
Mumtaz dengan wajah tanpa ekspresi berdiri di depan Eduardo yang terus mengerang, ia memperhatikan tumpukan orang yang berhimpitan mencari kehangatan ditengah hawa dingin hutan.
Rintihan Eduardo tidak mampu menghidupkan sinar matanya yang meredup, tetapi cukup mengganggu ketenangan yang Mumtaz butuhkan.
Mumtaz menunduk melihat Eduardo, sorot mata meminta pengampunan dari Eduardo tidak ia indahkan.
Mumtaz berjongkok, mengeluarkan ponselnya untuk merekam. " seharusnya kau tidak pernah menyentuh kakak ku! kalau kau ingin selamat, katakan padaku siapa yang memperbolehkan mu melecehkan kakak ku?" Ucapan tenang, tetapi penuh undangan kematian di dalamnya.
" Ta...Tamara." Bibirnya yang pucat gemetar.
" Bagaimana dengan nyonya besar mu?"
" Atas izin dia... tentunya." Suara itu lemah.
" Apa buktinya?"
" A..da di..ponselku." Giginya bergemeletuk menahan sakit bekas pembedahan pengambilam peluru.
" Kau!!" Tunjuknya pada Nacho yang belum tertidur, tetapi posisinya duduk di samping tenda Zahra.
" Saya, tuan."
" Cari ponsel dia, berikan padaku."
Nacho melirik Eduardo dengan takut-takut." Baik, tuan."
Setelahnya, Mumtaz beranjak berjalan ke tenda gudang penyimpanan senjata dan benda ilegal lainnya.
Bola mata Eduardo mengikuti setiap pergerakan Mumtaz, dan tiba-tiba matanya membulat besar kala Mumtaz melangkah menuju hutan yang ditimbuni pohon lebat.
Sebelum masuk ke dalam pohon tersebut, Mumtaz monoleh pada Eduardo dengan senyum smirk.
Di balik pohon itu, ternyata kembali, ada goa buatan, bermodalkan senter ponsel Mumtaz mengamati isi goa yang berisi bermacam-macam peti berisi emas murni, senjata berlaras panjang dan pendek, dan alat perang lainnya seperti di kamp sebelumnya.
" Wow, amazing, Tapi sayang harus dilenyapkan..." Seiring ucapan yang dia rekam dengan ponselnya ia menaruh bom, dan peledak lainnya di setiap peti besar yang terbuat dari kayu itu.
Beberapa lama kemudian, Mumtaz keluar dari balik pohon tersebut, berjalan dengan tenang ke tenda Zahra dimana dia dan Zayin tidur dengan kedua tangan di dalam saku celana seakan tidak melakukan apapun.
" Tuan,..." Nacho berlari ke arahnya.
" Ini..." Nacho menyerahkan ponsel Eduardo.
" Terima kasih, kamu tidurlah. Besok perjalanan masih panjang."
" I..iya..tentu. terima kasih tuan." Mumtaz mengacuhkan panggilan tuan dari Nacho.
Ia memasuki tenda Zahra tanpa menyadari seseorang yang memperhatikannya dengan raut sedih.
" Stop menjadi perisai, Muy." Gumam orang tersebut.
Pang.lima menutup saluran telpon dari Arvan, ia gusar akan laporan yang disampaikan Arvan terkait penemuan senjata dan lainnya yang bisa mengganggu keamanan Indonesia, tapi entah mengapa ia merasa sangat bersyukur Zahra ditemukan, meski sedikit gusar dengan keinginan Mumtaz terkait tiga tahanannya.
" Pemuda dengan kecerdasan dan kemampuan diatas rata-rata sangat menakutkan. Pantas mengapa bung Karno mengatakan hanya butuh 10 pemuda untuk mengguncang dunia." Gumam pang.lima mengusap wajahnya gusar.
Lantas ia menelpon KSAD untuk mengirim tentara saat ini juga ke lokasi penemuan.
