
Di kamar suite, lima belas menit setelah keorgian wanita itu, Toni terbangun karena ponselnya yang terus berbunyi, dia menegakkan duduk bersandar di kepala kasur dengan berselimut sepinggang bertel4njang dada.
Ia meraih ponselnya, melihat banyak notifikasi panggilan dan pesan dari ketua dan Alfred.
Ia membuka satu pesan yang berisi berita penting, matanya terbelalak lebar saat membaca berita mengenai kondisi Ergi, serta komentar hujatan yang ditujukan kepada senay4n yang dicurigai sebagai pelakunya.
Masyarakat menyebut S3n4yan sebagi gudang sindikat kej4hat4n yang harus digulingkan.
" Tidak salah sih pemikiran itu, tapi ini terlalu dini." gumam Toni.
" Bagaimana bisa dia selamat, aku yakin racun yang ku beri cukup membuatnya m4ti dalam hitungan menit." Monolognya.
Ia mencari tahu ke berbagai portal berita tempat Ergi dirawat yang ternyata tidak dia temukan.
Tring....
Satu pesan datang dari sekretaris presid3n mengundangnya rapat pukul 11 nanti, lantas ia langsung menghubungi sekretaris tersebut meminta kejelasan isi dari rapat.
**********
Di Istan4, sekretaris negar4 sedang marah besar atas peralihan dadakan tempat pertemuan, sedangkan presid3n sendiri menyikapinya santai.
" Sudahlah, kita ikuti maunya mereka." seru presid3n.
" Tidak bisa begitu, pak. penghinaan ini namanya. Apa mereka pikir mereka sedang berurusan dengan orang biasa?"
" Memang spesial apa kita?" Sindir presid3n tidak suka.
Sekretaris negara, diam atas sarkasme tersebut." Anda akan berbahaya."
" Anda tidak percaya rakyat sendiri?" tanya presid3n.
Sang sekretaris pribadi menunjukan elektabilitas kepercayaan masyarakat yang terus menurun pada kinerja pem3rint4h " Masalahnya situasinya tidak menguntungkan, rakyat sedang tidak menyukai anda."
" Dan pertemuan dengan RaHasiYa merupakan pendekatan persuasif yang positif mengingat mereka sedang menjadi panutan di kaula muda." Imbuh Ri1.
" Pak sekretaris, apa persiapan pelantikan pengangkatan jabatan pak Arif sudah siap?"
" Sudah, pak presid3n."
" Itu cukup, pak Arif terkenal sosok idealis, dengan ini rakyat melihat kalau kita serius dan tidak tersangkut paut apapun dengan skandal legisl4tif." Tukas presid3n.
*****
Sejak kabar pemindahan tempat diterima pihak istana, pengaman negara langsung menjaga ketat kawasan sekitaran cafe yang terletak tidak jauh dari kawasan sekolah dan universitas.
Hanya yang punya izin masuk yang diperbolehkan masuk kawasan dengan pemeriksaan ketat, bahkan cafe sendiri belumlah buka.
Banyak orang yang hendak ke cafe disuruh putar balik karena untuk sementara cafe tutup. Alih-alih pergi mereka khususnya perempuan malah berselfi berlatar belakang pangaman yang berseragam TNI, dan polri.
" Tahu kan kenapa gue jomblo, masa depan gue lagi sibuk ngamanin negara." Caption salah satu insta story' mahasiswi yang berdiri tidak jauh dengan tentara.
" Dicari-cari kemana imam gue, ternyata lagi tugas negara." Tulis seorang pelajar di laman Facebook-nya.
" Melewati lembah, gunung dan lautan ternyata jodoh gue ada di tengah kota, gerilya kemarin berasa sia-sia." Tulis mahasiswi berambut blonde di Twitter.
Hito mendapat kabar dari Erwin dan meminta Hito untuk menemaninya bergegas kembali ke Jakarta menunda pendekatan diri pada pamannya Zahra, KH. Haidar Romli.
