
BRAK!!!!
Jimmy berdiri menggebrak meja keras
" Jadi Lo udah tahu siapa dia dari lama?" Selidik Jimmy.
" Tepatnya setelah kita pasang kamera bola lewat Santoso senior itu, kan gue pantengin terus. Lo yang sekilas aja ngeh siapa dia, apalagi gue yang berhadapan sama dia." Ujar Mumtaz.
" Satu kamera dipasang dikantor mereka masing-masing, butuh waktu bagi gue mengenali mereka."
Mereka berenam saat ini di ruang konferensi guna meyelesaikan kasusTia dan mengidentifikasi identitas tamara.
Di depan mereka masing-masing laptop yang menyala siap membeberkan hasil pencarian mereka. Saat ini Di layar terpampang dua wajah pria dewasa yang telah ditemukan riwayat hidup dan sepak terjang Rudi Aloya, yang memiliki codet pipi di pipi kanan dan dua gigi besi beserta Victor Rafael
" Kok gak bilang kita?"" Tanya Daniel mematung
" Gimana mau bilang, gue tahu kalian belum sembuh dari kejadian itu."
Menurut Lo, mereka pelaku sekaligus otak penculikan bukan?"
" Lihat akun Lo, udah gue bagi.Menurut gue bukan, waktu itu mereka masih berprofesi sebagai penjaga club." Mereka membaca hasil pencarian Mumtaz, setelahnya termenung sambil menatap layar
" Ini." Zayin melempar beberapa lembar foto Tia dan Samuel beserta copiannya ke atas meja yang berhasil membuat mereka terperanjat kaget.
" Lo berhasil juga." Ujar Bara mengambil foto tersebut
" Gampang itu mah, rekaman cctv kalian juga yang ngebantu." Ujar Zayin
" Jadi dia gak punya modal mengancam Tia lagi? Jimmy memastikan.
Zayin menggeleng " semua clear, Tinggal tunggu langkah apa yang dilakukan tu cewek kepada Tia."
" Sekarang soal Tamara, gue udah menyimpan beberapa rekaman cctv lama milik BIBA mengenai Tanura. Nu, kasih lihat." Ujar Mumtaz
Di layar sedang diputar masa sekolah Tanura baik di koridor, kelas, kantin, dengan berbagai gerak ciri khas Tanura yang mengibaskan rambut, lenggok pinggul, bicara, sampai langkah jalan.
Ibnu mempause sewaktu Tanura mengibaskan rambut
" ciri utama kibasan rambut dia adalah gerak jarinya yang mana jari telunjuk akan berdiri sendiri dengan jempol dan jari tengah yang menggerakkan rambut." Terang Ibnu.
Ibnu juga menyandingkan gambar Tamara dan Tanura.
" Siapa yang bakal ngikutin Tamara?" Tanya Daniel.
" Lo, aja Yin. Kan dia gak kenal Lo."
" Idih, aneh amat gue ngintilin dia tiba-tiba." Ucap Zayin.
Jimmy berdiri di depan podium yang biasa digunakan kala mempresentasikan penemuan baru," Perhatian semua, di tangan gue yang kalian bisa lihat di layar."
Jimmy memegang sebuah benda yang seukuran penghapus pensil persegi panjang.
" Prototipe kamera pengintai baru yang berjarak jauh, Gue beri nama kamera ini bunglon, karena kamera ini akan berubah warna permukaannya sesuai permukaan benda ditempelinya. Seperti terlihat di layar, gue letak kamera di tas selempang Tia yang warna hijau, dan kamera gue berubah menjadi warna senada, begitu pun dengan warna yang lainnya.
" Tangkapan kamera mencapai sekitar dua- tiga kilometer jarak pandang lurus dan ketajaman layar sama dengan kamera fotografer profesional. Yang membedakan kamera ini akan mengikuti gerak tangkapan objek yang sudah di tentukan terlebih dahulu. Dia mampu merekam tiga objek sekaligus secara terpisah jika di posisikan di tempat terbuka dan luas.
" Gue peruntukan kamera ini untuk mengintai dan pemburuan guna kewaspadaan diri."
" Cara kerja?" Tanya Ibnu.
" Lo tinggal memindai objek yang ditentukan lewat suhu tubuh dan gerak, artinya jika salah satu elemen atau kedua nya itu tertangkap memori kamera, maka kamera akan memutar mencari dan mengikuti objek tersebut."
