Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
171, Sabotase.


__ADS_3

Adgar bersama Crystal dan Adelia mengintip dari jendela hujan masih mengguyur kota Jakarta sejak selepas dzuhur.


" Kapan mama pulang, bang?" rengek Crystal.


" Hanya Tuhan dan hati nuraninya yang tahu, dek."


" Bang, pinjem hpnya, mau kilim pesan buat bang Ayin." pinta Adelia.


Tidak mau ribet, Adgar memberikan ponselnya, kamu ngirim pesan apa?"


" halus antel aku ke pasal malem, bang Ayin udah janji kemalin, tapi dak datang." Adelia kembali memberikan ponsel Adgar.


Terdengar pintu dibuka, Adgar menggendong dua itik menyambut mereka.


" Kalian darimana? Meninggalkan dua itik tanpa induk seharian, aku datang mereka sedang nangis." memberikan para balita pada masing-masing ibunya.


Tidak lama para pria datang dan duduk disamping para istri masing-masing di ruang keluarga.


" Dari Bogor, memang Zayin gak bilang apa-apa?" Jelas Eidelweis.


" Boro-boro, urusan Ayu kelar langsung cabut dia." Kesal Adgar.


" Bagaimana akhir kasus itu?" Tanya Julia meminta Adgar untuk memijit pundaknya.


" Hari ini Jessica dengan bodohnya membully Ayu kembali."


Semuanya terkaget," seriously? jaman sekarang ada orang yang begonya dibawah tolol padahal sudah dijejalin micin banyak." Dumel Eidelweis.


" Apa yang dilakukan Zayin?" Sri lebih tertarik pada tindakan yang diambil Zayin.


Adgar menghela nafasnya lelah, " dia minta toilet khusus untuk Jessica, dan itu yang paling pojok dekat gudang. Pengurangan setengah poinnya, di tempat terbuka jaga jarak tiga meter dari Ayu. Di tempat tertutup dilarang satu ruangan dengan Ayu, dan dia yang harus pindah, dilarang bolos sekolah, masuk sekolah tepat waktu, membersihkan taman belakang selama satu semester, menghafal 20  kosa kata bahasa Inggris setiap harinya, menulis kata penyesalan dengan menggunakan bahasa baku Indonesia sebanyak 1000 karakter, dilarang bermake-up selama satu semester, dsb."


" Buset, itu hukuman atau Penataran akhlak?" Sindir Eidelweis julid.


" Lah, tukang perundung kan memang akhlakless, Tan." 


" Mam, lain kalo jangan tinggalin aku sama Zayin lah untuk mengurus perkara."


" Lah, dia kan satu server sama kamu." kilah Julia.


" Enggak, kalau dia sedang mode julid, dia menyebalkan." Gerutu Adgar dengan wajah ditekuk.


" Memang apa yang dilakukan?"


" Hukuman tadi itu, dia yang menentukan, bahkan kepala sekolah tidak diberi waktu untuk bicara. Kalau tidak dilaksanakan dia akan menghancurkan gedung sekolah. "


" Dan kamu pasrah saja, gitu?, Itu merendahkan sekolah gak sih." Provikasi Eidelweis dengan mimik menyebalkan.


" Ck, Tante, berani gak hadapin dia selagi dia mode pelindung begitu?"


" Dih baper, bilang saja kamu takut?" Ledek Eidelweis.


" Edel..." Peringat Heru.


" Tanya saja nih sama Nebuy, beliau paling julid diantara kita, berani gak Nebuy melawan Zayin?" Sewot Adgar.


Semua pasang mata menjurus pada Sri," nenek memang judes, tapi tidak bodoh seperti Sandra. Jadi saya mundur, silakan kalau Edel bersedia melawan Zayin." Ucapan yang menyiratkan ledekan mematikan.


Wajah Eidelweis merengut tajam." Aku bukannya gak berani, tapi gak mau. Takut dia mengira calon mertuanya sadis."


" Ngomong gitu aja Tante udah dipelototi sama dia, demen banget jodohin anak sendiri sama om-om."


" Ini insting seorang ibu, mengingat latar belakang kelahirannya, Tante yakin cuma Zayin yang akan memperlakukan Adel sebagai seorang ratu."


" Zayin dengar auto tante dihapus dari KK Adel." Timpal Adgar meracau.


" Dengar apa?" Suara berat Zayin mengalihkan atensi mereka.


" Aa Ayin..." Rengek Adelia


Adelia yang semula bersandar pada dada ayahnya langsung beranjak meminta digendong Zayin.


