zayin meninggalkan suasana kikuk antar Farhan dan Zivara.



Selepas makan siang Hito mengantar Zahra sampai ke ruangannya yang berada di gedung Hartadraja.



" Pulangnya aku jemput." Ucap Hito yang duduk santai di sofa



" Gak usah, kamu bukan ojek aku." Sahut Zahra yang sudah sibuk dengan berkasnya.



" Aku gak mau mengulang kesalahan dulu, aku pergi." Hito beranjak meninggalkan ruangan Zahra.



" Iya, hati-hati."



Tak lama Hito pergi tanpa permisi nenek Sri masuk ruangan Zahra dengan raut marah, sungguh dia butuh seseorang untuk melampiaskan kekesalannya..



" Maaf, Bu. Nyonya memaksa..." 



" Iya, tidak apa-apa. Kamu bisa kembali ke meja kamu." Sela Zahra tak tega melihat raut takut sekretarisnya.



Ketika Zahra mengalihkan tatapannya ke nenek, beliau sudah bersedekap tangan dengan sombong.



Zahra mengamati gestur nenek, dibalik kesombongan yang ingin diperlihatkannya dia bisa lihat kerapuhan emosi dalam pancaran matanya.



" Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Tanya Zahra menautkan kedua tangannya.



" Pergi kamu dari sini dan dari kehidupan keluarga saya."



" Saya tidak pernah memaksa masuk." Tantangnya mengubah posisi duduk bersandar di kursi dengan tangan yang saling bertaut bertumpu pada lengan kursi

__ADS_1



" Tapi kamu juga tidsk keluar, terlalu menikmati kekayaan Hartadraja kan!?" Sindirnya.



" Terserah sih mau bilang apa."



" Memang tak peduli profesinya apa kalau jiwa \*\*\*\*\*\* sudah sampai ke ulu hati gak bisa diubah. Berkali-kali diusir, tapi memang gak punya malu jadi masih *stay*. Gegara kamu keluarga besar saya berantakan, saya tahu typikal kamu tidak akan berhenti sampai tergetnya kolaps. MENJIJIKAN!"



Tautan tangan Zahra mengerat, dia menghembuskan nafas guna menetralkan emosi," apa tidak ada kata-kata yang lain selain murah, pela.cur, ja.lang, memeras, miskin? Bosan saya, kalau mau jadi perundung, luaskan dulu kosa kata anda." Balas Zahra tenang.



Kalau saja di depannya ini bukan seorang nenek yang mencintai keluarganya, sudah dia pastikan wanita ini menyesal pernah berkenalan dengannya.



Dalam keadaan amarah yang memuncak nenek melangkah besar mendekati meja Zahra, mengacak-acak semua benda yang ada di atasnya memutari meja sampai berserakan, dadanya memburu.



" KAU, KAU S.UNDAL JAHA.NAM! ENYAH KAU, SEBAIKNYA KAU MATI BERSAMA KEDUA ORANG TUAMU, CELAKALAH HIDUPMU,MATI, MATI KAU.!" Teriaknya lantang, wajahnya merah nyala, dadanya memburu,



Selama nenek menyerangnya tatapan Zahra lurus pada iris nenek yang menyimpan keputusasaan, kersahan, ketakutan, dan kepedihan. Zahra tak melawan, ia membiarkan nenek menghinanya, menyiramnya dengan air dalam gelas yang ada di dalam gelas dan,



PLAK!!!!



Wajah Zahra terdorong kesamping karena tamparan keras nenek sampai membekas di pipinya.



" NEBUY!"



" NENEK."



 Teriak tiga suara berat di belakang mereka, Zahra dan Nenek menoleh dan terkejut mendapati Hito, Akbar, dan Adgar mematung terkejut dengan serangan brutal nenek.



Tiga pria itu masuk ruangan berbarengan dengan langkah nenek yang mendekati meja Zahra, namun saking terkejutnya dengan apa yang mereka lihat, mereka tidak sempat melerai keributan itu.



Mereka bersamaan mendekati dua wanita beda generasi tersebut dengan tatapan tajam, Hito menarik lembut dan memeriksa keadaan Zahra yang terus menatap Nenek yang sebelah tangannya memegangi dadanya, Adgar dan Akbar menarik dan memaksa Nenek yang mengernyit kesakitan untuk meninggalkan ruangan Zahra.



