Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
162. Pembalasan Ala Zayin (1)


__ADS_3

" Bang, serius. Ayu harus sekolah." Rengekan kesekian Ayunda sambil memegangi tangan Zayin.


" Hmmm." Deheman Zayin yang kesekian setelah 20 menit memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah sembari tetap membaca email yang dikirim oleh Nando padanya.


Dari dalam mobil, sesekali matanya memeriksa setiap siswi yang datang.


" Bang, Ayu bolos saja ya? Hati ayu masih sakit Lo ini." Bujuk Ayunda untuk kesekian kali.


" Yu, kita sudah lama duduk di sini dengan rengekan yang sama, yang akan dijawab dengan ucapan yang sama oleh abang." Tegas Zayin, memasukan ponsel ke dalam saku jeans saat ujung matanya melihat jazz putih memasuki parkiran khusus mobil. 


Zayin menatap bergantian Ayunda dan tangan kirinya yang dibalut perban.


" kenapa Tangan kamu?" Pertanyaan yang kesekian kalian yang tidak dijawab jelas oleh Ayunda.


" Ish, dibilang tidak kenapa-kenapa."


Mobil jazz itu terparkir berjarak tiga mobil dari fortunernya.


" Ayo turun."


" Bang, ihhh."


" Ayunda, kamu seorang Birawa, iya kali musti kalah lawan teri kering kayak mereka." Zayin merapihkan tatanan rambutnya sebelum turun.


Ayunda masih bersikeras bertahan di dalam mobil, begitu pintu ditutup, visual gagah nan tampan ditambah baby facenya tanpa cacat tidak bisa melawan pesona seorang Zayin, langsung menarik perhatian para remaja labil nan centil, termasuk tiga remaja putri di dalam jazz itu.


" Kya...ganteng banget."


" Gagah euy, pelukable banget.'


" Anjay berasa dalam Drakor gue."


Sedikit dari cuitan kekaguman remaja putri yang dalam hitungan detik memenuhi area parkir.


Melihat gelagat Ayunda tidak akan keluar, Zayin rela berputar membuka pintu dan membantu Ayunda turun dari mobil dengan hati-hati. Hal yang hanya dia lakukan kepada mama Aida, kak Zahra, dan Tia. 


" Turun, sayang." Dikecupnya kening Ayunda dengan lembut.


" Kya...so sweet."


" Itu siapanya Ayu?"


" Daebak...berasa jadi cokelat meleleh gue."


" Ck, norak. Kalau bukan karena kamu males Abang di sini. Hargai usaha Abang, cantik." Kata cantik diutarakan dengan kencang agar didengar oleh semuanya.


" Bang, malu." Ayunda makin merapat ke lengan Zayin yang direspon tawa gemas sembari mengusak rambut Ayunda dengan sayang.


" Mana ada malu jalan sama aku, yang ada harus bangga."


Tidak lama Nando berlari kecil ke arah mereka.


" Bang, Lo sudah baca apa yang gue kirim di email Lo kan?" 


" Sudah, thanks. Lo sudah mensetting yang gue minta?" 


" Sudah bang, jam 10 nanti, waktu istirahat. berselang sepuluh menitan diantara keduanya." Jawab Nando.


" Ini  beresiko merusak nama sekolah, bang." Khawatir Nando.


" Itu tugas mereka untuk memperbaikinya, yang harus Lo pastikan jejak kita tidak tercium." Ucap Zayin tidak ambil pusing.


" Kalau itu beres."


"Lo yakin bisa jaga si cantik ini?"


" Hah? Cantik? siapa?" Tanya Nando menoleh kiri dan kanan mencari sosok cantik yang dimaksud Zayin.


Ayunda menjitak kepala Nando." Si cantik itu, gue! Gue!" Tekan Ayunda sengit.


" Hmppt." Nando menahan tawanya yang hendak menyembur.


" Bang, kalian lagi main pengantenan?"


" Jangan bawel, ikuti skenario gue." Omel Zayin, Ayunda tersenyum jumawa di depannya.


" Itu daftar yang Lo kasih, sudah semuanya?"


" Sudah, gue beri daftar berdasarkan kesadis4n mereka."


" Kalian sedang bicarakan apa?" Tanya Ayunda bingung.


" Enggak ada. gih masuk. Kamu aman, kalau ada yang usilin kamu telpon abang."


" Abang bakal datang kalau Ayu butuh Abang?"


