Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
221. Keputusan Zayin.


__ADS_3

" assalamualaikum." Zayin menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu setelah menghabiskan dua Minggu menghabiskan waktu menyelidiki pemboman di pesisir kepulauan seribu.


" Wa'alaikumsalam." Jawab Romli dari arah tangga dan langsung ke dapur begitu melihat Zayin terkapar di sofa.


" Mi, Ayin udah dari tadi pulang?" Tanya Mumtaz pada Romli, ia baru saja  pulang kuliah.


Setelah sekian lama tinggal bareng di rumah Mumtaz, mengganti panggilannya pada Romli menjadi Omi karena namanya yang sama dengan nama belakang keluarga besar Aida.


mereka merasa tidak patut memanggil nama Romli, tanpa embel penghormatan.


" Dari jam satu tadi, sekarang udah jam empat belum gerak sama sekali dia. Coba periksa dia tidur atau inalillahi." Ujar Romli yang sibuk menata masakannya di atas meja makan.


" Yin, bangun." Mumtaz menggoyang pundaknya.


" Ekhm. Jam berapa?" Tanya Zayin dengan suara seraknya,


" Empat."


Zayin terlonjak bangun," aish, aku harus jemput Ayu."


" Jam berapa?"


" Lima. Dia ada kskul."


" Biar Inu aja."


" Aa Inu dimana?"


"  Masih di kampus."


" Ya udah tolong telpon sana. Aku harus siap-siap rapat."


" Lo gimana sih, katanya jemput Ayu, tapi mau rapat." Omel Mumtaz.


" Rencananya dari jemput Ayu aku langsung rapat."


" Jam berapa?"


" Jam tujuh nanti." Teriaknya menaiki undakan tangga.


Saat membuka pintu kamar mandi, Zayin melihat Mumtaz yang duduk di ranjang.


" Ada apa, A?" Ia melempar handuk kecil yang digunakan mengusak rambut basahnya ke sandaran kursi kerjanya.


" Soal pengeboman itu."


Zayin melangkah ke lemari pakaian." Lo tahu sesuatu?" 


" Gak begitu, tapi pemboman itu tidak lama setelah Jarud memberi infomasi lokasi baru komplotan Navarro." Mumtaz melempar setumpuk kertas ke atas ranjang.


Zayin Mengenakan kaos hitam, dan celana jeans navy sebelum mengambil berkas itu.


" Tahu dari mana itu kompolotan Navarro?"


" Anggotanya yang di Banten yang membongkarnya setelah disiksa terlebih dahulu tentunya.


" Namun RaHasiYa dan anggota Lo terlambat mengeksekusi mereka sebelum bom itu diledakan."


" Gue pikir tadinya dia mau menargetkan Kalimantan, tapi sepertinya dia menargetkan Jakarta terlebih dahulu. Bagaimana pun Jakarta masih menjadi ibu kota."


" Ini lebih serius dari yang kita duga." Zayin melempar berkas itu ke atas meja kerjanya.


Ia memasukan beberapa pakaian ke dalam ranselnya, lalu menatap Mumtaz.


" Gue gak bisa menemukan jejak mereka."


" RaHasiYa sedang menginterogasi."


" Ck, kalian ini, bagi-bagi napa."


" Nanti Lo berantem lagi sama presid3n." Seloroh Mumtaz.


" Masa bodo. Kalau sekarang beliau ngomong gak penting, gue mau smackdown aja langsung. Kalau kemarin tentang anaknya, sekarang mantunya."


Mumtaz terkekeh, dimatanya saat  Zayin kesal dan misuh-misuh masih terlihat lucu karena wajahnya yang imut itu.


" Ini para pelakunya?" Zayin menunjuk bagian identitas beberapa foto terdiri dari orang khas Eropa dan Asia.


" Iya."


" Kok belum ada laporan detil."


" Masih ditangani oleh RaHasiYa."


" Thanks ya." Zayin memasukan laporan itu ke dalam ranselnya.


" Dan satu lagi, ini pelaku penyimpan GPS di pin presid3n." Zayin menyodorkan satu bundel berkas lagi pada Zayin.


Zayin melotot saat melihat pelakunya." Serius sih si tua bangka itu."


Mumtaz mengangguk." Lo balik gak malam ini?"


" Kurang tahu, gue langsung ke Tangerang kayaknya. Adel nitip bawain bonekanya."


