Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
160. Mengumpulkan Puzzle Masa Lalu


__ADS_3

Selepas Zayin dan Adgar pergi, para ayah menyuruh para anak untuk tidur, klan Hartadraja Pradapta, dan Birawa yang enggan meninggalkan para anak yang bathinnya tidak stabil menyewa kamar sebagai tempat istirahat.


Ditengah lelapnya manusia yang tertidur di alas seadanya di ruang inap Ibnu, hanya Mumtaz yang masih terjaga duduk di samping Ibnu yang masih meracau karena kegelisahannya yang sangat mengganggu pertahanan kewarasan Mumtaz melihat sahabatnya menderita sendiri.


" Bapak....ibu....tidaakk..." rintih Ibnu, Tangan Mumtaz menggenggam tangan Ibnu lalu menempelkan di keningnya menyesali keadaan ini, genangan air mata menetes ke atas seprei putih itu.


" Maaf,...maafin gue...maaf...tidak bisa menyelamatkan mereka." Paraunya pilu.


Rintihan Mumtaz bagai sembilu yang mengiris hati para sahabatnya yang mendengar suara sesal itu, meski mata mereka terpejam, sejatinya mereka tidak benar-benar tertidur.


Mata yang biasa memancarkan ketenangan bagi para sahabatnya kini meredup, bahkan kosong tanpa penghidupan, waktu bagai terhenti.


" Mumtaz... Mumtaz..." Pekik Ibnu, tiba-tiba matanya terbuka lebar bagai orang terkejut


" Mumtaz..."lirihnya pelan.


" Shuusshh, gue di sini. Di samping Lo " bisik Mumtaz menenangkan.


Ibnu menoleh ke samping kanannya, menatap sendu wajah Mumtaz yang sama menderita dengannya.


Hati Mumtaz terenyuh pilu melihat penderitaan dari manik hitam Ibnu, sungguh itu akan membunuh jiwanya.


" Muy," Mumtaz terkejut dengan ulah Ibnu yang mendadak duduk, lalu mencabut jarum infusnya. Dengan gerakan agresif dia turun lalu dengan tergesa-gesa membuka kemeja Mumtaz yang ditolak oleh sang empunya.


" Nu, Lo kenapa?" tolak Mumtaz menjauhkan diri dari Ibnu.


Ibnu tidak menjawab, dia malah meraih kembali kemeja flanel biru navy itu.


" Nu..."


Tidak ada jawaban.


" IBNU ABDILLAH." Bentak Mumtaz menghempaskan tangan Ibnu yang terus menyentuhnya.


Para sahabat tidak bisa lagi berpura-pura, mereka pun duduk tegak di tempatnya masing-masing menatap sendu dua orang terdekat itu, mereka terkaget melihat Ibnu berlutut di depan Mumtaz yang berdiri dengan tubuh tegak menegang dengan rahang mengeras dan tatapan tajamnya.


" Muy, gue harus lihat badan lo." Ucapnya terseret-seret.


Pandangan mereka saling beradu, seketika tubuh Mumtaz terlihat kaku saat dia menyadari Ibnu mengetahui apa yang selama ini terlupakan olehnya, lalu pundsk itu menurun pasrah.


" Muy, please biarin gue lihat Lo." Tatapan memelas dari mata Ibnu mengusik sanubarinya, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


Para sahabat hanya melihat, tidak ada satupun dari mereka untuk melerai.


" Untuk apa?"


" Gue hanya ingin memastikan sesuatu yang gue harap tidak terjadi."


" Kalau itu terjadi?" Tanya Mumtaz.


" Muy, please...gue akan terus menderita...gue tak bisa lagi terus dalam keadaan seperti ini, ini melelahkan." Mohonnya dengan tangan bersimpuh.


Mata mereka tidak lepas pandangan dari satu sama lain, tidak ingin penderitaan dari netra Ibnu berlarut Mumtaz melepas kemejanya yang dibaliknya masih berbalut kaos warna hitam.


Dengan tidak sabar Ibnu mengangkat kaos tersebut sampai dada, menelisik bagian dari dada sampai pinggang, lalu memutarnya baru setengah selangkah, tangan Mumtaz menghentikannya.


" Jangan,...please...jangan..." Suara berat dan serak menandakan hati Mumtaz diambang pertahanan kemampuan menampung segala bebannya selama ini.


