Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
167. Melindungi ala Zayin.


__ADS_3

Pukul 05.45 wib. Di kediaman Wibisono


" Tuan, laporan perusahaan pagi ini tidak menyenangkan, perusahaan rekanan kita yang bekerja sama dengan Birawa mengundurkan diri bekerjasama dengan kita." Lapor asistennya.


Daud memijit pelipisnya, " bagaimana laporan pengacara terkait kita hendak membawa ini ke jalur hukum?"


" Tindakan kekerasan terhadap nona Jessica tidak terbukti, bahkan para murid bersaksi bahwa nona Jessica lah yang membully nona Ayunda."


" Soal luka nona, mereka menyebut nona menuangkan kuah soto secara sengaja oleh dirinya sendiri."


" Teori macam apa itu?" Bentak Daud menggebrak meja.


" Tuan, pukul 24.00 Wib tadi RaHasiYa memutus kerjasama dengan kita." 


Daud terkejut, " kenapa? Saya tidak melihat keterkaitan masalah ini dengan RaHasiYa."


" Sangat lekat, tuan. Nona Ayunda yang menjadi korban adalah Ayunda Birawa, dan Nona Mela  memperkeruh permasalahan dengan menjebak tuan Ibnu Abdillah untuk diantarkan pulang yang dia jadikan video lewat media sosialnya pada malam pesta di gedung RaHasiYa."


" Karena hal ini juga nona Ayunda mendapat komentar negatif baik dari masyarakat, maupun murid sekolah dengan dua persoalan yang berbeda."


" Bagaimana keadaan perusahaan?"


" Seperti diketahui perusahaan yang diputuskan secara tidak terhormat oleh RaHasiYa akan disingkirkan dalam persaingan, ditambah kita dapat tekanan dari Birawa corp. Maka sentimen negatif langsung berdampak pada perusahaan, sulit bagi kita untuk bertahan."


" Pukul 08.00 wib. Para pemegang saham memaksa mengadakan RUPS luar biasa, tuan."


" Rey, bagaimana keadaan perusahaan mu?" Tanya Daud pada putra tunggalnya dari istri sahnya yang duduk anteng di kursi depan meja kerjanya.


" Terkendali, saat rumor itu tersebar aku langsung menghubungi Akbar Hartadraja, dia dekat dengan Bara Atma Madina. Darinya aku tahu, RaHasiYa hanya akan mengintervensi pihak-pihak yang mendukung pihak lawan."


" Dalam hal ini, mereka hanya akan menghabisi perusahaanmu, Dad. Bukan milikku." Tekan Reynan.


" Apa kau tidak mau membantu Dady?"


" Tidak, sejak awal aku tidak setuju Daddy membawa anak haram dan keponakan Daddy kemari."


" REYNAN." bentak Daud.


" Dad, sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak lama, apa kau yakin si Jessica anak biologismu? Aku berkacamata pada kisah Tanura yang dulu mengaku sebagai putri dari Damar Hartadraja, tapi nyatanya bukan."


" Dia juga pernah mencoba mendekati om heri, suaminya Tante Eidelweis Hartadraja."


" Aku sudah selidiki tentang Devi, dia merupakan wanita penghibur surga duniawi, setahuku, setiap wanita penghibur akan dicicipi dulu oleh Rudi Aloya sebelum turun ke lapangan."


" Jadi apa kau sudah pastikan kalau dia anak biologismu? Aku hanya tidak ingin kau dibodohi olehnya." Skeptis Reynan.


Rahang Daud mengeras mendengar perkiraan itu, panggil dua anak itu."


Dalam waktu singkat Jessica dan Mela berdiri di depan Daud dengan mimik was-was.


PLAK!  PLAK!!


Pipi Jessica secepat kilat memerah, Jessica terkejut dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya.


" Dad...?"


" Sudah ku bilang jangan dekati Ayunda Birawa, tetapi kau tidak tahu diri. Karena mu saya hancur."


" Dan kau Mela, berhenti terobsesi ingin mejadi seperti ibumu yang mantan Putri kecantikan itu. Kecantikan mu dibawah standar, kini moralmu pun  rendah. Kalian benar-benar bencana untuk saya." Bentak Daud.


" Tarik semua fasilitas yang mereka dapatkan dari kita." Titah Daud pada asistennya.


" Dad, kau tidak bisa melakukan ini padaku?"


" Tentu saja bisa, Bahkan namamu tidak ada dalam kartu keluargaku." Jessica terhenyak mendengar ayahnya seakan membuangnya.


