Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
153 kejanggalan Mumtaz


__ADS_3

Lantai sepuluh yang merupakan ruang auditorium yang biasanya digunakan untuk pelatihan atau rapat yang melibatkan seluruh anak RaHasiYa dalam waktu singkat disulap menjadi tempat party tali kasih keluarga Hartadraja dan Gurman.


Sambutan ucapan terima kasih dari keduanya dan juga para rekan lain yang belum lama ini dibantu RaHasiYa membuat suasana haru.


Alejandro menatap mereka dengan takjub atas penerimaan atas dirinya dan keluarga oleh masyarakat Indonesia.


" Kalian pasti tahu bahwa saya seorang mafia, tetapi mengapa kalian masih bisa menerima kami?" tanyanya kepada para konglomerat yang hadir.


" Kami tidka terbiasa mengurusi pribadi orang lain, di sini kita sedang membahas kemanusiaan." jawab Aznan.


" Selama kalian tidak melakukan operasional di Indonesia, kami tidak punya alasan tidak menerima kalian." lanjut Gama.


" Itulah mengapa Elena Gaunzaga aman tinggal di sini?" Alejandro mengangguk.


" Apakah mungkjn saya bisa menjadi klien RaHasiYa?"


" Tidak, selama anda aktif menjadi mafia, itu mustahil, meski itu untuk bisnis halal anda." jawab Bara.


" Mengapa?"


" Katakanlah itu prinsip tuan Mumtaz, baginya keberkahan hidup jauh lebih penting daripada keuntungan korporat."


" Keberkahan?" Alejandro tidka paham.


" Gimana ya menerangkannya? Bara menggaruk tengkuknya kikuk.


" Garis besarnya, hidup lebih baik, menjadi lebih bermanfaat." sahut Raul.


" Nah, itu."


" Dalam menolong Mama, petinggi RaHasiYa tidak memungut bayaran, meski aku sudah menawarinya, kek." Raul mengecup punggung tangan Belinda dengan khidmat.


Sementara bagi Diego yang berdiri setia di belakang belinda untuk saat ini cukup hanya melihat kekasihnya saja untuk melepas rasa rindunya.


" Paman Diego, bisakah paman menemani nyonya Belinda untuk berkenalan dengan para wanita Hartadraja? kami ingin membicarakan sesuatu yang penting." pinta Bara, matanya menyorotkan sesuatu pengertian tentang sesuatu.


" Apa mereka akan menerima mama?" ragu Rodrigo.


" Pasti. Dewi sayang, tolong temani dia." pinta Aznan lembut.


Sebelum Dewi beranjak, Bara yang duduk di samping Dewi membisikan sesuatu. Dewi mengangguk sambil tersenyum.


" Mari, nyonya Belinda." ajak Dewi.


" Belinda, hanya Belinda, nyonya."


" Kalau begitu panggil saya Dewi."


Belinda tersenyum, mereka menjauh dari para lelaki.


Dewi memperkenalkan Belinda tidak hanya kepada keluarganya, tetapi juga relasinya.


Mengobrol sebentar, bagai di komando satu persatu dari mereka membubarkan diri. tersisa hanya Belinda dan Diego.


" Diego, mengapa mereka tidka kembali setelah mengambil makanan? apa mereka tidak menyukai aku?" Belinda merasa was-was.


" Tidak mungkin, nyonya..."


" Diego, apa kau akan menjadi asing setelah puluhan tahun kita tidak bertemu? apakah kau berubah untukku?" tanya Belinda sendu.


" Beberapa kali Eric mencoba memaksakan kehendaknya padaku, tapi aku mampu bertahan karena mu, tetapi saat kita bertemu, kau menjadikan aku asing."


Diego tertegun, ia diam, ingin mendengar lebih lanjut curahan hati kekasih hatinya.


Dari belakang Bara menghampiri mereka, tangan-nya memberikan sebuah kartu akses.


Bara duduk di kursi seberang Belinda." Nyonya, saya kira kalian butuh waktu untuk berbicara, pergilah ke tempat yang sudah kami sediakan."


" Maaf, tapi kami tidak..."


" Saya sudah meminta izin kepada tuan Gurman senior dan junior, mereka setuju. anak RaHasiYa akan menjaga kalian" sela Bara sebelum mendapatkan protes dari Diego.


