
Semua kini menatap kepada Zayin," kenapa? Apa kamu tidak menyetujui kami?" Tanya Zahra cemas.
" Bukan, kalau kakak ingin menikah, menikahlah dengan niat baik dan elegan, kakak perempuan terhormat tidak butuh alasan konyol itu untuk mengikat seseorang."
" Lagian kakak perempuan, mana boleh meminta dinikahi, om Hito yang harus melamar Kakak dengan benar dan patut." Ceramah Zayin lugas.
" Zayin, ini bukan waktunya romantis." Kekeuh Zahra.
Zayin beranjak dari duduknya melangkah mendekati Zahra dengan tatapan menilai.
" Dan ini bukan panggung Srimulat, kalau kakak ingin menghadapi nyonya Sandra, hadapi oleh dirimu sendiri tanpa embel-embel Hartadraja atau Arvenio, apa kakak tidak bisa?"
" Apakah profesor jenius termuda kebanggaan rumah sakit Atma Madina tidak memiliki kepercayaan diri menghadapi nyonya Sandra, sang desainer gagal?" Sarkas Zayin tersirat mencemooh.
" Kalau tidak mampu back off, biar aku yang menghadapinya. Akan ku pastikan dia tidak akan terlihat lagi diantara kita. Aku Ahmad Muzayyin Hasan pantang diriku diinjak oleh makhluk siapapun dan dari manapun dimuka bumi ini." Ucapan Zayin tidak ada yang berani membantah termasuk Zahra.
Aura memenangkan pertempuran, dan tekad dimatanya seharusnya membuat orang waras jangan pernah berurusan dengannya.
" Pilihannya, kau sendiri atau tidak sama sekali." Telunjuknya menekan-nekan dada Zahra.
Mata Zahra menatap lurus manik cokelat Zayin, di sana tidak ada lagi kompromi, Zayin sudah memutuskan, dan tidak satupun yang bisa menganulirnya.
Sebagai anak tertua Zahra dituntut menjadi panutan, dan contoh. Orangtuanya tidak pernah membedakan gender jika itu perihal kehormatan diri dan keluarga, maka pantang baginya membiarkan anak lelaki termuda menjaga harga diri keluarganya.
Ujung matanya melirik Alfaska yang tertunduk lesu.
" Aku sedang terlalu marah." Setelah mempertimbangkan, Ucapnya meminta pendapat agar bukan dia yang bertindak.
" Bagus, memang sudah seharusnya." Jawab Zayin.
" Aku tidak jamin dia akan selamat." Ucap Zahra.
" Jangan sungkan menghabisinya." Balas Zayin cepat.
" Dia bisa saja terluka parah, aku seorang dokter tahu pasti dimana bisa membuatnya lumpuh permanen."
" Jangan lupakan betapa banyak hinaannya, tipu dayanya terhadap Tia, air mata Alfa, kepergian mama. Jadi bagian mana dia patut dikasihani." provokasi Zayin. Jahat, Zayin sangat jahat.
" Kau atau aku?" Tawar Zayin.
" Dia perempuan." Zahra mengingatkan
" Lalu..." Alis Zayin terangkat tidak peduli.
" Dia seorang ibu."
" Bukan yang melahirkan kita."
" Dia paruh baya."
" Seharusnya dia tobat, bukan semakin menjadi."
Zahra terdiam tidak ada lagi alasan agar Zayin tidak lepas kendali.
Alfaska meski membenci Ibunya tak dipungkiri dia merasa khawatir akan keselamatan Sandra. Ini Zayin, bukan Mumtaz!.
Riak khawatir Alfaska tidak lepas dari pengamatan Hanna dia pun merasakan hal yang sama dengan yang dirasa oleh Alfaska.
" Jadi kapan Kakak akan bertindak."
" Lebih cepat lebih baik." Ujar Zahra.
" Aku yang akan mendampingimu." Putus Zayin.