Dipilihnya d'lima sebagai tempat pertemuan tidak biasa presid3n membuat telpon Erwin tidak berhenti berbunyi meminta konfirmasi, dan pencarian ulasan mengenai cafenya di jejaring pencarian internet meningkat tajam hal ini dimanfaatkan olehnya sebagai ajang promosi tidak langsung cafenya yang dibicarakan oleh banyak media.
" Ck, si RaHasiYa ini, makin lama makin nyebelin." Gerutu Erwin sambil mengawasi pekerjanya merapihkan cafe beserta petugas dari negara.
Cring...
Mumtaz yang menenteng ransel bersama Ibnu memasuki cafe yang sibuk, matanya mencari Erwin.
" Bang,..." Panggil Mumtaz, Erwin menghampirinya dibawah pengawasan petugas.
" Ruangan atas nama Arif Nugraha?" Tanya Mumtaz.
" Ruang nomor 03."
" Sibuk, Lo bang." Basa-basi Ibnu melirik para pria berseragam jas.
" Iya, sejak setengah jam lalu. Cafe gue dikutak-katik sama mereka."
" Tenanglah, masih aman. Dewa langsung yang memonitor cafe Lo, bang." Bisik Mumtaz.
Erwin mengangguk." Gue lebih percaya kalian ketimbang mereka."
" Ck, pers makin banyak yang berdatangan." Mata Erwin menangkap beberapa mobil berlogo stasiun televisi, radio, media online di parkirannya.
" Kalau begitu gue cabut dulu, bang." Erwin mengangguk, Mumtaz dan Ibnu langsung berjalan ke ruang 03 ujung matanya membalas tatapan menilai petugas dengan gestur tegak.
Saat membuka pintu telah ada Arif seorang dengan pakaian kebesarannya, Matanya menatap tajam dua pemuda yang masuk dengan tenang.
" Kita tidak saling kenal." Sambut Arif terkesan tidak ramah.
" Kami juga tidak ingin mengenal anda." Jawab Mumtaz sengaja duduk berhadapan langsung dengan Arif.
" Tapi kami akan sangat berterima kasih jika anda membayar kesalahan anda dulu."
Dahi Arif mengerut bingung.
Mumtaz menyodorkan beberapa foto kebersamaan dia dengan Mulyadi dan Andre muda, bersama Toni dan ketua yang masih gagah berdiri berdampingan dengan Eric Gonzalez dan Alfred Navarro beserta beberapa pria lain yang saat ini mendekam di tahanan dan dikubur tanah.
Mata Arif membelalak besar, tubuhnya menegang, di bawah meja tangannya mengepal kuat hingga memutih, dia sudah berusaha keras keluar dari jeratan rayuan sindikat itu dengan menolak bentuk kerjasama apapun dari mereka karena dia menjadi polis1 tidak untuk mengkhianati negara.
" Saya tidak terlibat."
" Saya tahu, tapi anda mengetahui rencana mereka, ditambah anda lah yang melaporkan setiap tindakan pak Ergi pada Toni."
Arif menelisik wajah Mumtaz mencoba membaca air mukanya yang Bernai menyebut nama Toni tanpa embel kehormatan.
" Andai waktu itu anda melapor pada atasan, tidak ada anak yang menjadi yatim piatu, tidak ada anak yang tumbuh dengan tudingan sebagai anak koruptor, tidak ada anak yang trauma dan menderita. Tapi anda memilih diam mengamankan diri, hingga tragedi itu terjadi." Ungkap Mumtaz bernada dingin dan tatapan tajam menghunus langsung Arif.
Ibnu yang mendengar keterangan Mumtaz sontak menengok menatap dalam sahabatnya dengan tubuh membeku yang tidak dibalasnya karena fokus Mumtaz terarah pada Arif. mereka saling mempelajari satu sama lain.
" Kau tidak punya pilihan selain membayar kesalahan itu atau tiga cucu mu akan merasakan apa yang dirasakan anak dari korban itu."
