
Zahra menelisik seluruh ruangan, tidak ada satu orangpun di sini, saat ini hanya dia dan seorang wanita asing yang duduk di samping ranjangnya.
Namun tanpa sepengetahuan Zahra, disebabkan sifat protectif para adik, dan Hito, kekasihnya, mereka berkumpul di ruang tunggu dengan pintu yang dibuka sedikit.
" hallo, Zahra. Saya Amelia. Teman ngobrol kamu."
" Dok, meski tidak punya gelar psikolog, tetapi karena kebutuhan, saya juga mempelajari tentang psikolog." tembak Zahra.
" Oh maaf kalau saya membuat kamu tersinggung. Jadi kamu tahu mengapa saya kemari?" Zahra mengangguk.
" Mengapa kamu mempelajari tentang psikolog?"
" Karena salah satu adik saya mengalami trauma dilecehkan."
Alfaska dan Daniel menunduk.
Amelia mengangguk tipis," sama seperti kamu."
Zahra tidak menjawab, dia hanya diam dengan wajah gundah.
" Itu cukup menjijikan, kejijikannya menular ke diri kita yang menjadi korbannya." Ucap Zahra dengan murung.
" Iya itu memang menjijikan, tetapi kejijikan itu tidak menular. Pada akhirnya kita yang korban dari pelecehan tersebut masih seperti sebelumnya." Timpal Amelia
" Kamu tahu itu. tapi itu cukup membuat saya kecewa, mengingat kamu membiarkan kisah kelam itu menguasai hati dan memori kamu." Tutur Amelia kalem.
Zahra memainkan jari-jarinya.
" Aku akan menjadi duri bagi kehidupan mereka."
" Karena apa?"
" Kenyataannya aku tidak sebaik yang mereka kira." Suara zahra mulai memelan.
" Adakah mereka mengeluhkan tentang itu padamu?" Zahra menggeleng.
" Apakah mereka marah padamu?" Zahra menggeleng.
" Mereka menjauhimu? Zahra menggeleng.
Zahra menarik lalu menghembuskan nafas dengan berat.
" Mereka menjadikan aku panutan mereka, orang yang dihormati, dikagumi, Tapi suatu hari nanti mereka akan tahu aku adalah orang yang buruk."
" Bisa kamu ceritakan apa yang terjadi?"
Seketika tubuh Zahra menegang, raut wajahnya bercampur marah, dan sedih.
" Zahra, pagi buta tadi tuan muda Birawa mendatangiku, aku bisa lihat wajahnya yang letih, namun lebih dari itu kesedihan yang besar lebih terpancar di wajahnya."
" Dia bahkan menawariku setengah saham di Birawa tekno, jika aku bisa menyembuhkan luka mu, bisa kamu pahami sesuatu sampai sini?"
Zahra terperangah akan hal itu, di termenung.
" Jelas bagi Daniel, baginya melihatmu terluka itu lebih menyakitkan baginya."
" Jadi kalau kamu peduli pada diri mereka, tolong kerja samanya."
" Aku katakan ini bukan untuk saham itu, tapi untuk sayang yang tulus terpancar dari mata Daniel untukmu."
Zahra menunduk, tubuhnya bergemetaran hebat, ia memejamkan matanya sebelum bercerita.
" Malam itu..." Suara Zahra bergetar.
Selama Zahra menceritakan kronologi pelecehannya, wajah para adik mendingin nan datar, Mumtaz meremas kedua tangannya, wajahnya tenang, namun siaga.
Wajah Zayin sudah memerah, tenaganya mengepal kuat.
Air muka Hito seketika mendung.
" Hiks,...hiks....Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, aku membiarkan dia menyentuhku." Suara Zahra goyang karena emosi.
Hening sesaat, Amelia menunggu Zahra meluapkan segala rasanya.
" Kamu tidak melawan?"
" Tentu aku melawan, tetapi dia terlalu kuat." jawab cepat Zahra.
