Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 106. Kabut.


__ADS_3

Mendengar suara sesegukan dari ruang tunggu Ibnu menyegerakan kegiatan bersih-bersihnya, dia agak parno mengingat ini di rumah sakit.


Seingatnya hanya dirinya yang kini masih tinggal di ruang inap Bara, sedangkan yang lain sudah ada yang pergi kampus atau cari gebetan.


" Hallo,..." Dengan perlahan Ibnu melangkah ke arah suara.


" Huhu..hiks.." sesampainya dipintu,


" Ya,..." Ibnu kaget mendapati Tia di ruang tunggu dan melihat laptopnya yang sedang meretas streaming cctv kantor ruangan Alfaska.


Tangis Tia semakin menjadi," Kak, Aku gagal memahami suamiku..."isaknya.


Ibnu berjongkok dihadapan kursi yang diduduki oleh Tia," Ya, berhenti menangis, kalau kamu merasa bersalah, kembali menjadi Tia yang disukai Afa." Diam menjeda, Ibnu melanjutkan pembicaraannya.


" Prof. Farhan memanggil kami terkait kondisi kak Ala, kak Ala tidak hanya kelelahan fisik, tetapi juga mengalami goncangan mental."


" Hah? Apa?" Tia terbeliak kaget," bagaimana bisa?"


" prof, Ira. Ahli psikolog rumah sakit ini mengatakan sudah beberapa bulan ini kak Ala berkonsultasi padanya, Kak Ala merasa di mengalami perubahan emosi menjadi lebih agresif terhadap sesuatu yang tidak disukainya. Sebenarnya prof. Ira menyarankan Kak Ala untuk berbicara dari hati ke hati dengan keluarganya, tetapi kesibukan kalian yang mengakibatkan sampai sekarang belum terlaksana."


" terkait dengan sikapmu bukankah kak Ala selalu memarahi kamu? tapi setelahnya alih-alih membenci kamu kak Ala merasa bersalah pada dirinya sendiri yang merasa gagal menjadi orang tua bagimu." Tia menggeleng, ia tidak percaya akan apa yang dikatakan Ibnu.


" Tidak!! Kak Ala baik-baik saja, Kak!"


" Tentu. kak Ala baik-baik saja, karena sering konsultasi semua gangguan mental itu masih bisa dikendalikan, namun bukan berarti dibiarkan."


" Kenapa? Kenapa bisa begini? Kak ala itu orang yang kuat loh, kak!"  


" Afa sudah menceritakan kepada kami. Ya, bukan hanya kamu yang merasa kehilangan Mama, kita semua termasuk Kaka Ala. Dia tidak punya waktu untuk mengobati luka atas kepergian Mama karena harus segera menjadi pilar kokoh bagi para adiknya sedangkan dia sendiri tidak ada yang merawat lukanya."


" Kami cukup syok, kini Mumuy dan Zayin pun menyalahi dirinya sendiri karena gagal melindungi kalian."


Tia menggeleng, dia tidak menyangka akibat keegoisannya membuat luka baru bagi orang-orang terkasihnya. Seharusnya dia sadar bahwa yang kehilangan Mama bukan hanya dirinya tetapi semua orang terdekatnya.


" Kak..." lirihnya ditengah Isak tangisnya


.


Ibnu membawa Tia dalam dekapannya," husssh...kita perbaiki bersama, kamu cukup menjadi Tia kami lagi."


" Bagaimana dengan kak Ala?"


" Prof. Farhan bilang selama ini kak Ala mencoba menahan semua gejala stresnya karena Terbiasa hidup dibawah tekanan, tetapi tubuhnya berkat lain, tubuhnya tidak bisa menopang semua beban lahir dan bathinnya makanya pingsan."


" Dimana Aa Mumuy?" Dia khawatir kakaknya itu mengasingkan diri seperti biasa.


" Sedang bersama Zayin, Daniel, dan Radit ke cafe seberang."


Cklek!!!


Mumtaz, Zayin, Daniel, dan Radit memasuki ruangan, mereka cukup kaget dengan adanya Tia di sana bersama Ibnu.


