
" Well, kau telah menembaknya, jadi kami tidak punya keharusan untuk membebaskan putrimu." Balas ngasal Alfaska tanpa beban.
" KALIAN, akan ku tembak mati kalian." Navarro naik pitam, sebelum dia melepaskan temb4kan, anjing robot keluar dari ruangan yang dibelakang Navarro lalu menyerangnya, mengigit-gigit tangannya hingga Navarro terjengkal terlentang.
Para pengawalnya langsung diamankan, dibawah pimpinan Dominiaz, anak RaHasiYa dan Gaunzaga yang keluar dari setiap sudut lantai, bergerak cepat melumpuhkan mereka.
Dominiaz dihubungi oleh Akbar untuk mensiagakan Gaunzaga ke lokasi saat dia melakukan pertemuan dengan Rodrigo membahas hilanganya Sri.
Para robot penyerang pengambil alih tubuh Navarro, satu robot menodongkan senjata berupa tangan berbentuk pisau yang menempel di leher Navarro dan menggoresnya sedikit, Navarro meringis sakit.
Masing-masing tangannya ditusuk oleh robot hingga merobek urat-uratnya, kedua kakinya diikat oleh robot, kini Navarro tidak berdaya.
Kejadian serba cepat itu membungkam tangisan dan amarah dua keluarga korban. Mereka terpaku atas aksi itu.
Saat Mumtaz mendekatinya dibawah t0d0ngan Raul suasana seketika hening, lebih mencekam daripada saat Navarro menguasai keadaan.
Mumtaz menendang pistol menjauhkannya dari jangkauan Navarro.
" Kau bilang, jika kau ingakar tembak dirimu. B0doh, tantangan yang super 1di0t." ejeknya.
wajah Navarro memerah merasa dihina, yang diabaikan oleh Mumtaz.
Aura dingin menyelimuti Mumtaz, tiba-tiba ia meraih pistol dibalik jaketnya, tanpa beban dia menembakannya di kedua kaki Navarro.
Dor...dor...
" Aaaaaa....kkhh..." Pekik Navarro meraung.
Semuanya terlonjak kaget, tidak mengira Mumtaz akan sejauh itu, semua mata terdiam menatanya.
Raul yang melihatnya dari dekat seperti melihat orang baru yang tidak dia kenal.
" Bagaimana kalian bisa..." matanya mengitari anak RaHasiYa dan Gaunzaga.
" Tidak perlu dipikirkan bagaimana kami bisa menukar nyonya Sri dengan Guadalupe, otak karatan anda tidak akan mampu melakukannya" sombong Alfaska.
" Ma...na...putriku?" Rintihan ditengah engahan nafasnya.
" Di hadapanmu." Jawaban Mumtaz datar.
Navarro melihat kanan-kiri mencari keberadaan Angelica diantara orang yang hadir, namun tidak ada.
" Mana putrikuu..." Teriaknya, perpaduan kesal, marah, dan kesakitan.
" Di hadapanmu, 1di0t." Hina Mumtaz.
" Sebaiknya kau bunuh aku, kalau kau hanya ingin mempermainkan ku, atau ku habisi seluruh orang tercintamu."
" Seperti siapa? Ayunda Birawa." Kekehnya terkesan merendahkan.
Mumtaz membuka iPadnya, menayangkan anak buah Navarro yang tergeletak tak bernyawa.
Navarro terbelalak, " kau terlalu meremehkan pemuda dan Indonesia, seharusnya kau paham bagaimana kinerja kami dengan negara mu saat melawan para mafia itu, jangan pernah meremehkan musuh-musuhmu. Nasihat klasik memang, tetapi masih relevan."
" Dimana putriku b4ngs4t." Kesalnya.
" Di hadapanmu, b3deb4h. Dimana lagi dia seharusnya berada, selain didekat ayah p3njah4tnya. Cermati korban mu."
