
" Selamat pagi semua..." Mumtaz menghampiri keluarga Pradapta yang sedang berkumpul di ruang makan.
" Pagi, apa kamu sudah sarapan?" Tanya Elena yang sibuk menata makanan ke atas meja.
sesudah kejadian putus dan galaunya Sisilia, Elena mencoba melihat Mumtaz dengan cara lain, secara perlahan dia bisa melihat ketulusan Mumtaz pada Sisilia.
dia bisa lihat bagaimana Mumtaz mampu menangani sikap marah Sisilia yang dibalut diam, membimbing Sisilia yang terkadang judes, meski kepada orang tuanya. pada akhirnya dia bisa melihat bagaimana mereka bisa menyelesaikan persoalan ditengah perbedaan mereka.
" Sudah, tadi bareng yang lain di rumah sakit "
" Bagaimana kabar Zahra?" Gama menyeruput kopinya santai.
" InsyaAllah Hari ini pulang. Kalau ada waktu kalian mampir ke rumah, ada syukuran di sana."
" Kapan?"
" Malam nanti."
Dominiaz berdecak " Ck, teman kamu itu selalu memanfaatkan setiap situasi untuk makan gratisan."
" Hehehe, gak murni iseng. Ini juga upaya terapi Kak Ala, mereka ingin menghapus peristiwa tidak menyenangkan saat terakhir kali barbequean."
" Modus." celetuk Dominiaz.
" Kamu kenapa sih sensi amat?" Omel Elena tak mau calon mantu kesayangannya dijulidkan.
" Gak gitu, Mom. Perasaan masa muda Domin tidak seasik mereka."
" Ya karena teman kamu tidak seasik teman Mumtaz." Ledek Gama.
" Iya sih, cuma Erwin yang bisa diajak ngomong gak jelas."
" Itu mah D L." Elena memukul pundak Dominiaz.
" Maaf melerai, btw Sisilia-nya mana?"
Terdengar langkah menuruni anak tangga,
" Mom, Lia tidak sarapan di rumah." Lia berdiri di samping Mumtaz yang duduk di kursi meja makan.
" Kenapa?"
" Udah dijemput." liriknya pada Mumtaz.
" Makan, santai aja." Mumtaz menarik lembut tangan Sisilia ke kursi yang disampingnya.
" Tapi kamu nanti telat."
"Biar, gak telat gak asik."
" Kak..."
" Makan, jangan mensia-siakan masakan Mommy, mumpung masih bisa menikmatinya. Kakak aja rindu banget masakan Mama dan suasananya." Tersirat kepiluan dari suara gemetar yang coba disembunyikan Mumtaz.
Untuk sesaat suasana hening.
" Kakak tidak akan menjemput Tia?" Sisilia mengalihkan pembicaraan yang canggung.
" Semua ada waktunya, sekarang yang terpenting kak Ala dulu."
" Om, Tante. Maaf mungkin untuk kedepannya saya belum bisa memperlakukan Lia dengan baik, saya harus lebih fokus mengurus Kak Ala dulu." Raut Mumtaz berubah sendu.
Gama melipat dan menaruh korannya ke atas meja," jangan cemaskan Lia, dia masih ada kita dan yang lainnya."
" Kak..." Sisilia menggenggam tangan Mumtaz yang tersampir di atas meja.
" Aku harap kamu sedikit memahami situasi ini."
" Hemm." Sisilia mengangguk.
" Jangan minta putus, nanti langsung galau sendiri." Celetuk Dominiaz.
" Bisa gak tidak merusak suasana haru orang lain?" Omel Sisilia.
" Kakak mu jomblo, mana paham sih." Timpal Gama.
" Hahahaha. Kasiaaan deh, tampang lumayan tapi nasib ngenes." Ledek Sisilia.
" Terus aja ledek, putus kakak gak mau nampung air matanya lagi ya."
" Cih, gak bakalan putus juga kok! Wle." Sisilia mengibrit meninggalkan ruang makan sebelum kakaknya membalas ledekannya.