" Iya, hari ini Abang nunggu kamu." Zayin merapihkan helaian rambut Ayunda yang tertiup angin pagi mendung yang berangin.


Lagi, jeritan gegenjlotan centil alay bergemuruh, membuat Andromeda melarikan pandangan mencari sumber kelayan itu.


Lirikan matan Zayin mengikuti langkah seorang gadis yang berjalan ke arahnya, ia tersenyum smirk mematikan.


Gadis Jazz itu keluar setelah menyempurnakan makeupnya, dengan percaya diri berjalan melenggak-lenggok pada Zayin dengan senyum paling manis dan tatapan menggoda.


Melihat gadis itu, Ayunda merapat kepada Zayin, tangan yang memeluk tangan Zayin gemetar, Zayin menangkup tangan Ayunda dan menggesernya untuk digenggam menenangkan.


" Hallo, Ayu. Apa kabar? Bagaimana tangan kamu, baikan?" Tanyanya mengulas senyum manis, tetapi mata terlatih Zayin dapat melihat aura mengintimidasi dalam senyum itu.


Setelah merasa tenang atas dukungan Zayin lewat genggaman tangannya, Ayunda menegakkan tubuhnya menghadapi gadis itu.


" Baik, ini bukan masalah."


Kaget akan keberanian Ayunda yang biasanya diam tidak berani menjawab ucapannya.


" Syukurlah, aku khawatir banget, ini siapa, bisa dong kamu kenalkan temanmu padaku?"


Tanpa menunggu jawaban Ayunda, dengan senyum innocent-nya, gadis itu dengan mengulurkan tangan kepada Zayin.


" Hallo, aku Jessica. Temannya Ayu."


Alih-alih menyambut uluran tangan itu Zayin mengusap sayang rambut Ayunda, perhatiannya tercurahkan untuk Ayunda. Kemudian kembali pada Jessica.


" Saya calon kekasihnya Ayunda, hanya Ayunda yang boleh sentuh saya." Ucapan mantap itu mengundang tawa dari para siswa dan beberapa siswi, tidak terkecuali Nando.


Jessica mengeraskan rahangnya karena malu, dia menurunkan tangannya, lalu mengepal erat sesaat tanpa kentara.


" Hahahaha....ada juga orang waras yang nganggep Lo najis."kata mengandung kelemesan yang hakiki dari Nando untuk Jessica.


" Ooh, sorry. Aku pikir mas temannya Ayu, karena Ayu suka sama lelaki yang bernama Ibnu, walaupun ditolak." Ucap Jessica seakan turut menyesal.


" Keuntungan bagi saya, dengan ini saya akan makin semangat mengejar kamu, sayang."


Ayunda turut berlakon, dengan memegang kancing kemeja Zayin, bergestur manja." Maaf sudah menyakiti kamu selama ini." Ucapnya dengan suara kecil nan manja.


Dalam hati Zayin, ia bergidik geli, ia seakan ingin muntah.


Nando sudah memasang tampang menahan tawa atas ulah mereka berdua.

__ADS_1


" Kamu mau masuk sendiri, atau diantar?"


" Antar saja, Yu. Tangan kamu kan sedang luka." Serobot Jessica.


" Idih alay, masuk ke sekolah pake kaki bukan tangan." Nando menoyor kencang kepala Jessica.


" Ya sudah, aku anter. Tunggu sebentar."


Zayin tidak melepaskan genggaman tangannya yang digenggam erat oleh Ayunda saat mengambil sesuatu dari dalam mobilnya.


" Nando, ayok masuk."


" Mas, kita masuk bareng ya!?" Jessica mendekati Zayin, tidak curiga pada kertas yang dipegang Zayin.


" Ayok, kita bareng." Mereka bersamaan melangkah masuk gedung sekolah dengan Zayin ditengah-tengah Ayunda dan Jessica.


Zayin mengulurkan tangan ke belakang seakan hendak merangkul, Zayin mengusap samar punggung jessica, membuat Jessica mengulum senyum sumringah saat merasakan gesekan di punggungnya.


Sesudahnya tangan Zayin menjauh darinya, sambil merangkul Ayunda untuk melangkah lebih cepat hingga berjalan agak jauh di depan Jessica yang masih memasang senyumannya.


Saking geernya Jessica mendapat usapan dari tangan Zayin, ia tidak menyadari menyadari siswa/siswi yang menertawainya.


