
Masih menggunakan baju operasinya Zahra berjalan pelan sambil memijit bahunya yang kaku setelah berjam-jam melakukan operasi besar.
Terdengar suara teriakan dari orang yang berkerumun di depannya dimana dia harus lewatinya jika mau ke ruangannya.
" Permisi." Beberapa orang yang mendengarnya menoleh, dan bergegas pergi dari sana.
" ...jadi saya harap anda menjauhi suami saya kalau anda masih punya etika..."
Kerumunan sudah mengecil kala melihat Zahra " berhenti." Semua orang diam termasuk orang yang sedari tadi marah-marah.
" Dokter Anna, saya yakin anda menjadi dokter lulusan dari warteg bukannya universitas terkenal seperti dalam resume Anda, karena etika anda dipertanyakan. Haruskah setiap hari anda bermain sinetron picisan di rumah sakit terbaik ini? Yang saya tahu dari prof. Farhan, bahwa anda dan beliau sudah bercerai beberapa bulan yang lalu, jadi berhenti memfitnah orang." Telak Zahra sebal.
Wajah dokter Anna memerah karena malu," Dokter Zahra, saya..."
" Bubar,...saya tidak tertarik mendengar omong kosong anda, akan saya adukan hal ini ke bagian ke tenagakerjaan, jadi saya harap ini terakhir kalinya anda bermain drama di rumah sakit ini" Ujar Zahra tegas meninggalkan mereka yang sedang berselisih.
" Suster Reni, tolong panggilkan prof. Farhan, kami harus berkencan di ruangan saya saat ini juga." Ucapnya ke asistennya.
" Siap, dokter." Reni berlalu.
Dokter Anna terbelalak kaget menyikapi ucapan Zahra.
Zivara hanya diam memandang Anna," jadi, apa anda masih mau melabrak saya karena omong kosong ini? Btw, prof. Farhan sendiri yang mendekati saya bukan saya yang mendekati beliau, itu pun sah-sah saja mengingat beliau duren." Zivara melenggang santai meninggalkan Anna yang naik pitam
****
Edel melangkah besar dengan raut wajah memerah sambil menggendong Adelia yang sedang menangis, dan menggandeng seorang anak kecil berumur enam tahun dengan raut ketakutan menuju mesjid
" DEVI, DEVI...,KELUAR KAU YANG BERNAMA DEVI...."
Wanita bermake-up tebal dan berbody sexy keluar dari salah satu warung kecil bagian kantin.
" Ya, saya yang bernama Devi." Ucapnya sambil bertolak pinggang semakin mendramatisir keadaan.
Orang-orang yang berada di sana menghentikan kegiatan mereka dan memperhatikan dua wanita yang saling berteriak itu.
" Ini anak kamu, bukan? Edel mendorong dengan melepas genggamannya.
" Mama...." Tangis bocah itu berlari kearahnya.
" Kau apakan anakku sampai menangis begini?"
" Saya yang ingin bertanya kenapa kau cuci otak anak mu itu sampai dia mengakui suami saya sebagai ayahnya?" Hardik Edel.
Devi gelagapan " Namanya juga anak kecil asal ngomong, jangan dianggap serius, mbak."
" mana ada anak kecil begitu, dia melarang anak saya memanggil ayahnya " ayah " kerana suami saya ayah dia, katanya."
Banyak orang mulai berkerumun melihat dua wanita itu, apalagi perselisihan ini dilakukan seusai berjama,ah shalat ashar.
" Kamu di sini mau dagang atau jadi pelakor? Jaga tingkah laku kamu."
" Mbak jangan fitnah saya, mana bukti saya jadi pelakor."
" Belum sih, tapi saya tahu kalau kamu sedang menjadikan suami saya target kamu."
" Heh, kenapa situ takut suaminya kecantol saya?" Devi makin menjadi, karena dia sudah menjadi pusat perhatian.
" Dih, males, ajari anakmu yang benar. Jangan akui ayah orang lain sebagai ayahnya, atau jangan-jangan kamu enggak tahu siapa ayah dari anakmu?"
Devi meradang, matanya melotot, meski kenyataan begitu.
" Kau, kau pikir kau suci, saya tahu kalau Adelia itu anak haram. Kau, Eidelweis Hartadraja hamil sebelum menikah, yang berarti kalian menikah dengan terpaksa. Apa kau yakin Adel anak mas Heru?"
PLAK!!!!
Bukan Edel yang menampar Devi, tapi mama Aida, orang-orang sekitar pun turut marah terhadap Devi.
" Zayin, bawa Adel pulang." Titah mama.
