Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
111. Selangkah Lebih Dekat.


__ADS_3

Seperti biasa ritual malam Jum'at semua anak RaHasiYa dari geng BIBA remaja sampai geng dewasa memenuhi hampir seluruh ruangan tengah dan ruang tamu yang maha luas untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah diteruskan hadarat bacaan Yasin dan baca barjanji sekaligus Marhabah. Kali ini dilakukan di kediaman Birawa atas permintaan bunda yang selalu mengeluh rumah bak istananya sepi. saat ini


Selama pengajian shalawat berlangsung Tia henti air mata bunda Hanna terus mengalir haru melihat putra sulungnya yang biasanya berpakaian menawan berbalutkan pakaian kantor dan casual saat ini terlihat tampan penuh wibawa mengenakan peci, baju Koko putih dan sarung BHS begitupun dengan suaminya, ayah Teddy.


Kini mereka bercengkerama di ruang tengah yang sofa-nya sudah disingkirkan ke pinggiran tembok, mereka sibuk dengan tugas yang deadline menjelang libur akhir tahun.


" Bar, gue udah menganalisa, ini kasus berjalan lambat karena Lo gak bisa total jadi cowoknya si Tamara." Ucap Radit sambil memakan kentang goreng.


" Lo aja Dit yang jadi gue." Cibir Bara.


" Kalau dia-nya mau gue sih ayo aja, secara di kasih dada dan paha gratis, kalau beli di pinggir jalan Lo mesti keluar barang 7000 an mah itu." Jawab nyeleneh Radit.


"Bagaimana prospek dengan Lo, Bar?" Bara mengalihkan pertanyaan kepada Akbar.


Akbar terkekeh, " sepertinya dia bakal mengalihkan target pada Adgar." 


Mereka yang mendengar mengernyitkan dahi bingung.


" Si Adgar nikung Lo? Adaws" ringis Haikal yang mendapat geplakan di punggungnya dari sang empu yang berbaring tengkurap disampingnya.


" Noh, teman lo," tunjuk Adgar pada Akbar yang tertawa geli," dia bilang kalau dia miskin, dan gue CEO alhasil itu sun.dal mepetin gue. Jijik gue!" Adgar memasang muka mau muntah.


"HAHAHHAHAHA...!"Serempak satu ruangan tertawa terbahak-bahak, mereka sangat tahu jika Adgar yang cuek tak beda jauh dengan Zayin yang terkesan anti cewek, bukan berarti mereka belok. Mereka hanya berpikir kalau perempuan itu makhluk ribet dan merepotkan.


" Back to topic. Intinya lo harus menjiwai cinta Tamara, bikin dia mabuk atau apalah asal dia bisa bocorkan rahasia tentang dirinya." Seru Mumtaz santai namun serius.


" Mum, bukannya gue mau kasus ini bertele-tele, tapi sulit bagi gue berpura-pura suka sama dia apalagi mesraan sama dia."


" Siapa yang nyuruh Lo mesraan sama dia, Bang?" Sarkas Alfaska menahan tawa.


Bara berdecak," ck, dia itu lebih mesum daripada si Rio, sumpah selama gue dapet predikat playboy, gue paling takut dekat sama dia. Kalau gue cewek, pasti di kencan pertama keperawanan gue sudah raib digondol tu lon.te." sewot bara berapi-api.


" Dia kan memang sudah debol, makanya pro, Lo luarannya doang playboy, tapi dalamnya perjaka desa." Cibir Ubay.


" Jangan ledek gue sebelum Lo tahu keganasan Mama Aida, syukur-syukur gue masih bisa ***** sana- ***** sini." bara menoyor gemas kepala Ubay


" Heeh, setuju gue." Timpal Daniel.


" Terserah Lo sih, tapi gue kasih tahu waktu kita gak banyak. Gue khawatirnya kita gak bisa jaga dia. Ingat, Tamara semakin agresif sama Lo." Tukas Mumtaz santai.


Bara meleperkan tubuhnya di lantai," fine, i Will do it." Kesalnya.


" Sok ngomong Jawa lo." ledek Alfaska.


*****


Wajah Tamara tertekuk sedemikian rupa agar Bara paham kalau dia tidak suka gabung dengan para temannya yang sedari dia datang tidak menganggap dirinya ada, namun Bara santai tidak peduli.


