Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 39 terungkap


__ADS_3

Enam jam sebelum Dista mabuk


" Alex, gue pengen malam ini Lo rusak si Dista." Ujar Samuel, partner in crime-nya Adinda


" Kenapa dah?"


" Coz dia udah bikin Dinda gue kesal."


" Ada syaratnya, ini pekerjaan gede. Lo tahu kan siapa dia?"


" Sebutin aja apa mau lo. Gue gak peduli dia siapa, yang gue mau Lo rusak, dan Lo kirim photo berserta video ranjang kalian."


" Gue pengen ***-*** sama Adinda. Sumpah gue gak tahan lihat body dia."


" Oke. Anggap aja Lo udah tidur sama dia."


" Hah! Beneran Lo bolehin? Dia cewek Lo loh."


" Ck. Not big deal. Udah biasa bagi gue dia tidur sama orang lain." Ucap santai Samuel.


Alex terperangah mendengar gaya hidup bebas mereka. Itu semua diluar nalar dia.


Dia memang brengsek, tapi dia tak Sudi jika kekasihnya tidur dengan orang lain.


" Oke. Deal. Malam ini gue bakal bawa Dista ke club flower."


" Yakin Lo dia mau?" Samuel meragu. Pasalnya club flower adalah club striptis dan sering di pakai pesta ***.


" Gue yakin dia gak tahu apa itu club flower, jadi mumpung dia lagi galau kita manfaatin."


" Terserah Lo."


***


Bara dan para sohib mengendarai mobil dan motor dengan kecepatan tingkat pembalap profesional. Segala protes pengendara lain tidak dihiraukan.


Membebaskan Dista dari bajingan itu adalah prioritas utama mereka.


Daniel dibonceng Rizal membelah jalan Jakarta dengan kecepatan gila. Di atas motor dia mengaktifkan drone tanpa awak keluaran terbaru produksi Birawa tekno, mengirim lokasi ke drone melalui GPS ponselnya, selanjutnya drone tersebut akan menemukan tempat perkara dengan sendirinya.


Sesampainya di tempat, Bara langsung menunjukan kartu identitasnya kepada para penjaga club yang langsung memberi jalan masuk kepada Bara dan rombongannya.


Memasuki club mereka dihampiri Raja


" Brian Sama gengnya lagi tempur sama pasukan Alex dan Samuel."


Bara menelpon seseorang di seberang sana


" Suruh mereka datang ke club flower, dan habisi pasukan Alex dan Samuel."


" Mana Dista?" Tanya Bara


" Udah gue amanin bang. Dia bareng Juan sekarang." Terang Raja.


" Kalo temen gue datang, langsung bawa Dista keluar."


" Siapa bang."


Lantai yang biasa dipakai goyang diiringi music sekarang menjadi arena pertumpahan darah. Bara menuju tempat pertempuran beserta para sohibnya.


" Nu, Lo tangani segala bentuk media di sini. Daniel, Lo pindai semua lawan dan sekitaran club, Jimmy, Lo hancurin perusahaan mereka." Titah Mumtaz yang bergegas menyusul Bara.


Bara ketika datang ditempat pertempuran langsung menghajar secara acak siapa saja yg menjadi lawan geng Brian, sedangkan Mumtaz mengamati keadaan.


Tring,...


Satu notifikasi masuk.


Setelah mendapat laporan gambar bernama Alex dan Samuel yang dikirim ke ponselnya oleh Ibnu, Mumtaz berjalan tenang ke Medan pertempuran mencari dua sosok manusia laknat itu ke seantero ruangan.


Matanya fokus ke kedua orang yang berdiri di pojok mengamati perkelahian dengan wajah sumringah beberapa jarak dari belakang mereka terdapat beberapa bodyguard bertubuh besar


Menyelinap ke belakang area lewat balik meja bar, berjalan di himpitan jarak antar sofa dan tembok, merayap di jalan terbuka antara meja dengan tempat berdirinya mereka. Terkadang sambil berjalan Mumtaz memukul, menghajar lawan yang menyerangnya. Mumtaz menyelinap ke belakang tubuh para bodyguard, dan melumpuhkan satu persatu para bodyguard tersebut tanpa suara.


Pekerjaan ini bukan lah hal sulit bagi Mumtaz mengingat dua tahun lalu dia berhasil membebaskan ayah Teddy Birawa dari para penculik yang bersembunyi di dalam  kapal pesiar tengah lautan pulau seribu tanpa diketahui pihak lawan.


