
" Ayu." Raja melambaikan tangan pada tiga gadis yang memasuki kantin.
Mata biru Caitlyn menangkap sosok baru yang menarik perhatiannya, lelaki seumurannya dengan rambut hitam legam dan tawa manis di bibirnya.
Zayin menarik tangan Ayunda agar duduk disebelahnya, sementara Khadafi menyiapkan makanan yang sudah dipesannya ke hadapan Ayunda.
Caitlyn yang melihat pemuda itu terdiam karena terpesona pada lelaki berkulit sawo itu.
" Maaf, kalian belum aku pesankan karena gak tahu apa yang kalian suka." Ucapnya pada Aldila dan Caitlyn yang masih terpana padanya.
" Biar Abang yang pesan, adik manis ini mau makan apa?" Tawar Raja lembut.
" Mie ayam sam es jeruk aja dua." Jawab Aldilla.
" No, mie sama air mineral non ice. Minum es setelah makan pedas tidak dianjurkan." Tegas Zayin meski diucapkan dengan lembut.
" Makan, jangan pikirkan hal yang tidak penting." Khadafi bersuara keras pada Ayunda agar Mela mendengarnya.
" Kalian mungkin bisa menghapus video itu, tapi kalian tidak bisa membungkam mulut dia." Ucap Mela dengan tawa smirknya, Matanya melirik Ayunda yang mencoba biasa saja.
Tangan Ayunda sudah meremas roknya karena takut ketahuan, dibawah meja, disebelah kiri digenggam oleh Adgar, disebelah kanan digenggam oleh Zayin.
Hanya tatapan membunuh yang Zayin berikan sebagai reaksi atas pernyataan Mela, saking takutnya Mela pun melarikan diri dari kantin menuju UKS.
Mengabaikan perhatian penghuni kantin Zayin membelai pipi Ayunda dengan lembut. Menghadapkan Ayunda padanya, kini mereka saling berhadapan.
" Tidak apa. Kita memang harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, tergantung alasan apa yang menjadi pembenaran tindakan kita yang menentukan dimana posisi kita." Ucap pelan Zayin.
" Menurutmu mengapa kamu menyakiti dia?"
" A..aku membalas dia yang Jambak aku." Cicit Ayunda dengan suara bergetar hebat.
" Kalau kamu gak balas?"
" Dia akan semakin menjadi, udah banyak juga korbannya." Kini Suaranya mulai tenang dari bicaranya yang sudah lancar dan percaya diri, karena tangan Zayin yang terus mengusap punggung tangannya.
" Itu cukup menjadi alasan kamu lepas sebagai pihak yang bersalah. Jangan khawatir, sesekali punya pengalaman yang bikin deg-degan seru kali ya." Ucapnya menghibur.
" Abang harus urus mereka dulu."
Cup...
Tidak lupa Zayin mengecup kening Ayunda sebagai penyemangat sekaligus penenang dibawah pandangan mata para gadis alay teersebut.
Di UKS.
Begitu Zayin dan Mela ikut bergabung, Jessica langsung gimmick kesakitan ditengah isakannya.
" Lihat, ini ulah dari perempuan yang mas bela, aku gak salah apa-apa, tiba-tiba dia menyerang ku."
" Mas?" Guru BK bertanda tanya.
" Jangan dianggap." seru Zayin.
" Dia bilang Ayu yang berbuat." Kata pak Raden.
" Ada buktinya?" tnaya Zayin.
" Ini." Jessica memberikan ponselnya.
Pak Raden mencari video yang dimaksud, tetapi tidak ada." Tidak ada, Jessica. Kamu masih dalam sanksi, jangan coba-coba memfitnah dia."
Mimik Jessica seketika pucat, " ti..tidak. saya yakin rekaman kekerasan dia ada di hp saya."
" Pak, tidakah anda berpikir, mungkin Jessica mencoba menjebak Ayu seakan terjadi perundungan. Kalau dia punya ponsel yang aktif mengapa dia merekam kejadian bukannya minta tolong?" Zayin berargumentasi.
Mata Jessica melirik pada Mela yang diam saja.
" Kalau ini akan dibawa ke komite dan dilakukan penyelidikan lebih lanjut saya siap membantu." Ucapan yang menyiratkan tantangan pada pihak sekolah.
" Sebaiknya kita laporkan dulu kepada kepala sekolah, Bu." Ujar Mela, dia berharap mendapat bantuan dari kepala sekolah seperti biasanya.