"Apa kamu menikmatinya?"
Mata Zahra menatap Amelia tajam." Apa aku tadi bilang jijik?" Amelia mengangguk.
" Iya itu sangat menjijikan, bagaimana aku menikmatinya? Seumur hidupku itu kali pertama aku disentuh oleh bukan mahram ku, apalagi dengan cara tidak senonoh." Zahra menutup wajahnya merasa malu pada dunia.
" Itu yang menjadikan kamu masih sebaik sebelumnya, kamu tidak menyukainya, kamu membenci hal-hal hina seperti itu."
" Apa para adikmu merupakan makhluk tanpa cela?"
Zahra menggeleng, terkekeh merasa lucu," mereka orang-orang yang punya segudang masalah."
" Tapi kamu masih mencintai mereka?" Sambar Amelia.
" Sangat."
" Begitupun dengan mereka, cinta tanpa syaratmu, menjadikan Daniel mempertaruhkan sahamnya demi kebaikanmu."
Zahra terdiam.
" Zahra, apa yang sesungguhnya kamu takutkan?"
Zahra menghela nafas gusar.
" Merusak nama besar mereka."
Amelia mengambil suatu kertas dari mapnya.
" Zahra, kamu lihat ini?" Amelia memberi kertas tersebut kepada Zahra.
Setelah membacanya Zahra terkejut.
" Pemindahan saham itu sudah ditandatangani oleh tuan Birawa, tuan Hartadraja, dan tuan Pradapta. dengan tanda tanganku, aku memiliki saham gabungan mereka di Birawa tekno."
Mumtaz dan Zayin menatap Daniel, Bara, dan Alfaska secara seksama.
" Resiko apapun yang terjadi kedepannya jelas mereka anggap tidak berarti dibanding kesembuhanmu, entah kebaikan apa yang sudah kamu lakukan sehingga mereka rela berkorban sedemikian rupa demi kamu."
Mata Zahra kembali berlinang," kenapa... kenapa mereka lakukan ini?" Rintihnya disela isakannya
Para adik menunduk pilu, mereka sungguh merasa bersalah terlambat menyelamatkan Zahra dari tragedi itu.
" Karena mereka merasakan cinta kamu kepada mereka dengan segudang masalahnya."
" Tapi aku tidak pantas mereka cintai."
" Daripada mengira-kira, bagaimana kalau kamu menceritakan semuanya pada mereka, dan kamu bisa lihat bagaimana respon mereka?"
" Dengan komitmen, apapun yang terjadi setelahnya, terima dan berdamailah."
Terdengar banyak suara diluar kamar Zahra dengan nada tidak sabar.
" Baiklah obrolan kita sepertinya sampai sini dulu, atau para orang tua itu akan merepotkan para penjaga."
Amelia beranjak berdiri , dan pamit kepada Zahra.
Zahra menatapnya kepergian Amelia dengan bingung.
Begitu pintu dibuka, Hanna, Elena, Dewi, Teddy, Aznan, Gama dan Aryan menerobos masuk tidak menghiraukan Amelia yang berdiri kaget.
" Sayang, kamu tidak apa-apa, kan? Para ibu itu menyerbu ranjang Zahra yang terkaget.
" Bunda,...sejak kapan di sini?" Zahra ketakutan.
Hanna menghela nafas, " Ara, please, jangan biarkan bunda menjadi ibu yang gagal melindungi mu."
" Maaf, maafkan Ara yang gak bisa..."
" Kamu Zahra-nya kita." Hanna memeluk Zahra menawarkan penerimaan.
" Ayah, Papi, om,..."
" Ara kita yang hebat. Nanti kalau kamu sudah sembuh. Kita sparing." Ujar Teddy.
" Yah, tahu diri. Kemarin baru encok loh kamu. Sok-sokan ngelawan Ara." Cemooh Hanna.