" Kau hanya menggertak." Ucap Arif menahan emosi dengan rahang yang terkatup mencoba mengembalikan keadaan bahwa dirinya tidak bisa diintimidasi.
" Bukankah perusahaan menantu anda kesulitan dana, dan dia memohon pada anda untuk memperkenalkan pada orang yang berkuasa, Mulyadi terbukti memberi bantuan dana dengan menggunakan uang hasil ilegalnya pada perusahaan menantu anda." Mumtaz melempar satu berkas tebal ke hadapan Arif.
" Pencucian uang adalah salah satu tuduhan terhadap Mulyadi, menantumu bisa terseret sebagai rekanannya."
Arif bungkam menghitung untung rugi situasi bagi dirinya, ia benci situasi ini. Ia menatap Lamat Mumtaz bagai memperhitungkan kekuatan lawan sebelum berperang.
" Kau sudah mempersiapkan segalanya..."
" Bahkan saya tahu merk pakaian dalam yang kalian kenakan."
__ADS_1
" Apa yang harus saya lakukan?"
" Hanya melakukan semuanya sesuai hukum, dan jangan mengubah apapun yang telah ditentukan pak Ergi, sekali anda kepeleset, kehidupan seluruh cucu anda yang kena imbasnya."
" Hanya itu?"
" Hanya itu."
" Apa jaminan kalian tidak menyentuh keluarga ku?"
" Ikan teri macam anda bukan tujuan saya, tapi peristiwa pak Ergi memaksa saya menyentuh teri itu sebelum ikan pausnya ku habisi."
" Kau terlalu tinggi berkhayal."
" Remehkan aja saya, kau pikir siapa yang menguliti bisnis gonzalez dan Navarro selama ini? Instansi anda?" Kekehan menyepelekan Mumtaz membuat Arif gusar meski kaget akan kabar itu.
Dia akui kinerja RaHasiYa sangat licin, pihaknya tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka.
" Berkat kinerja Toni dahulu instansi anda hanya sebuah alat yang menghilangkan kewibaan kalian." Tukas Mumtaz.
Tok...tok...
Ajudan Arif melapor." Pak, kita harus segera pergi ke istan4."
Arif melirik jam tangannya lalu melirik Mumtaz." Saya harus pergi."
" Silakan, urusan kita sudah selesai."
Mumtaz dan Ibnu masih duduk bergeming di ruangan setelah 30 menit Arif pergi dengan pandangan lurus ke depan." ini masih tentang gue, kan? Di file itu ada nama Arif, tapi gue gak tahu kalau itu Arif Nugraha."
" Sudah sejauh itu Lo buka itu file."
" Apa semua orang yang sekarang ditahan pembunvh orang tua gue?"
" Enggak, mereka hanya berbisnis kotor saja."
Brak...
Kepalan tangan Ibnu memukul kuat meja," tidak bisakah Lo kasih tahu langsung siap yang membvnvh ibu dan bapak agar gue segera menuntaskan sakit hati ini." ucap Ibnu dengan nyaring. wajahnya memerah.
namun ditanggapi tenang oleh Mumtaz." Saat gue tahu siap mereka, gue pun punya perasaan yang sama kayak Lo, tapi mereka kuat, jika ingin menghabisi mereka kita perlu punya kedudukan dengan level yang sama dengan mereka itu yang sedang gue usahakan untuk Lo."
Mumtaz mengeluarkan batang nikotin dari bungkusnya yang langsung dirampas dan dilempar ke sembarang tempat oleh Ibnu.
Mumtaz yang berderai air mata menengok pada sisi sebelahnya dimana Ibnu menatapnya dengan marah." Detik dimana gue memastikan mereka pelaku sesungguhnya, disaat itu gue mempersiapkan diri Lo pantas untuk berhadapan dengan mereka." Mumtaz melihat jam tangannya.
"Gue pikir saat itu tidak lama lagi akan tiba." Ucap Mumtaz lirih
Rebesan air mata menguar dari balik mata ibnu" Muy, berhenti melakukan apapun untuk gue, gue tidak seberharga..."
