Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 120. Penyelamatan Belinda.


__ADS_3

" Sesuai instruksi presiden, TNI dan polri membentuk tim gabungan guna merazia peredaran narkoba pada malam tahun baru, hal ini senada dengan desakan masyarakat yang mulai resah akibat peredaran narkoba yang dinilai sudah meluas. Pemicu desakan ini akibat dari ledakan beberapa hari lalu..." 


" Yeah..yeah..yeahh.. terus saja buat tim, ini belum seberapa. Tidak lama lagi kalian akan mendapat kejutan yang lebih dari ini." Eric menatap sinis berita dilayar televisi dari kursi kebesarannya.


Sejak mendapat telpon dari detektifnya Eric menikmati kesendiriannya dengan memegang sebuah foto wanita yang menampilkan senyum lebar, wanita cinta sejatinya, itu sebutan yang Eric berikan pada foto Belinda.


Ia menyandarkan diri di kursi, pandangannya menerawang membayangkan kembalinya wanita pujaannya setelah sekian lama, dia akan membawa wanitanya ke tempat dimana tidak ada yang bisa memisahkan mereka lagi, termasuk Raul.


" Masa bodo dengan masalah narkoba, setelah aku mendapatkannya kembali aku akan meninggalkan Indonesia."


Rencana yang sejak dulu tersimpan dalam otaknya harus segera direalisasikan.


Eric melakukan sambungan telpon," hitung semua asetku, aku ingin menjualnya dalam waktu dekat." Serunya kepada akuntan pribadinya yang langsung dimatikan tanpa menunggu jawaban dari seberang.


" Selamat tinggal Indonesia." Gumamnya penuh sumringah.


Eric beranjak untuk bersiap menghadiri undangan pesta penyambutan tahun baru dari duta besar Meksiko.


Meski restorannya sedang tersangkut masalah hukum, namun sosok Eric Gonzalez tidak serta merta dapat langsung diabaikan.


Figurnya masih kuat sebagai pengusaha asing yang sukses di Indonesia.


****


Di basecamp yang terletak tidak jauh dari jalan masuk hutan dikawasan bogor, Jeno dan Mumtaz menatap senja yang mulai menggelap, hujan semakin menambah keseraman wajah hutan yang rencananya akan mereka lalui.


" Bang, dalam keadaan kering medan gak gampang, ini hujan pasti tambah sulit." Ujar zeki, pemimpin yang membawahi beberapa geng motor, wakil Bara di daerah Bogor.


" Makanya pasukan Lo harus siaga 1. Ini peta udah final?" Jeno merujuk pada peta ditangannya.


" Pastilah, beberapa anak buah juga udah stay di beberapa pos, mewaspadai penyusup." 


" Berarti tinggal nunggu utusan aja nih." 


" Zek, makanan dan minuman tadi kalau kurang Lo beli lagi. Kemungkinan Ragad gue suruh balik." Mumtaz memberi dua linting uang berwarna merah.


Zeki menerima dan menghitungnya," kebanyakan ini, bang." Ucapnya melirik uang yang berjumlah dua juta tersebut.


" Terima aja, dia udah kaya. Aws." Ringis Jeno mendapat geplakan di kepalanya dari Mumtaz.


" Habis Maghrib kita cabut, ada atau tidak ada utusan tersebut." Mumtaz melangkah masuk ke basecamp hendak memeriksa kembali persiapan mereka.


" Mum, yakin cuma kita berdua?" Jeno bergerak cepat mengimbangi gerakan Mumtaz yang bersiap dengan peralatan hendak masuk hutan setelah sebelumnya mereka shalat Maghrib berjamaah.


" Kenapa? Takut Lo?"


" Ck,.." 


" Di sana sudah banyak orang, kita tinggal tunggu utusan Ragad, dan kabar dari pak Darman."


" Beliau double Agent, tak sedikit double agent menjadi pengkhianat."


Mumtaz terkekeh, " Terlalu banyak nonton James Bond, Lo."


" Iya ya, si Adgar gaweannya, sejak dia jadi bagian dari Daniel, di otaknya cuma ala-ala spy gitu."


Lagi, Mumtaz hanya bisa terkekeh sambil melahap sebutir coklatnya.


" Bang, sorry gue telat, jalannya enggak banget." Ujar Agus ngos-ngosan, pemuda berusia 18 tahun utusan Ragad yang memberi secarik kertas pada Mumtaz yang berisi tulisan sansakerta kuno, sandi rahasia yang mereka pake dalam misi ini.


