Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 67. Pelan Tapi Pasti.


__ADS_3

" Jauhi Ziva, atau kau kehilangan zahra." Seru Edel mengikuti Hito masuk ke ruang kerjanya yang menggendong Adel yang tertidur lelap seusai makan siang di restoran di hotel the Sultan.


" Aku tidak mendekatinya." Hito duduk di sofa membaringkan Adel di sampingnya.


" Tapi kau tidak menolaknya." Edel mengambil duduk di sofa single.


" Tepatnya aku menganggapnya tidak ada."


" Itu dari sudut pandang mu, tapi belum tentu dari sudut pandang Zahra."


" Kenapa kakak tidak melakukan penolakan seperti sebelumnya? Apa kau memang memiliki rasa terhadap Ziva?" Tuding Edel sengit.


" Dan apa hasilnya aku menolak? Nenek terus saja menyodorkan wanita lain ke hadapanku, jadi kakak rasa tindakan itu tidak efektif."


" Tapi dengan sikap pasifmu nenek akan berpikir kamu setuju."


" Tidak juga, kamu bisa tanya ke Heru perlawanan apa saja yang sudah ku lakukan kepada nenek."


" Kau tidak sedang mengelabuiku kan? Selidik Edel.


Hito berdecak sebal," terserah kamu mau percaya atau tidak." Hito menuju kursi kebesarannya berniat melanjutkan  pekerjaannya.


*****


Di ruangan presidential suite hotel the Ritz-Carlton telah berhadapan dengan Mumtaz dan para sahabat adalah Luke dan Nathan Wilson, para pengacara, beserta Dominiaz Gaunzaga sebagai direktur utama Gata tv.


" Maaf, saya mengajak bertemu secara mendadak, tuan-tuan." Tutur Mumtaz, dia menyodorkan amplop hitam besar.


" tidak mengapa, meski cukup mengagetkan." Nathan menerima amplop tersebut, dan membukanya. Isinya dokumen asli pernyataan penyerahan harta kekayaan oleh Edward Wilson kepada Rudi Aloya, dan kaset video aslinya.


Nathan dan Luke terkejut," maaf, apa anda yakin ini asli?" Tanya Luke hati-hati merujuk ke dokumen kesepakatan.


" Saya sudah memeriksakannya kepada tiga ahli dan mereka menyatakan itu asli." Jawab Mumtaz tenang di kursinya.


" Kam juga sudah mengumpulkan bukti lain yang dibutuhkan yaitu seorang OB, beserta beberapa orang ahli grafolog sebagai saksi ahli guna menyatakan bahwa tanda tangan yang tertuang berada dibawah tekanan, dan segala dokumen tentang Surga Duniawi. Intinya kami sudah menyiapkan segala bukti untuk persidangan" Ungkap Ibnu.


" Saya berasumsi kalian ingin kami melaporkan mereka?" Tanya Nathan memastikan.


" Iya, hari ini juga." Ujar Daniel, Nathan menatap Daniel heran.


Ibnu menghadapkan laptopnya ke Wilson," ini rekaman lengkap yang ada di kaset tersebut.


Nathan menggenggam tangan pamannya dengan wajah panik, dan takut.


" Siap?" Tanya Ibnu memandang Nathan dan Luke sebelum menekan play.


Nathan dan Luke menganggukan kepala.


Ibnu dengan tenang menekan play, terlihat Edward langsung ditodongkan pistol di kepalanya kala memasuki ruangan kerjanya, paksaan Rudi agar Edward duduk di sofa, dan menandatangi berkas yang dia sodorkan, menembak televisi sebagai ancaman ketika Edward menolak permintaan Rudi, pukulan di kepala Edward dengan ujung pistol oleh Rudi ketika Edward mencoba melawan, OB junior yang tiba-tiba masuk membawa secangkir kopi, dan ditempatkan di pojok ruangan oleh Victor, dan akhirnya Edward menandatangani berkas itu dibawah todongan pistol di kepalanya.


Selanjutnya rekaman pembunuhan berencana terhadap Edward dan isteri yang mobilnya diberhentikan oleh mereka berdua di tempat sepi dan menyiramkan bensin ke seluruh body mobil dan membakar mereka hidup-hidup dengan cara mengunci mereka dari luar, tidak menghiraukan segala jeritan dari para korbannya.


