Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 12 suka?


__ADS_3

" Mumtaz, selamat pagi." sapa Bella dari belakang berlari kecil menghampirinya


menoleh kebelakang sesaat tanpa menghentikan langkah. Mumtaz menganggukkan kepala sebagai jawaban.


mencoba berjalan berdampingan dengan Mumtaz, Bella menyesuaikan langkah.


" hari ini kamu sibuk gak?"


menoleh ke arah Bella dan mengangkat alis Mumtaz tetap melangkah


" biasa aja." Mumtaz tetap berjalan ke jelas


mendengar jawaban Mumtaz, Bella menghela nafas lesu. dia beberapa hari ini memang giat mendekati Mumtaz kembali. dia menyesal telah menyakiti Mumtaz. lelaki yang sangat baik dan sabar.


Bella ingin kembali merajut kasih dengannya. dan dia yakin akan mampu menaklukan kembali Mumtaz. dengan senyum terpaksa Bella melanjutkan langkah tanpa peduli bisikan murid yang menghinanya.


*******


dikantin


" Muy. si Bella masih coba deketin Lo?" tanya Jimmy.


" gak tau. emang dia lagi nyoba pdkt gw?"


" lah Lo gak nyadar sob. satu sekolah tau modus si Bella yang belakangan rajin banget ngajak lo ngomong?" Daniel menimpali.


" gak."


" gak ngeh, gak tahu, gak nyadar, atau pura-pura gak ngeladenin." sindir Ibnu.


" gak semuanya sih. gak peduli gw."


" dia ada pernah telpon Lo." kepo Jimmy.


" pernah sekali. malem-malem. Wa juga minta anter. gak gw gubris. langsung gw blok nomornya." sekalian aja dia ngomong panjang lebar supaya gak banyak ditanya.


" hah serius Lo?"


" demi apa"


" boong."


" kalo gak percaya tanya Zayin. dia ada disana waktu gw blok." melirik Zayin yang lagi asyik makan mie ayam.


zayin yang dipandangi oleh temen se mejanya hanya mengangguk.


" WAh... gila tu cewek gak tau malu." Jimmy mulai emosi.


" hai kakak-kakak gabung ya. udah gak kebagian meja" Tia dan kawannya berdiri dengan membawa nampan yang berisi pesanannya.


" duduk aja sini." Jimmy mengambil nampan Tia. mereka bergeser duduk memberi ruang pada Tia dan temennya


Bara yang duduk dekat jendela kantin melihat Cassandra kesusahan membawa nampannya berdiri membantu. membawa Cassy duduk disampingnya dengan menyingkirkan ubay.


" lagi pdkt ma Cassy Lo Bar?" jengkel ubay pindah duduk disamping Jimmy.


" iya. masalah buat Lo?" tantang Bara.


menggeleng kepala " enggak. gak ada masalah. lanjut aja. tapi inget sepupunya ngincer Lo."


" bodo amat gak minat gw sama cabe busuk." santai Bara.


" lemesnya mulutmu. tapi gw suka." Jimmy senang mendengarnya yang diangguki oleh semua orang di meja itu.


" Bara! " panggilTanura. dia dan gengnya menghampiri meja Mumtaz.


" boleh gabung kan ya!" Tanura hendak meletakan nampannya diatas meja, tapi dicegah Tia dengan meletakan buku bawaannya yang memang niatnya setelah makan dia dan geng mau ke perpustakaan.


Tanura kembali aktif sekolah setelah empat bulan dirawat karena perbuatan Mumtaz. dia mengalami pengurangan penglihatan, dan pengurangan pendengaran. tapi semua itu tak membuat dia jera.


" gak boleh. disini penuh. cari yang lain."ucap Dista sambil sibuk memakan baksonya.


" siapa Lo larang gw?" pongah Tanura.


" siapa Lo pengen gabung?" lawan Dista.


" gw ceweknya Bara.!"


tenang, meminum air jeruknya Dista menyemburkan air itu ke wajah Tanura. Tanura membuka mulut terbelalak kaget dilanjut teriakan murka. terdengar pekikan kaget tak percaya dari penghuni kantin.


dua tangan Tanura mendorong bahu Dista membuat keseimbangannya oleng mengenai meja, mangkuk isi kuah bakso Dista masih penuh dan panas tumpah mengenai bagian lengan, perut dan paha Tia yang duduk disamping Dista.