Zayin mengambil Adel dari gendongan kak Edel yang menangis semakin histeris karena mendengar teriakan orang dewasa, dan membawanya pulang.
" Jaga ucapanmu. Kalau di sini hanya untuk mencari masalah, angkat semua barang-barang mu.." ucap tegas mama.
Devi memegang pipinya sambil melototi mama.
" Kau berani menamparku? Kau pikir, kau siapa berani menamparku!" Jerit Devi di muka mama.
Mumtaz menarik mama ke punggungnya dan berhadapan dengan Devi.
" Jangan pernah kau berani mengeraskan suaramu pada ibuku!" Ucap dingin Mumtaz dengan tatap menusuk.
Tubuh Devi gemetar ketakutan akan aura menyeramkan Mumtaz.
" Dia, dia yang menghina saya terlebih dahulu, apa yang saya ucapkan tidak salah. Saya membaca itu di internet." Suara Devi bergetar.
" Ada apa ini?" Heru datang menghampiri istrinya yang diam mematung.
Devi berdrama, dia menangis pilu dengan airmata yang entah sejak kapan membanjiri pipi mulusnya.
" Mas, mas Heru..." Panggil Devi tak tahu malu
Heru bergeming, dia lebih mengkhawatirkan Edel yang terlihat pucat.
" Sayang..." Panggil Heru.
Eidelweis menatap Heru sendu " mas, apa mas yang mengijinkan anak dia memanggilmu ayah?"
" Apa? Tidak, bahkan aku tidak mengenal anaknya."
" Papa,..." Anak kecil itu berlari ingin menghampiri Heru, tapi ditahan oleh Mumtaz dengan mencekal tangannya.
" Papa... tolong aku."
" Dia, siapa?" Tanya Heru bingung.
Eidelweis menghela nafas berat " dia anak perempuan itu, dia melarang Adel memanggilmu ayah karena kamu ayahnya dia."
Heru terkaget " Apa? Kebohongan darimana itu? Heru menatap tajam Devi
Devi gugup, " mas,... Bisa aku jelasin." Ucapnya takut.
" Bapak, panggil saya bapak. Seperti biasanya." Ucap dingin Heru.
" Papa..." Anak itu terus meronta dalam pegangan Mumtaz.
" Berhenti memanggil saya papa, saya bukan ayah kamu." Ucap keras Heru
" Mas,...pak...saya mohon, jangan begitu. Dia tidak memiliki ayah." Suara Devi menyiratkan permohonannya
" Bagaimana dia tidak memiliki ayah, kau pikir, kau Siti Maryam?" Celetuk salah satu ibu-ibu yang menonton pertengkaran ini.
" Diam, kau mbak gendut." Hardik Devi yang sedang kalut.
" Huhuuuuuu..." Sorak penonton
Melihat situasi yang memanas Mumtaz meminta tetangganya untuk membawa anak kecil itu pergi dari sana.
" Sekarang, ada yang bisa menjelaskan kepada saya ada apa di sini? Anak saya menangis di rumah karena dia berpikir dia tidak punya ayah."
Ibu RT maju, " tadi mbak Edel teriak manggil si Devi ini karena anak dia melarang Adel memanggil kamu ayah, karena kamu ayah anak dia, katanya."
" Terus dia bilang juga Adel anak haram, atau Adel mungkin bukan anak pak Heru, itu kata dia." Tunjuk ibu berdaster ke Devi.
Heru memeluk Edel yang menunduk malu, mendekapnya erat.
" Kalian warga sini pasti tahu bahwa Adel anak kami, saya menikahi Edel karena saya cinta Edel. Kalian pasti tahu kalau kami selalu berusaha memperbaiki diri." Ucap tegas Heru sambil tetap mendekap Edel.
" Tentu kami tahu bahwa kalian orang-orang baik, pandangan kami tidak berubah hanya karena janda genit ini " ucap ibu berponi korea.
" Tapi dia memfitnah saya, anak saya bukan anak haram, seperti anaknya." Sergah Devi murka.
" Stop, sekarang bisa kamu sebutkan siapa nama ayah anak kamu? Yang pasti bukan om Heru." Ucap kesal Mumtaz.
Devi terdiam seribu bahasa.
" Sebelum kau berdagang di sini, kami sudah mencari tahu informasi tentang kau, kami mendapati masa lalumu yang memalukan, tapi kau memohon pada kami dengan mengatakan bahwa kau sudah berubah, makanya kami memperbolehkan kau berdagang di sini, tapi sepertinya kau belum berubah, maka dengan ini kami mengakhiri ijin dagangmu mulai saat ini juga." Ujar Ahmad, ketua pengurus mesjid.
