Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
194. Penguasa Sesungguhnya...


__ADS_3

Zahra  dan Hito berdiri tertegun di ambang pitnu, ia meyakinkan diri kalau ini rumahnya, rumah yang sudah dipenuhi oleh kaula muda-mudi saling berteriak, bergurau, ada yang sedang serius membahasa sesuatu, kertas, dan bentangan kain warna putih dengan banyak tanda tangan, banyak yang berseliweran layaknya di rumah sendiri.


" Assalamualaikum,"


" Wa'alaykumsalam." Jawab orang beberapa dari mereka yang tidak Zahra kenali.


" Kamu siapa?" tanya Zahra pada pemuda berkulit gelap namun manis yang akrab dengan anak RaHasiYa.


" Sa..saya Romli yang..."


" Mumuy sudah cerita, akhirnya kamu jadi tinggal di sini."


" Iyaa.." Romli mengusap tengkuknya gugup.


" Anggap rumah sendiri dengan tetap menjaga sopan santun" seru Zahra yang diangguki Romli.


Romli berbisik ke telinga yang lain," astaga Kakaknya Mumtaz berdamage banget, gue salting abis cuma fitnah begituan doang."


" pertma kalian liat, gue juga begitu, tapi kalau udah kenal orangnya asik kok, cuma jangan bikin beliau badmood aja, berabe." timpal yang lain.


Kehadiran Hito disamping Zahra mengudang takjub dan bisik-bisik genit mencari perhatian dari beberapa gadis, namun itu semua gagal, fokus Hito tetap pada Zahra, ia berjalan kemana Zahra melangkah.


Hito sungguh menempeli Zahra menunjukan teritorinya karena menyadari beberapa pemuda menatap kekasihnya dengan tatapan memuja, ia tidak menyukai itu, bahkan membencinya. Walau ia melihat Zahra tidak menyadari itu semua.


" Kalian sedang apa?" Bingungnya, dapurnya telah dikuasai oleh orang-orang asing yang sepertinya sedang memasak setiap bahan persediaan yang ada. 


" Lagi persiapan buat makan malam, mbak." Ucap satu gadis berambut sepinggang yang sedang mencuci beras.


Zahra melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 15.45 wib.


Zahra melihat tong penyimpanan beras dipojokan dapur yang terbuka lebar yang bisa dipastikan isinya kosong.


Tertangkap oleh netranya seorang gadis cantik yang terasa pernah dikenalinya berambut sebahu diwarnai coklat tua luwes bergerak di dapur dengan apron ditubuhnya.


Ia berusaha mengingat gadis itu, namun tidak jua menemukan siapa dia.


Zahra menarik belakang kaos kala Yuda melewatinya. 


" Ini ada apa, kok rame?"


"  Udah pulang,  kak. Maaf belum sempat bilang, kak, kami pinjem tempat kakak buat rapat unjuk rasa." Ucap Yuda tanpa merasa bersalah.


" Kenapa di sini?"


" Intel sudah mulai mencium pergerakan kami, kak."


Pletak...


Suara berisik itu seketika terdiam kaget melihat Yuda yang mereka segani dengan entengnya digeplak kepalanya oleh wanita cantik.


" Kamu pikir mereka gak berani kemari? Kalau kita digerebek gimana?" Sewot Zahra.


" Gak bakal, aku udah minta izin sama pak RT dan RW, masyarakat sekitar juga dukung kita." Yuda mengusap kepalanya yang lumayan sakit.


" Beneran?"


Yuda mengangkat jarinya membentuk huruf V, " suer..sumpah!" Ucapnya meyakinkan.


Zahra diikuti Yuda dan Hito menuju ruang keluarga, kali ini netranya lebih melebar dengan mulut menganga, rumahnya sungguh berantakan, bungkus snack, kemasan minuman dimana-mana bercampur dengan para mahasiswa-mahasiswi yang duduk acak dilantai saling beradu argumen yang zahra tangkap perihal strategi demonstrasi nanti. 


Beberapa bungkus terbuka bersisa, dan kosong ia kenali, karena itu snack simpanan favoritnya, ia lantas menoleh pada Yuda yang meringis padanya.


Dengan sekali gebrak kuat di daun pintu, suara ribut itu berhenti, ruangan kontan hening.


Satu wanita berdiri menghadapnya, mata melebar nyalang sambil bertolak pinggang menantang." HEI, SIAP LO BERANI MENGANGGU KITA YANG SEDANG RAPAT URUSAN NEGARA?!"