Eidelweis menghela nafas berat melihat Sri duduk termangu di teras dijaga para anak Gaunzaga.
" Nek, gak bisa tidur?" Eidelweis duduk di samping Sri.
" Baru kebangun."
" Kenapa? Ini masih dinihari."
Tatapan Sri menerawang," Zahra, sedang apa ya? Apa dia baik-baik saja? mereka sangat jahat." Renungnya.
" Para adik tidak akan membiarkan Zahra terluka, begitupun kak Hito." Tekan Eidelweis pada tiga kata terakhir.
" Mengapa dia masih baik setelah apa yang nenek lakukan padanya?"
" Edel juga tidak paham, terkadang Edel berpikir kalau kita adalah sumber kesialan mereka."
Sri menoleh memandang Eidelweis tidak paham.
" Kak Hito yang menewaskan ayah mereka, tetapi Mumtaz yang menolong bisnis kita. Kalau bukan karena perlindungan mereka, mungkin media akan mengupas aib Edel. Tetapi sekarang jejak itu hilang."
" Kamu, serius mau menjodohkan Adel dengan Zayin? Mereka tidak segan melukai perempuan."
Eidelweis melirik tidak suka Sri.
" Aku yang bertetangga dengan mereka, jangankan terhadap perempuan, terhadap lelaki saja mereka tidak pernah main kasar terlebih dahulu."
" Kasus Riana?"
" Riana sering mengganggu Sisilia, dan ingin mengasari Sisilia, makanya Mumtaz melukainya."
" Apapun alasannya, lelaki tidak pantas kasar terhadap perempuan."
" Aku pernah menanyakan hal itu pada Zayin, dia mengatakan kalau mama Aida tidak mengizinkan tentu mereka tidak akan melakukannya."
" Aida..."
" Jangan coba-coba berbicara kotor tentangnya. Kalau bukan karena beliau, cucu mu ini, sewaktu hamil Adelia akan menjadi cibiran masyarakat."
" Tante Aida mengatakan, sejatinya perempuan itu harus ditempatkan di tempat yang terhormat dan tertinggi, tetapi masa sekarang banyak perempuan yang memanfaatkan sisi feminis untuk berbuat jahat. Jadi kejahatan tidak memandang gender."
Sri terdiam mendengarnya, ia berkaca pada kisahnya dengan Fatio dan Guadalupe. Dan apa yang Guadalupe lakukan saat ini padanya.
" Kalau Guadalupe berurusan dengan kehidupan Mumtaz atau Zayin, dapat dipastikan dia tinggal nama saja ya!?" Sri tertawa kecil.
" Kalau dia masih muda, nasibnya lebih dari Riana. Ingat! Yang dilindungi istrinya, beuhhh..jadi rempeyek dia."
Sri terbahak-bahak mendengarnya.
" Nek, bicara penculikan nenek, aku harap nenek jangan banyak cerita, kita tidak tahu dengan siapa Nyonya Guadalupe bersengkongkol."
" Termasuk Sivia?"
" Dia tetap seorang Gonzalez, kita sudah membicarakan ini, dan juga perempuan muda yang ingin nenek jodohkan dengan Akbar."
" Tamara? dia gadis lembut dan manis."
" Tetap orang asing, ini perintah kak Hito."
" Baiklah, nenek juga tidak mau Zahra berbahaya."
****
Semua orang sedang bersantai di depan api unggun seusai shalat subuh terhenyak, karena dikejutkan dengan kepanikan Zayin yang berlari kencang menuju dapur yang sedang sibuk mempersiapkan Sarapan.
" Masak air yang banyak buat berendam kak Ala, badannya panas." pintanya pada Jeno yang sedang mengawasi para tahanan masak.
Zayin lanjut berlari memeriksa toilet, para Kakak menghampirinya.
Jeno yang khusu mengawasi terlonjak kaget, ia hanya mengangguk saja.
" Nacho, masak air buat mandi kak Ala." setelah mengatakan itu Jeno pun turut berlari mengejar Zayin.