" Untung Lo ada di sini, Ya." Ujar Zayin.


" Kenapa?"


" Gue mau ngomong sama Lo." Zayin mengambil duduk di samping Tia yang duduk di sofa panjang.


" Bang Inugghh pasti sudah cerita sama Lo apa yang terjadi dengan kak Ala?" Tia mengangguk.


" Ya, gue ngomong begini sebagai kakak Lo meski kita cuma beda sepuluh menitan doang lahirnya.


" A..apa?" Aura yang dipancarkan Zayin membuat Tia gugup.


" Sebagai istri, kalau kamu masih mau mempertahankan rumah tangga dengarkan dan ikuti apa kata bang Afa, suka atau tidak suka. Jika itu sulit bagimu, mulailah berpikir untuk mengakhiri pernikahan ini,..."


Tubuh Tia menegang, dia menggelengkan kepala cepat," gak mau."


" Aa Mumuy dan Aa sudah berdiskusi, tidak bisa lagi membiarkan kamu menjadi beban bang Afa karena sikap egois kamu."


"A..."


" kita mengambil putusan ini karena ini sudah berlarut-larut, harus ada tindakan untuk mengakhirinya sebelum semakin melebar."


" Aa Mumuy," Tia mencari pembelaan..


" Dengarkan apa kata Aa Ayin!"


" Tapi kalian melewati batas privasi aku!" bela Tia.


" Kita tidak peduli, karena sikap kamu pun melewati batas toleransi kemasyarakatan. Mau Aa jabarin lagi norma-norma yang berlaku dalam masyarakat?" Sindir Zayin menyimpan cemooh.


Tia menggeleng," kalau kamu tidak mau juga diatur, menjauh dari kami. Bukan karena kami tidak peduli padamu, tetapi kami yang tidak menerima sikap arogansi kamu di wilayah privasi kami." Tegas Zayin, dia memastikan saudara kembarnya ini paham keadaan yang sangat serius ini.


" Artinya kenapa kita mesti sayang kamu kalau kamu tidak sayang kita? Kalau kamu ingin kita sayangi, maka jadilah pribadi yang bisa kita toleransikan sikapnya!"


Aura tegas Zayin membuat Tia ciut," fikirkan itu."


" Kedua, untuk sementara, jika kamu masih bersikap memuakkan seperti sebelumnya, jauhi kak Ala! Ini peringatan, Tia!!" Seru Zayin penuh intimidasi.


" Saat ini konsentrasi kita hanya terfokus pada kak Ala, jadi drama apa pun yang sedang kamu mainkan sesuai arahan Sandra Atma Madina jangan ditunjukan di depan kak ala atau aku mengambil tindakan yang tak bisa kamu bayangkan sakitnya."


" Ini kita lakukan karena kita sayang kamu. Jangan buat Aa mengambil langkah menghancurkan Atma Madina karena untuk melindungi kamu."" Timpal Mumtaz tenang.


" Paham!?"


Tia hanya bisa mengangguk, Zayin menarik Tia yang sedang ketakutan ke dalam pelukannya, memeluknya erat.


Sedangkan Mumtaz kembali ke ruangan Zahra.


" Apa keadaan kak Ala sudah parah?" 


" Bukan masalah parah atau tidak, ini masalahnya kasih sayang yang hilang yang Kaka Ala rasakan. Dan kita akan mengembalikan itu."


" Maaf, Tia udah bikin kacau."


" Syukurlah kalau kamu sadar, sekarang perbaiki. Jangan mengharapkan cinta  dari seseorang yang menuntut kamu berubah menjadi seseorang yang tidak kamu inginkan, karena di sana tidak ada cinta yang tulus seperti yang kamu inginkan yang ada hanya manipulasi dan kebohongan belaka. Camkan itu!" Zayin menutup pembicaraannya dengan mencium kening Tia dalam dan penuh kasih.


Ketika suasana kembali santai, Ibnu menyadari sesuatu,


" Ngomong-ngomong sedang apa kamu di sini?"


Tia menepuk keningnya," lupa, aku tadi di suruh Kak Bara mengambil ponselnya."