Yuda terkejut, ia panik saat Zahra berjalan mendekati wanita itu, " MIRA...Kak...ud..."


" DIAM, LO." Bentakan Zahra langsung membungkam Yuda dan anak lainnya. 


Zahra melangkah dengan aura mengintimidasi dan menguasai, netranya tidak melepas Mahasiswi tersebut, yang ditatap nyalinya menciut. Ia melirik kanan-kiri mencari dukungan, namun nihil.


Mahasiswa yang sering berkunjung ke sana diam tidak berani membuka mulutnya melihat aura zahra yang menakutkan, dan mereka tahu Zahra adalah nona besar di sini.


"  Lo yang siapa? Di lahan orang banyak tingkah, asuhan siapa Lo?" perkataan itu diucapkan pelan, namun menyimpan Tantang.


" Eh..euu..ehem..." Mira gelagapan menengok kanan-kiri.


Mata Mira berhenti terpaku menangkap sosok Hito, ia langsung mengerjap terpesona.


Zahra yang menyadari perubahan pancaran netra mahasiswi tersebut mendengkus meremehkan." Dan si ganteng itu tunangan gue, punya jiwa pelakor Lo." Tuding Zahra frontal.


Muka Mira sontak memerah malu, matanya menatap Zahra nyalang, tidak menerima dipermalukan.


Yuda yang merasakan itu, langsung berdiri di tengah mereka.


" Mir, stop. Lo bukan lawannya kakak." Kata Yuda menenangkan Mira yang dikenal galak dan tukang labrak.


" Siapa dia?" Tanya Zahra pada Yuda.


" Mira, ketua BEM kampus biru."


Zahra tersenyum miring meremehkan." Baru menjabat ketua BEM saja belagu, modelan kayak gini ni kalau udah jadi pejabat bakalan arogan." ucap Zahra memberi memberi kesan merendahkan.


Mata Zahra menelisik satu persatu dari mereka, lalu pada bungkusan cemilan yang berserakan.


" Siapa yang bertanggungjawab soal konsumsi?" Mereka diam, mereka tahu mereka salah memakan makanan tanpa izin pemilik rumah.


" Kak, ma..maaf.." Yuda gugup.


" Pastikan kampus kalian bertanggungjawab atas setiap makanan yang kalian konsumsi. Dewan saja punya dana puluhan juta untuk dana aspirasi yang tidak jelas itu, masa selevel kampus untuk kegiatan aspirasi kalian tidak mampu." Sarkasnya.


" Tentu, kak. Kami pasti akan mendesak kampus." Ujar Yuda cepat yang diangguki cepat oleh mereka.


" Pastikan itu!" tekannya.


Setelahnya Zahra berputar melangkah menuju pintu, namun di ambang pintu ia kembali menghadap para mahasiswa.


" Saya gak mau tahu, nanti saya turun lagi seluruh ruang rumah saya bersih dan rapih kembali."


" Tentu, tapi kak, kursinya boleh digeser dulu ke pinggir ya?!" Mohon Yuda.


" Hmm."


" Dan khusus buat Lo yang songong,.." tunjuk Zahra pada Mira.


" Bersihkan ruang tamu, cuma dia! tidak boleh ada yang bantu. Berani melawan saya pergi dari sini." Tegas Zahra saat melihat Mira hendak protes.


" Apa Mumuy tahu?" Tanya Zahra pada Yuda meminta konfirmasi.


" Tahu, makanya kami kemari." Yuda tertegun, kemudian menghela nafas berat, dia menyadari kesalahannya.


." Kamu gak perlu izin kakak?" 


" Bu..bukan demikian..."


" Ah sudahlah, toh kalian sudah berkumpul, pastikan saja makan malam ku juga tidak diembat mereka."


" Siap, makasih, kak."


" Hmm."


" Sayang, kita dinner diluar saja gimana? Ajak Hito saat mereka berdiri di bawah anak tangga.


" Lihat nanti aja ya, kamunya juga capek, belakangan harus nemenin aku, dan kerja."


Hito mengusap jilbab pink kekasihnya." Gak ada capek buat kamu mah."


" Kalau mereka makan punya aku, aku makan di rumah kak Edel aja."


" Oke, aku tunggu."


" Kamu istirahat dulu di rumah kak Edel, jangan pulang."


