
Penangkapan Mumtaz dimanfaatkan oleh pengguna media sosial untuk live streaming hingga kegaduhan perang komentar tidak bisa dielakkan lagi.
" Oh, ini tampang asli si Pangerang begal, ganteng sih, tapi sayang begal."
" Begal, begal. Iya dia sang menumpas begal. Ni gue korban dari pembegal yang diselamatkan oleh dia. Bacot lo gak tau apa-apa juga."
" Akhirnya sang jendral tertangkap."
" Itu polisi gabut banget apa ampe gitunya nangkep ditengah lokasi kuburan."
" Sumpah, syukurin aja itu preman ditangkap, kita tunjukkan kalau negara kita negara hukum."
" Woy, pak. Salah tangkap, noh tetangga gue yang lagi pesta miras yang kudu ditangkap."
" Ini mah cuma pencitraan doang dari kasus sang jendra4l kemarin, gak memakan woy."
" Gak gini juga untuk cuci tangan dari gak becusnya staf Lo."
" Lo, dengar? Ini perintah atasan...atasan woy...bisa jadi ini memang sudah direncanakan..iya gak sih...yuk kita kawal kasus ini yuk..."
Para netizen kaum rebahan seketika menjadi pengamat politik, hukum, dan sosial.
Tidak jauh dari Mumtaz, sang adik menatap tajam para petugas dengan rahang menegang, matanya menatap tajam, satu tangannya yang memegang pacul menekan keras pacul tersebut ke tanah, saat dirinya hendak memprotes Mumtaz memberi kode menggelengkan kepala meski tipis.
Bayu dan William mendekatinya, menepuk bahunya guna menahan emosinya yang terlihat akan menyembur." Relax, ikuti skenarionya, bahkan borgol itu tidak terpasang sempurna." Bisik Bayu dengan tatapan menghadap ke depan.
Ketika Mumtaz berbalik memunggunginya, mata Zayin menatap borgol yang terpasang asal senyum miring tertangkap di bibir mumtaz saat mata mereka beradu sebelum Mumtaz dibawa keluar dari area makam yang kemudian hilang dibalik pintu mobil yang membawanya pergi dibawah tatapan marah para sahabatnya.
Saat ini tangisan dari Zahra, dan Tia entah untuk siapa, yang menyita perhatian para pelayat, yang mereka tahu hari ini merupakan hari paling duka bagi mereka.
" Kak, saatnya kita pulang." Seru Zayin mengambil tangan Zahra.
" Kita pulang ke rumah Afa ya?" Pinta Zahra.
" Iya, ayok pergi. Tia, sini sama Aa." Zayin merangkul keduanya dikedua sisinya. Menunjukkan pada dunia dialah sang pelindung mereka.
Langkah kaki Kakak-beradik itu mengundang rasa sesak di dada para sahabat mereka.
" Sebaiknya kalian serang server k3polisi4n langsung. kuliti mereka hingga akar." Ujar Alfaska dengan geraham saling menggeletuk.
" Kita ke m@bes." Seru Daniel. Memasukan pecinya ke saku celana.
Teddy, Aznan dan Gama bergerak cepat mengutus pengacara keluarga Hartadraja untuk mendampingi Mumtaz.
Ruben, salah satu pengacara senior yang memiliki kredibilitas tidak diragukan lagi dalam bidangnya.
Di dalam mobil, Berto membuka borgol tersebut, Mumtaz mendengkus kesal padanya.
" Kenapa Lo harus bersikap sok dramatis begitu?" Ucapnya sembari mengusap pergelangan tangannya.
" Sorry, mendadak jiwa gue cosplay jadi inspektur ala film India gitu." Balas Berto terkekeh.
*****
Andre duduk bersandar santai sambil memejamkan mata di kursi kebesarannya dibalik meja kerjanya seraya mendengarkan lagu klasik.
Laporan bahwa anak buahnya telah berhasil menangkap Mumtaz di depan umum membuat harinya bersinar terang.
Brakh...
Andre terjengkit mendapati Ergi yang membuka kasar pintu ruang kerjanya.
" Kenapa kau bertindak ceroboh dengan menangkap Mumtaz tanpa seizinku?" Bentak Ergi.
Andre menegakkan duduknya, " ini bukan ceroboh, tetapi suatu prestasi bagi instansi kita, ini akan memberikan impact yang positif setelah kasus kemarin."