Semuanya bergeming, klan Hartadraja menatap Sri yang kepalanya dipangku Aznan, hal yang sama dilakukan keluarga Gurman, merasa ada keraguan perlahan keluarga Gurman dan Hartadraja menjauh dari korban.
Sri yang meringis dijauhkan dari pangkuan Aznan menggapai tidak rela ke arah Fatio bukannya Aznan, hal itu memperkuat keraguan mereka.
Susah payah, mengabaikan sakit dari tubuhnya, dibawah pengamatan seluruh mata yang hadir, Navarro mengubah posisinya menjadi tengkurap lalu merangkak mendekati Sri yang berjarak paling dekat dengannya.
Ia mengamati, ada kelupasan kulit di sepanjang leher, ia memegang kemudian menariknya terus menarik melewati sisi rahang, terus ke atas sampai rambut, terus membuka melewati wajah, dia tercengang, lalu melepasnya.
Semaunya terkejut, akan kulit sintetis yang terbuka, terlebih wajah dibalik kulit tersebut.
Mereka menatap petinggi RaHasiYa dengan bingung, petinggi RaHasiYa tersenyum smirk.
Keluarga Gurman yang mencermati topeng yang dibuka sama tercengang, itu Guadalupe!
" Ta...tapi bagaimana, mereka sangat berbeda, tubuh nenek terlihat lebih pendek dari seharusnya." Lirih Rodrigo sedikit tersinggung melihat neneknya yang tampak menyedihkan.
" No, buka sepatunya." Titah Alfaska.
Jeno pun melepas kedua sepatu yang dikenakan Sri.
Lagi, hal mengejutkan mereka dapatkan, namun kali ini sangat mengerikan. Semuanya menarik nafas, para wanita memalingkan mata karena ngeri, kaki Guadalupe buntung berbalut perban putih yang dasarnya berwarna merah karena darah segar.
" Bersumber gambar dari ponsel Adgar, kami membentuk Guadalupe persis seperti visual nyonya Sri."
" Simpelnya kami menghilangkan apa yang lebih dan tidak sesuai dengan gambaran nyonya Sri. Terutama tinggi badan. Waktu yang singkat dan terbatas membuat kami mengabaikan medis saat pem0t0ngan kaki."
" Selebihnya hanya tambahan topeng yang kami sebut dengan face off dan keajaiban MUA." Lanjut Alfaska.
" Kami mengingat kesombongannya, saat mengatakan akan memperlihatkan kesadisan ala kartel, dan ini hanya appetizer dari kami." Tukas Alfaska.
Keluarga Gurman mundur terkejut, mereka sungguh tidak paham akan apa yang sedang terjadi.
Sandra menatap bingung putranya yang berkata santai perihal kesadisan.
Ia seakan tidak memahami putranya yang selalu bersikap baik padanya.
" Help...help..." Rintihan Guadalupe terengap-engap bagai ikan yang terdapat di pesisir pantai.
" Dimana istriku?" Suara bergetar Fatio menyalurkan penuh pengharapan.
" Leon."
Sri keluar dari satu ruangan ditemani Leon di belakangnya.
" Sa..yang..." Kaki tua Sri berlari sekuat tenaganya menuju sang pujaan hatinya, ketakutan yang dia rasakan sedari pagi hilang sudah saat melihat wajah sang suami.
Fatio yang melihat Sri berlari langsung menghirupnya membawanya ke pelukannya, menawarkan rasa aman dan rindunya kok
Ia mengecupi seluruh wajah istrinya penuh syukur, melepas kecemasan dan ketakutan yang yang sedari pagi menyelimuti seluruh jiwanya.
" NO..." lirih Guadalupe, ia tidak rela pujaan hatinya memeluk wanita lain.
Kemudian seluruh anggota keluarga Hartadraja berpelukan penuh haru, melempar tatapan penuh terima kasih kepada petinggi RaHasiYa yang memandangi mereka.
" Dimana putriku?" Navarro masih penasaran akan keberadaan Angelica.
Melihat Mumtaz melirik tubuh Belinda yang terkujur lemah, wajah Navarro memucat pias.