" Aaaaaaaa... panaaaas, jerit Tia." Mumtaz yang duduk disamping Tia bergegas menggendong ala bridal ke UKS. diikuti Zayin yang panik. Bella melihat kepanikan Mumtaz dengan sendu.


suasana kantin hening dan tegang selepas kepergian mumtaz, pintu kantin ditutup oleh beberapa siswa melihat kode dari Bara, Ibnu mengeluarkan hpnya dan langsung sibuk dengan hpnya. sedang yang lain mengawasi dan mengamati tiada keinginan tuk melerai. mereka bosan dengan sikap Tanura yang tidak berubah. tetap arogan, bully, sombong.


Dista dengan marah menarik kerah seragam Tanura dan mendorong keras ke tembok mengukung, dan mengunci pergerakan Tanura yang mencoba melepaskan diri dari amukan Dista.


" kayaknya benturan dikepala akibat lemparan badan dari kak Mumtaz bikin Lo EDAN." Dista dengan enteng melayangkan tamparan ke pipi Tanura berulang kali.


gengnya yang melihat itu melangkah mencoba melepaskan Tanura dari Dista yang dihadang Daniel.


" Lo sebelum ngebantu dia. mending Lo cepetan balikin duit gw." telak Daniel ke Indah. Indah terdiam menunduk malu diingatkan hal itu.


" Baraaaa... bantu lepasin aku... Bar. pukul dia." teriak pekik Tanura.


plak...plak..


" gw ingetin cukup sekali ini aja. jangan pernah ngimpi gabung sama kita. Lo gak selevel Sama kita." melepas kungkungannya, Dista kembali ke mejanya.


Tanura meloroh duduk ke lantai. susah payah dia mendekat ke arah Bara.


" Bar, kenapa kamu gak bela aku. aku calon tunangan kamu. bukan dia, dia, dia. tapi aku." teriak marah Tanura menunjuk murka ke arah Crassy, Sisilia, dan Dista berakhir kearah dadanya.


" aku ingin kamu hukum dia. dia berani cekik aku, tampar aku." memperlihatkan bekas merah dileher dan pipinya menunjuk menekan Dista.


" gw gak peduli. untung Lo cuma ditampar dan dicekik belum di T. K.O in kayak si Mumtaz." Bara santai memakan cemilan diatas meja.


melihat sikap Bara Tanura berang.


" aku gak akan biarin dia tenang. aku bakal bikin dia dihukum. liat kantin ini dipasangi cctv." mengarahkan pandangannya keseluruh area kantin


" Lo sentuh dia, hidup Lo hancur." dengus Bara.


tatapannya dialihkan kepada Cassy yang duduk disamping Bara.


" Lo crash. *****. Lo rebut bara dari gw. gw sepupu Lo."


" bukan salah dia. Lo yang ***** btw. gw cinta Cassandra. cewek gw itu dia."


mendengar itu, Tanura pergi dibuntuti gengnya dengan murka.


" WOY. INDAH LUSA LO BAYAR DUIT DANIEL. *****. GAK LO BAYAR GW PANTENGIN RUMAH LO." teriak Jimmy mempermalukan mereka.


" hhuuuuu .....hhuuuu...." ejekan penghuni kantin ditujukan kepada Tanura dan gengnya.


" anjir Niel. calon bini Lo keren gila." ucap ubay menatap Daniel dan Dista. mereka tahu sudah lama Dista menyukai Daniel, namun belum mendapat respon Daniel.


Bara menatap adik dan sahabat kecilnya bergantian menghela nafas berat. satu tangannya menggenggam tangan Cassy yang berada diatas pahanya. menenangkan dan terus menggenggamnya


" tenang. ada aku. jangan takut ya." ucap Bara pelan memandang wajah Cassy yang sedari tadi menunduk takut.


suasana kantin kembali rame


"AAAAA... laper gw. bakso gw tumpah." kesal Dista.


Jimmy mengambil nampan yang berisi bakso dan minuman yang dibawa seorang siswa yang lewat. menyerahkan selembar 50 ribu ke orang itu dan menyuruh pergi


" nih ambil." menyerahkan bakso tersebut kedepan Dista.