Salah satu alat komunikasi rahasia yang disepakati oleh petinggi RaHasiYa kala mendapat misi mata-mata.


Mumtaz mengamati pemuda yang basah kuyup, berwajah lelah itu memberi raut menyesal.


" Its okey, nanti Lo aspal aja jalannya, ganti baju, disana banyak makanan dan minuman hangat." Cibirnya bercanda, yang mendapat tawa dari pemuda tersebut.


" Oke, gue ngehangatin badan dulu."


" Hmm."


Butuh waktu 15 menit bagi Mumtaz memahami isinya.


" Gimana rencananya?"


" Biasa klise, kita nyerang mereka, bocorannya beberapa anggota dari pak Darman adalah mata-mata Gonzalez, jadi kita harus berantem beneran."


" Berapa jumlah mereka?"


" Di sini sih tertulis 10 orang, tapi bisa lebih. Pak Darman mewaspadai penyusup."


" Bang, hujan udah reda." Seru Zeki.


Mumtaz dan Jeno briefing dengan Agus sejenak, setelah bertukar pikiran dan mencapai kesepakatan mereka bersiap pergi sebelumnya mereka berdoa terlebih dahulu.


" Bro, cabut dulu. Jaga camp." Ucap Mumtaz ke beberapa pemuda yang sedang duduk-duduk santai, yang diangguki mereka bertiga.


" Yoi, hati-hati bang."


****


Zahra bertopang dagu memandangi hujan yang deras, sinar matanya meredup saat ingatannya kembali pada kejadian tadi siang.


Sorot luka dan kecewa serta perkataan tajam dari Tia padanya sangat menyakiti hatinya. 


Dibelakangnya Radit menatap punggung Zahra yang terkesan penuh beban, ingin dia memeluknya menawarkan kenyamanan, namun ia masih sayang nyawa.


" Kak, daripada lihatin banjir, mending lihatin aku." Radit menyuguhkan pesanan semangkuk mie rasa seblak extra pedas komplit di kedai penjual beragam mie instan yang dipadupadankan dengan berbagai sambal terkenal dan toping daging serta ayam khas olahan Indonesia.


Untuk sesaat Zahra tergelagap," Ck, masih saja usaha padahal dari tadi ditolak juga."


" Sebelum janur kuning me..."


" Kamu yang jadi pagar ayu kalau saya nikah."


" Pake konde dong." Ucap Radit dramatis.


" Pakai rok mini juga gak apa-apa." Radit mendengkus, ia mulai menyantap hidangan mie ayam bawang ditambah sambal Matta dengan daging rendang.


" Kalau om Hito lihat kita berdua begini, apa yang terjadi ya."


" Paling keluarga kamu jadi pengangguran semua." Celetuk Zahra yang menghasilkan raut ngeri dari Radit.


" Main aman, mundur perlahan sebelum bendera putih berkibar."


" Hahahaha...."


" Hujan, kasian banget anak-anak di rumah udah pada prepare begitu. Eh enggak jadi."


" Mereka udah pasang tenda raksasa mengantisipasi hujan."


Zahra menoleh ke Radit dengan raut kaget," Serius?"


" Hmm, kan langitnya juga udah mendung banget dari pagi."


" Iya sih."


" Ini aku anterin kakak pulang kemana?"


" Rumah temanku, tapi sebelumnya kita shalat isya dulu ya."


" aku mah manut aja kemauan bidadari akoh."


Keduanya beranjak meninggalkan kedai menuju mesjid terdekat.


****


Suasana rumah Aida sudah kembali santai, para tetangga dan pemuda sudah mulai berkumpul dan sibuk persiapan untuk barbequean merayakan malam tahun baru.


" Aa Ayinnn..." Adelia lari menerobos gerimis menuju Zayin yang sedang berkumpul di bawah tenda meninggalkan Heru dan Dominiaz dibelakangnya.


Zayin langsung berlari menjemputnya ke dalam gendongannya.


" Kok hujanan sih, sakit nanti." Ucapnya seraya mengeringkan rambut Adelia menggunakan handuk kecil."


" Hehehe, abis kangen Aa." Rengeknya.


" Apasih masih bocil tahu kangen-kangenan." Sewot Zayin tidak suka.


" Ical, mana?" Zayin celingak-celinguk.

__ADS_1


" Kok nanyain Ical, Adel cembulu loh." Ungkapnya polos, para pemuda yang mendengarnya terkikik geli.