" Ada apa?" Wajah khawatir Zayin meresahkan mereka.
" Kak Ala sakit, perutnya kram, nafasnya sesak, badannya panas, ia histeris mengingat kekerasan kemarin. Sial, toiletnya terlalu kecil untuk kak Ala berendam." Suaranya bergetar ketakutan.
Hito yang mendengarnya langsung berlari ke tenda Zahra, ia melihat Zahra yang berwajah pucat menggigil hebat meski telah diselimuti tebal.
" Muy, biar saya periksa."
Mumtaz bergeser, membiarkan Hito mengecek keadaan Zahra.
" Sudah berapa lama?"
" Entahlah, aku menemukannya seusai shalat malam." Hito hanya mengangguk, ia memeriksa pupil mata, perut, dan nafas Zahra.
Zayin berlari ke belakang, ia memperhatikan areanya, mengambil golok yang teronggok di samping toilet, lantas ia berlari ke arah hutan.
" Yin, mau apa?" Ibnu menarik tangan Zayin.
" Bikin bilik dan bak mandi buat kak Ala." Zayin terus menebang dahan pohon.
William mendatangi Zayin," Yin, tenang. Biar kami yang bikin. Lo temani kak Zahra."
" Gak bisa, gue gak mau dia mati. Gue gak bisa kehilangan keluarga lagi." Zayin menyeka air matanya yang lolos.
Zayin terus menebang, isaknya mulai terdengar
" Kalau Lo begini cuma bisa menghambat pembuatan bilik. Biar kita." tekan William
Bayu menarik Zayin menjauh dari hutan, William dibantu anak RaHasiYa dan Gaunzaga membuat bilik mandi.
" Kalau bak berendam, kita punya." Nacho menunjuk bak yang dibawahnya terdapat bara pembakaran.
" Ya sudah kita tinggal bikin biliknya saja, tolong ada yang isi baknya dengan air dan nyalakan bara apinya." Pinta William.
Ibnu merangkul Zayin yang tubuhnya gemetaran, " kita ke tenda." Alfaska dan Daniel menjaga Zayin dari penglihatan orang luar.
Menjaga privasi, dan wibawa rekan, Arvan dan pasukannya menyibukkan diri memeriksa tahanan, memastikan tidak ada yang kabur.
" Aaarrghh..." Rintih Eduardo begitu kakinya ditendang Zayin.
" Kakak ku mati, kau membusuk. Piuh." Zayin meludahi wajah Eduardo. Para Kakak hanya menghela nafas, mencegah Zayin hanya hal sia-sia.
Semuanya menoleh pada teriakan itu, Arvan mengenal nafas berat.
" Kita tidak melihat apapun." Kode Arvan.
" Aku bahkan tidak mendengar apapun." Ucap yang lain.
" Di sini sepi, sunyi, senyap." Lanjut yang lainnya.
" Hmm."
Di dalam tenda Hito mencoba segala cara untuk menghangatkan tubuh Zahra. raut kecemasan terpatri di wajahnya.
" Muy, buat skinship, atau saya saja!?"
Sambil mendelik pada Hito, Mumtaz melepas pakaian atasannya. Dia masuk ke dalam selimut Zahra.
Memeluknya erat, berkali-kali mengecup sayang kening, pucuk kepala Zahra. Dia pun sangat takut kehilangan kakaknya.
Dia mensugesti pikirannya bahwa Zahra akan membaik, dan pasti membaik.
Zayin hanya duduk di pinggir dengan wajah basah karena air mata. Mereka belum siap kehilangan Zahra, dan tidak akan pernah siap.
__ADS_1
" Jangan sampai kak Ala meninggal, Allah. Tidak lagi." Lirihnya. menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangan yang bertumpu pada lututnya.
Selang 15 menit, " air sudah siap." teriak Jeno.
Mumtaz keluar dari selimut, membuka pakaian luar Zahra, lalu menyelimutinya kembali.
