Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 48. Berdamai dengan Hati


__ADS_3

"assalamualaikum. Alfa pulang."


Jimmy menghampiri papi yang sedang duduk di sofa ruang santai dan menyalaminya


Jimmy mengambil duduk di sofa berhadapan dengan papi " Pi, Afa mau ngomong penting." 


Papi melipat koran yang sedang dibacanya, perhatian penuh ditujukan kepada Jimmy.


" Pi, anter Afa buat melamar Tia."


 Papi tersentak " apa kamu serius? Apa mama Aida memperbolehkannya?"


Jimmy mengangguk " Afa bilang begini karena udah dapat lampu hijau dari mama Aida."


" Mami tidak setuju." Suara lantang mami terdengar dari pintu ruang santai berhasil mengejutkan mereka.


" Berapa kali Mesti mami bilang, mami tidak menyetujui hubungan kalian."


Jimmy dan papi tidak merespon penolakan mami membuat mami meninggalkan ruangan dengan marah.


" Jangan pikirkan perkatakan mami kamu, kalau kamu siap papi dukung. Kapan rencananya kamu melamar?"


" Lusa."


" Baik lah lusa papi kosongkan jadwal, Ada mami atau tidak ada mami kita lamar Tia."


Jimmy tersenyum sumringah mendengar perkataan papinya.


" Terima kasih, Pi."


" Sudah kewajiban papi mewujudkan  kebahagian kamu."


Jimmi mendekat dan memeluk erat papi.




" Kenapa kamu diam aja?" Daniel melirik Dista yang duduk si sampingnya.



" Gak nyangka aja Tia dilamar Abang Afa."



" Kamu, mau?"



" Semua cewek pasti mau dilamar sama cowok yang dia cintai." Sindir Ita.



" Terkadang aku merasa kalau cuma aku yang cinta sama kamu, secara kan aku yang nembak kamu." Dista menunduk dalam.



Daniel menepikan mobilnya, dan mematikan mesin " aku bukannya menunda melamar kamu, tapi ku pikir kita harus saling mengenal satu sama lain dahulu. Meski kita kenal lama, tapi hubungan kita jauh."



" Salah siapa?"



" Salah aku, aku salah ambil langkah. Dari situ aku mulai belajar mengenal kamu karena aku gak mau nyakitin kamu lagi. Siapa dulu yang nembak itu gak penting toh kita sama-sama mau. Kalau aku gak suka kamu, aku gak bakal sungkan buat nolak kamu meski kamu adiknya Bara."



Daniel menggenggam erat tangan Dista dan menciumnya. 



" Kita pelan-pelan tapi pasti. Jimmy melamar Tia karena dia butuh Tia lebih dari saat ini. Kamu jangan ragukan aku, untuk waktu yang lama cuma kamu yang aku inginkan."



" Kamu gak jengah diledekin cupu terus!?"



" Enggak, santai aja. Justru aku bangga sama kamu, Mereka begitu karena mereka iri."



" Sekarang bagaimana keadaan kamu?"



Daniel mengernyitkan dahi bingung "apanya?"



Dengan ragu Dista berucap " kak Radit bilang supaya aku selalu temenin kamu, secara garis besar kak Radit cerita sakitnya kamu dan Abang Afa."



Daniel merubah duduknya, satu tangan memegang setir mobil dan satunya masih menggenggam tangan Dista.



" Apa yang aku derita tidak sebanding dengan penderitaan Jimmy, seandainya aku tidak lari mungkin Jimmy tidak sesakit sekarang."



" Waktu itu kenapa kakak pergi ninggalin Abang Afa sendiri?"



Daniel melepas nafas pelan " karena... aku pikir harus mencari pertolongan, kalau aku diam sementara mereka mengeroyok Jimmy, a...aku...pikir kita akan...." Dada Daniel terasa sesak dia membuka dua kancing teratas



" I...tu ditengah hutan pada malam hari tidak akan ada orang menolong kami, makanya a...aku  lari..." Daniel menghembuskan nafas berat.



" Kira-kira apa yang terjadi jika kakak tidak lari, apakah kalian masih ada saat ini?" Daniel menggeleng.