Bisikan-bisikan mencibir dan mencemooh dari murid-murid mengiringi langkahnya di sepanjang koridor menuju kelasnya, dau sahabat yang berjalan di belakangnya melotot tidak percaya pada apa yang melekat dipunggung Jessica, hendak memberitahu, mereka takut akan ancam yang tertulis jelas di sana.


Setiba di kelas, Ayunda dianter persis sampai bangkunya, disaksikan dari sembilan belas pasang mata ia mengusap mesra kepala Ayunda lalu mengecup keningnya.


" Belajar yang tenang, Abang di sini , kita lalui cobaan ini bersama."


Ayunda tersenyum  asam mendengar ucapan Zayin yang berlebihan, sementara dalam hati Zayin, dia bergidik sendiri mendengar apa yang dia ucapkan.


" Makacih, Sayang." Balasnya manja.


" Hmm, love you."


" Too."


Sepanjang adegan itu, para siswi menahan jeritan akan keuwuan mereka.


Selepas Zayin berlalu, mereka berkerumun ke meja Ayunda meminta penjelasan siapa lelaki gagah itu, melupakan sikap culas mereka yang kemarin ditujukan kepada Ayunda karena fitnahan terhadap Ayunda, gadis konglomerat yang selalu menjadi sad girl yang dihembuskan oleh Jessica dengan pengawasan dari anak genk BIBA


Setiba di kelas yang bersampingan dengan kelas Ayunda dan duduk anteng di bangkunya, jessica dengan mata menerawang halu dan tawa terkikik senang mengesampingkan suara heboh penghuni kelas, tawa terbahak-bahak dari teman sekelasnya bergemuruh memenuhi ruangan karena melihat tulisan di kertas.


Tiba-tiba pundaknya ditepuk-tepuk oleh Andromeda," bagus Lo sadar diri." Ucapnya diiringi tawa.


Jessica mengernyit bingung," apa sih Lo, gak jelas."


Saat itu m hampir semua siswa-siswi mengabadikan tulisan yang ada di punggung jessica dan diposting ke media sosial dengan berbagai caption.


Sambil menunggu Ayunda, Zayin duduk di warung kopi seberang jalan tidak jauh dari sekolah, ia berbicara serius dengan William dan Bayu.


" Gue bukannya takut, tapi  gue harap Lo kontrol emosi saat berhadap dengan nyonya itu, kata nyokap gue Sandra Atma Madina memang arogan. Skandal perusahaan Atma Madina kemarin cukup membuat para sosialita malas berhubungan dengannya."


William mencomot pisang goreng," karena anaknya yang petinggi RaHasiYa saja dia masih diterima." Lanjutnya.


" Buatlah nyokap Lo dan pasukannya menjauhi dia, gue yang tanggung jawab. Bay, gimana? Lo bisa bantu gue?"


" Pastilah, apa sih yang enggak buat Lo yang udah nolong kita banyak di Akmil kemarin." Tutur Bayu.


Zayin melempar gorengan ke kepala Bayu." Lo bahas itu lagi, gue gebuk Lo."


Bayu nyengir akan kejengkelan Zayin, tapi sungguh dia sangat berterima kasih kepada Zayin sepanjang karirnya di militer. Saat Akmil Zayin lah yang menjadi penggembleng dia sampai dia di titik ini, titik dimana dia bisa membuat orang tuanya bangga padanya.


Anak gemuk yang dulu dibully seakan tidak bermasa depan kini menjadi salah satu prajurit kebanggan bangsa dengan prestasi yang bisa bersaing dengan tentara lain.


Saat bertemu kembali dengan sobat kental masa kecilnya di Akmil, dan dia cukup kesulitan menghadapi setiap pelatihan, khususnya Pelatihn fisik karena tubuhnya yang lebih bongsor daripada yang lain. Zayin lah yang membantunya hingga dia lolos.


Dia lolos penyeleksian Akmil karena prestasi akademiknya, meski masih jauh di bawah Zayin yang merupakan peserta dengan nilai akademik sempurna diangkatannya.


Begitupun halnya dengan William anak bangsa yang berdarah Tionghoa-betawai yang berperawakan oriental kental yang awalnya cukup kesulitan karena lirikan ganjil dari peserta lain akan perbedaan visualnya, sempat membuat dirinya insecure berat, dan Zayin lah yang merangkulnya dengan alasan.


* Bhinneka tunggal Ika "


" Kalau sekali lagi ada yang melakukan diskriminasi terhadap William, teman gue diperlakukan seakan dia alien yang turun dari hutan angkasa karena matanya yang kecil dan kulitnya seputih dan sehalus artis Korea kesasar, kalian berhadapan dengan gue, kita sparing!"