" Ada om Hito." Tolak Zahra halus, dia merasa takut kepada Zayin.
" Terserah kalau om ingin ikut serta. Aku diluar dari kompolotan kalian."
" Zayin,..." Zahra menjilat bibir bawahnya karena gugup.
" Dia tidak bisa lepas dariku, dan aku tidak akan melepaskannya kecuali kalian bisa memastikan kalau dia enyah dari hadapan kami."
" Allahu Akbar...Allahu Akbar..." Sayup-sayup terdengar suara Adzan subuh yang membuat mereka lega dari ketegangan yang terjadi.
" Sebaiknya kita membersihkan diri untuk shalat." Seru Teddy yang diangguki oleh semuanya.
Begitu para pria bubar, Hanna segera menarik Elena, Dewi, nyonya Sri dan Sherly untuk ke rumah Sandra.
" Mbak, adik mbak itu memang sungguh keterlaluan, tapi daripada dia m4ti ditangan mereka lebih baik kita membuat dia menyesal dan meminta maaf."
" Ayolah Hanna mereka tidak bersungguh-sungguh akan menghabisi Sandra." Ucap Sherly skeptis.
" Saya tidak yakin mereka tidak melukainya, kau sudah melihat video itu. Sherly." Geram Elena.
" Dan apa yang dilakukan Mumtaz kepada Eric, saya yakin Zayin akan lebih parah." Parau Dewi.
Seketika wajah Sherly memucat, dia tidak lagi yakin akan keraguannya.
******
Setiba di rumah Sandra sudah ada asisten Hanna yang membawa tas hitam besar menunggunya di ruang tamu.
" Dimana nyonya mu?" Tanya Hanna kepada kepala pelayan.
" Beliau masih tidur, nyonya."
Dipimpin oleh Hanna, para ibu berjalan ke kamar Sandra.
Byur....
Tidak segan-segan Hanna menyiram Sandra yang tertidur nyenyak.
Sandra terkesiap duduk, matanya membola besar mendapati banyaknya orang di kamarnya.
" Ada apa ini?"
" Enak aaja Lo tidur setelah membuat kerusuhan, bangun Lo." Ujar Hanna garang.
" Ini gue udah bangun, ada apa?"
" Lo menyebarkan video itu." marah Hanna sambil bertolak pinggang.
" Bagaimana? apa dia menikmati ketenarannya sekarang?" Sindir Sandra.
" Tapi sayang itu cuma sepuluh menit saja."
Sandra mengedikan bahu masa bodo," ini wilayah +62, dalam sepuluh menit orang yang dipuja bagaikan malaikat akan berubah dibenci bagaikan set4n."
Hanna menggeleng tidak percaya Sandra begitu b0d0h, "sepuluh menit itu yang akan mengantarkan nyawamu ke dalam bahaya, Lo bakal m4ti hari ini."
" Huh, bagaimana bisa?"
" Lo pikir Zayin atau Zahra akan diam saja?"
Sandra tersenyum smirk meremehkan," memang apa yang bisa mereka lakukan terhadap orang yang melahirkan Alfaska yang mereka anggap keluarga."
Senyuman itu dibalas Hanna tidak kalah smirk." Heh, Lo terlalu percaya diri, bahkan Alfaska sendiri ngamuk dan tidak segan memberimu hukuman, apalagi mereka yang bukan anak kandung Lo."
Sandra terbelalak tidak percaya," tapi dia tidak kesini..."
" Itu karena Mumtaz yang mencegahnya, tapi lain cerita jika ini melibatkan Zayin, dia selama ini tidak sungkan menentang Lo, jadi dia tidak akan segan menyakiti Lo."
" Biarkan dia kesini." Tantang Sandra.
" Lo memang..." Hanna sudah gregetan kepada Sandra.
" Sudahlah Hanna, untuk apa kamu peduli padanya, mungkin ada bagusnya dia tidak bertahan lama di dunia ini." Sarkas Sri jengkel.
