Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
224. Suasana Hangat.


__ADS_3

Tabs terpasang di meja menayangkan berita terkait sidang Toni yang mengudang perhatian masyarakat, dan pemeriksaan kembali kasus kebakaran 10 tahun yang lalu yang sempat menghebohkan masyarakat di masanya.


Sambil berbaring miring di sofa depan ruang kerja ibnu, Bima menatap tabs tersebut dengan malas. Sesekali pandangannya beralih ke pintu ruang kerja atasannya itu yang sejak tiga hari yang lalu tidak kunjung keluar dari ruangannya kalau bukan pengawasan dari Dewa bahwa Ibnu baik-baik saja mungkin dia sudah kalang kabut.


Untuk membujuk Ibnu makan dan minum saja butuh ancaman kalau mereka akan memanggil Mumtaz kemari.


Ting....


Dimas keluar dari lift dengan membawa nampan berisi makan siang dan dua gelas minuman yang berupa juice dan air mineral.


Menekan sandi pintu lalu bersama Bima, oa memasuki ruangan yang mejanya sudah banyak kertas berserakan, Ibnu masih setia di depan komputernya.


" Makan dulu, bang. Gue dapat titah langsung dari bang Mumuy." Alibi Dimas, kalau bukan itu alasannya Ibnu tidak kan mau makan..


Ibnu sedikit menjauhkan dirinya dari komputer, menggeser kursi menatap ke arah meja yang sudah tidak ada lagi ruang untuk menyimpan nampan.


" Di sofa saja, Nu." Bima membawa nampan itu ke meja sofa.


" Di sini saja, gue lagi nanggung." Tolak Ibnu.


" Di sofa, bang. Ada yang mau gue omongin. Sebentar lagi juga waktu Dzuhur." Mau tidak mau Ibnu bergabung bersama mereka.


" Apa?" 


" Makan dulu, baru bicara."


" Kalian gak makan?"


" Udah." Jawab Bima.


" Lo masih di sini, Bim?" Tanya ibnu ditengah menikmati makanannya.


" Heeh, tugas gue memastikan Lo baik-baik saja."


Untuk beberapa lama tidak ada agi yang bicara, Ibnu makan tanpa obrolan, tapi pikirannya seperti tidak sedang bersama mereka.


" Alhamdulillah, selesai." Ucap Ibnu menyeka bibirnya membersihkan sisa remahan dengan tisue.


" Sekarang apa yang mau Lo omongin, Dim?" tanya Ibnu setelah menenggak air minumnya.


" Kata bang Mumuy, Navarro akan kemari." Dimas mengamati perubahan raut Ibnu.


Ibnu duduk tegak." Ke gedung ini?" Dimas mengangguk.


" Kalau dia bisa." Ibnu meremehkan, ia menyandar diri ke sofa mencoba santai.


" Bisa. Bang Mumuy yang mengudangnya."


" Serius?" Entah mengapa tiba-tiba Ibnu merasakan tubuhnya menegang, ada rasa ketakutan dalam dirinya.


Bima dan Dimas dapat melihat keresahan Ibnu dari kedua tangannya yang bergerak-gerak tidak terarah dalam genggamannya masing-masing.


Ibnu berdiri, berjalan mondar-mandir sambil memijit pelipisnya," Nu, are you okay?" Tanya Bima hati-hati.


" Gue..gak tahu...gue merasa..terancam." Ibnu berlari ke mejanya, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di sana tanpa membuang waktu menelpon Mumtaz.


" Wa'alaikumsalam."


" Muy, hentikan...jangan membawa Navarro kemari." Ucap Ibnu gusar.


" Nu, Lo kenapa?" dia na Mumtaz merasa khawatir dengan Ibnu yang terdengar panik.


" Gue gak tahu, tapi..gue merasa lo bisa mati kalau dia kemari, jadi hentikan, oke?" Bentak Ibnu, wajahnya memerah.


" Nu, calon down. Lo bersama siapa?" Perkataan lembut dari Mumtaz menurunkan kegelisahannya.


" Bima dan Dimas. Ya Tuhan, Muy. Hentikan, please. Gue gak bisa kehilangan lo." Lirih Ibnu, ia tertegun, karena heran kala memegang butiran bening yang luruh menuruni pipi dari matanya.


Menatap buliran itu dengan seksama sambil bertanya karena masih bingung." Gue bahkan nangis, Muy. Please hentikan, kita tidak bisa membiarkan dia mendekati kita, Muy." Erangannya bagai orang tertusuk pedang, sangat memilukan.


