
Sisilia memijit tangan Mumtaz yang sudah diolesi minyak terapi dengan hati-hati." Kak, bangun yuk. Betah banget Bobonya, gak kangen aku apa."
" Hari ini aku harus berantem lagi sama kak Inu cuma buat mijit kakak. Aku yang pacar kakak kenapa dia yang posesif sih padahal dia gak istirahat dengan cukup gara-gara mengkhawatirkan kakak. Kak Zahra harus suntik tidur dia agar menjauhi kakak." Sungut Sisilia sedikit sewot.
" Kak, bangun dulu yuk. Lain waktu aku akan melarang kak Afa buat curhat soal Tia. Kak Aniel yang selingkuh, kak Bara yang gamon biar kak Domin yang menangani mereka, jadi kakak gak perlu kesulitan tidur lagi gara-gara mereka."
" Biasanya dia susah tidur, mungkin kondisi ini Aa manfaatkan untuk tidur sepuasnya." Ucap Zayin berdiri memperhatikan sisilia yang telaten memastikan seluruh anggota badan gerak Mumtaz terolesi minyak.
" Hehehehe...iya ya,... Tapi tidak dengan aksesoris semua ini. Ini sangat menakutkan." Tunjuk Sisilia pada alat medis yang menyelimuti Mumtaz.
" Lagi trend ini."
" Husssh..kamu jangan bilang begitu."
" Lagian Aa Mumuy betah banget." Sungut Zayin.
" Kamu bisa gak pergi, si itik ngereog nyariin kamu auto gempar lagi ni rumah sakit."
" Dia sedang tidur."
" Pantes bisa kemari."
" Hmm."
" Bagaimana rasanya diposesifin bocil?"
" Sejujurnya mending gue dikejar nenek-nenek di tempat pengungsian." Kalau Zayin tidak terlatih kesabaran,
Adelia yang memanfaatkan kejinakan Zayin dengan menempeli lelaki idamannya itu selama 24 jam nonstop dengan segala modus yang diluar nalar.
Sisilia terkikik teringat saat Adelia menangis secara drama memegang dada dan bahunya yang tertembak dengan raut seakan maut hendak menjemputnya saat Zayin pulang untuk mengambil pakaian ganti yang sempat menghebohkan rumah sakit.
Pasalnya dia berlakon drama dengan berteriak kalau calon istri Zayin yang terluka parah tega ditinggal tunangan sembari berjalan tertatih-tatih memamerkan penderitaan untuk meraup simpati orang sekitar.
Ancaman Zahra yang hendak menyuntiknya lah yang membuat drama itu berakhir, namun sejak itu seluruh staff rumah sakit tahu kalau dia calon istri Zayin, lelaki yang banyak dilirik para staff rumah sakit, dan Adelia melalui mata dan telinganya tajam mengetahui soal itu.
Sudah 15 menit Hito menunggu Zahra di lobby ditemani secangkir kopi panas yang pastinya kalau dilihat Zahra, Hito akan mendapat ceramah sepanjang perjalanan pulang. membayangkan itu Hito terkekeh senang, entahlah memicu perdebatan dengan Zahra sangat menyenangkan baginya.
Hito melihat ke arlojinya, saat ini sudah pukul 23. 25. Hito akan bersabar menunggu karena besok Zahra libur, mereka merencanakan akan bersantai di rumah Eidelweis, untuk apa? Tentu untuk mengganggu Adelia.
Lama tidak ada kabar dari Zahra, Hito memutuskan menuju lantai ruangan ICU, dia hafal selama sebulan ini setiap hari tugasnya, tunangannya itu selalu mengakhirinya ke ICU.
Untuk menutupi tugasnya hari ini Zahra seperti biasa mampir terlebih dahulu ke ICU bersama asistennya, Reni yang yang siap dengan clipboard-nya.
" Ren, apa suami kamu gak amarah kamu masih stay sama saya di jam segini?"
" Justru kalau saya pulang duluan dari anda suami saya bakal melototin saya, prof."
Zahra terkekeh," Kenapa?"
" Gak tahu, dia sekarang udah jadi pengagum profesor."
" Hahahaha, syukurlah. Jadi saya gak capek sendirian."