Melihat Sisilia sudah selesai makan, Mumtaz pamit.
" Mumtaz pergi dulu." Mumtaz mencium tangan semuanya sebelum meninggalkan ruang makan.
Elena mnetapa kepergian Mumtaz dengan tatapan dalam.
" Kenapa Mom?"
Elena menggelengkan kepala," kemana ya otak Mommy, dulu meragukan akhlak Mumtaz?"
" Lagi traveling Beli tas baru." Jawab ngawur Dominiaz.
Elena mendelik sebal," Mommy do'ain kamu punya istri yang bikin kamu darah tinggi. Kayak ulah kamu ke Mommy.
Gama terkekeh melihat kekesalan istrinya pada anak sulungnya, ia beranjak hendak mencium pelipis Elena.
" Kalau gak ngeselin, dia bukan putra kita." Diciumnya pelipis Elena lama.
" Domin, kalau Arya datang lagi padamu untuk urusan Zahra, langsung tarik saham kita di perusahaannya. Males Mommy bekerjasama dengan mereka."
" Kan bukan Mommy yang bekerjasama dengan mereka." Lagi, Dominiaz memancing emosi Elena yang merupakan hiburan tersendiri baginya.
" Dommiiinnn.." Greget Elena memperagakan kedua tangannya seolah menjambak rambut Dominiaz.
" Iya...iya. tanpa Mommy suruh juga bakal Domin lakuin."
****
" Kita gak turun ni?"
" Bentar lagi." Jari jempol Mumtaz masih mengusap tangan Sisilia yang masih memeluk pinggang Mumtaz.
Sudah lima menit dari Mumtaz memarkirkan motornya di parkiran kampus, namun mereka tak kunjung beranjak turun.
" Kamu kenapa? Cerita ke aku." Sisilia menaruh kepalanya di pundak Mumtaz.
" Gak ada apa-apa."
" Ini kenapa? Tumbenan kamu romantis gini."
Mumtaz tersenyum," cuma kangen aja." Satu tangannya mengusap kepala bagian depan Sisilia, lalu mengecupnya.
" Aku cinta banget sama kamu." Ucapnya menoleh ke samping arah Sisilia.
" Melebihi ke kak Bella?"
Mumtaz mengernyit bingung," kok begitu?"
" Ya...kamu dulu cinta banget sama dia." Sisilia mengeratkan pelukannya yang mendapat pelukan balasan tangan Mumtaz di tangannya.
" Gak begitu cintanya juga sih, aku diajarkan Mama untuk mencintai sampai akhir agar tidak ada rasa yang tertinggal di ujungnya. Sewaktu putus sama dia aku biasa saja gak merasakan sakit apapun karena aku udah berusaha sebaik yang aku mampu dalam mencintainya." Mumtaz memberi pengertian pada Sisilia.
" Apa kak Ala juga Tia sepemikiran kayak kamu?"
" maksudnya?"
" ya,..kak ala masih bertahan dengan om Hito meski beberapa kali telah direndahkan oleh Nenek. begitupun dengan Tia."
" iya kali, Waktu Mam ngomong demikian di depan kami semua sih. Kata Mama hanya orang bodoh yang pisah dari pasangan, tapi masih gagal move on. karena pasti hidupnya dihantui rasa penasaran yang akhirnya terjebak pada masa lalu."
" Kalau kamu ketemu dia lagi, gimana?"
" Gak gimana-gimana, biasa aja layaknya orang kenal satu sekolah.
" Kalau kak Bella ngajak balik?"
" Gak mau, sekarang aku punya kamu, putus kemarin cukup bikin aku galau sebenarnya, tetapi daripada meratapinua aku mikirnya gimana caranya kamu balik sama aku."
" Beneran kamu sedih?"
"Iya."
" Kok terlihat biasa saja?"
__ADS_1
" Kan aku harus kelihatan bagus dipandang oleh kamu, supaya kamu mau balikan lagi sama aku. Jangan lagi-lagi ya."
" Hemm."