" Daddy, maafkan aku." Lirih Jessica dengan linangan air mata. Reynan yang melihat itu hanya memutar bola matanya dengan malas.


" Perset4n dengan tangisan kalian, dasar tidak tahu diuntung." Daud meninggalkan ruang kerjanya dengan raut muka naik pitam.


" Hehehe." Reynan tanpa hati Menertawai mereka.


" Berakhir sudah masa glamour kalian, sampah pada akhirnya akan kembali ke tempat sampahnya. Hanya aku yang bisa menanggung kalian, tapi kalian tahu aku tidak sudi melakukannya."


" Kak,..."


" Jangan panggil aku kakakmu, 4nak h4r4m, dan kau Mela, berhentilah berpura-pura cantik, kau wanita yang sangat je-lek." Hina Reynan pada keduanya, kemudian berlalu dari ruangan.


Dia berempati pada Ayunda, tetapi dia bersyukur dengan kejadian ini, dia dapat menyingkirkan dua benalu itu tanpa kesulitan.


Meninggalkan Jessica dengan kedua tangan mengepal, dan Mela yang menghela nafas dengan malas.


" Ini semua salah cara murahan mu menarik perhatian masyarakat." Tuding Jessica kesal.


" Terserah, mulai sekarang kita urus urusan kita masing-masing." Seru Mela meninggalkan ruangan.


*******


" Bang, Ayu mau mengucapkan terima kasih," Ayunda menghembuskan nafasnya." Ayu tidak tahu apa yang terjadi di rumah Mama, subuh tadi bunda sambil menangis memelukku erat, maksudku aku memang sering mendapat pelukan dari bunda, tapi tidak seperti tadi, penuh dengan kelembutan dan kehangatan. Hal yang sudah lama tidak Ayu dapatkan." 


" Ayu tidak iri kepada Abang Aniel, tapi sebagai putri bungsu sekaligus perempuan Ayu merasa bunda dan ayah tidak adil. Seharusnya Ayu yang lebih mendapat perhatian darinya.


" Apa karena Ayu gak sepintar bang Aniel ya!? Itu yang pertama Ayu pikirkan, itulah mengapa sewaktu SMP Ayu ikut akselerasi, tapi itu juga enggak mempan." lirihnya


" Tapi melihat kenyataan dari bang Ayin, nasib Ayu lebih baik," kening Zayin mengkerut karena bertanya.


" Setidaknya bunda berbagi kasih masih dengan saudara kandung, tapi Abang, kasih sayang Abang terbagi dengan orang asing. Melihat abang yang baik-baik saja, Ayu jadi malu sendiri." Ayunda menunduk sangat dalam.


Zayin mengusap kepala Ayunda dengan sayang.


" Bang."


" Hmm?"


Setetes Bulir bening jatuh membasahi tangan Ayu yang saling memilin. " Makasih udah jadi adik bagi bang Aniel, makasih udah jadi kakak bagi Ayu."


" Ayu sayang Abang." cicitnya.


" Hmm." Zayin menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga Ayunda.


" Bang, target datang." Nando menyela obrolan mereka.


Empat pasang mata itu melihat Jessica yang turun dari ojol tidak jauh dari sekolah.


" Tumben dia naik ojek." Ucap Ayunda.


" Ck, kamu ini. Setelah buat orang bangkrut, dengan tanpa merasa bersalah melupakannya." Omel Zayin.


Ayunda tidak segera merespon ucapan Zayin, sedetik kemudian matanya terbelalak lebar.


" Maksud Abang, ayah beneran bikin mereka bangkrut? Kok cepat amat. Mereka orang kaya Loh."kaget Ayunda.


Tiga pasang pria dalam mobil menatap Ayunda aneh seakan dia alien dan tidak menggunakan bahasa Indonesia.


" Apa?" Ayunda heran dengan tatapan yang dia dapatkan.


" Yu, Lo hidup dimana? Keluarga Birawa di posisi top 5, keluarga dia di posisi top 30. Menurut Lo ayah Lo sulit menjatuhkan mereka?" Sarkas Nando.


" Wow ayah keren juga."


" Turun." Titah Zayin.


" Siapa?" Tanya Ayunda.


" Kamu."


" Bang..." Rengek Ayunda.


" Kamu takut pada dia?" 


Ayunda menggeleng pelan tidak yakin." Abang janji melindungi Ayu."


" Yu, penjaga terbaik untuk Ayu adalah diri Ayu sendiri. Abang lindungi Ayu, tapi Ayu harus mulai hadapi dia sendiri."