" Jadi karena kakak lari, makanya kalian masih bersama kita. Pertanyaannya, kenapa kakak menyesali kepergian kakak?"



" Kamu gak tahu bagaimana keadaan Jimmy sewaktu aku meninggalkannya, seharusnya aku ikut nyerang penculik itu bukannya lari."



" Memangnya bagaimana?" Degub jantung Dista sebenarnya sudah berdetak cepat ingin mengakhiri obrolan ini, tapi dia tak bisa mundur."



Daniel menundukan wajahnya meringis dia memegang dadanya tiba-tiba butiran keringat dingin membasahi wajah Daniel " jimmy..., Dalam...keadaan... celananya dilepas sampai lutut." Ucap gemetar Daniel yang disertai tangis



Dista menutup mulutnya dengan satu tangan, satu tangan yang lain menarik Daniel kedalam pelukannya.



Dirasakannya tubuh Daniel bergetar dalam isakan tangisnya " seharusnya aku yang mengalami itu, seharusnya aku yang mereka lecehkan, bukan Jimmy." Ratap Daniel.



Tak lama tubuh Daniel ambruk, matanya tertutup. Dista menyandarkannya ke punggung kursi dia lantas keluar dari mobil dan menelpon Jimmy agar menjemput mereka.



Tak butuh waktu lama Jimmy datang dengan motor PCX nya " Ra, Daniel kenapa?" Khawatir Jimmy



Dista menatap kakak sepupunya dengan nanar, lantas menerjang untuk memeluknya erat.



Serangan tiba-tiba Dista sempat membuat Jimmy kehilangan keseimbangan, dia membalas pelukan Dista " ada apa?" Tanya lembut Jimmy.



" Maaf, Ita gak maksud  menyakiti kak Daniel. Kak Daniel melemah seusai bercerita tentang penculikan itu."



Jimmy menegang, dia tertegun. Bergegas dia menelpon Radit " ke rumah Ibnu, sekarang." Ucap Jimmy dan menutup sambungan telponnya.



" Biar Abang yang bawa mobil, kamu bawa motor Abang, bisa. kan?" Dista mengangguk.



\*\*\*\*


Kediaman Ibnu Ubaydillah



Di rumah sederhana nan asri, di ruang tamu terdapat empat pemuda dan satu gadis duduk di lantai beralaskan permadani turki berkualitas premium



meski sudah membaik Daniel masih lemas ditemani Jimmy, Ibnu, Radit, dan Dista.



" Sejak kapan dia begini?" Tanya Ibnu.



" Baru tadi seusai ngobrol tentang penculikan." Ucap Dista pelan, pandangannya tak lepas dari Daniel.



" Sampai mana dia cerita hingga bisa seperti ini?



" Sampai bahwa seharusnya kak Daniel yang harus dilecehkan bukan Abang Afa! Cicit Dista.



Jimmy menutup mata penuh luka



" Assalamu, alaikum!' salam Bara, Tia dan Mumtaz.



" Wa,alaikumsalam." Mereka turut bergabung di ruang tamu.



" Gue dapat telpon dari Ibnu, terus gimana keadaannya?" Khawatir Bara



" Menurut gue ini harus diselesaikan dengan segera antara Jimmy dan Daniel, gue ingin mereka komunikasi tentang peristiwa itu gue akan coba metode hipnoterapi."


__ADS_1


" Lakukan apa saja yang menurut Lo baik dan nyaman bagi mereka!?" Ujar Bara.



" Tia, dan Dista-nya keluar dulu ya!" Ujar Radit, mereka mengangguk dan beranjak keluar



Radit membawa mereka dalam alam bawah sadarnya dan mensugesti mereka ke keadaan tenang untuk menceritakan apa yang terjadi pada hari tragedi itu.



Tak berapa lama mereka dengan keinginan sendiri bercerita bahwa  saat mereka mencoba penemuan bartu mereka di taman kota tiba-tiba ada sekelompok orang berseragam hitam membekap mulut mereka dan membawa mereka ke suatu tempat yang berada di hutan.



