Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
238. Tertembak.


__ADS_3

Heru sudah dua kali mondar-mandir berkeliling ke m seluruh ruangan basement membuka satu-persatu pintu bunker, parkiran kendaraan, semua sudut basement sudah dia tengok, namun Adelia tidak kunjung ditemukan.


Raut cemas kini menghiasai wajah Heru, dia mengusap wajahnya kasar.


" Adel sayang, kamu dimana? " Gumam Heru.


Kini ia kembali berjalan ke arah lain, ke titik semula mencari. Tidak mungkin dia kembali ke bunker sementara putrinya entah dimana.


Ia memilih berjalan ke lift, berniat mencari ke lantai luar dari basement.


Saat pintu lift terbuka di lantai lobby, dirinya terkejut bukan main saat Zayin melintas di depannya dengan menggendong seseorang yang dia kenal betul posturnya.


" Yin, ada apa?"


" Om, maaf. Ayin lalai." Lirih Zayin pelan penuh penyesalan.


Heru terperangah saat darah segar menetes ke lantai


" Aku pergi dulu." Karena bingung Heru hanya bisa mengangguk.


Namun tidak lama Hito dan keluarga Hartadraja yang keluar dari lift yang berbeda menepuk pundaknya untuk menyadarkannya.


" To, ada apa?"


" Kita ke rumah sakit dulu." Ajaknya yang diangguki Heru.


******


" Stop, Ahmad Muzayyin Hasan, diam di tempat." suara Mumtaz menggelegar memenuhi ruangan mengagetkan semuanya yang mendengar.


Zayin, matunda dan Navarro menoleh ke arah pintu dimana Mumtaz berdiri tegak dengan posturnya yang tinggi meski tubuhnya tidak sekekar Zayin, namun proporsional.


Bibir Navarro menyeringai senang," hallo, Ibnu. Akhirnya kau keluar dari sangkar mu." Ujarnya mengintimidasi.


Zayin tidak bergeming, ia berdiri di tempat dengan tatapan membvnvh. Satu Kakinya ia naikkan menuju betis Navarro,


" Zayin, berhenti di tempat mu." Titah Mumtaz tegas tidak ingin dibantah.


Zayin menoleh ke arah Mumtaz yang berdiri tegak di depan pintu yang tertutup secara perlahan-lahan.


 Alfred yang terbaring lemah dengan kepala yang dipangku Matunda mengangkat sedikit kepalanya sambil menyeringai.


" Selamat datang Ibnu Faris Mahmud di dunia yang menyebalkan ini, hehhehehe." Ucapnya sedikit lebih baik setelah Matunda memberinya obat daripada beberapa saat lalu dimana dia tak sanggup bicara karena pernapasannya yang terganggu.


Blam...cklek ..


Suara pintu terkunci menyeruak di ruangan luas tersebut.


" Dia urusanku, mati hidup dirinya urusanku. Aku akan mentitah dirimu langsung mencincangnya kalau aku gagal mengurusnya. Untuk sekarang biarkan aku yang menanganinya."


Zayin mengangguk, dia menjauhkan kakinya dari Alfred.


" Ibnu?, Seriously dia percaya kau Ibnu? Ucapan bernada menyepelekan itu terlontar dari Zayin dengan seringai tidak percaya sementara yang lain dengan bingung meminta penjelasan.


Mumtaz mengedikan bahu," kini kau tahu betapa payahnya dia." Mumtaz berkat sambil terus menatap Alfred.


" Menjauh darinya, hidupnya tidak akan lama lagi." Zayin menuruti kemauan kakaknya, namun tidak mengendurkan sikap antisipasi dan waspadanya.


Dengan kesusahan dibantu Matunda Alfred bangun, ia sejenak duduk sebelum berdiri. Kakinya yang cedera berjalan perlahan dengan langkah kecil tiada arti menepis tangan Matunda yang hendak menuntunnya saat dia mendekat membalas tantangan Mumtaz yang berjalan mendekat padanya. Dia kepayahan, namun sebagai salah orang yang terlatih dengan jiwa petarung dia tidak sudi menunjukan kelemahannya pada sang musuh.


" Ibnu,..Ibnu,...kau hebat kuakui itu kau mengelabui orang-orang disekitarmu sebagai Mumtaz yang kau bvnvh setahun lalu."


Orang-orang di lantai sembilan makin terlihat bingung pun demikian dengan Zayin serta yang lain mengernyit semakin dalam sambil saling pandang, melihat kebingungan Zayin Alfred tertawa ngakak" HAHAHAHHAHA...kau pasti syok dibodohi olehnya." Hardik Alfred.


" DIA...yang disebut kakak, sahabat dan kolega adalah seorang pembvnvh. Dia membvnvh Mumtaz, dia palsu. HAHAHAHHAHA."