Di luar club dipimpin oleh Jeno, Radit, Haikal, dan Yuda mereka mengepung club. Para anggota junior ditugasi mempereteli setiap kendaraan lawan. Mereka sudah tahu siapa lawan mereka ketika nama Alex dan Samuel disebut Bara. Para anggota senior memasuki arena club tanpa halangan dari penjaga club.  


Dua orang pemuda berdiri mengamati jalannya pertempuran antar geng dari sudut pojok jalan keluar belakang club.


" Lihat, Bara Atma Madina sebentar lagi bakal mampus. Dia pikir dia mampu melawan anak buah gue yang sudah gue panggil seluruhnya." Ujar Alex pongah


" Berapa banyak anak buah Lo." Tanya Samuel sambil merokok.


" Ratusan. Cukup banyak buat seorang Bara mati, dan setelahnya gue bisa nikmati Dista sepuas gue." Tawa cabul membana ditengah perang sengit antar geng di dalam club.


" Gue gak peduli tentang Bara, yang gue mau Lo rusak Dista serusak-rusaknya. Supaya dia jangan berani hina cewek gue lagi.


Tiba-tiba mata mereka membulat kala melihat bala bantuan Bara yang datang dari berbagai arah club. Raut wajah sombong mereka seketika sirna diganti wajah pucat pias.


" Semua angan-angan Kalian itu akan musnah!!" Desis menyeramkan Mumtaz dari belakang mereka


Refleks mereka menoleh ke arah suara, mereka tersentak terkejut mendapati Mumtaz di belakang mereka. Mumtaz langsung melancarkan pukulan tepat ke tengah wajah mereka, dalam sekejap mereka pingsan


Perang pun berakhir!!.


Tiga perempuan yang ditinggal di mobil Daniel berkeringat dingin menunggu Dista.


Mereka sudah ditugasi membawa Dista pulang begitu Dista dibawa keluar dari club.


" Kok mereka pada gak keluar ya." Celetuk Cassy.


" Si Ita nya sih bebal dibilang jangan deketin Alex masih aja ngeyel " omel Tia.


Tak lama terlihat Raja dan Juan memapah Dista yang mabuk diantara mereka. Mereka mendekati raja dan Juan mengambil alih Dista yang terkulai lemah.


" Kalian mau ikut kita atau mau masuk lagi?" Tawar Sisilia


" Kita masuk lagi aja, Kalian bisa ngurus dia kan?" Tanya Raja.


Mereka mengangguk tiba-tiba Dista memuntahkan isi perutnya di hadapan Tia. Muntahan Dista mengenai sebagian wajah dan pakaian Tia.


Mereka tertegun syok dan seketika terdengar jeritan marah dari Tia.


" AARRRHH... Ita, ya Allah muka gue kena kotoran Ita. Tia merengek jijik tercium bau minuman menyengat dia berlari ke mobil mengambil tissue


Dista kehilangan keseimbangan karena tubuhnya dilepas Tia secara mendadak, para sohibnya tidak sempat memeganginya, dia terjatuh tengkurap di tempat parkiran depan club beralaskan muntahannya sendiri.


Mereka menghela nafas berat. 


" Malam ini bakal jadi malam zupperrrr panjang." Keluh Cassy. 


Bagian luar dan dalam club sudah terkepung pasukan Bara.


Di hadapan Bara dua orang tengah di sidang dengan posisi berlutut terikat bagian tangan dan kakinya.


" Siapa yang menyuruh kalian?" Aura mematikan yang dipancarkan Bara tidak terbantahkan


Mereka diam, Bara memukul keras tepat rahang mereka sehingga memuncratkan darah dari mulut mereka.


" Bawa mereka ke markas the Baraz." Titah Bara. The Baraz adalah Sebuah bangunan tua berlantai dua yang terdapat di tengah hutan dijaga oleh beberapa anjing Labrador marah karena lapar. 


Tempat itu dikhususkan untuk lawan yang berani menyentuh langsung anggota keluarga. Biasanya sang korban akan di eksekusi di halaman luas bangunan, dan dibuat babak belur setengah sadar. Dari tempat kejadian akan disuguhi obat, makanan, dan minuman. korban akan dibiarkan tergeletak sehingga amis darah akan mengundang para anjing memangsa mereka.