Lagi, Mumtaz tertawa kecil." Kenap lo takluk sama si itik genit itu."


Zayin melirik Mumtaz malas." Males aja debat. Dia lebih cerewet dari kak Edel."


" Yin,"


" Hmm?" Sahut Zayin ditengah memasukan barangnya ke dalam ransel.


" Kayaknya gue akan langsung berhadapan dengan Navarro." Gerakan Zayin terhenti. Ia menatap Kakaknya intens begitupun Mumtaz.


" Tunggu sebentar lagi, gue masih sibuk."


" Gue bisa,.."


Zayin langsung menutup ranselnya.


" Gue tahu Lo bisa menghadapinya sendiri, bisa gak Lo dengerin omongan gue, gue ingin jadi berguna buat Lo." Ucap Zayin kesal.


" Gue yakin Lo sudah pelajari itu b4jingan sampai ke akarnya, tapi kita tahu dia licik. Meski dia sudah lemah, tapi dia tetap seorang tentara terlatih, dan hanya gue yang bisa baca mengenai itu."


" Yin, Lo gak bisa mempertaruhkan profesi Lo. Kalau mereka tahu Lo terlibat kasus ini, gue yakin Lo akan diselidiki oleh penyelidik militer.


" Dan gue gak peduli. Anjink lah." Zayin melempar barang yanga da di tas meja kerjanya.


"  Apa gue harus mengundurkan diri?" Bentak Zayin.


" Yin..."


 " Gue serius ini, bangs4t  Lo A. Gue muak dengan sikap sok melindungi Lo. Lo pikir gue masih bisa lanjut jadi tentara sementara gue gak bisa nolong Lo karena profesi gue?" Sentak zayin matanya sudah memerah, rahangnya mengeras.


Zayin menyebrangi ruangan berjalan ke arah Mumtaz, menarik kera kemeja kakaknya lalu melayangkan satu pvkvlan keras ke wajahnya.


Kemudian menarik kembali kerah kemejanya lebih dekat hingga wajah mumtaz tepat depan wajahnya hampir tiada jarak.


" Dengerin gue baik-baik. Lo sekarang bisa ngandelin gue, apa yang Lo tahu dari Navarro, gue tahu. Tapi ada satu hal tentang Navarro yang tidak Lo tahu, gue tahu. Jadi Lo harus sama gue saat menghadapi dia." Zayin melepas kerahnya dengan sedikit dorongan menghentak sampai Mumtaz terduduk di atas ranjang.


Kemudian kembali ke meja kerjanya, mencangkol ranselnya ke pundak.


" Kita bicarakan strategi menghadapi dia di Tangerang. Awas kalau gak datang." Zayin menunjukan kepalan tangan ke Mumtaz.


Saat dirinya membuka pintu kamar, sudah ada Alfaska dan Daniel yang berdiri cemas.


" Ngapain kalian di sini?" Tanya Zayin sinis.


" Kita mengkhawatirkan  Mumuy, Yin."  Ucap Daniel.


" Gak perlu, dia masih punya keluarga yang peduliin dirinya. Iya kan, A?"


Daniel dan Alfaska menengok ke dalam kamar dimana Mumtaz mengangguk.


Daniel menghela berat," Yin,..."


" Apapun yang mau Lo omongin, gue gak peduli. Gue cabut ada hal yang lebih penting ketimbang ngurusin Lo." Zayin berlalu menuruni tangga dengan cepat.


Alfaska dan Daniel masuk ke kamar, mereka melihat beberapa barang di lantai.


" Kalian berantem?" Tanya Alfaska, ia memungut satu persatu barang yang berserakan di lantai.


" Bukan hal penting." Mumtaz menyeka setitik darah diujung bibirnya.


" Kalian ada apa kemari?" Tanya Mumtaz melihat apa yang dilakukan kedua anak konglomerat itu.


Pertanyaan itu menyesakan dada Daniel, ia memegang kuat beberapa pulpen dalam genggamannya.


" Muy, Lo beneran gak nganggep gue lagi?" Tanya Daniel sendu.


Mumtaz diam, dia sungguh tidak mau membahasa hal yang bersifat emosinal dengan kedua sahabatnya ini.


Tidak mendapat respon dari Mumtaz atas pertanyaannya membuat Daniel hilang harapan untuk memperbaiki hubungan mereka.


" Muy, gue minta ..."