BUGh___
Ibnu dapat merasakan denyutan nyeri di pipinya yang perih atas pukulan keras Mumtaz, ujung bibirnya sobek berdarah.
Kursinya terjungkal seiring jatuhnya Ibnu ke lantai.
Mumtaz pun menangis, ia merasa terluka akan perasaan setiap kali Ibnu merasa tidak berharga." Ayah selalu bilang, Lo adik gue, Dafi adik bungsu kita. Itulah mengapa gue relain kak Ala memberi perhatian lebih sama lo, Lo pikir gue gak cemburu dengan kedekatan Lo dengan kak Ala? Gue adik kandungnya tapi Lo yang selalu menjadi keluh kesah kakak tapi gue relain, karena dengan itu gue bisa lihat Lo menghargai diri Lo, Lo punya alasan untuk tetap hidup dan waras.
" Kalau ada yang harus menyingkir di kehidupan ini, mereka lah yang harus binasa."
Mumtaz meraih ranselnya bergegas beranjak meninggalkan ruangan disusul segera oleh Ibnu yang mengejarnya meninggalkan cafe mengabaikan keberadaan Hito dan Erwin yang melihat jarak dan ketegangan diantar keduanya.
" Maksud gue, gue gak pernah ngeliat bromance yang segitunya diantara dua sahabat." Terang Erwin cepat.
" Lo mau gue gituin? Erwin menggeleng dan kabur dari hadapan Hito.
*****
Cklek ____
Masih terlihat Romli yang duduk melantai menekuni catatan milik Zahra dengan laptop yang menyala.
" Istirahat dulu, ada tulisan yang tidak kamu mengerti? Atau kata yang gak kamu pahami?" Tanya Zahra sambil menyodorkan segelas capuccino blanded dari Starbucks pada Romli yang menatap lebar gelas tersebut antar ingin meminumnya atau dibekukan abadi guna pajangan di kamarnya.
" Cuma beberapa kata, tapi sejauh ini lancar."
" Geser." Zahra mengambil alih tempat duduk Romli yang menggeserkan pinggulnya sedikit menjauh dari Zahra.
" Not bad. Selama ini ngapain aja buat ngasah tata bahasa kamu?" Komentar Zahra setelah membaca beberapa paragraf esainya.
" Freelance jadi asisten editor."
" Fiksi atau ilmiah?"
" Keduanya diambil, saya butuh duit."
" Siapa yang enggak. Dimas gak datang?"
" Katanya gak bisa kantor butuh dia."
" Hmm." Zahra mengangguk-angguk pelan.
" Kak___" Romli bergerak-gerak tidak nyaman.
" Hmm?"
" Apa kakak gak salah angka transferan?"
" Kenapa? Kekecilan?" Romli bergegas menggeleng cepat.
" Justru kegedean, 50 juta."
" Buat berdua."
" Tetap aja kegedean, bahkan Dimas enggan menerimanya takut diomelin Mumtaz."
" Ya buat kamu semua."
" Ck, bukan begitu. Tetap aja kegedean."
Zahra berpindah duduk di sofa.
" Kamu pikir saya minta jasa kamu berdasar rasa kasian kamu yang fakir itu?" tanya Zahra menatap Romli.
" Apalagi kalau bukan itu?" cicit Romli.
" Ya bukan lah. Yuda pernah ngasih lihat proposal hasil kerja kamu, saya suka rangkaian kata-kata baku tapi gak terlalu kaku."
" Saya sendiri selalu berpikir bahasa Indonesia itu sulit, makanya saya respect sama orang yang mempelajari bahasa dan sastra Indonesia."
" Tapi,___"
__ADS_1
" Terima saja, saya bukan kaum fakir seperti kamu."
" Jleb." Sakit banget. Tapi berhubung kakak yang ngomong dan fakta yang membuktikan saya terima saja." ucap Romli mengusap dadanya.
" Hehehe, saya mantan kaum miskin, jadi paham betul kesusahan yang kamu tanggung."
" Say pake buat ganti duit Zayin aja ya, kak."