" Iya, sayang. Aku pergi, kamu istirahat. Jangan ngawasi mereka." Dikecupnya pucuk kepala Zahra sebelum ia melangkah keluar rumah.


Tanpa mereka sadari adegan mereka ditonton oleh para mahasiswi yang menjerit tertahan iri akan keromantisan mereka.


" Bubar..bubar...jangan berkhayal jadi pelakor, si om-nya udah bucin akut." Yuda meneriaki mereka karena jengah.

__ADS_1


Rio dan para sobat lainnya baru pulang pukul 17.15 wib. rumah sudah makin ramai.


Paling terakhir Mumtaz yang masuk bersama Sisilia yang merangkul manja lengannya sambil berbincang diiringi tawa kecil diantara mereka.


"Mumtaz..." Gadis berambut sepunggung berlari kecil menyambutnya dengan senyuman sumringah.


" Apa?" Kata Mumtaz terkesan basa-basi.


Semuanya menoleh memperhatikan interaksi mereka.


 Tawa Sisilia memudar, ia meregangkan jarak, perlahan melepas pegangannya dan menjauh, namun tertahan oleh tangan Mumtaz yang menarik lalu menggenggam tangannya penuh. 


Ia mengusap punggung ibu jari Sisilia, menariknya pelan memaksa sisilia menghadapnya, melihat wajah Sisilia datar menjurus ke cemberut Mumtaz mesem.


" Kamu yang aku cinta." Ucapnya ditelinga Sisilia sengaja dikeraskan.


Mengajak Sisilia untuk duduk di sofa di sampingnya bersama yang lain.


Kontan senyum gadis itu menghilang, namun dipasang kembali saat ia berbalik menghampiri Mumtaz bertingkah seakan ia tidak terpengaruh akan perbuatan Mumtaz.


" Kamu pasti haus, aku ambilkan air." Gadis itu segera berlalu ke arah dapur.


" Yo,..." Panggil Daniel.


" Apa? Gue gak tahu apa-apa ya, gue sibuk ngurus Jeno." Sewot Rio yang tidak terima disangkutpautkan dengan gadis itu.


" Mana Tumbler kamu?" Sisilia memberi Tumblernya pada Mumtaz yang dia ambil dari ranselnya.


" Ini minumnya, aku sengaja buatin kamu juice mangga." Gadis itu kembali dengan segelas juice menaruhnya di atas meja di hadapan Mumtaz.


" Cuma satu?" Celetuk Alfaska menyebalkan.


Gadis itu meringis tidak enak hati," so..sorry...nanti kalian gue buatin."


" Gak perlu, gue punya bini. Dia ahlinya bikin juice."


" Mum, diminum." Tawar Gadis itu.


" Gue udah minum." Mumtaz menunjukan Tumbler di tangannya.


" Mum, hargai aku, aku udah susah-susah bikin buat kamu." Mohonnya dengan nada manja.


Semua orang yang melihat itu memasang wajah malas.


" Kamu yang harus menghargai Sisilia." Seru Zahra berdiri di anak tangga tengah.


Dia melihat segala yang dilakukan gadis itu sedari awal hingga tadi.


" Apa kamu berniat merebut Mumtaz dari kekasihnya yang cantik itu?" Tuding Zahra.


Seketika tubuh gadis itu kaku, ia menoleh, netranya membola, dia tidak tahu kakak Mumtaz ada di rumah.


Ruangan terasa menegang. Saat Zahra melangkah ke ruang tamu menghampiri mereka berdiri tidak jauh dari gadis itu.


" Kamu, Bella bukan? Mantan pacarnya Mumtaz saat SMA. Cewek matre dan egois yang suka morotin dia, dan toxic. Gue ingat Lo, cewek yang bikin adik gue di rumah sakit, dan ngeyel." Ungkap Zahra tanpa sungkan.


" Kak..." Mumtaz melirik ke banyak orang yang kini perhatiannya kepada mereka.


" Apa? Kamu mau bela dia? Kamu masih punya rasa sama dia?" Tudingnya tajam pada Mumtaz.


Bella melirik Mumtaz penuh harap, namun itu hanya sesaat raut bahagia itu sirna setelah mendengar perkataan mantannya itu.


" Bukan begitu, perasaan aku cuma untuk Lia, aku juga gak gubris tingkah dia malah mau kasih juice ini sama Lia, karena Lia suka banget juice mangga.