Ia merangkak secepat yang dia bisa menuju Belinda, kembali dia buka rongga kulit sintetis yang terbuka dengan cepat sampai seluruhnya, tampaklah wajah Angelica yang pucat dengan mulut tertutup lakban dan mata terbuka.
" NOOOOO..." pekikan Navarro menguasai seluruh gedung.
" Sudah saya bilang jangan barter, tapi kau ngeyel, ini akibatnya." Cemooh Alfaska.
" KAU...ku habisi kalian." Geram Navarro.
Dak...
Mumtaz men3nd4ng rahang Navarro hingga dia terjengkang, " ini bukan saatnya kamu mengancam kami, bagiamana rasanya keluargamu mati dihadapan mu?" Mumtaz menginjak kaki Navarro di atas luka tembaknya.
" Aaakkhhh..."
Bara mendekati Mumtaz," Muy, biar gue yang ambil alih."
Bara dan para sahabat tidak bisa membiarkan Mumtaz bertindak lebih, usaha mereka tenaga menjaga emosi Mumtaz beresiko gagal, entah karena apa Mumtaz begitu membenci Navarro teramat sangat tidak seperti biasanya. Ini seperti Mumtaz menaruh dendam tersendiri kepadanya.
Atas lirikan Bara, Jeno dan Leon menarik Navarro menjauh dari jangkauan Mumtaz.
" Jangan buat dia mati, pastikan dia menyesal berurusan dengan kita. Tinggalkan dia di sin sesudahnya.
" Tentu, gue akan buat dia menderita, Lo tinggal nerima jadi." Janji Bara.
" Lantas dimana ibuku?" Lirih Raul, pintolnya sudah diturunkan.
" Kami mengundang kalian ke gedung RaHasiYa melepas ketegangan dari drama konyol ini." Undang Alfaska.
" Ibuku, Alfaska." Ucap Raul tidak sabar.
" Bersabarlah, tuan. Beliau tidka akan kemana-mana, bersihkan diri datang ke gedung RaHasiYa." Ujar Daniel.
" Muy, kita pergi." Alfaska merangkul Mumtaz yang masih menatap nyalang Navarro.
" Kalian keluar dari sini ikuti instruksi dariku." Seru Dominiaz.
" Siap, komandan." Seloroh Adgar.
" Bang, pastikan mami dibawa pulang dengan aman." Pinta Daniel.
" Tentu."
" Mami akan ke gedung RaHasiYa."
" Tidak, mami tidak akan kesana, dan tidak akan pernah kesana lagi." Putus Alfaska.
" Alfaska."
" Mari nyonya, jangan memperumit suasana, Leo akan mengantar anda." Dominiaz memegangi lengan Sandra tidak peduli disebut tidak sopan. Dia hanya ingin drama ini cepat tamat.
Mereka bersamaan meninggalkan lantai tiga.
" RaHasiYa, sebaiknya kau membunuh ku saat ini juga sebelum kalian menyesal."
Mumtaz berhenti di ujung tangga.
" Semua ada saatnya, dan saat ini bukan waktunya kau mati." Balas Mumtaz dingin.
Mereka melanjutkan langkah meninggalkan gedung, meninggalkan Navarro dengan Bara dan anak buahnya yang sudah bersiap mengeksekusinya.
Pandangan Ibnu masih ke layar besar yang mempertontonkan siksaan atas diri Navarro, Bara sungguh mengekspresikan hayalan hitamnya kepada Navarro.
Ibnu yang mengamati seluruh kejadian itu terdiam, mematung. Entah mengapa Melihat Alfred Navarro otaknya mencari file memory masa lalunya.
Tatapan murka Mumtaz, tawa Navarro, beserta gesturnya bukanlah hal asing baginya, entah kapan, dimana masih menjadi sebuah teka-teki untuknya.
Berjam-jam dia terus mengulang kejadian di gedung tua itu, tanpa sadar keluarga Hartadraja telah kembali dari satu jam yang lalu.