" Kenapa tidak, saya siap menghadap beliau. Kebetulan bapak Adgar selaku perwakilan yayasan sedang berada di sini."
Zayin tersenyum devil, senyuman yang menurut Jessica dan Mela bagai pencabut nyawa.
Derrt...
Tanpa permisi Zayin keluar dari UKS karena menerima pesan dari kakaknya.
*****
Beberapa dokter, dan perawat lari tergopoh-gopoh masuk ke ruang ICU dimana Sandra terbaring.
Lama mereka di dalam, begitu pintu dibuka Jeno dan Rio berdiri mendekati dokter.
" Dok, bagaimana keadaan Nyonya?"
" Puji Tuhan, belia telah sadar, kalau bisa segera datangkan orang yang bernama Aryan, Alfaska, Tia, Mumtaz, Zahra, dan Zayin. Nama-nama itu yang beliau sebut berulang kali. Hal ini penting untuk perkembangan kesembuhan pasien."
Jen dan Rio tertegun, mereka saling pandang.
" Akan kami usahakan, dok."
" Begitu mereka tiba, beri kami kabar."
" Baik, terima kasih, Dok."
*****
" Katanya kita ketemuan saat makan siang, tapi ini belum waktunya makan siang." Zahra sedikit mengomel pada Hito.
Zahra marah pada Hito yang mendatangi kantornya sebelum makan siang ditengah kesibukannya memeriksa berkas kesehatan Sandra.
" Maaf, tapi ini tidak kalah penting. Kita sudah sampai."
Hito membuka pintu penumpang, mengulurkan tangan pada Zahra yang disambut baik olehnya.
" Apa?"
" Masuk dulu, kamu baru mengerti."
Sepanjang jalan masuk restoran dan menuju ruang privat Hito tidak melepas genggamannya.
Di depan ruang privat, mereka bertemu dengan Dennis, sang pemilik restoran.
" Pastikan tidak ada kabar miring tentang tunangan saya keluar dari restoran ini, kau urus media yang saya perkirakan sebentar lagi akan mengerumuni restoran mu."
" Baiklah, percayakan pada saya. Agar tidak terjadi kesalahan, izinkan saya mengkonfirmasi sesuatu pada Eidelweis.
" Silakan."
Dennis lebih baik menjadi juru bicara dadakan di depan media yang satu persatu mulai berdatangan daripada berurusan dengan Hito Arvenio, apalagi Zahra yang merupakan Kakak dari para petinggi RaHasiYa.
Di dalam ruang privat telah hadir keluarga Gurman, Heru, dan Dominiaz. Zahra menatap Hito dengan tatapan bertanya.
" Kalau ini berkaitan dengan permohonan kalian tentang nyonya Guadalupe, saya sudah memiliki jawabannya."
" Maaf, saya tidak dapat bergabung dalam pengobatan Nyonya."
Alejandro menghela nafasnya dengan berat, meski ia bisa memahami mengapa Zahra enggan menolong wanita yang masih menjadi istrinya itu.
" Apa maksud kamu, sayang?" Hito tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Zahra.
" Bukankah kamu mengajakku bertemu dengan keluarga Gurman membahas pengobatan Nyonya Guadalupe?"
" Bukan, tapi membahas rumor kamu dengan Raul Gonzalez?"
" Hah, rumor apa? Memang seheboh apa rumornya sampai kamu kalang kabut begini?"
" Hahahaha..duduk dulu, cantik." Raul tergelak puas melihat Hito mati kutu.
" Tidak ada yang boleh menyebutnya cantik selain saya." Peringat Hito, membawa Zahra duduk di kursi bersisian dengan kursinya
" Jadi nona Zahra belum tahu kalau diluaran sana kamu, aku, dan saudaraku Raul digosipkan punya hubungan segitiga." Ucap Rodrigo.
" Mana ada begitu?"
" Ada, Zahra. Ini buktinya." Heru menyerahkan ponselnya yang menampilkan dia dan pewaris Gurman di danau tersebut.
Zahra meringis tidak enak hati pada lelaki yang disebut kekasihnya." Maaf, itu tidak seperti yang digosipkan."
" Santai, sayang. Aku tahu, Raul sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku justru berterima kasih pada mereka yang menyelamatkan kamu, tapi meski demikian aku tidak suka gosip itu. Aku tidak mau ambil resiko namamu jelek dengan berganti pria dalam waktu dekat."
" Apa maksudmu?"
" Aku berniat menikahimu, dan aku berniat mempublish hubungan kita."
Zahra terkaget." Apa? Kenapa?"
