Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 85. Adu Strategi


__ADS_3

" Hiks..Bara, hiks..kapan kamu akan membebaskanku? Lirih Maura ketakutan.


Mengabaikan rengekan Maura, Bara meminta Jeno memberikan mereka berkas pemindahan saham hotel paradise kepada Wilson, dan mendekati dua Pramono dan Alexander yang berdiri dia tas lututnya dengan kaki terikat.


" Kalian tidak punya pilihan, RaHasiYa telah 'mengamankan' keluarga kalian, jika kalian menolak menandatangani, maka kalian tidak akan pernah melihat mereka lagi. Tentang kerugian saham kalian bisa ambil aset Brotosedjo yang atas nama Tamara dan Amara."


Bara melempar berkas yang berisi daftar aset Brotosedjo atas nama Tamara dan Amara. 


Maura terkejut, bingung.


" Bara, apa maksudmu aset papa atas nama mereka?"


Bara melempar beberapa foto syur Tamara dengan Brotosedjo, dan Amara dengan Brotosedjo.


" Papa tercinta Lo seorang Casanova sejati, sepertinya dia akan bercinta dengan siapa saja selama tidak sedarah dengannya, jadi baginya tidak masalah menikmati kehangatan dari keponakan dan kakak iparnya dan mereka dibayar dengan beberapa aset yang seharusnya milik istri dan anaknya, Tapi baik Riska maupun Rendra tak sudi menerima barang-barang dia."


Naura merebut foto-foto yang sedang dipegang oleh Maura, matanya menelisik dengan cermat apakah foto itu asli atau hanya editan.


Wajahnya memerah, matanya menatap tajam sang suami.


Plak!!!


Tamparan keras jatuh ke pipi Brotosedjo, yang ternganga kaget.


" Berani sekali kau khianati aku dengan keponakan dan kakakku, MENJIJIKAN. Apa aku tidak cukup? Aku rela dijadikan simpanan mu, aku rela meninggalkan kebebasanku untukmu, ini balasanmu padaku?" Teriak Naura menggila.


Maura terdiam menyerap semua hal yang terjadi.


" Pantas saja dia selalu menghinaku, karena dia tahu papa menyayanginya, kalau aku tahu Tamara Puti dari Amara berati kamu tahu jual Tamara adalah..."


" Tanura! tentu saja."


Brotosedjo, Naura, dan Maura terkejut yang membuat Bara berdecak jengah," kalian pikir hal mudah bisa mengelabui kami?"


" Ta...tapi Tamara sudah operasi plastik dengan merubah total wajahnya."


" Tidak dengan DNA, dan kebiasaannya."


" beritahu padaku apa yang harus ku lakukan agar aku mendapat apa yang harus ku miliki?"


" Simple, buat dia tandatangani semua berkas itu, dan semuanya milik kalian bertiga, kalian bisa mendiskusikannya barang apa yang kalian mau.


" Bagaimana denganku?" Protes Naura.


Bara mengedikan bahu, " mana aku peduli, itu bukan urusanku."


Tatapannya beralih pada Pramono dan Alexander.


" Kalian lihat sendiri, para berandal itu bisa kami tangani, apalagi kalau cuma dua keluarga saja." Tunjuknya kepada para geng suruhan Brotosedjo yang dikumpul dalam satu ruangan tersebut.


Raut Pramono dan Alexander pasrah, mereka tahu sejak mereka ditahan mereka tidak punya jalan keluar lagi selain mengikuti alur RaHasiYa.


Tanpa bantahan mereka menandatangani  berkas tersebut.


" Good, sekarang peran mu Maura, kau harus mendapatkan tanda tangan Tamara dan Amara diberkas ini, itu kalau kau ingin membalas mereka."


Maura mengambil sebundel berkas dari Bara," kamu akan mendapatkannya."


" Bagus, bebaskan mereka. Bawa Brotosedjo dan istrinya, serta para ketua geng ke the Baraz."


*****


Zahra menikmati waktu sendirinya di pagi hari dengan duduk santai di bangku taman ditemani beberapa box makanan kiriman dari Hito dan laporan progres kesehatan pasiennya.


" Kak." Zahra menoleh ke belakang, Sisilia melangkah menghampirinya


"  Boleh duduk di sini?" Sisilia menunjuk ruang kosong di sampingnya.


" Silakan."