" Apapun yang kita rasakan kita bicarakan. Aku menjalin hubungan ini bukan untuk main-main hanya mengisi kisah masa muda, aku pake perasaan aku ke kamu."
" Hmm." Sisilia menyembunyikan wajahnya di bahu Mumtaz.
" Aku sayang kamu." Ucap Sisilia teredam bahu Mumtaz, tetapi masih bisa terdengar.
" Banyakan aku."
" Mumtaz..." Mereka menoleh kearah suara, terlihat Riana berdiri di pelataran parkiran dengan cemberut
Sisilia mengerang sebal." Satu lagi ujian hidup." Sisilia turun dari motor Mumtaz.
Mumtaz terkekeh geli melihat cemberutnya Sisilia," Hehehehe." Kalau gak ada ujian hidup kamu bakal monoton, tidak berkualitas."
Mumtaz membawa Sisilia memasuki area gedung kampus
" Tapi kesal."
" Kenapa kesal?"
" Dia mepetin kamu mulu."
" Tapi aku mepetin kamu, itu yang terpenting."
" Iya juga ya."
Mumtaz mengecup kening Sisilia.
" Tolong jaga sikap ini kampus. Kamu perempuan baik-baik kan!?" Sungut Riana yang berjalan di belakang mereka.
" Lo juga mau kalau gue berminat gituin ke Lo." Jawab pedas Mumtaz yang tidak suka komentar Riana.
" Mumtaz..." Panggil Riana dengan sedikit rengekan yang diacuhkan oleh Mumtaz.
" Mumtaz..." Sedikit membentak.
" Apa sih, masih pagi udah cari perhatian aja. Lo cewek baik-baik kan?' sarkas Mumtaz, Riana mengangguk.
" Cewek baik-baik gak cari perhatian cowok yang sudah nolak dia beberapa kali, jadi introspeksi diri lebih baik sebelum ngatain orang." Telaknya tetap melajukan langkahnya membawa Sisilia dengan menggenggam tangannya
Riana mematung, wajahnya memerah karena malu. Pasalnya beberapa pasang mata memperhatikan mereka dengan berbagai tatapan yang pastinya tidak baik baginya.
******
Riyanti, nama wanita yang sedang sibuk di dapur apartemen Aryan seolah dia adalah ratu di rumah tersebut. tidak peduli berapa kali Aryan melarangnya, namun dia tetap melakukannya, karena dia punya misi yang tidak boleh gagal.
Saking khusu' dalam lusaha memikat sang atasan, Riyanti tidak menyadari ada seseorang yang menatap tidak suka akan tindakannya.
" Sudah berapa kali saya bilang jangan melewati batasanmu, sepertinya kau meremehkan saya." Suara berat nan tajam, membuat dia terlonjak karena kaget.
" Ma...mas..."
" Panggil saya bapak, saya atasan kamu. Jijik saya mendengar kau memanggil saya begitu."
Riyanti, terbeliak. saking terkejut akan perkataan pedas dari atasannya yang baik.
" Ma,af ma...pak."
" Apa yang sedang kau coba lakukan?"
" Saya memasak."
" Kau tahu bukan itu maksudku."
" Pa...pak..." Riyanti sungguh ketakutan, dia hanya bertekad tidak akan mundur dari niatnya untuk menggaet atasannya itu.
Aryan memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
" Apa kau pikir proses perceraianku dengan istriku memberimu peluang mengisi kekosongannya?" Tanyanya tajam.
" TIDAK! Jadi hentikan usaha kamu untuk mendapatkan saya."
Riyanti menunduk terdiam, ia tahu ia salah dengan berbuat hal yang dilarang atasannya itu, tetapi ia tak menyangka jika atasannya itu akan Semarah ini.
" Bersihkan!"
" Sekarang, termasuk semua yang kamu masak."
" Ma..." Riyanti menggeleng,"..pak, tapi sayang saya..."
Tak bicara lagi Aryan memasukan semua hasil masakan bahkan apa yang sedang dimasak Riyanti kedalam kantong sampah, Riyanti syok, wajahnya beku dengan mata membola besar, Mulut ternganga.