Saat belinda henda bicara, kembali Bara berucap," ibuku koma selama 8 tahun akibat kecelakaan, ketika sadar hingga hari ini, nama ayahku masih disebutnya dalam tidurnya. Saya hanya tidak ingin kalian membuang waktu dengan salah paham atau menahan rasa, bukankah kalian suami-istri?" sarkasnya pada mereka


Diego mengangguk," kami menerimanya." Diego menarik lembut tangan yang 20 tahun tidak bisa dia genggam, lalu menggenggamnya erat namun tidak menyakitkan.


Setitik bukit bening muncul dipelupuk mata Bara," papah, Bara sudah menjadi anak naikkan!?" gumamnya sedih.


Live music menyertai suasana menjadi akrab antara para Konglomerat dan eksmud. Banyak dari mereka membawa anak gadisnya untuk diperkenalkan dengan relasi bisnisnya.


Hito terus mengekori Zahra kemanapun ia melangkah, atau dia yang menarik Zahra, dan mempertahankan Zahra disisinya jika bertemu rekan bisnis penting.


Zahra kehilangan akal untuk bisa lepas dari Hito, sebenarnya dia sangat tidak nyaman berada ditengah orang banyak, hatinya berdegup kencang efek dari kegusarannya. Daripada kakinya lelah, dia memilih duduk disamping Eidelweis di meja bulat dengan sofa melingkar.


Eidelweis cemberut kepada Hito yang kesal karenanya sambil mengusap perut besarnya.


" Kenapa kamu, muka ditekuk begitu?" Tanya Hito yang duduk disamping Zahra.


" Kak, aku tuh butuh perhatian mas Heru, sampai kapan kakak absen ngantor?"


" Tanya sama calon kakak ipar mu ini, sampai kapan dia insecure merasa gak pantas untukku?" Liriknya pada Zahra.


" Kak, mungkin itu cuma alibi, sebenarnya kakak yang gak pantes buat dia, yang profesor, tapi gak mau disalahin kalau kalian pisah." Provokasi Eidelweis.


Zahra mengelak, " Enggak gitu kak, mungkin aku gak akan pernah nikah." 


Hito dan Eidelweis terdiam, tidak  menyangka sudah sejauh itu pemikiran Zahra akibat tragedi tersebut.


" Bullshit, kamu tahu kan Dominiaz tertarik padamu, kalau dia ngegebetin kamu, nanti juga kamu meleyot." sanggah Eidelweis.


" Jaga ucapannya, bumil." Gerutu Hito tidak suka, mendadak diserang ketakutan akan kehilangan Zahra, Hito menggenggam paksa tangan Zahra.


" Aku tidak akan membiarkan kamu dimiliki oleh yang lain, dan tidak akan membiarkan kamu tidak menikah, mempelai lelaki untuk kamu hanya aku, camkan itu." Bisiknya tegas, Zahra hanya bisa membiarkan Hito dengan segala kekeraskkepalaannya.


" Makin malam, kenapa tamunya makin banyak?" Keluh Eidelweis.


Matanya memicing melihat kakaknya yang duduk di bar bersama Damian dan seorang wanita yang terlihat akrab dengan kakak iparnya itu.


" Kak, itu yang ngobrol sama kak Damian mbak Riska Irawan, bukan sih?"


" Iya, kenapa?"


" Jadi benar kak Damian ada main dengan mbak Riska dibelakang kak julia?" Eidelweis sudah sewot.


" Mana aku tahu, tapi masa iya papa bakal biarin aja kak Julia disakiti?"


" Lihat, gerak-gerik kak Julia gak nyaman banget, kaku."


Faktanya, Julia geram dengan suaminya yang tidak mau melepaskan genggaman tangannya, padahal di sini pun dia tidak dianggap.


Damian dan Riska seakan melupakannya, mereka asyik dengan dunianya sendiri.


" Sayang, berhenti memberontak, aku gak akan lepasin tangan ini " ujar Damian sambil mengecup kening Julia.


" Terus ngapain aku di sini melihat kalian nostalgia. Kamu kalau mau selingkuh juga ada etikanya, jangan kurang ajar begini."


" Siapa yang selingkuh, aku cuma nanya kabar."


" Udah 15 menit kalian ngobrol, memang kalau ngobrol sama mantan tuh bisa lupa waktu. Kalau kalian mau balik, silakan."


" Kenapa kamu ngomong begitu? Aku gak niat balik, karena aku cintanya cuma sama kamu."


" Ini ada apa ya?" Tanya Riska bingung.