" Kakak, lagi ngapain?"


" Lagi santai aja, kenapa? Kamu, gimana kabarnya?"


" Baik."


" Kamu kenapa jadi kurus kerontang begitu? Makanan di rumah gak enak?"


Sisilia tertawa gusar, " lagi ga napsu makan aja, biasa lagi banyak tugas." Kilahnya.


Zahra tersenyum tipis," kamu farmasi kan, kakak kedokteran. Biar banyak tugas masih ada tuh waktu buat makan." Sindirnya.


Sisilia merubah duduknya resah," kakak gak suka aku?"


Zahra menatap Sisilia sekilas.


" Apa ada alasan yang buat aku gak suka kamu?"


Sisilia menggeleng," enggak tahu. Ya.. mungkin karena Lia putusin kak Mumtaz!?"


" Picik sekali pikiranmu, putus cinta itu hal biasa gak perlu diperbesar, kalau Tia saja masih baik sama kamu, kenapa kakak yang marah."


Zahra mengambil kotak makan berisi sushi.


" Aaaa..." Zahra mengasongkan sushi ke depan mulut Sisilia.


Sisilia bergeming," buka mulutnya, galau boleh, tapi makan jangan mogok, gak guna." 


Sushi itu langsung masuk mulut begitu Sisilia membukanya.


" Kalau emang masih suka, kejar buat balikan."


" Bhowleh?"


" Gak ada yang melarang, kalau kamu gak malu! malu gak sih, udah mutusin, eh ngejar pengen balikan?!" Sarkas Zahra.


Sisilia menggeleng," enggak. Malunya simpen dulu di gorong-gorong dari pada kehilangan Kak Mumtaz."


" Hahahaha.. belagu sih make mutusin segala, udah tahu bucin akut."


" Hehehehe...khilaf." celetuknya enteng.


" Makanya kalau ada unek-unek apa pun itu diomongin dari pada salah ngambil keputusan, galau sendiri, ribet sendiri."


 


Zahra menatap Sisilia serius, tak ada rasa humor seperti tadi.


" Ini kesempatan terakhir, Mumtaz memang baik, bukan berarti bisa dipermainkan. Kamu mutusin dia lagi, kamu berhadapan sama kakak. Gak peduli kalaupun harus berhadapan dengan keluarga mafia kamu."


Sisilia terkejut," kakak tahu tentang itu?"


" Tahulah, kakak minta tolong Ibnu untuk mencari tahu. Kita sekeluarga sudah tahu, jadi jangan jadi pikiran."


" Terima kasih." 


" Untuk,..."


" Semuanya."


" Sama-sama, ni makan semuanya." Zahra menyodorkan kotak makanan yang diterima oleh Sisilia.


" Di sini mungkin cuma kakak pasien yang sarapannya sushi." Ujar Sisilia terkekeh


" Yah, beginilah nasib punya pacar pemilik rumah sakit, makannya VVIP. Nikmati saja, Kakak masuk dulu ya."


" Iya, makasih buat makananya." Sisilia masih melanjutkan makannya.




Ceklek!!!



Begitu membuka pintu kamar inapnya Zahra terheran mendapati sepasang suami istri Pradapta duduk di sofa seakan menunggu dirinya.



" Om, Tante?"



Zahra mendatangi dan mencium tangan mereka.



" Kok kalian ada di sini?" 



Terlihat elena duduk gelisah, sedangkan Gama diam dengan ketenangannya.



Saat Zahra hendak duduk di sofa, Elena menarik tangannya dan ia duduk bersimpuh sempurna sambil menangis, sontak Zahra menggeser mundur kaget kala kakinya dipegang Elena.



Dominiaz yang duduk di sofa tunggal ruang tunggu yang tak tertutup sempurna menatap melas ibunya yang duduk tertunduk dihadapan Zahra, ia tahu ibunya bersalah, namun tetap saja dia tak mampu melihat kala ibuya meminta ampunan pada orang lain.



Kepalanya pun turut ia tundukan sangat dalam memejamkan mata kuat guna menghalau gambaran bersimpuh ibunya tadi, berdasarkan apa yang ia tahu Zahra adalah sosok yang keras menjunjung tinggi persamaan derajat, dan mampu bersikap sombong terhadap orang yang bertingkah pongah kepada keluarganya.