Ibnu tidak tega melihat itu, tapi dia tahu, ini harus diakhiri atau mereka berdua lebih larut dalam kesakitan bathin ini. Ibnu kembali memohon, kembali Mumtaz pasrah yang kali ini terkesan kalah.


Ketika Ibnu melangkah dua langkah ke belakang, melihat bagian punggung Mumtaz terus ke pinggang, langkahnya mundur beberapa langkah, tubuhnya oleng, matanya terpejam erat begitupun dengan Mumtaz ia merutuki hari itu, hari dimana luka ini lahir.


Para sahabat menahan nafas kala melihat luka itu, terjawab sudah mengapa selama ini Mumtaz tidak pernah bertelanjang dada, meski untuk sekedar berenang.


Di sana, di bagian pinggang belakang terdapat Jejak tusukan benda tajam yang lumayan besar membekas dengan jelas. Tangan gemetar Ibnu menyentuhnya perlahan dan lambat meresapi kulit bertekstur jelek itu.


Tangan Mumtaz yang terjatuh di samping mengepal kuat.


" Jadi semua itu benar? Kejadian hari itu benar adanya?" Rintihnya memegang dadanya yang mendadak sesak.


" Mereka membunuh bapak dan ibu tidak dengan mudah." Ucapnya pelan


" Kenap gue gak ingat, kenapa di otak gue gak ada peristiwa itu? Kemana? ada apa saat hari itu?" Parau Ibnu terdengar putus asa.


Mumtaz memutar tubuhnya lalu memeluk Ibnu erat.


" Lupakan." Bisiknya ditelinga Mumtaz.


Ibnu mendorong Mumtaz menjauh," Bagaimana gue bisa melupakan yang gak gue ingat, tetapi setiap memasuki bulan Maret tubuh gue gemetar ketakutan dengan sendirinya." Teriak Ibnu frustasi, dia menjambak rambutnya kuat-kuat.


Khadafi yang terkejut kakaknya berteriak histeris duduk memeluk lutut di pojok kamar sambil menangis.


Teriakan itu membangunkan semuanya yang langsung berlari ke arah kamar itu.


Teddy menarik Khadafi kedalam pelukannya, mengecup pucuk Kepalanya, mengusap punggungnya menenangkan


" Shuusshh, semuanya baik-baik saja, ada Ayah." Ujar Teddy menenangkan.


Khadafi menggeleng, " Aa Ayin, tolong panggilkan Aa Ayin, hiks..."


Heru tanpa kentara keluar dari ruangan untuk menelpon Hito agar membawa Zahra dan Zayin kembali.


" Gue stres, gue gak tahu apa yang membuat gue takut, tapi tubuh ini selalu gemetar tidak karuan, Muy. Tolong bantu gue mengingat ada apa di hari itu?" Suara meracau frustrasi itu menyakiti hati Mumtaz.


" Lo ingin tahu ada apa di hari itu?" Ibnu mengangguk cepat, bukannya angkat bicara, Mumtaz malah menatap Ibnu dengan tatapan sangat bersalah.


" Muy, jangan diam aja, bicara, ada apa di hari itu?"


" Hari itu bapak dan ibu meninggal" jawab gamang Khadafi, dia sudah tidak kuat terus melihat kakaknya seperti orang tidak waras.


" KHADAFI." Mumtaz menatap nyalang Khadafi yang mengkerut dalam pelukan Teddy.


Semuanya tersentak terkejut, di wajah Mumtaz tidak ada ketenangan sama sekali, Riak wajah mereka memucat suasana hening mencekam.


Kelebatan bayang teriakan, dorongan, tawa, tangisan, kobaran api, darah segar yang mengalir. silih berganti bagai kilasan gambar yang difoto dalam kamera.


Ibnu menggeleng, ia memegang kepalanya yang sakit karena potongan adegan bagai spoiler drama yang terus berputar di kepalanya.


" Tidak...tidak...bapak meninggal karena perampokan, Itu yang Lo bilang sama gue, Muy." Ibnu berjalan tanpa arah memutar ruangan menolak pemahaman baru dari kesimpulan yang menakutkan itu


" Hiks...hiks...A...sudah...semuanya sudah berlalu." Lirih Khadafi.


Tidak menggubris ucapan adiknya Ibnu meremas kaos bagian leher Mumtaz." Katakan kapan dan bagaimana orang tua gue meninggal."