" Sorry, Ris. Ini, istri kesayangan aku cemburu sama kamu pas kamu pinjemin pesawat kamu buat nyari nenek, dia mikirnya kita ketemuan dibelakang dia."


" Maaf, ya Juli. Aku komunikasi soal pesawat bukan sama Damian langsung kok, tapi dengan asistennya. Itu murni nolongin aja, seperti Mumtaz nolongin saya."


Julia tersenyum kaku, " maaf mbak, sudah salah sangka."


" Apa kamu masih merasa bersalah merebut dia dari aku?"

__ADS_1


" Eh, kok kesannya saya pelakor ya? Saya waktu itu pacaran sama mas Damian tahunya dia single, mbak. Pas tahu dia pacaran sama mbak saya minta putus kok, sumpah." Ungkap Julia tidak terima, senyumannya sudah hilang.


" Lagian saya cantik, dari keluarga baik-baik, duit banyak ngapain merebut pacar orang, saya tinggal tunjuk orang buat jadi suami saya."


" Tapi cuma aku yang cinta kamu dengan tulus."


" Dengar kan mbak, mas Damian nya yang cinta aku."


" Tapi kamu mau dinikahin dia, berarti kamu juga cinta dia."


" Iya, masalah buat mbak? Ambil lagi aja dia, mbak." Juli meninggalkan mereka dengan raut wajah kesal.


Riska tergelak," hahahaha, lucu juga dia. Sekarang aku tahu kenapa dulu kamu milih dia ketimbang aku."


" Kamu juga malah mancing terus, alamat saya tidur diluar selama seminggu ini, aku cari dia dulu. Stop isengin dia." Riska masih tertawa melihat dua orang yang dulu sempat terlibat cinta segitiga dengannya.


Tidak menyangka sang Damian Prakasa, yang mendapat julukan Untouchable oleh perempuan dan urakan menjadi lelaki penyayng bagi keluarganya.


Damian melihat kanan-kiri diantara banyak orang mencari istrinya yang bersumbu pendek itu.


 Konflik kecil itu disaksikan para anak mereka, beserta sahabatnya" sumpah alay abis. Itu mereka gak mikir anaknya udah pada gede."  Adgar sungguh geli mendengar pertengkaran cinta segitiga itu.


Mereka tidak bermaksud menguping, tetapi suara keras Julia terdengar sampai telinga mereka yang berkumpul dalam satu meja tidak jauh dari mereka.


" Bro, gue penasaran, Lo yakin,kalau Lo bukan anak om Brotosedjo?" Tanya Adgar langsung kepada Rendy Irawan.


" Syukurnya yakin, setelah putus dari om Damian mama sempat stress, asisten pribadi kakek yang menyembuhkan luka mama, tapi kakek gak merestui mereka.


" Mama pikir kalau dirinya hamil kakek akan luluh, tetapi ternyata tidak, lantas kakek menjodohkan mama dengan si b4ngs4t itu, itulah mengapa perselingkuhan dia sangat melukai kakek. Kakek merasa bersalah kepada mama."


" Terus bokap Lo?"


" Papa oleh di b4ngs4t itu diculik dan disembunyikan ke tempat yang sampai sekarang belum kita tahu."


" Kenapa gak minta bantuan RaHasiYa?" tanya Raja


" Memang mereka mau nerima kasus kayak gini?"


" Kalau Lo klien mereka, kayaknya bisa." Tukas Adgar.


" Gue coba."


" Yin, hari ini si Andros ngomongin Lo Kayak Lo pahlawan penyelamat bumi." seloroh Adgar.


" Ck, Lo pasti tahu kejadiannya, gue dapat intruksi da'i bang Daniel."


" Gimana kalau dia tahu kerjaan Lo, Lo udah dianggap Dewa kali ya!" seloroh Juan.


" Gar, Lo ngomong sama petinggi RaHasiYa untuk mengikutsertakan mereka dikerjaan yang simpel."


" Kenapa gak Lo aja?"


" Gue bukan anak RaHasiYa?"


" Emang bukan?" tanya serempak tiga sahabatnya


" bukan."


" Lah selama ini Lo sering kerja bareng kita."


" Kalau untuk urusan pribadi kalian saja, bukan profesional. Aa Mumuy larang gue jadi bagian RaHasiYa."