Ucapnya lantang dihadapan para prajurit dan senior, dan hal itu dia buktikan, sehingga dia dipanggil para pelatih karena berantem kala ada seseorang yang sengaja menjegal kaki Wiiliam hingga terjatuh.


Zayin langsung menghajar orang itu hingga sang pelaku pingsan, dan dia dihukum berendam di kecomberan ditengah siang bolong dengan raut wajah santainya.


Dan banyak cerita lain yang mengharukan bagi mereka berdua.


Kejeniusan, idealisme terhadap Pancasila, dan tubuhnya yang yang terlatih selalu menjadikan dia keluar dengan nilai sempurna disetiap kenaikan pangkat dalam waktu yang singkat maka seringkali dia diikutsertakan dalam misi rahasia yang tidak diakui negara, tetapi diakui para jenderal TNI.


" Kalian laksanakan. Begitu kalian mendapatkan posisi pasti dia, kita beraksi."


" Sip, serahkan kepada kita." Seru William.


Derrt...derrt...


" Oke gue cabut. Adgar bilang gue bisa show time sekarang."


Zayin beranjak," mang, yang bayar si sipit ini ya..."


" Kebiasaan Lo, makan gue yang bayar." Gerutu William.


" Ya Allah Wil, shadaqah ke anak yatim piatu supaya rejeki Lo berkah."Ujarnya sebelum berlari menuju g dung sekolah.


" Lo yatim-piatu juga kaya, dodol." Teriak William ke punggung Zayin yang menjauh.


" Sudah sih, terima nasib. Sekalian gue juga ya." Bayu menyengir kuda.


" Ish, gue berteman orang yang jiwa fakir l."


" Sumpah, dompet gue gak kebawa, salahin si Zayin yang mendadak manggil."


" Alasan." Ditaruhnya duit selembar warna merah diselipan gelas kopinya lalu berlalu dari sana menunggangi motor sportnya melaksanakan tugas dari sang sahabat.


Pukul 09.30 WIB Terdengar informasi dari audio sekolah yang terdapat di masing-masing kelas.


" Untuk seluruh siswa-siswi Binaku Bangsa, saat ini waktu kosong, karena para guru diwajibkan rapat, tetapi dilarang untuk pulang sebelum jam 12.00"


" Horeee, kantin kuy."


" Ngeceng ah..."


" Lanjut ngapel gebetan di kelas sebelah dong..."


Pengumuman langsung yang dikeluarkan oleh ketua yayasan disambut meriah oleh siswa-siswi.


" Gar, serius ini kebijakan yang bajik?" Julia memastikan setelah men-off-kan speaker.


" Pasti, ma! Ini salah satu cara kita mendukung Zayin setelah dia dikecewakan oleh Tante Hanna." Kata Adgar, yang sejak kedatangannya ke sekolah langsung menghadap Ibunya di kantor yayasan.


" Semoga tidak ada drama yang menyebalkan."


Adgar meringis," kalau untuk itu aku gak janji, tapi apapun yang terjadi ini bukan apa-apa dibanding mereka yang berulangkali sudah menyelamatkan Cassy ."


Diingatkan akan hal itu, Julia pun termangu, lalu ia mengangguk setuju.

__ADS_1


Ayunda dan dua sahabatnya menghabiskan jam kosong mereka di kantin seperti murid lainnya.


Sedangkan Jessica duduk di pinggir lapangan menyaksikan Zayin yang sedang bermain basket dengan para siswa.


" Woy, l0nt3 gila. Sono Lo pergi, ini tempat orang waras." Hardik Nufus, musuh Jessica.


" Lo yang l0nt3." Balasa keras Jessica.


" Dih gak ngaku, mainannya sama om jompo, gak ada hot Daddy yang mau make Lo ya!" 


" Jaga mulut lo, pergi Lo dari sini."


" Lo yang pergi malu-maluin nama sekolah, b1tch."


"Berani Lo bilang gue l0nt3, b1tch sama gue." Jessica hendak menjambak, namun urung.


" Jessica." Tegur Mela, sang sekretaris yayasan. Dia merobek kertas di punggung jessica.


" Bisa kamu jelaskan apa maksud tulisan ini?"


Mata Jessica membesar membaca  kertas yang ditulis dengan rapih yang bertulis.