" Sembuh, sayang. Jangan nangis terus, para adik kamu pada sedih, karena kamu-nya sedih terus." Seru Aryan.
Zahra terharu akan kasih para orang tua, ia pun hanya bisa menangis, lagi.
" Ck, si Aryan ini. mau menghibur atau nyari masalah. Gue kasih tahu Afa ya kalau Lo bikin Ara nangis." Hanna menarik Aryan menjauh dari ranjangnya.
Zahra menggeleng," Bun,..stop. ini bukan sedih. Ala cuma terharu."
" Dengar noh, marah mulu sih." Sungut Aryan.
Gama hanya menggelengkan kepala tidak habis pikir akan kelakuan rekan bisnisnya.
" Sayang, kamu tahu kan, Tante sangat menyayangimu, terlepas kamu kekasih Hito atau bukan, dan itu masih berlaku." Dewi mengelus kepala Zahra.
Zahra mengangguk," terima kasih, Tan."
" Tante Elena, aku mohon jangan membenci Mumtaz, hanya karena aku. Dia sangat mencintai Lia." Zahra sesenggukan.
" Dan begitupun Tante, Tante pernah buat satu kesalahan, dan itu tidak akan terulang lagi." Elena mencium sayang kening Zahra.
" Terima kasih, semuanya." Zahra membalas senyum kasih mereka.
" kan kan jadinya pengen pelukan." Rengek manja Hanna.
Zahra terkekeh," sini peluk Ara." Para ibu secara berbarengan memeluk Zahra.
Para adik yang mendengar suara serak Zahra yang sudah meringan, pun tersenyum lega.
" Kita mah laki, harus cool, jadi kita duduk aja ya." Ujar Teddy.
Para bapak duduk di sofa memperhatikan drama keluarga masih tidak menyadari Amelia yang masih berdiri di ambang pintu memperhatikan kasih tanpa syarat dari hubungan tanpa ikatan darah tersebut.
Perlahan ia menutup pintu itu, tersenyum hangat, lalu menelpon suaminya yang tiba-tiba sangat ia rindukan.
" hallo, mas Janu..." langkah kakinya tegas menuju lift.
" Ra, Kalau Hito tidak mau sama kamu, Dominiaz siap mempersunting kamu, sepertinya anak Tante yang playboy itu jatuh hati padamu."
" HAH..."
" Hei, anda. jangan menikung ya..Hito sangat mencintainya, bahkan sudah melamarnya. Lihat cincin ini." Dewi mengangkat tangan Zahra yang tersemat cincin pertunangan dari Hito.
" Lah, kalau Zahra nya gak mau sama Hito, gimana?" Elena semakin memanasi.
Raut Hito mengeruh,
" Zahra,..." Dewi meminta kepastian
" Eh, tunggu... Tan. Aku gak bilang gak mau..."
" Tuh kan, kamu dengar sendiri. Zahra juga sangat mencintai Hito-ku." Sela Dewi.
Wajah Zahra memerah, sedangkan Hito tersenyum.
" Bu..bukan..be.. gitu.." gagap Zahra menahan malu.
" Terima kasih, buat kalian semua." Ujar Mumtaz sepenuh hati kepada para sahabatnya.
Tidak suka akan perkataan Mumtaz tiga sahabatnya beranjak menghampirinya, Alfaska menendang keras betis Mumtaz.
__ADS_1
Disusul Bara yang menjitaknya, lalu Daniel yang memukul lengannya, Ibnu hanya mendelik tajam padanya yang diterima Mumtaz dengan pasrah.
" So, jadi malam ini kita eksekusi dia, kita sudah menundanya karena fokus pada kak Ala." Tanya Ibnu.
" Jadilah." Kata Alfaska tidak sabar.
" Om, mau gabung?" Tawar Daniel.
" Kalian saja, saya di sini saja."
Susana rumah sakit berjalan seperti biasa yang sedikit berbeda hanya beberapa anak RaHasiYa yang dikenal Reni bolak-balik dari beberapa hari yang lalu.