Di taman dekat kantin ini anak RaHasiYa berkumpul untuk bersantai ditengah remedial UAS dan mengumpulkan tugas.


Mereka secara sengaja memuja dan memanjakan Cassandra secara berlebihan membuat Tamara bosan dan muak.


Tamara yang bergelayut manja dan sesekali mencium pipi Bara, dan menggerayangi badan Bara meski beberapa kali Bara tepis mampu membuat Cassandra yang duduk di samping kanan Bara terbakar cemburu.


Cassandra mencoba mengabaikan tingkah Tamara dan menikmati suasana sekitar, dia pun menanamkan dalam pikirannya ini hanya sekedar gimmick, demi tujuan besar nanti.


" Sayang, kenapa diam saja?" Bisik  Bara sambil sesekali mengusap punggung Casandra untuk memenangkan hatinya.


Cassandra tersenyum," enggak apa-apa, sedang menikmati kekonyolan petinggi RaHasiYa aja." Alibinya menatap ke depan dimana Ibnu sedang di keroyok oleh Daniel dan Alfaska karena kalah main kartu beregu melawan tim Rio.


Tamara berdiri merapikan pakaiannya" Sayang, kita pergi aja yuk, kita sudah dua jam di sini mulu bosen tahu." Rengek Tamara mengambil atensi Bara dari Cassandra. ia berdiri merapikan rok mininya


Bola mata Bara memutar malas," kalau Lo mau pergi, pergi saja gak ada yang melarang!"


" Gak bisa gitu dong kita pergi bareng." Tamara menarik-narik manja tangan Bara.


"Mau pergi kemana?"


" Apart kamu aja!" Katanya manja mangandung rayuan.


" Ngapain kita di sana? Ini masih siang."


" Ya kita cerita-cerita aja sambil merayap sana-sini." Tanyanya sambil meraba badan Bara secara seduktif.


Demi keberhasilan misinya Bara melepas tangan Cassandra yang digenggamnya, dan menerima uluran tangan Tamara.


Cassandra tertegun, hatinya nyeri kala Bara melepas tangannya demi dedemit itu.


 Senyum kemenangan terukir di bibir sensual Tamara, sekilas dia mencium bibir Bara yang terpaksa Bara diamkan aja Karena Mumtaz memperhatikan mereka.


" Ini di kampus jangan berulah."


" Hehehe, corry." ujarnya sok imut sembari menempelkan tubuhnya pada Bara.


" Tapi di apart saling memuaskan ya!" Ajak Tamara mengerlingkan sebelah matanya genit.


" Hmm." Jawaban Bara membuat Tamara bersemangat, sedangkan Cassandra bersedih, ia dihibur para sahabatnya, namun dia masih tetap memandangi tubuh mereka berdua yang berjalan semakin menjauh dengan saling peluk.


" Cass, sudahlah. Lo cari saja yang lain. Abang gue kayaknya stres beneran deh." Bujuk Dista sambil menyodorkan segelas es teh pada Cassandra.


Abai akan perkataan sahabatnya, Cassandra masih menatap sepasang kekasih itu, kedua tangannya mengepal saat melihat Tamara mencium rahang Bara lalu melirik Cassandra dengan senyum smirk kemenangan. Tamara tahu Cassandra cemburu, dan masih mengamati mereka.


Geram akan tingkah saingannya, mengambil langkah besar nan kasar Cassandra berjalan cepat mengejar mereka, para sahabat khususnya laki-laki berlari hendak menyusul, namun terlambat.


Saat mereka beberapa langkah dibelakang Cassandra, ia sudah menarik keras tangan Bara hingga tubuhnya berbalik lalu menarik tengkuk dan mencium bibirnya dalam dan panas.


Untuk beberapa saat Bara tercekat, merasakan keputusasaan dalam ciuman Cassandra, Bara pun membalas ciuman itu, ia menarik pinggang Cassandra agar lebih merapat dan memeluknya erat.


Para sahabat hanya bisa menepuk kening mereka.


Larut dalam decapan perpaduan bibir, mereka melupakan tempat mereka berpijak, mengabaikan sorakan para penghuni kampus yang gegap gempita menyaksikan  French Kiss live.


Adgar, hanya bisa menutup matamu malu. ini kali pertma dia melihat kakaknya berciuman dan itu sungguh membuat geli.


Namun itu tidak berlangsung lama, karena Tamara yang sudah naik pitam menjambak rambut sebahu Cassandra, menariknya kuat.


