Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 9 menunjukan sedikit jati diri


__ADS_3

Empat pemuda duduk tenang dan santai diatas sofa besar dan panjang yang empuk disuatu ruang yang disinyalir ruang keluarga atau ruang konferensi pers nan luas dan megah


pintu dibuka oleh seseorang dan masuklah klan Hartadraja. dipimpin sang kakek dan nenek, dilanjutkan orang tua dan para anak.


saat ini posisi empat sohib itu duduk berhadapan dengan tetua klan Hartadraja.


kakek Fatio melempar laporan hasil scan medis Tanura keatas meja. empat sohib hanya membaca disampul depan amplop laporan tersebut tanpa menyentuhnya.


" Didalamnya tertulis jika Tanura mengalami cedera kepala berat bahkan ada retakan ditengkorak samping kanan, bisa dipastikan dia tuli permanen sebelah kanan telinga, mengalami pengurangan daya lihat sebelah kanan. selain itu dia juga mengalami pengurangan fungsi motorik tubuh bagian kanan. siapa yang bertanggung jawab atas tragedi ini?" teriak marah sang kakek.


".........."


" kenapa pada diam. takut, kalian berani bertindak, tapi tak berani bertanggung jawab." sindir sinis sang nenek.


" kami diam, karena bukan kami yang bertanggung jawab. diri dia sendiri yang harus bertanggung jawab" Mumtaz angkat bicara. karena dapat dipastikan mereka tidak mendapat bukti yang meyakinkan. para siswa-siswi kompak diam seribu bahasa ketika ditanyai pihak sekolah termasuk geng Tanura. mereka kapok berurusan dengan Mumtaz dan para sohibnya.


" kami sudah lihat rekaman cctv dalam kelas. dan salah satu diantara kalian pelakunya." sekarang om Damar


" saya ragu kalian melihat apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu secara utuh." Ibnu menimpali dengan sarkas


" kenapa? kamu meragukan ucapan kami? maksud kamu kami berbohong." tuduh nenek tak terima.


" selain kalian, kami juga meminta hasil rekaman kejadian hari itu, tapi kami sadar rekaman itu ada yang terpotong. tidak utuh. dan itu tidak bisa dijadikan bukti apapun." Daniel menjelaskan dengan santun. jelas mereka hanya mendapati hasil rekan cctv yang terpotong, karena saat pihak sekolah gaduh dengan tragedi itu. Ibnu telah menghapus bagian Mumtaz yang melempar Tanura dan bagian penyerangan yang dilakukan Tia dan gengnya. jadi yang tersisa hanya bagian adu mulut saja.


mereka tahu siapa Daniel. pewaris utama klan Birawa yang terkenal jujur, ulet, pemberani,dan pendendam. kompetitor mereka yang beberapa tahun lalu mencoba menculik sang pewaris sudah merasakan akibatnya. sampai sekarang sang kompetitor belum berhasil bangkit dari kebangkrutan.


dengan intonasi rendah sang ayah " apa masalahnya sehingga kalian melakukan demikian itu kepada Tanura?"


" melakukan apa? apa disini anda menuduh bahwa kami yang mencelakai Tanura?" tanya Jimmy dengan wajah polosnya


" kalo bukan kalian siapa lagi yang berani melawan Hartadraja dan disana kalian sedang cekcok dengan Tanura dan teman-temannya" sang kakek marah menggelegar.


" dengan ucapan anda, maka mungkin kami terpaksa akan melaporkan anda dengan dasar pencemaran nama baik, pemfitnahan, keterangan palsu, dan perilaku tidak menyenangkan. yakinlah saya tidak akan sungkan melakukannya. saya yakin ayah saya akan mendukung niatan saya." masih dengan wajah polos Jimmy berkata tenang.


Atma Madina bukanlah nama yang bisa disepelekan dalam dunia bisnis. bahkan Hartadraja dan Atma Madina terlibat kerjasama dalam beberapa proyek bisnis besar. dan mereka tak mau ambil resiko.


" kau Mumtaz, sejak kami terlibat dengan keluargamu, kami sering mengalami kesialan. kau dan keluargamu pembawa sial." tunjuk sang nenek tajam


Mumtaz dan para sohib mengepalkan tangan menahan emosi, sedangkan kelurga Hartadraja terhentak dengan komentar sang nenek


" saya kembalikan kata-kata anda pada diri anda dan keluarga anda." Mumtaz berhasil meredam emosinya


" sebelum anda berbicara omong kosong lebih banyak, saya peringatkan untuk tidak menghina keluarga saya. apapun yang anda pikirkan tentang kejadian yang menimpa Tanura, jika keadaan memaksa hal itu bisa terjadi pada kalian." tekad Mumtaz tak terbantahkan.