" Kok kenapa? Kamu mau menyembunyikan hubungan kita?"
__ADS_1
" Ya enggak, tapi tidak harus dipublikasikan juga. Apa adanya saja."
" Ya itu, maksudku, gosip ini begitu santer, mereka bilang kita putus, terus kamu pacaran sama Raul, yang sedang mendapat perhatian, ditambah cinta segitiga dengan Rodrigo, sekarang kamu akan digosipkan balik dengan ku lagi. Aku takut kamu disebut playgirl."
" Mana ada cerita gitu. Gabut banget yang maksain cerita itu."
" Menurut netizen pasti ada." celetuk Dominiaz.
" Tapi gosip ini bisa membantu berita tentang Aa Mumuy, aku gak masalah dianggap gak benar selama nama Aa Mumuy bisa diselamatkan." Kukuh Zahra menolak klarifikasi Hito.
" Sayang, Meski rumor kedekatan kamu dengan Raul menolong pengalihan atensi masyarakat dari berita Mumtaz dan nyonya Sandra, tetapi aku tidak suka ketika mereka mengira kalian memiliki hubungan spesial."
" Berita Jessica dan Mela, Ibnu, serta Ayunda sudah menutup berita Mumtaz, jadi sebagai calon suami kamu perihal siapa kekasih kamu sesungguhnya harus diluruskan." Tegas hito.
Pandangan Zahra menyapu para lelaki tampan di depannya," memang rumor tentang aku ini begitu menyita perhatian?" Mereka semua mengangguk.
Heru angkat bicara." Bukan kamu yang jadi pusat perhatian, tetapi lelaki yang bersamamu. Kamu pacaran dengan Hito yang sejak dulu jadi idola para wanita..."
" Hmmmpt...." Refleks Zahra menahan tawa.
" Maaf, aku tidak sopan. Mendengar Hito dikagumi kaum hawa itu sangat menggelikan. Teruskan ekheemm." Zahra menenggak air mineralnya dibawah tatapan tajam Hito.
" Sekarang kamu diberitakan dengan Raul yang dikenal sebagai pewaris Gonzalez corp yang sedang dibelit masalah hukum."
" Dengan tuan Rodrigo?"
" Mereka sudah mengetahui jika Rodrigo bagian dari keluarga Gurman, sang m4fia Meksiko."
Bola mata Zahra melebar besar, matanya silih berganti memandang antara Alejandro, Rodrigo, dan Raul." Mafia? Maksud kamu Mumuy dan yang lain sedang berurusan dengan penjual narkoba, senjata ilegal dan lainnya yang terkenal jahat?" Kagetnya, Suaranya sedikit meninggi.
Para pria dengan berat hati mengangguk." Ceritanya panjang, tapi mereka berujung berhadapan dengan keluarga Gurman.
Zahra berdiri dengan sikap defensif." Tuan Alejandro Gurman. Saya tidak tahu seberapa besar pengaruh anda di negara anda, tapi jika kau berani menyentuh satu saja keluargaku, ku habisi orang-orang tercinta mu. Dengan keahlian yang kumiliki, percayalah aku mampu." Peringatnya pada klan Gurman dengan tatapan tajamnya.
Keluarga Gurman bukannya takut mendapat ancaman itu, mereka malah menatap salut.
Prok...prok...
Raul bertepuk tangan dengan kencang.
" Hito, kalau kamu bosan, kabari aku. dengan segera aku akan meminangnya." Ucap Raul tanpa takut.
" Lupakan, karena itu tidak akan terjadi."
" Nona Zahra, saya yakin keluarga Gurman tidak akan melakukan hal itu." Ucap Alejandro.
" Baguslah, Jika kalian berani berulah, tidak hanya Guadalupe yang lumpuh, tapi kalian juga."
Seketika suhu ruangan menegang." Maksud anda, nenekku akan duduk di kursi roda?" Tanya Rodrigo.
" Selamanya."
" Sebenarnya walau tidak mudah bisa saja saya memperbaiki jaringan yang ditembus peluru itu, tapi saya tidak mau, begitupun dengan nasib Navarro. orang seperti Navarro dan Guadalupe sebaiknya tidak berdaya.".
Zahra dengan berani menatap lurus iris mata hijau itu.
" Anda seorang dokter." Kata Rodrigo tertahan, menahan emosi.
Dominiaz, Heru, dan Hito langsung siaga. Raul menepuk lengan Rodrigo dengan pelan agar saudaranya itu menurunkan emosinya.