__ADS_1


" Ya, Lo balik bareng Kak Mumtaz aja ya. Ini si Ita harus segera diangkut, kalo enggak bakal nambah ngerepotin lagi." Ujar Raja memberi kunci mobilnya kepada Tia, memasukan Ita kedalam mobil Daniel dibantu yang lainnya dan meluncur meninggalkan club.


Tia menagngguk sembari tetap fokus membersihkan diri dari muntahan Dista


Selagi Tia sibuk membersihkan diri dengan tissue dan air yang ada di mobil Raja


Trung,...


Satu notifikasi masuk. Tia membuka kiriman gambar dan video dari seseorang dengan pesan


" Penasaran lihat reaksi mereka kalo photo dan video vulgar lo gue sebar."


Wajah Tia berubah pucat pasi,  matanya menatap kosong, dadanya sesak tiba-tiba dia sulit untuk bernafas. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya.


Tersentak kepanikan Tia mengalihkan pandangan kepada dua orang yang diikat kedua tangan dan kakinya yang sedang di gotong oleh para pasukan Bara ke sebuah mobil Van warna hitam.


Samuel yang melihat Tia mengerlingkan sebelah mata dengan senyum mesum, dia menjulurkan lidahnya dan memutarkan ke sekitaran bibirnya.


Perbuatan Samuel sukses membuat Tia hilang kesadaran. Tubuhnya mulai kehilangan pijakan dan menjatuhkan diri ke depan dengan mata mulai menutup


" TIA,..." jerit Mumtaz yang melihat adiknya kehilangan kesadaran berlari kencang guna menangkap tubuh oleng Tia.


Tia jatuh tepat dalam pelukan Mumtaz. Mumtaz membaringkan Tia, dia tengadahkan kepala Tia dan membuka mulut nya. Saat dirasa nafas Tia mulai teratur dia membawa kepala Tia ke atas pangkuannya menepuk-nepuk pipi Tia. Para sahabat mendatangi mereka mencoba melakukan pertolongan pertama pada Tia.


Tatapannya jatuh pada ponsel Tia yang masih menyala, Mumtaz melihat isi kiriman dari nomor tidak dikenal. Dia terhenyak melihat photo dan video yang ada dilayar ponsel adiknya. Dia remas ponsel itu kuat-kuat.


" Muy, fokus." Bentak Jimmy. Jimmy menggendong Tia ala bride dan membawa ke rumah sakit."


****


Rumah Sakit Atma Madina.


Ruangan inap Tia yang luas terasa sempit. Banyaknya orang yang berada dalam ruangan mengelilingi ranjang Tia menatap sendu mama Aida yang tak berhenti menangis mengusap tangan Tia.


Mumtaz duduk dipojokan sendiri. Dia sibuk dengan tab di tangannya. Wajahnya datar tanpa emosi.


Derrt... derrt


" Hallo," Daniel berpindah ke ruang tunggu.


" Hallo bang, Lo dimana? Ini bini Lo maksa mau ke rumah Lo." Ucap Raja diseberang saluran


" Hah, mau ngapain?"


" Mana gue tahu. Dia dari tadi marah-marah bentak Lo mana rambut gue abis dijambakin mulu. Aaawss Ita sakit. Lepas ga rambut gue."


" Bang sorry gue terpaksa bawa Ita ke rumah Lo kita berempat udah gak kuat nahan dia." Raja menutup sambungan telponnya.


" Ishh,..." Daniel frustasi menghadapi segala kejadian malam ini.


" Kenapa Lo?" Tanya Jimmy.


" Ita, maksa mereka ke rumah gue."


" Hah, serius lo!"


" Iya. Kasih tahu yang lain kita ke rumah gue."


Mama Aida di rumah sakit di kawal Yuda, Haikal, Radit, dan Jeno.


****


Kediaman Birawa


Dista berjalan terhuyung ke pintu utama rumah mewah itu. Dia menggedor-gedor pintu pada pukul sebelas malam.


Para temannya menarik tangan Dista guna menjauh dari rumah itu, namun ditolak Dista dia berontak, sebelah tangannya memeluk pegangan pintu yang panjang


Dista menggedor-gedor pintu sampai telapak tangannya memerah menteriaki Daniel agar membuka pintu, tubuhnya dia senderkan di daun pintu.


Para temannya hanya bisa duduk pasrah di teras luas Daniel. Mereka sudah kehabisan tenaga hanya untuk mengurus satu Dista


Blak!!!