" Heh, sekolah dulu baru cemburu." Omelnya, Adelia merengut lalu berontak dalam gendongan Zayin guna mendekati Raja.


Tanpa permisi Adelia duduk di pangkuan Raja lalu mencium pipinya. Para pemuda melotot bengong.


" Aa cembulu kan liat Adel cium Aa Aja?" Ucapnya sombong.


Untuk sesaat Zayin pun melongo, begitu tersadar dia langsung kesal.


" Heh, turun! Masih bau popok udah berani cium-cium. Gimana kalau udah gede mau jadi jamet?" Omel Zayin menyeka bibir Adelia.


Raja yang melihat tindakan Zayin merotasikan bola matanya malas.


" Lo pikir gue najis apa sampe dibersihin begitu?" Raja sewot sendiri.


" Iya, mugaladzoh malah. Bukan mahram " delik Zayin tajam.


" Ya Allah.. ya.. Rabb.." erang Raja geregetan.


" Ini ada apaan?" Tiga petinggi RaHasiYa datang pakaian dan rambut mereka agak basah terkena rintikan hujan.


Mereka serempak menoleh, masing-masing dari mereka tanpa kentara memperhatikan Alfaska yang sudah terlihat santai.


" Udah kembali, bang." Tanya Juan.


" Hmm." Tanggapan Daniel seadanya.


" Mamy cama ayah seling ciuman." Adu Adelia polos.


Kembali atensi mereka kepada drama Adelia dengan Zayin.


Zayin mendelik sinis pada Heru yang ditanggapi Kedikan bahu oleh sang empu.


" Mereka orang tua Adel, udah nikah, Del."


" Kalau gitu ayo kita nikah, cupaya punya anak kaya Mamy."


Semua pasang mata terbelalak kaget, wajah Zayin sudah memerah.


" Astagfirullah, om ini pasti ulah Kak Edel. Itu orang harus dijauhi dari Adel. Kak Edel dimana?" Amuk Zayin.


" Di rumah." Heru menggeleng kepala tidak habis pikir mengenai tingkah Zayin.


" Ayo kita temuin Mamy kamu, mulai sekarang no tante-tantean, Kakak aja." Dumelnya pada yang lainnya.


Zayin dinaungi payung Heru sambil menggendong Adelia berjalan menuju rumah Eidelweis.


" Lah si ege, gimana mau jauhin kak Edel, orang Kak Edel ibunya." Celetuk Haikal.


" Terus ini dia mau marahin emaknya si Adel gitu?" Timpal Rizal.


" Hahahaha.." serempak tawa memenuhi isi tenda.


Dominiaz menatap punggung Zayin.


" Dia lebih posesif ketimbang Lo, Ru."


" Bahkan si Zayin udah janji dia yang bakal seleksi calon suami si Adel." Ungkap Juan.


" Segitunya?" Dominiaz terheran.


" Dia orang paling maju kalau ada yang hina Adel." Sahut Ubay.


" Alasannya dia yang makein Adel popok." Timpal Rio.


" Kan kita juga pernah gantiin popok si Adel kalau kak Edel sibuk." Akbar ikut nimbrung.


" Astaganaga..." Erang Dominiaz.


" Apa mereka bersaudara begitu protektif sama perempuan kesayangannya?" rujuknya pada Mumtaz dan Zayin. Mereka semua mengangguk cepat.


" Daripada ngegibahin si Zayin, ayo semua bubar persiapan dzikir." Seru Ibnu, mereka semua beranjak hendak ganti pakaian.


" Fa,.." Alfaska, Daniel dan Ibnu menoleh pada orang yang dibelakang Heru berjalan mendekati mereka.


" Pi,.." Alfaska langsung memeluk Aryan.


Dalam kamar tidur Alfaska bercerita apa yang terjadi, butuh 20 menit Alfaska menceritakan awal mula gesekan antara Zahra dan Tia sebelum bertambah runyam seperti ini.


" Maaf, Papi tidak ada disaat kamu sedih." Sesal Aryan.


" Its oke, keadaan papi tidak lebih baik dari Afa. Kita ayah- anak sama-sama duda, Pi."


" Gak apa-apa, toh kita duren."


" Hahaha, iya ya, duda konglomerat lebih dicari daripada bujang kere."


" Hehehe,.."


" Tapi Afa tidak setuju papi sama sekretaris Papi itu. Dia istri orang." Tatapan Alfaska berubah serius.