Setelah mengenakan pakaian khusus, mereka memasuki ruangan Mumtaz, baru beberapa langkah kaki Zahra terhenti kaku saat netranya melihat mata Mumtaz yang terbuka, dan gerakan tangan Mumtaz seolah ingin menggapai sesuatu.
Zahra terkejut, tubuhnya seketika kaku keras. Reni yang merasakan Zahra terjadi sesuatu melongok ke depan, dirinya pun sama dengan Zahra. wajah Mumtaz perlahan bergerak, saat manik hitam itu beradu dengan matanya, di situlah Zahra yakin kalau dia sedang tidak bermimpi.
Mengabaikan prosedur perawatan, saking bersemangatnya Zahra mendekati ranjang Mumtaz, mencium kening adiknya begitu dalam, ucapan bermilyar rasa syukur ia panjatkan dalam hati.
Diiringi linangan airmata Zahra merangkul wajah pucat itu," terima kasih, terima kasih sudah mau kembali, terima kasih masih ingin bersama kami, terima kasih...terima kasih." Zahra mencium seluruh bagian wajah Mumtaz yang terasa lebih tirus.
" Terima kasih, A. Terima kasih ya." Zahra tersenyum dengan pandangan buram karena airmata.
" Prof, maaf, tapi kami ingin memeriksa pasien..."
" Biar saya, maafkan saya." Rupanya ketika Zahra sibuk dengan emosi perasaanya Reni lekas keluar memanggil dokter jaga, bukannya meragukan kemampuan Zahra, tetapi emosi yang melingkupi Zahra lah yang merisaukannya dalam pemeriksaan atasannya itu.
Setelah beres memeriksa dan memastikan Mumtaz dalam kondisi terbaiknya Zahra keluar yang langsung disuguhkan wajah cemas Hito.
" Sayang..." Hito sontak mendekati Zahra begitu melihat Zahra di pintu.
" Kamu gak ada masalah kan?" Tanya Hito was-was.
" Masalah? Apa?"
" Kamu kenapa lama sekali keluarnya?" Zahra menepuk dahinya saat menyadari ia lupa mengabari.
" Maaf, lupa memberitahu mu."
__ADS_1
" Memberitahu apa?"
Hito seketika khawatir.
Zahra mengelus kedua tangan Hito." Tenang, bukan kabar buruk kok. Mumuy sudah sadar, aku hendak menghubungi orang rumah."
Hito terkejut, dia tidak percaya akhirnya kabar yang lama dinanti oleh banyak orang telah tiba." Benarkah? Apa aku boleh bertemu dengannya?"
" Boleh, tapi kemungkinan Mumuy tidur."
" Tidak mengapa, aku hanya ingin melihat kehidupan dari dirinya."
" Silakan."
" Terima kasih, kamu tunggu aku ya. kita pulang bareng."
" Aku mungkin gak pulang."
" Kenapa?"
" Aku... Dia sudah sadar itu menggembirakan, tapi bagaimana pun Mumuy baru mendapatkan operasi besar, selama 24 jam ke depan dia harus diawasi intens."
" Baiklah, tapi kamu tidur di ruang pribadiku."
" Ck, Kenapa harus di ruangan kamu?"
" Karena ruangan Mumtaz dan ruangan om Gama sudah berubah menjadi tempat penampungan anak."
" Terserah deh, aku langsung ke sana ya? Capek banget ini."
" Hmm, aku bentar lagi menyusul mu." Hito mengecup kening Zahra melupakan beberapa staff malam yang sedari tadi melirik memperhatikan interaksi santai diantara mereka.
Dan benar saja 30 menit setelah diberitahu, keluarga, dan sahabat dengan berpakaian kucel baru bangun tidurnya memenuhi lantai ICU.
Mereka mendesak para penjaga untuk diizinkan masuk melihat Mumtaz, namun tentu saja ditolak. Akhirnya setelah bernegosiasi dengan alot Ibnu diizinkan masuk sebagai perwakilan mereka.
Di dalam, Ibnu menatap muram Mumtaz yang menutup mata namun wajah itu terlihat sudah tidak begitu pucat.
" Apa benar lo sudah bangun? Mana? Kok Lo gak buka mata lo?"