Kini atensi mereka menatap bertanya pada Matunda yang berdiri di belakangnya, Matunda cuma mengangguk kecil seraya membuang napas berat.


Tawa yang cukup menggunakan tenaga membuat oleng tubuh Alfred, ia terjatuh duduk sebelum dirinya berbaring lalu memejamkan mata.


Matunda yang hafal ritme gerakan itu dengan sigap langsung mendatangi tubuh Alfred, karena tidak ada infus maka ia memasukan obat cairannya langsung melalui mulut bagaikan menenggak air lewat suntikan.


" Apa dia sadar?" Tanya Zayin.


" Tidak tuan, dia kan tertidur selama 15 menit."


" Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?"


" Prof Zahra memberinya obat halusinasi, semua yang dia yakini dia pikir telah terjadi."


" Tapi apa yang dia katakan terlalu konyol."


" Dia mendapat gambar wajah tuan Mumtaz sebagai identitas tuan Ibnu pada laporan yang diberikan pak Toni. Dia sangat membenci tuan Mumtaz yang selalu menggagalkan misinya. Beribu kali dipikirannya sudah membvnvh tuan Mumtaz, saat dia mendapatkan gambar wajah tuan Mumtaz sebagai identitas tuan Ibnu, maka dia pikir tuan Ibnu memanipulasi kalian sebagai tuan Mumtaz."


" Kakak?" Zayin berpikir keras apa yang terjadi.


" Iya, prof Zahra mengobatinya sekaligus meracuninya. Tubuhnya yang terlihat baik-baik saja sebenarnya bagai bom waktu untuk menjadikannya sebagai orang lumpuh."


" Kau sedang tidak membohongi kami, bukan?" Zayin meragukan informasi yang terdengar tidak mungkin ini.


Matunda melihat jam tangannya, belum sempat dia menjawab Alfred terbangun.


Dapat mereka lihat betapa bugarnya Alfred dengan gestur lain yang terlihat lebih bersemangat. Dengan rasa percaya diri yang menghantuinya Alfred berdiri sedikit membusungkan dada matanya menatap penuh kebencian terhadap Mumtaz.


" Kau harus ma-ti, bocah. Tanpa kesaksian dirimu kasus 10 tahun yang lalu tidak akan berjalan baik, semuanya hanya asumsi jika tidak ada saksi kuncinya yaitu dirimu."


Tanpa peringatan Alfred mengeluarkan pistol dari pinggangnya yang langsung ditodongkan pada Mumtaz.


Zayin yang melihat itu refleks bergerak cepat, Alfred mengalihkan todongan itu pada Zayin, dan menaruhnya tepat di depan kening Zayin. " kau bergerak, kau ma-ti. Kau rela tubuhmu tidak bernyawa demi seseorang yang membohongimu? Idi-ot."


Ia mengongkang hammer yang terdapat di ujung pistol dengan jempolnya, " Navarro, aku lawan mu. Kau pikir setelah aku menghabisi saudaraku kau akan selamat?" ucap Mumtaz mengalihkan perhatian Navarro.


" Urusan itu akan ku urus belakangan, yang pasti satu dari kalian akan ma-ti." Jari telunjuknya siap di pelatuknya.


" Alfred, kau bvnvh dia, ku cincang kau." Mumtaz mengeraskan rahangnya mencoba mengulur waktu untuk mencari celah.


" Tidak mungkin itu terjadi."


" Percaya diri boleh, to-lol jangan. Jangan lupakan kau berada di gedung RaHasiYa. Apa yang kau lihat belum seberapa Navarro." kini Mumtaz lebih santai dalam berkata.


" Meski kami semua meninggal, kau tidak akan selamat keluar dari gedung ini. ingat, kau berada di lantai teratas, untuk keluar dari sini kau harus turun untuk turun kau butuh membuka sistem keamanan setiap lantai."


" Itu mudah. Buktinya aku bisa di sini."


Mumtaz menggeleng-gelengkan kepala," ketika kami meninggal, semua pintu terkunci, sistem penghancur gedung menyala, dalam lima detik gedung ini akan roboh dan kau akan menjadi salah satu mayatnya."


" Hehehhe kau hanya membual, gedung ini terkenal dengan dasas-desus tidak kan ada yang mampu memasuki tanpa izin kalian, ternyata aku mampu." Ucap Alfred jumawa. Jarinya siap menarik pelatuk,...


Saking berkonsentrasinya pada Navarro mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang keluar dari ruangan kecil yang tidak jauh dari Matunda.

__ADS_1


" Kalian cedang apa?" Gadis kecil itu melihat ke arah Zayin yang juga telah melihatnya dengan mata terbelalak karena kaget.