" Tidak diragukan lagi, membiarkan orang jahat seperti mereka berkeliaran bukan solusi yang bijak."
" Itu bukan urusanmu." suara Rodrigo meninggi.
" Rodrigo, turunkan suaramu." Peringat Hito.
" Huh, saya jadikan itu urusan saya, kau pikir setelah apa yang dia lakukan padaku, dan nyonya Sri serta mengingat apa yang akan terjadi pada keluargaku nanti, saya akan bertindak bodoh atas nama profesional?" Tentu TI-DA-K!"
" Rodrigo sebelum kau berkata, ingatlah apa yang sudah mereka lakukan untuk nyonya Belinda." Suara tegas Dominiaz mampu menyaingi aura mafia dalam diri Rodrigo.
Mengingat itu, sontak Rodrigo menurunkan emosinya." Maaf, saya tidak bermaksud membentak kamu."
Zahra mengedikan bahunya dengan santai." Kak Hito, segeralah bereskan tentang gosip itu, aku tidak mau namaku dikaitkan dengan orang-orang sekitaran Guadalupe." sinisnya.
" Maafkan aku, Raul, tapi perbuatan nenek mu tidak dapat dimaafkan. Apa yang terjadi kemarin padaku, tidak secara langsung karena nenekmu."
" Santai saja, aku dapat memahaminya. Secara pribadi aku juga tidak menyukai sifat tidak setianya."
Derrt...
" Permisi." Tubuh Zahra membeku saat membaca pesan dari Mumtaz.
Hito yang menyadari itu, mengambil ponselnya.
Mereka yang hadir hanya memandangi interaksi tersebut tanpa bermaksud betanya.
" Bisakah kita pindah ruangan?" pinta Zahra tidak nyaman.
" Tentu."
" Heru, tolong buka satu ruangan privat lagi untukku."
Heru melihat ada yang tidak beres dengan Zahra hanya mengangguk, dia langsung keluar ruangan.
Tidak berapa lama, Heru kembali." Semuanya sudah siap."
" Maaf, kami harus pergi, ada hal yang mendesak. Raul saya minta bantuan mu untuk mengklarifikasi rumor itu."
" Tentu, jangan sungkan. Saya pastikan rumor itu tidak akan kembali mencuat, nama Zahra pun tidak akan jelek." Ucap Raul.
" Terima kasih."
Hito beranjak, menggenggam tangan zahra." Ayok sayang, kita pergi."
setelah 20 menit mengisi ruangan lain, Zahra masih tidak membuka mulutnya. Heru dan Dominiaz sudah bergabung dengan mereka.
Diluar restoran Raul dan Rodrigo sedang memberi klarifikasi terkait gosip yang beredar dengan memberikan cerita fitkif persahabatan yang mengharukan antara mereka, Zahra dan Hito.
" Ada apa?" Tanya Heru.
" Nyonya Sandra sudah sadar, beliau ingin bertemu dengan Zahra." Jawab Hito.
" Apa kamu butuh pendamping?" Tawar Heru.
" Hah?" Zahra sungguh bingung.
" Kalau kamu ingin menemuinya, tetapi tidak nyaman untuk bertemu sendiri, kamu bisa minta nenek menemanimu?"
" Bukankah itu tidak sopan?"
" Jagan terbebani, coba saja. To."
" Iya." Hito menelpon sang nenek.
" Kata nenek, beliau akan ikut. Begitupun dengan mama, mbak Julia, dan juga Eidel. Sekarang mereka di jalan mau kesini."
" Kok ramean."
" Nenek ada di rumah Eidel yang kebetulan mencarimu tadi ke rumah sakit, tapi kamu tidak ada. Beliau pikir kamu di rumah."
" Apa tidak merepotkan?"
" Tidak sama sekali."
" Apa kamu juga bisa ikut?"
Hito melirik pada Heru, dengan berat hati Heru mengangguk. Lagi, hari ini dia akan menggantikan Hito meeting dengan beberapa klien pentingnya.
" Tapi kalau kamu sibuk tidak usah."
" Tentu, aku akan ada bersamamu."
" Dom, amankan situasi dari media, jangan biarkan mereka mengendus apa yang terjadi."
" Tentu, walau gue yakin RaHasiYa sudah memikirkan hal itu."
" Gue gak mau ambil resiko."
****
Di kediaman Mumtaz.
Telah menghadap kepada petinggi RaHasiYa, Akbar dan juga Reynan di ruang tamu.
" Katakan apa yang Lo harapkan datang kemari?" Tanya Bara pada lawan tawurannya semasa SMA dulu.