" Katanya gue anak TNI, tugas gue cuma mengamankan negara, takutnya suatu Hari ada


conflict interest antara RaHasiYa dan negara, yang bakal bikin gue menjadi tidak idealis."


" Iya juga sih. gue keep usulan Lo." tutur Adgar.


Rendy menikmati kedekatan persahabatan mereka, andai dia memilikinya juga, menjadi anak hasil diluar nikah merupakan beban tersendiri di sini.


Ditengah hingar-bingar, tampak semua orang menikmati suasana malam ini, namun itu seperti tidak berpengaruh kepada Ibnu yang duduk sendiri di sofa melingkar ditemani segelas es capuccino boba.


Kejanggalan lainnya adalah persetujuan Mumtaz dimana Alfaska akan mengundang banyak orang, biasanya itu harus melalui perdebatan alot.


Mumtaz biasanya duduk bersamanya ditengah lautan manusia karena tidak menyukai menjadi orang yang terlihat, tetapi malam ini sepertinya pengecualian.


Lagu sahabat sejati milik Sheila on seven mengantarkan Ibnu pada masa awal kedekatannya dengan Mumtaz yang terjalin sejak SMP kelas satu, tepatnya di semester dua.


Mulanya mereka hanya teman satu sekolah, tidak pernah sapa apalagi berteman, hanya murid dari satu sekolah. Mereka dekat karena...


Kening Ibnu mengerut saat memaksa memory otaknya menggali file masa lalunya, dan bagian itu kosong, blank, tidak ada cerita, kisah selanjutnya dari memory otaknya berisi file persahabatan mereka yang saling memahami.


Ibnu menggelengkan kepala karena pusing terlalu memaksakan diri mengingat kisahnya dengan Mumtaz. Ia memijit pelipisnya, matanya kembali mengamati Mumtaz dengan tatapan bingung, mengapa melihat Mumtaz pasca kejadian tadi hatinya dilanda kecemasan, dan ketakutan.


Ingin rasanya ia memeluk Mumtaz meminta pertolongan dan kemanan, namun tidak tahu apa alasannya. 


Daniel yang merasa ada keanehan dari dua sahabatnya, memperhatikan Mumtaz bersikap tidak biasa menjadi lebih berekspresi. Sementara gelagat dari Ibnu yang tidak baik-baik saja, khawatir akan diri sahabatnya Daniel melangkah ke tempatnya.


" Hai, bro. Kenapa?" Daniel mengambil duduk disamping Ibnu meletakkan koktailnya ke atas meja.


Ibnu menggeleng, " Niel, Lo inget kapan kita  mulai bersahabat, tepatnya?"


" Sejak gue dan Afa meminta Lo dan Mumuy menjadi bodyguard kita diluar jam sekolah."


" Kenapa?"


" Karena kami bergantung pada kalian, kalau enggak ada kalian diluar rumah, kami merasa terancam, khususnya Afa. Kenapa memangnya?"


Sekali lagi Ibnu menggeleng," kok gue gak inget kapan gue mulai bersahabat dengan Mumuy, dan apa sebabnya?!"


Daniel mengeryit aneh, pasalnya dua sahabatnya itu memiliki daya ingat yang kuat, bahkan ke hal yang mendetil sekalipun.


Memahami kegusaran Ibnu, Daniel memijit bahunya," relax, bro. Ngingetinya pelan-pelan dan santai saja, kenap lo gak tanya sama Mumuy?"


" Gak perlu, gak mendesak juga. Yang terpenting gue miliki dia buat melindungi gue." Ceplos Ibnu tanpa sadar.


" Melindungi Lo? Dari apa? Lo ada yang ngancem? Lo dalam bahaya?" Cecar Daniel penasaran sekaligus cemas.


Ibnu tertegun, ia sendiri tidak tahu mengapa ia mengatakan hal demikian, itu hanya refleksi gambaran kata hatinya.


" Gak gitu, itu spontan aja gue ngomong padahal gue sendiri gak tahu kenapa." Ucapnya semakin memelan tidak yakin.


Daniel mengambil posisi condong, memperhatikan Ibnu," Nu, jangan main rahasiaan, ada apa sebenarnya?"


" Sumpah gue gak menyembunyikan apapun, itu spontanitas." Ibnu mengangkat jari membentuk V.


Saking fokus terhadap satu sama lain, Daniel dan Ibnu tidak menyadari kedatangan Alfaska yang berdiri tepat didepan mereka." Ada apa?"