" Tumben kamu kesini?" Tanya Aznan.


" Ditelpon bang Akbar, katanya urgent. Adel, kenapa mukanya sedih gitu? Tanya Zayin melihat Adelia yang murung.


" Kata Aa Adal, Aa Ayin emdak suka Adel."


Mata Zayin melirik sinis ke Adgar yang menggeleng cepat, semua orang tahu Zayin sangat menjaga perasaan Adelia, bahkan orang tuanya juga tidak berani mengisengi Adelia kalau ada Zayin.


" Kalena mama pengen Adel nikah sama Aa."


Kini mata Zayin menghunus pada Eidelweis, dan semua orang tahu Zayin paling tidak suka jika Eidelweis mencecoki pikiran Adelia dengan pernikahan, Eidelweis mengerang melas.


" Aa dak mau nikah cama Adel?"


" Main aja dulu yang banyakin jangan mikirin itu dulu, Adel ganti baju aja belum bisa."


" Boleh main?"


" Boleh."


" Kita ke pasal malam."


" Oke. kalau hujannya reda."


" Holeee, Adel mau ibak ( mandi), dandan yang cantik." Adelia dan crystal beralri ke dalam rumah.


" Kakak..." Zayin menatap tajam Eidelweis.


" Aku gak mau ngomong lagi soal pernikahan Adel, karena udah bosan. Kalau sekali lagi aku dengar Kakak jodohin aku sama Adel, aku bakal marah banget."


Peringatan yang menyimpan keprotektifan tinggi membuat Eidelweis menelan salivanya," kenapa gue kudu takut sama ni bocah." bathinnya.


Heru hanya tersenyum tipis melihat istrinya cerewetnya tidak berkutik.


" Insya Allah..."


" Apaan insya Allah, sampai sini aja. Janji!" Zayin mengajukan kelingkingnya pada Eidelweis.


Dengan berat hati Eidelweis menautkan kelingking itu dengan kelingkingnya.


" Tapi Yin, Tante hanya berharap..."


" Adel akan menikah dengan orang baik, aku, para sepupunya, para pamannya,( Mumtaz dan para sahabatnya) Akan memastikan itu. Entah apa yang membuat Kakak risau?"


" Dia lahir diluar pernikahan, bahkan nebuynya sendiri tidak menyukainya, menurutmu apa ada lelaki yang akan mencintai dia seperti kamu menyayanginya?" Suara Eidelweis meninggi meluapkan emosinya, bahkan air matanya sudah lirih dipipinya.


" Aku seorang wanita, meski banyak orang Indonesia sudah berpikiran terbuka, tetapi tu masih menjadi momok menakutkan bagiku, hinaan yang akan dia dapatkan..."


" Itu tidak akan terjadi, jangankan Zayin, dengan tanganku sendiri aku akan membunuh orang itu." Suara bariton Akbar menegaskan tekadnya.


" Mungkin Tante berpikir kami tidak peduli padanya, tapi bagiku baik Ical maupun Adel sama berharganya.


Aku menyesali perbuatan Nebuy yang dulu sering menyinggung kehadiran Adel dengan penghinaan, tetapi itu bukan pandangan Hartadraja semuanya, kami menyayangi Adel. Hentikan ketakutan perihal itu." Tegas Akbar.


" Gar, kita pergi. Ada yang perlu dibahas." Akbar dan Adgar beranjak meninggalkan rumah


Tanpa aba-aba Zayin mengecup kening Eidelweis dalam penuh perasaan.


" Please, hilangkan perasaan itu, Adel terlalu banyak pelindung untuk disakiti oleh orang bodoh yang berani melakukannya." tutuenya sebelum pergi.


Eidelweis menangis dalam pelukan Heru, Sri tertegun melihat rasa sakit Eidelweis karena ulah dirinya.


Dia mengira cucu kesayangan itu bukanlah orang yang menyimpan luka mengingat sikap terbukanya.


Mata Sri berair karena merasa bersalah, Fatio memeluknya erat memahami perasaan yang ditanggung istrinya.


" Maafkan nenek, nenek tidak tahu kalau kamu begitu tersakiti atas perkataan nenek..."


" Berhenti meminta maaf, faktanya nenek selalu lebih menyayangi Ical daripada Adel. Nenek akan menciumi Ical, memberikannya banyak hadiah, tapi Adel tidak pernah diperlakukan demikian. Itulah mengapa Eidel tidak pernah mengajak Adel ke rumah nenek, Eidel tidak ingin Adel melihat perbedaan sikap nenek."