" Gue hanya ingin mengatakan gue tidak ikut campur dalam masalah Jessica."
" Dia adik Lo."
" Dia anak h4r4m dari simpanan bokap gue."
__ADS_1
" Yaitu?" Tanya Daniel.
" Gue yakin RaHasiYa mengetahuinya." Sarkas Reynan yang mendapat kekehan kecil dari para petinggi.
" Katakan." Tekan Ibnu.
" Devi, seorang penghibur dari Surga Duniawi. Dulu dia simpanan bokap sebelum mama melahirkan gue tapi mereka sudah tidka berhubungan lagi.
" Hanya itu yang Lo tahu?" Ibnu menyelidik.
Reynan mengerutkan alisnya karena bingung.
Mumtaz menyodorkan sebuah map kuning ke atas meja tepat di depan Reynan.
" Sebagian besar aset bokap dan nyokap Lo yang dikelola bokap Lo sudah dipindah namakan atas nama Devi, semuanya disimpan diluar negeri." Tutur Ibnu tenang.
Reynan terkejut, tubuhnya berubah duduk menjadi tegap, dia membuka isi map tersebut.
" Tidak mungkin... Gue pikir dia bangkrut karena tuan Birawa."
" Hanya sisanya saja, mungkin dia sedang berdrama."
" Tapi bokap bilang mereka sudah putus sejak lama."
" Nyatanya mereka masih berhubungan, lihat lembaran selanjutnya yang memuat transferan bokap Lo ke Devi dalam jumlah besar tiap bulannya, lebih besar ketimbang untuk nyokap Lo." Tutur Ibnu.
Mumtaz menyodorkan flashdisk ke atas meja.
" Menurut jejak obrolan mereka berupa pesan, VC, dan telpon, rencananya musim panas ini mereka akan pindah dan menetap di Amerika, kemudian menggugat talak nyokap Lo setelah memastikan seluruh kekayaan kalian teralihkan. Tapi semua terganggu karena kasus jessica ini."
Wajah Reynan memerah menahan amarah.
Mumtaz menyongsorkan iPadnya pada Reynan.
" Anak buah gue sekarang sedang mengikuti beliau, tepatnya posisi beliau sekarang sedang di rumah Devi. Kta bisa bantu Lo mendapatkan kembali dengan syarat."
" Apa?" Sambut cepat Reynan.
" Pastikan Jessica dan Mela hidup menderita dan serba kekurangan, dan biarkan Devi tinggal di rumah yang dia tempati sekarang sampai kita bilang Lo bisa ambil rumah itu." Jawab Daniel.
" Soal Jessica dan Mela, gue dengan senang hati bekerjasama, soal rumah, apa itu perlu?" Tanya Reynan.
" Melihat dengan siapa saja dia berhubungan, itu sangat perlu." Jawab Mumtaz.
" Baiklah, tapi pastikan seluruhnya kembali, setidaknya untuk mama. Sejak bokap bawa Jessica ke rumah, nyokap tidak bahagia."
" Kami tidak bekerja setengah-setengah. Apalagi ini menyangkut hal yang lebih besar dari sekedar persoalan Ayu." Kata Mumtaz.
" Kita bisa berangkat sekarang." Tawar Alfaska.
" Tentu, Lo ikut kan Bar." Reynan berharap Akbar menemaninya.
" Beri gue 5% saham perusahaan game Lo." Pinta Akbar, dia sejak lama ingin berinvestasi di perusahaan game online milik temannya ini.
" Pamrih Lo, Bar."
" Tentu, take it or yes."
" Sialan, oke." Sungut Reynan terpaksa.
Derrt...
Bara menjawab sambungan masuk dari Jeno.
" Hallo."
" Oke, kita otw."
Sejak menutup telpon dari Jeno, mata Bara menatap intens Alfaska dan Mumtaz silih berganti dengan gestur tubuh tegang.
" Ada apa?" Tanya Alfaska was-was.
" Fa, Mami sudah siuman, beliau pengen ketemu Papi, Lo, Tia, kak Ala, Mumuy, dan Zayin."
Semua terdiam dengan pikiran masing-masing.
" Soal Reynan bisa kita pending." Ucap Akbar memberi solusi.
" No, tetap jalan." Tolak Alfaska. Dia tidak bisa egois menempatkan seluruh permasalahannya di atas masalah sahabatnya.
" Ibnu, Daniel. Kalian urus Reynan, toh di sana sudah ada beberapa anak RaHasiYa." Bara memutuskan.