" Ponsel? Ponsel Bara disita Afa. Dimana dia sekarang?"


" Di ruangan Cassy."


" Issh, tu orang lagi sakit juga masih aja modus, ayo kita kesana." rutuk Ibnu sambil menarik tangan Tia yang bingung.


Ibnu beranjak menuju ruang inap Cassandra, di sana dia melihat Bara sedang menggombali Cassandra.


Bola nata Ibnu memutar malas,


Pletak!!!


Jitakan keras menimpa kepala Bara.


" Aaawss, apa sih Lo Nu, kayak cewek cemburuan aja."


" Heh Malih, Lo di rumah sakit itu buat istirahat bukan buat ngegembel."


" Ngegombal, kak. Jangan mulai typonya." Peringat Tia, kakaknya yang satu ini suka membuat lelucon receh bukan pada tempatnya, sungguh membosankan.


" Nu, ini terapi gue. Apa Lo juga mau gue gombalin? Ngantri ya!!"


" Najis gue...Dhuha sana Dhuha. Gue aduin ke Mama ya kalau Lo gak Dhuha." Meski Aida sudah meninggal, tetapi perannya masih dirasa hidup, maka jika ada satu diantara mereka yang tidak bisa diatur, nama mama Aida masih menjadi senjata ampuh.


Bara berdecak walau tetap beranjak dari brankar Cassandra," tukang ngadu dan tukang perusak suasana Lo."


" Tunggu aku ya Beb, aku mau ngegombalin Allah dulu supaya ngasih aku doku lebih banyak buat nikahin kamu." Setelahnya Bara hilang dibalik pintu yang tertutup.


" Xixixi...geli gue kalau Kak Bara kayak gini." Celetuk Tia.


" Apalagi gue," timpal Cassandra


" Siapa yang menemani kamu, Cas." Ibnu tidak melihat satu orang pun di kamar ini.


" Itu si Tia."


" Kamu gak kuliah?" Ibnu menyadari seharusnya Tia kuliah.


" nanti siang, ini Ita sama Lia lagi dijalan kemari. Ita datang aku pergi."


" Lo gak ikut ke rumah?" Tanya Cassandra sembari membereskan barang-barangnya."


" Buat apa?"


" Hari ini gue pulang, di sana juga bakal ada Raja, Juan dan Ayin dan yang lainnya."


" Apa mereka gak bakal di amuk sama bokap Lo karena ngacak-ngacak rumah."


" Enggaklah, orang Papa yang ngundang."


" Tumben."


" Lo kenapa sih sensi banget sama papa?"


" Bukan sensi sayang, tapi bokap Lo kan memang galak."


" Bokap bukan galak ya.."


" Cuma..." Potong Tia.


" Sangar! Aarwwghh." Raung Cassandra mempraktekan gerakan seperti singa.


" Hahahaha..." Tawa mereka berdua kecuali Ibnu yang tidak berani menertawakan ucapan Cassandra karena dia tahu Damian dan Julia mendengarnya dibalik pintu yang terbuka sedikit.


" Bagus ya... Ngejelekin papa dibelakang." Sarkas Damian sambil melangkah masuk diikuti istrinya.


Cassandra dan Tia gelagapan, mereka melirik tajam Ibnu yang sedang menahan tawa.


" Mana ada,...eng..enggak ya."


" Itu siapa yang bilang papa galak, papa sangar."


" Siapa?...papa gak galak ya..."


" Cuma..." Pancing Damian.


" Sangar." Ceplos Cassandra yang langsung menutup mulutnya.


" Hahahaha si ege." Ledek Tia.


Ceklek!


" Yuhu... Ita cantik bawa makanan."


" Berisik Lo Ta." Sembur Cassandra


Dista terlonjak kaget," lagi pms Lo?."


" Bodo, ngambek gue." Cassandra berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut meninggalkan kegiatan beres-beresnya


" Alhamdulillah..berarti sandwich full beefnya buat gue." Mendengar makanan dari mulut Dista Cassandra membuka lagi selimutnya.