Selama beberapa saat setelah rekaman cctv diputar tidak ada yang bersuara wajah Nathan dan Luke pucat tapi menyimpan dendam dengan ekspresi mual.


" Maaf, kalian harus melihat itu." Sesal Daniel prihatin.


" Apa yang kalian dapatkan dari membantu kami?" Ucap Luke setelah tenang meski ada sisa kesedihan dalam suaranya.


" Ijin dari kalian untuk menghancurkan Surga Duniawi rata dengan tanah, saat ini tempat itu sudah menjadi sarang dunia hitam namun sumber kekayaaan bagi mereka." Ucap Mumtaz dingin.


Nathan dan Luke terperangah, dan sedikit terintimidasi karena suara datar Mumtaz, kemudian Nathan mengangguk." Silahkan, jika diperkenankan kami ingin melihat penghancuran itu."


" Tentu."


" Hanya itu?" Tanya Luke waspada.


" Sodorkan Tanura dan Gaby kepada Brotosedjo, Pramono, dan Alexander bergiliran diantara mereka setiap malamnya, mulai malam ini." Daniel meletak beberapa bola berukuran bola tenis di atas meja.


" Pasang kamera ini di kamar keduanya, jika kalian ingin kami bisa menyambungkan langsung ke ponsel kalian." Ujar Ibnu mencoba mencairkan suasana.


" Thanks, tapi tidak perlu." Tolak Nathan memasang wajah jijik.


" Saya tidak ingin Rudi dan Victor ditangkap polisi." Pinta Luke.


" Baik, Bara sudah mengutarakan keinginan kalian, dan kami menyanggupinya." Daniel menjabat tangan Luke.


" Gata tv akan menyiarkan berita ini secara besar-besaran, saya harap kalian berkenan hadir sebagai narasumber, dan memberi ijin kami untuk membagi rekaman itu dengan rekan media lainnya." Dominiaz berucap sambil memberikan berkas kesepakatan.


" Tentu." Ucap Nathan tenang meski tatapannya masih terkesan kosong.


" Gaunzaga dan RaHasiYa akan memberi perlindungan terhadap kalian dan keluarga. Dimulai kalian keluar dari ruangan ini." Ucap Daniel melirik beberapa orang yang duduk di ruangan sebelah dengan berpakaian casual.


Nathan dan Luke mengangguk paham.


" Terima kasih, setelah ini kami langsung menuju kantor polisi." Luke melirik pak Bambang, sang pengacara yang duduk di meja berbeda sebelah meja mereka sedang mempelajari kasusnya.


Beliau mengangguk " siap." Dengan mengacungkan jempolnya.


*****


Dalam waktu berbarengan perwakilan Atma Madina dan Celine Miranda yang di dampingi Adinda mengadakan konferensi pers pernikahan Alfaska dengan Adinda secara live yang dihadiri wartawan dari setiap stasiun televisi.


Celine duduk dengan gestur berbangga diri dengan dandanan make up full dan baju terusan sexy di atas lutut merah menyala, sedangkan Adinda yang duduk di sampingnya tersenyum kaku dengan mimik gelisah.


****


Klarifikasi antara Ratih dan zahra berjalan alot sehingga para pihak terkait memutuskan akan mengkaji keorisinalan berkas berdasarkan bukti-bukti yang ada, mengingat penelitian ini sudah tahap penyempurnaan diputuskan kedua belah pihak untuk menerapkan hasil penelitiannya kepada pasien.



" Kenapa anda tidak melakukan apa yang sudah kita sepakati?" Jerit Ratih kepada profesor Jensen yang berjalan di depannya begitu mereka memasuki kamar hotel tempat jensen menginap. Jansen, profesor muda yang menjadi kepala penelitian di kampus .



" pergilah, kau harus mempersiapkan diri untuk uji kemampuanmu."



Profesor Jensen membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai siku dengan tenang dan duduk bersilang kaki dengan tangan dijatuhkan dilengan sofa yang berada di ruang tamu.



Meradang karena tidak menadapat tanggapan positif dari profesornya Ratih mendekati Jensen dengan mata menyipit sinis, melempar beberapa lembar foto syur mereka berdua di atas ranjang beberapa tahun lalu.



" Kalau anda pikir ancaman saya hanya gertakan sambal, anda salah. Satu jentikan foto itu akan tersebar di seluruh Jerman, bahkan dunia." Seru Ratih sedikit membungkukkan badannya di depan Jensen untuk menantangnya.