__ADS_1
" Nyonya..."
" Jadi ini yang kamu rencanakan, Sandra. Memalukan. Dengan mempermalukan Mumtaz, berarti kamu mempermalukan anakmu."
" Kenapa kalian yang sewot."
Sudah tidak tahan dengan arogansi Sandra, Sri memukul Sandra menggunakan bantal kecil yang ada di hadapannya, Sandra hanya bisa menerima serangan itu dengan heran.
" Kau tahu Zahra calon cucu mantuku, dan kau berani-beraninya menghina dia, kau tidak tahu dia bisa melakukan apapun yang akan membahayakan nyawamu, baginya kau hanya seonggok teri mati." Ucap Sri kesal.
" Kalau Zayin ingin memberinya balasan, saya mendukungnya." Timpal Elena.
Hanna berbalik bingung dengan perubahan sikap para ibu," kenapa kalian berubah menjadi marah?"
" Kami tidak berubah, kamu yang tidak menanyakan pendapat kami, main tarik kesini saja." Jawab Dewi.
" Wi, ini kolega kamu."
" Yang seharusnya tidak menyakiti keluarga kami, dan kamu Sandra, ini peringatan pertama dan terakhir, kalau dikemudian hari kamu berani hina Zahra atau yang lain kamu berhadapan dengan saya." Tegas Dewi.
Semua yang berada di sana bungkam dengan kemarahan Dewi Hartadraja, wanita paruh baya nan ayu dan pendiam saat ini terlihat naik pitam.
" Dan jaga lisanmu, kamu sudah tua tidak pantas julid, apalagi menjulidi anak muda, huh." Segera setelah mengatakan itu Dewi mengajak Sri keluar dari kamar tersebut.
" Kamu tahu Gaunzaga kan, Mumtaz calon mantu idaman kami, sebaiknya tutup mulutmu. Hanya orang b0d0h yang berbisnis dengan Navarro." Cela Elena menyusul Dewi.
" So Sandra, kamu telah ditinggalkan oleh mereka, kamu habis sekarang, nama Atma Madina bukan lagi nama yang menakutkan, semuanya karena ulahmu, memuakkan, mbak kecewa padamu." Tukas Sherly.
******
Zayin melipat sajadah seusai mentadarus Al-Qur'an, kamar ini sepi setelah Zayin memaksa mereka semua untuk menjalankan shalat berjamaah di mushala dan beristirahat.
" Euugh..." Suara lenguhan dari belakangan menariknya untuk mendekati brankar tersebut.
" Aa sudah bangun."
Mumtaz mengamati seisi kamar, lalu menoleh pada Zayin yang berdiri disampingnya.
" Ini..."
" Aa pingsan." Zayin menarik kursi dan duduk bersedekap di atasnya menatap intens Mumtaz yang memberikan raut wajah biasa saja seperti tidak ada masalah.
" Ibnu..."
" Baik-baik saja, semuanya baik, Aa yang terbaring di ranjang." Sarkas Zayin.
" Ayin,..."
" Hmm?"
" Kamu melihat kejadian hari itu?" Tanya Mumtaz hati-hati
Zayin memandanginya tajam sebelum menjawab." Tidak keseluruhan, hanya bagian ibu ditusuk, dan lainnya." Ucapnya terkesan santai.
" Kenapa kamu enggak bilang."
" Memang Aa bilang apa yang Aa tahu dan rasakan?" tanya balik Zayin menyimpan kekesalan.
Mumtaz yang paham adiknya tersinggung, beringsut memperbaiki posisi tidurnya agar bisa melihat Zayin.
" Yin,..."
" Ayin pikir, kita tidak ada rahasia, tetapi Aa masih menganggap Ayin anak kecil yang tidak bisa diandalkan." Katanya yang sarat kekecewaan.