Pintu dibuka sesorang dari dalam tubuh Dista terhuyung kedepan


" Hehe,... Aniel cayang lama amat buka pintunya." racau Dista khas orang mabuk memeluk erat ayah Teddy yang mengernyit dahi karena keheranan.


Ayah Teddy menutup hidungnya karena bau menyengat yang keluar dari tubuh dan mulut Dista.


" Ayang,... Kamu gak bisa pergi lagi dari aku. Kalo kamu gak mau pacaran sama aku, aku bakal telanjangi kamu dan teriak kalo kamu perkosa aku.xixixi..." Dista memanyunkan bibirnya ke arah ayah teddy hendak mencium mata ayah membulat kaget.


Para temannya membolakan mata menutup mulut mereka. Juan yang pertama tersadar dari keterkejutannya sigap mengeluarkan ponsel dan merekam semua kejadian ini.


" Ayang, sini. Mana bibir kamunya." Racau Dista. Ayah Teddy menjauhkan wajahnya dari Dista yang terus Dista paksa tarik mendekat lewat tarikan tengkuk ayah Teddy. Bunda Hanna dan Ayunda hanya menahan geli saja.


" Ayaaanggg..." Rengek Dista


Di belakang mereka terdengar derap langkah kaki dari beberapa orang yang mendekat dengan tergesa. Daniel dan yang lain terbelalak terkejut melihat ulah Dista yang memeluk leher ayah Teddy dan memanyunkan bibirnya untuk mencium.


Daniel seketika menarik Dista menjauh dari ayahnya. Dista menatap Daniel dengan mata setengah terbuka.


Dista menepuk pipi Daniel dengan kedua tangannya menjepit pipinya sehingga bibir Daniel mengerucut


" Hahahah... Daniel ada dua. Aku mau yang ini. Cini cium aku. Dari tadi susah amat mau cium kamu doang, eh sebentar" Racau kesal dista.


Dista mengambil sesuatu di totebagnya dia membuka kotak kecil yang didalamnya ada dua cincin dengan ukiran unik tanpa batu apapun.


Dista memasangkan satu cincin ke jari manis Daniel, satu lagi ke jari manisnya" karena aku bakal perkosa kamu, sekarang kamu pake cincin ini sebagai simbol kamu milik aku, Bukan cewek lain." Tegas  Dista menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.


" Sekarang cium aku. Kamu dulu pernah cium-cium aku sampe kita kehabisan nafas xixixi...." Daniel membekap mulut Dista yang terus memberontak. Sedangkan yang mendengar ocehan  Dista melotot dengan mulut terbuka.


" Aniel bawa Ita ke kamar dulu buat bersih-bersih" Daniel yang risih segera membawa Dista ke kamarnya.


Ruang keluarga Birawa.


" Apa sering Dista mabuk begitu? tanya ayah


" Ini yang pertama, dan Aniel pastikan ini juga yang terakhir. Dia dicekoki oleh teman laki-laki nya." Daniel mengusap gusar wajah lelahnya.


" Untuk lebih jelasnya ayah lihat ini." Imbuh Ibnu.


Ayah mengambil tab dari tangan Ibnu dan melihat isi cctv club. Dimana Dista dipaksa terus oleh Alex untuk menghabiskan minumannya meski Dista sudah memohon untuk berhenti. Bunda Hanna dan Ayunda tersentak kaget, sedangkan ayah  biasa saja menanggapinya.


" Dia Alex Santoso kan?


" ayah tahu dia?"


" Dia sering menjadi perwakilan perusahaan ayahnya yang ingin bekerja sama dengan Birawa tekno dalam pengembangan mobil amfibi." Terang ayah.


" Batalkan." Ucap tegas Daniel.


" Tentu. Rencananya besok kami akan meeting."


" Bara menyesal besok dia tidak bisa menghadiri meetingnya." Ucap Bara tajam.


" Its oke, Toh hanya agenda pembatalan. Kita lanjut nanti. Sudah malam kalian istirahat di sini saja. " Ayah beranjak pergi ke kamarnya.


" Gue pergi ke rumah sakit, Mama sendirian aja di sana."


" Ada nyokap gue, Tadi di jalan gue telpon beliau minta tolong temenin mama Aida."


" Kita ke lantai tiga. Yang lain istirahat aja dulu."