" Lakukan, di Jerman perbuatan yang kita lakukan adalah hal biasa, saya masih single. Dampak bagi saya hanya bersifat amoral dan untuk sesaat saja, tapi bagimu, karir doktermu taruhannya." Ujarnya santai dalam bahasa Jerman.



Dalam hati Ratih menggeram ancamannya kepada sang profesor untuk menekannya agar mendukung pernyataannya gagal, keterangan dari Jensen sangat Ratih butuhkan karena Jensen adalah profesor jenius yang diakui dunia atas keahliannya di dunia medis.



Dedikasi Jensen di dunia medis tidak lagi diragukan, bahkan WHO berkali-kali menunjuknya untuk mengepalai penelitian dan selalu berhasil.



Zahra adalah satu-satunya mahasiswi yang direkrutnya ketika masih di tahun pertama perkuliahan di kampusnya, dan karirnya sebagai penelti langsung melejit setelah mendapat rekomendasi dari Jensen.



" Beraninya anda bermain-main dengan saya, kalau karir saya hancur, karir anda pun harus hancur." Ucap Ratih dengan bibir terkatup menahan amarah.



" Ck, lakukanlah jangan hanya bicara. Apa kau tahu siapa Zahra itu?"



Iris mata Ratih bergoyang menandakan kebingungan.


__ADS_1


Jensen menunjuk berkas yang berisi profil Zahra yang diletak di atas meja berbentuk oval, Ratih menyambar berkas itu, tak lama wajahnya menegang panik.



ekspresi itu Jensen yakin persis sama dengan yang dia tampakkan ketika mendapat telpon dari Mumtaz untuk memperingatinya akibat yang akan dia rasakan jika dia berkonspirasi dengan Ratih untuk memfitnah Zahra.



" Melihat dari ekspresimu sangat dipastikan kau tidak memeriksa latar belakang Zahra, ceroboh. Persis jalan pikiranmu yang kacau itu, seharusnya Kau diam dan nikmati gelar doktor mu hasil disertasi yang merupakan plagiat dari penelitian zahra alih-alih memfitnah Zahra atas kasus ini." Cemooh Jensen dengan pandangan menghina kepada Ratih.



" RaHasiYa merupakan perusahaan yang bekerjasama dengan kampus dalam hal keamanan cyber. Mereka yang berwenang mengelola keamanan cyber kampus, bahkan Mumtaz dan Ibnu partnernya di RaHasiYa adalah salah satu dosen tamu kehormatan kampus dalam bidang teknologi komputer yang seminar tahunannya selalu dihadiri ratusan mahasiswa bahkan pelaku profesional." Selama bicara Jensen mengamati ekspresi Ratih.



" Dia tentu tidak akan tinggal diam melihat kakak tercintanya difitnah, orang yang mengetahui trek rekordnya dan cukup waras tidak akan berani mencoba menantangnya. Berdo,a lah karir orang tuamu tidak ikut hancur, meski saya menyesal karena dapat dipastikan karirmu berakhir." Kalimat terkahir Jensen merubah wajah Ratih yang cantik karena makeup menjadi pucat pias.



Ratih luruh terduduk simpuh dengan tangan yang masih mencekal lembaran itu dengan tubuh lemah tak bertenaga, tatapannya kosong dan kalah.



" Zahra bukan tandinganmu harusnya kau paham itu. Dalam kurun waktu yang sama dari dokter umum dia bisa dianugerahi gelar profesor, sedangkan kau hanya mampu meraih satu gelar doktor." Jensen menatap Ratih kasihan.



\*\*\*\*\*\*



Mami memasuki rumahnya dengan panik karena melihat gumpalan asap besar yang menyeruak dari dalam rumahnya.



Mami berdiri mematung mendapati Jimmy yang berdiri sedang melempar satu persatu undangan ke tumpukan undangan lain yang sudah terbakar di tengah-tengah ruang keluarga yang luas, papi duduk tenang di sofa memperhatikan Jimmy, para pelayan hanya memandanginya dengan mimik khawatir di samping jendela yang sudah terbuka lebar agar ruangan tidak pengap karena asap.



" Kenapa kalian diam saja, cepat ambil air matikan apinya." Teriak mami kepada para pelayan yang tidak berani bergerak karena takut kepada papi.



Jimmy membalikan tubuhnya memandang nanar mami, mami tertegun mendapati tatapan marah, kecewa, dan sedih bercampur menjadi satu dalam pancaran mata Jimmy.