" Tante, ada apa? Jangan begini kalau ada masalah kita bisa bicarakan dengan baik-baik." Ucap Zahra risih.



Zahra megang kedua lengan atas Elena agar berdiri, namun ditolak Elena.



" Zahra, maafkan Tante, Tante yang salah. Tante mohon hukum Tante jangan hukum Lia." Lirihnya ditengah isakan tangisnya.



Merasa gagal menarik elena, Zahra pun duduk bersimpuh sempurna di hadapan Elena.



" Tante, saya minta maaf kalau saya punya salah, tapi tolong berdirilah kita bicarakan dengan tenang apapun masalahnya jangan buat saya merasa jahat."



Elena menatap Zahra bimbang, Zahra menatap Elena tenang.



" Kalau Tante gak mau ya udah kita begini aja, tapi saya mohon jangan berucap maaf kepada saya, tidak patut orang tua berucap maaf pada orang seusia anaknya."



"Tapi orang tua yang salah juga harus minta maaf."



" Saya gak tahu Tante punya salah apa sama saya."



Elena terdiam, ragu saat harus mengatakan apa yang ada dihatinya.



" Kamu benci Sisilia karena dia putus dari Mumtaz ,kan!?".



"HAH?,"



" Benarkan"?



" Tidak, kenapa juga saya harus benci dia. Kesal sih iya benci enggak."



" Terus kenapa kamu menjodohkan Caitlyn dengan Mumtaz, bukannya dengan Sisilia?"


__ADS_1


" Kan Lia-nya sendiri yang udah gak mau, dari pada adik saya galau ya..saya deketin dia sama perempuan lain."



" Siapa bilang Lia gak mau?" Elena menaikkan nada suara, dengan intonasi impulsif.



Zahra menatap Elena malas," tante, kalau Tante mau ngomong sesuatu ngomong aja langsung jangan berbelit-belit begini supaya saya gak salah paham." Ucapnya dengan tatapan tegas tanda menolak diintimidasi.



Elena yang paham sikap defensif Zahra menghela nafas berat.



" Maafkan saya, saya tidak bermaksud menekan kamu, tapi saya mohon kamu hentikan mendekatkan Mumtaz dengan Caitlyn karena Lia masih sangat mencintai Mumtaz."



Zahra menghela nafas gusar," Tante, biarkan mereka menemukan alur asmara mereka, kita jangan ikut campur tentang itu."



" Tapi kamu tidak akan melarang mereka, kan? Saya janji, saya akan menjadi calon mertua yang baik untuk Mumtaz kesalahan kemarin tidak akan terjadi lagi." Janji Elena.



Zahra meringis," Tante. Saya tidak akan menghalangi Lia dengan Mumtaz, tapi saya juga tidak bisa melarang orang untuk suka Mumtaz. Tentang pandangan Tante, saya harap Tante mengenal Mumtaz lebih baik lagi."



Dominiaz menatap Zahra dengan dalam dan penuh arti, dia pikir Zahra akan memaki dan bersikap pongah seperti yang ia perlihatkan pada nenek Sri.



Ketakjubannya pada Zahra tak bisa terbendung, tapi satu kesadaran menghampirinya membuat dia terhenyak yaitu bahwa Zahra kekasih Hito, sahabatnya.



" Tante kita mending pidah duduknya dari pada bersimpuh gini aku udah kesemutan." Ringisnya.



" Hahaha, iya ya. Maaf Tante berlebihan, tapi Tante sungguh khawatir kamu benci Lia mengingat kesalahan Tante begitu besar."



"Aaawss.." ringis Zahra ngilu kala hendak bangun kakinya kebas kesemutan, hingga ia urungkan.



" Sini, Tante bantu." 



" Bangun aja duluan, Tan. Baru bantu." Tolak Zahra halus



Baru menggerakkan kaki sedikit Elena langsung kembali ke sikap semula.



"Aaawwsss." 



Zahra terkekeh," sok pengen bantu taunya senasib, kebas banget ya."



" Heeh." 



Dominiaz yang melihat adegan itu ikut terkekeh, pandangannya bukannya perihatin pada ibunya, tanpa sadar dia malah menatap lekat Zahra tiada henti.



Gama pun tertawa tak ayal lega dirasakannya, ia menatap Zahra dengan tenang, ia berjanji apapun yang terjadi di kemudian hari Pradapta akan mendukung keluarga Mumtaz.