Di hutan itu mereka disekap di suatu rumah tua dengan cara diikat tangan dan kaki mereka selama seminggu. Dalam seminggu itu mereka diperlakukan dengan baik sampai suatu malam yang naas satu dua penjaga mereka mendekati Daniel dan bertindak agresif kepada Daniel dengan tidak senonoh.



Rudi, orang itu melepas tangan Daniel dan memaksa tangan Daniel untuk menyentuh \*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*, Daniel yang memberontak membuat Rudi geram hingga menampar Daniel, tapi sedetik kemudian dia menunjukan raut penyesalan dengan mengelus-elus pipi Daniel dan itu terus berulang kali sampai Daniel menggigit tangan dia yang berakibat sebuah tamparan lagi bagi Daniel.



Alfa remaja yang tidak tahan melihat itu menendang punggung lelaki tersebut dengan sekuat tenaga, Alfa mendekat dan menempatkan Daniel di belakang tubuhnya, menjadi tameng bagi Daniel remaja yang ketakutan.



Setiap kali Rudi ingin menyentuh Daniel, Alfa akan menghadang dengan menendang, sehingga Rudi naik pitam. Dia angkat Alfa yang bertubuh kurus melemparnya ke atas sofa panjang.



" Kalau kau melarang ku mendekatinya, maka kau yang harus menjadi pengganti dia." Ancam Rudi dengan marah



Daniel yang melihat Rudi lengah memperhatikannya Dengan cepat melepas ikatan tali kakinya.



Dia melihat celana Alfa yang dibuka dan ditarik kebawah sampai lutut meski Alfa terus berontak



Daniel menangis, dia ingin menyerang Rudi namun lewat gerakan mata Alfa memintanya untuk pergi. 



Dengan terpaksa Daniel menuruti keinginan Alfa, di belakangnya terdengar teriakan Rudi karena Alfa yang masih terus melawan, dan tangisan Alfa yang menolak sentuhan Rudi.



Sambil menangis, Daniel terus berlari berteriak minta tolong ditengah gelapnya hutan. Dengan tubuh yang makin melemah Daniel memaksa terus berlari meski jarak lari mendekat dan raungan tolong yang mengecil.



Dari arah depannya Daniel melihat siluet dua remaja tak dikenal berlari ke arahnya, semangatnya timbul kembali hingga dia pun mengikis jarak mereka.



" To...longin te...man ku dia di...rumah tua di sana" menunjuk ke arah belakangnya, tanpa kata satu orang dari mereka berlari menuju arah tunjuk Daniel, dan satunya menempatkan Daniel di tempat yang terasa aman



" Tunggu di sini, jangan kemana-mana. Nanti kita balik ke sini." Ucap orang itu lembut.



Ketika remaja itu datang, dia melihat seorang remaja yang terbaring di lantai dengan kedua tangan di tahan di atas kepalanya oleh satu orang berwajah kosong dan satu orang berdiri di depan remaja itu dengan celana yang sudah bertengger di kedua lututnya



Teriakan remaja yang semula terdengar meminta pertolongan kini hilang berganti ketidaksadaran dari remaja tersebut.



Orang yang berdiri tertawa puas melihat korbannya pingsan dia mulai berlutut membalikan tubuh sang korban, dia usap-usap \*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\* guna rangsangan. Dia membuka kedua kaki sang korban dan berkongkok hendak memposisikan diri diatas korban, badannya tersungkur hingga dia mencium lantai akibat tendangan keras dari samping.



" Aaakkrrgghh."  Teriaknya karena tulang hidungnya patah, darah mengalir deras dari hidungnya. Belum dia sadar dari keterkejutannya tubuhnya ada yang memutari hingga dia terlentang dan langsung menerima hajaran dan pukulan di rahang, tulang pipi, pelipis telak bertenaga bertubi-tubi tanpa jeda. Dari belakang, tubuh remaja itu ditarik dan dilempar oleh teman lelaki tadi hingga membentur tembok.



" Mumtaz " jerit remaja yang baru masuk. Ketika sang teman hendak menyerang Mumtaz, sang remaja terlebih dahulu menendang tulang kering sang teman hingga terjatuh.