Eidelweis meninggalkan ruangan dengan marah. Sri hanya menangis tergugu.


" Semua salah saya, saya yang akan memperbaikinya." Janji Heru.


" Heru, apa karena ini kamu tidak mau bergabung dengan Hartadraja corp?" Heru beberapa kali menolak tawaran Fatio untuk memegang salah satu cabang Hartadraja corp yang menjadi hak Eidelweis.


Heru menatap lurus manik Fatio dan Aznan.


" Eidel yang melarang saya bergabung dengan kalian, kami tahu diri telah mengecewakan kalian, tidak ada hari dimana Eidel tidak merasa bersalah pada kalian meski Hito telah meyakinkannya itu bukan aib, tapi kalian tahu betapa keras kepalanya dia."


" Apa perlakuan kami begitu buruk pada kalian?" Tanya Damar, sebagai Kakak dia merasa gagal.


Heru menggeleng," tidak, kami memahami kalian sibuk hingga kalian jarang menjenguk Eidel ke sini disaat dia ingin bersama keluarganya. Hanya Hito yang mendampinginya disaat saya sibuk."


Terdengar tarikan nafas kaget bergema di ruangan, mereka merasakan rasa sesak di dada." Belakangan kalian sering kemari meski untuk mengamankan diri, Eidel sudah senang, dia merasa kembali menjadi bagian dari kalian. Jangan terlalu dipikirkan, Eidel sedang hamil mungkin ini hanya hormon." Hibur Heru, tapi tidak bagi klan Hartadraja.



" Gar, bagaimana urusan yang Abang minta?"



" Beres, om Teddy melakukan akuisisi dan merger terhadap beberap perusahaan Wibisono , beliau enggan menangani langsung, jadi aku yang memberesinya. Aku bagi ke para Abang, percetakan, ke bang Rio, furnitur, ke bang Yuda, pengolahan limbah ke Juan, dengan masing-masing ketentuan investasi 60% dimiliki Hartadraja dan Birawa. Hartadraja dan Birawa mengambil yang agak besar dan ada kans ke kancah internasional."



" Dana luar negeri?"



" Kita sudah mengajukan pembekuan sampai ditetapkan siapa yang berhak, mereka sudah tidak berdaya." Tukas Adgar kalem.



Mata Adgar melirik Zayin hati-hati, " Lo juga kena bagian." Cicitnya.



" Apa maksud Lo?" Zayin langsung waspada.



" Om Teddy memberi Lo 30% saham Wibisono di bidang perikanan, mereka ternyata salah satu perusahaan terbesar pengeksport hasil laut, 70%nya dipegang bang Rey."

__ADS_1



" Apa-apaan ini?" Marah Zayin, dia langsung menelpon Teddy.



Butuh 45 menit, dan debat panas diantar keduanya sebelum Zayin menutup sambungannya.



Raut wajahnya terlihat gusar. Matanya melirik tajam kedua Hartadraja.



" Kalian yang bertanggung jawab atas pengelolaan aset baru gue, gue cuma menerima cuan 100% dari itu. Gak mau tahu."



Keduanya menghembuskan nafasnya lelah, lalu mengangguk.



" Gue abdi negara aktif, dilarang berbisnis."



" Iya tahu. Masa gratisan juga. Perusahaan laut itu ribet."



" Rasiko Lo."



" Om Teddy yang nyuruh."



" Gak mau tahu gue."



" Oke, stop." Potong Akbar saat Adgar hendak protes kembali.



" Bagus gitu dong. Kan enak kalau begini." Tukas Zayin seenak udel, yang mendapat gerutuan dan pelototan dari Adgar.



\*\*\*\*\*



" Bagaimana, Pi?" Todong Bara begitu Aryan keluar dari ruang dokter.



" Di dalam ada siapa?"



" Afa dan Tia." Jawab Bara.



" Pi..."



" Alhamdulillah, Zahra bersedia mengoperasi Mami, untuk kelancaran perjalanan, nanti malam Mami akan dipindahkan."



" Bagaimana tawaran kami untuk keamanan ambulance?"



" Mereka menolak perlindungan dari RaHasiYa maupun Gaunzaga, mereka memastikan perjalanan akan aman, memastikan ambulance sudah disiapkan dan diawasi ketat oleh pihak rumah sakit. Semua sudah steril. RaHasiYa dilarang meretas sistem keamanan mereka." 