" Kamu punya bela diri kan?"


" Punya, silat sama taekwondo."


" Jago?"


" Enggak, seadanya."


" Cukuplah, toh dia gak bisa bela diri."


" Tahu dari mana?"


" Postur dan gestur tubuhnya, dan cara bullynya cuma modal mulut dan cakaran secara acak doang."


" Kamu bisa mengatasi dia dengan mudah, kalau kamu percaya diri dan berani." Zayin mengirimkan tantangan kepada Ayunda.


" Kalau aku berani?"


" Abang bakal kabulkan semua permohonan Ayu."


" Kalau Ayu gak berani?"


" Ayu selamanya akan menjadi orang kalah, dan itu memalukan bagi nama Birawa yang terkenal tidak takut apapun."


Ayunda memikirkan ucapan Zayin dengan hati dan logikanya, pesan yang ingin disampaikan adalah; sekarang atau tidak sama sekali!


" Kalau Ayu berusaha, tetapi gagal?"


" Berhenti sejenak, evaluasi dan instrospeksi, kemudian kembali bergerak maju."


" Abang gak bakalan ninggalin Ayu?"


" Enggak akan, Abang menunggu kamu berhasil."


" Saran-sarannya?"


" Kalau kata kak Tia yang suka baca novel online, hindari tempat tertutup dan sepi seperti toilet, gudang, dan taman belakang. Kalau kata Abang, selalu waspada terhadap segala kemungkinan serangan di setiap saat itu yang terbaik."


Setelah menarik lalu menghembuskan nafasnya, Ayunda keluar dari mobil melangkah masuk area sekolah.


Zayin menyerahkan empat bola berbahan stainless steel silver yang berupa kamera pada Nando.


" Letakkan ini di tempat yang tadi gue bilang,  dan instruksikan anak BIBA awasi Ayu dari jarak yang tidak terlihat. Kamu tahu yang Abang maksud kan?"


" Tentu, jarak sekitar kurang lebih 1,5 meter sampai tidak terhingga dan berpencar dari target, namun cepat dalam mengamankan target."


" Bagus,  jika Ayu diganggu jangan langsung bertindak sebelum pelanggaran itu melebihi batas, biarkan dirinya berusaha."


" Bang, nanti bang Bara dan para petinggi marah kalau Ayu lecet, walau sedikit."


" Gue yang bertanggungjawab, Ayu gak bisa mandiri, disebabkan kita yang terlalu mengintervensi wilayah pribadinya. Jadikan moment ini untuk memperbaikinya."


" Baik, gue turun dulu." Nando menyusul Ayunda.


" Terus kita ngapain, bang." Tanya Khadafi.


" Jaga Ayu."


" Lah tadi..."


" Itu, tugas kita memberesi dia." Tunjuknya pada Mela yang baru memasuki gerbang dengan motor maticnya.


" Lo awasi kinerja Nando, gue ke dalam dulu, Tante julia memanggil." Zayin melempar tabs pada Khadafi.




" Assalamualaikum, salam sejahtera buat ibu-bapak semuanya." Salam Zayin saat memasuki kantor staf sebelum ke kantor ketua yayasan.



" Zayiiinnn...." Pekik para ibu, dan para bapak menyapanya dengan slow.



" Yin, makasih ya udah bantu anak ibu belajar eksakta hingga mendapat beasiswa." Ujar ibu berbadan bohay.



" Itu karena anak ibu memang punya talenta, tapi belum terasah, bukan karena saya." 



" Aahh, kamu mah sedari dulu selalu merendah."



Zayin terkekeh, " merendah untuk mengapung Bu."



Sontak semua tergelak." Gini nih jawaban anak angkatan laut." Seru bapak berkumis.



 Semua senang dengan kedatangan Zayin, kecuali Mela yang melirik Zayin dengan was-was.

__ADS_1



" Kamu kemari bukan untuk datangi Mela kan?" sindir ibu bermake-up menor.



" Bukanlah, mana mau saya sama yang biasa-biasa saja, Ayunda lebih menjanjikan dari segi atitude, rupawan, dan kekayaan. Intinya saya cuma tertarik dengan yang bibit, bebet, bobotnya unggul."



" Astagfirullah, lambemu, Yin. Masih saja lemes kaya dulu." Ujar bapak yang botak.



" Haruslah, kalau lawan kita wanita yang tidak punya malu." Telak Zayin, Mela menyembunyikan dirinya dalam kubikelnya.