" Demi pelacur itu kau permainkan hati anakmu, kau tidak tahu betapa khawatirnya aku mendapati kabar sakit mu, tapi yang kudapatkan adalah undangan sampah ini, dan hinaan kau kepada mama." Ucap Jimmy dengan suara rendah dan dingin Bernada datar.



Dia melempar iPadnya yang jatuh tepat di depan kaki mami.



Mami tersentak, ingin dia menghampiri putra semata wayangnya, namun kakinya kaku tak mampu digerakan.



Jimmy membalikan tubuhnya hendak keluar dari rumah, namun disela mami.



" Afa, kau mau kemana?"



" Ke Tia, sekarang dia rumahku yang paling nyaman aku membutuhkan dia." Jimmy melanjutkan langkahnya.



" Selangkah kamu keluar dari rumah ini, besok kamu akan melihat mayat mami mu." Ancam mami berat.




" Diam kau, ini semua karena kamu yang mendukung tindakan bodohnya." Hardik mami melototkan mata ke papi.



" Mami..." Tegur keras Jimmy.



" Aku kepala keluarga di sini yang harus memastikan kebahagiaan keluarganya, dan aku melihat Alfa bahagia dengan Tia."



" lalu bagaimana dengan Atma Madina?"



" Sebagai pemegang kuasa dari Atma Madina aku yakin menikahkan afa dengan Tia itu lebih baik bagi kita daripada dengan pelacur itu."



" Jangan kau lupa siapa yang memberimu kekuasaan itu, aku. aku, Sandra Atma Madina yang memberimu kendali atas Atma Madina, Aryan Argadinata!" mami menunjukan dirinya dengan penuh kuasa.



" Kau bukan siapa-siapa tanpa Atma Madina berani-beraninya kau mengkhianatiku dengan menikahkan dia dengan Tia."



Aryan dan Jimmy terkejut atas ucapan mami.



Papi memandang mami dengan kekecewaan " kau tahu sejak awal saya keberatan menyandang nama itu karena saya laki-laki, tetapi demi membuktikan cintaku kepadamu saya rela menyandangnya. jika ini yang membuatmu merasa berkuasa atas diriku dan anakku, mulai detik ini saya hapus nama itu dari belakang nama saya."



"Pi,..." Jimmy hendak melakukan penolakan.



" Alfa, papi seorang Argadinata, kita bisa hidup tanpa nama Atma Madina, itu janji papi." papi memegang kedua bahu Jimmy memberi dukungannya.



Jimmy menengadahkan wajahnya, memejamkan mata menyembunyikan rasa terluka, bahunya terkulai lemah. Tanpa kata dia membalikan tubuhnya kembali masuk ke rumah, mami tersenyum menyangka dia telah menang, dan Jimmy masih memperdulikannya.



" Aku kembali bukan karenamu, tapi ajaran mama Aida yang melarang ku melukaimu." Seru Jimmy yang mampu memudarkan senyum mami.



Jimmy berlalu menuju kamarnya dengan tatapan kosong.



" Afa, percayalah kepada mami, ini semua demi kebahagiaanmu." Teriak mami ke punggung Jimmy yang mulai menghilang dari pandangannya.



Mami melirik papi yang berdiri tepat di depannya dengan tatapan terluka.



" Pi,..." Panggil lemah mami penuh penyesalan.



Papi beranjak melangkah keluar dari ruangannya melengos tak menghiraukan mami.

__ADS_1



Dalam kamarnya, Jimmy duduk dipinggir kasur menunduk dalam dengan kedua tangan mengepal pinggiran ranjang, hingga bahunya berguncang menandakan dia menangis.


Drrrt...derrrt....


" Hallo,..." Jimmy menjawab sambungan telepon masih dengan posisi menunduk.


" A, yang sabar ya menghadapi mami. Di sini Tia baik-baik saja, Aa jaga diri. Ingat Aa sudah jadi kepala keluarga jadi harus lebih legowo, dan tegar." Meski Tia berbicara dengan tenang, tapi Jimmy dapat merasakan kerapuhan dari nada suaranya.


" Iya, sayang. Bagaimana kabar mama?"


" Biasa aja, sekarang lagi meladeni gombalan Raja." Tia terkikik.


" Mami habis menghina mama!" Tutur sendu Jimmy mengurut keningnya gusar sulit untuk menanggapi upaya penghiburan dari Tia.