" Meski dia tidak bergerak?"
" Yap, jadi jarak jangkau yang jauh dapat menggunakan elemen gerak, dan jangkauan pendek menggunakan suhu tubuh.
" Berapa jarak minimal pemindaian suhu tubuhnya?"
" Sekitar satu kilo meter, itu batas memindai suhu. Dan kamera akan mendekati objek tersebut. informasi utamanya dia mampu menangkap jenis jaringan dua lapis permukaan kulit teratas."
" Jadi dengan kata lain ini serupa dengan penentuan DNA? Tanya Daniel
" bisa jadi, sekarang gue akan menyatukan foto Tamara dengan foto Tanura dari gerak tubuh, dan aringan permukaan kulit. kita akan tahu kecocokan mereka apakah mereka satu orang yang sama atau beda."
" Anjir, Lo kenapa gak masuk kedokteran, bang." Ujar Zayin.
" Terlalu gampang." Para sahabat mencemooh Jimmy. Padahal itu karena dia takut darah.
" Ini ada pesan dari Brian, dia ada di bawah suruh ke sini jangan!?" Ucap Ibnu.
" Suruh ke sini aja." Ujar Jimmy.
Tak lama Brian , Erros, dan Dennis memasuki ruangan.
" Weh, ada apa gerangan para bos resto mewah di mari?" Ujar Bara.
Erros mengedikan bahu, mereka duduk di kursi yang masih kosong. tatapannya mengarah ke layar sambil mengernyit bingung.
" Kalian kenal Tanura?" Mumtaz dan para sahabat saling pandang bingung.
Yang mana Tanura? Tanya Daniel.
" Itu sebelah kiri yang rambut panjang."
Mereka terbelalak terkejut, pasalnya gambar yang ditunjuk Erros adalah gambar Tamara.
" Lo kenal, dia bang?" Tanya Jimmy.
" Gak langsung. Dia hostess teman gue, dia Mega bintang club d'flowles.
Mereka tambah terkejut, Mumtaz dalam diamnya meretas club d'flowless.
" Yakin, Lo?"
" Gue ke sini mau ngasih tahu kalian," Brian melempar ponselnya ke atas meja besar itu
Mereka bergiliran mengamati gambar hasil tangkapan Brian secara bergantian
" Ni, udah. mengenai profil club bisa kalian baca di akun masing-masing." ucap Mumtaz.
" Kapan Lo ambil?" Tanya Ibnu
" Kemarin lusa." Jawab Brian.
Seketika di layar terpampang rekaman cctv di hari berkunjung Brian.
Di sana terlihat suasana club yang temaram dengan berbagai pasangan mesum.
" Astagfirullah, berapa kecebong yang berenang sia-sia." Ujar Jimmy.
Kemudian muncul lah video seorang wanita yang sedang duduk dipangkuan seorang pria tua yang pantas menjadi kakeknya. Ibnu mempause bagian gambar itu, dia memotong gambar seluruh tubuh terduga Tanura, dan menyandingkannya pada gambar Tamara yang didapat dari cctv fakultas ekonomi, Dan dipindai.
Setiap orang dalam ruangan terhentak terkejut dengan hasil pemindaian alat mereka yang menyatakan kecocokan 95%
" Bisa dijelaskan yang disamping Tanura siapa? Apakah kembarannya?" Tanya Erros
Mereka menggeleng.
" Mereka satu orang, perempuan yang disebelah kiri adalah Tamara, mahasiswa UAM semester tujuh fakultas ekonomi. Orangnya terkenal baik, lembut, sopan. pokoknya isteriable." Terang Ibnu.
" Anjim, gue ngeri euy. Gue yakin sih kalo gue mau nikah gue bawa calon gue ke sini dulu orangnya buat dipindai." Ujar Brian.
Terdengar suara bip pertanda alat pemindaian Jimmy telah selesai memindai, Dan hasilnya membuat mereka terhenyak kaget lagi, kecocokan dua gambar itu 85%.
" Yang kita butuhkan hanya DNA nya, kalo bisa darah, Bar." Ujar Daniel. Bara bergeming tanpa ekspresi.
" Lo, masih punya rambut Tanura yang Lo simpen di drone Lo, Niel?" Tanya Ibnu.
" Kagak ada, si Jimmy yang bongkar."