" Bukan begitu,..."
" A, kita tidak punya orang tua lagi, kalau bukan kita yang saling menjaga, siapa lagi. Bagaimana Ayin bisa melindungi Aa kalau Ayin sendiri tidak tahu masalah Aa." Sela Zayin.
" Tapi tidak masalah, Ayin akan buktikan kalau Ayin sekarang adalah lelaki yang bisa menjadi kepala keluarga, selama terbaring di sini, ambil waktu istirahatmu, urusan semuanya biar Ayin yang menangani."
Mumtaz menggeleng," Ayin, kamu bilang cuma masalah kakak dengan Tante Sandra, kenapa menyerempet ke yang lain?"
" Apa?"
" Stop memikirkan orang lain, sekarang pikirkan dirimu sendiri, kamu bukan malaikat yang tidak akan sakit. Ini sudah diputuskan, jangan bikin Ayin nekat melakukan sesuatu yang akan kalian sesali." Peringat Zayin, Mumtaz mengangguk.
Zayin berdiri" Ayin akan panggil dokter dan menelpon mereka kalau Aa sudah sadar, itu amanah dari mereka, Aa akan tahu sendiri dari mereka." Zayin beranjak menekan tombol, lalu keluar ruangan untuk menelpon.
Di cafe Solumate, dua kelompok lelaki dewasa dan lebih muda berkerumun dalam dua meja terpisah masih melihat ponsel mereka masing-masing mengomentari video yang mereka tonton.
" Gak bisa gue bayangkan sedepresi apa Zahra sampai nekat masuk danau." Renung Heru mengusap wajahnya kasar.
" Jangan marah, To. tapi kita harus berterima kasih kepada duo Gurman itu, kalau tidak ada mereka bisa jadi ceritanya lain. Maksud gue Lo dan Zahra gak bakal baikan." Ralat Samudera.
" Si4l, saingan gue makin banyak." Rutuk Dominiaz yang mendapat geplakan di punggungnya dari Samudera.
" Temen Lo lagi kusut, mesti Lo ngomong begitu?" Seru Heru.
" Darimana Lo tahu mereka demen sama Zahra?"
" Gue tahu, pokoknya." Jawab Dominiaz enggan menjelaskan lebih lanjut bahwa dia sering kali melihat Rodrigo dan Raul menatap Zahra dengan tatapan hangat.
" Terus apa yang akan Lo lakukan, To? Ini rumor gak bisa dibiarkan saja, imej Zahra nanti akan rusak mengingat Gonzalez masih hangat jadi pembicaraan." Tanya Heru.
Hito memijit pelipisnya gusar." Gue bakal tanya ke mereka apa yang terjadi hari itu."
Di meja lain petinggi RaHasiYa menatap dalam Dewa, Dimas.
" Gue tadinya mau kasih tahu, kalau masalah Ayu vs bang Ibnu tertutupi dengan masalah bang Mumtaz vs nyonya Sandra, masalah mereka tertutupi dengan berita Zahra dan om Raul ,tapi kalian gak kasih gue waktu buat ngomong."
" Dan Lo gak melakukan sesuatu dengan hal ini?"
" Gue sudah mengamati melalui kamera setempat, gestur mereke menggiring opini masyarakat yang hanya curiga kaalu diantara mereka terlibat hubungan romantis, dan ini yang terbaik sebagai pengalihan isu." Terang Dewa.
" Dilihat dari komentar netizen, mereka merespon baik cerita romantis itu." ucap Dimas.
" Perkembangan penggiringan opini kami pantau melalui komentar, jika dirasa mulai meresahkan baru bertindak, sejauh ini hanya ini yang bisa kita manfaatkan."
" Gue setuju, Ayu di sekolah mendapat tekanan dan cemoohan yang kuat, dibawah kepemimpinan Andromeda Genk BIBA dapat mengatasi penyebarannya beritanya berikut penggibahan yang tidak jelas langsung ditindak entah dari sekolah BIBA maupun sekolah luar." Jelas Nando.