" Ish, kabar gembira buat Lo, gue pending marah gue." Ucapnya sembari melangkah ke meja yang sudah banyak makanan dan minuman yang dibawa Dista dan sisilia.


" Apa sih gaje banget. Ababil Lo." Semprot Dista.


Begitu Dista melihat Ibnu yang berjalan ke arah pintu," Kak, sekalian nitip pesanan dari kak Mumtaz buat kak Ala sama yang lainnya juga."Dista memberikan dua papperbag berisi makanan.


" Hmmm."




Sudah 10 menit Mumtaz duduk di kursi disamping brankar Zahra yang membaca buku. Sejak Mumtaz masuk tidak ada yang berbicara diantara mereka.



Mumtaz memberanikan diri  untuk memulai pembicaraan.



" Kak,...aku...minta maaf sudah Berani membentak Kakak. Aku tidak bermaksud lancang padamu." Ucapannya diakhiri dengan suara bergetar.



Zahra menaruh buku di atas pangkuannya, menatap sedih pada Mumtaz.



" Kakak yang harusnya meminta maaf sudah terlalu memaksa kalian untuk nurut sama kakak, seharusnya kakak paham mau sekeras apapun usaha kakak menggantikan peran Mama itu tidak akan bisa, karena kakak hanya kakak kamu."



Mumtaz menggelengkan kepala cepat," maaf!!! Maaf!!! Maaf!!!!..." Mohonnya tertunduk dalam.



Perlahan Zahra membawa kepala Mumtaz dalam dekapannya.


__ADS_1


" Kakak sayang kamu! Mungkin cara kakak salah, tapi kakak bertindak yang terbaik buat kalian."



" Aku yang minta maaf! lakukan apa yang rasa Kakak harus lakukan untuk kebaikan kami. Kini kamu orang tua kami." Serunya terendam dalam dekapan Zahra.



Mereka mengurai pelukan, Mumtaz berdiri lalu membawa Zahra ke dalam pelukannya.



" Bukan hanya aku yang butuh pelukan, tetapi Kakak juga." Diciumnya pucuk kepala Zahra dengan syahdu.



" Huhuhu...hiks...huhuhu..." Tangis Zahra lepas sambil membalas pelukannya dengan merangkul erat pinggang Mumtaz.



" Kakak bingung kepada siapa lagi kakak curhat, kakak bingung tidak ada lagi yang menegur kakak, kakak bingung tidak ada lagi yang menelpon kakak kalau terlambat pulang. Kakak bingung harus kepada siapa kakak mengadu kalau kakak marah, kakak kehilangan pegangan, kakak...MAMA... MAMA..." Bukan hanya Zahra yang menangis, tetapi juga Mumtaz. 



Sesungguhnya apa yang dirasakan Zahra Mumtaz l pun merasakannya.



" MAMA..." Panggil mereka bak anak kecil melepas segala emosi dalam satu kata itu. Emosi rindu, cinta, kebutuhan, sepi, semua emosi yang coba mereka luapkan.



Jeritan hati mereka terdengar sampai keluar dimana para sahabat duduk santai mengobrol, obrolan mereka terhenti begitu mendengar sayupan tangis dari ruang rawat Zahra, dan mendengar semua perkataan zahra,Tak ayal mereka pun menangis.



" Gue juga kangen mama Aida, beliau yang suka bela gue kalau kalian *bully* gue yang gagal gombalin kak Ala." Oceh Radit.



" Gue juga kangen. Beliau pelanggan pertama nasi uduk nyokap, mana kalau mesan banyak banget lagi bikin mata nyokpa gue berbinar." Timpal Rizal.



Disusul ucapan rindu dari para sahabat yang sering menginap di rumah Aida. Kecuali Daniel dan Ibnu yang terdiam dengan pikiran mereka.



" Kalau tidak ada Mama, mungkin gue udah mati bunuh diri." Ibnu mengingat luka hati yang hampir tidak sanggup ia tahan.



Perkataan Ibnu mengagetkan mereka semua, mereka bertanya luka apa yang pernah ditanggung Ibnu sampai segitu perihnya.



Tanpa mereka sadari Bara mendengar semua curahan hati mereka dibalik pintu dengan air mata yang masih meluruh.