" AAA... emang cuma kak Jimmy sepupu terbaik gw" rengek Dista manja.


" emang cuma gw sepupu Lo cil." sarkas Jimmy .


" hhee..hehe..." Dista kembali menikmati baksonya senang.


****


UKS


Mumtaz dan Zayin masih setia menemani Tia yang sedang dirawat dokter.


" Pasti dikantin lagi seru, A". lamun Tia.


" terus dengan luka bakar gini kamu mau ikutan gelud gitu?" Mumtaz menimpali


" gak sampe gelud juga gak apa. tapi masih bisa nonton."


" entar juga tau dek. banyak sukarelawan yang bakal ngasih sumbang info." sarkas zayin.


" A. gak ada ganti bawahan yang lebih keren ketimbang sarung gitu.?" lemes Tia. saat ini dia memakai sarung pengganti rok yang ketumpahan kuah bakso.


" lagian ngapain coba ke sekolah bawa sarung."


" buat shalat, Ya"


" A. kamu emang pacaran sama Sisilia?" Tia, dan Zayin memandang Mumtaz.


" kapan?"


" ih aku tuh nanya. A."


" kata siapa? baru denger Aa. mah"


" lah gimana sih."


" ya gimana. sumpah Aa baru denger ini." Mumtaz membuat lambang peace.


" Ia juga gak begitu jelas. tapi Ia denger kalo beberapa kali Lia dicegat sama Bella dan gengnya cuma gak berani ngbullying. mereka cuma peringatan Lia gak deketin Aa."


" beneran!?" tanya Zayin dan Mumtaz.


menarik turunkan bahunya " katanya. beberapa murid pernah liat kalo Lia dibawah masuk ke toilet sama Bella dan temennya."


" kok baru bilang." Mumtaz penasaran.


" Ia nya biru inget. tanya Lia, dia bilang enggak."


" ya emang enggak."


" tapi Aa suka?"


" atas dasar apa nanya gitu?"


" cuma nanya penasaran."


" pernah liat ada gerakan modus gak dari Aa?" pancing Mumtaz.


" Ia sih gak ngeh."


" udah sih ya. jangan kepancing ulah ulet itu. mulai sekarang temenin Sisil kemanapun." lerai Zayin.


" hmm. terus Ia pulang gimana. masa naik motor pake sarung. ini kaki masih perih."


" Aa Ayin pinjem mobil Raja." zayin mencari kontak telpon menghubungi raja.

__ADS_1


*****


Rumah Damar Hartadraja.


pukul 19.00


diruang keluarga selesai makan malam. mereka berkumpul diruang keluarga seperti biasa.


" Tanu, kenapa muka kamu lebam begitu. ada yang kasar sama kamu?" tanya mama melihat wajah Tanu memar-memar.


mengabaikan pertanyaan mama " pa... cepetan tekan Bara buat tunangan sama Tanu. entar keburu direbut Cassy Baranya." rayu Tanura menggoyangkan lengan papanya.


" maksudnya apa kok bawa-bawa Cassy." papa mengernyit bingung.


" ternyata selama ini Cassy ngedeketin Bara. pa. dasar sepupu ga tau malu." fitnah Tanu.


" boong pa. yang ada Bara yang ngejar-ngejar Cassy. Bara sendiri yang bila ke Akbar." Akbar mendapat delikan tajam dari Tanura.


memperbaiki letak duduknya Tanu berargumen " pa. cowok dimanapun kalo ceweknya kegenitan lama kelamaan bakal luruh juga pa. Tanu gak mau Bara kegoda Cassy."


" Bara gak mempan Ama lo. slama ini Lo goda dia. dia tetep gak minat sama Lo." cibir Akbar


" bang. Lo diem deh. adek Lo gw apa si Cassy itu sih." bentak Tanura.


" Tanu.." mama mengingatkan


" kalo bisa gw pengennya sih si Csassy."


" bang...."


" mama, papa gak tau sih kelakuan dia disekolah. selama ini dia tuh tukang bullying, bikin onar, tukang malakin orang. malu-maluin keluarga Hartadraja pa." muak Akbar.


pak Damar dan mama Nadya terbelalak kaget.