" Papi juga gak minat, Akbar yang minta tolong papi untuk mempertahankan dia, dan kinerjanya juga tidak mengecewakan makanya papi masih mempertahankannya."


" Beneran?,..." Alfaska meragu.


" Iya, sekarang kita gabung dengan yang lain."


Mereka keluar, Alfaska melupakan ponsel yang tidak pernah jauh darinya di atas nakas.


****


Mumtaz, Jeno, dan Agus sudah siap ditempat persembunyian di jalan setapak yang akan dilewati kelompok pak Darman.


Disisi lain sebelumnya kelompok Ragad sudah mulai menyebar, dan melumpuhkan para penyusup yang bersembunyi sesuai informasi Pak Darman. Mereka melihat satu kejanggalan mengenai para pelaku, mereka memotret korban mereka.


" Kita sergap, kalau Ragad mulai nyerbu, kita cuma ditugasi mengamankan target." Informasi Agus.


" Oke."


Tidak lama terdengar orang-orang saling nyerang ditengah heningnya hutan disinari cahaya senter kepala yang sengaja dinyalakan kelompok Ragad dimasing-masing individu.


" Matiin senter kita." Jeno mengendap semakin mendekat.


Di depannya ada tiga orang membawa perempuan dan lelaki baya yang diketahui bernama josep yang kedua mata mereka tertutup kain. Mereka didorong paksa oleh para penjaganya, mereka berlari menjauh dari perkelahian.


" Gue nyerang, Lo amankan target." Jeno membagi tugas. Mumtaz dan Agus mengangguk.


Mumtaz melangkah menjauh dari posisi Agus Jeno mengikuti langkah Belinda dan penjaganya yang mulai menjauhi penjaga Josep.


Ketika kelima orang itu semakin mendekat, dan melewati mereka beberapa langkah, dari belakang Jeno menyelinap langsung membekap mulut dan mematahkan leher orang yang paling belakang tanpa suara dalam satu gerakan.


Rekannya yang menyadari ada gerakan janggal dibelakangnya menoleh, refleks mendorong tubuh Josep hingga terjatuh.


Lalu melakukan perlawanan terhadap Jeno, sang rekan lain bergegas membawa pergi Belinda kesembarang arah ditengah kegelapan hutan, langkah mereka lambat karena cabang pohon berserakan ditanah yang mereka lintasi, namun mata Mumtaz tidak melepas pergerakan targetnya.


Dari ujung matanya terlihat ada orang lain keluar dari persembunyian dibelakang jeno hendak menusuk punggung Jeno, namun Mumtaz keburu melepaskan belati yang diambilnya dari sela sepatunya.


Cleb!!


"Aaaaa....ws." pekikan meraung ditengah hutan menghentikan semua pergerakan termasuk Agus yang terperangah syok.


Orang itu tertusuk tepat di bagian dadanya, ia meninggal seketika. Agus syok, dengan gerakan maha kilat belati terbang tepat di depan matanya.


Sedangkan Mumtaz setelah melempar belatinya dia tidak lagi memperdulikan keadaan di sana, dia percaya Jeno dapat menangani mereka.


Mata dan tubuhnya bergerak lincah tanpa suara mencurigakan, latihan petak umpat senyap yang sering Zayin paksakan disaat mereka di rumah berguna dalam keadaan seperti ini.


Dia harus berterima kasih pada adiknya, mungkin sedikit menghadiahinya motor trail keluaran terbaru sebagai pengganti trail dia yang rusak akibat menyelamatkan Cassandra dapat membuatnya senang, pikir Mumtaz.


Tepat di depan jalan keluar hutan, Mumtaz melihat beberapa orang berperawakan asing Eropa seperti menunggu target.


Jalan yang menurun, ditambah target menggunakan dress semata kaki cukup membuat ribet pelaku, karena terlalu diburu-buru, pijakan kaki Belinda terkilir hingga dia jatuh terguling,


 Selama berguling tangan Belinda menggapai-gapai sembarang benda hingga dapat memegang dahan, ia bertahan dengan berpegangan padanya.


Melihat itu Mumtaz tidak membuang waktu ia langsung mengambil belati dari belakang pinggangnya langsung menghunuskan ke leher pelaku.


" Aaa...." Pelaku terhuyung oleng ke samping kanan hingga jatuh ke jurang.

__ADS_1


BYUR!!!