" Mama gak anggap itu menghina hanya curahan hati mami, justru kita yang minta maaf udah bikin mobil mami rusak."


" Sayang, Aa cinta Tia. Cuma kamu yang Aa mau dan cuma kamu yang akan jadi isteri Aa." Ucap getir Jimmy menahan tangis.


" Iya, Tia tahu. Kalau Aa poligami Tia potong juniornya sampe nyisa seinci." Kekehnya diakhir kalimatnya.


Jimmy tertawa geli," Aa belum bisa pulang."


" Iya, lebih lembut sama mami ya!? Jangan ninggalin shalat. Daripada galau mending mandi, wudhu, dan shalat."


" Hmm."


" Ya, udah. Istirahat, Tia tutup ya, makan yang teratur. Assalamualaikum."


" Wa, alaikumsalam."


Di seberang, seusai menutup sambungan telpon Tia membekap mulutnya dengan tangan kiri agar isakan tangisnya tidak terdengar sampai luar dan tangan kanannya menempelkan ponsel di dadanya. Tubuhnya disandarkan di kaki ranjang dengan kaki tertekuk sebagai tumpuan kepalanya agar meredam suara tangisannya.


" Ma, ini gulanya segini?" Radit membungkuk meneliti timbangan digital, sekarang para sahabat dipaksa mama untuk membantu dirinya membuat muffin coklat untuk menu coffe shopnya.


Mama melihat ukuran timbangan, " sip, tuang ke wadahnya. Haikal tidur di kamar Ibnu jangan di sofa."


" Nanggung ma, satu jam lagi Ikal pulang." jawab Haikal melanjutkan tidurnya, dia lelah karena kunjungan kerjanya bersama Jimmy.


Mama mendengus," mana ada nanggung satu jam, ini kalian gak ada yang ke pema?" tanya mama kepada para anak yang duduk tak beraturan memenuhi ruang keluarga sambil menonton tv.


Mama sangat menyadari mereka di sini karena khawatir kepadanya atas peristiwa tadi.


BRAK!!!!!


Zahra menerobos masuk rumah melangkahi beberapa para anak yang rebahan di lantai ruang keluarga.


" Ma, mama..." teriak Zahra panik dan khawatir, seusai melakukan konferensi pers Zahra pulang karena mengetahui kabar hinaan mami dari Rio.


" Iya, ada apa?" mama keluar dari dapur.


Zahra memindai mama dari kepala sampai kaki, " mama, tidak apa-apa?"


" Iya, semuanya masih utuh."


" Mana Tia?"


" di kamar."


" Kak,.." panggil Tia yang berdiri di anak tangga paling bawah, dia langsung duduk bersimpuh di depan kakaknya karena merasa bersalah, bagaimanapun Jimmy sudah menjadi suaminya.


" Atas nama Aa Jimmy, Tia meminta maaf kepada keluarga mama." ucapnya disela sesenggukan tangis dengan tertunduk.


" kenapa kau yang harus minta maaf bukannya ibu mertuamu sendiri!?" Zahra emosi.


" Angkat kepalamu, kalau kau menyesal jangan pernah menundukkan kepalamu lagi ke siapapun mengingat kau memiliki mertua yang norak karena kekayaannya, awas kalau kamu menundukkan kepala lagi!" ancam Zahra.


Zahra langsung membalikan tubuh dan keluar dari rumah.


" Kak, mau kemana lagi?" mama berusaha menyeimbangkan langkah besar Zahra.


" ke rumah Atma Madina itu."


Mama mulai panik, untuk ukuran perempuan Zahra terlalu berani, Sandra hanya mampu berperang lewat lidah, sedangkan Zahra tidak hanya lidah saja tapi dia menguasai tiga bela diri yaitu silat, karate, dan jujitsu.


" kenapa kalian diam saja? cepat buntuti dia." sentak mama panik.


Para anak enggan untuk bergerak karena tak ingin berurusan dengan Kak Zahra dalam mode galaknya, tapi harus ada yang dikorbankan bukan, menghadapi amarah mama bukan pilihan yang tepat.


Mereka mendorong Jeno untuk mengikuti kak Zahra, yang tidak berdaya selain mengikutinya meski dengan keterpaksaan, dan pelototannya kepada para sahabatnya mereka yang hanya nyengir kuda sambil mengangkat tangan peace.