" Silakan, kalau kamu mau bonyok." Saliva Romli langsung tertelan begitu saja, dia mengusap wajahnya yang super biasa saja itu.
" Kita makan dulu, yuk. Kamu ada kuliah?" Zahra beranjak ke meja kerjanya mengambil dompetnya.
" Ada jam 1. Nunggu Jeno kemari dulu baru berangkat. Biar aku yang traktir, kak. Aku lagi dapet proyek." Romli membuka pintu mempersilakan Zahra keluar terlebih dahulu.
" Hahaha. Berangkat aja langsung setelah makan."
" Terus muka aku harus oplas abis diserang Mumtaz dan zayin, gitu."
" Kalian juga makan." Ucap Zahra pada keempat pengawalnya utusan dari Gaunzaga, mereka mengangguk.
Isi pembicaraan penghuni Cafetaria tidak jauh membicarakan kondisi Ergi karena televisi tengah menayangkan pelantikan Arif Nugraha.
" Makin lama lihat seksama kelakuan pej4b4t makin meresahkan ya." Kata Romli yang duduk di kursi paling kiri bersebrangan kursi Zahra duduk di tengah dengan meja berisi enam kursi.
" Hmm, perlu gak sih tes kewarasan sewaktu hendak memangku j4b4tan." seru Zahra.
" Kayaknya harus ada deh kalau mau neger1 tercinta kita maju." timpal Romli.
" Woi, Ra." Zivara menaruh nampan makannya di depan zahra bersama Zahira yang duduk di samping Zahra.
" Belum makan Lo?" tanya Zahra.
" Belum, baru selesai tindakan. Ada perempuan mau lahiran pembukaannya dari subuh gak ada suaminya, kondisinya rumit, terpaksa cs."
" Borong brondong dimana Lo, maruk amat." Ucap Zivara melihat ke meja samping.
Tidak jauh dari mejanya telah ada empat orang lelaki muda yang tiap hari selalu ada di sekeliling Zahra kemanapun dia pergi.
" Ambil kalau Lo mau daripada nunggu yang gak pasti." Matanya melirik Farhan yang semeja dengan beberapa dokter ahli, berjarak beberapa meja dari mejanya, namun suaranya pasti masih terdengar.
Terlihat Farhan yang berhenti bergerak, dan teman semejanya terkekeh mengejek.
" Tahu, Lo gak jelek amat kok. Siapa tahu doi emang balikan sama mantan, Lo lihat kan belakangan ini mereka sering bareng. Gue punya banyak teman cowok ganteng, dan masih lebih fresh, mau gue kenalin?" Cerocos Zahira cuek.
" Boleh deh, keburu tua gue nunggu doi, doi mau makin berumur makin hot, gue..."
Cup___
Zivara membelalak membeku, tangannya yang hendak menyuap berhenti di depan mulutnya yang ditaruh ke piring oleh Farhan, Zahra dan zahira beserta penghuni Cafetaria ternganga kaget
Farhan tanpa malu dan menjaga imagenya sebagi salah satu Professor berwibawa mengecup kening Zivara, Romli menutup matanya dengan jari yang renggang
" Huks, huks___" Zahira memberinya air mineral guna menetralkan cegukan Zivara.
" Nanti malam Minggu aku ke rumah buat melamar kamu." Ucapnya lembut mengelus puncak kepalanya yang tertutup hijab hijau toska.
Tak___
" AWS." Zahira mengusap keningnya yang disentil Farhan.
" Kamu jangan ngomporin orang terus, urus calon suami kamu yang tiap malem ngeluhin kamu yang judes mantap."
" Dih, wong dia lagi kencan sama mantan prof." Elak Zahira.
" Mana ada, aku nolak ajakan dia, makanya jangan jauhin aku mulu, aku banyak yang mau." Ucap Samudera duduk di hadapan Zahira.
" Urus calon bini Lo, mulutnya horor banget." Farhan kembali ke mejanya meninggalkan Zivara yang menunduk dalam dibawah tatapan iri dan patah hati dari beberapa pengunjung dan staf.