" Kalau gak ada hal penting yang mau kalian bahas, gue pergi." Mumtaz melewati keduanya tanpa menoleh sedikitpun saat keluar dari kamar.


Hal itu membuat Daniel tersayat hatinya, ia begitu merasakan sakit. Matanya memerah, genangan bulir bening di pelupuk matanya menandakan besarnya pengaruh Mumtaz atas dirinya, dan dia sudah terlambat saat menyadari itu.


Alfaska mendekatinya, memeluknya agar kesakitan sahabatnya itu terurai pada dirinya.


" Fa, ternyata rasanya sesakit ini, pasti rasa ini yang dia rasakan waktu kita egois. Bagaimana dia tahan menampung  rasa sakit ini setelah kita berulang kali menyakitinya." Tanya Daniel dengan suara tercekat.


Alfaska menepuk-nepuk punggung Daniel yang meremas kain baju bagian belakang Alfaska 


Tidak ada kata-kata yang bisa Alfaska ucapkan untuk menghibur, karena sampai kini dia pun masih merasa bersalah pada keluarga istrinya.


Saat mata Alfaska menangkap foto Aida dalam bingkai kecil di rak buku Zayin, rasa sesak kembali menyapanya kala teringat perkataan Ibnu di rumah Ernest, selalu seperti itu.


 Pelukannya pada Daniel semakin mengerat, airmatanya luruh seiring rasa bersalah itu kian membumbung tinggi.


Mumtaz yang berdiri di luar kamar Zayin menarik nafas mendengar perkataan Daniel dalam tangisannya. Ia pun merasakan sakit di dadanya, tapi Mumtaz sadar, perasaan melankolis di hatinya untuk para sahabatnya harus dikurangi, kini saatnya dia memfokuskan diri pada keluarganya.


Mumtaz terus menunduk dalam kesedihannya tanpa menyadari kehadiran Ibnu di undakan terakhir tangga yang memperhatikan wajah sendunya dengan tatapan sedih.



Romli yang sedang mengetik jurnal Zahra ditemani beberapa anak RaHasiYa yang mengupas buah di ruang makan melihat sekilas Zayin memasuki ruang makan menaruh ransel di kursi kepala.



" Lo mau pergi lagi?"



" Hmm, gua makan duluan ya." Zayin manarik kursi di sampingnya ransel.



" Makan aja. Udah siap ini."



Zayin mengambil perkedel, tempe, ditambah sayur sop ayam bersama sambel



" Yin, pakaian Lo yang di ransel di ruang tamu kotor semua?"



" Iya, tolong kasih ke tukang laundry ya."



" Udah gue rendam setengahnya."



Zayin menaruh sendoknya ke piring dengan sedikit keras memandang Romli tidak senang.


__ADS_1


" Lo masak, bersihin rumah, belanja, sekarang Lo juga nyuci? Di sini Lo bukan pembantu."



" Gue gak ngerasa begitu, gue hanya tidak ingin merasa hutang budi."



" Ck, untung gue lagi sibuk, kalau enggak, Lo bonyok di tangan gue. Hutang budi apaan, gak ada itungan moral di sini." Ucap Zayin tegas sedikit meninggikan nada suaranya



Romli seketika ketakutan, " Yin, *sorry* gue salah ucap. Maksud gue supaya gue gak malu aja sama kalian."



" Terserah, kalau Lo mau berperan sebagai ibu rumah tangga, sekalian tolong siapin bekal makan buat gue " Zayin meneruskan makannya.



" Emang mereka gak ngasih Lo makan?" Romli beranjak ke rak perkakas mengambil kotak makan.



Zayin menggeleng." Nanti mah gue minta duit konsumsi ke presid3n." anak RaHasiYa terkikik geli mendengarnya.



" Pake sayur gak?" Tanya Romli sambil memasukan beberapa potong buah dalam wadah terpisah.



" Gak usah, ribet. Ujungnya dimakan di plastiknya kayak cabe-cabean makan siomay."



" Ini." Romli menaruh bekal Zayin di samping piringnya yang sudah kosong.



" Makasih." Zayin mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu, dan menaruhnya di meja.



" Ini kalian pake buat ngopi, jangan lengah mengawasi sekitar."



" Siap, thank." Ujar si kriting.



" Gue pergi dulu." Zayin mengambil ranselnya.



" Oh iya, ini titipan kak Ala." Zayin menyodorkan amplop putih panjang yang dipastikan berisi tebal pada Romli.