" STOP." Adgar dan Akbar berhenti, menepiskan tangan Hito, Zahra mendatangi nenek. Lalu membaringkan nenek terlentang mengeluarkan pakaian bagian bawah dari ikatan rok melepas kancing bagian atas, di menengadahkan kepala, mendekatkan telinganya pada hidung Nenek memeriksa denyut nadinya, kemudian berlari mengambil kotak yang berisi perlengkapan medis lalu mengambil stetoskop memeriksa detak jantung, lantas melakukan nafas buatan berkali-kali sesuai ritmenya. setelah memastikan nafas nenek kembali teratur, ia merogoh isi tasnya mengambil ponsel guna menghubungi Zahira.



" Panggil ambulance, dan jangan marahi nenek. Sebelum kondisinya stabil." Serunya tenang pada pria yang masih mematung di belakangnya.



Para pria langsung sibuk dengan ponselnya masing-masing.



\*\*\*\*



Mumtaz menyeringai devil kala menutup saluran videonya.



Tanpa sepengetahuan Mumtaz Ibnu mengawasinya berdiri di belakanganya.



" Mumtaz, berhenti sampai sini. Kau sudah terlalu jauh."



Mumtaz terdiam, dia memutar kursinya menghadap Ibnu," setelah sedekat ini? Kau pasti bercanda."



" Tapi kau berurusan dengan orang bahaya." 




" Mereka tahu kita bekerjasam dengan pemerintahnya berperang melawan mereka."



" Dan pastinya mereka tahu, itu hanya sikap profesionalitas kita. Kita tidak menyentuh bisnis mereka. Kita hanya menyentuh pengkhianat mereka. Seharusnya mereka berterima kasih."



" Muy, ini terlalu bahaya, aku sudah mengikhlaskan kepergian ayah."



" Bukan berarti kita membiarkan para bajingan itu berkeliaran bebas. Di pusara ayahmu Aku sudah berjanji akan menangkap pelakunya, dan itu sebentar lagi." Tekadnya tak terbantahkan.



Ibnu hanya bisa menghela nafas berat," apapun yang Lo lakukan, harus dengan gue "



" Hmm. Btw, dimana kak Ala tinggal?"



" CARILAH, percuma jadi hacker kelas kakap kalau itu doang gak bisa." Sewot Ibnu meninggalkan ruangan Mumtaz menuju ruangan Alfaska.



" Ck, baperan. gak asik Lo." Teriak Mumtaz yang mendapat acungan jari tengah dari Ibnu yang terus melangkah tanpa menoleh.



" Fa, gimana nasib biohacker Lo?"


" Baik, kenapa?"


" Bisa kita pake dong."


" Hanya untuk militer."


" Shitt,Telat gue." Umpat Ibnu kesal.


" Kenapa Lo?"


" Lo baca apa yang baru gue kirim di surel Lo."


" Kenapa gak ngomong langsung sih." Dumel Alfaska meski ia tetap membuka surelnya.


" Astagfirullah, kenapa teman Lo mainnya sama gembong narkoba gini." Alfaska mengusap wajahnya kasar.


Brak!!!


Alfaska dan Ibnu terlonjak kaget, mereka melototi Daniel yang bersikap santai setelah memukul meja kerja Alfaska.


" Apa-apaan ini si Mumtaz pake acara main sama gembong narkoba? Gak bisa dia mainnya yang dekat-dekat aja." Sergah Daniel naik pitam, Daniel yang biasanya bersikap tenang penuh wibawa ala pengusaha tajir lenyap berganti pemarah ala preman.


" Bukannya Lo ada janji sama Ita?" Tanya Alfaska.


" Lo pikir sepupu bar-bar tercinta lo itu lebih penting ketimbang urusan ini?" Balas Daniel sewot.


" Nando, mana?"


" Di ruangan gue lah." Jawab Ibnu.


" Suruh sini."


" Ck, sabaran Napa. Kita berembuk dulu buat ambil langkah berikutnya. Gue yakin si Mumuy udah bikin strategi berikutnya." Omel Ibnu.


" Kita antisipasi aja ambil langkah lain." Daniel ngotot.


" Kenapa kita sampai berurusan dengan kartel narkoba gitu dah, ini sinolan ,Bung. Salah satu Kartel tersadis di Mexico." Alfaska menampilkan informasi tentang kartel dengan masuk ke situs kepolisian Mexico.


" Mexico sendiri membeli robot penyerbu kita guna meminimalisir korban dari pihak mereka. Sejauh ini robot intai kita cukup akurat memberi informasi pada pemerintah." Jelas Alfaska.


" Apa kita harus melobi pemerintah Mexico agar gak su'udzon pada kita. " tanya Ibnu ngawur yang langsung mendapat toyoran dikepalanya dari Alfaska.


" Lo pikir pemerintah Mexico baperan? Kagak, mereka akan mengkonfirmasi ke kita dulu kalau ada hal yang merugikan."