Tanpa memperdulikan keadaannya yang berte-lanjang dada disuhu dingin, Mumtaz menggendong Zahra ala bridal.
Anak Gaunzaga secara gotong royong membawa air panas dari dapur menggunakan ember untuk memenuhi bak.
Sepanjang jalan, anak RaHasiYa membuat pagar manusia untuk menutupi Zahra dari pandangan orang luar.
" Muy, siram dulu supaya kak Ala-nya biar gak kaget." Ujar Ibnu begitu mereka sudah di depan bilik.
" Siram saja."
" Nanti Lo basah."
" Terus?..." wajahnya datar.
Ibnu melepas selimutnya memberikannya pada Daniel, lalu menyiramkan air hangat kepada Zahra dari kaki terus naik sampai rambut.
Selanjutnya Mumtaz masuk ke bilik, yang sudah ada Zayin yang sudah *Shirtless*.
Mereka secara perlahan menurunkan Zahra ke dalam bak yang terbuat dari kayu yang berisi air yang hangat.
Tangan Zayin yang memandikan Zahra gemetaran.
" Yin,..."
" Aku takut, A. Aku gak bisa kehilangan pengganti ayah dan mama." Suara Zayin bergetar, air mata terus lolos.
" Yin, tenang."
" Gak bisa. Kakak tahu betapa bahayanya keadaan Kak Ala ini." Isaknya.
" Aku gak mau kak Ala meninggal...hiks...hiks.."
Para kakak yang menunggu di luar bilik pun tak elak menitikkan air matanya. Hito hanya diam menunduk.
Ketakutan kehilangan Zahra membuat hati Inya kacau.
Mereka berdua terus menyirami air ke tubuh Zahra, mereka bernafas lega kala terdengar lenguhan dari Zahra. Api pembakaran terus dinyalakan oleh anak RaHasiYa untuk mempertahankan suhu hangat air.
" Eunghh." Zahra menggeliat ke kiri dan ke kanan.
" Kak..." Mumtaz mengusapkan air hangat pada wajah Zahra yang penuh dengan lebam, hatinya perih melihat luka Zahra.
" Muy, Ayin. .mana?" Lirihnya.
" Aku di sini." Zayin menyisiri rambut Zahra.
" Jangan nangis, masa tentara nangis..." Adik satunya ini memang sangat cengeng.
" Tentara juga manusia. kak, aku gak bisa lihat kak Ala begini, sembuh ya..." Zahra mengangguk-angguk.
" Jangan bikin aku takut, aku gak mau kehilangan Kakak...hiks."
" Sudah, kakak sudah lebih baik."
" Berendamnya sudah cukup."
" Perutnya?" Tanya Mumtaz
"Nu, selimut."
Ibnu menyampirkan selimut di bilik.
" Kalian keluar. Apa ada pakaian ganti?".
" Ada. Panggil kita kalau sudah siap dipindahkan." Zahra mengangguk, Mumtaz dan Zayin keluar.
" Nu, siapin baju di tenda."
" siap."
" Tinggal baju Daniel." Ibnu mengangkat satu setel Hoodie.
" Pakai aja." ujar Daniel
" A,..." panggil Zahra lemah, Mumtaz memasuki bilik
" Iya,...aku angkat ya." Mumtaz kembali menggendong Zahra.
" Kamu, mandi." Titah Mumtaz kepada Zayin.
Setelah drama perendaman Zahra, kini keadaan Zahra sudah stabil, ia dibawah perawatan Hito, dan sedang disuapi sarapan olehnya.
Netra hitamnya tidak pernah lepas dari memandangi Zahra.
"Aku pasti jelek banget ya..."
Hito menggeleng," mana pernah kamu jelek, aku terkadang kewalahan akan pesona kamu."
" Hahahaha...aduh..." ringisnya," gembel banget. muka tidak berbentuk gini."
" Apa aku harus bengep juga suapayaa kamu gak pamer sampai ngomongin muka mulu." Sarkas Hito.