Ibnu menyugar rambutnya dengan gusar," kenapa jadi besar begini, gue cuma anter dia pulang, itupun dia yang minta."
" Berita kalian pernah dekat sewaktu SMA dulu sudah tersebar, dan Lo balik sama dia bertepatan Ayu memprolamirkan diri atas diri Lo, kalau Lo lupa, bang." Sinis Nando.
" Btw, kenapa Lo masih di sini, Lo mesti jemput Ayu, kan sebelum berangkat sekolah?" Tanya Daniel kepada Nando.
" Kata bang Zayin dia yang nganter jemput Ayu, gue cuma di suruh mantau Ayu selama di sekolah doang."
" Zayin?" Petinggi RaHasiYa saling pandang, lalu menghembuskan nafas sedikit lega.
" Kenapa gue berasa lega zayin yang mendampingi Ayu ketimbang si Nando ya." Gumam Daniel.
" Drama apa yang akan Zayin mainkan di sekolah." Renung Alfaska.
Derrt...
Nando menjawab panggilan masuk di ponselnya." Sorry bang, gue kudu pergi. Bang Zayin manggil gue." Nando beranjak ke arah pintu.
Langkahnya berhenti tepat ia membuka pintu cafe saat mengingat satuu pesan dari Zayin.
" Kata bang Zayin, bang Mumtaz sudah sadar." Mereka tertegun, sedetik kemudian berebut keluar cafe yang mana meja sebelah sudah kosong.
Di kantin rumah sakit Zahra pun diinterogasi oleh Eidelweis, Julia, dan Nadya. Mereka sudah tahu perihal video di danau tersebut.
" Jadi begitu ceritanya." Tukas Zahra usai mengakhiri cerita sebenarnya yang terjadi di danau.
" Ra, kalau kamu punya masalah datang ke mbak, atau Edel. Jangan dipikir sendiri apalagi kabur kayak gini." Ucap Julia.
__ADS_1
" Mas Heru bahkan melarang kak Hito bawa mobil takut kecelakaan lagi, mengingat kacaunya abangku itu." Adu Eidelweis.
" Di rumah nenek, semua barang yang didekatnya dilempar sampai bang Damar memukulnya baru berhenti ngamik." Jelas Nadya.
Zahra menghela nafasnya berat," aku waktu itu masih ada hal yang merisaukan, jadi gak berani datang langsung ke kak Hito." Ucapnya pelan.
" Kyaaa...." Eidelweis menutup mulutnya karena terkejut saat menyadari sesuatu.
" Kenapa si Lo Del, kebiasaan suka heboh sendiri." Omel Julia.
Eidelweis menunjuk pakaian yang dikenakan Zahra." Itu baju kak Hito bukan sih, mbak?"
" Lah mana mbak tahu, mbak gak segitu sayangnya sama dia sampai merhatiin pakaiannya."
Eidelweis mendelik kesal," Ra?"
Zahra mengangguk." Iya ini baju kak Hito, aku minjem."
" Jadi kalian sudah baikan?" Selidik Nadya.
" Sudah."
" Masalah yang kamu bilang sudah dibicarakan?" Tanya Eidelweis.
" Sudah, semua sudah clear."
" Syukurlah. Ra, hubungan kamu dengan Hito bukan hubungan tanpa arah ke jenjang pernikahan, memang cinta itu pondasi kuat dalam membina rumah tangga, tapi komunikasi dan kepercayaan adalah tiang yang kuat dalam mempertahankan rumah tangga itu. Kalau ada hal yang mengganjal langsung bicarakan jangan menyimpan sendiri yang pada akhirnya menjadi bom atom di hubungan kalian." Nasihat Julia.
" Iya, mbak. Akan ala ingat advicenya."