" apa kau sedang mengancam kami?" sang ayah memastikan dengan tatapan intens


" hanya memperingatkan. agar kalian lebih menghormati pihak lain. siapapun itu." balas Mumtaz tegas.


klan Hartadraja terdiam matikutu. mereka tak menyangka hal ini yang akan mereka dapatkan. sebelumnya mereka percaya diri dpat mengintimidasi empat pemuda itu, tapi kenyataan tak sesuai ekspektasi.


suasana hening memanjang. para penghuni ruangan terdiam dengan Pemikiran masing-masing. maka dengan kejengahan yang tidak disembunyikan Jimmy memecah keheningan tersebut


" apa hanya untuk ini kalian memanggil kami?"


" apa masih ada yang ingin kalian utarakan? jika tidak ada, kami permisi pulang." keempat pemuda itu serempak meninggalkan ruangan.


" periksa cctv ruangan ini. siapa tahu ada yang kita bisa kita gunakan untuk menekan mereka." titah sang kakek.


ketika memeriksa riwayat rekaman cctv saat pertemuan tadi. layar komputer penyimpan rekaman cctv menunjukan layar hitam. Tak ada rekaman pertemuan tadi. benar benar hitam tanpa gambar. menambah amarah sang kakek sampai menunjukan warna wajah memerah dan otot-otot menonjol seluruh tubuh


" aaarrgghhh. kenapa bisa begini.!" dan berlalu pergi dari ruangan kerjanya


************


Gedung BRANS TV.


dilantai teratas sang CEO khusyu memeriksa laporan kerja


ceklek...


sang asisten sekaligus sahabat sang CEO masuk.


menyerahkan map hijau keatas meja sang CEO.


" apa nih." Hito membuka isi map tersebut. dan mempelajarinya.


" pengajuan permohonan investasi dicafe' D'lima milik si Erwin Gautama."


" itu dokumen udah seminggu di gw. dan gw langsung membentuk tim kecil guna penyelidikan keadaan manajemen cafe'."


Heru duduk disofa yang terdapat diruang kerja Hito. Hito turut bergabung dan duduk disofa single samping Heru.


" hasilnya.?"


" kesimpulan awal, gw curiga ada yang mencoba mensabotase usaha dia. udah beberapa cafe'nya tutup. tinggal yang ada di Jabodetabek doang yang masih bertahan. dengan kondisi keuangan parah."


" oke. bikin temu janji. Sabtu ini kita ke cafe' dia."


" oke...."


seakan tahu masih ada yang ingin diucapkan sang asisten. Hito mengangkat kepalanya dari proposal sang sahabat Erwin.


" apa?"


" dia, Aulia Zahra kamilah, kakak dari Mumtaz kerja disana."


untuk beberapa saat Hito tertegun...


************


Cafe' D'lima


jam menunjukan pukul 12.00. para pegawai menatap perihatin sang boss. pasalnya sang boss sudah hampir seminggu ini menunjukan wajah loyo tak bersemangat. penurunan pelanggan penyebab. meski mereka sudah melakukan berbagai inovasi baik dalam varian menu, pelayanan maupun suasana cafe'


saling dorong bahkan main hompimpa guna menunjukan perwakilan pegawai untuk mendekati sang boss hanya untuk menanyai apakah sang boss sudah makan siang atau belum.


" shit. sial. kenapa gw dah." rutuk Zahra yang kalah main


" udah jangan banyak bacot. sana pergi." kompor pegawai lain.


saat ini sang bos terlihat duduk dipojokan cafe' dengan kepala diatas meja ditutup oleh kedua tangan yang saling mengepal dibelakang kepala.


" permisi bos mengganggu."


" iya ada apa zah?" sang bos memperbaiki letak duduknya.


" apa boss sudah makan siang?"


dijawab gelengan kepala.


"makan dulu yuk boss. boss sakit, kita yang sedih."mencoba berkelakar. namun garing


" ga napsu..zah." diucapkan dengan loyo


" kenapa ya cafe' kita masih sepi. apapun yang kita lakukan terasa percuma. pengen saya tutup ini cafe', tapi gak sanggup." tanpa diminta sang boss curhat diakhiri membuang nafas kasar.