" Situ ngerasa keren ya..." kesal Hito
" Maaf,... tapi sakitnya berasa."
" Makan, terus minum obat." Hito menyuapi Zahra.
Mumtaz dan para anak RaHasiYa sedang menikmati sarapannya, " kalian, dengar ini."
Mumtaz membuka rekaman pembicaraannya dengan Eduardo, dan membuka video yang didapat dari ponsel Eduardo.
.
" Bangs4t..." Umpat Bara.
" Si4l..."
" J4l4ng..."
" Sund4l..."
Segala umpatan kotor dari anak RaHasiYa untuk Tamara dan Guadalupe mengundang yang lain memperhatikan mereka.
" Ada apa?" Dominiaz dan Samudera mendatangi kerumunan itu.
Alfaska memberikan ponsel Mumtaz pada Dominiaz.
" Apa kalian butuh Gaunzaga?"
" Kami minta Abang melobi tuan Gurman."
" Baik, anggap sudah dilaksanakan."
" Muy,..." Daniel meminta pendapat Mumtaz.
" Urusan ini kita bicarakan nanti."
__ADS_1
" Fa matahari sudah terbit, kita turun." Seru Arvan.
" Iya..."
" Zahra..."
" Digendong." ucap Mumtaz.
Kini Zahra bergelayut dipunggung Zayin. Para Kakak sedang memasang ikatan untuk melindungi Zahra agar gendongannya tidak melonggar.
" Maaf ya..merepotkan Ayin." Lirih Zahra.
" Jangan basa-basi, tidak merepotkan sama sekali, dan Kakak tahu itu." Zayin mengecup punggung tangan Zahra yang bertengger di lehernya.
Zahra terkekeh, " ada untungnya punya badan singset."
" Oke, kita turun, Zayin di barisan ketiga dari depan." seru Arvan.
" Siap." Barisan dipimpin oleh Arvan, di belakangnya anggota kopassus sebagai tumpuan pegangan Zayin di jalan, di belakang Zayin, kopassus lainnya menjaga kestabilan gendongan Zayin, di belakangnya baru Mumtaz dan yang lainnya yang di akhiri seorang kopassus lainnya.
" Muy,..." Panggil Alfaska, ketika menyadari Mumtaz masih berdiri di depan kamp, sedangkan yang lain sudah mulai berbaris.
Dengan menggunakan masker menutupi wajahnya, dan kacamata hitam, Mumtaz menekan tombol play untuk membuat video," Gue punya hadiah buat kalian."
Mumtaz menekan pemicu bomnya,
Semuanya terdiam bingung, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan maha dahsyat secara berbarengan
Duar..duar.....duar.... Saking besarnya ledakan refleks mereka bertiarap.
Dengan latar belakang kobaran api, Mumtaz masih membuat video, dia menyeringai devil di sana.
" Ini permulaan, kau akan merasakan kepedihan seperti yang dia rasakan. Satu persatu ku buat apa yang kau sayangi lenyap." Ucapnya dingin.
Lalu dia mengirim video tersebut ke nomor seluler luar negeri.
" Mari, kita pulang." Seru Mumtaz santai.
Mereka menatap Mumtaz dengan ngeri, tidak ada ketakutan, kecemasan, telah menimbulkan kebakaran yang besar.
******
Di sebuah mansion Roma, Italia.
Seorang pria paruh baya terkejut bukan main dengan video yang dia terima.
" Bagaimana dia bisa menemukan tempat itu!" Gumamnya.
Segera dia menelpon kenalannya di Indonesia.
" Hallo,..."
" Kau urus barang yang di Kalimantan, mereka sudah menemukannya."
"....." tidak ada jawaban.
" Hallo, ..."
" Baik, tenanglah. Saya akan mengurusnya."
" Sebaiknya begitu atau...semua wargamu tahu betapa jahatnya perbuatan po-litisi idaman mereka."
" Jangan berani mengancam lsaya."
" Tidak mengancam, kau akan menjadi satu diantara 50 orang itu."