Romli hanya memandangi amplop tersebut, sejatinya dia malu untuk menerima honornya. Selama tinggal di rumah Mumtaz, keluarga ini sekalipun tidak pernah memperbolehkannya atau yang lain mengeluarkan uang untuk  makan orang banyak yang berada di rumah.



" Jangan banyak mikir, ini jeripayah Lo." Zayin menepuk pundak Romli lalu berlalu meninggalkan Romli dengan segudang  pemikirannya.



" Terim aja bang, daripada dia marah." Sahut temannya.



Romli mengambil uang tersebut, lalu mengirim pesan untuk ayahnya kalau operasi ibunya bisa dilaksanakan.



\*\*\*\*\*\*



Ayunda ragu melangkah maju saat melihat Ibnu yang sibuk dengan ponselnya duduk menunggu di atas motor NMAX-nya di depan gerbang sekolah.



Banyak pasang mata memperhatikannya yang namun ia abai. Ibnu merasakan perhatian intens dari seseorang ia pun mengangkat wajahnya dari ponsel.



Dirinya tersenyum  kala melihat gadis kesayangannya." Yu, ayok pulang."



" Aa Ayin mana?" Ayunda memutuskan untuk menghampiri Ibnu.



" Di rumah. Ketiduran katanya, dia kan baru pulang."



" Gimana sih katanya mau jemput Ayu." Ucap Ayunda cemberut.



Ibnu  menghela nafas, " Kamu ini pacarnya aku, minta ke aku buat anter jemput."



" Tapi kan hubungan Aa sama Abang lagi gak akur." 



" Itu kan aku sama bang Aniel, gak ngaruh aku ke kamu."




" Aku gak diemin abang. Cuma memang keadaannya gak memungkinkan sering berkomunikasi."



Ayunda menunduk, Ibnu mengangkat dagunya menggiring Ayunda untuk menatapnya.



" Jangan mengkhawatirkan hubungan kami."



" Aku benci wanita itu." Sungut Ayunda.



" Sama, aku akan kasih kamu rahasia, tapi janji  kamu tidak menghindari aku lagi. Pacar kamu itu aku, bukan Aa Ayin."



Ayunda mengangguk bersemangat." Apa?"



" Janji dulu." Ibnu mengacungkan kelingkingnya.



" Iya." Ayunda menautkan kelingkingnya pada kelingking Ayunda.



" Sini aku bisikin."



" Apa sih, bilang aja langsung, jangan modus." Sungut Ayunda.



" Mau tahu enggak." 



" Apa?" Ayunda memiringkan wajahnya sedikit mencondongkan diri.



Ibnu mengulum senyum, ia menyelipkan rambut ke balik telinga Ayunda.



" Kami baik-baik saja." bisiknya.



Cup.



Terdengar pekikan iri dari para siswa lain, mata Ayunda membulat besar, ia memegang pipinya yang  dikecvp Ibnu. Ibnu tersenyum geli melihat reaksi Ayunda dengan tatapan hangat.



Ia memasangkan helm pada Ayunda.



Tingkah mesra Ibnu itu terlihat oleh seseorang yang menggeram marah, tangannya mengepal erat.



" Ayok naik." Ibnu mengulurkan tangannya.



Plak..



Bukannya menyambut uluran tangan ibnu, Ayunda malah menggeplak lengannya.



Ibnu terkekeh, ia menarik lembut tangan Ayunda, menahannya kala Ayunda menaiki motornya.



" Ibnu..." panggil Mela berlari kecil ke arah mereka dengan senyum tersungging di wajahnya meski tidak mendapat balasan dari Ibnu yang sibuk membantu Ayunda naik motor.



" Nu, mau pulang?"  Tanya Mela masih berusaha mengambil perhatian Ibnu.



" Jemput Ayu. Ini mau langsung pulang atau mampir dulu ke suatu tempat?"  Tanya Ibnu sebelum mengenakan helmnya.



" Mampir dulu ke kedai es cream ya." Ayunda sengaja melingkarkan tangannya ke pinggang Ibnu.



" Okay. Pegangan yang erat." Ibnu menarik tangan Ayunda agar lebih memeluknya.

__ADS_1



" Mari Bu, kami mau kencan dulu." Ucap Ayunda mengedipkan mata. Sementara Ibnu tersenyum dibalik helm full facenya.



Jam setengah tujuh malam Ibnu baru pulang setelah mengantar Ayunda pulang.