" mau coba pake jasa investigasi adik saya boss?" Zahra menawarkan karena gak tega melihat sang boss yang biasa ramah, optimis, dan mencerahkan suasana menjadi mendung kelam begini.


"investigasi gimana?"


" ya...investigasi mencari tau penyebab kenapa cafe' kita begini. saya gak tau cara kerjanya, tapi entah mengapa kalo keluarga saya kehilangan sesuatu benda pasti diketumuin lagi sama adik saya."


"mahal gak. dana nipis zah."


" ah mereka mah dikasih makan aja juga cukup. tenang saya yang ngomong." Zahra menepuk dadanya dengan yakin Mumtaz tidak aka menolak permintaannya.


***********

__ADS_1


rumah Alm Zein


" gak. gak bisa. apaan cuma dibayar makan doang. kali cuma makan aku juga masih sanggup bayar kak" tolak keras Jimmy atas permintaan kakak Ala


" ya udah sama minumnya deh."


" lagi ngelawak dia." sarkas Jimmy. denga gaya sombong Jimmy mengeluarkan berbagai kartu kredit, bahkan ada yang warna hitam dan kartu debit."


" semuanya dengan penarikan dana unlimited." ujar sombuong Jimmy.


" ketika ego sang sultan tersentil. aku mah apa atuh remehan biskuit yang udah liat." sindir Ibnu.


memasang wajah memelas dan dikasihani kak Ala masih berusaha membujuk Mumtaz. karena dia pikir kalo Mumtaz setuju, semua pasti setuju.


" kak, aku sih oke aja. tapi semua ongkos peralatan itu ditanggung semua SMA Jimmy kak. jadi terserah Jimmy."


sang yang ditunjuk menengadahkan kepala dengan bersila tangan didada.


pundak kak Ala merosot tajam, kepala menunduk dan beranjak berjalan dengan membungkuk bagai tak bertenaga mengarah kekamar.


" udah stop dramanya Jim." Daniel menoyor kepala Jimmy. yang langsung mendapat selokan mata dari sang empunya.


" oke kak. kita bantu. itung-itung uji coba teknik baru yang sedang dikembangkan."


mendengar perkataan Daniel, kak Ala membalikan tubuh dengan semangat 45 tersenyum sumringah menghampiri dan duduk bersimpuh mengucapkan


" terimakasih,...terimakasih sebanyak-banyaknya. jasa kalian tidak akan kami lupakan wahai para adiknda." dia langsung berlari kekamar untuk menghubungi sang boss.


********


Cafe' D'lima


Sabtu pukul 10.00


prok.prok....tepuk tangan ringan


" baiklah para pegawai ku yang baik dan setia. hari ini kita akan kedatangan tamu penting calon seorang investor bagi cafe' D'lima. semoga pertemuan ini menghasilkan kesuksesan bagi kita semua. Amin"


" AMIIIIIINNNN" ucap serempak para pegawai.


" boss apa para pelanggan yang datang dijam yang sama harus kita tolak?" tanya salah satu pegawai


" tidak perlu. justru itu penting. untuk meyakinkan investor kalo cafe' kita masih. punya masa depan."


tring.....( bunyi pintu cafe' terbuka )


dua pria dewasa nan tampan memasuki cafe' dengan pakaian santai.


" hai bro. makasih mau nyempetin datang." salam Erwin sambil bertos tangan ala pria


" santai bro. kayak sama siapa aja." timpal Hito. dengan tersamar bola matanya mengedar ke penjuru arah cafe' sampai akhirnya menemukan titik pusat perhatian yang dijatuhkan kepada seorang gadis. pandangan mata mereka bersirobok sesaat sebelum diputus Hito karena mendapat ajakan dari Erwin.


" mari To, Ru, duduk." mereka duduk disamping kaca dengan meja berkursi single empat buah.


" gw udah pelajari proposal Lo Win. dan gw masih bingung penyebabnya." ujar Hito.


" iya gw juga bingung. kejadiannya cepet banget. bayangin dalam waktu dua bulan udah 10 cabang ditutup. gw udah ngelakuin investigasi mandiri,tapi gak ada hasil memuaskan."


" kemarin lusa gw nyewa tim investigator. mereka masih anak SMA terdiri dari empat orang cowok, tapi kalo melihat peralatan yang mereka gunakan sangat meyakinkan."


" mereka kerja cepat. kombinasi kerja mereka terlihat rapih, dan efisien. mereka kayak udah pro. kata mereka, dalam satu Minggu mereka akan melaporkan hasilnya secara komplit."


" mahal dong harganya" duga Heru.