Mereka menatap bertanya Jimmy, yang dijawab lewat Kedikan bahu yang membuat Daniel melempar kertas kesal
" Coba aja Lo cari di bagian sparepart bekas." Jawab enteng Jimmy.
__ADS_1
" Gue udah hubungi Akbar terkait Tanura, kata Akbar main aja ke rumahnya siapa tahu dia gudang dia masih ada barang Tanura." Ucap Mumtaz.
" Kapan bisanya?" Tanya Jimmy.
" Kapan aja, tergantung kita."
" Mending santai aja dulu, kita kan mau semesteran ditambah persiapan Pema. Sementara kita cari identitas sebenarnya Tamara di dinding DPO." ujar Daniel. Yang disetujui oleh yang lain.
Erros dan Dennis yang pertama kali melihat cara kerja pendiri RaHasiYa terkesima. Betapa Cepatnya semua terpecahkan.
" Maaf, gak maksud nyuekin. Ini om Dennis kan? Tanya Ibnu.
Dennis mengangguk, " panggil abang aja, berasa tua."
" Tumbenan main sama Brian, sejak kapan circle hidup Lo mencakup bos resto mewah, Yan? Sarkas Bara yang mendapat decakan dari Brian.
Dennis menghela nafas berat, tanpa kata dia membagi masing-masing orang satu buntel dokumen perusahaannya.
" Perusahaan gue kena retas, dan gue gak tahu siapa yang meretas. Semua hasil penemuan resep makanan di tiru Navvaro's Restauran, itu nama besar, dan mereka selalu lebih dulu mengeluarkannya, jadi restauran gue gak bisa ngeluarin itu menu..."
Selagi Dennis menerangkan permasalahannya, mereka berempat sibuk dengan masing-masing laptopnya.
" Ini," Mumtaz memperlihatkan sesuatu di laptopnya kepada Dennis.
Mata Dennis membulat," ini...,"
" Resep rahasia punya mereka, kakak tinggal modif atau ambil saja, terserah, toh di Indonesia nama mereka masih belum akrab."
" Kalian meretas mereka?" Tanya Erros, Mereka menggeleng.
" Ini masakan Italia legend loh?" Ujar Dennis, Mereka mengedikan bahu.
" Kakak, jangan buang waktu ngomongin resep ke mereka, mereka gak bakal mau pusing." Ujar Zayin.
" Thanx, gue bakal kasih tahu kakak gue. Sebenarnya dia sih chef-nya, gue cuma bagian manajemennya doang."
" Btw, mengenai peretasan resep restauran gue...,"
" Yang meretas mereka menggunakan jasa hacker Italia, dari jejak IT nya mereka sengaja mencuri resep itu mengingat hanya resep saja yang mereka ambil." Terang Ibnu.
" Apa mereka sebelumnya pernah menawarkan kolab sama restauran, Lo?" Tanya Bara
Dennis mengangguk " tapi kakak gue nolak, kata kakak gue Navarro di dunia perkulineran Italia terkenal perusahaan licik, tapi belum ada yang bisa membuktikannya."
" Secara digital kita udah hapus seluruh hasil pencurian mereka serta jejaknya, semua clear." Ucap Ibnu.
" Tinggal ambil dokumen fisiknya doang ni. Niel, Lo lagi ujicoba robot penghancur dan pengintai operasi militer dan drone pengangkut Lo kan? Kenapa gak sekarang" ujar Jimmy.
" Kan tinggal lihat lewat cctv mereka aja dimana letak dokumen itu disimpan, Jim!?"
" Lo mau ujicoba gak?"
" Issh, iya. Gue males kalo ujicoba medannya gampil."
Daniel mengutak-atik tabsnya, tak berapa lama di layar drone berbentuk pesawat mainan menuju suatu gedung pencakar langit menuju lantai teratas, pesawat itu berhenti dan membuka pintu utama bagasi. Muncullah robot berbentuk hewan dengan berbagai ukuran.
Hewan yang agak besar lebih dulu terbang diikuti hewan yang terkecil dan terakhir hewan agak besar, tak lama muncul gambar kantor CEO Navarro cabang Indonesia.
Robot tersebut berpencar mencari objek berupa tulisan dengan sandi Emma Hendrawan, Dennis Hendrawan, dan Hendrawan restauran yang sebelumnya sudah Daniel atur dalam memori robot tersebut.