" Ibnu, Lo urus orang itu gue urus dia." Tatapan menyalang Mumtaz tertuju ke orang yang berusaha berdiri sembari meringis sakit



Ibnu yang menyadari tubuh sang lawan begitu besar mengeluarkan pisau lipat yang terdapat di kaos kakinya dengan tendangan memutar mengenai wajah langsung melumpuhkan lawan, tanpa basa-basi dia potong jari kelingking lawan dalam satu gerakan. Ibnu sadar dia harus segera melumpuhkan lawannya itu.



Teriakan kesakitan membahana dari mulut lawan tidak Ibnu gubris, dia terus menonjok wajah lawan tepat di tulang hidung dan rahangnya Hingga terjengkal, dan berdiri di atas tubuh lawan menendang tulang rusuk lawan dan memelintir tangan lawan hingga patah.



Mumtaz yang sudah dikuasai amarah menendang tulang rusuk lawan hingga terdengar bunyi patah, dan kembali lawan terjatuh ke lantai.



Aura dingin dan mematikan menyeruak dari Mumtaz remaja, lawan yang melihat sudah gemetar  ketakutan mememohon maaf, tapi itu tidak membuat Mumtaz luluh. Mumtaz menduduki tubuh lawan dengan tenang mengeluarkan pisau lipat kecil dari ikat pinggang nya dan menggores wajah lawan



"Aaaakkrrgghhh." Jeritan kesakitan bagai hewan melolong putus asa mengisi seluruh rumah tua itu.



Tak cukup dengan itu Mumtaz menekan tulang selangka nya hingga terdengar tulang patah lanjut berjalan di atas tubuh dan menginjak \*\*\*\*\*\*\*\* lawan.




" Ambil foto mereka." Seru Mumtaz sambil mendekati remaja yang pingsan.



Setelah merapihkan pakaian remaja tersebut Mumtaz menggendong remaja itu dipunggungnya meninggalkan rumah tua tersebut.



Daniel yang terus terisak, Menangis berlari mendekati mereka dan melihat cemas sahabatnya yang tak sadarkan diri 



" Tenang, dia tak apa-apa. Hanya lelah." Ujar tenang Mumtaz



Daniel yang tak mampu menahan tubuhnya lagi luruh ke tanah yang langsung ditahan dan digendong Ibnu.



" Begitu keadaan sebenarnya setelah kamu pingsan, Jim." Ujar Mumtaz menyelesaikan kisah panjang malam itu.



" Jadi si Rudi gak sampai mencabuli gue?" Tanya Jimmy yang diangguki Mumtaz.



Tiba-tiba Jimmy menerjang tubuh Mumtaz dan memeluknya erat yang duduk disampingnya



Dia menangis sedu-sedu " gue pikir dia berhasil melakukan itu ke gue." Lirih terluka Jimmy.



Mumtaz membalas pelukan itu mengusap menenangkan punggung Jimmy.



" Enggak, kamu aman. Dan itu hanya mimpi buruk kamu."



Jimmy melepas pelukannya, dia menoleh menatap Daniel yang terus terdiam.



" Lo dengar, gue selamat karena Lo. Kalau Lo gak lari mungkin kita sudah meninggal atau gila. Gue berterima kasih kepada Lo, gue berhutang nyawa kepada Lo." Tangis Jimmy.



Daniel yang menatap Jimmy menggeleng kepala tak percaya, dia memeluk erat sahabat kecilnya yang dibalas Jimmy.



" Aku dapat info kalian juga dari Bara yang lari meminta pertolongan, kalau Bara gak ngasih arah kalian di bawa kita gak mungkin bisa menemukan kalian." Tutur Mumtaz menatap tegas Bara yang sedari kedatangannya diam.



Bara yang namanya disebut menatap Mumtaz, dia mengangguk paham maksud perkataan mumtaz dengan air mata yang turun deras dalam rangkulan Ibnu.



Malam itu di rumah sederhana Ibnu mereka berenam berusaha mengakhiri trauma bathin para sahabatnya.



Dua gadis yang diam mendengar kisah itu dibalik pintu berusaha menahan suara tangis dengan buliran bening yang mengalir deras sedari awal kisah itu terucap.