" Aaaaakhhwss...." Jerit Casandra terhuyung ke belakang.


Bara dengan sigap mencekal tangan Tamara yang berada di atas kepala Cassandra, melepas jambakannya lalu mendorong Tamara dengan kuat hingga dia tersungkur sampai terantuk lantai conblock. Kedua telapak tangan dan lutut Tamara lecet-lecet mengeluarkan sedikit darah di permukaannya.


" Aws." Ringis perih Tamara.


mata Bara menajam, " Jangan pernah berani kasar sama pacar gue!" Hardik Bara geram sambil menunjuk-nunjuk.


Tamara tersentak," sayang, Bara. Aku pacar kamu! Bukan dia!" Bentak balik Tamara sembari menunjuk Cassandra yang sudah diamankan oleh anak RaHasiYa. 


Para sahabat mengelilingi Tamara sebagai pencegahan atas serangan lanjutan terhadap Cassandra tanpa niat membantunya untuk berdiri.


" Pacar, seorang Atma Madina pacaran dengan pela.cur kayak lo? najis gue. Cuihhh!! Tersulut amarah, dengan entengnya Bara meludahi wajah Tamara.


" Kalau bukan, siapa aku bagimu setelah apa yang kita lalui selama ini?"


" Memang apa yang kita lakukan? colokan, Lo yang nyipok gue." cemooh Bara.


" Kita sudah tidur bareng." bentak Tamara, dia tidak bisa terima penyanggahan Bara atas keintiman mereka.


" Halu aja terus, daripada gue tidur sama Lo, mending gue sewa PSK."


" Huhuhu...." sorakan gemuruh para penonton mencemoohnya.


Wajah Tamara memerah karena malu ditonton oleh kerumunan ramai, kedua tangannya mengepal kuat, dia tak menyangka dirinya dipermainkan. Dia marah, dia tak akan membiarkan Bara hidup tenang.


Meski kesusahan, secara perlahan Tamara bangkit, menatap nyalang Bara," gue pastikan hidup kalian di menderita dan malu sampai kalian tidak mampu menampakan diri, terutama dia!" Pekiknya kuat menunjuk Bara dan para sahabatnya berujung pada Cassandra. 


Ketika Tamara hendak menunjuk Cassandra Mumtaz menghalangi pandangan Tamara atas diri Cassandra.


" Gue?" Tutur Mumtaz menunjuk dirinya sendiri dengan air muka dingin nan datar.


Nyali Tamara langsung ciut menghadapi tatapan tajam Mumtaz," Bu...bukan l...lo, ta...,ta...tapi...."


" Pergi!" serunya berat.


Cassandra masih menangis, dalam pelukan Dista yang dirangkul oleh Sisilia dan Tia.


" Kita kumpul!" Pinta Mumtaz berbalik memperhatikan keadaan Cassandra kepada Alfaska.


" Mumtaz." Riana memanggilnya sok khawatir..


" Riana,  menjauh atau gue bikin Lo kembali terluka." Karena takut, Riana menyingkir.


" Huhuhu..ada aja yang nyari panggung." celetuk salah satu orang menyindir Riana


" BUBAR! BUBAR!!" Seru Jeno kepada kerubunan yang menonton mereka.


" Lia, bawa Cassy ke RaHasiYa, ya. Kalian istirahat di sana. Aku pergi dulu, ada urusan."


Sisilia mengangguk," iya."


*****


Di markas Gaunzaga, ruang bawah tanah kedap suara dan anti gempa. Ibnu, Mumtaz, dan Jeno bertemu dengan petinggi Gaunzaga beserta Raul dan Rodrigo.


" Mumtaz, kami sudah sepakat akan memindahkan nyonya Belinda secara bertahap mengingat Medan lapangan tidak mendukung dan lebih sulit saat musim hujan."

__ADS_1


" Apa yang bisa kami bantu?" Tanya Ibnu, menahan gejolak emosi kepada Raul. Sebenarnya dia ikut pertemuan ini ingin memastikan sesuatu pada Raul.


Raul dan Rodrigo menatap janggal pada Ibnu yang terkesan tegang.


Mumtaz menghela nafas berat, " kami akan menyediakan robot pengintai dan serbu untuk mengamankan nyonya Belinda di setiap pergerakannya."


" Apakah itu efektif?" Raul bertanya karena ragu.