" Tut..Tut .." si penerima telpon mengumpat, ia mengusap wajahnya kasar.
Lantas ia menelpon seorang rekannya, " hallo..."
" Sang pemimpin marah, kau harus menghentikan penyelidikan kasus Gonzalez, dan yang di Kalimantan sudah diketahui."
Orang di seberangnya tertegun," bagaimana bisa..."
" Maka dari itu cepat bertindak."
" Tidak bisa, plak Ergi membentuk tim khusus yang langsung dipimpin olehnya."
Orang tersebut terkaget, " mengapa jadi begini?"
" Entahlah, saya juga bingung."
Sambungan telpon rumah tersebut disadap oleh pemuda yang sedang tertawa terkikik.
" Semakin banyak kau berbuat, semakin tersiksa keluargamu, seperti yang aku rasakan." Gumamnya dengan kebencian.
Di lain tempat, Ergi menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya, raut kekecewaan tidak bisa dia halau lagi, sadapan telpon tadi menjawab penemuan awal mereka.
******
Di pertengahan jalan, awan mendadak berubah mendung, langit menggelap.
" Stop..." Teriak Zayin.
" Terus jalan,.." instruksi Arvan.
" Izin perbaiki selimut kak Ala."
" Stoopp..." seru Arvan, semuanya berhenti, kopassus yang di belakang Zayin memperbaiki jaket Zahra, dan penutup kepalanya, memastikan Zahra dalam keadaan hangat dan tertutup.
Selagi Zahra diperiksa, Arvan mengamati awan yang lebih menggelap, ia menghubungi pasukannya yang mengawasi goa untuk mempersiapkan truk.
" Siap, selesai." Teriak kopassus.
" Lanjut jalan." Seirama mereka melanjutkan perjalanan.
Beberapa jam kemudian sampailah mereka di jalan setapak, gerimis mulai membasahi bumi.
Para adik segera melindungi Zahra dari gerimis yang mulai deras.
" Kapt, izin terus jalan." Seru Zayin.
" Bagaimana dengan truk?" Tanya Arvan kepada anggotanya yang mengawasi goa.
" Siap digunakan."
" Beb, pakai truk, hujan mulai deras."
Zayin bergegas berlari menuju truk yang sudah terparkir, beserta para adik, Hito, dan beberapa anak RaHasiYa menaiki truk.
Dengan bantuan Hito yang menariknya di atas bak truk Zahra dapat menaiki truk, Ibnu telah menyiapkan tempat untuk Zahra dengan alas yang kering.
" Jeno." Panggil Mumtaz.
Jeno mendekat pada Mumtaz, ia membisiki sesuatu pada Jeno.
" Siap,... laksanakan."
" Der, telpon anak buah Lo suruh balik." seru Bara kepada Derry.
" Mereka sudah di pos."
" Bagaimana dengan dokter?" tanya Alfaska.
" Dokter perusahaan sudah menunggu di pos." ucap Dominiaz.
Hito menaruh kepala Zahra di atas pahanya sebagai bantalnya, ia mengelus-elus kepala Zahra.
" Oke, kita berangkat." seru William.
Truk tersebut dikendarai oleh prajurit kopassus meninggalkan hutan dengan Zahra yang terlindung aman diantara para adik, Hito, dan yang lainnya.
*****
" Javier, kamu harus memulangkan aku ke Meksiko sesegera mungkin." kesal Guadalupe kepada lawan bicara disaluran internasionalnya.
" Tidak bisa, mereka menolak pengajuan pemulangan mu yang aku ajukan dengan alasan kamu kemungkinan besar terlibat kasus narkob4 itu."
" Ayolah Javier, do something."
" Masalahnya Eric seorang buronan interpol yang kemungkinan merupakan sindikat internasional."
" Demi Tuhan, Javier. kau seorangpun pengacara."
" Karena aku seorang tidak mau mengambil resiko mempertaruhkan karierku."
" Meskipun demi aku yang kau cintai?" sendu Guadalupe.