Devi terbelalak kaget, dia tidak menyangka tindakannya untuk mendapatkan Heru seorang pria matang dengan finansial berlimpah berakhir mengenaskan.
" Hahaha...kalian tidak bisa melakukan ini padaku, seorang janda dengan anak kecil." Lirih sarkasnya
" Tentu kami akan memberikan kompensasi dari pemutusan ijin ini." Ucap Ahmad.
" Apakah kalian melakukan ini padaku karena aku orang miskin sedangkan dia orang konglomerat?" Teriak Devi
" Salah, tapi kau dengan akhlak rusakmu yang membuat kami memutus ijinmu." Tegas Ahmad.
__ADS_1
Devi hilang akal, dia menatap Heru yang terus mendekap menenangkan Edel.
" Mas,..." Panggil keras Devi.
Heru menatap tajam Devi.
"Pak,...tolong saya." Ucap ketakutan Devi dengan tatapan Heru.
" Kapok saya menolong kamu, saya ingin kamu berikan alasan kepada saya kenapa kamu mengatakan kepada anak kamu kalau saya ayahnya?"
Devi terdiam gugup dan kaku.
" Tidak ada alasan kan, lain kali jaga sikap kamu. Saya ramah terhadap kamu, karena itu cara kami bersosialisasi antar warga tidak ada yang istimewa dari itu, jangan lewati batasanmu." Tukas Heru. Menarik Edel untuk pulang.
" Hahahaha...bapak Heru terhormat, saya meski janda dan dari kalangan bawah, saya menolak diperlakukan hina seperti ini. Bayangkan apa yang akan terjadi jika berita penghinaan yang dilakukan oleh Hartadraja yang seorang pezina kepada janda miskin ini tersebar ke media?" Ancam Devi putus asa.
Warga seketika heboh, Heru mematung mendengar ancaman itu.
" Kalau kau berani mengusik keluarga Heru Setiawan dan Eidelweis Hartadraja, hidupmu akan ku hancurkan." Ucap tajam Mumtaz.
Devi gemetar takut dengan suara dingin Mumtaz, lima bulan dia tinggal di wilayah ini sedikit banyak dia tahu bahwa Mumtaz adalah pemuda yang dihormati di sini.
Edel menoleh ke Mumtaz dengan tatapan haru.
" Apa yang bisa kau lakukan jika yang kau lawan media." tantang Devi.
" Banyak, kita awali kau yang ternyata masih aktif sebagai gadis penghibur di Surga Duniawi, kau yang ternyata tidak mengetahui pasti siapa ayah dari anakmu karena kau tidur dengan banyak pria sebelum kau tahu dirimu hamil, dan kau yang ternyata masih berstatus simpanan Pramono yang datang kemari dengan misi menghancurkan rumah tangga Edel dan Heru atas perintah Erika Pramono." Cecar Mumtaz. tepat di muka Devi.
Tidak hanya Devi yang terkejut,semua orang yang mendengar pun turut terkejut semua pasang mata melebar, mulut menganga.
Devi tegang diam mematung, wajahnya pucat pias, dan dia ambruk duduk terkulai di tanah.
" Keluar satu kata dari mulutmu tentang kak Edel dan om Heru kupastikan Pramono dan Celine Miranda tahu kau berselingkuh dengan Rudi Aloya." Ancam Mumtaz.
" Angkat kakimu dari wilayah sini, dan jangan pernah tunjukan dirimu di sini lagi seumur hidupmu." Tukas Mumtaz, berbalik badan dan mengajak mama pulang.
Edel dan Heru menatap punggung mama dan Mumtaz dengan tatapan berterima kasih atas perlindungan mereka terhadap keluarga kecilnya selama ini.
Adelia masih sesegukan menangis dalam pangkuan Zayin yang sibuk mengunyah buah melon sambil menyuapi Adel buah strawberry.
Zayin terkikik geli melihat Adel yang sibuk antara menangis dan makan, melihat Zayin tertawa tangisan Adel makin lantang.
" Aa, apa tu anak hayam? Enapa ante enit tu iyang Dede anak Hayam?" Tanya Adel di antara segukan tangisnya.
Langkah Edel dan Heru yang berdiri di ambang pintu ruang keluarga terhenti kala mendengar pertanyaan pilu anak mereka.
Zayin dengan entengnya bilang " anak bohongan, anak haram itu anak bohongan, anak bohongan itu anak mainan menurut Adel, Adel anak beneran atau anak mainan?