" Nu, percaya sama gue. Everything gonna be okay. gue pastiin itu buat Lo, semuanya dalam kontrol gue." Ucap Mumtaz meyakinkan.


" Gimana kalau dia bvnvh Lo?" Ibnu lagi-lagi termenung, entah mengapa kata-kata itu terlontar, padahal dia tidak memikirkannya.


" Dia bahkan tidak akan bisa mendekati gue, Nu."


" Pokoknya Lo harus baik-baik saja."


" Kita semua akan baik-baik saja." 


Klik...


Selepas memutus panggilannya Ibnu luruh di sofa, bicara dengan Mumtaz seakan memakan habis energinya.


Bima dan Dimas melempar pandang, mereka khawatir akan keadaan Ibnu, maka Bima berinisiatif memanggil Radit.




Di ruang kontrol lantai sembilan, Daniel melihat semua apa yang terjadi di ruang kerja Ibnu selama tiga hari ini, termasuk yang baru saja terjadi.



" Dimana Mumtaz akan menempatkan Navarro? Tanyanya pada Dewa.



" Di lantai teratas."



Daniel langsung menoleh pada Dewa dengan raut serius, menatapnya mencari kebohongan yang sayangnya tidak dia dapatkan.



Daniel berdiri lalu berjalan keluar ruangan melakukan beberapa panggilan pada anak buahnya untuk ke lantai teratas, dan tidak lupa dia menelpon Matunda.



Di lantai yang beratap berbentuk kubah yang bisa buka tutup dengan atap bening yang berlapis atap bergambar langit dan awan yang bisa berubah sesuai masanya.



Sinar matahari memancarkan panas menyoroti lantai yang terbuat dari kaca yang memantulkan cahaya ke seluruh ruangan hingga menghasilkan cahaya silau.



Hal ini yang membuat setiap pengunjung harus mengenakan kaca mata hitam meski di malam hari. Karena di lantai ini banyak yang tidak bisa terduga, seperti ada siang di 24 jam nonstop.



" Saya sudah mengirimkan pada kalian detil karakter Navarro, kita tidak butuh banyak perubahan di sini, hanya harus melakukan beberapa inovasi saja untuk berjaga-jaga. Seperti sinar laser yang bisa membakar jarak jauh?" Tanya Daniel pada kepala proyek andalannya, bernama Djiwa.



" Gak masalah."



" Apa besok atau lusa bisa *ready*?"



" Kami akan buat yang terbaik, kami kan langsung menghubungi anda untuk uji coba."



" *Good*, seperti biasa kamu selalu bisa diandalkan." Daniel tersenyum sumringah.



Saat keluar dari ruangan ia mencoba menelpon Dista untuk kesekian kalinya, dan untuk kesekian kalinya telponnya tidak pernah diangkat.



Tepatnya sejak Dista membuang cincin tunangan mereka saat ulang tahunnya dua Minggu yang lalu.



Daniel memijit hidungnya mengusir kegundahannya." **Aku tahu aku tidak bisa dimaafkan, tapi demi masa lalu tidak bisakah kita bicara meski hanya sebentar**?" Tulis Daniel pada pesan yang dia kirim untuk kesekian kalinya yang seperti bisa hanya dibaca saja.



\*\*\*\*\*



" Kenapa Bang Inu?" Tanya Zayin.



Mereka ada di kamar tidur orang tua mereka, kamar yang disepakati hanya ditempati keluarga saja.



Fatio dan Sri yang ditawarkan selaku tertua menolak menempatinya dengan alasan menghormati sosok kedua orang tersebut.



" Gak tahu, Aa mau minta rekaman ruangan ibnu pada Dewa.



" Terus kita lanjut enggak ni?" 



" Lanjutlah, tinggal selangkah lagi kita dapetin dia."



"Tapi kalau keadaan Aa Inu kayak gitu..."



" Itu hanya refleks bawah sadarnya, semoga itu berarti Ibnu sebentar lagi bakal ingat siapa pembvnvh bapak dan ibu, itu lebih baik."



Tok..tok..



Cklek.



Akbar, Adgar, dan Alfaska melenggang masuk sebelum diizinkan.



" Terus gunanya ngetok pintu buat apa kalau kalian masih nyelonong boy." Decak Zayin.



" Basa basi aja. Maklumin aja sih kan udah mendarah daging sebagai keturunan konglomerat diajarin sopan santun." Jawab Adgar berbaring di ranjang.



" Terus mau nagapain..."