" Siapa juga yang mau." Sangkal Mumtaz.



" Pastikan saja semua aman, kalau mereka tidak mau hancur." Peringatan Bara.



" Ini mau kerjasama atau gelud ya!" Bisik Rio pada Jeno.



" Au." 




" Suruh Afa keluar, biar Mami istirahat."



" Nyonya yang minta, pihak rumah sakit tidak berdaya." Terang Jeno.



" Pi, Mami ingin bertemu Papi." Ucap Alfaska di depan pintu ICU.



" Iya, sebentar bilang papi mau shalat maghrib dulu. Mami harus beristirahat."



Mumtaz langsung menelpon Ibnu mengatakan perihal evakuasi, dan memintanya megamankan perjalanan.



\*\*\*\*\*



" Mutia,...kenapa tugas kamu belum juga dilakukan?" Tanya dokter jaga UGD.



" Saya baru sampai dok." Jawab Mutia santai.



" Kamu datang dari tiga jam yang lalu, tugas baru dua yang kamu selesaikan yang sebenarnya hanya butuh waktu 30 menit untuk mengerjakannya."



" Dok, saya capek..."



" Baik, saya laporkan kamu ke prof, Zahra. Ingat kamu sudah mendapat dua kali SP."



Mata Mutia seketika membola," dokter Berani mengancam saya?"



" Kenapa tidak, ini rumah sakit profesional."



" Huh, yakin? Anda tidka tahu bagaimana saya bisa bergabung dengan kalian." Ucapnya sinis.



" Kamu menyogok pihak HRD, dan asal kamu tahu posisi mereka sekarang terancam kalau kamu tidak menjadi petugas yang disiplin." Ucap lantang dokter itu.



Mutia terkesiap, matanya melirik para rekannya yang menatapnya dengan meremehkan.



" Kalau kamu tidak sanggup masuk lewat jalur halal, setidaknya lalukan tugas kamu dengan baik." Dokter menekan papan tugas ke dada Mutia.



Mutia melirik tiga teman seperjuangannya meminta tolong menggantikannya.



Mereka menggeleng, " lo tahu kan ini musim hujan, berarti brankar penuh."



" Demam berdarah, malaria, influensa. Ini musim hujan gak lihat UGD penuh, tugas kita masing-masing menumpuk."



" mending Lo kerjain sendiri atau mengundurkan diri." Tegas ketiganya berlalu kembali ke ruang UGD.



" Menyebalkan, aku menjadi dokter tidak untuk diperbudak begini." Gerutunya kesal meninggalkan stand administrasi.

__ADS_1



Bukannya melaksanakan tugasnya di UGD Mutia malah pergi ke cafe di seberang rumah sakit.



Zahra menginspeksi ruang UGD, ia mengumpulkan petugas jaga di ruang administrasi UGD.


" Apa malam ini semua petugas hadir?" Tanya Zahra kepada pemimpin dokter tugas di UGD.


" Hadir."


Ia memberikan daftar hadir staf tugas UGD, Zahra menghela nafas gusar saat nama Mutia Wibowo ada di daftar tersebut.


Matanya menyapu ruangan, ia tidak mendapati sang empu nama.


" Malam ini kita akan kedatangan pasien zuper VVIP, saya tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun." Tegas Zahra membriefing mereka, mengembalikan papan daftar hadir pada dokter.


" Siap." Ucap mereka serempak.


Mereka tidak perlu tahu siapa nama pasien tersebut, ketika golongan zuper VVIP disebut, berarti rumah sakit diwajibkan harus bersiaga maximum dari penyambutan pasien di depan pintu sampai ke tempat seharusnya.


" Bagus, laksanakan tugas dengan baik, kita tidak sedang bergelut dengan barang, tetapi dengan nyawa. Terapkan dalam mindset kita bahwa nyawa pasien adalah nyawa sendiri."


" Siap."


Sebelum pergi, Zahra menekankan sesuatu." Pastikan Mutia Wibowo hadir selama masa tugasnya." Zahra berlalu dari UGD.


" Prof Zahra." Panggil Farhan dari klinik bagian jantung.


Zahra berdecak atas panggilan tersebut.


" Bisa gak prof jangan panggil saya pake embel profesor."


" Lah kan kamu memang..."


" Anda itu guru saya, iya kali anda juga panggil saya begitu. Saya membiarkan mereka manggil saya karena jaga wibawa sebagai atasan, lah anda...no...no..no."