" Kau hanya asisten saya, kecuali urusan pekerjaan, lakukan apa yang saya perintahkan."
Aryan mengambil tas tangan Riyanti yang tergeletak di atas meja pantry, mendorong-dorong kasar tubuh Riyanti, begitu Riyanti telah berdiri diluar pintu, Aryan melempar tas tangannya yang jatuh mengenai wajahnya..
" Sebaiknya kau buat surat resignmu, atau bertindaklah sesuai kapasitasmu."
Brugh!!!
Pintu apartemen ditutup keras tepat dimuka Riyanti yang masih memasang wajah syok.
Setelah lima menit mematung, barulah kesadarannya pulih, ia gelagapan, panik, tanpa pikir panjang menggedor-gedor pintu.
" Pak, maafkan saya. Maafkan kelancangan saya, saya mohon jangan pecat saya!!" Raung Riyanti kalap.
jeritan itu berlangsung beberapa lama sampai dua penjaga keamanan menyeretnya meninggalkan unit Aryan.
*****
" To, sudah dua hari Lo diam, serius Lo akan diam saja? Erwin sungguh mengkhawatirkan sahabatnya ini.
Sejak tiga hari dimana Hito tak sengaja mencuri dengar kondisi sesungguhnya Zahra dari mulut Ibnu di kamar inap Bara, Hito hampir tidak mengeluarkan kata. Niat awal Hito ke kamar Bara ingin membicarakan bisnis dengan Bara terkait pembangunan hotel di daerah Kalimantan, tetapi yang dia dengar malah cukup membuat resah hatinya.
Para keluarga dan sahabatnya pun sudah kehilangan akal membujuk Hito bicara.
" Aaarrghhh." Hito memegangi kepalanya kesal dan frustasi.
Heru berlari mendekatinya khawatir hanya jeritan ini yang kerap keluar dari mulut Hito, ia prihatin dengan keadaannya sahabatnya itu.
Tak ingin hal buruk terulang lagi Heru berlari menuju kamar inap Zahra.
Ceklek!!
Heru memasuki kamar Zahra yang sedang sibuk memberesi barang-barangnya dengan tatapan memohon.
" Ada apa?" Tanya Zahra khawatir sesuatu terjadi pada Hito atau Tante Dewi Zahra meninggalkan kegiatannya langsung menghampiri Heru dibawah tatapan mawas dari para sahabat adiknya.
" Tolong Hito, aku tahu ia sudah salah padamu, tetapi tolong dia. Dia tidak baik-baik saja." Heru berucap sedih.
" Tolong ceritakan dengan jelas." Meski begitu Zahra tetap melakukan panggilan pada prof. Farhan yang selama ini menangani Hito.
Zahra menarik Heru ke sofa mengusir Haikal dan Rizal yang sedang membahas pembelian produk RaHasiYa.
" Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya, tetapi sejak tiga hari yang lalu sepulang dari kamar inap Bara, dia tidak banyak bicara."
" Tak ada om Hito kesana? Kerena hari itu saya yang dapat giliran menungguinya." Timpal Ibnu yang berdiri di depan lemari pakaian.
" Apa maksudmu tidak kesana? Saya yang mengantar dia masuk ruangan Bara." Ucap Heru bernada agak tinggi karena mencemaskan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu.
Beberapa detik kemudian wajah Heru menegang," apakah beliau dengar apa yang saya katakan kepada Tia?"
Zahra dan Heru menatap Ibnu bingung.
Heru bergerak resah ditempatnya," eehh..itu...."
"Nu..." Tegur Zahra tegas.
" Aku bercerita tentang kondisi kakak pada Tia, aku pikir saat itu om Hito mendengarnya." Cicit Ibnu tak berani menatap Zahra yang menatapnya lekat.
" Ka...kalian tahu apa yang terjadi padaku?" Tanya Zahra hati-hati memastikan, Ibnu mengangguk.
Heru melihat keduanya dengan bingung.