Mumtaz bergeming, dia menunduk dalam dengan menangis tanpa suara, para sahabat ingin merengkuhnya, tapi belum bisa.


Punggung Mumtaz terlihat lelah, capek, lalu menyerah terhadap takdir.


Mata para sahabat berkaca-kaca, Mumtaz yang biasanya paling tegap diantara mereka, kini kuyu, ia menyerah.


" Katakan bagaimana Lo dapat luka itu?" Ibnu menghentak-hentakkan tubuh Mumtaz bagai tidak bertulang.


" MUHAMMAD MUMTAZUL YUSUF, KATAKAN!!"


Mumtaz menjauhkan tangan Ibnu dari kaosnya, dia berlutut, tangannya mengambil sesuatu dari selipan sepatunya, yang ternyata berupa pisau lipat, membukanya dan menyodorkannya kepada Ibnu, menatapnya tegas dengan raut tidak berekspresi.


Sontak para sahabat beranjak mendekat, berdiri mengelilingi mereka.


" Bvnvh aku, aku yang membvnvh mereka."


" Bukan, aku tahu bukan kamu."


Mumtaz tersenyum smirk," kamu melupakan kejadian itu, sedangkan aku ingat setiap detilnya."

__ADS_1


Ibnu mengerang," Muy,..."


"Karena aku mereka meninggal." Teriak Mumtaz.


Ibnu menggeleng, memukul-mukul kepalanya menolak pernyataan sahabatnya. Dia pun kesal dengan dirinya sendiri yang melupakan kejadian hari itu.


Bara menghentikannya dengan memegang kedua tangan Ibnu, bahkan lengannya terkena sayatan pisau lipat yang dipegang Ibnu, para wanita menjerit tertahan melihat darah di lengan Bara yang Bara sendiri tidak menyadarinya.


" Kamu bohong." Hardik Ibnu.


Mumtaz menggeleng," kalau ini bisa membebaskan kamu dari penderitaan kamu, bvnuh aku. Semuanya salah aku hingga mereka bisa membvnvh orang tua kamu."


" Nyawa dibayar nyawa, itu sumpah kita."


" Tapi itu untuk pembvn.vhnya." Sambung Ibnu.


" Ini untuk derita Lo, percayalah aku penyebab kalian berdua menjadi yatim-piatu." Suara bergetar Mumtaz mengiris hati yang mendengarnya.


" Bukan, bukan Aa Mumuy, A...bukan." cegah Khadafi cepat."


" KHADAFI, DIAMLAH! Bentak Mumtaz.


" Bagaimana orang cedera bisa membvnvh, mereka yang mengh4bisi ibu dan bapak, yang nusuk Aa mumuy juga mereka." ungkap Khadafi


" Kau tahu apa yang terjadi saat itu?"


" Iya aku thau, Aa Mumuy yang menyelamatkan Aa." Ungkap Khadafi pilu, wajahnya memucat.


Mumtaz, dan Ibnu tersentak dengan kenyataan itu.


Brak...


Zahra dan Zayin beserta Hito dan Adgar yang berdiri paling belakang diambang pintu.


" Inu,..." Suara lembut Zahra membawa Ibnu ke alam masa kini.


Melangkah pelan menuju Ibnu Zahra memegang tangannya lembut, lalu secara perlahan menarik pisau dari tangannya, lalu melemparnya ke sembarang tempat yang diamankan oleh Damar, kemudian memeluknya erat.


Pelukan yang sama saat dia terpuruk untuk pertama kalinya selepas memakamkan ayah dan ibunya.


Pelukan hangat yang mengobati rasa sakit hatinya sepeninggal mereka, pelukan yang bagai oase di Padang gersang jiwanya


" Kakak..." Rintihnya menangis keras membalas memeluk Zahra erat, ia merindukan ibunya.


Hito sebenarnya enggan menerima zahra dipeluk oleh lelaki lain bukan mahramnya, tetapi ikatan diantara keduanya jauh dari romantis, dan ia harus memafhuminya


" Kakak, apa benar Mumtaz membvnvh mereka?" Zahra melirik Mumtaz yang matanya memerah, Zahra menggeleng.


" Bukan, bukan Mumuy, tapi mereka yang jahat." Jawab dingin Zahra.


" Kakak, bagaimana bapak dan ibu meninggal?"


Tangis Mumtaz semakin lirih kepalanya tertunduk dalam." Maaf!!...Maaf!!! Maaf!!!"