Butuh waktu lima belas menit bagi para robot itu mengetahui letak dokumen fisik resep itu. Yang ternyata di simpan dalam brankas besi berdasarkan jejak bau objek yang dikirim lewat indera sensorik robot.
Tak lama masuk seseorang yang dikenal sebagai CEO, dia duduk di kursi kebesaran dan membuka brankar besi tersebut guna menyimpan berkas lainnya.
Kala pintu brankar terbuka robot penghancur yang terkecil dengan gesit masuk brankar tersebut, sedangkan robot yang lain seolah berjaga di sekeliling brankar guna memindai dan mensensor tulisan isi dari brankar tersebut lewat sinyal antar jarak perlembar kertas, dan muncul lah seluruh laporan isi dokumen dari brankar tersebut. Di layar besar itu.
Ternyata tak hanya Hendrawan restauran yang mereka curi rahasianya, tetapi beberapa restauran dan bidang usaha lainnya.
Ibnu dan Mumtaz menyimpan segala informasi dari robot tersebut kedalam database mereka.
Pintu brankar ditutup oleh sang CEO, kemudian sang CEO keluar ruangan. Lima menit setelah CEO keluar keluar asap dari brankar tersebut.
Setelah nya para robot pengintai dan penghancur lainnya kembali ke drone pengangkut, dan terbang meninggalkan lokasi.
Suara helaan nafas lega terdengar dalam ruangan konferensi tersebut."
Daniel berjingkrak-jingkrak dan tertawa puas dengan kinerja produk baru RaHasiYa
" Alhamdulillah." Ucap mereka serempak.
" CEO itu besoknya hanya akan melihat debu di dalam brankar tersebut, tanpa jejak bahan peledak." Ujar Daniel meyakinkan.
" Nu, cctv kantor udah Lo beresin?" Tanya Jimmy.
Ibnu mengangkat jari jempolnya.
" Muy, nasib isi dokumen yang tadi ada dalam brankar?"
" Aman"
Erros dan Dennis mengamati kinerja mereka tanpa berkedip dengan mulut terbuka takjub.
" Itu, bagaimana..."
" Jangan tanya bang, gue aja yang ahli matematika dan fisika dengerin penjelasan salah satu produk yang lumayan sederhana dibanding yang tadi cukup pusing, apalagi Abang anak IPS itu diluar nalar." Jelas Zayin.
" Oke, seharusnya permasalahan pencurian resep selesai." Ucap Jimmy.
" Bagaimana cara gue bayar kalian? Terus terang saat ini perusahaan sedang defisit." Ucap Dennis tidak enak hati
" Jangan dipikirkan, Abang temannya kak Edel, berarti teman kita. Kita gak ambil biaya untuk teman kecuali memang berniat jalin kerja sama bisnis." Ucap Jimmy yang diangguki oleh yang lain.
" Tapi, kalau Abang memaksa cukup gratiskan aja setiap kali kita makan di restauran Abang selama setahun." Ujar Daniel nyengir yang juga diangguki yang lain.
Dennis tertawa kecil " siip, mampir aja semua kalau ada waktu kapan saja, di cabang mana saja."
Dennis bernafas lega sambil tersenyum, dia sungguh tak percaya permasalah perusahaannya yang berlarut-larut dapat terpecahkan dalam sekejap oleh RaHasiYa.
Erros menepuk-nepuk pundak Dennis, " apa gue bilang, bagi mereka gak semua soal duit. Lo bakal ngerasain masih ada kebaikan dalam dunia kapitalis ini, kita hidup di negara Pancasila." Dennis mengangguk-anggukan kepala
"AAAAAA...!!!"
Mendengar jeritan Tia para pria bergegas lari menghampiri Tia dan para sahabatnya yang mematung ditengah-tengah pintu utama masuk dengan siraman kertas-kertas kecil berwarna-warni dan kertas panjang yang terdapat tulisan 'maukah kau menjadi isteriku?'
Jimmy sambil tersenyum melangkah pasti menuju Tia melewati para sahabatnya, dihadapan Tia dia merogoh sebuah cincin bertahtakan berlian kecil kemudian dia berjongkok dengan bertumpu pada satu kaki
" Maryatul Qibtiah, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, dengan segala tekad ku untuk membahagiakanmu dalam moment ini aku meminta padamu maukah kau menjadi istriku, ibu dari anak-anakku?