" btw, Bu Julia ada?"



" Ada, lebih tertarik yang lebih tua, Yin?" Ledek ibu yang tadi.



" Saya pengagum wanita baik-baik, bukan pura-pura baik. Apalagi yang nyosorin lelaki duluan, *ilfeel*. Permisi." Langkahnya dengan santai melewati Mela dengan lirikan dan senyum devilnya.



Begitu membuka pintu tertangkap oleh pandangannya Adgar, Julia, dan Sri yang duduk di sofa mengelilingi meja.



" Apa saya sedang terjebak reuni keluarga?" Selorohnya.



" Hahaha, masuk, Yin." ajak Julia.



" Ada apa, Tan." Tanya Zayin sesudah menyalami para orangtua, lalu duduk di samping Adgar.



" Kami sudah membaca buku yang kamu tulis tentang pandangan kamu terhadap Hartadraja..." 



" Khususnya bagian saya." Sri memotong ucapan Julia.



Zayin mendelik pada Adgar yang wajahnya terpasang *innocent*.



" Apa kamu..."



" Maaf, nyonya. Itu pandangan saya sebelum nyonya baik pada kak Ala. Saya harap nyonya mengakui bahwa tingkah Nyonya memang sangat menyebalkan." Sela Zayin pada Sri.



" Saya harap tanggapan kamu sekarang berubah."



" Saya kira tanggapan saya tidak penting, itu hanya respon saya selaku adik. Secara umum saat ini jawaban saya tentang Anda sama dengan jawaban saya perihal nyonya Sandra."



" Apa itu?" Tanya Julia.



" Apa lambe turah anda tidak update?" Sindirnya pada Adgar.



" Ck, gue gak dengar tentang pertemuan kalianmn sesudah subuh itu. Bang Akbar yang tahu, dan Lo tahu betapa enggak asiknya dia untuk diajak gibah."



" Jadi kalian harus paksa bang Akbar untuk belajar ngegibah kalau ingin tahu jawaban saya." Ujar Zayin kalem.



" Jadi kamu tidak akan mengatakannya?"



" Saya males mengatakan hal yang tidak penting lebih dari sekali, Tan."



Sri cukup tersinggung mengira dirinya tidak penting bagi seorang Zayin." Saya tahu saya jahat, dan kamu belum memaafkan saya." Ketus Sri.



Adgar, dan Julia sudah mendengkus sinis akan keketusan leluhurnya itu, sedangkan Zayin tersenyum mendekatinya.



Ia berjongkok, meraup kedua tangan itu dengan lembut, mencium punggung tangannya dengan ta'dzim.



" Nyonya, cukup anda ikhlas untuk bersikap baik pada Kakak, maka aku akan menempatkan engkau di tempat yang tertinggi sebagaimana engkau sebagai seorang ibu, nenek, dan nenek buyut dimuliakan." suara lembutnya cukup menghipnotis semuanya.



" Sejatinya aku yang masih belia ini tidak patut untuk marah padamu, tetapi ego jahiliyah ku masih lebih menguasaiku ketimbang akal sehat, dan moralitasku. Jadi maafkan segala tindakan brengseknya aku."



Sri memandangi Zayin dengan pandangan sayu karena trenyuh, tangan tuanya membelai pipi Zayin dengan kasih bagai pada cicitnya sendiri.



" Justru nenek yang ingin meminta maaf padamu, pada kalian sekeluarga."




" Itu pasti, kakakmu, dan kalian sekeluarga akan mendapatkan lebih daripada yang kalian berikan pada kami, dan saya akan memastikan itu terjadi apapun kondisinya."



Zayin tersenyum manis padanya, " terima kasih. Untuk janjinya."



Dalam senyumnya Adgar menunduk tersentuh, tangannya mengikis airmatanya yang jatuh ke pangkuannya 



Terdengar suara bel masuk, tanda kegiatan \*\*\* dimulai.



" Maaf, saya harus pergi, ini waktunya tugas memanggil." Pamit zayin.



" Gue ikut." Adgar melangkah lebar menyusul Zayin.



Mereka berlalu dibawah tatapan welas asih Sri.



" Mereka sebaik itu, mengapa itu tidak bisa nenek lihat dan rasakan, Julia." lirih Sri penuh penyesalan saat mengingat hinaan dan caciannya pada Aida dan keluarganya.



" Nenek jadi ingin bertemu Zahra, antarkan nenek ke rumah sakit."



" Tentu." Julia memegangi tangan Sri.