" Buka yuk, gue pengen cerita keo kalau gue berhasil mengalahkan Navarro, gue pengen Lo bangga sama gue. gue bukan lagi pecvndang." Selalu, kata-kata itu selalu yang diucapkan Ibnu seakan pujian dari mumtaz adlah jimat berharganya.
Ibnu terus mengutarakan segudang bujukan untuk memancing Mumtaz sadar sampai dirinya tertidur di samping diri Mumtaz tanpa menyadari aktif Mumtaz yang bergerak mengelus tangannya.
" Ya ngapain juga cepat-cepat kalau Mumtaznya di ICU?"
Plak...
" Kok kamu mukul Papa?" Damien mengusap lengan atasnya yang digeplak kuat oleh Cassandra.
" Ngomongnya gak ngenakin banget, bukan gitu caranya bersikap pada orang yang sudah menyelamatkan putri kesayanganmu ini"
" Putri cerewet iya."
" Papa..." Gemas Cassandra menarik Damian ke arah lift yang direspon Damian terkikik.
Mereka sontak melangkah maju saat pintu lift terbuka di la tai yang dituju, Cassandra langsung berhadapan dengan Bara yang berdiri tidak bersemangat hendak menuju ruangannya.
Mata mereka saling bersirobok kaget, membeliak lebar sempurna begitu pemandangan terindah baginya yang telah alam hilang dan ia rindukan kini kembali hadir menyapanya.
" Cassy...." lirihnya.
Namun Cassandra melengos, ia berjalan ke banyak orang yang menunggu di depan ICU, tetpai langkahnya terhenti kala Bara memegang sikunya.
__ADS_1
" Kita harus bicara."
" Tidak ad ayang perlu dibicarakan." tolak Cassandra.
" Cassy, kamu pergi ninggalin aku tanpa kata, itu bukan sesuatu yang akan ku biarkan lolos begitu saja."
" Kenapa tidak? kenapa kamu tidak biarkan saja itu terjadi seperti aku membaurkan kebohongan kamu saat kamu membodohiku?" Cassandra marah diingatkan pada sesuatu yang membuatnya terluka.
Kalau bukan Mumtaz yang menemaninya disaat kekasihnya mengakalinya, mungkin dia akan menjadi sad girl.
Dia beruntung memiliki sahabat yang bakal seperti Sisilia yang tidak keberatan kekasihnya menyingsing waktu untuk dengannya.
" Cass, tetap saja bukan begini caranya."
" Kenapa kamu yang ahrus menentukan caranya? kamu menyakiti aku, aku muak sama kamu. sekarang bersikaplah akmu tidka mengenal ku."
" Mana mungkin, aku bisa emlakiakn itu padamu? bayanganmu saja terlalu aku kenali, apalagi dirimu." Bara frustasi.
Bisa ia lihat para sahabatnya memperhatikan dia Jeno menghampirinya, " Bar, bisa besok Lo bicara dengan Cassy. ini tengah malam, bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan pikiran jernih."
BUGH...
Bara mem-ukul Jeno tanpa sungkan hingga Jeno terjerembab, Cassandra berteriak karena kaget" kak Bara, ya tuhan..ka Jeno gak apa-apa?" Cassandra angin bergerak membantu Jeno berdiri namun ditahan Bara.
" kamu ikut aku."
" Aku gak mau."
" Ikut, Cassy. jangan memancing aku."
" Kalau aku tidak mau, apa yang akan kamu lakukan? hah? apa? Aku bukan budak kamu yang ahrus mengikuti perintah kamu." Cassandra mencoba melepaskan diri dari Bara.
" CASSANDRA..." Habsi sudah kesabaran Bara, ia terlalu lelah dan mengantuk untuk meladeni drma penolakan Cassandra.
BUGh....
Damian meng-hajar Bara," lepaskan tangan mud dari putriku, Atma Madina." geram Damian.
saking terkejut mendapati keberadaan Cassandra, Bara melupakan sosok Damian, ayah yang sangat protektif pada putrinya.
" Om, maafkan saya. saya bukan bermaksud menyakiti Cassy."
" Terserah apa maksudmu, yang saya tahu kamu wajib menghormati keputusan putriku yang tidak ingin menemui mu lagi." Damian membawa Cassandra menajuh dari Bara yang terus memandangi punggung Cassandra dengan kerinduan yang dalam...
__ADS_1