__ADS_1


Lantai tiga rumah mewah Birawa bisa dikatakan laboratorium pribadi Daniel guna  penelitian pengembangan segala macam inovasi sains dan teknologi dengan fasilitas lengkap juga terdapat empat kamar tidur yang diperuntukan bagi para sahabat.


Mereka duduk di sofa mengelilingi meja besar


" Jadi bisa Lo jelasin omongan Dista tentang ciuman kehabisan nafas?" Sindir Bara


Daniel membuang nafas jengah " bisa di skip, Ini privasi."


" Yang Lo sebut privasi melibatkan adik gue." Tolak Bara


" Itu kejadian lama waktu gue kelas sepuluh, Ita kelas delapan."


" Anjir sepupu gue masih bocil, edan." Sarkas Jimmy. Ibnu hanya nyengir.


" Gue udah cinta sama Ita dari dia lebih bocil. Waktu itu pulang sekolah dia ada di kamar gue singkat cerita gue cium dia, dia gak nolak terus keterusan Ampe dia mukul gue karena kehabisan oksigen. Finish." Tukas Daniel


" Terus kenapa Lo jauhin dia setelah Lo rusak dia?" Selidik Bara


" Gue gak bisa jadi good boy kalo Deket dia, Lo gak tahu betapa gue syok habis ngelakuin itu. Itu pertama kali gue sadar pengaruh Dista bagi gue."


" Jadi Lo ngejauhin dia buat kebaikan dia, gitu?" 


" Itu yang gue pikir. Niat gue nunggu Dista dewasa terus gue lamar dia."


" Alasan konyol."


" Bego."


" Sok baik."


Hujatan Daniel terima dari para sahabatnya.


" Kalo udah gini Lo mau ambil langkah apa?"


" Ya gue lamar lah. Gila aja gue kalo masih jadi pengecut."


" Gitu dong. Itu baru temen gue." Sindir Ibnu.


Sekarang tatapan mereka tertuju kepada Mumtaz. Mumtaz yang mendapat tatapan intens dari para sahabatnya menghembuskan nafas berat.


Dia menuju  ruang konferensi tempat mereka mempresentasikan ide mereka yang dilengkapi layar besar memenuhi seluruh salah satu sudut tembok dengan segala alat pendukungnya.


Dia menyambungkan tab ke layar itu muncul beberapa photo dua anak kecil laki-laki dan perempuan bugil berusia sekitar delapan tahun dengan berbagai pose intim dewasa. Dilanjut pemutaran video


Dengan latar belakang kamar tidur, dua anak kecil Satu laki-laki dan perempuan yang sama dengan di photo . Seseorang di balik layar memberi arahan untuk dua model ciliknya itu, Ditaksir dari suara orang itu pun masih kecil.


" Iya, Samu sekarang kamu pegang dada Marya, Marya pegang tangan Samu." Dengan polos mereka menurut.


" Sekarang Samu pegang pinggang Marya, Marya pegang dada Samu. Lagi, mereka menurut.


" Oke, good. Sekarang Marya pegang yang di bawah yang panjang punyanya Samu, Samu pegang yang bawah punyanya Marya pertama pake telapak tangan seterusnya cukup pake jari telunjuk kamu, nanti telunjuk kamu masukin ke kepunyaan Marya dan kamu gerak-gerakin ya." Ucap bocah di balik kamera.


Seketika terdengar tarikan nafas di ruangan kendali itu. Sebenarnya mereka ingin mematikan video itu, tapi demi penyelidikan mereka harus menyelesaikan tontonan mereka


Ketika Samu bocah mengulurkan tangan kebagian bawah. Marya kecil menangkis tangan itu.


" Din, kok begini. Katanya kita bakal bikin video ulang tahun buat senang-senang." Ucap Marya kecil dengan menahan tangis. Tercetak jelas raut ketakutan di wajahnya, namun sepertinya dia tidak berani menolak.


" Cih. Heh Marya kalo kamu mau jadi teman aku, kamu harus nurut omongan aku." Bentak bocah cilik yang dipanggil Din


" Ta...ta...tapi..."


" Kamu kalo gak mau jangan jadi temen aku." Hardik Din kecil.


" I...i...iya...mau." lirih Marya kecil


" Gitu dong. Ayo sekarang kalian cepat lakukan yang tadi aku bilang."


Samu kembali mengulurkan tangan memegang bagian bawah kewanitaan Marya, Marya merapatkan mata ketakutan. Saat tangan Samu hendak bergerak lebih dalam membuka kewanitaan Marya terdengar


BRAK!!