__ADS_1



" Kami akan ada di sana saat kalian menemui Navarro. Memang kalian tidak butuh kami, tapi ini bentuk dukungan kami  atas apapun yang kalian lakukan." Jawab Akbar duduk di sofa dengan kaki bertumpu diatas kaki lainnya, elegan khas pengusaha muda seperti biasa.



" Jadi kalau kami di penjara..."



" Kami akan mengumpulkan seluruh pengacara terbaik di dunia sebagai kuasa hukum kalian." Akbar memotong pembicaraan Zayin.



" Lo dititipin Bara buat ngurus kita." Mumtaz belum terbiasa mendapati Akbar peduli pada mereka secara terang-terangan.



" Ck, mana ada. Dia sedang galau tingkat dewa, dan gak mau ngomong sama gue karena gue gak mau ngasih tahu dimana Cassy."



" Kenapa gak Lo kasih tahu?"



" Gue belum lihat nasib si Maura dengan mata gue sendiri. Sedari dulu kalau soal Maura dia cuma gertak sambal doang, lagian gue gak terlalu peduli tentangnya, tapi lebih ke Cassy. cassy belum siap menghadapi yang lain pasca kecelakaan itu." Ucap Akbar muram.



" Kenapa kita ngomongin si tukang selingkuh itu sih?" Kesal Adgar.



" Cie ..yang mau jadi saudara jentel." Ledek Zayin menendang-nendang kaki Adgar.



" Kalau bang Afa di posisi bang Bara Lo mau apa?" Tantang Adgar.



" Gue gantung di dasar laut buat jadi makanan ikan, cuma sisain kupingnya aja gue pajang buat kenang-kenangan." Refleks Alfaska memegang telinganya mendengar omongan Zayin.



" Hahahahah..takut Lo, bang " cibir Adgar yang melihat reaksi Alfaska.



" Sekarang strategi menghadapi Navarro, gimana? Tanya Alfaska mengubah topik.



" Gak gimana-gimana. dia datang, kita haj4r." Sahut Zayin.



Tok...tok...



Dista berdiri diambang pintu sambil memegang kenop pintu.



" Kalian disuruh turun buat makan bareng."



" Okay." Zayin merangkul pundak Dista, berjalan paling belakang ke lantai satu yang ternyata sudah berkumpul semua kecuali mereka.



" Apa Lo belum *move on*?"



" Heuh ternyata gak semudah yang gue pikir, Yin." keluh Dista.



" Berarti pengorbanan melempar cincin berlian itu percuma dong, Coba Lo kasih ke gue kita bisa makan-makan."



" Seriusan Lo bisa makan dari duit yang patah hati?" Dista bertanya tidak percaya.



Zayin mengangguk," bisa lah, *move on* itu butuh energi, kalau bukan dari makanan dan minuman energi itu berasal dari mana lagi?"


.


Dista berdecak sebal dengan komentar yang terkesan tidak peduli dengan perasaannya.



" Yin, habis ini kita ngemall yuk."



" Ayok, tapi Lo bayar sendiri, belanjaan Lo mah bikin gue jual organ tubuh."



Dista terkikik mengingat kejadian saat Tia ditalak Alfaska, mereka berempat menguras tabungan Zayin lebih dari setengahnya.




" Ya iyalah gue minta ganti. Dia yang buat masalah masa gue yang fakir, mana udah nyakitin adik gue. Syukur-syukur gue masih nerima dia jadi ipar, coba kalau kagak auto ceurik ngagaung-gaung dia."



" Ya udah belanja gue yang bayar, tapi makan sama minum Lo, ya."



" Jatah 50rb."



" Astaga Ayin, ih, pelit banget." Dista memukul perut Zayin.



" Eh Markonah, ini kita mau makan, masa iya entar Lo makan lagi, cukup lah beli boba sama kentang goreng."



" Issh sumpah pelitnya gak ketulungan." Dista melepas rangkulan Zayin untuk bergabung dengan yang lain di ruang tengah.



" Jadi gak ni?" Teriak Zayin.



" Jadi lah, daripada gak sama sekali." Jawab Dista manyun.



" Assalamualaikum, mang." Zayin menyalami Haidar dan isterinya. Fajar dan Farah pun menyalaminya.



" Kok datang gak bilang-bilang?" Tanya Haidar.



" Maaf, semalam datangnya, terus sibuk. Tadi bangunnya kesiangan, jadi belum sempat ke rumah mamang."



" Ayo makan yang banyak, Yin." Tawar Rabiah, istri Haidar. Seorang Syarifah.