" Awas minggir, ratu j4l4ng junior yang belum mandi sebulan yang semalam habis nges3x sama lelaki jompo berpenyakit4n kelamin mau lewat. Yang merobek kertas ini berarti teman ng3lont3 gue!!!"


Wajah syoknya tidak bisa lagi menyembunyikan rasa malunya, hanya satu nama yang terpatri di otaknya, nama yang dia benci saat ini.


Dengan wajah memerah karena marah, Jessica menuju kantin, dia menggebrak meja yang diisi Ayunda dan dua sahabatnya.


Para anak genk BIBA langsung pasang badan mengamankan tiga gadis itu di punggung mereka.


" Minggir, gue mau narik mulut perempuan tidak tahu malu ini." Jessica mendorong tubuh Genk BIBA yang sedikit pun tidak goyah.


" Lo apa-apaan sih, n3n3k haus belaian?" Nyolot Caitlyn.


" Diam Lo." Tangan Jessica mengambil mangkuk berisi soto panas yang belum sempat dimakan oleh catlyn.


Dia melempar kuah panas itu ke arah Ayunda, namun dalam secepat kilat kuah itu berbalik arah menumpahi badan bagian depannya.


Sontak dia menjerit kepanasan sekaligus terkejut akan perubahan arah tumpahan soto yang tidak mendapat bantuan dari siapapun termasuk sang pelaku. Zayin.


Jessica masih terus berteriak, penghuni kantin masih bergeming, dengan entengnya Zayin menyemburka dia dengan air dari ember bekas pel lantai kantin yang membasahi seluruh tubuh jessica.


" WHAT..." pekik Jessica.


Matanya membeliak saat tahu siap yang melakukannya," Mas..." Rajuknya.


Riak Zayin seketika garang." Najis gue jadi mas Lo. Gue ini crushnya my lovely Ayunda, gadis baik-baik, harum strawberry, halus, bersih yang pasti masih perawan!" Tekannya pada kata terakhir.


Kata-kata yang membuat para murid menganga tidak percaya akan kesadis4nnya.


" Kalian berani melawan aku? Akan ku adukan kepada papaku, dan kalian semua akan diberhentikan dari sini." Telunjuknya mengarah ke Genk BIBA.


Ayunda keluar dari tempat persembunyiannya, dia menghadap langsung Jessica.


" Sebelum Lo melaksanakan omongan Lo, keluarga Lo yang terlebih dahulu mampvs. Lo gak lupa kan siapa gue, Birawa, gue seorang Birawa. Kalau cuma menghabisi keluarga Lo, itu hanya semudah menjentikkan tangan."


Ayunda menelpon ayahnya, mengatakan apa yang dia mau ayahnya lakukan kepada seluruh keluarga Jessica, menjelaskan alasannya.


Dengan gestur pongah Ayunda tersenyum smirk setelah mendengar ucapan ayahnya.


" Lo end. Habis!" Ancamnya dingin. Setelah menutup sambungan ponselnya.


Telunjuknya menekan dada  Jessica, " selama ini gue diam melihat ulah norak Lo yang suka bully, lo hanya hama, dan gue sang princess pantang berurusan dengan hama yang ternyata harus gue yang basmi."


" Apa yang Lo dapatkan hari ini, itu bayarabn kontan dari gue buat Lo atas owrbuatan Lo kemarin. Lo berulah kembali, hidup Lo taruhannya."


Aura dingin yang dipancarkan Ayunda yang selama ini dikenal sosok periang nan imut, dan lucu mengagetkan penghuni sekolah, dan cukup meresahkan khususnya yang kemarin turut membullynya.


Tubuh jessica seketika gemetar, dia tahu siapa Birawa, berulangkali ayahnya memperingatinya untuk tidak bermasalah dengan pewaris Birawa itu, tetapi dia abaikan.


Jessica demi mempertahankan harga dirinya tertawa culas." Yeah, gu akui Lo cantik dan sultan, tapi untuk apa jika itu semua tidak mempan pada Ibnu, yang menolak Lo. Padahal Lo sudah mengakuinya, bagaimana rasanya ditolak di depan umum?"


Wajah Ayunda memucat pias, rasa malu melingkupinya akan kebodohan dia.


Sepasang mata memperhatikan adegan itu dalam diam, namun mengamati, pengamatannya lebih fokus pada lelaki lebih dewasa tampan di sana.


Mela melangkah mendekati Zayin untuk mengalihkan pandangan murid dari Jessica. Setelah berjarak dua meter,


" Zayin."