Bara yang melihat Mumtaz mendekapnya menawarkan dukungan padanya, kini dia yang ahrus kuat.


" Aku salah, aku kalah...aku gak bisa menepati janji untuk menjaganya, Bar." 


" Aku salaaahhh..." Racaunya meraung ingin melepas sesak hati yang selama ini diendapnya.


Racauan pilu Mumtaz menghadirkan kesadaran Ibnu akan luka yang ternyata dirasa oleh sahabatnya atas penderitaan dia. Matanya menatap nanar Mumtaz.


Lambat laun kesadaran Mumtaz melemah, kemudian hilang dalam pelukan Bara.


" Muy, Muy... Bangun..Muy...jangan begini...please bangun." Bujuk Bara ketakutan.


" AA..." Jerit Khadafi bagai anak kecil, dia tidak ingin kehilangan pelindung hidupnya.


Akbar membantu Bara menggendong Mumtaz ke atas brankar.


Zayin mengambil alih Khadafi dari Teddy.


Alfaska tertegun di tempat tidak mampu bergerak, dia terlalu syok, Daniel menepuk pundaknya pelan menenangkan.


" Dia tidak apa-apa dia terkuat diantara kita." bisiknya.


" Saat ini kekuatan itu tidak terlihat." gumam Alfaska sendu, bikin bening sudah membasahi pipinya, dia takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya.


Daniel bungkam tidak bisa menjawab. dirinya pun sama kalutnya.


Sisilia dan Tia sudah menangis, Dominiaz memeluk erat adiknya, sedangkan Dista dan Cassandra memeluk Tia menguatkan.


Dengan panik, dan khawatir, Ibnu mendekati brankar, secepat kilat dokter jaga dan perawat memasuki ruangan.


" Maaf, kami periksa pasien dulu."


" Periksa saja, saya tidak akan pergi kemana-mana." jawab Ibnu keras kepala.


" Nu, sini sama kakak, kamu ingin tahu yang sebenarnya bukan?" bujuk Zahra, Ibnu mengangguk.


" Tapi Mumuy..." Paraunya.


" Ada dokter."


Sebelum menarik Ibnu keluar, Zahra meminta izin kepada para orang tua yang tentu saja diizinkan.


Diikuti Hito, dan anak Gaunzaga, dan para sahabat Zahra meninggalkan ruangan.


*****


Di taman kota yang sepi pengunjung, namun mulai ramai pedagang kaki lima, karena menjelang fajar mereka duduk di bangku taman terdekat


Daniel menyampirkan jaket menyelimuti tubuh Ibnu yang hanya berbalut pakaian rumah sakit yang tipis.


" Pakai, Lo sakit, kita yang susah." Tekanan tangannya di pundak Ibnu saat Ibnu hendak menolak."


" Kak..." Tegur Ibnu yang duduk di samping kanan Zahra yang masih belum buka suara.


" Hmm, baik. Entah dimulai dari mana..."


Matanya mulai menerawang ke masa lalu, tangannya refleks gemetaran.


Hito yang duduk di samping kiri Zahra membawa tangan itu ke atas pangkuannya, ia genggam erat.


" Kakak sebenarnya tidak tahu pasti, tepatnya kakak ke rumah kamu setelah Ayin kembali pulang tidak lama selepas mengantar Dafi pulang padahal saat itu hujan."


" Dia berteriak minta tolong sembari menangis, saat itu ayah dan mama tidak ada di rumah, jadi kakak yang ke sana bersama pak RT saat itu."


" Teriakan Ayin mengundang penasaran masyarakat, saat mereka bertanya ada apa? Ayin hanya menjawab tidak jelas, tapi raut ketakutan terpatri di sana."


" Pada saat tiba di rumah, rumah kamu sudah terbakar, tapi belum keseluruhan..."


Zahra menjeda cerita sesaat, saat ingatan kembali ke momen mengerikan dimatanya.


Zahra menjilat bibir bawahnya karena gelisah.


" Di teras, kami melihat kamu yang menangis histeris di samping tubuh Mumuy yang bersimbah darah." suaranya bergetar, masih hangat dalam ingatannya keadaan Mumtaz saat itu.


Zahra menunduk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.


" Dia,...ada pisau daging yang menusuk pinggangnya...tapi mulutnya masih berucap untuk memohon menyelamatkan bapak dan ibu yang masih di dalam..."