"Gak perlu mengungkit masa lalu, aku sendiri udah lupa pernah suka dia." Lanjut Mumtaz.


" Sekarang kamu bisa bilang gak peduli dia, kalau dari awal gak ditegasin dia bakal terus deketin kamu. Aku gak lupa betapa ngeyelnya dia, mama aja gak dia dengerin, apalagi kamu yang dia yakini kemungkinan cinta kembali padanya." sahut Zahra.


" Negara sedang genting karena Krisis orang baik, di sini dia pake modus berkumpul sebagai anggota BEM mencari muka guna menarik perhatian  kamu. Dia pasti tahu kamu pacarnya Sisilia, dan bertingkah seakan itu tidak penting."


Mata Zahra menelisik para pemuda-pemudi, " Tadi saya disuguhi tingkah arogan, kini saya disuguhi jiwa pelakor, saya meragukan integritas kalian selaku pemuda penyambung lidah rakyat." Skeptis Zahra.


" Lia, calon istrinya Mumtaz yang beresiko diselingkuhi karena mantan dari pacarnya beraksi menikung, mending kamu ke kamar Mumuy, bersihkan diri, pake aja baju Mumuy untuk gantinya."


" Kak.." lirih Mumtaz malu.


" Apa? Benarkan kamu ada sedikit goyang hatinya."


" Mana ada, enggak sama sekali." Sangkal Mumtaz.


" Terus kenapa protes, gak mau bajunya dipinjem calon istri?" Zahra semakin menjadi julidnya 


" Pake aja semua semau Lia, semua punya aku, punyanya Lia."


" Lha terus kenapa kamu terkesan keberatan."


Mumtaz menghela nafas lelah, dia menyesal menimpali Kakak-nya.


" Jangan frontal juga, seenggaknya jangan di depan umum."


" Lha dia juga bertingkah gak patut di depan umum, sikap gak enaknya kalian ini yang sering dimanfaatin cewek untuk bertingkah semakin gak banget. 


" Kalau kamu gak enakan, biar kakak yang bertindak, jadi cowok yang tegas, jangan menye-menye." Tekan Zahra.


Zahra kembali menatap Bella yang tertunduk dalam.


" Heh, Bella. Angkat kepala Lo," mau tidak mau Bella mengangkat kepalanya menatap Zahra.


" Dengar, ini terakhir kalinya Lo bertingkah murahan kayak gini, kalau terulang lagi, gue gak segan datengin rumah Lo. Calon istri Mumtaz yang gue restui cuma Sisilia, camkan itu. PAHAM!!


Dengan takut-takut Bella mengangguk. Mumtaz yang merasa tidak lagi punya urusan menarik Sisilia menaiki tangga dibawah tatapan sendu Bella.


"  Rio,  kamu kan selingkuhan dia sebelum mereka putus, urus dia." 


" Bukan, aku deketin dia suruhan temen sekelas yang waktu itu gak suka banget ke dia." Sanggah Rio cepat-cepat.


" Gak mau tahu." Timpal Zahra masa bodo.


" Huh, laper kan jadinya." Monolog Zahra seraya menuju ruang makan.


Dia melihat ada satu hidangan yang disediakan terpisah dari yang lain, mengingat dia sudah berpesan pad Yuda, Zahra pikir itu itu untuknya. Namun saat dia membuka tutup saji, seseorang mencegahnya.


" Ma..maaf, kak. I..itu punya Mumtaz yang khusus disediakan Bella." Tegur orang itu.


" Bukan punya saya?" Takut-takut, orang itu menggeleng ragu.


Brakgh...


Gadis itu, dan beberapa orang yang ada di tempat terjengkit kaget.


Orang-orang pada berlarian ke ruang makan mendengar suara keras bantingan benda.


" Kenapa? Ada apa?" Yuda cemas melihat wajah menegang Zahra.


" Kak, Kenapa?" Zayin melewati orang-orang yang berkerumun menutupi jalan ke ruang makan sambil menggendong Adelia.


" Ini rumah gue, tapi gak dibolehin makan, Yuda bisa kamu jelaskan siapa tuan rumah di sini?" Bentak Zahra  kesal.


" Siapa yang gak bolehin Kakak makan?" Tanya Zayin marah.


" Dia...," Tunjuknya pada gadis yang berambut sebahu itu yang kini sedang mengkerut ketakutan.