Pintu di dobrak oleh dua orang bocah laki-laki. Bocah itu memukul keras wajah Samu dan langsung menutup tubuh kecil Marya dengan seragamnya.


" Bayu pegangin si Dinda jelek itu." kepada gadis yang berteriak kaget dan mengeluarkan sumpah serapahnya


Melihat seragamnya tidak dapat menutupi seluruh tubuh Marya, dia menarik paksa sprei dan membalutkannya ke seluruh tubuh Marya.


Mengambil seragam Marya, " pakai seragam kamu di kamar mandi, Jangan nangis terus, Aa di sini." Ujar bocah itu.


" Zayin si Dindanya gerak-gerak mulu." Ujar bocah bernama Bayu bertubuh tambun


" Kamu dudukin aja badannya pake badan gaban kamu." Bocah bernama Zayin itu mendekati Samu kecil yang meringis kesakitan.


Zayin duduk di atas badan Samu dan memukuli wajah Samu tanpa belas kasih dengan kekuatan usia delapan tahun yang mengikuti bela diri pencak silat.


" Boleh?"


" Silahkan. Aku yang tanggung jawab." Zayin menjawab sembari tetap memukuli Samu.


Marya keluar dari kamar mandi dengan seragam sekolahnya. Zayin baru berhenti memukuli Samu dengan diakhiri tendang di pinggangnya.


" Bayu, ayo kita pulang."


" Terus si Dinda di apain?"


Zayin mendekati Dinda, menarik kerah seragamnya dia menampar keras kedua pipi Dinda, dan mereka pergi dari ruangan itu.


Sesaat tidak ada yang membuka mulut, mereka masih syok akan tontonan mereka.


" Ini  video versi full yang gue ambil dari laptop bernama Adinda Aloya. Anak D3 Kesekretarisan angkatan baru universitas Atma Madina.


" Siapa cewek yang bernama Marya? Tanya Jimmy,...


Mumtaz menatap intens Jimmy " Marya diambil dari kata Maryatul dari nama panjang Maryatul Qibtiah." Jawab Mumtaz


Tubuh Jimmy menegang, raut wajahnya mengeruh


" Lo yakin? Tanya Jimmy memastikan.


" Dulu Tia anak yang susah bergaul dia hanya dekat dengan Zayin, tapi Zayin orangnya cuek bahkan enggan berdekatan dengan Tia yang manja." Terang Mumtaz.


" Gue ingat suatu waktu Zayin minta ijin ke ayah buat mereka loncat kelas dengan alasan pengen satu sekolah sama gue padahal usia kita beda lima tahun. Gue juga baru inget Zayin yang cuek mendadak overprotektif kepada Tia. Kemana Tia pergi di situ Zayin ada. Semuanya itu di mulai saat mereka berusia delapan tahunkelas tiga SD." Mumtaz memejamkan matanya seolah kembali pada saat itu.


" Gue paham kalo lo sulit menerima ini. Gue paham kalo Lo menjauh dari adik gue." Mumtaz beranjak melangkah keluar ruangan


" Bangsat." Jimmy menarik pundak Mumtaz  untuk menoleh padanya dan memberikan satu pukulan keras di wajah Mumtaz


" Lo pikir gue sepicik itu? Lo tahu sejarah hidup gue. Kalo hanya itu Tia disebut rusak, bagaimana dengan gue, Lo sebut apa gue hah? Teriak Jimmy, matanya berkaca-kaca


" SIALAN!! AARRGGHH!!! Jerit Jimmy mengeluarkan sesak hatinya mendapati kisah pahit wanita tercintanya.


" Lo seorang Atma Madina, tanpa kisah ini mami Lo gak merestui kalian. Menurut Lo bagaimana kalo mami Lo tahu tentang ini? Tantang Mumtaz.


" Lo pikir gue butuh restu mami gue buat nikahin Tia? Gue gak peduli mami merestui atau tidak gue tetap akan menikahi Tia. Gue udah bilang itu ke mami." 


" Kalo mama Aida mengijinkan gue berani nikahin Tia sekarang juga."


Mereka mendongak menatap Jimmy.


" Kita di belakang Lo Jim." Ucap Ibnu.


" Langkah apa yang akan Lo lakukan, Muy? Kita ikutin." Ucap Daniel

__ADS_1


__ADS_2