" beneran dek?" tanya papa. yang ditanya menundukkan kepala merengutkan mulutnya.


" pa. apa papa gak coba tes DNA. siapa tau emang dia bukan turunan dari Hartadraja!"


" AKBAR.." tegur papa.


" maaf pa. tapi Akbar gak habis pikir sama tingkah dia. dia sama sekali gak punya attitude Hartadraja. sekarang aja ibunya jadi simpenan pengusaha Itali Alfredo Navvaro." Tanura kaget Akbar mengetahui hal itu. pasalnya hampir tak ada yang tau perihal ini. perubahan raut wajah Tanura tak lepas dari pengamatan Akbar.


" Tanu.."


" pa. sekarang ini bukan waktunya ngomongin kelakuan Tanu. tapi bujuk Bara agar mau tunangan sama Tanu." sela Tanura mengalihkan pembicaraan


reaksi Tanu yang tidak patut justru membuat papa dan mama saling pandang ganjil.


menghela nafas. " papa akan coba. tapi gak janji"


" pa. papa gak bisa gitu dong sama Tanu. papa harus penuhi keinginan Tanu. Tanu gak mau tau. papa harus bujuk bara buat tunangan sama Tanu. kalo papa gak berhasil bujuk bara. berarti papa gak sayang tanu. amukTanura. membuat papa mama terkejut atas tindakan Tanura yang dirasa diluar kendali. ketika beranjak pergi ke kamar. tangannya dicekal Akbar.


" minta maaf sama papa mama." Tanura diam dan mencoba melepaskan diri.


" MINTA MAAF." bentak Akbar. Tanura seketika takut. dia tak pernah melihat Akbar marah.


" maaf.." kata maaf yang terkesan terpaksa.


" gw pastiin ini yang terakhir Lo bersikap lancang. papa, mama bukan bawahan Lo. sekali lagi Lo bersikap kayak gini Lo bisa keluar dari rumah ini." Akbar menghempaskan tangan Tanura keras. Tanura langsung keluar dari ruang keluarga.


mama menangis dalam pelukan papa. papa meneliti Akbar. menduga Akbar mengetahui sesuatu tentang Tanura yang tidak diketahui olehnya.


" Bar, tunggu papa diruang kerja.. papa mau nenangin mama mu dulu." Akbar mengangguk sambil menatap mama.


menghampiri mama yang melangkah ke kamar. memeluk mama, mencium kening mama lama.


" apapun yang terjadi jangan salahkan diri mama. bukan salah mama. kita udah ngasih dia kasih sayang lebih dari seharusnya. mama masih punya Akbar dan Cassy." ujar Akbar lembut. dalam dekapan Akbar mama menganggukan kepala.


menengadah menatap anaknya, mengusap pipi sampai rahang Akbar, mama meringis pilu. "kamu pasti tau kan kalo mama, papa sayang kalian. kami berbuat yang terbaik bagi kalian."


mencium tangan mama khidmat " mama, papa orang tua terbaik bagi kami." melepas mama yang digiring papa masuk kamar


****


ruang kerja


duduk disofa panjang hampir satu jam Akbar menunggu papanya.


ceklek...


" gimana keadaan mama pa." tanya akbar.


papa duduk dibangku kebesarannya. menyandarkan tubuh pada kepala kursi membuang nafas berat.


" tidur. Bar. cerita ke papa semuanya tentang Tanura disekolah."


" sebenarnya dari kelas sepuluh Tanura beserta teman-temannya, Indah, Merry, Bella sering membuat gaduh, suka ganggu murid lainnya gak pandang bulu, sampai bullying murid yang dirasa menyainginya. seluruh murid tunduk padanya. takut padanya. sehingga makin lama dia makin menjadi."


menutup mata." kenapa gak pernah ada laporan?


" siapa yang berani lawan Hartadraja" sarkas Akbar.


" sampai akhirnya Mumtaz terlibat dengan keluarga kita." papa menatap Akbar menyelidik.


" apa Mumtaz melawan dia?"


" gak. tapi Mumtaz tidak merespon takut ketika Tanura mengejek dia dengan kata-kata kasar, mengintimidasinya. dia hanya diam dan mengabaikan Tanura. merasa tak dianggap dia marah. kemarahannya makin hari, semakin tak terkontrol."