\*\*\*\*\*



" Prof," panggil suster Rani terlihat terburu-buru mendekatinya begitu Zahra memasuki lobby rumah sakit bersama Hito.



Rani dengan panik menarik paksa tangan Zahra melupakan etika atasan dan bawahan yang dihempas oleh Hito.



" Suster, jaga sikap anda." setelah apa yang terjadi, Hito lebih protektif pada kekasihnya.



" Maaf, tapi ada email berstatus super darurat."



" Panik tidak akan menyelesaikan masalah." ucap Hito.



" Sudah Kak, aku tidak apa-apa." Zahra menengahi kesalahpahaman ini.



" Tapi aku tidak bisa ada orang bersikap kasar padamu setelah melihat apa yang dilakukan penculik itu padamu."



" *Iam fine*, sampai sini saja mengantarnya, aku kayaknya langsung sibuk."



" Baiklah. makan siang bareng?"



" Aku gak janji, mengingat berapa lama aku *off*."



" Aku yang datangimu."



" Jangan dipaksakan."



Hito mengusap kepala Zahra tanpa memperdulikan sekitarnya yang melirik kepada mereka.



" Selalu ingat, aku sayang dan bangga padamu. *please* jangan lagi menjauh dariku." ucapnya lembut.



" Iya, aku kerja dulu ya."



" Hmm."



" ini, lihatlah." Rani langsung menunjuk isi email yang dikirim dari rumah sakit Bogor begitu mereka memasuki ruang kerja Zahra.



" Saya sudah mengeprintnya."

__ADS_1



" Kamu juga pasti sudah membacanya, jadi bacakan saja." sarkas Zahra.



" Mereka meminta anda..."



ceklek...



Farhan memasuki ruangan Zahra dengan memegang laporan rekam medis Milik seorang pasien.



" Zahra, kita sedang menanti pasien dari Bogor."



" Tadi suster Rani juga berkata ada pasien dari sana."



" Saya kira apa yang akan kita bahas orang yang sama."



" Baiklah, sepertinya benar-benar darurat. kenapa dengan pasiennya?"



" Dia mengalami kerusakan tulang parah di kedua tangannya." Farhan menyerahkan hasil CT scan.



" Kapan pasien akan datang?"



" Seharusnya sudah datang, tetapi tekanan darah pasien belum normal, jadi mereka hanya bisa menunggu perkembangan pasien agar segera dievakuasi."



" Sebaiknya kita pelajari lebih lanjut." Zahra duduk di sofa.



" Siapa nama pasien?"



Farhan menatap Zahra dalam," Sandra, nyonya Sandra Atma Madina."



Zahra terhenyak, ia membuka map berwarna putih tersebut. matanya membulat besar melihat kerusakan tulang pasien yang sangat parah.



\*\*\*\*\*\*



" Aniel.. Aniel..." Teriak Hanna memasuki rumah Aida.



" Bunda, ada apa?" Daniel menggenggam kedua tangan Hanna karena khawatir.



Iris Hanna menatap para sahabat anaknya." Apa kalian bisa memantau Ayunda dari sini? Perasaan bunda tidak tenang." 



Ibnu mengambil laptop Mumtaz yang menyala di atas meja ruang tamu yang ternyata sudah menayangkan suasana sekolah BIBA.



Mumtaz mengedikan bahunya santai atas tatapan Ibnu padanya.



Diujung kiri atas berkedip warna merah, yang mendeteksi ada saluran asing yang juga ikut serta mengawasi sekolah.



Ibnu mulai berselancar dalam dunia maya di bilah layar lain terlihat Ayunda yang keluar dari kelas, tidak berapa lama disusul murid perempuan lainnya.



Daniel yang cemas sontak beranjak melihat adiknya dirasa terancam.



" Stop Daniel, Ayin ada bersama mereka, begitupun petinggi genk." Ujar Alfaska tegas, langkah Daniel terhenti, ia kemudian berbalik kembali ke laptop.



" Kita pakai proyektor ya supaya jelas lihatnya." Mumtaz mempersiapkan segala sambungan dan layar.



\*\*\*\*



Sejak keluar dari ruangan Julia dua sahabat itu menghabiskan waktu di kantin dengan duduk saling berhadapan terhalang meja bersama Khadafi sambil menunggu Raja dan Juan



" Woy, ngopi ngapa ngopi." Seloroh Raja duduk di samping Adgar di bangku panjang kantin.



" Krik...krik..." Ledek Juan yang memilih duduk di samping Zayin.