Sebenarnya makan bersama itu dilakukan dneg suasana hangat penuh keakraban jika Dista dan Zayin tidak saling adu mulut.



" Siap, bi."



" Jadi kemana?" Tanya sherly yang duduk di sebelah Dista.



 " Ngemall. Tapi Ayin pelit banget, Mam.



" Cepu Lo. Gue bukan pelit, tapi peduli masa depan. gue hanya abdi negara, Dista." Sahut Zayin duduk di sebelah Adgar yang duduk disamping Fajar.



 Sherly dan yang lain terkekeh, Sherly paham akan kebiasaan putrinya kalau belanja suka khilaf," Yin, kamu bisa bawa kartu Tante." Tawar Sherly.



" Okay lah kalau begitu." Sahut Zayin bersemangat.



" Gak bisa, dia kan kakaknya Ita, jadi harus traktir Ita." Tolak Dista.



" Marpuah, gimana ceritanya gue jadi kakak Lo, umur gue aja dua tahun lebih muda dari Lo."



" Ini berantem sampe kapan? Bisik Fajar pada Adgar yang terdengar oleh Aryan yang duduk di sebelah Haidar.



" Sampe matahari bersinar di malam hari." Fajar manggut-manggut saja.



" Lo Gimana udah dapet cewek?" Tanya Adgar.



" Pastilah, untuk jadi playboy perlu latihan."


__ADS_1


" Udah dapet apa aja?"



Tak....



" Aawws....sakit..." Ringis Adgar.



Tiba-tiba ada tangan yang menggetok kepala Adgar dengan centong nasi.



Suara geplakan cukup keras membuat atensi yang ada melihat ke si pelaku, Haidar dan keluarga  melongo tidak percaya.   



Pasalnya keluarga Hartadraja hadir semua di sini, namun mereka terkesan biasa saja, bahkan Fatio tertawa melihat debat kecil antara cicitnya dengan Zayin, sepertinya hal ini bukan hal yang baru.



" Jangan samain sepupu gue sama Lo, Gar. Dia playboy cap syar'i." Omel Zayin.



" Lha Abang tahu aku udah punya cewek?" Fajar kaget bukan main.



" Kamu kuliah di UAM, di sana seperempat dari anak UAM itu anak RaHasiYa. Menurut Lo Aa mumuy gak ngawasi Lo yang anak rantauan?" Ungkap Zayin yang membuat Fajar dan keluarga terkejut, namun detik berikutnya Fajar ketar-ketir melirik ayah dan ibunya.



" Jadi..." Fajar gugup.



" Kita tahu kamu sering bolos kuliah cuma buat nganter gebetan kamu." Ucap Mumtaz tenang.



Mumtaz mengelap bibirnya karena telah selesai makan.



" Kalau sekali lagi kamu bolos kuliah untuk perempuan, aku jamin kamu akan mendapatkan tugas dari para dosen kamu dengan maha berat, kebetulan beberapa dosen pernah pake jasa aku untuk bangun rumah mereka, tentu mereka dengan senang hati akan membantu aku memberi tugas buat kamu."



Meski perkataan itu diucapkan dengan santai, namun entah mengapa membuat Fajar bergidik horor.



Sementara Haidar dan Rabiah menatap Mumtaz haru, kini mereka berdua merasa aman membiarkan kedua anak kembarnya merantau di Jakarta.



Akhirnya seusai makan siang bersama mereka ke mall, tidak hanya berdua tetapi berjamaah.



Sisilia dan Tia yang merasa sepaket dengan Dista kekeuh ikut, ditambah drama Adelia yang merasa dirinya butuh healing karena baru putus hati. Kalau Adelia ikut, maka Crystal pun harus turut serta, disertai Fajri yang merengek ikut, maka duo kembarnya pun diseret. Belum lagi titipan para ibu yang segunung.



Tidak mau seperti menjadi Baby sitter, maka Zayin memaksa para pria mereka untuk ikut meski di supermal Karawaci para pria itu menolak mengintili para wanitanya, mereka lebih memilih menunggu di Starbucks ketimbang mengekori para wanita.



Zayin pun sebenarnya demikian, tetapi jiwa gantle nya yang memaksa dia mengekori para wanita itu tentu saja bersama Adgar dan Fajar.



" Farah, kalau mau belanja ambil aja jangan sungkan ya, Abang yang traktir. Lihat ni." Zayin memamerkan tiga kartu kredit berwarna hitam milik Mumtaz, Alfaska, dan Akbar.