" soal Bara, Tanu, dan cassy? papa gak mau gara-gara lelaki keluarga pecah. apalagi mereka masih muda."


" pa. Bara gak pernah suka sama Tanu. bara sukanya sama Cassy pa. bara sendiri yang bilang ke Akbar kalo dia mau deketin Cassy. Bara suka sama Cassy dari Cassy SMP. selama ini dia nunggu Cassy pa."


" jadi yang Cassy rebut Bara.."


" itu boong. halu dia. bara gak pernah gubris segala pendekatan Tanu."


" ya jangan dihiraukan aja dia pa. tapi coba aja papa ketemuan dulu sama Bara nya."


" kenapa kamu minta papa coba tes DNA?"


menghela nafas " maaf pa. Tante Amara bukan perempuan baik. kerjaan dia sekarang menclok dari satu pria ke pria lainnya predikatnya juga cuma pelakor dan wanita simpanan ditambah liat kelakuan tak wajar dari Tanu. gak ada satupun sikap Tanu yang mencerminkan didikan Hartadraja."


mengusap wajah lelah " kenapa jadi rumit begini ya Bar. papa pengen kamu awasi Tanura."


" Akbar gak bisa janji pa. tugas dari kakek ngurus perusahaan makin banyak, tapi Akbar uasahain. udah malem pa. istirahat. urusan Tanura serahin ke Akbar ya." Akbar keluar dari ruang kerja papanya.


****


rooftop


Bara dan geng, Mumtaz dan sohibnya, dan akbar. Akbar meminta mereka tuk kumpul. meski saat ini masih waktu belajar. mereka mengelilingi meja kecil yang sudah penuh dengan snack dan minuman bersoda dan mineral


" sorry. gw ganggu kalian pada." ujar Akbar gak enak hati.


" kita mah senang-senang aja." balas Rizal.


" bolos tu kerjaan inti mereka, sedangkan kita karena bosen belajar mulu." Jimmy menimpali.


" Bar, semalem Tanu coba rayu papa bujuk Lo buat tunangan sama dia."


" gila."


" edan."


" nekad." umpatan keluar dari mulut lemes mereka


" terus?" tanggap Bara santai


" dia juga bilang kalo Cassy rebut Lo dari dia."


" wah ngajak gelud tu cewek"


" halu"


"ogeb. bagi mereka Cassy, Tia, Sisilia, dan Dista itu adik kecil mereka yang mesti dilindungi. kecuali bagi bara. baginya Cassy calon isteri dia.


" gw juga ngomong sama papa buat tes DNA sama Tanu."


" HAH." mereka melongo terkejut.


menyerahkan bungkusan plastik berisi helaian rambut yang diberi keterangan. kepemilikan mama Nadya, papa Damar, dan Tanura." menyerahkannya ke Bara.


" gw juga bakal minta bantuan om Erwin tuk dapetin rambut Amara."


" om Erwinnya mau?"


Akbar mengaggukan kepala. " mau."


" kira -kira bisa dapet gak ya" ubay ragu


" pasti dapet. sampe sekarang Amara masih bucin sama om Erwin." ujar Ibnu.


" Lo tau dari mana?" Akbar heran


" cafe' om Erwin kendali keamanan usahanya dibawah tanggung jawab kita."


" maksudnya?" Akbar penasaran


" mereka ( menunjuk Mumtaz dan sohib) punya usaha pengendali keamanan rahasia perusahaan." jelas Bara.


Jimmy menyodorkan kartu nama " RaHasiYa" kehadapan Akbar. Akbar mengambil kartu itu.


" termasuk segala data rahasia perusahaan dari hacker?" tanya Akbar diangguki oleh semuanya.


" selama ini kita masih mampu mengamankan data dari percobaan pembocoran info dan data melalui sadap, hack atau darimanapun." jelas Daniel.


" bisa mengawasi orang gak."


" itu mah gampil" remeh Jimmy.


" gw minta tolong kalian pantau Tanura."


" alasannya."


" gw belum tau pasti, tapi feeling gw buat keluarga Hartadraja."