" kagak. gw cuma nyediain makan,minum, sama Snack."


"serius lo.? dapet darimana lo?" Hito penasaran


"dari rekomendasi salah satu pegawai gw. tuh yang itu tu orangnya" menunjuk kearah Zahra


" oh ya? siapa namanya?" Heru berusaha menampilkan raut antusias. sedangkan Hito pendengar baik.


" Mumtaz." ucap Erwin apa adanya.


mendengar nama itu. Hito dan Heru saling menatap.


" mereka kerja dimalam hari setelah beberapa saat Cafe' tutup.jam kerjanya juga lama mungkin hanya 2 sampe 3 jam an lah."


" apa aja yang mereka lakukan."


" gw kurang tau. mereka mengganti semua kamera cctv yang ada dicafe' ini.memasang beberapa alat ditembok cafe,kantor gw. dapur, dan kasir. seperti gw bilang kerja mereka cepet. mereka seperti udah menguasai dan Terbiasa melakukan kerjaan ini."


" ooh gitu... terus tentang investasi ini kira-kira Lo butuh dana berapa bro."


" Lo gak nunggu hasil investigasi gw dulu To." tawar Erwin sungkan.


" itu mah gampang. belakangan aja.dari laporan kemarin gw liat Lo butuh dana cepet."


" iya sih. tapi..."


"Win please.. kita udah kenal lama. Lo masih dukung gw disaat terpuruknya gw. jadi pastinya gw gak akan mikir dua kali buat bantu Lo."


dalam mobil sepulang dari cafe'.


" Lo bukan karena Zahra bantu Erwin kan?"


" hah. apa sih maksud Lo Ru."


" To. gw tau semenjak kejadian dirumah sakit Lo menaruh perhatian lebih ke Zahra. Lo mencari tau tentang tentang kuliahnya, temen-temennya, bahkan Lo memastikan pihak kampus tuk memberikan beasiswa semester ini kepadanya. justru gw yang mesti tanya, apa maksud Lo ngelakuin itu semua.?!!"


" Lo udah tau." dengan bersandar dikaca pintu mobil Hito menutup mata


" gw cuma mastiin dia gak kesusahan aja. gw udah bunuh ayahnya. untuk saat ini cuma itu yang bisa gw lakuin."


************


telah dua bulan *** di Sekolah BINAKU Bangsa berjalan. suasana sekolah terasa berbeda. pasca geng Indah yang diketuai Tanura rontok tanpa nyali, alhasil pembullying-pembullying recehan tak berani beraksi.


" woy Muy, gimana kita jadi kasih hasil inves ini malem ini?" tanya Ibnu.


" iya lah. nunggu apalagi. kan udah rampung semua."


" bukannya kecepetan Muy. kita janjinya satu Minggu. ini baru empat hari Muy. berasa keren ga sih Lo." ujar Jimmy.


" maybe itu Lo. Lo kan norak. gw mah biasa aja. yang penting teknik terbaru kita sukses." Daniel bersuara.


saat ini mereka sedang mengembangkan sistem pemindai sidik jari dari jarak sedang dan menemukan orang dari suhu tubuh lewat pemindai seluruh tubuh dari jarak sedang lewat udara / angin. dan menyimpan rekaman suhu tubuh sehingga alat tetap dapat mendeteksi keberadaan objek tersebut dan mengetahui aktivitas objek tersebut.


" kuylah kita selesaikan inves ini dengan cepat."


" gw telpon pak Erwinnya dulu ya."


" besok siang kita ketemuan dicafe." lapor Mumtaz selepas memutus hubungan telpon.


" asik. bolos lagi. lagi..lagi bolos.." senengnya hati Jimmy hingga dia joget ga jelas.


" kenapa siang? kenapa gak sore aja. pengen belajar gw." tawar menyindir Jimmy Ibnu.


" sok Lo Nu."


" fitnah diri sendiri." rutuk Daniel dan Jimmy meremehkan. Ibnu hanya mengedipkan bahu.


" kalian pasti ngebaca juga kalo ni orang udah mulai mengarah fitnah ke kak Ala. gak bisa gw biarin. gak mau ngambil resiko gw. tuntaskan apa yang bisa tuk saat ini. kalo belum komplit. kita masih bisa jalan dengan slow." jelas Mumtaz.


" gw mah idem aja ma Lo Muy." ujar Daniel.


" gw juga." Jimmy.

__ADS_1


" idem." Ibnu.