Ergi menertawainya, " prestasi, Impact positif, kau bod0h atau 1di0t. Apa hanya karena ponselmu tidak berbunyi notifikasi kau berasumsi semuanya berjalan lancar? Pikir pakai otakmu, disaat-saat penting begini yang seharusnya ponselmu sibuk , tetapi ternyat tidak, ada apa dibelakangnya?
Apa para partners mu tidak menelpon?, Apakah istrimu tidak menelpon? Apakah para wartawan tidak memburumu sementara putrimu menjadi bulanan di luaran sana karena aksi tidak senonoh, dan citra instansi ini semakin anjlok, mereka mengolok kehalalan penghasilan kita yang melahirkan putri j4l4ng seperti putrimu."
" HEI, ERGI. JAGA MULUTMU, tunggu aku mengambil jabatanmu, akan ku letakan kau di kakiku!" bentak Andre menghentakan.
" Kau pikir aku membual, lihat ini." Ergi melempar tabsnya ke meja kerja Andre.
Mata Andre melebar melihat video dan beberapa foto putrinya di club dan berakhir di hotel sepanjang malam dari kemarin.
" Beginilah akibatnya jika jab4tan diperoleh melalui koneksi, bukan dari prestasi. Cara kau menghadapi petinggi RaHasiYa sepolos bayi yang telanj4ng sewaktu lahir." Sindirnya telak.
" Kau berharap dari kasus Mumtaz ini bisa menggantikan ku, mimpi. Bahkan untuk menjadi ajudan ku saja kau tidak pantas.
Apa kau berpikir mertua jenderal mu akan tetap mendukungmu setelah kericuhan yang kau buat? Jangan berharap!
Selepas subuh tadi beliau dengan beberapa jenderal lain menghadap ku untuk menekankan menarik dukungan terhadap mu, mungkin kini mereka sedang menghadap pr3sid3n."
" Andre, karirmu tamat." Ucap Ergi dengan dramatis.
Tangan andre mengepal karena merasa terhina." Kau tunggu kejutannya, Ergi. Aku bertaruh dengan jabatan ku. Aku punya bukti-bukti yang valid untuk membuktikan segala tuduhan itu."
" Bukti dia sebagian preman? Video dan foto yang tersebar adalah barang usang, bahkan partner berkelahi Mumtaz saat ini sedang di wawancara di stasiun Gata tv.
Para saksi yang pernah ditolong Mumtaz mulai bermunculan ke permukaan untuk membantah segala argumentasi skandal yang beredar. Kau, mencoreng wajah instansi ini yang sudah banyak coretan hitam." Tukasnya.
Andre bergegas melakukan sambungan telpon,
" Oh iya, kalau kau mencoba menghubungi Timothy, pagi tadi dia dimutasi ke Sumatera atas rekomendasi dari presid3n."
Andre terkejut." Mengapa begitu mendadak?"
" Dia di sini tidak berguna, kita tidak bisa menggunakan internet atau benda lainnya yang berupa digital, situs kita down. Sepertinya masyarakat yang masih waras mulai bergerak menyerang kita.
Kalau kau tidak punya bukti yang lebih baik dari yang kau punya saat ini, sebaiknya kau hentikan." Ucap Ergi sebelum menghilang dibalik pintu.
Andre melempar ponselnya kasar ke atas meja, ia mengusap wajahnya yang kalut.
Ia menyalakan televisi, mencari channel Gata tv. Di sana Leo, Ragad, dan beberapa orang yang ada di video dan foto yang tersebar di internet memberi keterangan.
Ia melempar remote dengan keras yang mengenai rak bukunya.
Derrt....
" Seharusnya kau membawa berita gembira untukku." Sentak Andre pada si penelpon.
" Kami sudah sampai di mabes, dan kini di ruang interogasi." Sahut Berto.
Bibir Andre terangkat sumringah." Bagus, akan ku naikan pangkat mu, jika semuanya berjalan lancar."
" Kami hanya menjalankan tugas, pak."
" Terserah." Andre menutup sambungan telpon.
Saat hendak ke ruang interogasi, ajudannya masuk memberi kabar, jika putrinya sedang diperiksa. ia menunda niat ke ruang interogasi.