Menyadari suasana yang sudah tenang mereka menghampiri para lelaki itu.



Dista memeluk kakaknya yang dibalas oleh Bara, sekarang dia paham kenapa kakaknya yang periang dan jahil berubah menjadi sosok keras, dingin dan menantang maut. Dia ingin menjadi kuat dan melindungi mereka.



Alfa yang pendiam dan santai berubah menjadi agresif, culas dan menyeramkan kala ada temannya sedikit di ganggu oleh siapa pun.



Daniel yang lembut dan baik hati berubah menjadi pendiam dan waspada kala para sahabat diganggu.



sejak saat itu Mumtaz dan Ibnu menjadi dua orang yang tidak dapat memisahkan diri dari tiga anak konglomerat yang terus menarik mereka ke dalam setiap aspek kehidupan mereka, menjadi pelindung dan berdiri terdepan kala ada yang mengusik mereka.



Radit memandangi lima orang tersebut dalam haru, kini dia paham kenapa mereka menjadi satu kesatuan yang terkuat kala bersama. Mereka hanya melindungi para sahabatnya.



Dengan keahlian, kekayaan dan kekuasaan tiga pemuda konglomerat itu, Radit yakin ada suatu masa dimana dunia dikuasai oleh mereka tanpa orang sadari. Dengan Mumtaz dan Ibnu sebagai perisai mereka.



Beberapa tahun ini Radit sudah sedikit melihatnya bagaimana mereka mampu menenggelamkan orang yang tajir melintir dalam sekejap bangkrut bagai gembel terbuang dari peradaban. Karena kisah masa lalu mereka yang  menjadikan mereka menolak menyerah dari berbagai keadaan.



" Kalian, mau nginep di sini atau pulang ke rumah masing-masing?" Tanya Radit.

__ADS_1



" Pulang, gak ada yang keluyuran lagi." Tegas Mumtaz.



Tia yang setia mendampingi Jimmy tanpa kata hanya bisa menenangkan Jimmy lewat elusan dipunggungnya



" Aku pulang dulu, kakak juga tidur ya. Semua baik-baik saja."



Jimmy mengangguk " kamu juga tidak perlu mengkhawatirkan ancaman dari Adinda lagi, semua bukti yang ada di dia sudah hangus dan hilang. Kalau dia membual ancaman lagi, itu hanya gertakan sambal gosong. Oke!?" 



Tia mengangguk tegas, saat ini dia tidak boleh terlihat rapuh" terima kasih."



" Ucapkan terima kasih kamu kepada Zayin, dia yang mengambil foto sialan itu." Geram Jimmy. Tia mengelus-elus tangan Jimmy.



\*\*\*



" Assalamualaikum, Alfaska yang ganteng datang berkunjung ke rumah tetangga." Salam Jimmy dengan teriak.



" Tumben, udah makan Lo?" Bara melangkah ke ruang makan



Jimmy menggeleng " gue makan sini ya, di rumah ada mami males gue debat mulu."



" Tante, tumbenan pagi-pagi udah rapih kayak mau kerja aja." Ujar Jimmy kala melihat penampilan Tante Sherly yang berbeda.



" Memang, hari ini Tante mulai menangani butik mami kamu. Mami kamu tega hari pertama Tante harus keliling Jakarta buat periksa butik-butik."



Bara dan Jimmy saling pandang



" Bukannya itu tugasnya mama Aida ya?" Tanya Bara



Tante yang menyadari sesuatu bergerak tidak nyaman " kemarin mami kamu sudah mengalihkannya ke mama, jadi mama Aida kembali ke tugas lama."



" Bukannya mami sudah punya tiga pengantar pakaian di masing-masing cabang?"



Tante tertegun mendengar itu " mami kamu gak bilang begitu, dia bilang..."



Jimmy keluar rumah Tante dengan amarah besar, sesampainya di rumah dia langsung melangkah ke ruang makan



" MAMI,...MAMI, PIKIR APA YANG SEDANG MAMI LAKUKAN? HAH!"



" Alfaska, jaga sikap kamu!" Tegur tegas papi



" Apa papi tahu kalau mami memecat mama Aida?