" Dok,.." Reni mencegah Zivara yang hendak ke lantai tiga.
" Apa?"
" Apa prof. Zahra sudah pulang?"
Zivara mencoba berekspresi biasa saja" gak tahu, belum ada kabar. Memang kenapa?"
" Itu anak RaHasiYa kan?" Tunjuk Reni kepada Ubay dan Haikal yang berjalan cepat.
" Setahu saya iya, tapi kurang tahu mengapa."
" Sus, kalau mau ngegibah nanti ya, saya sedang sibuk." Zivara langsung berlalu dari Reni yang masih menatap kepergiannya.
" Darimana Lo?" Sembur zahra begitu Zivara membuka pintu.
" Kenapa Lo? Banyak orang juga yang nungguin.
Matanya memperhatikan pada para sahabat adik sahabatnya ini yang bercanda nyaman di rumah sakit.
" Gak guna, itu para bocil dari tadi tok Tokan mulu, para lelaki di ruang tunggu, pintunya ditutup.
" Si Radit mana? Dia kan pengagum setia Lo."
Zivara menghampiri brankar Zahra.
" Kak Hito ngelarang dia kesini."
" Ck, jangan bilang om lo itu cemburu sama itu bocah."
Zahra terkikik mendengarnya." Darimana?
" Noh salahin profesor idaman Lo yang ngirim gue ke seminar di Bandung." Zivara mengeluarkan stetoskop nya.
Zivara memeriksa pergelangan, dan seluruh tubuh Zahra.
" Ck, dia kan laki idaman Lo." Telaknya
" Hira kemana?"
" Kayaknya gak bakal datang. Dia berantem sama kak Samud ketahuan jalan sama cowok lain."
" Ck, tu orang keras kepala. Terima nasib aja sih diposesifin sama playboy."
" Kak, kan ada kak Ziva, kita pergi dulu ya." Petinggi RaHasiYa dan para sahabat keluar dari ruang tunggu.
" Muy, kayaknya beberapa orang dari rumah sakit curiga kalau Ara udah balik, kenapa sih keberadaannya mesti dirahasiakan? Tanya Zivara.
" Gak apa-apa."
" Untuk yang mana?"
" Keduanya, gak apa-apa mereka curiga, gak apa-apa, Kak Ala dirahasiakan."
" Kalian pada mau kemana?" Selidik Zahra, pasalnya jika mereka pergi bersama pasti akan berbuat sesuatu.
" Refreshing, emang ngurusin Kak Ala gak bete, bete banget tahu." Jawab Alfaska asal.
Brak...
Sri melenggang dengan langkah besar menuju brankar Zahra diikuti keluarga Hartadraja lainnya.
" Maaf ya, udah nenek-nenek." Eidelweis merasa tidak enak hati.
Para sahabat yang semula duduk di sofa berdiri mempersilahkan klan Hartadraja untuk duduk.
" Bagaimana keadaanmu? Sri memeriksa wajah Zahra yang masih banyak lebam.
Sedangkan Hito diam, namun pandangannya tidak lepas dari Zahra.
Zivara bergeser tempat, ia merasa kikuk sendiri.
" Baik, nek. Kaki nenek gimana udah sembuh?"
" Udah, sayang. Maafkan nenek yang ninggalin kamu sendirian. maaf, sayang." Sri membingkai wajah zahra yang tertegun akan ucapan Sri.
Begitupun yang lain tidak ada yang bicara ketika mendengar perkataan Sri.
Zahra memegang tangan Sri yang membingkai wajahnya.
" Nenek udah gak benci aku lagi?" Suara Zahra tertahan karena emosi.
Sri termenung," pasti perilaku nenek selama ini begitu menyakiti mu ya." Zahra menggeleng.
Matanya mulai digenangi bulir bening," Ara, *please*, jangan nangis." Hito menyeka ujung matanya.