"  Penyerangan terhadap kartel di Meksiko menggunakan mereka, bagaimana menurutmu hasilnya?" Mumtaz bertanya kepada Rodrigo.


" Benarkah?" Rodrigo terkejut.


" Tentu, untuk itu pemerintah kalian meminta bantuan kami. Mereka tidak mau banyak nyawa penegak hukum yang gugur hanya untuk berperang melawan kalian."


" Shitt, karena itu kami tidak pernah menemukan korban manusia dari pihak pemerintah." Ucap Rodrigo kesal.


Pasalnya para pemimpin kartel kesal anak buah mereka banyak yang hilang bahkan meninggal dan banyak transaksi mereka gagal, tetapi mereka tidak menemukan siapa pelakunya.


" Baiklah kami akan berkoordinasi dengan kalian setiap pemindahan nyonya Belinda." Tutur Samudera.


" Kalian bisa bicarakan itu dengan Jeno, dia bagian lapangan." Kini semua mata melihat pada Jeno yang sedari tadi memperhatikan peta yang ada di atas meja.


" Kami akan mengirim beberapa orang sebagai mata-mata untuk mengawasi pergerakan mereka, saya kenal tuan Darman, beliau pensiunan kopassus. Salah satu pelatih kami."


Petinggi Gaunzaga terkejut, mereka menatap petinggi RaHasiYa takjub.


" Jangan berlebihan, saya tahu kalian pun dilatih militer luar. Jangkauan kalian lebih luas, sedangkan kami masih disekitaran TNI." Tukas Ibnu mulai menunjukan eksistensinya.


" Hanya, TNI no 16 terkait di dunia, dan kalian bilang hanya?" sarkas Dominiaz kesal dengan rendah hati para petinggi RaHasiYa


" Ibnu, apa ada sesuatu yang meresahkan kamu? Heru bertanya, karena sejak kedatangan mereka tadi, Ibnu terus menatap Raul dan Rodrigo secara intens.


" Ada, kepada tuan Raul dan tuan Rodrigo."


Raul dan Rodrigo menatap Ibnu bingung," apa yang bisa kami bantu?" Akhirnya Rodrigo penasaran.


" Apa kalian tahu kejadian kasus korupsi yang dituduhkan kepada salah satu pegawai G&N corp, Ahmad Sutami?"


Raul menegang, Rodrigo menatap dalam Raul. " Maaf , saya tidak tahu sama sekali." Jawab Rodrigo jujur.


Raul mengangguk," saya tahu, tapi hanya sekedar berita di tv. Meski demikian saya yakin beliau tidak bersalah." Roman Raul menyendu.


" Kenapa?"


" Karena saya punya buktinya, kami berdua yang melakukan audit perusahaan tekstil kala itu. Saya belajar banyak tentang keuangan dari beliau."


Kedua tangan Ibnu mengepal, wajahnya menatap Raul tajam" kenapa anda tidak menunjukkannya saat persidangan?"


" Saya akan menunjukannya, tetapi beliau melarangnya, beliau tahu persidangan itu dilakukan hanya sekedar formalitas. Semaunya sudah diatur, semua pihak sudah dibayar oleh Papa." kata Raul dengan intonasi tinggi meluapkan emosi hanya selama ini dia pendam


Tiba-tiba Ibnu menendang kuat meja di depannya hingga terbalik membuat cangkir peta dan beberapa kertas berjatuhan. Semua orang yang hadir terkejut guna menghindar, bahkan Heru terkena cipratan air teh panas.


" TETAP SAJA, SEHARUSNYA ANDA..." Bentakan Ibnu terhenti dengan dada naik turun saat Mumtaz memegang tangannya menenangkan.


" Beliau pikir, beliau akan melakukan banding, dan meminta hakim ad hoc yang menangani kasusnya, tetapi semua buyar, ketika vonis diketuk, dan mobil yang membawanya ke tahanan terbakar yang menyebabkan beliau meninggal.


Raul menaruh sebuah flashdisk ke atas meja yang sudah dirapihkan kembali.


" Ini, bukti valid ada di sana. Saya tidak tahu apa hubungan kalian dengan paman Sutami, tetapi saya harap kalian bisa membuktikan kepada masyarakat kalau beliau tidak bersalah." Sesal Raul.