" Kalian arisan di sini?" Seru Mumtaz menjatuhkan dirinya di sofa tunggal.


" Jangan sok tenang, karena kita ngekhawatirin Lo." Ketus Daniel.


" Semuanya memang masih terkendali, gue udah konfirm ke bos kartel ini urusan pribadi tidak ada kaitannya dengan bisnis dia."


" Apa perlu gue turun." Ujar Daniel.

__ADS_1


Mumtaz menggeleng," nope, kalian berdua jauhi kasus ini. Karena Gonzalez berupaya mmenyeret kalian kedalamnya lewat Hartadraja." Tunjuknya pada Daniel dan Alfaska tegas.


Dring....


Pintu ruangan terbuka menampakan wajah Bara yang memerah karena marah.


" Kenapa lo?" Tanya Alfaska yang masih sibuk dengan komputernya.


" Sial, si Tamara benar-benar ngelecehin gue. Kalau bukan karena Lo yang bilang kita harus pelan-pelan gue Hajar tu muka oplas." Tunjuknya pada Ibnu yang mengerutkan dahi bingung.


" Apaan sih, gue gak paham."


" Buka aja cctv koridor gedung bisnis." Kesalnya.


Ibnu meretas cctv koridor yang menampilkan Tamara yang memepetkan dadanya pada Bara saat berjalan sepanjang koridor dengan sesekali meremas bok.ong Bara yang langsung ditepis Bara dengan mendorong Tamara sampai terjerembab ke tembok.


" Menang banyak Lo, Bar." Ledek Daniel.


" Lo, mau? Gue dengar dia ngedeketin semua orang kaya."


" Dih, ogah. Cukup dede Ita biar galak tapi Ucul, ngegemesin dan masih kencang."


Kata terkahir Daniel membuat empat orang itu membolakan mata tajam.


" Apa maksud kata terakhir Lo itu, HAH? Murka Bara yang sudah melangkah mendekati Daniel yang masih bingung.


Mata Daniel membola dan ia menutup mulutnya begitu sadar ia mengucapkan kata ambigu.


" Bar, tenang. Maksud gue kencang dalam artian negatif, ufpps. Dalam artian positif." Daniel melangkah mundur menghindari Bara dengan tangan terjulur ke depan 


 memberi batas Bara.


" Ya udah cepat jelasin apa maksud kencang itu?"  Bentak Bara lantang masih berjalan maju pada Daniel


" Ya Lo jangan bentak gitu, gue jadi ngheng." Pinta mohon Daniel yang masih mengambil langkah mundur.


" Maksud gue kencang kulit wajahnya, ikat pinggangnya. Kencang segalanya yang gak berbau ***." Jelas Daniel.


" Sampai mana hubungan Lo sama adik gue?"


" Sampai tunangan."


" Bukan itu maksudnya, Daniel. Dan Lo tahu apa maksud gue, jangan ngelak atau gue pelintir leher Lo."


Daniel meneguk Saliva sambil memegang lehernya." Cuma ciuman doang, Lo juga begitu sama si embul. Jangan muna Lo." Daniel mencoba balik serang.


" Sampe mana ciumannya."


" Masa gue kasih tahu."


" Sampai mana?" Geram Bara.


" Wajah, sama punggung tangan doang. Lo juga pasti gituan sama si embul. Yang lain juga begitu." Liriknya pada yang ada di ruangan itu.


" Gue mah udah halal, mau lebih juga pahala. Kalian mah masih belum." Imbuh Alfaska dombong.


" Jadi si Ayu juga udah digituin sama si Ibnu?" Celetuk Mumtaz yang mendapat pelototan dari Ibnu.


Daniel memelototi Ibnu garang." Kagak elah. Walau adik Lo yang sering nyodorin, tapi gue tolak."


" HAH?" Kaget mereka.


" Ishh, ini mulut." Ibnu memukul-mukul mulutnya.


" Apa maksud Lo?" Tanya Daniel menyelidik.


" Lupain, yang pasti adek Lo masih orisinil." Ibnu meyakinkan.


" Ayah, dengar omongan Inu tadi?" Ucap Alfaska pada seorang yang disebrang saluran telpon.


Mereka menatap Alfaska kaget." Lo lagi ngomong sama siapa?" Tanya Ibnu was-was.


" Ayah Teddy." Jawab Alfaska jujur, Ibnu menggeplak keningnya.


" Baiklah ayah, pesan ayah Afa sampaikan, wa,alaikumsalam." Alfaska menutup telpon yang terletak di mejanya.