Lantas ia ambil ponsel Daniel yang tergeletak di atas meja.



" Hallo." Sapanya begitu sambungan telpon diangkat.



" **Hallo, ada apa Niel**?" Jawab Alfaska diseberang saluran.



\* Ini Bara."



Terdiam untuk sesaat," **ooh, kenapa Bar**?"



" Lo harus jauhi Mami dari keluarga Tia."



" **Apa**?"



" Gue tahu tentang kak Ala, kalau kita ingin mereka baik-baik saja, kita harus jauhi Mami dari Tia dan keluarganya."



" **Ooh, itu. Tanpa Lo minta gue juga akan jauhi Mami dari mereka**."



" **Sekarang bagaimana kabar kak Ala**?"



" Sedang menangis sama Mumtaz."



" **Zayin**?"



" Dia lagi tidur di ruang tunggu.



" **Lo sendiri**?"



" *Overall* baik. Kenapa Lo sembunyikan kondisi Kak Ala dari gue?"



" **Bukan bermaksud begitu, cuma mental Lo aja masih gak** ***fine*** **jadi sebagai sepupu, gue pikir tunda aja kasih tahu Lo**."




" Mumtaz?



" **Males gue mikir tentang mental dia, mukanya terlalu datar. kita serahkan tentang Mumtaz kepada Ibnu**."



" Apa menurut Lo kita terlalu membebani mereka?"



" **Sudah terlambat untuk berpikir demikian, nyatanya menurut gue ini saatnya kita ada untuk mereka, seperti mereka ada untuk kita**."



" Daniel?"



" **Dia** ***fine***, **sepemikiran sama gue**."



" **Bar**..."



" Gue ceroboh ya minta bantuan RaHasiYa untuk kasus Cassandra?" Potong Bara.



" **Tidak, Mumtaz sendiri bilang tidak akan mundur dari kasus ini. Kita bicarakan ini lain kali. Lo hari ini ada konsultasi dengan prof. Ira**."



" Heh, baiklah. Meski gue males kalau ada Radit di sana."



" **Itu atas perintah kak Ala**."



Bara tertegun mengetahui fakta itu, ia mengusap wajahnya kasar.



Sembari menatap Zayin yang sedang tertidur, dengan suara bergetar Bara berucap,



" Sampai akhir kak Ala selalu tahu apa yang gue, kita butuhkan, huh!?" Isaknya.



" **Hmm. Lo bisa menebusnya dengan mentraktir kak Ala makan mahal. Gue yakin kak Ala dengan senang hati menguras isi dompet konglomerat Lo**."



Bara terkekeh," hehehe, pasti itu.dengan senang hati gue jabanin."



" **Kita semua!! Bersama bikin kak Ala sembuh. Gue tutup telponnya gue sibuk. Lo mah enak nganggur duit tetap turun**." Ucapan bernada kesal itu berhasil membuat Bara tergelak sedikit menghibur hatinya tahu Alfaska berada di posisinya sebelum dia sakit.



Ceklek!!!



Diambang pintu Ibnu berdiri mengamati Bara," kenapa?"



" Apa?"



" Lo ketawa terbahak gitu."



" Senang aja ngebayangin si Afa terjebak ditengah berkas kantor."



" Ooh, kirain gue Lo gila gegara banyak gaul sama si Cassy."



Dengan santai Bara melempar ponsel mahal Daniel, yang untungnya langsung ditangkap Ibnu dengan sigap. 



" Heh, hp orang ini."



" Makanya hp orang gue lempar, kalau hp gue sendiri ogah.



" Ck, mau ikut gak?"



" Kemana?"



" Ke ruangan kak Ala, makan besar kita."



" Maulah."


__ADS_1


" Ya udah ayok. Bangunin si Ayin."



" Hmm."



\*\*\*\*\*



" Pak Arya, saya pikir permintaan kamu berlebihan hanya untuk menyikapi skorsing yang didapati Mutia, memecat Zahra? *its* *nonsense*." Elena naik pitam.



Kini Gama, Elena dan Dominiaz bersama Arya berkumpul di cafe' D'lima membahas skorsing yang diterima oleh Mutia.