Suara keras benda jatuh ke dalam air dibawah sana mengundang perhatian orang-orang asing tersebut, mereka berpencar mencari tahu.


Mumtaz menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Belinda, sesaat Belinda berontak menolak ketika ia hendak menjerit mumtaz membekapnya, ia membisik tepat ditelinga Belinda.


" Shutt, jangan teriak. Raul Gurman, temanku." Ucapnya sesuai perintah Raul kala mengenalkan diri pada Belinda agar Belinda percaya kalau dia aman.


Kunci kata yang digunakan Darman hingga berhasil membawa Belinda ikut dengannya.


Belinda mengangguk, Mumtaz memperbaiki posisi Belinda sebelum membawanya ke tempat lebih gelap.


Setelah memeriksa dan melakukan pertolongan pertama pada kaki Belinda," saya harap nyonya bisa bertahan sampai kita ke tempat aman." ujarnya.


Mumtaz memberikan celana trainingnya dari dalam ransel pada Belinda," pakai ini, saya akan menggendong Nyonya agar kita lekas sampai."


" Maaf, saya akan memegang lutut Nyonya." Mumtaz berjongkok dihadapan Belinda.


" Maaf, menyusahkan. Ranselnya bisa saya bawa."


" Terima kasih, tapi biarkan saya." Mumtaz menempatkan ransel besarnya di depan tubuhnya.


Tubuh Belinda yang kurus tidak terlalu menghalangi langkah Mumtaz, ia terus melangkah sesuai jalur yang sudah mereka tandai sebelumnya bermodalkan cahaya senter kepala kecil.


Dapat dia rasakan Jeno dan Agus mengawal langkahnya di tempat persembunyian mereka yang menandakan kondisi aman.


Jalan yang menurun dan licin sedikit memperlambat langkahnya sehingga fokusnya harus lebih extra, butuh waktu 50 menit bagi mereka untuk sampai di tempat yang ditentukan.


Sesampainya di sana, sebuah Van putih sudah menunggu dengan Jarud sebagai pengemudi.


Anak buah Jarud langsung pasang pagar manusia begitu melihat target.


Josep dan Belinda ditempatkan dalam mobil yang berbeda.


Mereka langsung meninggalkan lokasi begitu memastikan Belinda duduk aman dalam Van yang dikawal oelh dua pengendara motor berpenumpag empat, dan dua mobil sedan dipimpin oleh Oleh Zeki smapai ke tempat tujuan.


Dipertengahan jalan Mumtaz mengeluarkan ponselnya dalam saku bagian bawah celana gunungnya


" Maaf, saya tahu Anda lelah, tapi bisakah kita membuat video pendek untuk dikirimkan kepada putra anda?"


Belinda yang semula duduk bersandar menegakan tubuhnya.


" Tentu, dengan senang hati." Belinda tersenyum.


" Katakan sesuatu, dia pasti senang mendengarnya." Tutur Mumtaz.


" Sayang, tunggu Mama. Mama mecintai kalian...hiks..maaf..." ucapnya dengan air mata menggenangi pipinya.


Klik!


Mumtaz menyudahi pengambilan video.


Di bagian kemudi Jarud memperhatikan dengan pandangan prihatin raut Mumtaz yang semakin datar saat mendengar perkataan Belinda.


" Ibu kamu pasti bangga padamu karena telah menjadi anak yang baik." Belinda buka suara ditengah keheningan padahal mobil besar ini ditumpangi oleh enam orang.


Mumtaz menoleh pada Belinda ditengah kesibukan dengan ponselnya," semoga saja, ibu saya sudah meninggal." suaranya serak.


Air muka Belinda suram," maaf, saya tidak bermaksud..."


Mumtaz tersenyum menenangkan, " Its okay, raganya boleh terkubur tanah, jiwanya masih hidup di sini." Tunjuknya pada dadanya.


Belinda membalas senyuman sedih itu.


Lalu dia mengirim video itu pada dua nomor yang tersimpan diponselnya.


*****


Tring!!!


Raul yang sedang tiduran dia ras kasur empuknya bergegas mengambil ponselnya yang di atas nakas begitu notifikasi masuk.


Telah masuk satu pesan tertulis.


" MOSSION COMPLETED!!"


Teriring!!


Masuk sebuah video dari nomor yang sama.


Video itu terus dinyalakan berulangkali diiringi derai air mata yang terus merembes dipipinya sampai jatuh membasahi kain celananya.