Fatio menghampirinya, menepuk pelan bahunya
" Ibnu, istirahat dulu."
Bagai tersadar dari lamunannya, Ibnu terkejut.
" Kebuy, kalian sudah pulang."
" Dari tadi. Kamu pasti kelelahan, istirahat, dan makanlah. Kita ke gedung RaHasiYa bersamaan."
" Rio, mana?"
" Dia sedang makan, maaf saking khawatirnya kakek kepada nenek, kami lupa menyediakan makan buat kalian."
"Jangan dipikirkan, kami senang nyonya selamat."
" Tidak bisakah kalian memanggilku Nebuy, seperti kalian memanggil sayangku kebuy." Ucap Sri dari arah pintu menghampiri mereka.
Ibnu berdiri sungkan." Itu tergantung Mumtaz, nyonya. Maaf!"
" Tidak apa, sikapku dulu memang sulit untuk dimaafkan, tetapi bukalah pintu hatimu, sebagai putra dari Aida."
" Saya sepenuhnya menggantungkan hal itu kepada Mumtaz, nyonya."
" Kau sangat menyayanginya ya."
" Sepenuh jiwa saya."
" Melebihi keluargamu?"
" Mumtaz melarang saya menyayangi dirinya melebihi saudara kandung saya, jadi saya hanya bisa mengatakan mereka sama berartinya."
__ADS_1
" Sudah, lain kali kita mengobrol, sekarang kita makan dulu."
" Baik, dan terima kasih." Dengan sedikit membungkuk Ibnu meninggalkan ruangan.
Fatio dan Sri saling merangkul, memandangi layar yang dipenuhi gambar Navarro sedang tersenyum smirk.
" Kalau tidak ada RaHasiYa dan Gaunzaga aku pasti tidak selamat." Lirihnya, Sri merekatkan rangkulannya.
" Kita beruntung dikelilingi oleh orang baik, keluarga Aida mengajarkan ku bahwa uang terkadang terasa tidak berarti."
" Sayang, apa yang pernah Hito dan Akbar katakan tentang Mumtaz yang menolong perusahaan kita benar adanya, kalau dia tidak bertindak, kita sudah bangkrut sejak lama ,dan dia tidak meminta imbalan apapun atas pertolongan yang dia beri kepada kita, sedangkan pertolongan itu mahal harganya jika ditransaksikan."
" Sikapku sangat buruk kepada mereka, dan mereka tidak membalasnya, padahal mereka mampu menghancurkan kita dalam sekejap." Timpal Sri.
" Edelweis sudah menceritakan secara detil bagaimana keluarga Aida yang agamis merangkulnya meski dia tengah hamil karena kesalah, ditengah hinaan masyarakat, media yang menyudutkannya."
" Dilain sisi Aznan dan Dewi berhasil mendidik putra-putrinya, Damar, Hito, Julia masih mendukung Edel terlepas rasa malu yang mereka tanggung."
" Para sahabat Mumtaz sangat melindungi Cassandra, Akbar, dan Adgar. Akbar menceritakan kisahnya yang dijebak Tanura. Adgar yang selalu diawasi Zayin hingga yidak melewati batas atas kenakalannya. Cassy yang selalu mereka lindungi."
" Sayang, kita diajarkan anak cucu kita tentang kebaikan, tidka selamanya orang tua itu benar, dan tidak selamanya anak itu salah." Tukas syahdu Sri.
" Jadi sekarang kamu merestui hubungan Hito dan Zahra?"
" Sayang, mungkin aku bersikap buruk, tetapi aku bukan idi0t yang melepas wanita seperti Zahra untuk orang lain."
Dua orang baya itu saling berpelukan menghayati kebersamaan mereka.
\*\*\*\*\*\*
" Sampai kapan kamu tidak ingin memandangiku?" Hito mulai kesal dengan sikap Zahra yang terus mengabaikannya.
" Apa kamu sungguh tidak menganggapku?" Suaranya mulai meninggi. Masih tidak mendapat tanggapan.