" Astagfirullah." Baik Daniel maupun Ibnu terlonjak, mereka mengelus dada.


" Apaan, dah kayak pocong aja." Omel Daniel.


" Kalian terlihat serius ditengah suasana menyenangkan begini, gimana gak buat gue khawatir?"


" Ibnu ada yang ngancem." Celetuk Daniel, Ibnu menggeplak pundak Daniel.


Alfaska duduk disamping satunya yang kosong, kini Ibnu diapit oleh Daniel dan Alfaska.


" Siapa?" Lo bukan Spiderman yang bisa memberantas kejahatan." Ucap Alfaska mendrmatisir.


" Gak ada, lagian ngapain gua rahasiakan musuh dari kalian, bikin penyakit aja."


Belum puas akan jawaban Ibnu, Alfaska mendesak," Nu, Lo ngomong atau gue kasih tahu Mumuy."


Ibnu mengusap wajahnya kasar," suer, gak ada. Ya Allah Niel, memfitnah orang emang menyenangkan ya." Sarkas Ibnu kesal, Daniel hanya mengangguk.


" Lagian kenapa dah kalian sok posesif begini?  Jijik tahu."


" Lah, kita memang dari dulu saling posesif satu sama lain, Lo gak ngerasa kalau Lo posesifin kita?" Terang Alfaska.


Ibnu menggeleng," masa sih?"

__ADS_1


Saking kesalnya Alfaska, dia menggeplak kepala Ibnu keras," aws, mesti mukul, Fa?" Protes Ibnu.


" Biar pala Lo benar."


" Btw, Lo merasa kalau malam ini Mumtaz beda?" tanya Ibnu yang diangguki oleh mereka.


" Dia mau nyaingin kepopuleran gue. gak bisa gue biarin." gerutu Alfaska, Ibnu dan Daniel menanggapinya dengan malas.


Di panggung, Adgar mengambil alih sepeaker dari MC yang merupakan anak RaHasiYa.


" Ladys n gantleman, pesat baru mulai, kini saatnya penampilan dari sang punya gedung yaitu the aneeehhh...." 


" Horeee....."


" Suit...suit..." gemuruh sorak dari anak RaHasiYa dan Gaunzaga menggemuruh di ruangan.


Sementara bagi para tetua, dan para eksmud mengererutkan kening bertanya," the aneh?"


" Apa tidak ada nama yang lebih aneh daripada the aneh?" Tanya Nathan pada teman semejanya, yaitu petinggi Gaunzaga plus Erwin.


" Konon nama itu merupakan julukan buat mereka sewaktu SMA, dimana mereka selalu mengobrol yang tidak dimengerti oleh para temannya.


" Guys, c'mon." Ajak Mumtaz semangat kepada para sahabatnya.


Para sahabat mengeryit dengan mimik seakan mengatakan " seriously? What wrong with you, dude."


Mau tidak mau para sahabat menyusul Mumtaz yang sudah di panggung menenteng gitar.


Kejanggalan itu tidak hanya dirasakan oleh para sahabat, namun juga anak RaHasiYa, dan para kolega yang sudah mengenalnya.


" Dom, calon adik ipar lo malam ini kelihatan beda gak sih? Bisik Samudera.


" Banget, gue pikir cuma gue yang engeh" jawab Dominiaz dengan tatapan mengamati Mumtaz.


" Hmmm, gue pikir juga gitu."


Pertunjukan perdana di hadapan para kolega sungguh manarik minat para konglomerat tersebut.


" Guy, its my life-nya bon Jovi, oke?" Pinta Mumtaz sebagai vokalis.


Mereka hanya mengangguk, terlalu lelah memikirkan perubahan sikap Mumtaz.


Ibnu yang dibelakang drum memberi aba-aba


Tak..tak..." One..two..three..."


Hentakan musik, membuat para pemuda berdiri mendekati panggung.


" This ain't song for the broken-hearted..." Orang-orang mulai berjingkrak mengikuti musik.


Eidelweis yang hamil, turut beranjak" gak peduli gue namanya aneh, tapi mereka keren sih." Ujarnya kepada Julia, yang menyetujuinya.


Sepanjang lagu mereka berjingkrak-jingkrak tidak sedikit ikut bernyanyi.


" Kamu berhasil mendidik mereka, kak." Julia tersenyum bangga kepada mereka.


" Fyi, Mumtaz langganan olimpiade fisika dan kimia, Daniel dan Alfaska olimpiade robotik, Ibnu dan Alfaska biologi" Ungkap Julia.