Zayin terkekeh geli, ujung matanya melihat Ayunda keluar dari kelas, tidak lama Jessica pun keluar dari kelasnya. " Gue harus pergi."



" Kemana?" Tanya Raja.



" Kepo Lo kayak emak-emak lambe gibah." Balas Zayin sambil melangkah keluar kantin yang diikuti para sahabat.



Nando dan anggota genk BIBA yang kelasnya sederet kelas Ayunda turut keluar begitu mendapat kabar jessica keluar kelas, namun mereka membatalkan niat mereka melindungi Ayunda begitu melihat Zayin dan yang lainnya. Mereka lantas kembali masuk ke kelas masing-masing, kecuali Andromeda selaku ketua dan tiga petinggi Genk BIBA lainnya 



" Lo di sini, lihatin monitor." Cegah Juan saat Khadafi hendak beranjak berdiri."



Ayunda masuk ke toilet perempuan terdekat, begitupun dengan Jessica yang seakan membuntutinya.



Petinggi genk berpencar disekitaran toilet, lalu bersembunyi di tempat masing-masing. Dari sisi lain mata terlatih Zayin menangkap pergerakan itu, Zayin membiarkan langkah yang diambil juniornya sebagai wujud penghormatan atas sikap tanggungjawab mereka. 



Namun di sisi lain koridor gedung sekolah bagian staf, Zayin melihat pergerakan kecil dari sosok yang sudah dia hafal mengintip Mengamati keadaan bagai mata-mata dengan menggunakan ponsel pintarnya.



Zayin melihat itu terkekeh geli meremehkan.



Zayin dan para sahabat duduk di pinggir lapangan tidak jauh dari toilet, menyalakan ponselnya, lalu masuk ke sistem kamera yang terpasang di toilet, terpampang keadaan dalam toilet dengan jelas Zayin mengetahui Jessica mengunci pintu toilet.



Para sahabat ikut nimbrung melihat apa yang dilihat Zayin," Lo ngintip, Yin?" Celetuk Raja.



" Ck, lihat. Ini gak nyorotin bilik tolietnya."



" Dih, jelek mah jelek aja berapa banyak dia pake bedak juga, gak ngaruh." Sewot Raja saat dilihatnya Jessica memperbaiki make-upnya.



" Cantiknya gue, Andros gak akan lagi bakal nolak gue." Jessica berbicara pada dirinya sendiri lewat cermin.



Cklek...



Kaki Ayunda berhenti saat melihat Jessica di depannya, seketika tubuhnya menegang.



Jessica lewat cermin melihat Ayunda yang keluar dari bilik. Dia berbalik, bersedekap dada, tersenyum smirk pada Ayunda.



" Hallo, Birawa jerk." Ejeknya secara provikatif.



Tangan Ayunda yang memegang kenop pintu mengerat. Ia beranjak ke pintu toilet yang ternyata terkunci.



Sekuat tenaga Ayunda memasang wajah tanpa ekspresi, walau jantungnya berdetak kencang, karena takut.



" Hahahaha, Lo gak akan bisa keluar kecuali gue yang menghendakinya." Jessica mengacungkan kunci, kemudian menaruh kunci ke dalam sakunya.



"Ambil, kalau Lo mampu." Tantangnya, Ayunda masih bergeming di tempat.



" Peraturan jaga jarak, *bullshit*. Nyatanya Lo tetap akan gue habisi."



" Lo gak bisa apa-apa tanpa para pengawal Lo, karena Lo *basicly* memang seorang *loser*." Cerocos Jessica yang tidak ditanggapi oleh Ayunda.



Meski parasaanya bercampur antara takut, kesal, cemas akut, dan marah. Ia mencoba tenang, yang ia ingat hanya perkataan Zayin kalau dia seorang Birawa yang harus menguasai lawan, dan memenangkan arena tempur.



" Kalau sudah bicaranya, kamu bisa buka pintu ini." Ucap Ayunda selembut mungkin.



Reaksi Ayunda yang tidak terpengaruh akan provokasinya membuat lawannya naik pitam.



" Setelah Lo bikin keluarga gue kolaps, gue dibuang Daddy gue, Lo pikir gue akan membiarkan Lo hidup? Mimpi Lo." Bentak Jessica.



Dengan gerakan cepat Jessica menampar lalu menjambak rambut Ayunda....



Terima kasih atas kopi... cemilannya mana...piscok boleh...


__ADS_1


Jangan bosan mengikuti ya...tengkyu...


__ADS_2