Kedua tangan Hito dan Zahra saling menggenggam kuat.

__ADS_1


" Kami bergotong royong dengan warga setempat menjauhkan kamu dan Mumtaz dari rumah yang apinya semakin membesar....hiks..."


" Merek berhasil mendobrak pintu rumah, tetapi api sudah mengepung, pak RT melihat bapak dan ibu yang tergeletak, beliau memanggil mereka, tapi tidak ada respon, mereka tidak bergerak, kami tidak berani masuk, karena apinya terus membesar dan cepat menyebar melalap rumah...."


" Kami menjauh dari rumah, memilih menyelamatkan Mumtaz dan kamu yang ternyata sudah pingsan...maaf!!! Maaf, tidak bisa menyelamatkan mereka." rintih Zahra penuh kesedihan.


Kini Zahra sudah menangis, Hito merangkul Zahra.


Ibnu menunduk dalam dengan pundak bergetar karena menangis, Daniel memeluknya.


" Bagaimana dengan Dafi?"


" Ternyata Dafi diamankan oleh Ayin di rumah warga."


" Terus..." 


Zahra menarik nafasnya berat." Mumuy kritis selama tiga hari, ketika sadar dia langsung menanyakan kamu yang ternyata setelah sadar dari pingsan melupakan kejadian yang kalian alami."


" Hingga kami memutuskan mereka meninggal karena kebakaran disertai perampokan, sialnya kamu ingat ada orang yang sengaja membakar rumah kamu, tetapi kamu lupa akan wujud mereka."


" Nu, kamu mungkin akan membenci Mumuy jika mengetahui kebenarannya, tetapi satu hal yang harus kamu tahu, sejak dia keluar dari rumah sakit tiada malam yang dia lalui tanpa mimpi buruk yang selalu berakhir dengan menangis sambil bergumam minta maaf." Ucap sendu Zahra mengingat masa-masa berat bagi keluarganya.


Kedua tangan Ibnu mengepal, sungguh sahabatnya itu pintar menyimpan rahasianya, hingga kini Ibnu tidak tahu jika dibalik sikap tenang Mumtaz tersimpan luapan emosi yang tertahan.


" Aakrghh... Kenapa kakak tidak pernah bilang padaku?"


" Untuk apa? Mungkin kamu lupa, tapi alam bawah sadarmu mengingatnya. Itu terlihat setiap bulan Maret kamu akan menggigil ketakutan lalu muntah kayak orang hamil. Apa baiknya, lagipula Mumuy melarang kami untuk memberitahukan mu."


" Kalian berdua sama-sama menderita, jangan lupakan Dafi dan Ayin yang juga melihatnya."


Ibnu menegang, matanya terpaku," apa?"


" Dua bulan lamanya mereka tidak bisa bicara, entah bagaimana Ayin bisa sembuh, mungkin insting sebagai kakak dari Tia dan Dafi yang membutuhkannya membuat dia bangkit, sementara kami sibuk mengurus kamu dan Mumtaz."


Ibnu menyugar rambutnya dengan gelisah, ia merasa bersalah.


" Bagaimana dengan tingkah Mumuy yang--"


" Terlihat ceria, hangat, bersahabat, terbuka, dan bla...bla..." Potong Zahra.


" Sebelum insiden itu, begitulah Mumuy adanya, pelan tapi pasti sejak dekat dengan komputer dia berubah menjadi Mumuy yang sekarang, tenang, fokus, dapat diandalkan, bahkan datar cenderung dingin." 


" Karena aku?" Ibnu ingin memastikan sejauh mana kehidupannya mempengaruhi sahabatnya.


" Bukan juga, ya memang pengen ganti aja kali." Hibur Zahra.


" Apalagi yang ingin kamu tahu?"


Tiba-tiba suasana hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


" Aaakkrgghh..." Kali ini Alfaska yang berteriak, mengambil perhatian dari beberapa pedagang, Namun mereka membiarkannya.


" Apa kami memberi beban juga kepada Mumuy?" Tanya Daniel menunjuk dirinya dan Alfaska.


Zahra berdiri, mencium satu persatu pucuk kepala para adiknya," kalian bukan beban, tapi anugerah bagi kami." Serunya menatap para adik intens.


" Tapi sepertinya tidak begitu..." Ucap Alfaska pelan.


Zahra mengernyit bingung sekaligus bertanya," ada apa?"


" Si4l-si4l..." Umpat Alfaska kesal.