" Bu..bukan begitu, tapi tadi Bella bilang yang itu khusus buat Mumtaz gak bolehin siapapun yang memakannya." Gadis itu membela diri.


" Bella? Mana dia?" 


" Di ruang tamu." Jawab Yuda pasrah.


Zayin mengambil langkah besar ke ruang tamu dan menatap garang gadis cantik itu.


" Ta, bawa Adel balik " dikasihnya Adelia pada Dista yang langsung berlari keluar dari rumah, namun demikian dia sempat berisik pada Tia,


" Ceritain sama gue, kalau bisa Lo videoin"


" Sip." Balas Tia yang langsung mengeluarkan ponselnya dari tas, Alfaska yang melihat itu hanya menggeleng.


Zayin mendorong bahu Bella." Lo pikir, siapa Lo yang bisa menentukan siapa dan apa yang bisa makan."


Bella yang tidak siap akan serangan itu sempoyongan karena kaget.

__ADS_1


" Aada..apa?"


" Lo yang gak bolehin Kakak gue makan yang Lo siapin buat Aa?"


Bella gelagapan panik, dia hafal siapa Zayin, dulu dia tak ingin berurusan dengannya, Sekarang pun tidak pernah ingin berurusan meski dalam mimpi sekalipun.


Semuanya kaget akan sikap kasar Zayin terlebih para gadis yang semula terpesona sejak Zayin memasuki rumah.


"Yin, dia cewek." Rio mencoba melerai.


" Beruntung dia cewek, kalau cowok udah gue tonjok dia."


" Jawab, kenapa Lo lancang di rumah gue, siapa Lo?" Hardik Zayin marah.


" Ma..af..gu..gue gak .."


" Ada apa lagi ini?" Mumtaz kaget melihat adiknya marah sambil menunjuk-nunjuk Bella.


" Jangan Lo bela mantan lo, A?"


" Enggak, tapi ada apa, demi Tuhan ini banyak orang, Yin."


" Dia gak bolehin Kakak makan makanan yang dia masak, katanya buat Lo, Kakak lagi marah di sana." Tunjuknya ke ruang makan.


Mumtaz kontan melihat Bella, " apa-apaan Lo, Bel. Lo udah keterlaluan." geram Mumtaz.


Orang segera memberi Mumtaz jalan yang melangkah ke ruang makan.


" Kak,.." panggilnya pelan, matanya melirik Yuda yang terlihat mengenaskan.


" Kalau kamu mau bela dia, mending jangan, Kakak sedang marah banget. Ini kakak laper banget, tapi dia gak bolehin Kakak makan. Padahal Kakak udah bilang ke Yuda untuk kasih Kakak makan." Cerocos Zahra kesal.


" Pengen Kakak usir kalian, tapi gak tega. Kalian tengah berjuang untuk negara, tapi kalian lancang banget. Kesel aku tuh jadinya."


" Yin, bawa dia kemari." Teriak Mumtaz marah.


Zayin menyeret Bella yang meringis kesakitan karena cekalan Zayin di tangannya. Kemudian dia di dorong kuat hingga perutnya membentur meja.


Tanpa kata, Mumtaz membuka tutup saji kecil dan besar, ia memindahkan semua hidangan dari tempat terpisah itu ke dalam satu wadah besar yang diperuntukkan untuk semuanya.


Kemudian melempar peralatan makan itu ke tembok.


Prang..prang..prang...


Semuanya terlonjak kaget bercampur takut, khususnya para gadis.


" Sudah, kita gak perlu makan itu, kita makan di luar." ujar Mumtaz.


" Gak perlu, Edel sudah menyiapkan makanan." Interupsi Hito dari belakang mereka.


Ia maju, dan membawa Zahra dari ruangan tersebut.


Mumtaz menghembuskan nafasnya lelah," sorry, banyak drama. Gue gak keberatan kalian pake rumah ini selama diperlukan, tetapi pastikan jangan buat kakak gue susah hati atau kalian harus membayar mahal untuk itu." Mumtaz memperingati mereka.


" Sorry, Muy. Gue gak memperhitungkan ini." Ucap Yuda tidak enak hati.


" Lo pastikan saja tidak ada lagi yang berulah, satu-satunya yang harus dispesialkan di sini hanya Kakak gue, bukan yang lain." Tegasnya.


" Bang, pastikan mereka paham. Gue gak punya waktu buat ladeni kelakuan random ini." Timpal Zayin.