Dapat Dominiaz lihat, bantuan RaHasiYa mulai tak pasti, dia khawatir RaHasiYa membatalkan kerjasama mereka.


" Bagiamana dengan kasus nyonya Belinda?"


Ibnu memberikan tatapan kepada Raul sangat tajam," apakah anda terlibat?" Raul menggeleng.


" Demi Tuhan, tentu tidak. Beliau adalah guru saya seorang auditor handal idola saya." Raul menjelaskan dengan terang, tak ingin ada kesalahpahaman berakibat buruk bagi keselamatan ibunya.


" Jadi,..." Tanya Samudera was-was.


Ibnu menghela nafas mengatur emosinya, Mumtaz memandang Ibnu mengambil keputusan.


" Teruskan, maaf saya permisi." Ibnu beranjak meninggalkan ruangan yang sebelumnya mengambil flashdisk atas meja.


Mumtaz memberi kode pada Jeno untuk mengikuti Ibnu," maaf saya permisi." Jeno pun menyusul Ibnu.


" Saya pikir pertemuan untuk saat ini disudahi dulu." Tukas Dominiaz, Mumtaz mengangguk.


" Om Hito, bisakah kita bicara?" Pinta Mumtaz mengode ke arah luar.


" Tentu." Mereka berdua pergi meninggalkan ruangan itu.


" Domin, apakah kau tahu siapa pemimpin sebenarnya RaHasiYa? Maksudku pasti ada yang menjadi pemimpin diantara mereka berempat kan?" Selidik Rodrigo.


Para petinggi Gaunzaga menatap curiga pada Rodrigo. Meski mereka saat ini berada dalam satu kubu jangan lupakan orang yang terlihat tampan khas latin, baik dan dan bijaksana ini merupakan pemimpin salah satu kartel terkejam di Meksiko, dan musuh organisasi bawah tanah Gaunzaga.


" Sorry, saya tidak bisa memberikan informasi tentang itu, sampai sekarang saya pun tidak tahu pasti siapa pemimpin diantara mereka." Terang Dominiaz santai tidak ambil pusing.




Hito dan Mumtaz duduk berdua dalam mobil Hito di kursi penumpang.



" Om, bisakah saya percayakan keselamatan Kakak padamu? Mungkin belakangan ini saya akan sulit memantau beliau."



" Saya tidak tahu dimana Ara tinggal, hubungan kami pun kian mendingin. Apa kamu bisa beritahu dimana dia tinggal?"



Mumtaz dengan menyesal menggelengkan kepala," saya pun tidak tahu."



Hito terkaget," serius?"



Mumtaz mengangguk," dia dibawah pantauan Ibnu, dan Kakak mengancam akan pergi jauh kalau saya mencoba mencaritahu dimana tempat tinggalnya." keluhnya



" Saya menyesal bertindak to.lol begitu, maaf sudah membuat Ara menagis."



Mumtaz mengedikan bahunya," saya dan Zayin hanya mengamati, kalian terlalu dewasa untuk kami ikut campur di dalamnya."



" Kakakmu itu kalau marah menyeramkan."



Mumtaz terkekeh, dia paham apa maksud Hito, Mumtaz menatap lurus manik Hito." Tapi om mencintainya, kan!?"



Hito membalas kembali pandangan antara lelaki itu," sangat." Ucapan yang menyimpan seribu janji.



Mumtaz mengangguk-anggukan kepala," saya percayakan keselamatan Kakak padamu. Saya permisi."



Hito tersenyum penuh haru," terima kasih."



Mumtaz keluar dari mobil Hito menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari sana.



Dominiaz menghampiri Hito, berdiri saling bersampingan," dia sekarang sudah termasuk salah satu pemuda konglomerat, tetapi masih saja mengendarai motor pemberian gue." Komentarnya.



" Gue juga tidak paham cara berpikir keluarga calon bini gue, dengan mudah mengulurkan tangan untuk membantu." Ujar Hito menekan kata calon bini.



Dominiaz melihat Hito dari samping," masih aja panas sama sohib sendiri."



" Kalau temannya modelan kayak Lo, gue punya anak perawan juga tetap gue kekepin supaya jauh dari Lo." Dengkus Hito.


__ADS_1


Dominiaz tertawa puas," kita jodohin aja anak kita yuk!" Hito bergidik membayangkan itu.



" Bapaknya modelan Lo, ibunya modelan Delfina? NO, BIG NO!" tanpa sungkan Hito menolak berlalu dari area parkiran mobilnya.