********


Cafe' D'lima


pukul 13.00 wib


kantor CEO Cafe' D'lima


telah duduk disofa empat pemuda dan sang boss cafe' mengelilingi meja.


" jadi gimana." Erwin membuka obrolan


Ibnu mengeluarkan laptop dan mulai mengaktifkannya. dan menuju ke file yang bernama D5.


" bapak. langsung lihat rekamannya aja ya. kalo ada yang mau ditanyakan, tanyakan saja."


melihat hasil kerja mereka mata Erwin terbelalak kaget tak menyangka.bahasa tubuh yang awalnya relax, disusul tegang, dilanjut marah hingga mengepalkan tangan dan diakhiri menahan emosi dengan membuang nafas kasar.


" sesuai perjanjian mereka ( para pelaku ).mereka akan bertransaksi hari ini di Cafe Melati. saya harap bapak mengijinkan karyawan tersebut untuk pergi. hingga terjadi transaksi transfernya. jadi kami dapat mengembalikan uang bapak yang sudah dicuri oleh karyawan bapak. dan pelaku sang perintah mengganti rugi kerugian bapak tanpa diketahui.


" apakah hal itu bisa terjadi.?"


" yakin bisa."


" ini melibatkan sejumlah uang yang besar.pihak bank tidak akan membiarkannya."


" itu menjadi urusan kami. kami janji bapak dan kita semua clear pada akhirnya."


" sekarang saya mau ijin melakukan tindakan akhir lewat komputer anda, sehingga anda bisa melihat secara langsung aktifitas objek."


" silahkan, tapi bisakah satu diantara kalian menjelaskan prosesnya. mungkin saya tidak akan memahami keseluruhannya. tapi saya hanya ingin tahu saja."


" Jim. jelaskan. Lo kan paling males bertindak." perintah Daniel. sedangkan Ibnu dan Mumtaz langsung bekerja


flashback.....


setelah perkenalan singkat yang ditengahi oleh kak Zahra. empat pemuda dan Erwin menuju kantor Erwin dilantai tiga.


" kami akan mulai kerja lapangan setelah cafe' tutup. segala perubahan dicafe saya harap bapak merahasiakannya. tak ada yang boleh tau diluar kita."


" oke..." pak Erwin duduk dibangku kebesarannya. menonton kesibukan empat pemuda mengeluarkan segala macam alat. dari segala bentuk benda seperti bola, kotak, bulat, lonjong, berbagai jenis komputer, pesawat kecil yang diasumsikan Erwin adalah drone tapi ini kecil dan terkesan tipis. sehingga jika diterbangkan sulit menjadi perhatian orang yang dibawahnya dan banyak lagi.


pukul 23.00 wib.


empat orang pemuda berpencar melakukan tugas masing-masing. ada yang membongkar cctv, melubangi tembok, jendela, pintu, ventilasi udara pun terkena sentuhan mereka masuk internet atap, menempel benda, mengutak - Atik segala furniture, dan segala hal yang ada didalam dan luar Bahkan sekitaran beberapa meter luaran cafe'. membutuhkan waktu sekitar tiga jam lamanya bagi mereka menyelesaikan tugas mereka.


" pak ini drone berenergi cahaya matahari. jadi say butuh tempat yang bisa memasok cahaya matahari yang cukup besar buat tempat parkirnya." ucap Mumtaz.


" oh ada. di rooftop aja. tempat itu hanya saya yang bisa memasukinya."


" perfecto..mamamiya...lezato." hiper Jimmy. mengundang toyoran kepala dari Daniel.


flashback off....


" kami memasang pemindai, perekam suhu tubuh objek yang dipindai dalam kasus ini manusia. lewat bentuk tubuh. yang diprioritas dari wajah, sidik jari, gerak bibir, dan suara."


" alat-alat yang digunakan berupa kamera. perekam, sumber sinyal, penangkap getaran suara infrasonik, kira menggunakan semua sumber energi.komputer sesuai fungsinya yang pasti diusahakan tembus pusat server. yang dituju. jelas Jimmy ala sales.


" jangan lupakan jasa drone yang menyimpan semua laporan yang disimpan mesin melalui udara dan cahaya matahari. sehingga objek bergerak drone secara otomatis mengikuti pergerakan objek. yang langsung mengirim penangkapan aktifitas objek ke pengendali kontrol."


" saya pusing.tapi emang bisa drone ngekaluin itu?"


" drone yang kita pakai emang tipe drone pemburu, tapi sekali lagi ini udah dimodif. sehingga hasilnya yang bapak liat tersebut tadi."