Hito mengacak rambutnya frustrasi.
" Zahra.."
" Kalau kamu tidak tahan padaku, lepaskan aku, pergi dari sini." Bentak Zahra.
Hito tertawa garing," jadi ini yang menyebabkan kamu mengabaikan ku?"
" Kamu ingin kita pisah? Karena apa?" Pertanyaan yang mencerminkan tantangan kepada Zahra.
Zahra tertunduk, aura menyeramkan dari Hito membuatnya sungkan.
" A...aku.."
Hito melangkah mendekati ranjang Zahra.
" Kotor, hanya karena kamu pernah dijamah secara menjijikan tidak menjadikan kamu kotor, Zahra. Dan aku tidak akan melepaskan mu, berapa kali harus ku bilang, Zahra. Gunakan otak cerdas mu!"
Ceklek!!!
Mereka menatap orang yang masuk.
" Sorry, gue balik lagi." Ucpa Sivia segan.
Zahra bernafas lega, " Masuklah." Hito meatap kesal Zahra.
" Ada apa Lo kemari?" tanya Hito galak.
Sivia mengedikan bahu, " gue disuruh Eidelweis nungguin dia."
Tok...tok...
Amalia menatap Zahra yang tertunduk, lali ke Hito yang tegang, kemudian ke Sivia yang acuh.
" Apa waktunya kurang tepat?"
Hito mengusap wajahnya kasar, menetralkan emosinya.
" Masuk, dok. Tolong beri paham Zahra, calon istriku. Bahwa aku menerima dia meski dia seorang penjahat sekalipun. Toh, saya masih tidak lebih baik darinya, saya tidak akan melepaskannya."
Setelah mengucapkan itu, Hito berjalan ke ruang tunggu, menutup pintu Penghalang dengan kasar yang mengakibatkan pintu Tidka tertutup sempurna.
Zahra menutup seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut, terlihat badan yang terguncang karena tangis.
Amalia dan Sivia saling lempar pandang, lalu menghembuskan nafas.
30 menit berlalu, Zahra sudah duduk dengan tenang siap menerima obrolan dengan Amalia sebagai healing dia.
" Zahra, saya kira kamu sudah membaik..."
" Saya hanya tidak ingin mengecewakannya." Lirih Zahra.
" Memang siapa orang yang bisa memuaskan orang lain 100%?" Tanya Sivia.
" Sivia... Kamu gak ngerti." Elak Zahra kera kepala.
Sivia membuka pintu Penghalang, terlihat Hito yang bersandar dengan menutup mata. Di atas meja berserakan kertas-kertas.
" Singkirkan perasaan labil mu, anak muda. lihat dia. Lo pikir dia pengangguran? Tapi karena dia tidak mau ngambil resiko Lo kembali terluka dia tinggalkan kesibukannya."
" Heru bahkan menambah dua asisten untuk membantunya. Eidelweis mengeluh Heru yang jarang di rumah karena menggantikan Hito.
" Lo gak tahu dia menjelma menjadi es batu selama Lo diculik dan bersiap jadi pembunuh bagi orang yang menculik Lo? Dominiaz, Samudera susah payah menjauhkan Hito dari para pelaku hanya agar Tidka tersentuh Hito."
" Sekarang Lo di sini dan mempermasalahkan hal yang tidak berarti."
Zahra menatap Sivia nyalang.
" Bagaimana kamu bisa sebut pelece..."
" Itu, esensinya. Lo dilecehkan, bukan bersedia berbuat mesum. Kalau Lo merasa kotor, bagaimana dengan gue yang bers3ngg4m4 dengan sukarela, Lo sebut apa gue? Kotoran!"
Sivia menatap Zahra dalam, " Zahra, apa Lo jijik kepada gue?" Zahra menggeleng.
" Tidak."
" Apa bagi Lo gue rendah?"
" Tidak."
" Apa menurut Lo korban pemerkosaan, itu berubah menjadi pelacur?