Ceklek!!!



Tiba-tiba Hito dan Heru masuk ruangan sambil mengernyitkan dahi heran melihat Elena dan Zahra duduk bersimpuh di lantai.



" Kalian lagi ngapain, dansa jongkok?" Tanya asal Hito yang meletakan beberapa plastik berisi kotak makanan ke atas meja.



" Gak lihat lagi kasting tali kasih." Jawab ketus Zahra.



" Bantuin berdiri ngapain berdiri aja." Ketus Zahra.



" Mintanya baik-baik dong mbak." Hito tersenyum, tapi tetap mendekati mereka.



" Gak Sudi, kalau kamu seorang gantle tanpa diminta juga kamu seharusnya langsung bantuin bukannya lihatin."



Setelah berada dekat mereka bukannya langsung membantu, Hito malah berdiri saja.



" Kamu mau bantu enggak sih, ah kenapa mejeng di depan aku" kesal Zahra menengadah menatap Hito.




Mendengar rengekan Zahra suntuk pertama kalinya selama mereka kenal, Hito mendelik tajam Heru yang diabaikan olehnya



" Hmm." Ketika Heru hendak mendekati mereka langsung dicegah Hito dengan mencekal tangan Heru.



" Kamu pacar aku, kenapa minta tolong dia?" Ketusnya, sambil mengulur kedua tangannya memegangi masing masing satu tangan Zahra dan tante Elena.



" Aaaawwss," ringisan terlontar dari mulut dua wanita beda generasi itu.



" Om Gama bantuin saya napa kok duduk-duduk santai aja." Geram Hito.



" Hehehe... kamu masih muda iya kali segitu doang gak mampu, lawan nenek aja bisa, masa gini doang gak bisa."



" Beda konteks om, ini pegangin tantenya, ya Allah. Lagian sofa empuk ada kenapa duduk di lantai sih."



" Kamu cerewet banget sih kalau gak mau nolongin jangan ngedumel." Sebal Zahra.



Hito mengulum senyum tipis, hatinya senang Zahra  kembali berekspresi. Selama ini memang Zahra berbicara padanya tapi dengan ekspresi datar, atau dingin.



" Kenapa senyum-senyum?" Tanya Zahra heran.



" Gak apa-apa, I Love you." Bisiknya.



" Hmm." Zahra malas menanggapinya.



" Jangan liatin pacar temen, suka, repot sendiri." Tegur Heru yang mendapati Dominiaz menatap intens Zahra.



Dominiaz terkesiap, dan tertawa kikuk." Hehehe...sekarang gue paham kenapa Hito mati-matian mempertahankannya." Gumamnya



\*\*\*\*\*



Las Vegas, Amerika Serikat



Dua orang usia pertengahan 50 tahun bersantai menyesap tequila di sebuah lounge



" Aku dengar kau rugi milyaran dollar karena sabotase angkatan laut Indonesia, hmm?"



" Damn, entah sejak kapan keamanan laut Indonesia menjadi ketat, itu pengiriman yang ke sekian yang berhasil disabotase AL." Kesal Gonzalez.



" Hahahaha...kau terlalu gegabah, lez. Indonesia punya hacker yang lumayan nasionalis kau terlalu sering mengirim barang ke sana lama kelamaan mereka juga kesal. Jangan pernah ragukan rasa nasionalisme orang Indonesia."



" Heh, bullshit. Selama ini kita bekerja sama dengan orang Indonesia. Sial! Dari kemarin saya gak bisa hubungi Brotosedjo, dan Aloya. Entah kemana para bajing\*n itu!?" 



Alfred tertegun," sejak kapan mereka hilang?"



Gonzalez menatap curiga pria di depannya.



" Aloya sudah lama, Brotosedjo sejak dua hari yang lalu."



Alfred melempar satu amplop besar warna putih.



Gonzales membuka isi amplop tersebut yang terdapat gambar setengah badan seorang pria muda dengan tatapan cerdas dengan segala keterangan biodatanya.



" Kuasai media cyber Indonesia terlebih dahulu, baru kau akan berhasil, dia orang yang bisa membantumu." Alfredo menghisap dalam cerutunya.



" Namanya Dewa, saat ini ia bekerja di perusahaan cyber no 1 di Indonesia bernama RaHasiYa. Kemampuannya tidak perlu diragukan, hidupnya hanya masalah uang, jadi kau cukup mengiminginya uang dia akan lakukan apa yang akan kamu lakukan."