Adel diam tak menjawab, karena bingung.
Tak habis pikir Zayin mengeluarkan ponselnya dari saku kokonya dan masuk ke Instagram Heru. " Lihat!" Zayin memperlihatkan isi dari Instagram Heru.
Dari foto Edel berperut besar di rumah sakit menjelang kelahiran, video sewaktu Adel melahirkan, saat menangis, tertawa, dan beberapa foto dan video bayi Adel dalam gendongan Edel dan Heru, dan sanak saudara lainnya.
" Udah lihat?" Tanya Zayin lembut, Adel mengangguk.
" Menurut Adel, Adel anak mamy Edel dan ayah Heru beneran atau mainan?"
" Eit jangan pukul dong, pukul itu kerjaannya anak jelek, anak cantik gak mukul orang. Kalau ada orang yang bikin Adel marah senyumin aja. Terus keluarin jurus silat Adel. Itu baru anak cantik!" Bijaksana sekali Zayin ini.
" Iya, anak antik gak mukul, yapi endang tititnya. Hihihi..." Adelia terkikik geli membayangkan dia menendang lawannya yang kesakitan.
" Heh, siapa yang ngajarin itu?" Zayin kaget.
" Aa Agal." Jawab santai Adel sembari mengunyah strawberry nya, Zayin memeluk jidatnya.
Edel dan Heru menatap takjub anak sematawayang mereka. Mereka pun menghampiri Adel yang sedang sibuk memperlihatkan jurus silatnya ke Zayin sambil tetap mengunyah strawberry.
" Mamy, ayah." teriak riang Adel merentangkan tangan ke kedua orang tuanya, Heru mengangkat Adel, dan menggendongnya.
" Mamy, ana ante ayak itu? Dede mau endang antatnya." Ujar Adel dengan mimik marah menggemaskan
" Heh, belajar ngomong dulu yang bener baru berantem!" Ledek Zayin.
" Apa cih, ini Dede udah Ica omong ya!" Ucap Adel sombong.
" Mana ada, ngomongnya Adel tu belum jelas kayak nenek-nenek peyot." Cibir Zayin.
" Endak ya, Dede udah Ica omong enel ya." Adel mulai marah.
" Iya, iya. Likes daughter likes mother, keras kepala, bye Kakak mau pulang." Zayin berdadah-dadah sambil melangkah pulang.
\*\*\*\*
Seusai shalat ashar Zahra memutuskan pulang dini, dengan badan letih melangkah pelan ke motornya yang terparkir di diparkiran depan lobby rumah sakit. Hari ini dia habiskan untuk menelpon koleganya yang di Jerman membahas dugaan plagiat atas hasil penelitiannya, bolak balik periksa para pasien pasca operasinya, tindakan operasi berat, dan diperburuk tidak bisanya dia menghubungi Hito, padahal hari ini dia sangat membutuhkan dukungan Hito.
Sembari menstarter motornya dari ujung matanya Zahra dapat melihat Hito yang berdiri berhadapan dengan Zivara di depan mobil Hito.
Di tengah mood yang jelek dengan santai Zahra berhenti di depan mereka, membuka kaca helmnya, dan menatap mereka dengan menantang
" Kalau pacaran jangan dipamerin di tempat ceweknya kerja. Akhlakless banget!" Tantang Zahra dengan delikan tajam.
Hito kaget kaget mendapati Zahra di depannya, pandangannya beralih ke Ziva dan Zahra.
Ketika Zahra hendak melanjutkan laju motornya Hito dengan sigap duduk diboncengkan motor Zahra.
__ADS_1
Zahra terkejut, Zahra mengerem dadakan dengan tajam hingga badannya tersungkur ke depan kepala motornya, Hito memegang stang motor kala di rasa motor oleng hingga mengukung Zahra. Kini Hito terlihat memeluk Zahra dari belakang.
Zahra menoleh ke belakang dengan delikan tajam mematikan, Hito menyikapinya tenang.
" Aku kesini mau jemput kamu, tapi Ziva bilang kamu gak ada." Ucap Hito tenang, Zahra memandang Ziva yang berdiri kikuk.
" Untung gue pinter, jadi gue gak ngurus hal yang sampah." Telak Zahra, melajukan motornya dengan Hito yang anteng diboncengannya.
Zivara terhenyak mematung tak mampu bergerak barang sedikitpun mendengar ucapan tajam Zahra padanya, tak sadar bulir bening terjun ke pipinya dengan deras.
Sakit, terasa luka segar menganga yang disiram cuka sakitnya, tapi tak berdarah. Ziva memegang dadanya, meremas kain yang menutupinya seakan menekan rasa sakit itu tuk menutupi lukanya.