*****


Konferensi pers pernikahan Alfaska dengan Adinda saling berebut tempat dengan berita pertunangan Hito Hartadraja dengan Zivara Husain sebagai berita yang viral di Indonesia.


Namun itu terhempaskan, karena berita pelaporan Wilson ke polisi tentang tindak pidana yang dilakukan pengusaha Rudi Aloya dan Victor Rafael serta sisi hitam Surga Duniawi merebut posisi pertama yang diberitakan baik di media cetak maupun media elektronik, bahkan viral karena paling banyak yang dicari dan direpost diberbagai platform sosial media dalam waktu lima jam terakhir.


PRANG!!!!!


Rudi melempar lampu kerjanya menghantam tembok, benda terakhir yang masih utuh di ruang kerjanya.


Tangan Rudi bergetar mencekal ujung meja erat karena emosi, seluruh benda yang berada di ruang kerjanya sudah berantakan dan hancur, lemari besi yang selama ini tersimpan rahasia terbuka lebar-lebar dengan isinya yang berhamburan.


" Bagaimana bisa, bagaimana bisa mereka mendapatkan dokumen itu!!!!!" Rahangnya mengeras, wajahnya memerah, nafasnya memburu. Dia menendang keras meja kerja hingga terbalik sebagai pelampiasan emosi yang memuncak.


" AAAAARRGGGHH!!!! " Dia menjambak rambutnya keras.


Victor hanya bisa mengintipnya di sela pintu yang dibuka sedikit melihat temannya mengamuk.


*****


Tiga pemuda berdiri tegak mengamati tiga tempat yang menjadi titik fokus mereka, ruang kerja Rudi, kamar Jimmy, dan rumah mama. Di lantai sembilan, ruang hologram. Satu lantai yang berdinding kaca dengan penutup warna putih yang berfungsi juga sebagai layar yang biasanya di gunakan untuk pengawasan berskala besar dan/atau titik fokus lebih dari tiga.


" Aku sudah menyebar robot pengintai dan penyerbu di seluruh area." Daniel menyerahkan remote pengendali ke Mumtaz.


TRING!!!


satu notifikasi pesan masuk ke ponsel Ibnu.


" Nu, kirim video streaming Dinda sekarang!." Ibnu terbelalak mendapati isi pesan dari Jimmy.


Ibnu menyerahkan ponselnya ke Mumtaz," Muy, kayaknya si Jimmy benar-benar stress deh." Ucapnya sambil sibuk mengoperasikan laptopnya yang di atas meja panjang.


" terus Lo kirim?" tanya Daniel memperhatikan Jimmy yang berkutat dengan laptopnya dalam kamar gelap.


" Jim, Lo gak maksud latihan malam pertama lagi kan?" ucap Daniel melalui earphone.


"ASTAGFIRULLAH!" Mumtaz menjitak kepala Ibnu keras yang duduk di sebelahnya dimana dia berdiri, sang empu hanya bisa meringis.


" DEMI BUAYA RAWA!" Daniel menutup matanya dengan jari tangan yang merenggang


Latah mereka karena ulah Ibnu yang menayangkan streaming syur Adinda dengan kliennya.


" HAHAHAHHA... Jangan sok alim Lo pada, kasian cuma bisa ngelihatin tapi gak bisa ngerasain." ejek Jimmy melangkah keluar dari kamarnya.


" Itu buat muasin dirty mind lo tentang dia." ujar Jimmy diseberang sana sambil terkekeh.


" NAJIS!!" Daniel mengumpat jijik.


" hehehe..." Ibnu hanya nyengir kuda.


" Awas aja Lo habis ini ketemu adik gue." ancam Daniel mengepalkan tangan.


" Maaf cakar, nikmati saja sih. Lo jangan lihat kegiatannya, tapi lihat siapa pasangan lelakinya." seru Ibnu menghampiri mereka sesudah mempause video tersebut.


Untuk beberapa saat Mumtaz dan Daniel diam mengamati,


" Itu,..."


" Victor Rafael. ayah dari tunangannya, Samuel Rafael. suami dari tantenya."


*****


" Aaaakh,...eeehh..., aaahhhh. masukin lebih dalam omh...."


Mami menatap jijik ke layar laptop yang disodorkan oleh Jimmy yang menampilkan adegan pergumulan antara calon isterinya dengan sang paman....

__ADS_1


__ADS_2