"ehemmm" Jimmy barulah " ini bantuan atau... bisnis?" tanyanya sok sungkan. langsung mendapat geplakan dari Bara dan para sohibnya sampai badan dia tersungkur kedepan


" bisnis. gw sekarang diserahin ngurus cabang Hartadraja. emang masih perusahaan kecil, tapi setau gw pusat informasinya bersifat paralel ke seluruh perusahaan dibawah naungan Hartadraja."


" hubungannya sama Tanura?" Ibnu penasaran.


" sebagai cucu terbesar Hartadraja, sama halnya dengan gw Tanu juga mulai diberi tugas bantu perusahaan, karena itu dia punya akses ke beberapa database perusahaan."


beberapa bulan ini beberapa data perusahaan bocor. meski skalanya kecil, tapi berjangka, tersistematis gitu bocornya. gw secara random minta bantuan temen buat stop kebocoran itu, tapi itu hanya sementara saja."


" jadi Lo curiga kalo si Tanu terlibat itu?" cermat Ibnu. Ibnu menyodorkan hpnya kepada Akbar yang berisi sebuah form."


" kalo Lo gak keberatan gw coba masuk meriksa masih ada aktivasi pembobolan itu gak. yang berkaitan dengan Tanu aja?"


Akbar menelpon seseorang. tak lama dia sibuk dengan hp Ibnu.


tak butuh waktu lama bagi Ibnu menerobos pertahanan data perusahaan yang diatur Tanu.


menyambungkan hp Ibnu ke laptop milik iPad milik Daniel, Ibnu memperlihatkan sistem operasional arah pengaman dari satu database ke database yang lain yang terhubung antar perusahaan. dari perusahaan cabang terkecil sampai perusahaan pusat

__ADS_1


" gila Bar. perusahaan ini 90% database nya udah bocor. karena paralel satu pintu kalo yang ini kelar tu orang dengan gampangnya bakal masuk ke server cabang yang lain. yang sial kodenya udah ada di server cabang yang kebuka sebelumnya. server pusat emang ada dua pintu yang ditembus, tapi itu sama aja dengan yang lainnya kodenya nyambung menyambung. cuma ditambah satu kode sambung aja. nunggu satu jam untuk merubah kode otomatis dari database itu. gw yakin sebelum satu jam Hartadraja bakal fakir."


Akbar meski belum paham bener tapi dia yakin apa yang disampaikan Ibnu bukanlah hal yang baik bagi bisnis keluarganya.


" please Nu pake bahasa awam." panik Akbar.


Daniel mengambil alih iPad. " maksud si Ibnu kunci pengaman data perusahaan Lo itu nyambung dari satu perusahaan cabang sampe perusahaan pusat. kayak Lo mecahin teka-teki silang. kalo Lo udah nemu satu kata, maka kotak yang kosong gampang dipecahnya ya kan. intinya keamanan perusahaan Lo dipegang sama amatir."


" kita pake perusahaan gede kok.lo tau perusahaan Abouf tekno kan? mereka mengangguk.


" amatir menurut kita Bar. bukan menurut mereka. kita udah biasa mecahin kode kayak gini dalam itungan jam aja."


mengusap surai hitamnya. Akbar bingung. dia menunjukan kepala dengan pandangan kosong " darimana mereka tahu kode masuknya.?"


" heh. yang gw periksa perusahaan yang tanggung jawab Tanura kan?" balas Ibnu tak enak hati. dia masih sibuk dengan iPad Daniel.


" DONE." seru Ibnu keras yang mengagetkan orang sekitarnya.


" kenapa Nu. apa keluarga gw abis Nu?"


" apa sih Lo Bar. gw udah gagalin kebocoran data rahasia perusahaan cabang itu tanpa mereka curiga."


" maksudnya?" Akbar berharap ada kabar bagus.


" maaf sebelumnya gw lancang masuk ke server perusahaan lo. mereka baru input data 90%. sever perusahaan Lo bersistem kalo input data belum 100% server yang coba ambil data itu gak bakal bisa buka datanya. artinya data perusahaan Lo baru pindah ke server mereka kalo udah 100%.gw tadi langsung blok mereka. dan memanipulasi data mereka dengan data lain. jadi data yang mereka ambil sekarang itu data perusahaan bodong. data Lo terselamatkan. data dari perusahaan Tanura yang tadi sempet diinput mereka gw alihin ke server Lo. sekali Lo buka, semua info data perusahaan itu bisa Lo liat."