" Hito, kamu pasti cinta banget sama kamu!?" ucap lembut Sri.
" Kalau gak cinta kenapa aku mesti memperjuangkannya sedemikian rupa sampai keluar dari Hartadraja." Zahra masih menunduk, Hito mengelus kepalanya.
" Kenapa selama ini nenek tidak menyetujui hubungan mereka? Apa benar karena kak Ala dari keluarga miskin?" Tanya Tia ingin memastikan sesuatu.
Semuanya menatap Tia yang menatap lurus Sri.
Sri menggeleng," bukan karena miskin, toh nenek juga bukan berasal dari keluarga konglomerat, tetapi pastinya karena kebodohan nenek yang terjebak di masa lalu."
Tia mematung, lagi, bukan itu informasi yang dia dapatkan. Selama ini dia mengikuti gaya hidup sosialita sesuai keinginan ibu mertuanya untuk menunjukkan kepada keluarga Hartadraja khususnya Sri bahwa keluarganya pantas bersejajar dengan kalangan konglomerat.
__ADS_1
" Jadi nenek sudah merestui hubungan om Hito dengan kak Zahra?" Tanya Cassandra.
Sri menghadap Zahra, menatapnya dengan lembut," Zahra, izinkan nenek untuk menebus segala kesakitan yang sudah nenek buat kepada kamu. Jadilah cucu menantu untuk cucu nenek yang bucin akut ini." Seloroh nenek.
" Nek,..."terpancar keraguan yang besar dari mata Zahra.
Hito menggenggam tangan Zahra erat, mencium punggung tangannya dengan syahdu.
Hito menunduk, mensejajarkan matanya dengan mata Zahra." Ra, aku mencintaimu, sangat mencintai mu. Jangan ragukan itu."
Terdengar isakan dari Zahra," mungkin sekarang kamu bisa ngomong kayak gitu, karena kamu kasian sama aku, tetapi di masa depan ketika kamu menemukan perempuan yang lebih baik dari aku, kamu akan mengungkit hal ini."
Hito menggeleng" itu tidak akan terjadi, kalau aku melakukan hal itu, akan ku biarkan para adikmu untuk membunuhku."
" Tapi aku tetap gak bisa...." Lirihnya.
" Ini ada apa?" Sri bingung begitu juga dengan keluarga Hartadraja dan para bocil lainnya.
" Nek, maaf aku tidak bisa menjadi cucu menantu nenek, aku akan menjadi aib bagi keluarga Hartadraja. aku sudah tidak suci. Dia memperkosa aku...hiks..." Sri terperangah, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Terdengar suara tarikan nafas syok mengisi ruangan tersebut.
" Tidak sampai terjadi kesitu, sayang. Kamu masih suci sesuci aku pertama kali melihatmu." Hito mengecup kepala Zahra.
" Kamu enggak tahu apa yang terjadi, dia menyentuhku dimana-mana." Pekik Zahra jijik mengingat saat-saat itu.
Kini Zahra telah terjebak dimasa pelecehan tersebut.
Zahra mengusap kasar lengan, leher, dan wajahnya.
" Sayang, jangan begini." Hito mengambil tangan Zahra menggenggamnya kuat-kuat.
" Bahkan dia memaksaku untuk memegangi kepunyaannya. Itu sangat menjijikan. Dia memaksa ku, Kak..." Lirihnya pilu, air matanya sudah membanjiri seluruh wajahnya.
" Dia bahkan ingin aku mengulvm kepunyaannya, kak. Mulut ini hampir mengenai...AaaaKh...hiks...hiks.. kamu pasti akan jijik padaku." histeris Zahra memegangi kedua sisi kepalanya mencoba mengenyahkan tragedi itu dari ingatnya.
Melihat Zahra yang begitu terpuruk membuat Sri digelayuti rasa penyeselan yang besar.
Hito memeluk Zahra erat, wajah para adik lelaki dan para sahabatnya berubah marah. Para bocil sudah menangis tersedu-sedu.