" Sorry, bagaimana persiapan untuk nyonya Atma Madina?"


" Ruang operasi dan pasca operasi ready kapanpun digunakan, untuk ruang rawat dan terapi sekitar 85% siap. Apa mereka sudah mengkonfirmasi kapan kedatangannya?"


" Sekitar tengah malam, menghindari lama diperjalanan."


" Kita rapat analisa terakhir sebelum tindakan nanti malam pukul dua puluh satu."


" Oke,..."


" Zahra." Zahra menoleh siapa yang berani memanggilnya selagi dia berbincang dengan sang profesor.


" Woy, Ra, Ziv." Sapanya pada dua sahabatnya.


" Lo nikung Ziva." Tuding Zahira asal.


" Lo pikir gue dia, mau nikung teman, kagak level."


" Terus aja singgung, gue udah kebal." Timpal Zivara.


" Emang kenapa Lo tanya begitu?" Tanya zahra.


" Ya mereka sedang break, prof farhan gosipnya berhubungan lagi sama dokter Anna."


" Serius?"


Zahira mengedikan bahu tidak tahu." Tapi belakangan beliau pulang bareng dokter Anna."


" Hmm, mungkin ini ujung dari hubungan mereka yang tiada restu."


Sedangkan Farhan menggeleng tidak habis pikir tiga muridnya membicarakan orang di depan orangnya langsung.


Pletak...pletak...pletak...


Sentilan di kening mereka buah tangan dari Farhan sebelum berlalu dari sana sambil menarik tangan Zivara yang mengelus keningnya yang perih.


" Astagfirullah, gue lupa masih ada beliau." Keluh Zahra.


" Kita terlalu gantle, berani ngomongin guru didepannya."


" Hmm." Jawab Zahra mengusap keningnya yang sakit.


******


Adelia duduk bersedekap dada dengan bibir dimanyunkan. Daniel, Ibnu dan beberapa anak RaHasiYa menatap Adelia dengan geli.


" Kamu kenapa, Del?" tanya Radit.


" Adel cebel cama kak Ayu, ganggu kencan Adel dan Ical sama Aa Ayin ke Pacal malam." rengutnya.


tubuh Ibnu duduk menegak." kencan? Ayin?"


" Iya, sekarang kita mau pelgi ke sana, kak ayu udah duduk aja di mobil, bangku depan lagi, itu kan tempat duduk Adel."


mata semuanya mengintip keluar rumah, memang Ayu telah menunggu di kursi penumpang bagian depan.


" Kenapa Ayu gak masuk?" tanya Haikal.


" Dia gak mau ketemu bang Ibnu." ucap Khadafi yang sudah rapih. khadafi yang terlihat beda, membuat Adelia dan Crystal terbengong.


" Woy, itik. tahu aja ada yang bening." Haikal melambaikan tangan di depan mereka.


" Apa sih?" Adelia menghempaskan tangan Haikal.


" Ayin, Adel selingkuh " Radit berteriak menggoda Adelia.


" Siapa yang selingkuh?" Zayin berjalan keruang tamu sambil menggulung lengan kemejanya.


Adelia langsung menutup mulut Radit hingga ia terjengkang." gak ada, jangan dengelin omongan pala Abang yang penganggulan ini."


Semua orang menahan tawa melihat ulah Adelia.


Adelia menarik tangan Zayin berjalan keluar rumah, lalu mendelik tajam pada Khadafi.


" Aa Afi, jangan goda Adel ya, Adel cuma cuka Aa Ayin."


" Hah?" Khadafi terbengong.


" HAHAHHAHAHAH..." sontak semuanya tergelak, kecuali Ibnu yang menatap sendu Ayunda yang Mengabaikan panggilannya.


" Fokus, Nu. tugas memanggil." Daniel menepuk punggung Ibnu yang melepas kepergian mobil Fortuner itu.


" Woy, kumpul di RaHasiYa."


*****


Rumah sakit Bogor sedang sibuk bersiap mengevakuasi pemindahan Sandra. Pemindahan ini dipimpin langsung oleh kepala rumah sakit.


Mereka memastikan perjalanan ini aman, kepindahannya dikawal oleh dua mobil patroli, dan empat polisi bermotor.


Di salah satu mobil patroli Mumtaz sedang berbincang dengan para polisi, kepala rumah sakit, dan sopir ambulance.