" Lo tau siapa yang buka."


" gak sampe situ. gw cuma blok jalan server perusahaan Tanu ke server perusahaan lainnnya. tapi gw yakin ini bukan usaha terbaik mereka. bisa Lo liat mereka ngambil data Lo nyantai banget beda sama sebelumnya."


" jadi ini bukan yang pertama?"


" Yap, menurut jejaknya sih gitu. kalo yang pertama mereka ngambil data itungan satuan menit, nah ini hampir 15 menit belum selesai. itu karena mereka tau kalo kode sistem operasi berubah otomatis dalam waktu satu jam."


" gw mesti gimana.?"


" untuk sementara gw cuma bisa lakuin itu. gw yakin mereka dengan cepat ngebuka blok gw. seperti yang tadi gw bilang ini bukan sistem terbaik mereka. jadi untuk lebih lanjut Lo omongin ini sama Bara atau Jimmy."


" kalo Lo gak keberatan gw bisa usahain manipulasi database paralel ke mereka. artinya gw alihkan pencarian mereka hanya ke perusahaan Lo doang, tapi data yang masuk ke mereka seakan berasal dari berbagai perusahaan Hartadraja. tapi itu sifatnya juga sementara karena sistem kayak gini cepet kebukanya." Mumtaz beropini


" lakuin semua yang perlu kalian lakuin. gw secepatnya bicara sama om Hito juga papa."


" sip. sekalian gw siapin buktinya. Lo Nerima jadi. kasian gw liat muka Lo Bar." tawar Daniel. yang diangguki Akbar.


" mengenai DNA..."


" biar gw yang urus. itung-itung pendekatan ke keluarga mertua." ujar Bara.


" cie...cie..." ( Rizal )


" uhuy PJ...PJ..steak lah kuy." ( ubay )


" sama Tanura ya Bar." ( Jimmy )


kalimat terakhir mampu membuat Bara menggelitik sang empu suara tanpa ampun. sampai menangis minta tolong dan ngedit yang diabaikan oleh penghuni rooftop.


" makasih semuanya."


***


cafe' D'lima


pukul 22.00


" capek?" tanya om Hito ke perempuan yang kepalanya ditumpukan diatas meja menutup mata tampak lelah.


" banget. tadi siang banyak banget prakteknya ditambah les tambahan sama temen."


sejak berinvestasi di cafe' D'lima, Hito secara teratur datang tiga kali dalam seminggu. sehingga hubungan antara om Hito dan Zahra semakin akrab.


memainkan bagian atas depan jilbab Zahra " kenapa gak distop aja lesnya. kan udah dapet beasiswa." tanya om Hito lembut.


" gak tega. kebanyakan dari mereka butuh nilai banget." ujar Zahra dengan pelan dan lesu.


" tapi kan kamunya jadi capek banget."


" resiko orang baik dan jenius." om Hito tertawa pelan mendengar jawaban sombong Zahra.


" istirahat aja kalo gitu."


" terus dipecat. NO..NO..big NO" Zahra merubah duduk tegak menggelengkan kepala mendengar masukan dari om Hito.


pintu utama terbuka. tampak Amara masuk ke cafe' berdua sang bos di bergelayut manja dilengan bos Erwin membuat Zahra dan Hito bertukar tatap aneh.


mereka duduk dibangku panjang untuk dua orang. duduk dengan rapat saling sentuh layaknya dua orang kasmaran.


" itu si bos lagi kobam om." bisik Tanu memajukan kepalanya ke arah om Hito.


om Hito hanya mengedipkan bahu tanpa minat membahasnya.


" ishh gak asik. gak doyan gibah." Zahra beranjak pergi untuk kembali kerja. sebelumnya dia ditarik om Hito ke mejanya guna istirahat sejenak.


om Heru hanya bisa tersenyum penuh arti melihat tingkah Zahra. cukup lama dia memandangi Zahra dengan tatapan yang belum bisa diartikan. mengambil hp membuka aplikasi chatting


" *La boleh pulangnya om anter?"