" Saya paham kalau kalian berkeberatan, makanya dalam permintaan saya tidak gratis. Kalau kalian menyetujui permintaan saya, saya beri setengah saham rumah sakit saya pada kalian." Arya menyodorkan map putih berkop rumah sakit Medika.



" Di dalamnya berisi pelimpahan saham saya, salah satu dari kalian hanya tinggal menandatanganinya saja." Seru Arya.



Elena sudah memasang wajah geram, Dominiaz merutuki lelaki di hadapannya ini dalam hati, sedangkan Gama menatap Arya tenang.



" Ar, saya pikir skandal plagiat penelitian Zahra yang melibatkan rumah sakit kamu bisa kamu sadari kalau Zahra bukan sosok biasa saja." Tutur Gama tenang.



" Ini demi putri saya."



Dominiaz yang sudah tidak bisa menahan diri lagi mencondongkan badannya ke depan.



" Ini konyol, dan penghinaan."



" Sudahlah! tidak perlu basa-basi lebih lama. Kami menolak permintaan kamu, Zahra, bagi kami itu putri kedua kami." Elena *to the point*.



Dominiaz menoleh ke arah mommy-nya, mengangkat kedua alisnya bertanya."



" Elena..."



" Tidak, terima kasih. Lebih baik kamu perbanyak luangkan waktu untuk memperbaiki *attitude* Mutia alih-alih menyogok kami." Sela Elena.



" Atau kamu pindahkan Mutia ke rumah sakit lain, saya sudah menerima proposal penyelidikan penerimaan Mutia Wibowo. Bara, Hito, Mumtaz, sudah menandatanganinya tinggal saya." Imbuh Gama.



Arya terhenyak, ia tak menyangka ini akan menjadi hal yang serius.



" Mengapa ini menjadi serius begitu, maksud saya bukankah hal biasa Jika dokter intership melakukan kesalahan?"



Gama menghela nafas dalam," Zahra, kakak dari Mumtaz, salah satu petinggi RaHasiYa. Kekasih dari Hito, seseorang yang sudah dianggap kakak oleh Bara. Sampai sini pasti anda paham putri anda sudah salah mencari lawan."



Arya tercengang, ia kecolongan. Mengapa anak buahnya tidak melaporkan hal penting demikian?.



" Karena saya masih menghormati kamu, pertemuan ini saya anggap tidak ada."



\*\*\*\*



Sudah tiga jam Sandra menunggu Aryan di lobby apartemen, seusai dari kantor Alfaska dia langsung kesini. Penampilannya elegan seperti biasa, namun bagi yang mengetahui tentang dirinya pasti tahu kalau wanita itu tidak baik-baik saja.



Dan itu yang terlihat di mata Aryan, ia merasa iba pada wanita yang sebentar lagi akan menyandang mantan istrinya.



Sudah sepuluh menit ia memandangi Sandra yang menekuri ponselnya seakan ingin menelpon seseorang, tetapi ia urungkan.



Diluar kuasannya, kakinya berjalan mendekati Sandra yang duduk di sofa ruang tunggu lobby.



Mungkin rasa rindu yang membawanya menghampiri Sandra.



Merasa ada yang mendekatinya Sandra yang semula menunduk mengangkat kepalanya, pandangan mata mereka bertemu, waktu bagai terhenti. Untuk waktu yang cukup lama mereka saling tatap mencoba menyampaikan segala rasa yang mereka punya.



Momen mereka dipotong dengan kehadiran wanita muda cantik berusia 30 tahun sembari membawa dua plastik yang berisi bahan-bahan masakan.



" Mas,..." Panggil wanita yang bernama Ratna itu.



Baik Aryan maupun Sandra menoleh padanya.



" Mas?" Keduanya menatap Ratna bertanya.



" Eh, Bu..bukan begitu..."



" Ratna bawa barang belanjaan, dan rapihkan. Sesudahnya kamu langsung ke kantor lagi." Titah Aryan dengan intonasi seorang atasan kepada bawahan.