__ADS_1
Setiba di ruangan interogasi, Andre melihat seorang penyelidik, juru ketik, Mumtaz, Ruben, Darius, Daniel, Alfaska, dan Bara. Duduk melingkari meja. Tersisa satu kursi kosong yang berhadapan dengan Mumtaz.
Sebenarnya Andre terkejut dengan kehadiran yang lain, tapi dia harus terlihat tenang dan wibawa.
" Kenapa kalian ada di sini, apa kalian mencoba mengintervensi kami?"
Ruben dan Darius menyerahkan surat penunjukan dirinya sebagai kuasa hukum Mumtaz, sedangkan Daniel dan Bara menertawainya dengan sinis. Alfaska menatapnya dingin.
Kesal akan sikap para pengusaha konglomerat itu, Andre Sudah bersiap berlakon tegas.
" Ingat, jika kalian melakukan intervensi, kalian dapat kami pidanakan."
" Saya baru tahu kalau instansi ini bisa diintervensi, sedangkan kami adalah warna negara yang baik, kami bukan pengecut, tetapi kami peringatkan jika kalian mempermainkan hukum dengan menumbali saudara kami hanya untuk memperbaiki citra instansi ini yang sudah terlanjur jelek, kami tidak segan membongkar kebusukan kalian ke khalayak ramai." Peringat Bara.
" Kalian mengancam saya?"
" Apa anda merasa terancam? Kalau segini saja anda sudah merasa terancam, lepaskan bintang yang tertera di seragam anda." telak Daniel.
Wajah Andre berubah memerah, pandangannya beralih pada Alfaska.
" Bapak Alfaska, saya turut berduka dengan meninggalnya ibu anda, saya pastikan pelaku kecelakaan itu tertangkap, kami mencurigai orang yang mencekik ibu anda sebagai pelakunya." provikasi Andre.
Tangan Alfaska yang ditumpu di atas pangkuannya mengepal." Apa motiv dia membvnvh ibuku?" Tanya Alfaska dengan tatapan menantang.
" Aksi kekerasan, karena dia seorang preman, penjahat yang spesialis jalanan."
Tanpa tedeng Aling Alfaska tertawa terbahak-bahak." Apa kejadian itu di jalan? Apa ibu seperti orang gabut yang nongkrong di jalan lalu dibegal?" Tanyanya menyindir.
Kini wajah Alfaska berubah dingin." Kalau kau punya perkara dengan dia, itu bukan urusan saya, tetapi kalau kau berani menyeret kematian ibuku demi kearogansianmu, jangan harap aku melepas mu. Camkan itu! Memalukan!"
" Baiklah, kita pergi, sekarang sudah jelas kalau ini hanya dagelan semata. Kami harus menghadapi media untuk menyebarkan omong kosong ini ke masyarakat."
Mata Andre membelalak, sepanjang mereka beranjak hingga menghilang tatapan tajamnya menyertai mereka.
Kini matanya tertuju pada Mumtaz yang duduk tenang, ia mengambil duduk di kursinya.
" Apa kau sudah mendapatkan keterangan?" Tanyanya pada penyidik.
" Belum, beliau menunggu pengacaranya yang baru saja datang." Jawab sang penyidik.
" Kalau begitu mari kita mulai..."
" Tidak ada yang perlu dimulai, kami mengajukan praperadilan atas penangkapan klien kami." Potong Darius.
Mata andre memejam, ia kesal dengan situasi yang terasa berubah merugikan padanya.
" Itu tidak mengubah bahwa kami harus melakukan tugas kami?"
" Siapa? Anda? Sejak kapan seorang nomor dua di instansi ini turut serta dalam penyidikan untuk tindak pidana biasa?" Sindir Ruben.
Tring..tring...
Pesan masuk ke ponsel Andre, video mesum Devi bersama Ernest di hotel, dan beberapa pria sesudahnya mampu membuat sekujur tubuh Andre menegang.
Belum lagi foto surat gugatan cerai dari istrinya yang ternyata sudah dilayangkan ke pengadilan agama melalui pengacara Lastri.
Ditambah pernyataan mertuanya yang mengatakan terkait bisnis haram dan pencucian uang yang dilakukan olehnya, ia memijit pelipisnya karena pening.
Matanya terangkat pada Mumtaz." Apa kau yang melakukan semuanya?"
" Apa?"
Oleh sang pengacara bergegas dipindahkan pada ponselnya.
" Mengapa anda menuduh saya? Pertanyaan yang sangat provokatif.