" Om...jangan tembak Aa ayiiinnnn." Adelia berlari ke arah Zayin, karena saking terkejut adanya tindakan ofensif Alfred mengalihkan moncong pistol itu pada Adelia dan jari itu melepas pelatutuknya.


DOR... DOR... DOR...


Dua peluru mengarah pada Adelia dan mengenainya satu di dada dan satunya di pundak, serta satu peluru mengenai Mumtaz. 


Baik mata Adelia maupun Mumtaz membola lebar, mereka tidak menyangka perlu itu akan menuju pada mereka.


Tembakan itu berbarengan dengan dibukanya pintu besi itu, mereka menyaksikan dua tubuh beda tinggi dan besar itu terjengkit, lalu meluruh ke lantai.


"Adeliaaaa ...."


" TIDAAAKKK...."


" NAVARROOOO... ALFRED NAVARROOO...AKU LAWAN MU BEDE-BAH." Teriak ibnu keras dan kuat-kuat sampai wajah itu memerah dan urat lehernya menonjol.


Dirinya terlalu syok mendapati sahabatnya jatuh di depan wajahnya tanpa mampu menolongnya.


" HAHAHAHHAHA...akhirnya aku yang menang pemuda." tawa Alfred membahana.


Teriakan membahana itu juga berasal dari semua orang yang melihatnya termasuk orang-orang yang di lantai sembilan, untuk sesaat tidak ada yang bergerak mereka terlalu syok khususnya klan Hartadraja. Fatio dan Aznan membelalak tidak percaya bidadari mungil mereka terluka.


Akbar dan Bara memegangi tubuh keduanya yang oleng untuk di dudukan di atas kursi.


" Akbar, bawa kakek ke rumah sakit." Lirih Fatio.


" Tentu kakek." Akbar melirik pada Yuda yang mengangguk, ia mencari posisi Zayin yang meninggalkan gedung.


Zayin berlari dan menangkap tubuh kecil Adelia yang mengeluarkan darah sebelum tubuh itu menyentuh lantai. Ia memangkunya dengan wajah pucat pias.


Mata sayu Adelia menatap Zayin, ia meringis walau sudut bibirnya menyungging senyum.


" Aa,...maaf. ca...kiittt...." Napasnya tersengal-sengal.


" Jangan bicara, kita ke rumah sakit."


" Aku...mau...kayak...India...yang bicara...dulu... sebelum ma-ti..." Rintihnya.


" Kamu enggak akan ma-ti, sayang." Sudut mata Zayin sudah berair.


" Please, Del. Bertahan..." Suara Zayin bergetar.


Dengan pelan-pelan Zayin berdiri, membawa Adelia ke luar ruangan.


Alfred mengokang lagi hammer-nya, menarik kembali pelatuk, lalu membidik punggung Zayin yang berjalan semakin jauh.


" DOR..."


Suara tembakan ke arah langit-langit menghentakkan mereka pada dunia nyata.


Langkah zayin terhenti ia menoleh ke belakang dengan tatapan mematikan, andai di tangannya tidak ada Adelia, detik ini juga dia pastikan lelaki tua itu sudah ma-ti di tangannya.


Sedangkan Alfred terkejut letusan  pistol itu ke udara sebelum terlepas dari genggamannya.


Semua itu tindakan dari Matunda yang menendang dari bawah ke atas hingga pistol meletus di sana. Lalu dengan gerak cepat menendang kembali agar pistol itu lepas dari pegangan Alfred.


" Matunda? Mengapa kau lakukan itu?"


" Melindungi tuan Zayin, adalah tugas saya. mata Alfred membola besar, tubuhnya mundur beberapa langkah saking terkejutnya.


Zayin yang tidak tertarik pada drama pengkianatan yang dialami Navarro kembali melangkah keluar pintu.


Saat di dekat pintu, Daniel sudah membuka lebar pintu itu.


" Pastikan kau membvnvhnya, atau aku yang akan menjadikan dia hidangan soup yang akan ku makan."


" Kau akan melihat dirinya menjadi sampah tidak berguna." Timpal Ibnu menatap nanar tubuh Mumtaz yang terbaring di lantai.


Ibnu menghampiri Mumtaz yang kepalanya sudah dipangku Alfaska yang menangisinya.


Ia mengusap-usap dada Mumtaz yang mengeluarkan cairan merah segar.



Zayin dengan hati-hati membawa Adelia menuju lift ditemani Jeno dan Rio.



" Aa, aku mengantuk..." Ucap Adelia pelan.



" *No* sayang, jangan tidur. Tahan sebentar lagi. *please* dengar Aa." Ucap Zayin pelan bergetar, ia menangis.



" Aa jangan nangis."



" Gimana aku gak nangis kalau calon istriku terluka. Hiks."



Adelia tersenyum," Aa udah cinta aku?" Zayin mengangguk.



" Sayang, Aa sayang banget Adel. Kalau Adel ingin kita bersama jangan tidur ya." 