Tia yang sudah menangis mengangguk " iya, aku mau."
Jimmy menyematkan cincin di jari manis Tia." Terima kasih, sayang" ucapnya mencium pucuk kepala Tia yang terhalang jilbab.
"Aaaaa,.....so sweet" seru Cassandra
Ini maksudnya apa ya?" sarkas Zayin.
" Mau pamer." Sinis Daniel
" Kalah lagi Lo ya, ck...ck..." ibnu menggeleng-gelengkan kepala menyindir Daniel.
"A, Lo diam aja gitu adik bungsu dilamar?" Bisik Zayin.
Mumtaz memandang Zayin, Lo belum ikhlas Tia mau nikah?, Lo cemburu?" Tanya balik Mumtaz
Wajah Zayin menekuk sendu," bukannya dia masih kecil ya, baru 20 tahun, loh."
" 21." Zayin mendelik sebal ke arah kakaknya
" Ini rapatnya udahan belum, kalau udahan, kita pulang." Sarkas Daniel menarik Dista.
" Zayin, antar Tia pulang." Titah Mumtaz
" Eh, biar gue yang antar. Kan Tia calon isteri gue." Ujar Jimmy.
__ADS_1
" Baru calon, belum isteri. Makin dekat dengan kebaikan yang besar, godaan makin besar. Kemarin yang ngegoda kalian masih setan, sekarang mungkin iblis yang maju. Yin, antar Tia pulang." Tegas Mumtaz.
" Terus Lo balik bareng Lia?" Selidik Jimmy.
" Iya, kenapa? Mau ikut Lo?"ucapan tak terbantahkan dari Mumtaz yang tidak bisa di balas oleh Jimmy.
" Sisilia, ayo kita shalat ashar dulu baru pulang." mereka semua menuju musahala kantor
Ibnu yang berjalan berdampingan dn gan Mumtaz berbisik" apa tujuan Lo memberi resep rahasia Navarro?"
Mumtaz mengedikan bahu." Lo cari sendiri."
***
Butik Sandra
" Terima kasih ya jeng, sudah menyerahkan wardrobe agensinya ke butik ini." Ujar mamy sambil berjabat tangan dengan kliennya.
" Ma, apa sudah selesai?" Tanya seorang gadis menghampiri mereka."
" Sudah, Dinda."
Mamy Sandra mengamati gadis cantik yang menyalaminya " jeng Alice, ini siapa?"
" Oh, perkenalkan ini Puteri saya, Adinda." Ujar Tante Alice Miranda
" Duh, cantiknya, sopan lagi." Sorak mamy Sandra.
" Masih sekolah atau kuliah?"
" Saya kuliah di universitas Atma Madina, Tante."
" Whoaaa, kebetulan sekali. Putera saya juga kuliah di sana, kapan-kapan kalian bertemu siapa tahu cocok."
Adinda tertawa mempesona " saya senang kalau bisa berteman dengan putera Tante."
Mami Sandra mengangguk-anggukan kepala seraya tersenyum
****
Kediaman Pradapta
Kini Mumtaz duduk di ruang tamu nan luas, selagi menunggu kak Dominiaz turun Mumtaz dijamu Mommy dan Daddy. Sedangkan Sisilia pergi ke kamar guna membersihkan diri.
Mommy duduk di samping Mumtaz " Senang deh lihat Lia pulang dianter kamu, jadi berasa punya calon mantu beneran." Tutur mommy, Mumtaz tersenyum saja.
Tiba-tiba mommy menggenggam tangan dan mengusap-usap pelan " Lia begitu menyukai mu, setiap harinya sejak SMP sepulang sekolah hanya bercerita tentang kamu. Dia menangis kala kamu berpacaran, dia senang kala kamu sendiri. Tolong jaga dia, jangan sia-siakan perasaannya."
Mumtaz mengangguk " terima kasih atas restu om dan Tante, sebisa mungkin saya selalu ada buat Sisilia."
" Mommy sedang apa?" Dominiaz memasuki ruang tamu di temani seorang wanita manis
" Ih kamu, ganggu melulu." Mommy melepas genggaman tangannya.
" Kalau Lia lihat, mommy bakal dimarahi Lia, loh."
" Eh iya, kamu jangan bilang Lia."
" Bilang apa?" Lia memasuki ruang tamu dengan senyum senang.