Dibalik dinding kaca yang terdapat ruangan rahasia Ergi bersama para rekannya yang mengawasi perbincangan mereka bergumam." Jangan dijawab, jangan terpancing."
" Karena cuma kau yang bisa melakukan ini, perusahaan kau dikenal sangat mampu melakukan ini, dan saya yakin kau pelakunya. Mulai saat ini saya kan membuat hidupmu tidak tenang!"
" Bapak Andre, kami kan melaporkan anda karena menuduh klien kami tanpa bukti, pengancaman terhadap keselamatan klien kami." Seru Ruben.
" Anda menuduh tanpa dasar bukti pada perusahaan kami." Tambah Darius.
Ergi dan rekannya menggerutu kesal." Bod0h, 1diot. B3deb4h.." dan masih banyak lagi umpatan Ergi untuk Andre.
Berto yang berdiri paling belakang tersenyum tipis tampak mengejek, ia sedikit terhibur dari kelalaian atasannya.
" Bapak Mumtaz urusan kita di sini selesai, kita pergi dari sini." Ajak Darius.
" Tidak ada yang boleh pergi dari sini tanpa izinku, kau hanya pemuda tengik yang tidak akan mampu melawan seorang Komjen sepertiku." Hardiknya.
" Dan kami akan menambah laporan pada anda atas dasar kebencian tanpa dasar, dan penghinaan.
" Bayangkan apa yang akan terjadi di masyarakat, jika abdi negara sekelas anda menuding pemuda dengan prestasi membanggakan negara hanya karena kebencian. Konyol! Dan instansi tercinta ini hanya kan lebih diolok-olok." Tegas Ruben.
"Mari kita pergi, bapak Mumtaz." Darius membuka pintu yang sudah disambut oleh petugas yang akan membawa Mumtaz ke tahanan, mempersilakan Mumtaz meninggalkan ruangan.
" Sebagai warganegara yang baik, saya ingatkan kekuasaan tertinggi negara ini adalah rakyat bukan Komj3n." Tukasnya tenang.
Dibalik kaca Ergi memutuskan." Kita harus menonaktifkan dia segera, dan berikan laporan terkait kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya Nyonya Sandra ke atas meja ku paling lambat dua hari ke depan." Titahnya tegas pada bawahannya.
Ruangan kecil itu menyisakan Berto yang menatap Andre yang masih mengamuk mengungkapkan kekesalannya.
" Mumtaz, kau masih sama dengan dua belas tahun yang lalu. Sangat berani, kini ku paham pengendalian wajahmu menandakan kau mengendalikan situasi dibalik amarahmu yang sangat besar." Gumamnya yang terdengar oleh Ergi yang balik ke ruangan itu,untuk mengambil pulpennya yang tertinggal.
Ia secara perlahan menutup pintu ruangan kecil itu." Berikan laporan tentang Berto Simatupang padaku dalam waktu satu jam mendatang."
" Siap." Sahut bawahannya.
*****
Saat keluar dari pemeriksaan para sahabat dan pengacara langsung dikerumuni oleh awak media yang yang mencercanya dengan pertanyaan.
" Pak bisa jelaskan apa yang terjadi?" Tanya sang wartawan berkacamata.
Para para pengacara menjelaskan garis besar apa yang terjadi di dalam.
Saat mereka hendak pergi dari sana, satu wartwan bertanya pada Alfaska," pak Alfa, apakah anda memaafkan sahabat anda yang membvnvh ibu anda?"
Mata Alfaska langsung menatap tajam wartawan itu," sebaiknya kau punya bukti atas omongan mu itu, atau saya mensomasi anda. Jangan pernah menggiring opini masyarakat hanya untuk agar berita anda viral. Perihal kecelakaan itu kenapa anda tidak tanyakan itu pada polisi?" Alfaska menatap satu persatu para wartawan itu.
" Bagaimana dengan video tindakan Mumtaz atas nyonya Sandra?"
" Kami menyesali hal itu terjadi, tapi kami mengenal sahabat kami, pasti ada alasan yang prinsipal mengapa dia melakukan itu, tapi itu tidak bisa dikaitkan dengan mami Sandra.
Jangan ungkit hal itu, menjelang kematiannya hubungan mereka sudah membaik, mereka sudah saling memaafkan. Jadi untuk rumor itu hentikan sampai di sini." Tukas Daniel.