" maaf om, dijemput Zayin. dia udah dijalan*."


menerima balasan dari seberang Mumtaz menghela nafas gak nyaman. entah kenapa


*****


malam dengan angin terasa sejuk Mumtaz perlahan mengendarai motornya. disepertigaan sepi jalan kearah rumahnya sebuah mobil Range Rover putih berhenti.


" Sisilia?" panggil ragu Mumtaz melihat dua orang gadis yang duduk di samping bagian belakang mobil.


meras ada yang memanggilnya. Sisilia menoleh kearah suara.


" kak Mumtaz.."


Mumtaz memarkir motor, dan turun dari motor menghampiri Sisilia.


" darimana?. kok masih diluar?" tanya ke an Mumtaz


mereka berdua gugup. " ini...Lia Sama Vika baru pulang kerja kelompok buat pensi." sambil melirik kearah temennya dan diangguki oleh temennya.


Mumtaz mengangguk. " nunggunya jangan diluar didalem aja. bahaya."


" ehh takut berat. pak Adi lagi udah ganti ban. jadi keluar."


" kalo gitu duduknya geser kesamping mobil jangan disini. takut ada yang ganggu." langsung diangguki oleh mereka berdua.


" kenapa pak?" melihat sang sopir agak kesusahan mencoba ganti ban.


" kempes den."


" ada ban serepnya pak?"


" ada dibagasi. biar saya ambil den."


" saya aja pak. berat. tolong buka bagasinya pak."


bagasi terbuka. Mumtaz menarik keluar ban serepnya.


" bapak istirahat aja dulu. biar saya usahain"


dengan ragu pak Adi hendak menolak.


" ehh gak usah den, saya..."


" jangan takut pak. saya Mumtaz kakak Sisilia. kalo gak percaya tanya aja sama Sisilia langsung." mengambil peralatan ditangan sang sopir Mumtaz mengambilalih mengganti ban.


kurang lebih 30 menit urusan ban beres.


membuka pintu penumpang " Sisilia dan temannya. masuk." titah Mumtaz.


saat Sisilia hendak masuk datang sekelompok pengendara motor berhenti tepat disamping mobil.


"waaah.. ada gadis-gadis cantik. kenapa dek? mau Abang bantu?" goda salah satu pengendara tersebut.


sebelum Sisilia menjawab, mumtaz menarik Sisilia dan Vika masuk mobil. menghampiri mereka.


" jangan ganggu mereka." ucap Ibnu tajam dan tegas.


mereka yang tahu siapa Mumtaz dan enggan berurusan dengannya mendengus dan segera pergi dari tempat itu.


" membuka kaca pintu. " kak, siapa mereka?" tanya Sisilia takut.


" bukan siapa-siapa." berganti menoleh kearah sang sopir


" pak jalannya hati-hati ya."


" iya den. terimakasih atas bantuannya."


" jangan sungkan pak. kamu langsung pulang kan?" menatap Sisilia yang diangguki oleh Sisilia.


Mumtaz lanjut mengendarai motornya dibelakang mobil Sisilia sampai jalan besar.


****


Kamis pagi, pukul 06.30


Mumtaz berhenti dipinggir jalan karena lihat Sisilia berdiri gelisah.


" pagi Sisilia." sapa Mumtaz yang berhenti didepan Sisilia.


kaget, " pagi kak."


" mogok lagi?"


" iya."


" mau bareng kakak?" tawar Mumtaz


" engg....emang gak apa apa?"


" kenapa emang?"


" Tia nya mana kak?"


" bareng Zayin "


melihat jam tangannya mengingat waktu masuk sekolah tak lama lagi Sisilia tidak punya pilihan.


" pak Adi. bapak telpon bengkel aja ya. Sisil berangkat bareng kak Mumtaz."


" iya non.maaf ya non. nanti bapak jemput."


" iya gak apa-apa."


"kak Sisil duduknya nyamping ya pake rok jadi gak nyaman kalo duduknya ngehadap depan."


" senyaman kamu aja Sil."


terimakasih telah membaca novel ini

__ADS_1


^^^^^^taufan kamilah, 5,, Juni, 2021^^^^^^


__ADS_2