" RaHasiYa akan membuka dan mensterilkan lalu lintas, jadi kita akan berkomunikasi lewat earphone yang langsung terhubung dengan operator RaHasiYa." Mumtaz memerikan earphone satu persatu pada mereka.


" Apa ini sudah ada izinnya?" tanya salah satu polisi.


" Sudah, Pak Ergi sendiri yang mengeluarkan izin." sengaja Mumtaz menggunakan nama K@polri, menunjukan hubungan dekat mereka. Mereka mengangguk, lalu membubarkan diri.


Aryan tidak pernah jauh dari Sandra, ketika Sandra di dorong di atas brankar menuju ambulance tangan Aryan selalu mengusap kepala Sandra dengan terus merafalkan do'a.


" Fa, kamu atau Papi yang mendampingi Mami di ambulance?"


" Papi saja, Afa mengikuti di belakang bersama yang lain."


Tatapan Aryan kini Melihat Tia yang sedang memperbaiki selimut Sandra. Mata Alfaska pun mengikutinya.


" Bahagiakan istrimu, terlalu banyak kepedihan yang dia alami sejak menikah dengan mu."


" Tanpa papi suruh pasti Afa lakukan, sebagai suami, Afa malu karena banyak menerima bukan memberi padanya."


" Kita berangkat sekarang." ujar salah satu polisi.


Tia yang mendengar aba-aba itu mengecup kening Sandra, " Mami rileks, dan istirahat. kami bersama Mami."


Air bening luruh dari ujung mata Sandra yang diseka oleh Tia, " kebaikan apa yang pernah dia lakukan sehingga Allah masih memberi keluarga yang sangat mencintainya setelah apa yang dia lakukan." bathin Sandra.


" Ma...maafkan Mami... Mami sayang sama kamu...tolong, kalian harus bahagia selalu...hiks." lirihnya pelan.


" Pasti, jangan Khawatirkan bang Afa, kami akan selalu bersama."


Sebelum keluar dari ambulan Tia mengecup punggung tangan Sandra dengan ta'dzim.


" Pi..." sapa Tia di depan ambulance.


" Makasih, sayang. we love you."


" Sayang Papi juga." mereka berpelukan sebelum Papi masuk ke ambulance ditemani dokter ahli dan perawat.


" Oke, kita berangkat!" seru pemimpin rombongan.


Satu persatu kendaraan keluar, polisi mengawal untuk membuka jalan, Van yang ditumpangi oleh tim RaHasiYa berjalan paling belakang.


Dengan pengawasan Ibnu lewat layar yang menampilkan laju mobil melalui drone yang mengikuti mereka tanpa sepengetahuan rumah sakit.


Dari Bogor ke Jakarta perjalan dilalui dengan selamat, memasuki Jakarta, mereka lewat jalur tol yang sudah disterilkan beberapa menit sebelum mereka lewat dari para pengguna jalan lain.


Jalan raya benar-benar kosong, ambulance melaju dengan kecepatan standard keselamatan maksimum, karena pasien dilarang untuk bergerak karena masih ada kerawanan pergerakan tulang.


keluar dari tol arah rumah sakit Atma Madina, tiba-tiba dua Van dan beberapa motor yang berpenumpang dua orang dengan penampilan serba hitam bertopeng full face dengan gerak cepat dan sistematik menyalip antar mobil patroli dan ambulance dan berjalan zig-zag mengacaukan konsentrasi sopir.


Secepat kilat, ambulance dikelilingi oleh tiga motor di kanan, kiri, dan belakang menghalangi mobil patroli, menggiring ambulance ke kanan keluar dari lajur kemanan.


Mereka semua terkejut dengan kehadiran penyusup, Sopir yang kaget mencoba melepaskan diri dari kepungan dengan menabrak pemotor di sebelah kiri lalu membanting ke kanan. Kedua motor tersebut oleng, saat hendak kembali pada jalur muncul pemotor rekan penyusup.


Sang sopir mencari celah, sambil bicara lewat earphone ia menambah kecepatan, mobil yang ada di depannya pun turut melaju cepat.


Melihat ruang kosong, sopir membanting ke kiri, ia terus melaju menghindari para penyabotase, tapi sayang kecepatannya dapat diimbangi oleh pengendara motor lain yang seakan tiada habisnya, mereka menendang-nendang.

__ADS_1


badan mobil.Saat hendak pindah lajur, dihalangi oleh motor lain, hal itu terus berulang dari kiri ke kanan.


Tanpa tedeng aling-aling mereka mengeluarkan senjata api, menembaki....


__ADS_2