" Kata ayah, beliau nunggu Lo di rumah." Ibnu melorot di tempat duduknya. Para sahabatnya menatapnya perihatin.


Dring...


Akbar memasuki ruangan berjalan tenang, menghempaskan tubuhnya di sofa panjang samping Daniel, tempat teraman dibanding tempat lain yang tersisa.


" Ada apa, Bro?" Tanya Daniel.


" Gue kesini mau melobi perdamaian pada kalian sebelum kalian tahu apa yang terjadi." Serunya memandangi satu persatu para pria yang menatapnya bingung.


" Lihat aja cctv ruangan kak Zahra di gedung Hartadraja"


Ibnu membuka rekaman cctv ruangan Zahra, kecuali Akbar pandangan mata mereka membola, rahang mengetat bahkan Bara menggebrak meja saat melihat bagian nenek memaki dan menampar Zahra.


Selama rekaman itu berputar Akbar mengamati ekspresi Mumtaz yang terkesan biasa saja dan itu cukup mengganggu pikirannya.


" Kenapa si Nebuy Lo demen banget nge-bully kak Ala?" Komentar Alfaska setelah rekaman itu hilang.


" Mungkin beliau terjebak di periode SMA?" Sindir Daniel.


" Nebuy gue orang kampung." Timpal Akbar..


" Dimana kak Ala sekarang?" tanya Mumtaz


" Dianter pulang sama om Hito."


" Jangan sampe Ayin tahu, kalau Lo gak mau Nebuy Lo dijadiin rendang sama dia." Sahut Ibnu.


" Makanya gue kesini, kak Zahra kan pawangnya banyak." Akbar menatap Mumtaz.


" Muy, mau Lo kita apain Nebuy itu?" Tanya Bara.


" Sekarang gimana keadaan beliau?"


" Tadi sih masih ditangani," Akbar melihat pesan yang masuk ke ponselnya.


" Beliau terkena serangan jantung ringan." Ucapnya menunjukan isi pesan dari papa-nya.


Mereka menghela nafas berat," kalau sudah begini kan jadi gak tega." Lirih Daniel.


" Gimana keadaan kebuy?" Selidik Mumtaz.


" Baik, tadi udah diperiksa untuk mengantisipasi."


" tolong bilangin ada salam dari Guadalupe." Akbar mengerutkan keningnya.


" Bilang aja ke beliau, biar beliau langsung yang ngomong ke kalian who is she."


" Sumpah Muy, Lo gak pantes banget ngomong Inggris." Ledek Daniel.


Mumtaz terkekeh," hehehe, entar gue ngomong pake Perancis."


" Yang ngedengerin bebek Depok." Timpal Ibnu.


" Hahahaha." 


"Thanks, kalian gak mempermasalahkannya." Ucap Akbar memutar-mutar ponselnya.


" Belum, bukan tidak." Celetuk Bara.


Akbar mengangguk-anggukan kepala paham.


****


" Hmmh... AAAHH." Tubuh Eric tumbang kesamping tubuh Tamara yang terengah-engah seusai pergulatan panas mereka.


Eric bergerak bersandar pada kepala ranjang lalu menyalakan cerutunya," kali ini kenapa bisa gagal?" Tanyanya sambil mengepulkan asap cerutu.


" Masih di selidiki. Padahal semuanya udah tertutup rapih." Tamara beranjak ke kamar mandi tanpa riskan dengan tubuhnya yang bugil.




Pukul 09.15 wib. Masih mengenakan bathrobe-nya Tamara menuruni tangga dengan melenggok pinggul menggoda sabil tersenyum mesum yang diacuhkan Raul yang memilih menikmati sarapannya.



Sivia mendelik mencemooh padanya," gak punya malu." Yang masih terdengar oleh Raul yang meliriknya sekilas dengan menyembunyikan senyumannya.



" Siapa?"



" Tu pela.cur diskonan."



" Selamat pagi semua, hallo kak Raul." Sapanya menuju kursi di sebelah Raul mengabaikan Sivia.



Ia sengaja menggesekkan bo.kongnya pada lengan Raul saat hendak duduk.



" Wow sarapan yang sangat menggugah selera." Menatap hidangan khas Meksiko.



" Norak. Miskin sih Lo ya, jadi hidangan biasa aja terlihat mewah dimata Lo." Cemooh Sivia memotong enchiladas-nya.



Tak terima dihina di depan Raul, Tamara tersenyum smirk," bagaiman kencan Lo dengan Herry, menggairahkan?" Menaik-turunkan alisnya.


__ADS_1


Seketika ketegangan melingkupi ruang makan, Raul menatap Sivia menilai dan tersenyum tipis...


__ADS_2