" Fa..." Tegur Zahra.


" Mumuy, terkena masalah lagi karena aku, dia sekarang menjadi pembicaraan orang."


" Kerena..." Tanya Zahra menegang.


" Melabrak Mami yang sudah menghina kakak."


Zahra tertegun, setelahnya ia mengamuk mencak-mencak pada sosok Sandra tanpa sungkan.


Ia melangkah pergi dari teman dengan langkah besar, diikuti oleh Hito.


" Kakak, mau kemana?" Teriak Daniel.


" Balik ke rumah sakit."


*****


" Aku melihat ibu ditvsvk orang itu, lalu jatuh terkulai di atas lantai sementara mereka tertawa terbahak..." suara Zayin sudah serak.


Tanpa diminta Zayin yang melihat rasa penasaran dari semuanya bercerita mengenai hari itu sesuai apa yang dia lihat sambil menggenggam tangan Khadafi yang terasa dingin membeku seakan aliran darah tersumbat.


Sepanjang bercerita mulut mereka banyak meringis ngilu dan terbelalak tidak percaya, sesekali mata mereka melirik Mumtaz yang belum sadarkan diri dengan raut bercampur Prihatin, sedih, pilu, bahkan Eidelweis sudah menangis dalam pelukan Heru.


Bara terdiam khidmat mendengarkan cerita itu matanya menatap selurus wajah Mumtaz yang terlihat lelah.


Riak wajah Bara yang tidak menyenangkan memaksa Akbar menelpon Rizal dan Ubay. 


" Bar, kita gantian. Dia bukan cuma sahabat Lo tapi kita semua peduli padanya dan Lo juga." Tegas Akbar saat Bara hendak menolak.


" Di depan Rizal dan Ubay nunggu Lo." Tambah Akbar.


Bar menghela nafas gusar, sedetik kemudian dia mengangguk.


" Terima kasih, kalau ada apa-apa hubungi gue."


" Siap, makan yang benar." Bara hanya mengangguk sebelum keluar bergabung dengan sahabatnya.


" Kamu, baik-baik saja?" Tanya Aryan bersimpati.


Zayin tertawa sumbang mendengar pertanyaan itu," itu sudah terjadi lama sekali, aku sudah menerima semuanya. Hanya saja aku tidak pernah tahu jika Aa Mumuy masih membawa rasa bersalah itu sampai sekarang." Tuturnya pelan karena sedih.


Gama yang duduk di sebelah Zayin merangkul pundaknya menawarkan perlindungan, mereka tidak menyangka anak muda ini mengalami kejadian yang mengerikan.


Tia hanya menatap dari kejauhan kembarannya itu, ia merasa egois apalagi tingkahnya yang begitu buruk beberapa belakangan lalu. Ingin dia membenci Sandra, namun nilai-nilai keluarga yang ditanamkan kedua orang tuanya menghalanginya.


Brak...


Zahra membuka kasar pintu kamar menarik atensi mereka semua.


" Apa benar mumtaz dihujat banyak orang karena aku?" Tanyanya kepada semuanya yang berakhir kepada Nando yang duduk di lantai bersampingan dengan Dewa dan Dimas.


" Tidak sampai dihujat, hanya jadi bahan pembicaraan. Dengan kata lain viral." Terang Nando lelah.


" Dan kamu diam saja?"


" Sudah teratasi, kak. Tapi mulut gak bisa direm." 


" Iya kali, sial. Aku harus berbuat sesuatu." Lalu matanya menatap Hito yang masih berdiri di ambang pintu penghubung.


Zahra mendekatinya, ia menggenggam kedua tangan Hito dengan mata memelas.


" Dia selalu menghinaku karena aku tidak kunjung menikah, ini semua akan berakhir kalau kita menikah, bukankah kau selalu ingin menikahiku?"


Hito mengangguk cepat," jadi kenapa kita tidak menikah sekarang dan aku akan menghadapinya sampai dia menyesal telah menghina kami selama ini." Ucapnya dengan dendam.


" Tidak, aku tidak setuju." Bukan Hito yang menolak tegas, tetapi Zayin....


Suasan ruangan Kembali tegang, entah mengapa setiap Zayin bicara di situasi seperti ini, seperti ada malaikat maut mendekat...


Jangan lelah untuk komen dan like ya...hadiahnya dan juga vote-nya....see you...

__ADS_1


__ADS_2