" Mi, Mumuy dimana?" Tanya Ibnu ke Romli yang duduk bersama yang lain.



" Di kamar dah kayaknya. Tadi Daniel sama Alfa juga nyari dia."



Setelah mendengar ucapan Romli Ibnu bergegas berlari ke atas, diundang tangga terakhir langkahnya terhenti saat melihat Mumtaz menangis. Tidak bersuara, tapi lelehan airmata yang mengucur membasahi wajahnya menggambarkan rasa sakit yang dia rasa.



Ibnu kembali turun, mengabaikan seruan Romli dan tatapan bertanya dari anak RaHasiYa, sepanjang jalan menuju parkiran motornya ia mengambil ponselnya dari saku celana ia menelpon Dewa, Rio, dan zayin.



\*\*\*\*



" Maaf, terlambat." Zayin bersama tiga rekannya memasuki ruang rapat di ist4na neg4ra.



Mereka yang hadir di ruang rapat dengan formasi yang sama dengan rapat di markas pasukan elit AL menatap Zayin yang berpakaian kasual, berbanding jauh dengan yang lain yang berpakaian formal.



" Baru kali ini ada yang terlambat saat rapat dengan pemimpin negara." Sindir sekretaris.



" Sibuk, kalau kalian terlambat itu keterlaluan, kalian kan tinggal nerima laporan, kami sibuk di lapangan." Ucap Zayin tidak sungkan.



Para  audiens menatap bertanya panglima dan KASAL, mereka hanya mengedikan bahu tidak tahu. 



 Sekretaris hendak membalas, namun perkataan Zayin membungkamnya." Sudahi adu omong gak pentingnya. Saya punya berita yang terkini."



" Jendral, setelah ini kalau saya tidak naik pangkat terlalu sih " seloroh Zayin membagikan laporan hasil penyelidikan lapangan.



" Semoga isi kertasnya mengejutkan." Balas panglima.



" Baca aja, banyak kejutan."



Setengah jam ruang rapat hening karena para peserta membaca hasil laporan, sementara Zayin memakan cemilan yang menjadi hidangan rapat tanpa ragu.



  Para peserta rapat yang sudah terbiasa dengan sikap absurd tentara satu ini hanya membiarkan saja.



" Saat ini para pelaku belum bisa dievakuasi ke Jakarta, tapi kalau kalian mau mempublish identitas mereka ke masyarakat silakan." Dalih Zayin karena sampai sejauh ini, RaHasiYa masih enggan menyerahkan para pelaku ke tangan TNI-Polri.



" Kenapa?" Tanya presid3n.



" Kita mengubah strategi, sang pimpinan mereka belum tahu anak buahnya tertangkp. kami berpikir membiarkan dia merasa menang itu lebih baik, biasanya orang yang sudah di atas kemenangan akan lengah."



" Kamu yakin mereka di tempat yang ketat penjaganya?" Tanya sekret4ris.



" Jiah dia menyepelekan kita. Pak KSAL, gimana nih anak buahnya diremehin sama orang yang kerjanya dibalik meja?" Meski terkesan diucapkan bercanda, tapi siapapun dapat merasakan ada nada sinis dalam perkataan Zayin.



" Saya hanya ingin memastikan kalau negara kita aman." Lanjut sekretaris.



"  Anda seperti guru kelas satu SD yang mengajarkan matematika pada Sarjana matematika." Sarkas Zayin tersenyum miring.



" Pak panglima, tolong kasih paham pada beliau apa yang disebut misi rahasia. Tapi sudahlah jangan dibahas lanjut, belum tentu dia paham." Zayin mengabaikan sikap sok ngebossy sekretaris neg4ra.



Sang sekretaris dibuat geram, ia hendak menghardik, tetapi presid3n memberi kode diam, maka ia pun mengurungkannya.



" Selanjutnya, adalah pelaku penyimpan GPS di pin presid3n." Seru Zayin kembali membagikan laporannya.



 Seketika ruangan kembali hening, Zayin sibuk dengan ritual makan cemilannya. Sampai presid3n menggeser piring bagiannya yang masih penuh ke hadapan Zayin.



Semua yang hadir terkejut. Mereka tidak menyangka Toni nekat melakukan hal yang beresiko tinggi dan berakibat fatal bagi kehidupannya.



" Toni bekerjasama sama dengan Navarro ingin mengetahui posisi pak RI 1 agar mengetahui sampai sejauh mana kalian mengetahui pergerakan mereka.