Mereka memasuki outlet tas branded, setelah menghabiskan banyak waktu dia satu outlet ke outlet pakaian membuat Zayin malas, dia membawa Adelia dan Crystal kembali ke dalam gendongannya agar tidak ikut belanja. Dia tidak mau duo itik ini menjadi seperti empat bocil yang gila akan belanja, apalagi dengan aksesoris bernam tas dan sepatu.



" Cih, kartu milik orang bangga dipamerin." Cibir Dista masih ngajak ribut.



" Bangga lah. Gua yakin belum ada yang berhasil malak para sultan kan." Sahut Zayin tidak tahu malu.



" Emang boleh? Abi tadi gak ngasih Abang kartu dah." Tanya Farah sungkan, mengingat dia belum akrab dengan keluarga Budenya itu.



" Gak apa-apa, kak Mumtaz gak bakal keberatan, dia mah baik beda sama adiknya." Sahut Tia.



" Adiknya Lo ya, berarti Lo yang pelit dong." Seloroh Zayin.



" Elo, A, elo...." Tia geregatan.



" Udah ih, jangan marah-marah. Kamu mau anak kamu kayak si Ita, tukang gelut." Zayin mengecup kepala Tia dengan sayang.



" Astaghfirullah...maaf ya Allah. Jangan ampe ya Allah.."



Delikan Dista pada duo kembar itu mengundang tawa yang lain.



" Adel, ini lucu banget ni." Dista yang tahu betapa Zayin menjaga mental duo itik itu sengaja berulah, dia memamerkan tas kecil berharga tidak kecil pada Adelia.



" Ta, jangan nyari perkara sama gue. Gar, Lo sama Fajar ngikuti mereka, gue mau ke tempat eskrim. Seru Zayin yang kabur dari outlet tersebut.



Para bocil tertawa terbahak-bahak, mereka bertiga kalau sudah berkumpul dengan senang hati membully Zayin, hanya Cassandra yang baik padanya.



" Malas gue, Yin." Rengek Adgar.



" Terima nasib."



\*\*\*\*\*\*



Dominiaz dan Samudera bersama Rodrigo dna Alejandro duduk di lounge Altair atas undangan Mateo guna menjelaskan rencana Alfred.



" kenapa tidak lapor sebelumnya?" tanya Rodrigo, matanya menilai Mateo.



" Awalnya saya skeptis dia bisa melakukannya mengingat besarnya wilayah Indonesia, tetpai atas bantuan koneksi dari Toni dan ketua, dia berhasil membangun beberapa lokasi luncur di beberapa propinsi.



" Pantesan kami dipanggil pihak TNI, bahkan Raul yang sedang di Inggris pun dipanggil meski lewat online." ucap Alejandro.



" Untuk sementara kami dilarang keluar dari Jakarta." sahut Rodrigo.



" Terus ini apa?" Tanya Dominiaz pada kertas besar yang ditaruh di atas meja."



" Peta. saya berniat membongkar semuanya ada pihak berwenang. bagiamana pun saya punya hutang moril pada negeri ini karena Mumtaz yang sudah melindungi Dolores."



" Kapan rencananya Navarro akan mengeksekusi persiapan dia?" tanya Samudera.



" Entahlah, tapi dia sudah memegang alat picunya." sesal Mateo, dia yang memberikan itu, dan kini dia tahu dosa sudah melakukan kesalahan besar.



\*\*\*\*\*



Berita dibukanya kembali kasus 10 tahun


yang lalu membuat Alfred meradang naik pitam, dia sadar situasi sedang tidak mendukungnya.



Dia tidak bisa lagi menunggu, Toni yang duduk di kursi pesakitan, ketu4 dan Andre yang masih buron mengharuskan dia segera bertindak atau semuanya berakhir kacau. sesuatu yang tidak boleh terjadi setelah dia berhasil merealisasikan rencananya dengan matang.



" Matunda, kapan waktu yang tepat kita ke RaHasiYa?" tanya Alfred.



" Kami siap kapanpun, tetpai kondisi anda yang tidak memungkinkan. beberapa organ vital kinerjanya sedang menurun akibat anda yang terlalu memaksakan diri berpikir keras."



" Si-al. lakukan sesuatu."



" Saya akan menambah dosis obat penenangnya supaya anda lebih bis mengontrol diri."



" Lakukan apapun, kita bisa menunda lagi."

__ADS_1



Matunda mengangguk, dia berjalan ke arah brankar dengan sekantong cairan infus yang disediakan langsung oleh Zahra sebelum Zahra diungsikan ke Tangerang....


__ADS_2