" Gak ikut nimbrung di cafe?" tanya Zahra pada Samudera
" Disuruh ngawasin kamu."
" Ck, gak cukup empat orang itu?" decak Zahra kesal membanting sendoknya ke piring.
" Kali ini adik kamu berurusan dengan orang lebih kuat."
" Sekuat Samson?" tanya alay Zivara.
" Sekuat yang mengharuskan Farhan bertahan menjaga 24 jam pak Ergi."
" Ishh, kapan sih ini selesai? apa susahnya mereka menyerahkan diri " ujar Zivara geram.
Obrolan itupun terus bergulir ala bisikan tetangga
Kini di rumah sakit kejadian di cafetaria pun mengalihkan perhatian mereka dari Ergi dan pelantikan Arif.
*****
Di ujung jalan dari beberapa sniper yang tersebar di rooftop beberapa gedung bertingkat tidak jauh dari cafe tengah mengawasi dengan jeli iringan mobil RI 1 memasuki kawasan cafe hingga memasuki cafe ditengah teriakan dan sahutan para mahasiswa dan murid usut tuntas keracunan Ergi, dan ucapan selamat atas pelantikan Arif yang didesak melanjutkan estafet Ergi dalam kasus para d3w4n.
Di waktu bersamaan di lantai teratas gedung tertinggi Universitas Atma Madina di ruangan Bara yang aman dari retasan pihak asing. Rizal, Haikal, dan Rio sibuk mengamati keadaan setempat lewat monitor raksasa yang menampilkan retasan cctv sekitaran cafe oleh Dewa.
" Empat sniper dari empat sudut bersiaga mengamankan Garuda ( nama samaran untuk RI 1) beberapa menter1, pak Arif, ketua, dan Toni si tua bangk4. Dan staf kepr3siden4n." Seru Rio untuk empat petinggi RaHasiYa yang duduk dalam Van putih yang terparkir di salah satu gedung sekolah.
" Mobil ketua BEM memasuki kawasan cafe mereka dilarang masuk, mereka disuruh putar balik." Seru Haikal.
" Wa, bagaimana keadaan dalam cafe?" Tanya Daniel pada Dewa yang dudukan etika dalam ruang kerjanya di gedung RaHasiYa bersama Dimas.
" Terkendali, terdeteksi beberapa hacker yang sedang bert4rvng melawan cyber B1N, dan cyber kep0l1si4n.
" Bar, Lo masuk." Seru Alfaska, Bara pulang ke Jakarta saat Yuda memberitahu bahwa mereka hendak ikut pada pertemuan dengan RI 1.
Mobil BMW hitam yang berpenumpang Bara keluar dari arah UAM menuju cafe, dibelakangnya Van putih mengekorinya.
BMW hitam itu berhenti tepat disamping dua Avanza yang dihentikan.
Bara dengan aura seorang pemimpin sekaligus pengusaha yang berasal dari strata konglomerat keluar dari pintu belakang yang dibukakan oleh Budi menghadap Pasp4mpr3s.
" Mereka bersama saya." kata Bara
" Tidak ada nama mereka dalam daftar." ucap petugas.
" Jika mereka dilarang masuk, maka saya dan petinggi RaHasiYa pun tidak masuk yang rugi negar4 bukan kami." Ucap Bara tenang tanpa beban.
Petinggi RaHasiYa pun turun serta berdiri di belakang Alfaska yang berdiri tegak di samping kanan Bara.
Kontan suasana menegang, para kumpulan mahasiswa dan murid yang semula berisik kini terdiam lebih tertarik mengamati mereka yang aura menegangkannya sampai terasa ke mereka padahal jarak mereka jauh....
Sementara kedua kubu berhadapan tetap bergeming dengan pendirian masing-masing.
" dalam waktu satu menit kalian tidak membuka pintu, kami pergi. Dimulai dari sekarang." Alfaska menyalakan stopwatch dari ponselnya....
__ADS_1