Panggilan yang tidak dihiraukan oleh Zayin yang memilih merangkul, dan mengecupi kepala Ayunda dengan sayang.


" Orang yang mengajak pulang si Mela kudis, kurap, jelek itu bukan bang Ibnu, tapi cewek itu sendiri yang minta paksa. Bahkan dia sendiri yang merekamnya." 


Zayin menatap tajam Mela yang berdiri mematung dengan tubuh menegang.


" Kasihan ya, dari jaman sekolah sampai sekarang dia ingin populer, tapi selalu gagal. Ya gak mungkinlah wajah jelek, tubuh kurus, kulit bulik semua itu bersumber dari hati dia yang jahat, yang selalu dengki pada orang lain!" Tatapan tajam Zayin pada semua orang membuat mereka bahkan tidak berani bernafas apalagi bergerak.


Zayin melangkah mendekati Mela, " gue gak tahu kenapa Lo ganggu Ayu. dari dulu, Lo hanya Upik abu. Meski bokap Lo kaya raya, Lo tetap Upik abu yang gak bakalan berubah menjadi Cinderella, bukan karena tampang Lo yang dibawah standar, tapi atitude lo yang sedari dulu minus. Kasihan, hanya untuk minta anter pulang saja harus memohon, beda yang dengan wanita yang cantik, terutama hatinya pasti banyak para pria yang berebut mengantar seperti Bella!?" Retoriknya yang diucapkan dengan riak culas level 30.


Zayin mengulurkan tangannya pada Ayunda." Sayang, kita habiskan jam kosong ini sambil makan pizza di taman, bagaimana?"


Ayunda, sang pencinta makananan mengangguk cepat.


Dibawah penjagaan Genk BIBA mereka berlalu meninggalkan kantin Diiringi suara notifikasi di masing-masing ponsel murid.


Dalam hitungan detik, berita tentang Jessica yang keluar masuk club, bermain m3svm bahkan adegan intim dengan pria berumur yang diblur dengan menyisakan suara *******, saat mabvk, membully para siswi menyebar diponsel penghuni sekolah.


Tidak lama kemudian berita tentang Jessica dimalam Ibnu mengantarnya pulang atas desakannya, saat sekolah SMA dulu yang selalu bersedia menjadi kacung para siswi most wanted agar eksis, namun gagal karena visualnya yang tidak mendukung.


Julia dan adgar melihat tontonan itu melalui komputer yang terhubung dengan cctv, Julia menutup wajahnya dengan kedua tangan-nya.


Ia tidak menyangka ada murid dari sekolahnya yang melakukan tindakan asusila sedemikan rupa.


" Mama tidak menyangka sekolah kita kecolongan."


 Sebenarnya praktek itu sudah ada sejak bang Akbar sekolah  di sini, tetapi bisa tangani atas kerjasama dengan bang Bara selaku ketua Genk yang langsung menindak setiap ada murid yang melakukan kegiatan yang bisa merusak nama sekolah."


" Lantas kenapa hal ini bisa terjadi sekarang?"


" Karena sekarang sekolah bisa diintervensi oleh wali murid, mungkin mama harus menginvestigasi kepala sekolah, bagaimana pun semua putusan di sekolah harus atas persetujuannya." Tutur Adgar.


Julia mengangguk," akan mama pikirkan usulanmu, jika terbukti pelanggaran, harus dari keluarga Hartadraja yang menjadi kepala sekolah." Tegas Julia.


Adgar tertawa kecil menyikapi keputusan ibunya, ia memeluk ibunya dengan lembut.


" Sekarang kita ke ruang rapat, para staf sudah lama menunggu."


" Abang, apa ini tidak keterlaluan?"


" Kenapa tidak, sanksi sosial jauh lebih efektif untuk orang seperti mereka, itu harga bagi orang yang jahat."


" Tapi nama sekolah akan tercemar?"


" Baik untuk mereka, mengevalusi kembali sistem pendidikannya." Jawab Zayin santai yang tanpa beban.


Sesekali notifikasi dari ponselnya berbunyi saat melihat bilah pemberitahuan, bibirnya mengulum senang.

__ADS_1


Suasana sekolah heboh, para murid berucap lantang mengomentari video ke muka Jessica dan Mela yang berjalan tertunduk beriringan menuju kantor kepala sekolah.


" Sekarang giliran Sandra Atma Madina." gumam Zayin...


__ADS_2