" RaHasiYa...," renung Gonzalez," saya ragu informasi tentangnya yang kau miliki benar, mengingat selama ini tidak ada yang berani berkhianat pada RaHasiYa. Saya sudah berulang kali mencoba menyogok hacker di sana, tapi selalu gagal. Mereka memiliki loyalitas tinggi."


__ADS_1


Alfred mengedikan bahu," selalu ada satu barang *reject*, bukan!?"



" Semoga dia bukan penyebab kehancuran kamu, oh iya pastikan Sivia pulang ke Indonesia dalam waktu dekat."



Alfred menatap tidak suka Gonzalez secara terang-terangan,



" Kau terlalu lama menikmatinya sedangkan saya butuh dia untuk mendekat pada Hartadraja."



Alfred berdecak," apa kamu tidak bisa perlakukan dia sebagai putri bukan alat."



" Dulu saya sangat mencintainya terlepas siapa nama belakangnya, sejak dia bertingkah konyol dengan mengkhianati Hito dan membuat saya bangkrut semuanya selesai."



Gonzalez mematikan cerutunya dan beranjak," pastikan dia sudah pulang ke Indonesia sebelum saya menapaki Indonesia. Selamat malam tuan Navarro." Gonzalez meninggalkan meninggalkan Navarro  yang sedang memasang ekspresi muak.



\*\*\*\*



" Jadi kau diminta Navarro berkhianat?" Tanya Daniel memastikan pada Dewa yang berdiri gugup.



saat ini mereka bersama Ibnu, Alfaska, dan Bara berada di ruang kerja Daniel di lantai tiga.



" Iya, dia menelpon saya dan menawari bayaran sebesar dua juta poundsterling. Jadi saya terima."



" Kenapa kamu memberitahu kami kalau kamu sudah menerima bayaran dari dia?"



" Saya dapat titah dari bang Mumtaz untuk menyambut segala penawaran dari orang bernama Navarro, tetapi adat juga tidak mau bunuh diri berurusan dengan kalian, sementara bang Mumtaz tidak di tempat."



"Mumtaz?" Ibnu mengernyit bingung.



" Iya, beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Swiss bang Mumtaz menyinggung soal Navarro, dan saya disuruh mengiyakan apapun perkataan Navarro."



" Jadi apa suruhan Navarro ke Lo."



" Hanya memantau gerak-gerik RaHasiYa, dan laporan tentang kalian."



" *Double copy* semua laporan Lo ke email gue." Seru Alfaska.



" Sudah, dan catat para boss, setiap laporan yang saya kirim atas persetujuan dari bang Mumtaz." Tekan Dewa memastikan para bosnya itu paham akan apa yang dia perbuat.



" Cari informasi semuanya tentang Alfred Navarro dan alasan kenapa dia sangat  menginginkan Indonesia."



" Siap, saya kirim ke email kalian, para boss."



\*\*\*\*\*



" Kak, kita bisa lihat gak lihat apa yang dilakukan Aa Mumuy di Swiss lewat cctv?"



" Buat apa?"



" Ya...lihat aja, ini udah dua Minggu dan gak ada kabar dari Aa sama sekali takut digondol bule Swiss." Tia berbicara pada Ibnu, namun lirikan matanya menjurus ke Sisilia.



Ibnu menghela nafas kesal karena terjebak bersama empat bocil di ruang inap Sisilia.



Dia tak akan mau mengikuti keinginan Daniel yang memintanya menunggui Sisilia bersama tiga sahabatnya jika ia tidak tahu ada pihak yang sedang mengancam nyawa mereka.



Setelah 15 menit sibuk mengutak-atik laptopnya Ibnu meletak laptopnya di meja makan pasien.



Terlihat Mumtaz, dan Alatas bersaudara sedang makan siang bersama klien.



Seorang wanita muda yang duduk bersebelahan dengan Mumtaz mengajak bicara Mumtaz dengan gestur *seductive* secara terang-terangan.



Meski terlihat jelas Mumtaz mengabaikan godaan tersebut, namun tak urung membuat Sisilia murung.



" Lo jangan murung kayak ditinggal suami, jelas-jelas Lo yang minta putus dari Abang gue." Rutuk Tia.