Dominiaz tertawa sambil mengikuti langkah Hito, " ayolah, To. Delfina lembut dan baik."



" Halu Lo, Jude nauzubillah begitu, nanti anak gue dapet mertua kayak di tv ikan terbang. Males."



Adu mulut antar dua sahabat kental itu terus berlanjut sampai memasuki gedung mewah berlantai empat itu.



\*\*\*\*\*



BUGH!!



Lagi, Ibnu memukul Mumtaz keras, Jeno hanya menyaksikannya dari sofa panjang di ruang tamu mama Aida.



" Lo suka banget mukul gue!" Protes Mumtaz.



" Karena Lo pantes dipukul."


 Bentak Ibnu.



" Lo tahuabu tentang apa yang tadi dikatakan oleh Raul bukan? Lo tahu apa isi dari *flashdisk* ini, kan?" Retoris Ibnu dengan frustasi.



Mumtaz hanya mengangguk," gue gak kasih tahu Lo, karena gue tahu Lo bakal marah, dan merusak semua rencana gue." 



" Rencana apa?" Jangan bilang semua jawabannya ada di dokumen yang Lo sudah kasih ke gue." 



"Mumtaz menyengir tanpa dosa," memang itu jawabannya.



"Muy, gue yang berhak atas kasus ini, ini tentang orang tua gue." Bentak Ibnu habis kesabarannya, dia muak akan tingkah Mumtaz yang penuh teka-teki.



Mumtaz menarik kerah Ibnu lalu mendekatkan jarak tubuh mereka hingga manik matanya menatap lurus dalam jarak dekat dengan iris hitam Ibnu. Jeno sudah siaga.



" Jangan buat gue marah dengan mengatakan itu orang tua Lo, ikuti alurnya atau gue tutup semua akses informasi tentang ini dari Lo semuanya." Ancam Mumtaz tegas.



" Gue sudah merencanakan ini dengan matang, dan tidak akan membiarkan satu orangpun merusaknya, termasuk lo." Desisnya dingin.



Mumtaz melepas cekalan kerahnya, menjauhkan jarak diantara keduanya, mengalihkan perhatiannya pada Jeno.



" Jen, suruh Ragad dan Jarud urusan orang-orang yang sudah gue kirim datanya ke Lo." Mumtaz mengambil ranselnya.



" Nu, Lo ikut gue." Mumtaz berjalan ke arah pintu.



" Kemana?"



" Lo lagi cosplay cewek cerewet?" Omel mumtaz yang kesal kekepoan Ibnu.



" Iya, iya. Baperan Lo, kayak cewek lagi putus cinta." Ibnu mengekori langkah Mumtaz.



Meski dia menunduk pada iPadnya, Jeno dapat mendengar celotehan dua sahabat kental tersebut, dia menggelengkan kepala.



" Kita mau ketemuan dengan bapak Darman tercintah."...



\*\*\*\*



PLAK!!!!



Tamara terjatuh terduduk di atas lantai akibat tamparan keras dari Guadalupe.



" Setelah mencuri uang saya, masih berani kamu datanh ke mansion ini."



" Maaf, say lakukan itu agar saya bisa masuk kedalam keluarga Hartadraja. mereka sulit untuk ditaklukan."



" Kamu bilang, kamu sudah mendapat restu Sri."



" Ternyata itu tidak cukup, peran Nyonya Sri ternyata tidak terlalu kuat, aku harus mengambil hati tuan Fatio. dan Akbar cucu kesayangan beliau." terang Tamara.



" Omong kosong."



" Sungguh, semuanya akan berhasil saya menikahi Akbar."



" itu semakin berlarut, saya ingin kamu cepat eksekusi Sri."



" Kalua begitu kenapa tidak anda culik saja beliau."



" Seperti ide bodoh kamu menculik Cassandra dan gagal."



" Saya akui saya salah perhitungan, tapi kali kita pantas mencobanya. kita bisa bujuk Sivia untuk membawa Sri makan di luar, dan kita culik beliau."



" Sivia tidak akan mau melakukannya?"



Tamara berjalan mendekati Guadalupe," saya punya sesuatu yang membuatnya mau melakukannya." serunya dengan senyum devilnya....

__ADS_1



**cusss like n komen ya...hadiah juga tengkyu**..


__ADS_2