 


Malu karena respon Aryan atas tindakan nekatnya, Ratna bergegas pergi dari sana.



" Kita bicara ditempat lain." Aryan meraih tangan Sandra dan menggenggamnya. Membawa pergi mereka dari gedung apartemen dimana dia tinggal.



Disinilah mereka sekarang, dia cafe' the Rainbow, cafe' eksklusif di seberang gedung apartemen.



" Pi,..Mas,..." Sandra bingung mau manggil Aryan apa, mengingat status mereka akan berubah tidak lama lagi.



" Panggil aja senyaman kamu."



" Hari ini Afa mengultimatum aku, dia memaksa aku bekerja untuk Atma Madina corp."



" Memang sudah seharusnya. Mungkin itu yang harus aku lakukan untukmu atas tragedi Afa, alih-alih membiarkan kamu membangun bisnis kamu sendiri." Renung Aryan menyesali keputusannya sepuluh tahun yang lalu.



" Pi, apa karena perempuan itu kamu..."



" Jangan mengalihkan isu, kamu tahu kenapa aku menggugat talak kamu." Potong Aryan tegas, tak membiarkan Sandra memojokkannya.



" Kenapa tidak kita rundingkan lagi?"



" Mediasi kita telah gagal, rumah tangga ini dijalankan dengan beda visi dan misinya, tak peduli berapa lama kita bertahan, nantinya akan kandas juga."



" Apa kamu tidak bisa merubahnya? Untuk kita, untuk Afa." 



" Kapan aku terkahir kali mengecewakanmu? Tanya Aryan berusaha menyadari Sandra.



Sandra terdiam otaknya membuka memori kebersamaan mereka. Dia menatap lurus manik Aryan yang ditatap balik oleh sang empu.



" Sejak menikahimu, kebahagiaanmu adalah prioritasku, bahkan melebihi kebahagiaanku sendiri. Hingga nyaris aku tak menolak apapun permintaan kamu. Mungkin itu kesalahanku hingga kamu menjadi seseorang yang tidak aku kenal."



" Menurutmu kapan terakhir kamu mengecewakan kami? Aku dan Afa?"



" Bahkan sampai detik ini kamu mengecewakan kami dengan mencoba merubah Tia sesuai obsesi kamu yang tidak Afa sukai, sehingga tanpa kamu sadari tindakan kamu akan merusak rumah tangga anakmu sendiri. Lagi, kamu menghancurkan Afa."



Aryan menjawab pertanyaannya sendiri saat melihat tak ada tanda Sandra akan menjawabnya.



" Apa aku seburuk itu?"



" Ketika bersama Afa kamu memikirkan butik, apa bersama butik kamu memikirkan Afa?"



Lagi, Sandra terdiam telak. Belum lama mereka bicara tetapi sudah beberapa kali ucapan Aryan membuatnya skakmat.



" Fikirkan olehmu, ketika kamu hidup tanpa butik-butikmu dan ketika kamu hidup tanpa aku atau Afa, mana yang lebih membuatmu menderita!?" 



Sandra tertunduk dalam, namun tatapan Aryan masih memandangi Sandra seakan ingin menyimpannya dalam memori otaknya.



" Sandra, aku mencintaimu, cintaku masih sama seperti 25 tahun lalu, saat aku pertama kali memandangmu, namun luka yang kamu torehkan untukku terlalu dalam hingga aku menyerah, maafkan aku!" Tukasnya, lalu Aryan menghampiri kursi Sandra di hadapannya.



Aryan membungkukkan tubuhnya cukup untuk mengecup kening Sandra dalam, meresapi segala kenangan yang pernah mereka ukir bersama baik sebelum menikah atau sesudah menikah.



Setelahnya, secara perlahan seakan enggan untuk mengakhirinya, Aryan mengusap lembut pipi Sandra yang tengah menangis memegangi tangan Aryan yang menangkup pipinya.



" Kamu baik-baik saja ya! Cintaku akan selalu bersamamu." Sesudahnya Aryan meninggalkan cafe' dengan Sandra yang masih terjebak dalam tangisnya diiringi rintikan hujan....

__ADS_1


__ADS_2