" Itulah mengapa kami tidak pernah memberitahu secara detil tentang kasus ini. Pak sekretaris, selalu ada resiko pengkhianat diantara kita." Tekan Zayin.



" Sebenarnya dimana dia berada?" Tanya Menkopolhukam.



Mereka menatap Arif, " sampai sekarang kita belum bisa menemukannya." jawabnya menyesal.



 " Yang buron itu, apa satu pun belum terdeteksi?" Arif menggeleng.



" Apa RaHasiYa tidak mengatakan apapun?" Tanya menteri pertahanan pada Zayin.



" Saya memang adik mereka, tapi tidak serta merta mereka akan membocorkan kinerja mereka pada saya. Kita profesional saja.



" Kenapa kalian tidak minta bantuan mereka?"



" Dengan kemampuan mereka, seharusnya mereka sadar negara kita dalam bahaya."



" Anda pejabat langsung yang mengurusi negeri ini, dulu partai anda menggaungkan pemberantasan korupsi, kenapa sampai sekarang korupsi belum juga tuntas, bahkan semakin menjadi." Sindir balik Zayin.



" Ini tugas kita, kenapa mereka yang disalahkan, kalau anda tidak sanggup menghadapi masalah ini, mundur dari jabatan anda. Negeri ini tidak butuh pejabat berjiwa julid dan kerdil macam anda, hanya merepotkan dan menghabiskan anggaran negara saja." 



Semua orang terdiam, bisa mereka lihat loyalitas Zayin pada keyakinannya.



" Bisa lanjutkan rapat ini?" Sela presid3n.



 " Silakan, kalau ada pertanyaan yang bersifat mencari solusi saya jawab, tapi diluar itu, mari kita abaikan." Zayin kembali duduk dan menarik piring pemberian presid3n.



" Kamu lapar?" Tanya Menkopolhukam melihat Zayin sudah menghabiskan hampir seluruh cemilan di piring-piring di atas meja.



" Memang kapan kalian memberi kami makan?" Sarkas Zayin.



" Setiap habis rapat, kami langsung menjalan tugas yang lain, sementara kalian mungkin dijamu ke ruang makan."



Presiden yang merasa tersinggung, hanya diam, sementara KASAL, panglim4 tersenyum kecil.



" *Mengusik macan lapar, ya terima nasib dijulidi*." Bathin panglima.



Kini Zayin bersama panglima dan KSAL berada di ruang kerja panglima membahas lebih lanjut penemuan di lapangan soal pengeboman.


" Jadi, dengan kata lain RaHasiYa menjadikan urusan Navarro mejadi urusan pribadi mereka?" Tanya panglim4 soal investigasi pelaku oleh RaHasiYa.


Zayin mengangguk pelan, matanya kosong, dirinya tengah Terpaku pada kejadian 10 tahun lalu.


Menyadari tatapan kosong tentara andalan mereka, KASAL dan panglima saling lihat.


" Yin, ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya KASAL.


Zayin menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya," mungkin saya harus mengundurkan diri dari kesatuan."


Mereka terkejut, pasalnya mereka tidak meragukan kecintaan dan loyalitas Zayin pada TNI, bahkan dia terkadang selalu membanggakan diri menjadi seorang tentara, karena ini cita-cita ibunya.


" Kenapa?" tanya KASAL


" Petinggi RaHasiYa sudah memutuskan Navarro harus ma-ti ditangan mereka, dan saya ingin menjadi satu diantara mereka."


" Yin..." tegur panglima.


Mata Zayin berair, " Saya ada di sana, saat kebakaran itu, saya di sana." Ucapnya pelan sarat penderitaan.


" Saya melihat kakak saya terluka, saya melihat trauma yang dialami mereka, saya melihat mereka menderita, seumur hidupnya selalu melindungi saya, seumur hidupnya menekan emosinya, saya sudah tidak bisa lagi bersikap egois hanya memikirkan kesatuan. Kini saatnya saya bertindak sebagai adik." Setengah mati Zayin menahan airmata yang siap jatuh.


" Saya memutuskan sebagai eksekutor kema-tian Navarro, untuk itu, saya harus melepaskan lencana saya."

__ADS_1


Ada sorot keraguan di manik coklat Zayin saat mengatakan itu, tetapi para atasannya memahami niat baik bawahannya...


__ADS_2