" Tapi kamu tidak pernah mencintaiku." balasnya.
" Bukankah Alejandro ada di Indonesia? kenapa kau tidak meminta dia memulangkan mu?"
Guadalupe mendengkus," dia bahkan tidak menjenguk ku."
*******
" Nek, kita pulang ke rumah Edel. di sini tidak aman." ujar Julia.
Pagi tadi Sri memaksa untuk pulang dengan alasan rindu rumah, terpaksa Akbar menemaninya, mengingat para orang tua sibuk mematikan pengaruh Gonzalez di dunia bisnis baik bisnis Indonesia maupun internasional-nya.
Akbar sudah tiduran di sofa luas ruang tamu, para anak Gaunzaga berjaga di sekeliling Mansion utama Hartadraja.
" Nenek kangen suasana rumah ini." Sri berkeliling dalam mansionnya.
" Kalau sudah aman, kita pasti pulang ke sini lagi.
" Nenek,..." Sri menoleh, ia tersenyum mendapati Tamara merentangkan tangan sambil berlari kecil untuk memeluk Sri.
" Hallo gadis cantik, bagaimana kabarmu?" Sri memeluk Tamara.
" Tidak baik, aku diusir dari rumahku." rengek Tamara. dibalik pelukannya Sri melirik Eidelweis dan yang lainnya yang sedang memutar bola matanya malas.
" Sekarang kamu tinggal dimana?"
" Di rumah Tante Julia. nenek, boleh aku untuk sementara tinggal bersama nenek?"
" Tentu tidak boleh." Eidelweis yang menjawab.
" Kenapa Tante yang menjawab, aku bertanya kepada nenek."
" Karena nenek tinggal di rumah gue."
" Kenapa?"
" Kenapa Lo kepo, siapa lo yang harus gue kasih tahu."
" Calon istrinya Akbar." jawab Tamara percaya diri, sementara mereka para wanita Hartadraja cengo bukan main.
" Bar, serius kamu mau jadiin dia istrimu?" tanya Eidelweis.
" jangan dianggap, stres dia. kemarin dia minta Adgar buat ngelamar dia."
" Hah, serius?" Sri terkejut, dia melihat kepada Tamara meminta penjelasan.
Tamara seperti disidang, ia hanya tersenyum kikuk.
Tok...tok....
Nek,..." panggilan dari Sivia melegakan Tamara yang terbebas dari interograsi para Hartadraja.
" Sivia..sayang..." Sivia mengernyit heran atas sambutan hangat Eidelweis yang merentangkan tangan kepadanya.
Sivia akui hubungan mereka memang sudah membaik, tetapi jelas belum sampai tahap sehangat ini. Begitupun dengan Sri, ia sama-sama herannya.
" Del,..." bisik Sivia saat momen merek berpelukan.
" Terima saja, gue lagi kesurupan."
" Ck, terserah." mereka berpelukan, Tamara menatap tidak senang atas kedatangan Sivia yang disambut hangat oleh para Hartadraja.
" Aku harap kalian tidak lupa kalau dia yang memutuskan pertunangan dengan om Hito." provokasi Tamara.
" Itu masa lalu, toh sekarang mereka sudah bahagia dengan pasangan masing-masing." ucap Julia.
" Bukankah kau juga tergila-gila kepada Bara Atma Madina, kenapa kau mau dijodohkan dengan ku?" Akbar duduk di sofa dengan bersedekap dada."
Sri terbelalak mendengarnya," Tamara, benarkah itu?"
Tamara berdiri salah tingkah," berbicara tentang Bara, bukankah dia pacar dari Zahra, kekasih dari om Hito?"
" Hah?"
" Wah, kacau..." dengkus Eidelweis.
" Dimanakah Zahra sekarang, bukankah dia seharusnya menyambut kedatangan nenek?" Tamara terus memprovokasi.
BRAK....
Semuanya terbelalak dengan kedatangan Mumtaz dan para sahabatnya...
__ADS_1