" drone kami stel mengikuti objek setengah menit objek meninggalkan pintu utama cafe. dan kembali ketika objek menetap sekitar 2 sampe 3 jam tempat terakhir berhenti yang biasanya tempat tinggal objek."


" karena sekitaran tempat tinggal objek-objek dilengkapi cctv. drone melakukan penyimpanan rekaman segala aktifitas objek selama ditempat tersebut dari server pusat terkait dan menyimpannya untuk dikirim ke server yang berada di kantor ini ketika drone kembali ke rooftop gedung ini. karena itulah kita bisa mengetahui segala kegiatan objek tanpa pengintaian ke lapangan langsung."


menggeleng kepala berharap pusing berkurang Erwin bertanya " selamadrone bekerja kalian ngapain.?"


" kerja lah. pak. bapak pikir itu mesin bisa menyusun video, tulisan secara terstruktur dan rapih begitu. say tersungging ni pak. kok kesannya saya gaji buta ya."


" emang." saut Daniel.


" kan yang kerja Ibnu, gw, dan Mumtaz. Lo ngapain."


" eh gw mengalihkan kecurigaan pegawai ya. asal Lo lupa."


" alah modus." yang memang setiap kali mereka ke cafe' ketika tiga pemuda sibuk melakukan kewajiban tugas. Jimmy hanya mengobrol dengan para pegawai atau pelanggan.


" pak. bapak kenal wanita ini?" Mumtaz menghampiri Erwin dan menunjuk satu wanita yang dua hari lalu masuk cafe' dengan langkah menggoyangkan tubuh bak model.


" dia salah satu pelanggan yang sudah dua bulanan ini jarang datang lagi kesini."


" berhenti karena?""


" saya menolak ungkapan cinta dia."


"" HAH" mata empat pemuda itu melotot kaget tak percaya


" namanya Amara Ardinasti."


" hmmmm." keempat pemuda itu mengangguk. mereka tahu siapa wanita itu


" pak.... showtime." mereka menghampiri meja kerja Erwin dan memperhatikan segala interaksi dan omongan dua wanita yang terkesan akrab.


*************


pukul 15.00 di cafe' Melati


" mari duduk nona."wanita yang lebih tua mempersilahkan tamu yang ditunggunya.


" saya harap saya tidak terlalu lama terlambatnya nyonya." ujar wanita yang lebih muda.


" santai ini Jakarta... Yun." yang ditunggu Yuni dan orang kepercayaan sang boss cafe'.


" terimakasih atas pengertiannya nyonya Amara."


" baiklah tak perlu basa-basi. bagaimana pesenan terbaru saya. saya harap kamu tidak mengecewakan saya."


" untuk menghindari kecurigaan orang cafe. saya nyicil tindakan Nya. saya sedikit demi sedikit mengaktifkan dia ke ruang sang boss dan mulai memegang kendali setiap order yang masuk dan keluar."


" saya harap kamu bisa mengelabui dia. saya denger Zahra termasuk orang jenius dan sulit untuk dikelabui."


" maka dari itu strategi say menyicil tindakan tersebut."


" bagus saya serahkan semuanya pada anda. saya ingin nama baik dia hancur."


" siap 86 Nya." kelakar Yuni. disambut tawa oleh Amara.


" baiklah sekarang saya transfer dulu bayaran anda yang berhasil memporak-porandakan bisnis boss anda."Amara sibuk dengan m-bankingnya dia mentransfer sejumlah 500juta. uang yang besar untuk meruntuhkan kerajaan bisnis cafe' Erwin yang dia pikir sukses hanya melihat perkembangan sampai hari ini.


troongg.....bunyi notifikasi hp Yuni


Yuni tersenyum senang melihat apa yang tertera dilayar hp. dia pikir sekarang rekeningnya menggelembung besar. bayaran dari Amara ditambah dengan uang hasil korupsinya di cafe' sang boss. dia berpikir akan pergi liburan setelah urusan penjebakan Zahra beres.


tersenyum smirk Amara berujar " siapa suruh dia berani nolak cinta saya. padahal saya bisa menjamin kesejahteraan dia tanpa sisa dia kerja."


" saya setuju nona." Yuni menganggukkan kepala


" baiklah sampai disini dulu untuk hari ini. saya puas berbisnis dengan anda." Amara berjalan meninggalkan Yuni.


" kepuasan anda, kebahagian saya nyonya.." gumam Yuni mengantar kepergian Amara.


...taufan k. 28,Mei,2021...

__ADS_1


__ADS_2