Tanpa begitu kentara Adelia mengangguk." Iya." ucapnya lemah.



Jeno dan Rio yang berdiri di belakang mereka diam menunduk menyembunyikan air mata mereka.



Dia lantai lobby saat melewati lift lain Yangs sampingnya yang terbuka mereka terkejut karena berhadapan dengan Heru yang berdiri di dalam lift untuk mencari Adelia.



Matanya tertuju pada putri kecilnya yang digendong Zayin.


__ADS_1


" Ada apa?" Tanya Heru waspada.



Zayin dengan sorot matanya yang mending menatap sendu Heru." Om, maaf. Ayin lalai."



" Mata Heru menatap darah yang jatuh ke lantai." Apa dia baik-baik saja?"



" Om, kami akan pergi ke rumah sakit."



Karena masih syok, Heru hanya mengangguk melepas kepergian Zayin, sebelum dirinya ambruk terduduk di lantai dengan tatapan kosong.



Dewa telah mengosongkan jalan steril dari lalu lalang kendaraan.



Di depan lobby sudah ada ambulance yang menunggui mereka. Para medis langsung menanganinya begitu tubuh kecil itu diletakkan di atas brankar. Ambulance itu langsung melaju di tengah jalan yang lengang dari pengendara lain sementara tenaga medis sibuk memeriksa tubuh kecil itu.



Tidak ingin menghalangi upaya tenaga medis mengurus Adelia, Zayin menggeser duduknya ke dekat pintu.



" Aa... Aa Ayin..." Suara lemah dan tangan mungil menggapai-gapai mencarinya.



" Aku di sini cantik." Zayin menggenggam tangan Adelia. satu petugas berpindah tempat setelah melakukan pertolongan pertamanya.



" Aku mengantuk."



Zayin melirik pada salah satu dokter yang mengangguk.



" Tidurlah sayang, Aa di sini."



" Aku cuka Aa. Aku cayang Aa." Ucap Adelia sebelum mata itu tertutup.



Zayin merasakan sakit yang teramat saat mata itu terpejam. Bongkahan ketakutan menghampirinya. Ia menangis tersedu-sedu.



" Aa juga sayang Adel."



Cup.



Dikecupnya kening Adelia dengan khidmat dan lama.



Di rumah sakit Atma Madina yang sudah mendapat kabar tentang kondisi Adelia dari Bara langsung bersiaga. Beberapa dokter tebaik yang dibutuhkan diterjunkan, termasuk Zahra dan Zahira mengingat peluru itu mengenai dadanya.



Heru masih terduduk di lantai dijaga Leo dan anak RaHasiYa menimbang anak buah Alfred masih berkeliaran di gedung saat lift yang Ian terbuka dan menghadirkan Keluarga Hartadraja.



" Heru " panggil Hito dan Aznan menghampirinya.



" Papa, Adel putriku, pa." Tangis Heru pecah saat kesadaran akan kondisi Adelia mendatanginya.



" Papa tahu, nak." Aznan menepuk-nepuk punggung Heru.



" Ru, mari kita ke rumah sakit." Ujar Hito.



" Bagaimana cara aku mengabarkannya pada Eidelweis?" 



Semua orang terdiam mematung, mereka melupakan sosok ibunya yang tengah hamil.



Fatio menghembsukan napas gusarnya." Kita sama-sama menghadapi Eidel.



Disertai dokter yang dipanggil sewaktu menangani anak RaHasiYa terluka mereka menuju basement ke bunker Eidelweis yang dijaga anak Gaunzaga.



Di lantai teratas suasana masih hening mencekam, Alfred yang tidak menyangka dikhianati Matunda, Ibnu dan para sahabat yang mengelilingi sambil menatap nanar Mumtaz. Tidak ada orang yang bersuara mereka masing-masing sedang menganalisa apa yang terjadi.


Dada kecil iganya terasa sakit karena sesak, ia belum menyiapkan diri Jia sesuatu terjadi pada Mumtaz. mereka kesulitan bernapas, orang-orang di lantai sembilan pun terdiam, Gama, Teddy, dan Dominiaz mengepalkan kedua tangannya tidak sabar menghabisi Navarro. Jika saja Mumtaz tidak memberi pesan sebelum mereka berpisah, mereka pasti sudah menghampiri penjahat itu.


" Kalian lihat dan hanya menonton, jangan berbuat apapun sesungguhnya Alfred Navarro aku siapkan untuk Ibnu. agar mentalnya sembuh. dia sudah sakit berkepanjangan, jika Ibnu tumbang barulah kalian bertindak." pesan itu yang menghalangi kalian mereka untuk melangkah.


" Uhuk..uhuk..."

__ADS_1


Sampai suara batuk menginterupsi mereka.....


__ADS_2