Raul tidak menyeka air mata itu, semakin lama ia menangis tergugu sembari tertawa melepaskan rasa gembiranya. Toh kamarnya kedap suara.


" Eric, you lost." Pekiknya menunjuk-nunjuk bingkai kecil foto Eric yang dipeganginya.


****


Di benua lain


Dring!!!


" Putrimu bersama kami, pastikan Eric dan Guadalupe berada dibawah pengawasan kalian!!"


Pesan dari Mumtaz membuat Alejandro mengerutkan keningnya karena bingung.


Dring!!


Video masuk ke ponselnya, Alejandro menekan icon play.


Alejandro dengan bulir bening di kedua matanya tuanya menatap getir video kiriman Mumtaz, dadanya sesak. Ponsel itu terlepas dari genggamannya, tangan sebelah kiri meremas kain bagian jantungnya tangan kanannya menggapai-gapai bel yang terletak di samping tengah bagian kanan mejanya


Diego memaksa masuk dengan kasar begitu alarm diponselnya memberi sinyal keadaan bahaya pada Alejandro.


Dilihatnya Alejandro yang sudah bertumpu lemah pada kedua lututnya dengan kedua tangan berusaha menyangga tubuhnya dipermukaan meja.


Setelah membaringkannya Diego melepas tiga kancing kemeja Alejandro, lalu memasukan obat kedalam mulutnya.


"Diego,..aku..harus..hidup..lebih..lama." 


" Tentu, tuan akan panjang umur, bertahanlah tuan bantuan sedang menuju kemari." Diego menenangkannya.


Telunjuk Alejandro menunjuk lemas ke arah ponsel yang masih menayangkan video.


Tanpa berpindah tempat dengan satu tangannya Diego mengambil ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya bersimpuh.


Kedua matanya terbelalak lebar, ia bergantian memandangi Alejandro dan video, menatapnya bertanya.


" Dia... ternyata...masih... hidup...kirim..video...itu...pada.. Rodrigo..." Nafasnya tersengal-sengal.


" Istirahatlah tuan, biar saya yang mengurus ini." Usul Diego yang diangguki oleh Alejandro.


****


Mata Rodrigo memerah, tadi saat bersiap menghadiri undangan pesta penyambutan tahun baru dari kedutaan besar Meksiko Raul dan kakeknya dalam waktu hampir bersamaan mengirim video Belinda.


Bahkan Rodrigo langsung menelpon Raul untuk meminta penjelasan mengenai video tersebut, setelah mendengar penjelasan Raul, Rodrigo naik pitam.


Setelah menonton tiga kali untuk memastikan keasliannya, dan tersadar dari syoknya, Rodrigo dengan tatapan nyalang beranjak keluar dari kamar hotelnya.


Rodrigo tahu ayahnya mendapat undangan pesta tersebut, Dia tidak sabar bertemu Eric di pesta tersebut.


*****


Dengan berdiri di area temaram Mata elang Rodrigo tidak lepas dari setiap pergerakan luwes Eric bercengkerama dengan koleganya, Rodrigo akui aura kepemimpinan dan Flamboyan modal pemikat wanita haus belaian begitu menguat dari sosok ayahnya.


Rodrigo menelpon asistennya agar mengambil segala bukti hubungan Eric dengan semua kejahatannya baik yang dilakukan di Indonesia maupun Meksiko.


Di sisi lain, pintu masuk Raul memasuki aula gedung dengan performa penuh kewibawaan, tidak ada lagi Raul yang berpakaian sederhana, tidak ada lagi Raul yang berambut gondrong, tidak ada lagi Raul yang berwajah tengil.


Sangat kentara ia ingin menyaingi pesona ayahnya. Rambutnya dipangkas pendek tersisir rapih dengan Pomade ala bintang fil China raja judi era chow Yun fat, tubuh tegap dibaluti jas navy kombinasi hitam di bagian leher dihiasi dasi kecil hitam, pahatan wajah sempurna ala ksatria dari dongeng Yunani kuno.


Rodrigo tersenyum miring geli melihatnya, terlihat Eric menatap Raul marah, ia tidak suka jika dirinya disaingi.


" Hallo, Son."


" Hallo, Pa."


Aura permusuhan menyelubungi mereka berdua yang berdiri saling berhadapan.

__ADS_1


Rodrigo cukup berpuas diri menjadi penonton, dia penasaran bagaiman Eric menghadapi putranya yang keluar dari cangkang imej pengecutnya...


__ADS_2