" Mbak, mas Heru ngirim pesan kalau Mumtaz sudah sadar." Ujar Eidelweis menunjukan ponselnya.
Sontak Zahra langsung berlari ke arah lift tanpa menunggu calon saudara iparnya itu.
Mereka menggeleng," untung sayang, kalau enggak dipecat meski baru calon ipar." Gumam julia.
***
Brak....
Semua orang memasuki ruangan dengan nafas terengah-engah, menatap Mumtaz yang terduduk sedang mengunyah apel yang dikupaskan oleh Aryan.
" Muy,..." Lirih Ibnu langsung berjalan ke brankar lalu memeluk Mumtaz yang langsung dibalas olehnya.
" Maaf, aku janji gak akan mencoba mengingat apa yang sudah aku lupa, kalau itu buat kamu menderita."
" Gak apa, tapi jangan memaksakan diri apalagi sampai kamu sakit kayak kemarin."
" Kamu juga jangan mikir kamu yang bertanggung jawab atas kematian bapak dan ibu, aku tahu bukan kamu mesti aku belum tahu bagaimana mereka meninggal."
" Nu,..." Rintih Mumtaz kembali sendu.
Ibnu melerai pelukannya, menatap Mumtaz yang terlihat menyedihkan." Muy... Meski andai kamu yang bertanggung jawab, pasti ada alasannya. Dan gue ikhlaskan itu semua."
Mumtaz menggeleng pelan," gak seharusnya kamu memaafkan aku."
" Muy, aku dan Dafi adik kamu, kan?"
Mata Mumtaz mengitari ruangan memandangi para sahabatnya satu persatu, berakhir terfokus pada Khadafi yang sudah menangis dalam rangkulan Daniel.
" Apa kalian masih mau menganggapku keluarga kalian meski aku seorang pembunuh?" Matanya sudah berkaca-kaca khawatir akan penolakan para sahabatnya.
Tanpa kata Alfaska, Daniel, dan Bara bahkan Rizal dan Ubay bersamaan langsung memeluk Mumtaz. Para pemuda itu menangis berjamaah.
Para ayah yang menyaksikan tak urung jua menitikan air matanya.
Pun dengan Zahra yang melihat itu dari ambang pintu.
Hito mendekatinya, lalu menggenggam tangannya menguatkan.
" Apa kamu sekarang sadar, kalau kalian punya kami untuk berbagi kesusahan?" Bisiknya, Zahra mengangguk haru.
Zayin yang baru keluar dari kamar mandi memperhatikan mereka dengan bingung, lalu mendekat dan merangkul Khadafi yang berdiri sendiri ditengah ruangan.
" Apa kalian berubah jadi teletubies?" Ucapnya geli.
Mereka melepas pelukan itu, dan langsung memberi delikan kesal pada Zayin yang merusak momen haru diantara mereka.
" Kamu mau kemana? Sudah rapih gitu."tanya Zahra yang duduk di kursi samping brankar mengusir Daniel yang semula duduk di sana.
Mengamati Zayin yang sudah berpakaian kemeja flanel hijau hitam melapisi kaos berwarna hitam dengan celana jeans.
" Mau ke rumah ayah Teddy, menjemput bidadari yang tersisa-siakan oleh gebetannya karena lebih memilih si buruk rupa cungkring." Sindirnya kepada Ibnu.
" Kamu sedang menyindir Ibnu?" Tanya Zahra terus terang.
Zayin mengedikan bahunya santai," memang di sini ada yang lebih b0d0h dari dia?" Sinis Zayin.
" Terus bagaimana dengan urusan ke rumah Tante Sandra?
Zayin tertawa smirk nan sinis sambil berjalan ke para ayah yang duduk di sofa.
" Apa kakak lihat para ibu ada di sini? Mereka pergi yang kemungkinan besar sedang menyembunyikan dia."