" Tentu saja tidak, mereka beda."
" Apa yang beda, mereka sama bersetubuh?"
" Mereka dipaksa, bahkan pelacur sekalipun tidak pantas direndahkan." Marah Zahra.
" Lantas kenapa Lo merendahkan diri Lo?"
" Ini beda konsepnya."
" Ini sama, Lo tolak Hito hanya karena badan Lo dilihat orang. Bilang saja Lo gak cinta dia." Suara Sivia meninggi.
" Aku cinta dia, dia kebahagiaan ku, tapi aku gak bisa jaga kesucianku." Bentak Zahra, matanya berair luruh bak air bah.
__ADS_1
" Bahkan aku bisa memepertaruhkan nyawaku untuknya, tapi aku gak bisa lihat dia dipermalukan karena ku tidak bisa jaga diri."
" *Fine*, hiduplah dengan pemikiran itu, lebih baik baginya bersanding dengan yang lain daripada dengan orang egois macam Lo."
" Tunggu, dan datanglah di pernikahannya dengan wanita lain."
Zahra menggelengkan kepala tidak mau mendengar ucapan Sivia yang menyakiti hatinya. Zahra menangis hebat.
Hito tertegun dibalik pintu, Hito terbangun karena suara yang Aling bersahut, semula dia ingin mendatangi Zahra saat mendengar suara keras, namun diurungkan saat Zahra membalas omongan Sivia.
Derrt...derrtt...
Hito menjauh dari pintu untuk menjawab panggilan yang masuk.
Amalia memeluk Zahra, ia merasa Zahra butuh sandaran.
Tok...tok...
" Dok, kami ada undangan."
" Iya, ngobrolnya sudah selesai." Amalia pamit secara perlahan.
" Kita diundang ke gedung RaHasiYa."
" Kita, berarti gue juga?" Sivia menunjuk dirinya sendiri.
" Iya."
" Untuk apa?"
" Mana gue tahu."
" Ahha... mungkin untuk menikahkan kita."
" Jangan jadi orang gila di sini. Kamu, bersiaplah." Hito berkata kepada Zahra tanpa expresi yang berhasil membuat Zahra resah.
\*\*\*\*\*
Berdiri di depan salah pintu di basement gedung RaHasiYa, keluarga Gurman berkeringat dingin, mereka tidak yakin akan siap apa yang akan mereka lihat nanti.
Tadi, setibanya mereka di lobby gedung, mereka dikagetkan akan sambutan robot manusia yang memberi mereka kertas yang tertulis dimana keberadaan Belinda
Mereka diarahkan ke basement sebelah timur, konsep basement RaHasiYa berbeda jauh dari basement pada umumnya. Basement yang berhawa sejuk dan bernuansakan elegan berderet pintu-pintu layaknya hotel berbintang lima.
Tadi mereka begitu ngotot ingin bertemu Belinda, sekarang ketika petinggi RaHasiYa memberikan mereka kesempatan bertemu, mereka gugup.
Raul menggapai tuas pintu, ceklek!!!
Pintu dibuka secara perlahan-lahan, tangannya gemetar, wangi aroma therapi mawa lavender menyeruak dari dalam menenangkan.
Kala pintu terbuka setengah, tampak wania berambut hitam legam bergelombang sepunggung tergerai indah, dengan dress floral selutut duduk di atas kursi di samping jendela dengan pemandangan sawah hasil digital berdimensi 4 menawarkan kesejukannya.
Ia sedang merajut wol, di atas meja terlipat beberapa sweater yang sudah siap pakai.
Rodrigo mendorong pintu agr lebih terbuka lebar, kedua mata Raul, Rodrigo, Alejandro tak ayal berbulir bening, membuncah rasa rindu setelah sekian lama.
Sivia yang berdiri paling belakang menatap sang kakak-kakak dan kakeknya dengan bingung, tinggi badannya yang kalah jauh dari ketiga pria kesayangannya itu menghalangi pemandangan di depan mereka.