" Sip, tenang aja, gue bakal briefing mereka."


" Dan jauhi gue dari cewek-cewek ganjen yang sedari tadi ngorok genit ke gue, bilang sama mereka gue gak tertarik sama mereka, ngeribetin!" Ucapnya sembari melotot tidak suka pada mahasiswi yang kegenitan itu


" Iya, oke! Pesan Lo gue sampaikan sampe mereka sendiri menjauhi Lo." Jawab Yuda malas.


" Good!"


******


Pukul 21.10 wib. Zahra dan yang lain serta petinggi Gaunzaga baru kembali pulang, tentu dengan keadaan perut kenyang yang otomatis emosi pun tenang.


Kakinya melangkah ke ruangan yang sangat ribut dengan berbagai argumen saling menyahut, ia memperhatikan mereka dari ambang pintu dengan posisi bersandar sambil bersedekap.


Selama 20 menit topik yang diributkan berputar pada satu fokus tanpa perkembangan pembahasan. ia jenuh, dan geregetan.


" Kalian tuh, sekarang posisinya sebagai mahasiswa senior, tapi pola pikir kayak Maba." cibirnya.


Semua pasang mata menatapnya bertanya, berhenti berbicara.


" Kalau mau demo, ubah strategi kalian, cara kalian klasik. kalau kalian menerapkan apa yang kalian katakan, 80% aksi kalian sia-sia, perjuangan skincare kalian percuma."


" Kalau begitu menurut Kakak demo seperti apa yang efektif?" tanya si tampan berkacamata.


Zahra masuk bergabung, mereka segera memberi tempat yang strategis padanya.


" Yang terpenting pastikan kalian Penguasa negeri ini, ini dibilang songong memang, tapi ingat negara ini merdeka diawali keberanian kaum muda melawan kebiasaan kaum tua yang gak update!" semuanya terkekeh mendengarnya.


" Bagaimana caranya?" tanya yang lain.


" Percaya diri, berani, idealis, integritas, tahu apa yang kita mau tuju, segala aspek terencana!"


" Sekarang saya tanya, Siapa yang paling berkuasa di negeri ini?"


" Presiden."


Zahra menggeleng.


" DPR."


" SALAH!"


" Emak-emak."


" no."


" Orang kaya."


" Big no."


" Rakyat!" Sahut si tampan nan kalem berambut cepak.


" Cakep!" seru Zahra bersemangat.


" Ck, kalian ini sok-sokan bernegara, hal dasar kayak gitu gak mudeng. mahasiswa fake ini." cibirnya.


" Sekarang siapa rakyat itu?" tanya Zahra lanjut.


" Kita." jawab si kribo.


" Ya, siapa kita itu? monyet, kebo, sapi?" dumelnya.


" Yang berstatus warga negara!" sahut yang lain.


" pinter!"


" Siapakah dia?"


" Yang punya KTP."


" Lha adik gue belum punya, gimana? apa status dia?" sewot yang lain.


" Udah jangan ribut. tinggal baca UU tentang kewarganegaraan, fokus kita bukan di situ" lerai Zahra.


" Menurutku, rakyat itu orang yang secara hukum diakui dan secara moril punya rasa bertanggungjawab atas kesejahteraan negeri ini, mengingat konstitusi mencetuskan rakyatlah sang penguasa negeri ini, maka kita tunjukan melalui aksi ini bahwa kita lah penguasa bukan para pengkhianat tersebut!" Zahra mencoba membakar semangat mereka.


"Kalian berbeda pendapat wajar, tapi jangan egois. ini bukan tentang kalian pergolongan, tetapi tentang kita! sisihkan dulu egoistik kalian untuk tercapainya tujuan. dengan cara yang efektif dan efisien."


" Caranya?"


" Caranya.... satu...."


Semua perhatian tertuju pada Zahr menunggu, petinggi Guanzaga terkekeh geli, melihat Zahra menjadi provokator aksi besar ini.


" To, Lo harus siapkan pengacara yang hebat, gue khawatirnya satu diantara mereka mata-mata." bisik Dominiaz.


" Hemmm." helaan nafasn Hito Terdengar berat.


" Apa kak?" ujar mahasiswa yang penasaran.

__ADS_1


" Satu...."....


Cusss..komen... share..vote dan likenya...makasih masih stayy...with me..


__ADS_2