" Lihatlah, tidak peduli sedekat apa hubungan kita, pada para konglomerat ini memilih untuk mengamankan sesama komunitasnya tidak peduli sejahat apa orang tersebut." Tekannya.
" Pada akhirnya kita hanya orang luar yang sewaktu-waktu bisa menjadi orang asing jika mereka tidak membutuhkan kita lagi." Sarkasnya skeptis, kemudian tertawa yang mengandung ke-ironi-an.
" Muy, jangan mengambil kesimpulan sendiri." Tegur Aryan tidak suka akan perkataan Zayin.
" Itu yang Ayin pahami, Papi. Entah dengan yang lain, tepi 99% persen Ayin yakin bunda sedang menyembunyikan nyonya Atma Madina itu, seperti bisa berhasil saja." Tuturnya meragukan upaya Hanna.
" Zayin..." tegur Daniel.
" Sudahlah, kalau kalian tidak menerima pernyataan tersebut tidak masalah. Toh kami kaum termarginalkan yang sudah biasa tidak kalian dengar."
Terdengar pintu dibuka yang menampakan nenek Sri, Dewi, dan Elena yang menatap Zayin dengan tatapan sedih, saat hendak membuka pintu mereka mendengar perkataan Zayin. Zayin tertegun mendapati mereka di sini.
Sri menghampiri Zayin, lalu menepuk pelan pipinya dengan sayang." Kamu, dan keluarga mu pasti sangat kecewa pada kami, bisa kamu memaafkan kami?"
Zayin berdiri salah tingkah, ia tidak nyaman kala ada orang yang lebih tua meminta maaf padanya.
" Jangan dipikirkan, nyonya. Kami memahami kenapa kalian bersikap sangat ofensif kepada kami." ucapannya itu menyimpan luka.
" Nyonya." Sri tersenyum miris. " Apa tidak bisa kamu memangil saya Nebuy, seperti Adgar."
" Itu terlalu dini, nyonya. Dulu juga nyonya Sandra minta maaf seakan dia sangat menyesali perbuatannya, tapi lihat apa yang dia lakukan sekarang, dengan gampangannya dia menyakiti ketiga saudaraku." Tegas Zayin.
" Meski begitu, saya menghargai perubahan sikap anda kepada kakak saya." Zayin mencium punggung tangan Sri dengan ta'dzim.
" Aaa...kenapa kamu sweet banget sih, Zayin. Andai Lia belum bucin sama kakak mu, Tante pasti dengan senang hati memilih kamu jadi calon mantu idaman." Elu Elena.
" Jangan ngadi-ngadi ya, Tan. Zayin calon mantu aku." Sewot Eidelweis.
" Cih, anak masih kecil kayak biji kacang ijo aja sudah dijodohkan." dengkus Elena.
Zayin terkekeh geli." Maaf Tante, putri Tante memang cantik, tapi tingkahnya yang tidak jauh beda dengan tiga bocil lainnya membuat saya ilfil padanya, jadi saya tolak."
" Hahahaha, lihat, Zayin lebih memilih Adel yang kecil, imut, dan gemoy ku." Eidelweis tertawa puas.
" Kak, jangan fitnah." Tegas Zayin yang langsung membungkam mulut Eidelweis.
" Oh iya Tante Julia, jika hari ini ada beberapa adegan drama di sekolah, tolong abaikan. karena hari ini aku ingin memastikan mulut lemes mereka rapat serapat ditempel lem kayu."
" Aku ikut." Adgar beranjak mendekati Zayin.
" Baiklah semuanya kami permisi mau menjemput calon ibu masa depanku." Matanya melirik menantang pada Ibnu yang wajahnya sudah mengkeruh.
__ADS_1
" Julia, papa pikir sebaiknya kamu hari ini mendatangi sekolah, satu Zayin saja pasti bisa menghebohkan, ini bareng Adgar. pastikan tidak ada penuntutan hukum baik kepada sekolah maupun mereka." tekan Aznan...