" Ada yang bida memberitahukan aku apa yang sedang kalian bicarakan?" Heru semakin bingung.
" Aku akan ke kamar Hito untuk memeriksanya." Tutur Zahra beranjak dari kamarnya.
****
Tia menghentikan langkahnya begitu lihat Sandra duduk manja di sofa panjang sambil membaca majalah fashion.
__ADS_1
" Mi..."
Sandra menutup majalahnya begitu mendengar panggilan dari Tia.
" Kamu sudah pulang?"
" Iya." Tia mencium tangan Sandra.
" Mami udah lama di sini?"
" Lumayan."
" Kenapa tidak telpon Tia dulu."
" Telpon kok, tapi gak nyambung."
Tia mengambil ponselnya dari tas kuliahnya, melihat riwayat panggilan masuk, tetapi tidak ada dari Sandra.
Sandra memperhatikan penampilan Tia dari atas sampai bawah
" Gak ada panggilan dari Mami."
" Gak tahu, tapi Mami telpon kamu."
" Kamu ini, penampilan kok sederhana banget."
Tia langsung waspada, dua hari ini ia sudah memikirkan langkah yang akan dia ambil untuk memperbaiki sikapnya. Semua kekacauan ini bermula dari salah langkah darinya atas sambutan tangan Sandra atas dirinya, maka dia yang harus memperbaikinya.
" Aku kuliah, Mi. Bukan mau kondangan." Tia tak akan membiarkan Sandra mendikte penampilannya lagi.
" Ya gak senorak itu."
" Ini kasual, Mi. Dan ini masih bisa dibilang modis."
" Ck, sudahlah. Mami kesini mau ingetin kamu besok datang ke acara. Arisan Mami." Sandra menyerahkan satu papperbag.
" Mami udah siapain apa yang harus kamu pakai dalam papperbag itu."
" Besok ada UAS, Mi."
" Datangnya setelah UAS. Acaranya siang kok."
" Aku usahakan ya Mi. Telat dikit gak Masalahkan ya."
" Gak apa-apa, tapi jangan disengaja.
" Enggak Mi."
" Ngomong-ngomong bagaujna kabar Mami?"
Mata Sandra sontak mendung," Papi kamu untuk meneruskan gugatan talaknya." Lirihnya. Suaranya berubah sedih.
" Apa Mami gak coba ngomong sama papi."
" Papi kamu kayaknya sudah tidak cinta lagi sama Mami. Dia sudah punya yang baru, Masih muda lagi." Matanya menerawang pada kejadian beberapa hari lalu di lobby apartemen Aryan.
" Masa sih? Tia gak yakin papi berpaling dari Mami."
" Kenapa begitu?"
" Ya tiap hari Papi telpon Tia nanyain keadaan Mami kayak orang lagi kasmaran."
Mata Sandra langsung berubah cerah.
" Beneran? Kamu tidak lagi PHP-in Mami kan?"
" Tidaklah, buat apa juga. Mami harus mulai peka terhadap Papi."
" Coba diinget lagi apa yang dulu Mami lakukan untuk papi tidak Mami lakukan lagi? Supaya terjawab apa yang menyebabkan semua ini terjadi." Tia mencoba membuat Mami menyadari hal terpenting dalam hidupnya.
" Apa Mami siap kehilangan Papi?"
Sandra menggeleng, " itu yang paling Mami takutkan, tetapi itu yang akan terjadi."
" Itu hanya akan terjadi jika Mami diam saja. Kasih unjuk ke papi, biarkan Papi tahu kalau bagi Mami, Papi tetap yang paling berharga."
" Semuanya sudah terlambat." lirihnya.
" Belum, masih ada kesempatan selama hakim belum mengetuk palu."
" Tapi bagaimana jika Papi menolak Mami, Papi sudah kecewa sekali pada Mami."
" kalau begitu Mami yang memperbaikinya. Sekarang apa sebaiknya Mami istirahat dulu dari semua kesibukan Mami?"
" Tidak bisa."
" Kenapa?"