" Mama..." Suara panggilan yang bergetar mengalihkan perhatian wanita itu ke pintu.
Jelas dari matanya ia terkejut, terperangah tidak percaya, kedua tangan nutup mulutnya.
Air mata lolos dari pelupuk matanya, Belinda beranjak perlahan mendekati mereka memastikan ini bukan mimpi.
Bahkan Raul, dan Rodrigo berebut menghampirinya layaknya anak kecil diiming-imingi mainan.
" Mama..."
" Mama..."
Rodrigo dan Raul menangis tergugu berebutan memeluk Belinda yang sudah tenggelam diantara tubuh para putranya.
15 menit mereka melepas rindu dengan menangis, melupakan orang yang datang bersama mereka.
" Amor..." lirihan dari suara serak dari sosok yang dirindukan membagi perhatian dari Belinda.
" Papa..." bisiknya pilu.
Raul dan Rodrigo mengurai pelukan mereka, membiarkan Belinda menuju ke arah kakeknya.
Alejandro tersenyum sumringah merentangkan kedua tangannya menyambut Belinda, Belinda berlari masuk ke pelukan ayahnya.
Sivia tertegun, matanya membulat lebar, wanita yang berlari ke pelukan kakeknya mirip sekali dengannya.
" Ma..ma...?" bisiknya bertanya.
Diego yang selalu berdiri di belakang keluarga Gurman sejak melihat Belinda, matanya tidak pernah beralih dari wanita cantik itu, wanita yang selalu menguasai hatinya sejak remaja.
" Mi amor, Belinda..." lirihnya pelan.
Dari wajahnya terpancar cinta, dan kerinduan. ia memegangi dadanya yang berdegup kencang.
" Bagiamana bisa kamu membuat ku kayuh cinta lagi seperti saat masa remaja dulu." gumamnya, setelah puluhan tahun bibirnya mengembangkan senyum.
Hal itu tak luput dari pandangan Raul dan Rodrigo...
\*\*\*\*\*
Dari lantai tujuh, ruang konferensi petinggi RaHasiYa melihat tali kasih keluarga Gurman dengan diam.
" Selalu menyenangkan melihat orang bahagia, apalagi jika kita turut menciptakan kebahagiaan itu." celoteh Daniel.
" Itu mengapa lo menolong bang Raul?" tanya Bara kepada Mumtaz.
Mumtaz menyandarkan diri di kursi, " sekali gue gagal menyelamatkan keluarga seseorang, dan penyesalan itu masih terasa. Gue kehilangan keluarga, rasa sakit itu tidak tertandingi. Gue hanya berharap orang bersama keluarganya selama mungkin."
" Ketika mereka pergi, kekosongan itu menjadi kehampaan yang tidak berkesudahan." tanpa bisa dicegah bulir bening turun dari kedua matanya.
" Muy, maaf!" Alfaska merasa bersalah, karena urusan keluarganya sahabat kehilangan sang ibu.
" Sudahlah, lupakan. itu takdir, beruntungnya. gue punya kalian, gue tidak merasa sendiri."
Daniel: " Tidak akan pernah."
Bara : " *Never*."
Ibnu : "*always be with you*."
Alfaska: " *always being part of my soul*."
Tatapan Mumtaz mengendari mereka semua," Kalian lagi berebut ngelamar gue? *sorry*, gue milih Lia."
Empat sahabat itu menyerbu Mumtaz, mengeroyoknya dengan gelitikan di seluruh bagian sensitifnya.
" Hahahaha...berhenti, iya *sorry*, gue juga *love* kalian." gelak Mumtaz, namun para sahabat tidak kunjung berhenti. mereka bergurau layaknya anak muda pada umunya
Di saat sepeti ini tidak akan menyangka jika mereka adlah para pemuda yang baru mengalahkan seorang mafia besar dari Eropa.
Di lain tempat, Navarro masih tergelatak di lantai kotor dengan tubuh penuh sayatan dan lebam disekujur tubuhnya...
__ADS_1