" Enggak apa-apa." Serempak anak dan mommy menjawab, Daddy hanya menggeleng kepala geli.
Sisilia cemberut, dia tahu mommy dan kakaknya menyembunyikan sesuatu darinya. Sisilia mengambil duduk di samping daddynya, Mumtaz tertawa kecil melihatnya.
" Maaf, Mumtaz. Saya meminta kamu Main kesini ditengah kesibukan kamu."
" Justru saya yang minta maaf, belum sempat mampir, kak."
" Saya meminta kamu kesini mau mengganti motor kamu yang rusak akibat menolong saya." Ucap Dominiaz.
Mumtaz menggeleng " tak perlu ganti, kak."
Setelah melalui perdebatan panjang antara keluarga Sisilia dan Mumtaz, akhirnya dipilih lah motor honda PCX keluaran terbaru diantara motor-motor baru lainnya yang sudah bertengger di garasi besar Pradapta.
" Kalau begitu, saya permisi pulang dulu Tante, om, dan kakak. Udah sore."
" Gak makan malam di sini dulu." Ujar mommy.
" Maaf, belum bisa Tante. Mama udah kirim pesan supaya cepat pulang."
" untuk motornya, saya titip motornya dulu nanti saya dan teman main lagi kesini." Mumtaz beranjak ke motornya.
Sewaktu Mumtaz hendak menstarter motornya mommy berucap.
" Sil, dari tadi mommy perhatikan berasa ada yang beda dari kamu?"
Mereka spontan memerhatikan Sisilia dari atas sampai bawah.
" Apa sih, ma. Gak ada kok, biasa saja." Sisilia bergerak-gerak tidak nyaman
" Aaahah, gelang. Kamu pakai gelang baru, dari mana? Perasaan mommy gak pernah beliin kamu gelang lucu begini." Sisilia menarik tangannya yang sedang dipegang mommy-nya.
Sisilia menutupi tangannya dengan lengan bajunya sembari melirik Mumtaz yang di sambut senyuman oleh Mumtaz
Daddy yang melihat interaksi tanpa kata tersebut mengalihkan pembicaraan
" Sudah lah mom, Sisilia juga bisa beli sendiri, dia sudah besar, mom."
***
Kediaman mama Aida.
Pukul 19.30 WIB selepas makan malam anggota keluarga seperti biasa berkumpul di ruang tamu.
" Semua anak memperhatikan mama Aida yang raut wajahnya tanpa ekspresi dan terkesan tidak memperhatikan ucapan mereka.
" Ma, apa ada masalah? tanya kak Ala
Mama menggeleng " apa mama sebaiknya buka coffe shop aja, ya!"
Para anak saling pandang bingung.
" Terus kerjaan mama di butik gimana?"
" Itu sudah di alihkan ke Tante sherly., Jadi mulai besok mama kembali jadi pengantar barang lagi." para anak terkejut
" Pengantar barang bukannya sudah ada tiga, ma?" Tanya Mumtaz
" Iya, tidak mungkin mama mengambil rezeki mereka, makanya mama berpikir untuk buka coffe shop atau semacamnya. Kalian kan tahu kalau mama punya keahlian meracik kopi."
" Terserah mama aja sih, Jangan buru-buru santai aja dulu di rumah sambil mikir mau bikin apa? Ujar Zayin.
" A, apa mama boleh pakai uang kamu buat bikin usaha? Atau mama pinjem aja dulu modalnya ke kamu."
Mumtaz melirik mama tidak senang " pakai aja semau mama, mama yang pegang keuangan Aa, ya bebas terserah mama mau diapain. Uang Aa, uang mama."
" Benar kata Ayin, mama santai aja dulu di rumah. Toh sekarang keuangan keluarga sudah stabil." Lanjut Mumtaz
" Mama kerja bukan karena uang, tapi memanfaatkan waktu saja. Gak enak kalau kalian susah payah cari uang, mama santai ngabisin uang kalian."
" Memang saatnya begitu, ma. Mama tinggal menikmatinya saja, lagian uang Aa juga gak bakalan habis meski mama beli barang branded." Ujar Zayin.
" ya sudah, mama pikirin dulu. besok rencananya mama akan mengajukan resign."
Selama perbincangan Tia menunduk diam sedih, dia pikir ini semua karena hubungan dia dengan Jimmy yang tidak mendapat restu dari mami...
__ADS_1