Kini Alfaska dan Bara menatap intens Mumtaz yang sedang sibuk dengan ponselnya.
" Muy." Panggil Alfaska ragu.
" kak Ala langsung otw bersama om Hito, Zayin ada panggilan dari markasnya, kalau sempat dia kesana. Kita tinggal susul Tia di rumah Tante Edel."
" Muy, Lo gak keberatan?" Suara Alfaska tertahan menekan emosinya.
" Kenapa?" Suara Mumtaz terkesan kalem.
" Mami sudah merusak nama baik Lo."
" Lo gak mau gue ikut?" Alfaska menggeleng cepat.
" Gue hanya gak mau Lo terpaksa karena gue."
" Gak ada kayak gitu. Udah jangan drama, kita berangkat."
Mumtaz beranjak ke arah pintu.
Reynan memperhatikan gerak dan raut Mumtaz yang terlihat biasa saja.
" Kita tinggal dulu." Kata Bara, saat mereka berjalan keluar rumah.
" Sorry, bro. Ini diluar rencana." Kata Mumtaz.
" Santai saja."
Sepeninggal mereka, Reynan bertanya pada Akbar.
" Bukannya nyonya Sandra dengan Mumtaz sedang konflik ya!? Kok dia mau bantu. Mengingat apa yang dilakukan sang nyonya termasuk bukan hal kecil." Reynan bingung atas Sikap Mumtaz.
" Dia dan saudaranya tidak pernah memperbesar perkara perihal mereka sendiri, tapi beda jika itu menyangkut orang-orang yang mereka pedulikan, jangan harap Lo bisa lolos. Jessica misalnya." Ungkap Akbar.
" Bar, kita berangkat." Seru Ibnu yang berjalan dibelakang Daniel dari arah tangga.
" Ini lagi mereka berdua, bukankah seharusnya Daniel marah karena Ibnu sudah mempermalukan Ayu yang notabene adiknya dengan pulang bersama Mela?"
" Ikatan mereka tidak sedangkal yang bisa rusak hanya masalah sepele. Katakanlah Ibnu tidak mencintai Ayu, dan dia mencintai Mela, tapi gue berani taruhan, Ibnu tidak akan melanjutkan hubungannya dengan Mela, karena ikatan antar persahabatan lebih penting serta posisi Ayunda sebagai bungsu mereka lebih berarti. Apa yang sedang kita lakukan buktinya."
" Maksud Lo?"
" Gue yakin, segala informasi tentang seluk beluk Keluarga besar Lo sampai yang terkecil sudah mereka ketahui."
" Kalau Ibnu lebih peduli Mela ketimbang Ayu, saat ini dia akan ada di sekolah untuk melindunginya, tapi lihatlah dia, alih-alih di sekolah dia lebih bernafsu menenggelamkan bokap Lo yang notabene paman dari Mela."
*******
Mela memasuki rumah mewah bercat bata dengan gontai akibat lelah akhir dan bathin untuk hari ini yang dia lalui.
" Mela."
Tubuhnya memutar, dan bola matanya terbelalak mendapati ibunya yang duduk di ruang tamu.
Byur...
Tanpa beban Arleta, menyiram wajah Mela.
" Berapa kali mama bilang jangan mengorbankan orang untuk naik ke puncak?"
" Ma... Mela lelah."
" Saya tidak peduli, berhenti mengacaukan hidup orang untuk ambisi mu yang sia-sia. kau tidak akan pernah menjadi seperti Mama."
" Aku tahu aku jelek, mereka sudah mengatakannya." Isak Mela.
" Visual mu menunjukan rupa hatimu. Sedari kecil kau selalu menjatuhkan orang hanya agar mendapat perhatian. Kau selalu meniru Mama sampai mama lelah karena mu, itulah mengapa mama tidak menginginkanmu tinggal bersama mama."
" Kau, terlalu mendengarkan Tante Devi." Arleta pergi meninggalkan putrinya yang terlihat menyedihkan tanpa belas kasih.
*****
Brak...
Pintu rumah mewah bercat putih itu ditendang kuat oleh Ragad dan juga Jarud.
Klik...klik
Ragad mengambil foto pasangan mesum di atas sofa di ruang tengah.
__ADS_1
Sepasang lelaki dan wanita yang sedang berasyik masyuk terlonjak memisahkan diri dalam keadaan bagian atas sudah polos.
Daud terkejut melihat putranya yang berdiri diantara petinggi RaHasiYa dan Akbar Hartadraja...