" Bisa enggak Lo lupain kejadian itu?" Sewot Sisilia yang terpancing ocehan Tia.



" Enggak, Lo Ta, Cass. bisa enggak lupain kejadian itu?" Sindir Tia.



Mereka menggeleng," Lo mutusin kak Mumtaz ditengah lautan orang, Ya. Gue yakin si Riana begitu kak Mumtaz masuk kuliah dia langsung nempel kayak perangko."  Provokasi Dista..



" Gak mungkin bisa, gue akan mencegahnya." Ucap Sisilia.



" Cuih, halu sekali kamu, nak. Inget Lo Sisilia yang kalem bukan Ita atau Tia yang bar bar." Cemooh Cassandra.



Adu mulut diantar empat sahabat tentang hal yang tidak penting  berhasil membuat mood Ibnu anjlok ke titik terendah dalam hidupnya.



Mengambil duduk di sofa dengan headset yang. Terpasang di tabsnya Ibnu mengamati ruang rapat lantai sembilan yang sedang diadakan rapat di sana.



\*\*\*\*\*



Bara, Daniel, Alfaska, serta Dominiaz sedang menatap layar hologram yang  menampilkan data informasi berasal dari pikiran Brotosedjo.



" Jadi selama ini dia gembong internasional yang memasok narkoba dan senjata dari Amerika latin. Pantesan para pemberontak itu memiliki senjata yang canggih meski mereka tinggal ditengah hutan dan dalam keadaan miskin." Ujar Daniel manggut-manggut.



"Itulah mengapa polisi seakan tak berdaya menghadapi gempuran narkoba yang merajalela, para legisaltif, dan eksekutif sudah mereka kendalikan." Seru Alfaska.



" Gue pikir kita terlalu jauh ngurusin hal ini, kita serahkan saja pada pihak yang berwenang."



" Siapa? Terlalu banyak orang kotor dilingkaran pemerintah, hanya TNI dan BNN yang bisa kita andalkan." Timpal Alfaska.



" Sejak kapan Lo peduli pada penyakit masyarkat gini?" Heran Bara.



" Gue udah baca informasi dari Ibnu yang berhasil dia bongkar dari file Mumtaz perihal transaksi mafia Italia dengan  gembong Meksiko yang intinya sedang menargetkan Indonesia menjadi pasar utama perdagangan gelap mereka." Alfaska menayangkan hasil pencarian cyber mumtaz secara hologram.



Alfaska mengganti tampilan layar dengan rekaman penyerangan terakhir.



" Mereka kalah, karena bukan tandingan anak RaHasiYa dan Gaunzaga yangvterlatih, tapi Lo perhatikan tatapan tidak fokus dan sikap agresif mereka. Gue udah minta pendapat para ahli, dan mengambil urine mereka, kesimpulannya mereka positif narkoba, kemungkinan mereka dicekoki sebelum beraksi. Mereka berusia 20 s/d 30 tahunan masa produktif dan mereka berasal dari keluarga mampu, itu hal yang miris."



" Terus solusi apa yang Lo tawarkan?" 



" Negara sedang giat-giatnya dengan aksi bela negara, gue yakin TNI akan dengan senang hati membantu kita mengeluarkan para pemuda itu dari hal yang konyol ini."



" Lo lobi TNI, niel. Gata tv bisa menjadi media informasi bagi masyarakat tentang kegiatan ini. Biar anak retas RaHasiYa yang spam tentang ini di medsos mereka."



Diam sambil mengamati petinggi RaHasiYa rapat, tak ayal kekaguman Dominiaz untuk mereka begitu tinggi.



" Gata tv akan mengemas isu sensitif ini dengan bahasa gaul agar mengena bagi pemuda." ucap Dominiaz mendukung juniornya.



" terima kasih, bang "



" Gue yakin mereka gak tinggal diam?" Analisa Daniel.



" Pastinya, ketika mereka datang ke Indonesia kita udah siap. Kita tunjukin siap penguasa Indonesia sesungguhnya."



" Siapa?" Bara mengernyit konyol.



" Yang pasti bukan pemerintah seperti yang mereka duga selama ini." Ucap Alfaska penuh dengan keyakinan.



**kita simbiosis mutualisme yuk aku berkarya, kalian baca dan kasih like, komen, hadiah, dan vote** .

__ADS_1


__ADS_2