" Mengapa bapak Mumtaz tidak mengaklarifikasinya, mengingat karena video itu banyak sekali hujatan padanya?"
" Untuk menjaga nama baik ibuku, terlepas dari video itu, bagi Mumtaz sesalah apapun orang tua tidak patut diumbar kekurangannya." Ucap Alfaska dengan senyum getir.
__ADS_1
" Jangan fokus pada satu masalah ini, dia sudah banyak menolong orang tua. Cari berita itu agar berita anda objektif. Kami permisi." Bara menyudahi sesi tanya jawab itu.
Semuanya berlalu tanpa lagi menjawab pertanyaan para wartawan yang masih terus membombardirnya.
Di mobil Van, Rizal yang menunggu mereka berkata," Fa, Gata tv ingin mengundang Lo, ibu gue dan beberapa orang tua anak RaHasiYa juga diundang. Gimana, Lo mau?"
" Ibu Lo? Ngapain promosiin uduk?" Kelakar Daniel.
Rizal berdecak," kagak, ini strategi dari Yuda agar masalah ini berhenti."
" Katakan gue oke, sekalian bilang ke nyokap Lo supaya bawa uduknya." Ucap Alfaska yang sudah memejamkan matanya.
" Iya, iya. Masih Lo kepikiran makan uduk, gue aja lebih ngiler makanan rumah Lo."
" Lo kan norak, belum pernah makan makanan konglomerat, kita kan konglomerat merakyat." Celetuk Bara.
jleb...
*****
Zayin menonton berita Mumtaz di kamarnya, untuk mengetahui alur cerita ini.
Sebenarnya dia ingin menangis seperti yang dilakuan Zahra dan Tia yang sedang mengurung diri dikamar di rumah Alfaska, tetapi dia adalah sandaran Keluarganya, jika dia lemah, siapa lagi yang bisa menjadi tumpuan untuk menenangkannya.
Ceklek....
Zayin melihat Adelia yang masuk ke kamarnya dengan raut yang sedemikian disedihkan, pipi gembilnya merah, matanya bengkak.
" Aa..." Adelia berlari ke pelukan Zayin yang sudah merentangkan kedua tangannya menyambut dirinya.
Lama mereka berpelukan, Adelia mengangkat kepalanya, tangan kecilnya membingkai wajah tegas Zayin.
" Nangis aja, cini cama Adel."
Adelia membawa kepala Zayin ke dadanya, ia mengelus kepala itu dengan sayang.
" Adel kalau cedih, Aa yang hibul Adel, sekarang Adel mau hibul Aa. Aa pasti cedih banget. Hiks."
Elusan dari tangan mungil itu entah mengapa menyentuh hati Zayin, Zayin lebih mendekatkan tubuh Adelia padanya, luruhlah tangisan itu dalam dekapan tulus yang ditawarkan oleh Adelia.
Bentangan usia tidak menghalangi ikatan spesial diantara mereka, meski sempat beberapa tahun tidak bersua karena Zayin yang harus menempa diri di TNI, namun hati yang mendominasi yang masih menjadikan dua insan ituyang saling memahami.
Suara Zayin yang menangis, mampu mengoyak perasaan Heru yang berdiri di depan kamarnya dengan pintu yang terbuka sedikit, sebagai anak rantau dia paham rasa kesepian yang dialami oleh tetangganya itu, saat dia mengalami kegalauan, ada Hito yang menemaninya, itulah mengapa dia berani mengambil resiko membawa adelia yang terus memaksanya untuk bertemu zayin ke hadapannya.
Adgar, Raja, Juan, Bayu, dan William mendekati Heru, Heru memasang telunjuknya dibibir agar mereka tidak menggangu yang didalam kamar.
Mereka mengintip sesaat, lalu memilih menunggu di sofa yang tersedia di lantai dua.
" Ternyata hanya butuh Adel agar dia menumpahkan emosinya." Gumam Adgar.
" Sedari tadi wajah terkendali dia membuat gue tidak tenang." Timpal Juan.
" Apa menurut kalian Zayin akan nekat melakukan sesuatu?" Tanya Raja pada Bayu dan William.
" Bang Yuda mewanti kita agar Zayin tidak melakukan hal yang lebih merugikan keduanya, bagai manapun sang lawan sudah mengetahui tentang mereka, dan ingin menghancurkan mereka." Jawab William.