" Sekarang Mami bekerja pad Afa, Afa tidak akan mengijinkannya."
" Boleh Tia coba bicara dengan Aa Afa?"
" Dia tidak akan mendengarkannya."
" Aa Afa peduli pada Mami, boleh Tia coba?"
" Iya ,tapi jangan hanya untuk bela Mami, bikin kamu lebih dibenci olehnya."
" Tidak akan. Aa Afa paling cinta pada kita."
" Cinta akan hilang jika terus dikecewakan." Lirih Sandra kala menyadari hal itu.
" Setahu aku tidak untuk cinta antara orang tua dan anak."
Sandra terdiam, dia masih merenungi perkataan Tia. Dia mengambil kedua tangan Tia ke dalam satu genggamannya.
" Tia, Mami tahu cara mami dinilai salah, tapi mami harap kamu paham Mami sayang kamu, dan semua keluarga kamu. Mami harap kita satu visi mempertahankan keluarga ini.
Tia terdiam, sungguh dia tidak bisa meng-iya-kan perkataan mertuanya.
Tak ada respon dari menantunya cukup membuat ego Sandra tersentil, itu membuat mood Sandra anjlok
" Terserahlah. Lakukan apa yang kamu lakukan, ingat dimanapun kamu melangkah, nama Alfaska Atma Madina terbawa olehmu.Mami pulang dulu." Sandra menahan emosi gusarnya, dia Tia ingin menyakiti menantunya.
" Hati-hati, Mi."
Selepas bayangan Sandra menghilang dibalik pintu lift, Tia menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang, menghela nafas berat. Ia memejamkan kedua matanya lelah.
****
Alfaska menatap layar besar di ruang kerjanya yang menampilkan kelelahan Tia dengan air muka muram. Inilah rutinitas terbaru Alfaska setelah sibuk seharian.
" Sayang, apa kita bisa bertahan? Semoga kamu lekas kembali, aku selalu bertahan untukmu sebagai apapun kamu untukku." Lirihnya ditengah derasnya air mata.
Alfaska menutup wajah dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar karena menangis.
Mumtaz, Ibnu, dan Daniel yang semula ke ruang kerja Alfaska ingin membahas mengenai Gonzalez terdiam, bersimpati pada kesakitan Alfaska.
" Kita tunda?" Bisik Ibnu.
" Langsung ke H resto saja. Hubungi dia dari sana." Jawab Mumtaz. Berbalik badan. Diikuti oleh kedua sahabatnya.
*****
Di hotel the Sultan di presidential suite. Semua barang mewah diruang tengah tersebut hancur karena ulah Eric Gonzalez yang murka pada Rodrigo.
" Kau pikir kau bisa mengalahkan ku, ingat kau berada di posisi sekarang karena aku, maka aku yang bisa menghancurkan mu." Murkanya menggunakan bahasa spanyol
" Papa, sungguh aku tidak tahu apa yang membuatmu marah padaku."
" Kau...kau yang melaporkan campuran mariyuana pada menu restoran kita kan?"
Rodrigo memang Majah kaget, " mana aku tahu soal itu. Kalau memang melakukan itu, itu cukup gila. Ini Indonesia!"
" Persetan dengan Indonesia, kau menghancurkan Bisnisku. Sekarang restoran itu sedang disidak oleh polisi atas laporan seseorang, dan itu pasti kau."
" Papa, aku baru beberapa hari di sini dan aku sibuk. Kau pikir aku punya waktu mengurusi restoranmu?"
Eric terdiam, dia ragu akan kesimpulan kecurigaanya ini.
" Pa, ini Indonesia. Kau punya banyak kenalan baik di kepolisian maupun di senayan, beri mereka gratifikasi agar kasus ini ditutup atau setidaknya kau tidka bersalah. Gunakan itu!" Bujuk Rodrigo yang diucapkan seakan hanya sekedar advice saja.
Mata Eric yang semula tajam karena marah, sekarang mulai berbinar. Sedangkan Rodrigo tersenyum devil tipis dengan roman muka santai...
__ADS_1