Zivara terjongkok lemah menumpukan kepalanya di atas kedua lutut yang melemah. Di lobby Farhan menatap sendu kekasih hatinya, dengan tenang dan pelan Farhan menghampiri Zivara, dan mengulurkan tangan menawarkan diri untuknya.
Zivara menengadah menatap uluran tangan Farhan, dan membalas tatapan Farhan.
" Bapak..." Lirih sedih Zivara ditengah tangisnya membalas uluran tangan Farhan.
\*\*\*\*
" Ini kita mau kemana? Kamu gak pakai helm loh." Omel Zahra melototi Hito.
Selepas keluar dari area rumah sakit mereka melajukan motor Zahra hanya sampai berjarak tiga meter saja dari rumah sakit karena Hito yang tidak memakai helm.
Kenyataan inilah yang membuat mood Zahra lebih anjlok.
" Maaf, aku gak mau kamu salah faham lagi sama aku, tanpa salah faham gak jelas aja kita sering berantem."
" Karena siapa?" Zahra meledak.
" Aku, yang sering lupa." Cicit Hito.
" Lagian kenapa juga kamu ninggalin Ziva sendiri, bukannya kamu ke rumah sakit mau jemput Ziva." Tuduh Zahra.
" Dih, ngarang. Aku ke rumah sakit karena panik dan khawatir sama kamu. Aku kaget pas lihat hp ada belasan telpon dari kamu. Di lobby aku baru ketemu dia, dia bilang kamu gak ada, tapi aku gak mau buat kesalahan kayak dulu aku ngotot pengen ke ruangan kamu, tapi dicegat dia, makanya tadi kamu lihat aku tarik-tarikan baju." Hito memperlihatkan kain lengannya yang kucel
"Dia pengen aku anter dia pulang, lah aku gak mau, orang aku ke sini buat kamu."
" Kenapa kamu gak angkat telpon aku?"
" Waktu kamu telpon aku tuh lagi meeting sama Samudera, kalau meeting ponsel aku matiin. Kamu tumbenan telpon aku, aku khawatir, aku telpon balik kamu eh gak diangkat ya aku nambah panik dong." Terang Hito.
" Kamu, ada apa telpon aku? Pasti kamu lagi ngerasa buruk banget sampai banyak gitu kamu telpon aku."
" Tadi aku tuh lagi mumet aja hari ini kegiatanku padat banget, jadi bete. Aku sengaja pulang duluan supaya bisa istirahat lamaan, eh malah jadi begini."
" Ya udah rumah sakitnya juga gak jauh, aku ke satpam dulu mau pinjem helm." Hito beranjak ke rumah sakit, tapi setelah beberapa langkah, langkahnya berhenti, dia membalikan tubuhnya menghadap kembali ke Zahra.
" Dipikir-pikir daripada pinjem helm, mending kita balik ke rumah sakit terus aku anter kamu pulang." Ujar Hito.
" Motor aku gimana?"
" Disimpan di rumah sakit lah, besok aku anter kamu ke rumah sakit."
" Dih kayak inget aja bakal nganter, gak mau." Sindir Zahra ke Hito yang sering lupa anter-jemput Zahra.
" Aku nginep di rumah Edel, iya kali aku lupa jemput kamu."
" Kita masing-masing aja sih, ribet amat." dumel Zahra.
" Gak mau, kamu telpon aku pasti ada yang pengen dicurhatin. Aku juga kangen kamu, nurut napa sih." Hito dengan paksa mengambil alih motor Zahra untuk kembali ke rumah sakit.
\*\*\*\*
Mumtaz sedang sibuk dengan laptopnya di meja teras rumah yang menemani Zayin yang sedang bertugas membersihkan taman kecil mamanya dan teras kala datang dua orang bertamu.
" Permisi, apa benar ini rumah Mumammad Mumtazul Yusuf."
" Iya, benar. dengan saya sendiri."
" kami dari kantor kepolisian ingin memberikan surat pemanggilan klarifikasi untuk anda atas laporan tindakan penganiayaan atas nama Riana Husain."
Mumtaz terkejut, dan Zayin menghentikan kegiatannya karena kaget......
^^^\*\*Terima kasih masih mengikuti cerita ini....pantengin terus ya....^^^
^^^please jangan plagiat, karya pengarang amatir aja masih di plagiat.....^^^
dan tentu tekan LIKE, JUGA KOMEN, DAN VOTE. di tambah SHARE juga ya...tapi jangan copas\*\*!!!!
__ADS_1