" Masalahnya, kita ditugasi oleh kesatuan untuk melindungi Ayu." Tambah Bayu.
" Itulah mengapa belakangan ini kalian selalu ada disekitarnya Ayu, gue pikir Willi suka Ayu, karena seringnya dia yang ada bersama Ayu." Racau Raja.
" Kita cuma inisiatif bagi tugas aja sih, kalian juga sibuk. Lagian mana mungkin gue suka anak SMA?" Sergah William berlagak bergidik.
" Lo ngomong kayak gitu di depan bang Ibnu, langsung ditampol Lo." Sahut Adgar.
" Lagian sebrengseknya gue ,gak mungkin gue garap lahan orang."
" 4nj1r lahan, woy, kita emang pemain, tapi gak sampai ngerusak, kok." Protes Raja.
Wajah William berubah cengo, " serius? Terus ngapain aja kalian sama tu cewek?"
" Ya biasa saja, mana ada kita kasih keperjakaan kita buat barang rusak macam mereka, n4j1s." Tolak Raja tegas.
" Apa obrolan kita pantas di situasi kayak gini?" Sindir Juan malas.
" Enggak sih, cuma kalau kita tidak improve untuk intermezzo, cepat stroke kita " sahut Bayu.
" Iya sih. Kapan segala skandal ini cepat usai?" Gumam Adgar.
******
Seharian di tahanan, yang bisa dilakukan oleh Mumtaz hanya shalat dan mengaji Al-Qur'an sebagai pengisi waktunya.
Mendadak Andre mengunjunginya dengan raut keruh, dan tatapan menghunus.
Para penjaga di belakang Andre bersiaga atas perintah Ergi, namun lirikan dan kode dari Mumtaz membuat mereka menjauh.
" Apa kau merasa bisa lolos hingga sampai saat ini masih bersikap tenang? Tuding Andre.
Mumtaz melepas pecinya, menatap tenang Andre." Saya tidak bersalah, jadi mengapa harus takut?"
" Apa raut kegusaranmu itu menandakan kau dalam keadaan terpojok?" Tantang Mumtaz.
Andre mengangkat telunjuknya ke muka Mumtaz yang langsung ditekuk tajam olehnya hingga Andre meringis.
" Melihat kinerjamu, orang akan berpikir kedudukan yang kau miliki bukan hasil prestasimu, tetapi jalur pintas yang memalukan." Desisnya meyakinkan.
" Kau...berani memfitnahku?"
" Dengan senang hati penyelidik netizen akan membuktikan argumentasi ku, ini era digital bukan hal sulit mencari tahu tentang itu.
Apa kau tidak sadar, para netizen sekarang mulai memihakku? Setelah mereka tahu video murahan yang tersebar itu bukan yang terupdate.
Saya yakin tidak lama lagi akun penyebarnya akan diketahui, dan saat itu mampukah kau menghadapinya?" Ancamnya.
Andre tertawa sumringah karena berpikir telah berhasil menjebak Mumtaz dengan segala perkataannya.
Andre berbalik badan menghadap para petugas yang berada jauh di belakang mereka.
" Kalian dengar itu, pasti kalian sudah mendengarnya...dia mengancam ku dan memfitnahku yg melakukan penyebaran atas videonya." Teriak Andre senang.
Mereka menggeleng," tidak pak, kalian bicara terlalu pelan." Sahut salah satu penjaga.
" Saya tidak mengatakan kau yang melakukannya, tetapi mengapa kau berasumsi kau yang melakukannya, apakah kau yang melakukannya, pak?" Tanya Mumtaz sambil tersenyum smirk.
Wajah Andre menegang, karena terlalu hanyut dalam kesesakan, Andre menyerang Mumtaz dengan melayangkan satu tonjokan awal yang sangat keras disusul pukulan lainnya, Mumtaz hanya bisa bertahan, matanya melirik bagian pojok atas sebelah kanan ruangan, dimana satu kamera berbentuk cicak bertengger di dinding
Satu dari sekian banyak kamera yang dipasang yang dipasang Daniel di seluruh area mabes.
Nando yang mendapat tugas mengawasi kamera situ tersenyum devil, dengan semangat 45 dia menyebar peristiwa itu ke seluruh platform sosial media dan media online.
" Ini saatnya..."
__ADS_1