Papi menatap mami " Mami gak pecat mama Aida." Bela mami



" Oh ya? Lalu bisa mami jelaskan mengapa mami mengganti mama dengan Tante?" Sarkas Jimmy.



" Apa salah kalau mami bekerja sama dengan tante kamu?" mami bertanya balik



" Tidak! Tapi mengganti tugas mama dengan orang yang belum berpengalaman adalah hal yang konyol, apa ini ada sangkutannya dengan hubungan Afa dengan Tia?



" Kenapa kamu bertanya seperti itu?"



" Karena hanya alasan itu yang Afa pikirkan dari sikap konyol mami."



" Afa, ini butik mami terserah mami menempatkan karyawan mami dimana?"



"Mami tidak memutasi mama, tapi memecatnya. mami sudah punya tiga pengantar di setiap butiknya."



" Mami bisa pecat salah satunya."



" Mami pikir mama Aida akan membiarkan mami lakukan itu?"



" Memang apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya pegawai."



Alfa tertegun mendengar perkataan mami " Bagi mami ini hanya hubungan bisnis, setelah apa yang mereka lakukan pada putra mu. Bagi putra mu beliau adalah ibu kedua. Bagaimana mungkin mami bisa bilang tahu kebahagian ku kalau Kau tidak memahami ku." Jimmy meniggalkan rumah dengan emosi



Brak!!



Mami dan papi terlonjak mendengar pintu ditutup keras 



" Kenapa mami lakukan itu?" Tanya papi.



" Benaran Pi, mami gak punya maksud untuk memberhentikan mbak Aida. Mami ajak kak Sherly supaya kak sherly ada kegiatan."



" dapat dipahami jika kak sherly yang belum berpengalaman hanya memegang satu atau dua cabang butik, tapi ini semua cabang yang ada di Jakarta!?" Sindir papi



" Mi, Alfa dan mami belakangan ini  dalam kondisi yang sensitif, jika mami mengambil tindakan yang bersinggungan dengan Alfa dan itu bertentangan dengannya, maka jangan menyesal jika suatu hari mami kehilangan putera mami. Ini peringatan kedua papi."



Papi menyelesaikan sarapannya, dan mencium kening mami sebelum berangkat ke kantor meninggalkan mami yang termenung....



\*\*\*\*



" Ma, yakin hari ini mau mengajukan resign? Tanya Mumtaz, kini mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan



" Iya, dan ini. Kalian bawa bekal mama kangen bikin bekal kalian." Mama menyerahkan empat kotak makan susun tiga."



" Besar amat, ini aku udah bawa brownis juga loh." Ucap Zayin



" Mama di dapur dari jam berapa?" Tanya Kakak ala yang melihat meja bar sudah tersusun berbagai cemilan manis ada bolu, donat, brownis, juga coklat."



" Dari jam sebelas, Mama gak bisa tidur."



Para anak saling pandang.



" Mama mulai sekarang santai saja. Kita berangkat." Ujar Mumtaz



belum juga Mumtaz melangkah, terdengar suara langkah tergesa-gesa memasuki ruang makan. Jimmy duduk bersimpuh di depan mama.



" maaf, maafkan Jimmy yang sudah membuat mama susah." tangis Jimmy. sedangkan yang hadir kaget



Mama yang paham akan keadaan memegang bahu Jimmy untuk berdiri, mendudukan Jimmy di kursi di samping mama



" angkat kepala kamu, Jimmy tidak pernah menyusahkan mama. apa yang mami lakukan hal yang wajar. sebenarnya ini bagus buat mama, mama bisa mewujudkan impian mama untuk buka bisnis coffee shop."



Jimmy menatap manik mama, mengangguk paham.



" mama gak akan cabut restu mama buat Jimmy melamar Tia, kan?"



mama tertawa menggeleng " tidak, ajak aja wali kamu ke sini buat lamaran."



" oke. Pi, ke rumah mama Aida temenin Afa melamar Tia, sekarang." Jimmy menutup sambungan telponnya membuat yang lain melongo bingung...

__ADS_1


__ADS_2