" Serius?" Nadya dan Eidelweis tidak percaya.


" Cuma selalu dirahasiakan atas permintaan mereka, gak tahu mengapa."


" Gak ada yang komputer?"


" Gak ada."


" Zayin?"


" Kalau Zayin matematika, dan fisika. Sebenarnya dia komplit, cuma dianya gak mau ambil semua, takut terkenal kayaknya."


" Its  my..life.." seru semuanya.


Prok...prok...semuanya bertepung tangan semangat sebagai apresiasi.


" Thanx, buat semuanya. Sekarang lagu buat yang galau. Separuh nafasku, Dewa 19."


" Lagi?" Tanya Alfaska kepada Ibnu dan Daniel.


" Ikuti aja." Ujar Daniel mengatur insrumennya.


" Tapi gue juga pengen nyanyi, masa dia doang yang dapat perhatian."


" Gue yakin mereka bosen lihat lo sebagai pemeran utama." Seloroh Ibnu.


" Mulai..."seru Mumtaz.


" Oke..1..2..3..."


Audiens kembali menggoyangkan badan dengan irama lebih santai.


" Separuh nafasku terbang bersama dirimu saat kau tinggalkan ku...salahkan ku..."


" Ini anak masa musiknya jaman dulu semua, tapi okelah buat kita." Cerocos Damian.


" Inget masa sekolah alay karena patah hati." Timpal Damar.


" Memang kamu pernah jatuh cinta?" Selidik Nadya.


" Cuma suka, tapi dianya jadian sama yang lain." Jawab sang suami sambil mengecup punggung tangan Nadya menenangkan.


" Jadi sadboy, bang?" Ledek Eidelweis."


" Terserah kamu, Del. Yang penting sekarang kakak bahagia. Awas itu anak berojol duluan karena kamu banyak joget." 


" Mereka tahu aja musik yang great, musik jaman sekarang emang kurang wibawa sih dibanding musik jaman dulu." Seru Eidelweis turut bernyanyi.


Sepertinya lagu dewa 19 masih mengena di hati para pemuda terbukti mereka pun turut bernyanyi dengan berbagai gaya patah hati yang alay.


" Wow, Kalian penonton yang keren..." mengapresiasi antusias para hadirin.


Mimik Mumtaz seketika berubah serius," Kata mama saya, lelaki menangis karena patah hati itu tidak serta Merta lemah, tetapi menunjukan lelaki itu memiliki hati yang lembut, yang dikemudian hari akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab yang memastikan kebahagiaan wanita kesayangan."


Suasana seketika berubah hening.


" Faktanya patah hati tidak melulu mengenai kehilangan kekasih tetapi juga kehilangan keluarga, dan teman."


"Pertama kalinya saya merasakan patah hati dan menangis tergugu kala melihat teman saya menangisi kepergian kedua orangtuanya yang meninggal di depan matanya karena ulah dari sang b3deb4h." 


Tubuh Ibnu seketika mematung, kemudian bergetar, ia bergegas menenggak air dalam botol yang ada disamping kakinya hingga tandas. Matanya menatap punggung tegap Mumtaz yang terus berinteraksi dengan audiens, hal yang baru dilakukan, satu hal lagi kejanggalan dari Mumtaz.


" Nu, Lo baik-baik saja?" Tanya Daniel.


" Gue oke, cuma...malam ini ada apa dengan teman Lo yang itu?" Tunjuknya pada Mumtaz dengan dagunya.


Daniel mengedikan bahu," gak tahu, mungkin kesambet makhluk gedung kosong itu."


" Oke, lagu terakhir dari kita, dari Andra n the backbone-sempurna."


" Kyaaaaa..." Pekikan Mayang dan Amanda atas performa Mumtaz.


" Sil,...lihat, kak Mumtaz natap Lo. sweet banget sih..."


"Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah..." Mumtaz melepas mic dari tongkatnya, tatapan matanya fokus pada Sisilia, kemudian dia turn dari panggung.


" Jangan bilang, dia mau kemari. Memang sih malam ini laki Lo keren abis." cerocos Amanda.


" Dia semakin mendekat...." Bisik Cassandra.


" Tapi gak mungkin, ini Mumtaz bukan Daniel." gumam Tia.


" Tapi matanya lihat kesini terus...."

__ADS_1


__ADS_2