" Sayang,...." Hito mengecupi seluruh wajah Zahra tidak peduli resiko yang akan dia dapatkan dari Zayin maupun Mumtaz.
Mumtaz dan Zayin, bahkan para adik lainnya sontak memalingkan wajah mereka dari dua sejoli tersebut.
Terakhir kecupan itu itu berlabuh dibibir Zahra, sedikit melu-matnya, dan diakhiri kecupan lembut di atas bi-birnya.
Hito menghadapkan wajah Zahra lurus menatapnya," lihat, aku gak jijik. Aku suka, dan masih suka kamu. Aku gak suka kamu bilang kamu kotor. Kamu bagi aku masih segalanya, bahkan lebih berarti dari diriku sendiri."
Zahra tidak merespon ucapan Hito dia syok atas tindakan nekat Hito.
" Om, sebaiknya om menikahi kakak ku, wajahnya sudah tidak perawan." Celetuk Zayin, Mumtaz menatap tajam Zayin.
" Ini salah nenek, andai nenek tidak meninggalkanmu." Lirih Sri, Fatio merengkuh istrinya.
" Ini bukan salah siapapun, kalau nenek tidak kabur, kami tidak akan mendapatkan informasi tentang kak Ala."
" Kak, dia tidak diperkosa kakak, kalau itu terjadi orang itu sudah menjadi arang saat ini." Suara berat Mumtaz menghipnotis mereka tetap diam.
" Biarkan kami menyayangimu seperti kamu menyayangi kami bagaimanapun keadaan kami. Bagi kami apapun yang terjadi kemarin, kakak masih kak Ala terhormat kami. Tidak kurang." Imbuh Daniel.
" Kalian tidak membenciku?" tanya Zahra meragu.
Bara mengambil inisiatif untuk mencium kening Zahra," kakak, selalu menjadi yang terkasih bagi kami." bisiknya.
disusul Ibnu," aku sayang kakak."
dilanjut Daniel dan Alfaska," sayang Kakak."
" Maaf, kami harus segera pergi, kak Edel bisakah kakak menunggui kak Ala?" Pinta Alfaska.
Eidelweis tersadar dari syoknya." Eh, tentu, tentu saja. Setidaknya aku punya gawean." Sindir Eidelweis pada Heru yang melarangnya melakukan apapun selama kehamilan keduanya ini.
" Om, aku titip kak Ala." Ujar Zayin.
" Om Hito, bisa kita bicara diluar?" Pinta Mumtaz.
Hito mengembuskan nafas berat, namun dia tidak punya pilihan selain mengangguk.
Setelah menyalami dan berpamitan mereka menuju tempat tujuan.
Lima belas menit kemudian Hito masuk kamar inap dengan wajah penuh luka dan lebam.
Keluarga Hartadraja terbelalak, lalu meringis ngilu.
" Mau nekat juga kudu pinter dikitlah To. Udah tahu bidadari Lo pengawalnya ganas nauzubillah." Ledek Heru.
" Ujian hidup, kak." Ejek Eidelweis.
" Terus aja ledekin."
Namun langkah Hito terus menuju ranjang Zahra, duduk di kursi samping ranjang.
Zahra yang melihatnya, meringis.
" Kamu harus tanggung jawab, muka aku babak belur begini."
" Ya,... kamu. Nyium anak orang di depan adiknya." Julia membela.
Mengingat itu Zahra tertunduk malu.
" Maaf, aku hanya ingin kamu tahu, kalau aku masih mau sama kamu, dan tetap akan mau terus."
" Ya Tuhanku, begini kalau kakakku terserang virus bucin, menggelikan sekali." Histeris Eidelweis.
" Obati sana lukanya, pamer banget habis dipukulin." Suruh Julia.
__ADS_1
" Sebelum diobati, difoto dulu, kak." Eidelweis mengarahkan ponselnya kepada Hito yang mencuekinya.